
Pukul sebelas lewat
duapuluh menit Nayla sudah tiba di depan ruangan pribadi Al. Perlahan wanita
itu pun mengetuk pintu tersebut dengan sangat hati-hati.
Al yang sudah tahu dari salah satu stafnya kalau Nayla akan
datang keruangannya pun menjawab dengan suara khasnya, dingin namun penuh
kharismatik. “Masuk!”
Wanita dengan dress berwarna merah menyala dengan potongan
membentuk badan, sepanjang atas lutut serta bagian dadanya yang rendah pun masuk ke dalam ruangan itu.
Ia mengedarkan pandangan ke sebelah bangku yang agak jauh
dengan tempat Al di mana tempat itu dulu Queen yang menggunakannya untuk
membantu kakaknya mengatasi tugas-tugas kantornya.
“Ada apa?” tanya Al dengan wajah tanpa berpaling dari layar
monitornya, sengaja ia langsung menanyakan apa maksut dan tujuan kedatangan
Nayla agar dia segera pergi setelah tahu tujuannya.
“Mas, tadi kakek bilang sama aku katanya aku harus
membantumu menyiapkan acara pertunangan Queen, gimana enaknya? Malam, atau sore
hari, di dalam rumah atau di halaman belakang seperti biasa kalau ada acara? Dan berapa orang
yang rencana diundang?”
“Bukannya masih minggu depan? Emang kakek bilang kapan sih
acara mereka berdua?”
“Empat hari lagi terhitung dari sekarang, acaranmya katanya
sih hari kamis, Mas, Cuma jika urusan waktu dan jamnya kapan, kakek menyerahkan
semuanya sama Mas Al, dan Queen dia juga nurut apa kata mas saja kayaknya, tahu
sendiri dia juga sendang sibukan?”
Al dian tidak menjawab, ia hanya mengepalkan tangannya
dengan kuat dan mengratkan rahangya. Dalam sekejab saja ekspresi wajahnya yang
tenang dan datar pun juga nampak berubah ,menjadi suram. Nampak jelas sekali jika dia
tengah emosi.
“Kamu ke sini Cuma mau ngebahas itu saja, kan? Pergi
sekarang!” bentak Al dengan keras, bahkan Nayla sampai tersentak kaget karena
dengan tiba-tiba saja suaranya meninggi padahal sebelumnya ia terlihat tenang
dan baik-baik saja.
Merasa tidak bisa lagi tenang dan fokus pikirannya, Al pun
memutuskan untuk pergi meninggalkan kantor, ia melajukan kendarannya dengan
kencang menuju rumah untuk menemui kakek Andrean.
Sesampai di sana, Al meninggalkan
mobilnya di luar pagar, dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan
__ADS_1
memanggili kakeknya.
“Kek, Kakek!”
“Ada apa Den? Kok datang-datang
langsung teriak-teriak?” tanya Bik Yul, yang keluar dari dapur, rupanya ia
tengah memasak untuk makan siang.
“di mana kakek, Bi?” tanya Al nampak
sudah sangat tidak sabar saja.
“Tuan ada di halaman belakang,
ada tamu, Den,” jawab bik Yul sambil
menujuk ke pintu belakang menggunakan ibu jarinya.
“Tamu, Bi? Siapa? Sejak kapan
kakek kedatangan tamu memangnya?”
“Coba cek saja, Den. Katanya yang
mau atur tenta Non Queen buat tunangan hari Kamis nanti.”
Al hanya bisa men gepalkan tangannya dengan erat lalu berjalan ke halaman
belakang. Di sana ia melihat kakeknya tengah berbicara dengan dua orang sambil
menunjuk-nunjuk ke sudut taman.
“Kek, tunangannya hari kamis ini,
ya?” timpal Al sudah tidak sabar. Sementara kakek Andrean hanya tersenyum saja,
terlebih saat melihat ke arah jam tangan yang dikenakanya yang menunjukan kalau ini belum jam
“Kau kembali, Nak? Iya, acaranya
hari Kamis, dan Kamis berikutnya pihak keluarga kita yang ke Bnadung. Kemarilah,
coba musawarahkan dengan mereka, kakek pikir ini terlalu mendadak dan kau tidak akan mampu
mengatasinya, mengingat dirimu juga sedang sibuk dengan urusan kantor, kan?”
Dengan raut wajahnya yang
menunjukan kalau ia tidak ikhlas dan terpaksa Al pun menuruti kemauan kakeknya,
begitu semua beres dan dua orang itu pulang, Al pun mengomel pada kakeknya
dengan dalih terlalu cepat.
“Kakek bilagnya minggu depan, kok
sudah maen mutusin Kamis saja sih?”
Kapan kakek bilangnya?”
“Semalam.”
“Kalau setiap pekan kita awali
hari Senin, semalam bukankah termasuk pekan lalu?”
