Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 130


__ADS_3

"Aku tahu kalau kau belum tidur. Ada yang ingin aku bicarakan padamu sekarang, bisa?" ucap Alex.


Queen hanya diam tidak mau membalas ucapan Alex ia terus memejamkan matanya berharap bisa saat itu juga dia dapat tertidur.


Alex mendekatkan tubuhnya di samping Queen dan terlentang di sana.


Merasa ada sesuatu yang akan disampaikan suaminya, Queen pun memutar posisinya menghadap ke arah Alex.


"Ada apa?" tanya gadis itu.


"Tidak apa-apa. Kau serius mengizinkan aku menikah lagi?"


'sudah kuduga,' batin Quen.


Quen mendesah panjang lalu berkata, "lalu, apa kau pikir aku ini tengah bercanda?"


"Tidak. Kau bahkan nampak serius. Tapi, di dunia ini tidak ada wanita yang suka rela dimadu sepertimu, Queen."


"Alex, kau ini gila, ya? Bukankah bagus aku sudah memberimu izin? Tapi, kenapa kau malah nampak ragu melakukannya? Bukankan ini yang kau inginkan dari pada kau melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain, maka nikahi saja wanita itu. Aku takut jika dia nanti hamil. Kasian anaknya."


"Terimakasih. Entah kenapa, hati akhir-akhir ini terasa aneh. Meski aku sangat ingin menikahi Helena, tapi lubuk hatiku yang terdalan mengatkan kalau aku kelak akan menyesal, Queen."


"Sudahlah, kamu mau ngomong apa? Sejauh mana kesiapanmu untuk menikahinya?  Persiapkan. Lebih cepat lebih baik. Aku sangat lelah hati ini," ucap Queen tanpa merubah posisi.


🍁🍁🍁


Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa dua bulan sudah berlalu.


Bersama dengan Diaz. Queen menjenguk papa dan mamanya. Meski belum ada perkembangan yang memuaskan, setidaknya detak jantung keduanya sudah stabil. Namun, mesiki begitu mereka tetap tidak berputus asa.


Quen duduk di sebelah mamanya mengusapi tangan dan menciumi pipinya berulang kali sambil berkata, "Mah, kapan mama dan papa akan sadar? Bulan depan aku sudah akan dilantik menjadi dokter. Dan aku juga sudah kuat sekarang. lihat saja aku tidak menangis, lusa Alex akan menikah dengan Helen, aku bisa menerima ini dengan besar hati. Aaplah kalian tidak ingin melihat dan mendampingiku saat pelantikan nanti? Tidakkah kalian ingin mengucapkan selamat padaku?"


Queen diam sesaat ia mengambil naaps. Sementara seorang suster jaga seperti hendak masuk ke dalam ruangan di mana Clara dan Vano terbaring. Queen tahu persis. Waktu dia berkunjung sudah hampir habis.


Ia pun beranjak mendekati Vano. Matanya memandang lekat wajah pria yang dulu selalu menjakan dirinya. Sementara jemarinya yang lentik menyentuh pipi itu yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Papa, lihatlah putri mu yang cengeng ini sekarang sudah banyak berubah. Sebentar lagi aku akan resmi menjadi dokter. Apakah kau akan memanggilku dokter Queen?" ucap gadis itu sambil tertawa kecil lalu ia pun pergi setelah mencium kening kedua orang tuannya.


Seperti itulah hari-hari Queen dan Al. Di sela-sela kesibukannya. Mereka masih ada waktu untuk datang ke rumah sakit, meskipun penjagaan sudah sangat ketat oleh anak buah Al.


"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Diaz kepada Queen.


"Aku mau beli kado buat Alex dan Helena, Diaz. Kau mau ikut?"


"Boleh, ayo!"


Keduanya pun pergi bersama ke mall untuk membeli hadiah, entah apa yang ingin Queen berikan pada mereka. Sebenarnya ia sama sekali tidak terpikirkan apapun.


"Kamu mau ngasih apa sama mereka?" tanya Diaz. Dalam hati ia meruntuk. Betapa bodohnya dia menanyakan itu pada Queen. "maaf," imbuh Diaz.


Gadis itu justru tersenyum. "Aku juga bingung, Diaz. Apa ya kira-kira?"


"Kurasa dengan kau merestui saja itu sudah cukup, Queen. Apa kah ini tidak akan membuatmu malah bertambah sakit?"


"Ya, Diaz. Kamu benar. Tapi, aku gak boleh dong nunjukin sakitku pada mereka, mereka tidak akan bersimpati atupun peduli, malah tertawa iya."


Diaz tersenyum tipis. Sangat tipis bahkan hampir tak terlihat kalau ia tengah tersenyum. Ia hanya membatin kalau Queen sekarang sangat jauh berbeda dari pada Queen yang dulu pertama kali dia kenal. Kini dia jadi sosok yang semakin bertambah dewasa saja.


