Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 153


__ADS_3

"Papa, di mana mama?" Sapa axel saat mendapati Aditya duduk di teras sambil membaca surat kabar.


"Oh, jagoan papa kau sudah bangun Sayang? Pagi sekali? apakah kau mau jalan-jalan?" jawab Aditya mencoba mengalihkan pertanyaan putranya.


"Di mana mama, Pa? Kucari ke mana-mana tidak ada," tanya Axel lagi, bersikeras dengan Pertanyaannya.


Aditya meletakan surat kabar yang sedari tadi ada dalam genggamannya, ia merangkul Axel dan menatap mata cokelat itu yang seperti mata mamanya.


"Mama masih ada urusan mendadak di New York, Sayang. Tidak apa-apa, kan?"


Seperti apapun, Aditya juga sangat menyayangi putranya. Jadi, ia rela berbohong agar psikologis Axel tidak terganggu.


"Apakah mama mau jadi pramugari lagi, Pa? Apakah dia akan pergi seperti dulu lagi?" tanya Axel dengan mata yang sudah memerah.


Axel memang memiliki ingatan yang sangat kuat, IQ-nya pun juga diatas rata-rata. Dari segi fisik dia memang cenderung mirip Novita. Tapi, soal kecerdasan dia persis papanya.


"Tidak. Mama juga akan pulang, Kok. Mama sayang banget sama Alex, masa iya meninggalkan Axel demi pekerjaan? Di sana ada urusan penting sekali, Sayang."


"Lalu, kenapa tidak pamit sama Axel? Apakah kalian bertengkar?"


"Semalam mama hendak pamit. Tapi, melihat Axel yang sudah lelap tertidur dia tidak tega membangunkannya. Dan lagi karena mendadak dan waktu juga sudah mepet... Kamu maafkan mama ya, Sayang?"


Aditya pun memeluk erat tubuh putranya yang kian dewasa, tanpa terasa usianya sudah sebelas tahun. Dari kecil dia yang mengasuhnya. Setengah nyawanya ada pada Axel. Jadi, sesulit apapun, di pengadilan nanti, Aditya akan mempertahankan hak asuh jatuh di tangannya jika seandainya Novita tidak mau di ajak untuk rujuk.


"Kamu ganti baju, dulu, ayo kita joging Sayang," ucap Aditya sambil mengacak rambut putra tunggalnya itu.


Dengan girang pun Axel berlari ke dalam rumah untuk berganti kostum olah raga dan sepatu.


Setelah memastikan putranya masuk ke dalam kamar, Aditya merogoh ponsel uaing ia letakan di saku kemejanya. Ia memutar ulang rekaman suara hasil obrolan dia dan putranya barusan dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain. Lalu, mengirimkannya kepada Novita dan menuliskan kalimat, yang lebih cenderung mengancam.


"Kamu sudah dengar rekamanannya? Kamu pikirkan dulu jika mau bercerai, tidakkah kau kasihan dengan Axel yang terus-menerus menanykanmu? Bahkan rasa traumanya saat dia berusia dua tahun dulu masih melekat dalam ingatannya. Tidakkah kau takut dia akan benci kamu? Ok, boleh kau berkata aku menyelingkuhi dirimu, tapi, tidakkah kau berfikir bahwa putra kita itu sangat cerdas? Maka dia akan dengan sangat mudah membalik kata-katamu bahwa kau yang memulai lebih dulu menghianati papanya. Ok tidak masalah kau tetap bersikeras untuk bercerai, tapi, sekali lagi pikirkan psikologis Axel."


Setelah ia selesai mengetik kalimat panjang itu pun Axel muncul sudah siap dengan pakaian olah raganya sambil berseru ceria, "Papa, ayo! Aku sudah siap!"


"Ok! Ayo sayang!" seru Aditya dengan semangat.


Begitulah dr.Aditya yang sekarang. Sekalipun baru saja melakukan pembunuhan, ia masih bisa bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun. Dan meskipun dalam surat kabar yang dibacanya tadi juga tentang Helena, dia juga tak punya lagi rasa iba. Seolah surat kabar itu memuat seekor kucing yang jadi korban tabrak lari.


Sikap santun, ramah dan kebaikannya tak akan ada satupun yang menyangka bahwa Aditya sekeji itu. Terlebih ia berlatar belakang dari keluarga baik-baik, serta dia juga berpendidikan tinggi hingga mendapat gelar dokter spesialis dan dosen terbaik.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Novita menatap layar ponselnya dengan gemetar. Setelah mendengakan percakapan Adit dan Axel, ia menyadari betapa Adit menginginkan keluarganya utuh. Tapi, kenapa harus melakukan hal seperti ini? Dari nada bicara pria itu juga tidak mengandung kebencian dan meprovikatori Axel sedikit pun.


