
Sepertinya orang yang berada di balik pintu itu sangat tidak
sabar untuk masuk, terlihat dari cara bagaimana ia memencet belnya yang terus
berulang-ulang meskipun pemilik rumah sudah menjawab.
Hal itu jelas sangat mengganggu Vico dan membuatnya marah “Iya
sebentar, bangke!” umpat pria itu dan membuka puntu dengan kasar.
Begitu pintu terbuka, seorang wanita mengenakan drees warna
biru muda polos sepanjang lutut berdiri dan mengumbar senyumnya pada Vico.
“Apakah aku membuatmu, marah?” tanya, nya.
“Kamu, kok sudah sampai sini saja, Shin?” Vico nampak
sedikit salah tingkah saat mendapati ternyata yang datang adalah tunangannya sendiri. Ia tak berfikir demikian, sebab baru saja mematikan panggilan dan berkata baru keluar.
“Ya emang uda datang, pas kamu telfon aku kan aku bilang kalau aku baru keluar dari mobil.”
“Oh, kukira mobil baru keluar dari garasi, hehehe.” Vico
cengar-cengir tidak jelas karena malu dan salah tingkah sudah berkata sekasar itu.
“Apa kau akan begitu terus dan tidak memintaku untuk masuk?”
tanya gadis itu.
“O, iya. Masuklah!” Vico menggandengan tangan Shinta dan
langsung mengajaknya ke ruang keluarga.
“Kamu pasti belum makan siang, kan? Aku akan masak untuk
kita, dan setelah makan kita jenguk, Queen. Oke?”
“Apa? Masak?” tanya Vico tak percaya, ia berfikir, apa yang
mau dimasak, dia tinggal sendirian dan tidak pernah memasak. Tak ada bahan
makanan apapun di dalam lemari es selain bir dan berbagai minuman beralkohol lainnya.
“Ya makanan rumahan tentunya. Aku tahu kalau kau kebanyakan
makan junkfood, itu tibak baik untuk kesehatanmu.” Tanpa sungkan-sungkan gadis
itu berjalan ke dapur dan mulai memakai celemak yang tersedia di sana.
“Ya, aku tahu. Tapi, maksutku, apa yang akan dimasak?
Sedangkan aku tidak ada bahan makanan di rumah?” pria itu menggaruk pelipisnya
yang tidak gatal dengan ujung jari telunjuknya.
“Aku sudah membawa sayur dan ikan dari rumah. Masak yang
simple dan praktis saja, ya?” tanpa menoleh, gadis itu mengangkat kantong kresek dari atas lantai dan meletakkan pada meja kitchen set dan mulai mengeluarkan
isinya. Dengan lincah pula, ia memotongi sayur dan menyiapkan bumbu-bumbu.
Vico yang sedari tadi mematung di tempat keluarga pun beranjak
ke dapur mendekati Sinta dan menawarkan bantuan. “Perlu kubantu?”
“Tidak usah. Kau disitu saja. Perhatikan bagaimana aku
memasak, nanti jika aku bekerja, kau bisa memasak untuk dirimu sendir. Dan hentikan memesan makanan online.”
“Ya, baiklah nyonya,” jawab Vico sambil duduk di kursi yang
ada di dapur.
“Lagi pula, kenapa kamu harus memesan makanan kalau dapurmu
secantik ini? Perabotnya dan alat-alatnya juga lengkap, lo?”
“Aku tidak tau fungsi semua benda-benda itu selain panci untuk merebus dan wajan untuk menggoreng.”
Bahkan jawaban Vico juga cenderung memelas begitu. Namun, jenaka.
“Baiklah, tidak masalah. Selama cowok itu tetap bisa setia
pada satu wanita, itu hebat!”
Hanya butuh waktu tigapuluh menit saja, Shinta sudah
bisa menyajikan capjay putih ikan dori filet goreng tepung dan jus jeruk.
Mereka berdua pun makan dengan lahapnya lalu kemudian mereka bersiap akan ke
rumah Queen. Kebetulan hari ini dia sudah boleh pulang. Sekalian, memastikan kalau dia sudah benar-benar ada di rumah, baru keduanya akan berangkat.
****
Seorang pria bertubuh besar dan berotot tengah
berputar-putar didepan cermin besar yang terdapat di kamarnya.
“Ck, kenapa canggung gini, ya? Ayolah, Lex, ini bukan
pertama kali kamu ketemu wanita,” gerutunya seorang diri.
Bukan masalah pertama atau tidaknya. Pasalnya, yang dia temui kali ini berbeda dengan wanita yang kebanyakan. Gadis itu pendiam, tertutup dan cenderung religius. Sementara dia? Lalu wanita-wanita yang pernah didenatinya? Itu sebabnya Alex menjadi canggung.
Pria itu pun meraih jas hitam yang sudah ia siapkan di atas
tempat tidur, memakainya, kemudian merapikan rambutnya dan berangkat. Ia juga
tak lupa membawa sebuah box kecil berwarna putih transparan untuk diberikan
pada wanitanya nanti.