"Aku mau ke sana membelikan Helena baju tidur sutra," ucap Queen saat menatap ke arah lingerie yang nampak sexy namun elegan.


Sementara Diaz bingung, mau ikut atau tidak. Jika tidak dia mau ngapain, jika ya, oh, dia akan melihat banyak jenis pakaian kusus wanita.


Akhirnya Diaz pun memutuskan mengikuti Quen. Sampai ke kasir. Queen tidak membeli apapun untuk dirinya sendiri selain makan bersama Diaz.


🍁🍁🍁🍁


Siang itu Al pergi ke basecamp nya. Melihat kondisi tiga tawanannya seperti apa. Tiba di sana ia melihat Lyli sudah seperti tidak ingat lagi tentang jati dirinya lagi. Al merasa kalau ini sudah cukup untuk memberikan pelajaran atas apa yang pernah dilakukan dulu. Tapi, jika teringat papa dan mamanya yang masih juga belum sadar kekesalnya pun kian memuncak.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun Al mencekik leher gadis yang sudah setengah gila itu dengan emosi yang kian memuncak tanpa sedikitpun belas kasihan.


"Aarkkk....arrkkk...." Hanya itu yang keluar dari mulut Lyli. Ia sudah tak bisa bicara lagi. Entah karena kondisi fisiknya yang sudah parah, atau mentalnya yang benar-benar hancur. Bahakn mungkin dua hal itu bisa jadi pemicunya.


"Sial!" umpat Al dalam hati lalu mengibaskan gadis itu dengan kasar, tiba-tiba saja bayangan wajah antara Clara dan Queen muncul di benaknya. Wanita itu tersenyum dalam tanginsnya.


Al pun pergi meninggalkan basecamp denga. Pikiran yang kian tak karuan. Ia terus memikirkan wajah siapa yang baru saja muncul di benaknya, mama, atau Queen. satu wanita tapi mengingatkan pada dua jiwa yang sesungguhnya berbeda.


Hari Al merasa kian tidak tenang, entah apa yang membuatnya demikan. Ia mencoba menghubungi Queen berharap dengan mengetahui kabar adiknya dia bisa merasa sedikit tenang.


"Sayang, kau di mana?" tanya Al begitu panggilan nya di angkat.


"Aku di rumah Alex, kak. Ada apa?"


"Apa kau baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja, Kak. Kakak di mana sekarang?"


Tak ada jawaban dari Al.


"Kak, hallo. Kakak? Kau kenapa kak Kok diam?"


"Tuuuut....tuuuut.... tuuuut."


Tiba-tiba panggilan terputus.


"Eh, kakak kenpa ya? Gak biasanya kek gini," ucap Quen seorang diri. Gadis itu pun meletakan gawainya dan mulai membungkus kado yang akan ia berikan pada Helena saat pernikahanya lusa nanti.


Sementara Al matanya terfokus pada sosok yang ia kenal, ya dia Adit. Pria itu nampak bersandar di mobilnyan


yang sudah ia parkirkan di tepi jalan. Tak lama kemudian muncul seorang wanita, ya itu Helena. Keduanya nampak ngobrol sebentar lalu masuk ke dalam mobil.


Tanpa menghiraukan telfonnya lagi, Al pun berusaha menguntit mobil Aditya.


Ada hubungan apa sebenarnya antara mereka berdua? Setiap kali keduanya bertemu kok seolah-olah tidak saling kenal. Tapi, kenapa malah mereka janji ketemuan di sini mau kemana mereka sebenarnya?


"Arrgg...!!!" Erang Al penuh emosi sambil menggebrak setir dengan kencang.


Akhirnya Al pun memutuskan untuk pulang saja. Ia merasa beberapa hari ini sangat sibuk dan jarang ada di rumah. Waktu ngobrol dengan kakek pun juga sangat jarang.


Dengan wajah lesu dan penampilan kucel Al kembali ke rumah. Bahkan raut wajahnya pun nampak meredup.


"Mas, kamu sudah pulang?" Sambut Nayla mengambil tas kerja yang dibawa Al lalu membawanya.


Tak ada sahutan dari Al sepatahpun. Tangan kanannya meraba dasinya melonggarkan dan melepas beberapa kancing teratasnya dan duduk bersandar di atas sofa ruang tamu.


Meski merasa aneh dengan sikap suaminya, Nayla berusaha mengerti. Mungkin dia terlalu lelah di kantor. Semua pekerjaan hanya dia yang mengurus. Meskipun sudah ada Queen. Tapi, Queen tengah fokus dengan pelantikan kedokterannya. Bahkan setelah ia menjadi dokter, belum tentu juga bisa membantu mengurus kantor lagi.