Tubuh Novita bergetar hebat, ia menangis karena bingung harus bagaimana. Kembali menjalin rumah tangga demi Axel tapi, batin tersiksa, atau, bercerai tapi tidak bisa menemui Axel selain telfon, atau video call dan berpura-pura tidak terjadi apapun antara dia dan Aditya.


Alex mundur beberapa langkah saat melihat Novita menangis di teras belakang rumahnya.ย  Ia bingung harus bagaimana, untuk menenangkannya pun rasanya ia tidak bisa, sebab, ia juga dalam suasana hati yang tak menentu.


Perlahan Alex pergi menghampiri mamanya dan memintanya untuk menemui Novita di teras belakang rumah Alex.


"Kenapa dia Lex?" tanya mama Rita yang nampak sibuk mencuci piring bekas sarapan.


"Alex gak tahu, Ma. Dia nangis, sepertinya ada kaitannya dengan kak Adit."


"Baiklah. Mama akan menemuinya. Kau mau ke kampus sekarang? Berangkatlah, hati-hati dan segeralah kembali," timpal mama Rita.


Setelah Alex pergi, Mama Rita menemui Novita di halaman belakang rumah. Benar kata putranya, Novita tengah menangis seperti ada yang benar-benar membebani pikirannya.


"Nov, ada apa? Cerita sama Mama," sapa mama Rita sambil duduk di sebelah putrinya seraya mengelus punggungnya.


"Novita bingung, Ma... " keluhnya sambil beruraian air mata.


"Kita akan selalu mendukung dan ada untuk kamu, Nak. Jangan ragu-ragu melangkah. Jika Aditya mengancam mu, kita akan berusaha untuk terus melindungi mu."


"Bukan itu, Ma. Sama sekali dia tidak mengancam."

__ADS_1


Karena tidak mampu menjelaskan, Novita memberikan ponselnya yang berisi satu pesan suara dan satu pesan chat dari Aditya.


Karena penasaran, Mama Rita pun menerima benda pipih berwarna biru itu, lalu mulai memutar pesan audisi dari Aditya, dan berlanjut membaca pesan itu.


Apa yang Aditya katakan memang tidak salah. Tapi, hati wanita mana yang bisa terima dan mudah memaafkan jika putrinya dikhianati, bahkan, tidak cuma itu, dia juga merusak hubungan rumah tangga anaknya yang lain. Dan hati wanita mana yang bisa terima dan mudah memaafkan jika dicurangi seperti itu oleh suaminya, serta wanita mana yang rela rumah tangga adiknya pun turut di hancur kan.


"Aku harus bagaimana, Ma?"


"Tunggu, kamu jawab jujur, ya? Bagaimana bisa Aditya bisa teropsesinya dengan Quen? Bahkan mengajak Helena bekerja ssms," tanya Mama Rita.


"Sejujurnya mereka dulu pacaran. Saat aku pergi, Ma. Tidak ada satupun wanita yang dicintai Adit diterima Axel. Dan saat Adit membawa Quen pulang, Axel begitu menyukainya. Bahkan mereka berdua sudah akan menikah, di hari pernikahannya Queen membatalkan pernikahannya karena tahu aku mengajak Aditya rujuk."


Novita kembali menangis terisak. Ia sadar dirinya lah yang membuat suaminya menjadi seperti ini. Dia merasa sakit dan terluka ketika kehilangan wanita sebaik Queen. Dan dia pun juga tidak mampu pergi dari Novita.


"Lalu, bagaimana tiba-tiba bisa, Quen menikah dengan Alex?" tanya mama Rita kian penasaran.


"Ya, saat itu juga, Alex melamarnya dan Quen menikah dengan Alex agar ia terhindar dari rasa malu. Jangan membenci Queen, Ma. Memang sebelumnya Aditya pernah bilang kalau dia cinta sama aku, dan akan selalu menerima demga dua tangan jika aku kembali kelak. Dan saat itu juga, satu Minggu sebelum mereka menikah aku kembali, aku memaksa Aditya agar kembali padaku."


Novita merasa bersalah, air matanya deras mengaliri kedua pipinya.


"Ini tidak sepenuhnya salah Aditya, Ma. Ini juga salahku."


"Sudah, sekarang kamu maunya gimana?"


