Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 61


__ADS_3

Nayla mengamati Al yang nampak sibuk dengan laptopnya, cukup lama sekitar sepuluh menit, sedangkan Bilqis berada di bawah bersama yang lain, setau Nayla setiap kali ada Quen, Bilqis sudah tak pernah lagi mencarinya kecuali Quen sudah menyerahkan padanya karena dia mau kuliah atau urusan penting. Tapi, kali ini Quen sudah pulang dari kuliah jadi ia merasa aman saat ini.


Nayla bangkit dari posisinya yang sedari tadi baringan, berdiri dan perlahan melangkah mendekati suaminya.


Dengan manja Nayla merangul Al dari belakang. Al yang memang dasarnya sabar, penyayang dan tak pernah mau marah pada wanita ia hanya tersenyum dan berkata lamebut saat pekerjaannya di ganggu.


"Ada apa, sih Nay...?" ucap Al sambip tangan kirinya menyentuh punggung tangan Nayla dan mengelusnya, sementara tangan kanannya sibuk mengetik balasan email yang baru saja dia terima.


Nayla tidak menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada leher suaminya dan mulai menciumi leher dan pipinya, awalnya Al masih cuel dan terus berusaha fokus, tapi, lama-lama kosentrasinya buyar. Tanpa menutup file, ia memutar kursinya berhadapan dengan Nayla dan membalas cumbuan istrinya.


Nayla memeluk erat tubuh Al seolah tak mau lepas.


Maafkan aku, Mas. Aku terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu, aku ingin seluruh cinta dan perhatianmu hanya untukku seorang, tidak dengan yang lain. Gumam Nayala dalam hati saat dalam pelukan Al.


🍁 🍁 🍁


Al terbangun saat mendengar suara ketukan pintu di kamarnya. Perlahan ia membuka mata dan pandangannya di edarkan pada ac, ternyata menyala. Acnya yang tidak berfungsi, atau dia yang terlalu lelah dengan pertempurannya barusan?


Sedangkan Nayla masih tertidur pulas, terlihat dari wajahnya yang tenang suaranya tarikan napas halus dan teratur.


Al menutupi tubuh telanjang Nayla dsn segera menuju pintu dalam keadaan telanjang dada.


"Quen, ada apa?"


"Ada kak Juna di bawah, katanya nomor kakak tidak aktif tadi," ucap Quen sambil menahan tawa melihat penampilan Al yang penuh peluh dan Nayla yanf terbungkus selimut tanpa busana.


"Nomorku tidak aktif?" tanya Al masih sedikit ling lung.


"Ya sudahlah, Kak. Kau mandi saja dulu biar segar dan temui dia di bawah. Ada papa dan kakek kok yang mengajaknya ngobrol buruan." Quen berniat perti, tapi beberapa langkah kemudian ia berhenti dan menoleh sambil berkata, "Jangan lupa karamas, ok?"


Al tersenyum getir dan menutup rapat pintunya lalu mandi, sampainia selesai berpakaian Naya masih belum terjaga, dibiarkannya dia lalu Al segera turun menemui Juna. Jelas ada yang akan di bahas oleh anak itu, kalau tidak mana mungkin dia kemari.

__ADS_1


Al sudah tidak melihat papa dan kekeknya di sana, sendangkan di taman belakang Quen bermain bersama Bilqis, momy dan juga mama.


"Sory bro dah nunggu lama. Aku tertidur tadi siang dan hp lagi mode silent." ucap Al begitu tiba di ruang tamu.


"Santai saja, aku juga baru datang, kok. Kita keluar saja yuk! Sekalian ketemu sama dia di kafe gimana?"


Usul juna.


"Kamu dah ngomong sama dia?"


"Sudah, kamu perjelas saja nanti di saja, gimana?"


"Ok, yadah ayo! Bawa mobilku saja deh," ucap Al.


🍁 🍁 🍁 🍁


Hari pernikahan sudah semakin dekat, hati Quen semakin tak bisa berdamai dengan keadaan. Yang lebih parah dia malah enggan keluar kamar bahkan jarang makan.


- - - - -


Quen menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan balutan kebaya putih dan untaian melati yang menghiasi sanggulnya. Ia terlihat sangat cantik bahkan nyaris sempurna kecuali kantung mata karena semalaman dia tidak bisa memejamkan mata dan terus-terusan menangis. Perias sibuk memasangkan concealer untuk menutupinya, tapi, dengan lembut Quen menepisnya karena merasa risih.