Nayla pun pergi kedapur membuatkan minuman yang manis untuk suaminya. Lalu membawanya ke depan.


"Minum dulu mas, ini Nay buatkan teh manis hangat!" ujar wanita itu seraya menyodorkan satu muk tanggung berbahan keramik itu kepada Al.


Tanpa memandang ke arah Nayla Al meraih teh itu dan meneguknya hingga sisa setengah. Baru dia mengucapkan dua patah kata. "Terimakasih, Nay."


Nayla tidak kehilangan akal. Dia merapatkan duduknya dengan suaminya, bahkan meski hanya satu cm, dia tidak menyisakan jarak. Lalu, dengan pelan disandarkan kepalanya di bahu Al.


"Aku tahu, mas pasti lelah dan banyak hal yang dipikirkan. Tapi, aku ini istrimu, Mas. Aku kangen sama kamu," ucap Nayla perlahan.


Dengan lembut Al mendorong tubuh Nayla, "Maafkan mas Al , Nay." Lalu pria itu beranjak ke lantai atas menuju kamarnya.


Sedih dan kecewa jelas Nayla rasakan. Jangan kan di sentuh, ditanya sudah makan atau belum saja bahkan tidak untuk beberapa bulan terakhir ini. Al benar-benar disibukan dengan urusan kantor yang kian meluas. Hampir setiap hari pergi keluar kota, kalau tidak survey tempat, ngecek pyoyek baru, atau mengecek anak perusahaannya yang kian menjamur di mana-mana, belum lagi yang di Jepang.


Di dalam kamar mandi Al mengguyur tubuhnya dengan shower air dingin.m dengan harapan kepalanya pun juga bisa dingin. Akhir-akhir ini banyak hal yang dia pikirkan, bahkan rasanya kepalanya pun seperti hampir meledak saja.


"Tenangkan dirimu dulu, Al. Jangan terpancing emosi dalam kondisi apapun, atau semua akan fatal," ucapnya dalam hati.


Cukup lama dia berada di kamar mandi bahkan sampai lewat setengah jam. Akhirnya ia pun keluar dan berganti pakaian mengenakan celana jeans panjang berwarna biru gelap dan kaus pres body berwarna hitam.

__ADS_1


Al meraih hawanya memerintahkan anak buahnya untuk membuang saja Lyli ke tempat yang jauh, sudah cukup baginya membuat mental dan fisiknya menderita. Dan ia juga tak lupa menyuruh anak buahnya untuk selalu mengawasi Aditya dan Helen. Hubungan apa sebenarnya yang terjalin di antara keduanya. Jelas Al penasaran, sebab jika keduanya bertemu seperti biasa-biasa saja. Macam orang tak kenal.


Setelah mematikan telepon, Al turun ke bawah mencari kakek Andrean di teras belakang. Dan benar saja, ia berada di sana bersama Hanifah. Mungkin hari ini Diaz tidak datang. Karna jadwal kuliah dia sama dengan adiknya.


"Al, kau sudah datang, Nak?" sapa Andrean sambil tersenyum lebar.


Al langsung berjongkok di sebelah kursi roda kakeknya dan mengucap banyak permintaan maaf.


"Maafkan aku, kek. Akhir-akhir ini terlalu sibuk hingga tidak ada waktu untuk sekedar menemani kakek jalan-jalan."


"Tidak apa-apa, Nak. Kakek tahu kau pasti sangat sibuk. Jika kau memang keteteran, biarkan kakek turut membantumu, adikmu juga pasti sibuk dengan banyak hal, kan?"


Al menghela napas panjang.


"Maafkan Al, Kek tidak bisa menjaga Queen dengan baik."


Merasakan obrolan antara Al dan kakek Andrean cukup serius, ia pun memohon diri masuk ke dalam dengan alasan ada sesuatu yang akan dikerjakannya.


Setelah Hanifah masuk, Al lebih leluasa mengatakan apa yang ia rasakan saat ini. Sedih, hancur juga bingung terkumpul jadi satu. Bahkan mengenai hubungan Queen dan Alex seolah tak tertolong lagi.


"Soal Queen, kakek tidak pernah menyakahkanmu sedikit pun, Al. Jika pun kakak, dan istriku masih hidup, mereka juga tidak akan menyalahkanmu. Termasuk papa mamamu.


"Tapi, dulu ide Al, kek. Al yang atur agar Alex menikah dengan Queen saat ia membatalkan pernikahannya. Jika saja tidak.... " Al diam tidak melanjutkan kalimatnya lagi.


"Jika saja tidak, dia dan kita semua akan menanggung malu, Al. Langkah yang kau ambil sudah benar. Mereka nampak semakin mencintai. Kakek yakin ada yang tidak beres dengan diri Alex. Kenapa jika lupa ingatan kok seperti diprogram gitu, ya?"