"Aku ingin terus terang sama Axel kalau kami sebenarnya bercerai, dan aku akan memperjuangkan hak asuh jatuh di tanganku, Ma."


Mama Rita tersenyum sambil memeluk putrinya. "Apapun keputusanmu, semoga itu yang terbaik untuk kamu dan Axel."


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Sepertinya kau terlalu sibuk akhir-akhir ini."


Queen meletakan sisir yang sedari tadi ia gunakan untuk merapikan rambutnya. Ia berdiri dan meninggalkan meja riasnya berjalan menuju jendela kamar, menyibak gorden dan melihat keadaan luar yang mulai panas. Sepertinya cuaca hari ini cukup cerah setelah beberapa hari selalu mendung dan hujan deras.


"Apa? Kapan itu? Tunggu apakah kejadiannya semalam di jalan anggrek nomor 03?"


Queen menghembuskan napas panjang. Badannya masih terasa penat. Ia merasa tidurnya masih kurang, sehingga kepalanya sedikit pusing.


"Iya, di sana. Kasusnya masih dalam penyelidikan polisi. Aku turut melayat semalam saat Gea mengabari, aku segera ke rumah sakit dan ikut ke rumah duka bersama orangtua almarhum."


"Pasti malam sekali, mungkin kau perlu banyak istirahat, kau istirahatlah."


"Ya, cuma sedikit pusing saja. Mungkin dengan minum secangkir kopi akan membuatku lebih baik," jawab gadis itu sambil tersenyum.


"Apakah hari Minggu kita bisa bertemu? Aku mau kasih kamu kabar bagus, loh."


"Apa itu? Beritahu aku sekarang!" ujar Quen tidak sabar.


"Lusa saja. Kurang tiga hari terhitung dari saat ini. Aku akan memberitahumu saat kita bertemu saja esok."


"Memangnya kenapa kalau sekarang? Apakah itu sangat merugikan mu pak dokter?" jawab Quen dengan nada khas manjanya saat memaksa akan suatu hal.


Pria itu terdengar tertawa kecil, lalu menjawab, "Tentu saja aku akan sangat rugi jika memberitahukan hal ini lewat telfon. Sebab, aku tidak bisa lihat ekspresi kamu, sayang. Tunggu tiga hari lagi, ok."


"Ok, baiklah."


"Kau katanya baru bangun tidur. Kurasa kau perlu sarapan dulu," ucap Diaz dari seberang sana.


"Iya, aku sarapan dulu, ya. Kamu selamat bekerja," ucap Quen lalu menutup panggilannya.


Ia melihat ke arah layar dan memperhatikan batreinya sudah lowbat. Jadi, ia mematikan lalu mengecasnya. Dan turun ke bawah mencari sesuatu yang dapat di makan. Tapi, sebelumnya ia membutuhkan kopi untuk menghilangkan pening di kepalanya.


"Queen, kau sudah bangun. Jam berapa kau pulang semalam, dan dengan siapa?"


"Kakek, selamat pagi," ucap Quen tak langsung menjawab pertanyaan kakeknya ia bingung harus menjawab apa, apakah dia akan jujur kalau Alex yang mengantarnya semalam?

__ADS_1


Ah, Quen jadi sedikit bergidik mengingat kejadian tadi, saat ia tertidur apa saja yang Alex lakukan padaku? Kenapa saat aku terbangun bahkan dia sudah melumat bibirku.


"Kek, aku pulang jam tiga dini hari. Gea menginap tidak kemarin? Aku sedikit pusing aku perlu minum kopi sepertinya," ucap Quen sambil tersenyum dan terkesan menghindari kakeknya.


Queen tahu, sejak awal kakeknya ini sudah sangat menyukai Diaz. Jadi, bisa saja dia akan marah kalau sampai mengetahui dia pulang bersama Alex. Bagaimanapun, beliau juga pernah muda, pasti juga tahu bagaimana perjuangannya move on dan ketika kembali CLBK.


Queen pun bernapas lega setelah tiba di dapur. Tidak ada siapapun di situ. Mungkin bibi juga ada di balkon berurusan dengan cucuian. Jadi, Quen membuat kopi dan sarapannya sendiri.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Al melemparkan ponselnya dengan kesal ke arah pintu. Bersamaan dengan itu, seorang pria, yang merukapak asistennya kebetulan berdiri di depan pintu yang tidak tertutup.


"Clotak!"


Ponsel itu pun mendarat bebas tepat mengenai kepala pria itu.


"Ooowww!" erang pria itu, kesakitan sekaligus terkejut saat tiba-tiba keningnya terhantap oleh benda keras.