Dari balik tirai tirai pintu kamar Quen mengintip suasana di ruang tamu. Akat nikah sebentar lagi akan di laksanakan dengan mengumpulkan seluruh keluarga dari pihak Vivian dan Andrean dan orang-orant terdekat mama papa Quen.


Bahkan dari jauh ia dapat melihat Aditya yang nampak mondar mandir sambil mulutnya tiada henti menghafal ijab qobul yang ada nama dirinya di dalamnya. Tapi, bukan Aditya yang menjadi pusat perhatian Quen, melainkan Alex yang duduk tenang bersama kakaknya Al dan Juna di deretan depan keluarga mempelai wanita.


Tiba-tiba Quen merasa gugup melihat pria berdarah campuran Indonesia Ingris itu. Entah setan apa yang merasukinya tiba-tiba dia teringat akan kenangan manis bersama sang mantan saat keduanya sama-sama makan di sebuah cafe dan dia tidak habis Alexlah yang akan menghabiskan sisanya.


Quen tersenyum getir mana kala keindahan itu hanyalah kenangan yang terlalu sakit untuk di kenang nyatanya dia dalam hitungan menit sudah akan jadi milik orang.


Sekelibat Quen melihat Bilqis bermain dengan Axel. Hatinya yang mulai tenang langsung bergemuruh. Ia melangkah mundur dan menutup pintu rapat-rapat, kembali dia menangis tanpa pedulikan riasan di wajahnya luntur karena air mata, bahkan celak yang di pasangkan oleh perias pun juga ikut luntur sehingga air mata yang mengalir di pipinya berwarna hitam.

__ADS_1


Di ruang bawah, rupanya pak penghulu dan petugas KUA sudah datang, Aditya sudah siap duduk di depan penghulu di saksikan oleh para tamu. Tapi, susah hampir lima menit Quen tak kunjung datang. Akhirnya papa Vano terpaksa menyusul Quen yang kebetulan di rias di kamar tamu, jadi tidak perlu naik tangga.


Quen mendengar suara pintu di ketuk, ia menoleh dan melihat papa Vano yang nampak gagah mengenalan bescap jawa berwarna putih tulang.


"Sayang, petugas KUA sudah datang, ayo turun, ijab qobul akan segera di laksanaka," ucap Vano kepada Quen yang nampak kembali membelakanginya.


Sementara dari belakang nampak oleh Vano tangan Quen meraih tisu yang tersedia di sebelahnya dan mengusap pada wajahnya.


"Papa, aku tidak mau menikah dengan Aditya," ucapnya sambil terisak.


Vano berjalan mendekati Putrinya, ia duduk bersanding di tepi ranjang bersama Quen.


Sebenarnya Vano sudah menduga sebelumnya, tapi, saat Quen mengatakan bahwa dia tak lagi ingin menikah dengannya ia jadi bingung. Sebab undangan sudah tersebar luas tidak hanya saudara dan orang tersekat, para karyawan dan relasi bisnisnya pun juga ia undang. Jelas selain nama baik keluarga yang di pertaruhkan. Masa depan Quen pun juga akan memberi pengaruh besar.


"Apakah kau sudah benar-benar mempertimbangkannya, Quen?" tanya Vano sambil merangkul pundak Quen dari belakang yang tengah bersandar pada bahunya.


"Iya, Pa. Aku sudah ambil keputusan ini." suara Quen terdengar lirih membuat hati Vano tersayat saat mendengarnya.


Quen terus bercerita mengenai awal bertemunya dia dengan pria itu, apa saja yang pernah dikatakan kepadanya termasuk kalimat akan menunggu mantan istrinya sampai kapan pun san dalam kondisi apa saka ia akan selalu menerima. Atas nama cinta dan Axel putra mereka.


Dan lagi, Vano juga tahu, kalau wanita itu sudah berkali-kali membujuk Aditya supaya mau bersama kembali dan sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama.


Seketika itu, ruangan menjadi hening. Hanya terdengar isakan Quen dan sesekali suara saat ia menyeka hidungnya yang ikyt berair.


Mekap yang dipasangkan perias dudah berantkan luntur akibat air mata, bahkan celak, eyesidow dan eyelinernya pun berantakan ke mana-mana, tapi, gadis itu sama sekali tidak peduli dengan itu. Suasana hatinya yang buruk mengalahkan segalanya.


Bersambung


Bagaimana, ada yang bisa bayangin kaya apa kira2 wajah Quen? Author nulisnya aja sambil ngakak, Lho.


__ADS_1


__ADS_2