"Al masih berusaha mencari tahu, Kek. Tapi, Al tidak tahan melihat Queen sakit seperti itu, yang Al mau Queen selalu bahagia. Sejek kecelakaan itu dia sudah kehika gan senyumnya. Anak, dan kini suaminya."


"Ini takdir, Al. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Cukup fokus saja dengan apa yang kau jalani saat ini." Andrean menepuk berkali-kali pundak Al memberi semangat pada dublikat Vano yang sedari kecil dia anggap putranya sendiri itu.


"Al sudah berjanji pada papa dan mama akan jaga Queen dan membuatnya bahagia, tapi Al gagal, Kek." Lagi-lagi masih itu saja yang Al bahas. Rupanya anak muda itu sangat tidak terima atas apa yang menimpa adik angkatnya itu.


"Cukup semangati dia saja, jangan bikin mentalnya down. Apapun keputusannya kita dukung saja dan doakan yang terbaik untuk dia dan."


Al hanya mengangguk dengan tatapan kosong.


"Ayo kita ke dalam ini sudah waktunya makan malam," seru Andren menyadarkan cucunya dari lamunan.


"Oh, iya kek." Dengan tergesa-gesa Al pun segera bangkit dari duduknya dan mendorong kursi roda kakeknya.


Untuk menebus rasa bersalahnya, Al melayani sang kakek makan dengan sangat baik, apapun ia tawarkan dan ia ambilkan untuk kakeknya.


"Kakek mau tumis kacang panjang? Al albilkan, ya? ini enak lo, kek. mau coba gurame?"


Andrean pun tertawa melihat tingkah Al yang malah terkesan memperlakukan dirinya seperti anak kecil semua ditawarkan dan disuruh mencoba, jika belum dicoba, terus saja menawarkan yang katanya enak, yang katanya bagus untuk kesehatan.


"Al kau memang cucu kakek yang terbaik. terimakasih ya nak. kakek sudah sangat kenyang ini, lihat, hampir seluruh makanan kakek yang menghabiskannya," ucap Andrean sambil terkekeh.


dan pada saat itu, Andrean dan khusunya Nayla barulah dapat melihat Al tersenyum dengan tulus. bukan di buat-buat.


****


Tidak hanya sampai di situ, sampai makan malam selesai, Al masih tetap menemani sang kakek ngobrol membicarakan sesuatu yang ringan-ringan.


Dan pada saat seperti ini Al justru lebih cenderung jadi pendengar saja, ia mendengarkan cerita sang kakek mengenai Hanifah dan Diaz. kakek Andrean menganggap kalau cucu keponakannya itu suka dengan teman seangkatannya Queen itu. tapi, bagi Al tidak. ia paham betul bagaimana sifat gadis itu. ia seperti itu cuma karena cuma penasaran saja. sebab, selama ini dia yang dikejar-kejar cowok. tapi, baru kali ini dia menemui ada seorang pria yang sepertinya tidak tertarik padanya, jadi, ia merasa tertantang saja. tapi, gak tahu lagi kalau Hanifah kebablasan jadi suka beneran. itu akan lain lagi ceritanya.


"Kalau memang Hanifah suka sama nak Diaz dan dia bisa menerima saudarimu itu kan bagus, Al. ada peluang untuk Hanifah bisa berubah menjadi lebih baik. kau lihat bagaimana adikmu Queen, dia banyak mengalami perubahan setelah dekat dengan pria itu," ucap kakek Andrean.


"Ya kalau Hanifah serius, kek. kesannya kok dia malah cuma godain Diaz saja," jawab Al dengan jujur.


"Maksud kamu menggoda bagaimana, Al?"


"Si bar-bar itu tidak serius suka sama Diaz, kek. dia cuma penasaran saja," timpal Al apa adanya.


Andrean pun diam. dalam hati juga tidak sepenuhnya menyalahkan apa yang Al ucapkan. dia pun pernah muda. tidak laki-laki, ataupun perempuan jika suka pada seseorang dia pasti rela berubah demi orang yang disukainya.


sedangkan Diaz tipe cowok Alim, tapi, Hanifah tetap saja seperti itu. harusnya kalau memang suka minimal dia merubah cara berpakaiannya lebih dulu, seperti dirinya dulu bagaimana mendekati mendiang istinya dulu.

__ADS_1


tiba-tiba Andrean merasa sedih teringat kenangan bersama Vivian juga Clara, Vano dan kakaknya, Andras. untuk menutupi kesedihannya ia pun minta di antar ke kamar dengan alasan sudah mengantuk. apalagi ini sudah pukul 22.30 WIB.


__ADS_2