Al pun juga ikut kaget dan membenarkan posisi duduknya. Melihat ke arah pintu siapa yang datang. Ia menebak kalau ponsel yang baru saja ia lempar pasti mengenai orang tersebut.


Benar saja, orang itu adalah Nouky, warga Jepang asli yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan miliknya. Ia muncul mengucapkan salam sambil mengapit map berisi berkas, dan membawa ponselnya di tangan kanan, sementara tangan kirinya mengusap-usap keningnya yang memerah akibat terkena hp Al yang mendarat bebas di dahinya.


"ใ“ใ‚Œใฏใ‚ใชใŸใฎๆบๅธฏ้›ป่ฉฑใงใ™ใ‹๏ผŸ๏ผˆ ini ponsel anda, Bos?)" sapa pria bermata sipit itu seraya meletakan benda pipih itu di atas meja kerja Al.


"Apakah baru saja mengenai kepala mu? Maaf aku tidak sengaja. Apa apa?"


"ๅคงไธˆๅคซใ€ใƒœใ‚นใ€‚ใใ‚Œใฏ็งใ‚’ใ‚ชใƒ•ใซใ—ใพใ›ใ‚“ (Tidak apa-apa, bos. Ini tidak akan mematikan saya,)" ucap pria itu sedikit bergurau mengetahui sejak bosnya tiba suasana hatinya seperti dalam keadaan buruk.


"้ŽๅŽป3ใ‹ๆœˆ้–“ใฎใƒžใƒผใ‚ฑใƒ†ใ‚ฃใƒณใ‚ฐใŠใ‚ˆใณไผๆฅญ็ตŒ่ฒปใฎ็ตๆžœใซใคใ„ใฆๅ ฑๅ‘Šใ—ใพใ™ใ€‚ไปŠๆœˆใฏใพใ ใ‚„ใฃใฆใ„ใพใ›ใ‚“ใ€‚(Ini laporan dari hasil pemasaran serta pengeluaran perusahaan selama tiga bulan terakhir. Untuk bulan ini belum saya kerjakan.)" Dengan santai, pria itu meletakan map tersebut di atas meja kerja Al.


"Ok, kamu letakan saja situ."


Pria itu pun keluar dari ruangan Al. Setelah meletakan berkas laporan yang dimintanya setengah jam yang lalu.


Sementara Al, ia masih bergeming di tempatnya. Melirik sekilas ponselnya yang mulai berkedip dan dengan cepat di sambarnya saat muncul nama Quen menelfonnya.


"Halo, Kak. Ada apa?" ucap wanita itu dari seberang saat panggilannya sudah di angkat.


"Kamu kemana saja dari tadi? Kakak telfon tidak aktif, kalau bukan tidak aktif nomor sibuk, telfonan sama siapa saja, sih?" ucap Al, terlihat kesal.


"Kak, aku baru tahu kalau ada panggilan. Semalam aku di rumah Helen baru pulang jam tiga dini hari, dan saat aku bangun Diaz menelfon lalu batre lowbat. Ada apa memang kak?"


"Tidak apa-apa. Kamu sibuk banget, ya sampai tak ada kabar sekalipun sudah brapa hari sih kakak di Jepang? Bahkan kau tidak menelfonku sama sekali."


"Bukannya kebalik? Harusnya kakak yang memberiku kabar, kau jarang ke Jepang pasti pekerjaan banyak dan itu akan membuatmu sibuk. Mana berani aku mengganggu aktivitasmu, Kak?"


Al diam sesaat mendapati jawaban Quen yang terkesan tenang, santai tapi benar. Lagi pula Nayla saja tidak berani menelfonnya jika ia berada di luar negeri, apalagi dia.


"Queen. Kau itu adikku. Jangan begitu lah. Kalau kamu mau menelfon, ya telfon saja, tidak apa-apa," jawab Al dengan suara yang sudah merendah.


"Iya. Kak, kapan kau akan kembali ke tanah air?"


"Apakah kau kangen sama kakak, Sayang?"


Queen memutar bola matanya dan mendesah kesal, "Ayolah, Kak. Yang serius. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


"Tentang apa?"


"Nanti saja saat kau sudah kembali. Ya sudah, aku mau ke rumah sakit dulu, saatnya aku piket ini."


"Ya sudah, hati-hati, ya."


"Ok kak."


Quen pun mematikan panggilannya tanpa berpikir apapun tentang kakaknya selain mengira kalau dia sedang kelelahan saja.

__ADS_1


__ADS_2