Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 Part 3


__ADS_3

Di sebuah pelataran antara warung kopi dan parkiran Bandara Soekarno Hatta, berdiri seroang gadis berseragam SMA yang lumayan ketat dan mini, sehingga memamerkan setiap lekuk tubuhnya.


Gadis itu menyibakan rambut yang mengenai wajahnya karena tersapu angin. Sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru Bandara,  ia bertanya pada pria berpakaian rapi di sampingnya.


"Jam brapa ini, pak? Mana panas lagi." Gadis itu mengipaskan tangannya di depan lehernya yang berkeringat.


"Harusnya Tuan tua dan Tuan muda sudah landas, Non."


Tak lama kemudiam ponsel pria itu berdering. Dengan segera ia mengeluakan benda pipih itu dari dalam saku kemeja hiamnya, lalu menjawab panggilan.


"Iya, Tuan. Baik, saya akan segera ke sana!" Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu mematikan ponsel dan segera memberi intruksi pada gadis di sebelahnya untuk masuk ke dalam mobil.


Dengan laju lumayan cepat pria bernama Pak Makmur itu segera menuju lokasi penelfonnya.


Kemudian terlihat dua pria berusia sekitar lima puluh lima tahun dan pria muda berusia dua puluh tiga tahun berdiri beriringaan dengan koper hitam di tangannya.


Mereka sama-sama mengenakan setelan jas hitam dan kacamata senada ala-ala mafia yang biasa muncul di layar kaca.


Keduanya nampak terkejut saat seorang gadis muda turun dari mobil yang menjemputnya bersamaan dengan sopir, terlebih gadis itu langsung melompat pada pelukan pria muda itu sambil meneriakan namanya.


"Kakak Aaal! Aku kangan banget sama, kamu."


Sesaat wajah Al langsung memerah, meski menyadari dia adalah adik yang sedari bayi iya jaga dan ia ajak bermain tetap saja, hal itu membuatnya tak nyaman. Selain Quen sudah terlihat dewasa, selama lima tahun di jepang ia tidak pernah bersentuhan langasung dengan wanita.


Sebagai pewaris usaha Andreas di Jepang, ia digembleng dengan sangat keras serta ketat. Jadi, jangankan pacaran, memikirkan wanita saja, ia tidak sempat.


Dengan perlahan Al mendorong tubuh Quen, sambil berkata perlahan, "Quen, malu dilihat banyak orang. Masuk mobil dulu, ya! Itu, Kakek kamu sapa dulu, gih!"


"Ah, Quen juga kangen sama Kakek Andreas," ucapnya sambil bergelandut manja pada lengan sang kakek seraya berjalan menuju mobil.

__ADS_1


"Cucuku sudah dewasa sekarang, ya," ucap Andreas sambil mengusap rambut pirang Quen yang sengaja diwarnai.


"Iya, dong, Kek. Kan udah tujuh belas tahun."


Andreas tersenyum senang. Begitu sampai di depan mobil, ia memilih duduk di depan bersama Pak Makmur, Artinya Quen dan Al duduk di belakang.


Wajah Al semakin merah dan pucat tak keruan begitu melihat rok Quen di sebelahnya menyingkap, sampai setengah pahanya terekspose memamerkan kulit putih dan mulusnya.


Dengan grogi, Al berusaha memalingkan pandangan dari paha adiknya.


Sementara Quen, ia tidak merasa sudah membuat tidak nyaman sang kakak, ia malah dengan percaya diri mengangkat kedua tangannya menguncir asal rambut panjangnya.


Tanpa sengaja Al menoleh dan melihat kemeja Quen yang sedikit terbuka memperlihatkan sedikit kulit payudaranya yang putih, karena bajunya yang terlalu kecil, atau memang ukuran dadanya saja yang besar, hingga tak tertampung.


Tampa berkata sepatah kata pun, Al melepas jasnya dan mengenakannya kepada Quen.


"Aduh, aku gerah, kak," Keluh Quen.