Al pun diam karena apa yang
kakeknya katakana juga tidaklah salah.
“Kek, apakah ini tidak terlalu
__ADS_1
mendadak?”
“Ini kan Cuma tunangan, Al,”
jawab kakek Andrean dengan tenang.
“Terus nikahnya kapan?”
“Ya tergantung mereka, kalau di
lihat sepertinya juga secepatnya, apa lagi yang mereka tunggu? Mereka juga dah sama-sam berprofesi sebagai dokter,
kan? Jadi kalau pun mau langsung sebulan atau dua bulan kemudian juga kakek rasa tidak masalah.”
Al kian jengkel saja lalu kembali
pergi ke kantornya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sementara kakek Andrean lagi-lagi
hanya tersenyum dan mengelengkan kepalanya saja.
***123
Setelah menemui Al, Nayla sedikit
mengulur waktunya berada di area kantor, meskipun dia sebenarnya juga merasa
tidak nyaman di sana, ia merasa kalau ia tidak selevel dengan mereka yang
rata-rata mengantongi gelar sarjana sekalipun dia adalah istri bos mereka.
Di depan kantor Nayla pun menghubungin Jevin,
ia menunggu pria itu di café depan kantornya, terlebih, menunggu untuk istirahat
juga sudah tidak lama lagi,
"Halo, Jev. Ini aku ada di kantor, loh. Aku tunggu kamu di cafe seberang, ya?" ucap Nayla sambil meminum avocado fload pesanannya yang baru saja datang.
"Hah, ngapain kamu ke kantor, Nay?" tanya Jevin, terkejut.
"Aku baru saja menemui mas Al, dan sekarang dia yang sudah pergi ninggalin kantor, makanya aku rada santai,"
"Ok, sebentar lagi, kurang duapuluh menitan kan aku juga istirahat, ya uda matiin telfonnya, ada Juna juga gak enak aku." pria itu pun mematikan panggilannya dan kembali bekerja.
"Ehem... Pacarnya?'' timpal Juna saat melihat Jevin nampak gembira.
"Ah, biasa anak muda, kaya kamu ga tahu saja, Bro!"
Juna hanya menyeringai dan membatin, "Tahu? Hah, sama istri orang, istri bosnya lagi, untung aja kak Al sudah jenggah dengan istrinya, tinggal nunggu tanggal mainnya saja lah, tunggu jika dia uda menyadari cintanya sama Queen juga kalian bakal tamat."
"Uda jam istirahat, aku keluar dulu, ya?" ucap Jevin, lalu segera mematikan pc nya dan segera keluar ruangan.
Awalnya Juna enggan berurusan dengan masalah mereka berdua,. Tapi, tiba-tiba saja ide jail pria itu muncul begitu saja saat teringat dengan Al. Seharian ini ia tak ada sepatah katapun yang dibicarakan dengannya selain masalah pekerjaan, bahkan tadi pagi mukanya juga nampak terlihat sangat suram.
pria itu pun merogoh ponselnya di dalam saku celananya lalu menghubungi nomornya Al cukup lama pria itu mengangkat teleponnya begitu diangkat dia pun juga tak langsung menjawabnya justru malah Juna yang lebih dulu menyapanya, "Hai kak, lagi di mana nih? Kita makan bareng yuk!" seru Juna berbasa-basi.
Aku tidak ada di kantor. kamu kalau mau makan makan saja!" jawabnya singkat dan juga ketus. Juna hanya tertawa ia sudah bisa menebak apa yang membuat dia seperti itu tapi pria itu tidak mau membahas mengenai adik angkatnya melainkan ia membahas mengenai Jevin dan juga Nayla yang masih istrinya.
"Barusan kayaknya Jevin menerima telepon dari Kak Nay, gimana nih? kota bebasin mereka saja dulu, atau gimana kalau perlu grebek aja mereka berdua ucap Juna sambil terkikik.
"Udah biarin aja mereka, biarkan saja dulu sampai puas nanti kalau udah kenyang juga bakal ketahuan," jawab Al ketus.
"Hahaha bukannya kita sudah mengetahui sekandal mereka dari dulu?" jawab Juna Sambil tertawa.
''Sudahlah biarkan saja aku lagi nggak mood,' nih jawab Al.
"Ada apa berantem lagi sama Tuan Putri mu?"
"Apaan sih kamu nggak usah bahas bahas dia lagi. Queen hari Kamis mau tunangan aku nggak mau mikirin dia ini kakek minta aku buat ngurus semua keperluannya," ucapan dengan kesal.
Sementara Juna tertawa terbahak sampai seperti orang kesurupan Kak saran gue ya mumpung belum terlambat mumpung belum tunangan juga kalau emang elu cinta ya Cinta aja ngapain dipendam malah jadi bisul nanti.
__ADS_1
Merasa kesal dengan ajakan Juna, Al pun mematikan teleponnya tanpa salam.