"Seragam kamu terlalu mini, nanti sore kakak antar kamu beli seragam baru yang agak gede, ya."


Tangan Al masih sibuk merapikan jas di badan Quen agar menutupi bagian dadanya yang terbuka.


Sepanjang perjalanan Quen hanya diam saja, ia merasa sedikit malu dengan apa yang baru saja kakaknya ucapkan.


Sementara Al, ia malah sibuk berfikit bagaimana Pak Makmur bisa menang banyak dapat melihat pemandangan dengan cuma-cuma dari kaca di depan kemudi.


Sementara Andreas, ia sudah terlelap, mungkin karena kelelahan.


Tanpa terasa akhirnya mereka pun sudah tiba di tempat tujuan, sebuah rumah besar dan mewah dengan tatanan taman yang indah serta kolam ikan koi berwarna-warni dan dilengkapi dengan air manjur, membuat rumah itu terlihat semakin cantik bak istana.

__ADS_1


Rupanya mereka sudah di sambut oleh keluarga besarnya yang sengaja berkumpul duduk di ruang tamu.


Al memandang haru kekuarga yang selama ini membersarkan serta memberi hidup dan pendidikan layak baginya.


Ia menagis haru sambil memeluk kakek nenek serta ayah ibu angkatnya bergantian.


Clara yang juga menitikan air mata haru ia memandang lekat wajah putranya, kedua tangannya menghapuskan air mata Al seraya berkata dengan serak, "Laki-laki, tidak boleh nangis."


Seolah hafal dengan kebiasaan mamanya, Al sedikit membugnkuk, sementara Clara berjinjit untuk dapat mencium kening putranya, yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya.


"Al, kamu pasti masih sangat lelah, bukan? Ayo duduk dulu!" Vano merangkul bahu putranya setelah berpelukan dengan sang Ayah, megajak keduanya untuk duduk di ruang tengah bersama.


Bersamaan dengan itu, seorang gadis berusia sembilan belas tahun datang dengan nampan berisikan beberapa minuman dingin dan makanan ringan.


Gadis itu sepintas melihat Al yang baginya nampak sangat tampan dengan kemeja putih polos yang ia kenakan serta dasi berwarna navy yang sudah longgar serta dua kancing kemeja teratasnya yang sudah terlepas.


Gadis itu terpana oleh ketampanan Al yang memancar kuat, sampai-sampi tanpa sadar ia menumpahkan minuman pada rok seragam Quen.


"Maaf, Non! Lyli tidak sengaja," ucapnya panik.


"Hahaha, kamu kenapa panik gituz  ini air dingin, Kak Lyli. Jangan cemas kecuali ini minuman panas dan aku menjerit," ucap Quen sambil tertawa karena ia tahu, apa yang membuat kakak asisten rumah tangga di rumah neneknya melamun.


"Tidak masalah, aku akan menganti bajuku," ucapnya sambil beranjak bergi, dan masih mengenakan jas Al untuk menutupi lekuk tubunya yang menonjol.


Tak lama kemudian Quen turun dengan kaos oblong bewarna putih dengan hot pants kembali bergabung dengan keluarga besarnya. Merasa tidak ada yang ditutupi lagi, Quen duduk tepat di sebelah Al.


Sementara Lyli yang sudah menyelesaikan tugas lebih awal, ia memilih tetap di ruang makan, pura-pura menonton tv. Padahal. Ia curi-curi pandang pada Al.


Dalam hati Lyli ia mengagumi pria yang ada di depannya. Selain tampan, ia nampak memiliki aura dan kharisma yang kuat meski usianya masih sangat muda.

__ADS_1


"Tidak menyangka kalau putra Tuan dan Nyonya setampan ini. Dan lagi, beruntung Nona Quen. Selain cantik dan terlahir dari keluarga kaya raya, ia memiliki kakak sebaik dan sesayang Tuan muda Al," batinnya.


__ADS_2