Alex bernapas lega saat ia datang lebih dulu di restoran
tersebut. Pria itu langsung menuju ke kursinya dan langsung memesan maksnan
kesukaan Zahara. Baru saja pektayan pergi, gadis yang ia tunggu pun tiba juga. Ia
menggenakan gamis warna maroon berbahan sifon kombinasi brukat di bagian atas sampai lengan dan dipadukan dengan phasmina
dusty pink dibiarkan terurai ke belakang indah dan melambai-lambai diterpa
angina malam yang lumayan kencang.
“Maaf sudah membuatmu menunggu, Lex.”
Alex sempat sedikit terpana dengan panampilan Zahara malam ini, ia sangat cantik sekali.
“Aku pun juga baru sampai,” jawab Alex.
Keduanya pun mengobrol menghabiskan waktu bersama sampai
sepuluh menit kemudian pelayan pun datang membawakan pesanan Alex, berupa
softdrink dan hidadangan pembuka, terus bertahap. Sampai pada saat mereka
menghabiskan hidangan penutup berupa pudding bertoping aneka buah-buahan, mendadak lampu restoran mati. Seketika semuanya menjadi gelap gulita.
Sontak para pengunjung terkejut, tak lain juga Zahara yang
seorang nyctophobia, takut akan kehgelapan.
“Lex, kenapa ini bisa lampunya mati?” teriaknya panik, ia
meraba-raba apapun yang ada, dan sepertinya pria yang mengajaknya berkencan
tak ada di situ, tak ada jabawaban dan dia tak menemukan siapapun di dekatnya.
__ADS_1
Terlebih jarak mejanya dan meja para pengunjung lain sangat jauh.
Seketika lampu redup mulai menyala, dan terdengar suara
petikan gitar melodi yang melantun indah. Kemudian disusul oleh suara pria yang
sedikit serak, namun enak didemgar mulai bernyanyi.
What would I do
whithout your smart mouth
Dwaring me in you kicking me out
Got my head spinning no kidding I can’t pin you down.
What’s going on in that beautiful mind
I’m on your magical mystery ride
And I’m so dizzy don’t know what hit me but iam be alraigh
My head under water but i'm breating fine.
Semakin lama, pria yang membawakan lagu dan mencangklong gitar itu semakin dekat saja pada tempat Zahara duduk BBM, dan lampu itu kian menerang walau
masih remang-remang. Alex mengehentikan lagunya dan memegang tangan Zahara. Sedangkan
tangan kirinya membawa box yang sudah ia siapkan dari rumah berisi sebuah
cincin berlian untuk melamar wanitanya.
“Zahara, aku benar-benar mencintaimu, maukah kau menjadi
istri dan ibu dari anak-anakku?”
Gadis itu merasa terharu melihat apa yang sudah Alex lakukan
untuk membuktikan keseriusannya kepadanya. Terlebih, semua mata tertuju padanya,
ia jadi malu dan menutupi wajahnya dengan sepuluh jari-jari tangannya.
“Alex… “ Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Zahara, rasa
haru, senang dan terkesan berkecamuk jadi satu, sampai-sampai ia menitikan
buliran bening dari netra indahnya.
“Bagaimana? Apakah kau bersedia?” tanya Alex, sekali lagi.
“Iya, Lex. Iya, aku mau,” ucapnya sambil menyeka air matanya
yang membasah di kedua pipi merahnya itu.
“Alex terlihat senang sekali, ia tidak menyangka kalau
wanita itu mau menerima dirinya yang seorang duda dan juga dulunya termasuk buaya.
Akhirnya, sebelum jam setengah Sembilan, Alex sudah mengantarkan
Zahara pulang sekalian mengatakan keinginan mereka untuk segera menikah Umik,
satu-satunya orang tua yang Zahara miliki.
Ternyata, keinginan mereka disambut baik oleh umik. Umi Fatiya
langsung saja merestui keduanya, dan sangat setuju sekali jika keduanya akan
segera menikah. Lagipula, Zahara usianya juga sudah tidak muda lagi, dan anak
perempuan lain seusianya juga kebanyakan sudah oada memiliki anak.
***
Siang itu, Queen sudah diizinkan untuk pulang oleh. Dia merasa
senang karena hanya butuh dua hari saja di rumah sakit. Tapi, baginya waktu dua
Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Al terus saja
menggandeng tangan istrinya dan tak ia lepaskan, seolah ia takut akan terjadi
sesuatu pada istri tercintanya itu. Terlebih kini ia tengah mengandung anaknya. Ia akan
lebih waspada saat bersama istrinya, tak mau kejadoan kemarin sampai terulang
lagi. Meski sudah membuat Jevin tengah babk belur dan dirawat di IGD, bahkan
sampai detik ini juga kabarbya masuh belum sadar saja Al masih belum puas. Jikapun
lelaki itu mati, rasanya Al masih ingin mengejarnya sekalipun sampai di neraka,
dan menghajarnya di dalam sana.
“Mau mampir ke mana dulu, apa langsung pulang saja?” Al menatap
lembut pada Queen yang berjalan di sampingnya.
“Langsung oulang saja, apa kau tidak ingin segera kembali ke
kanto?”
“Tidak, aku masih ingin menemanimu dulu saja, tugas akan aku
kerjakan di rumah saja.”
“Jangan gitu, kamu di interior, tidak ada kak Juna di sana,”
ucap Queen mengingatkan.
“Muah.” Al mencium pipi Queen dengan kilat di depan umum. Apa
yang dikatakan istrinya memang benar. Tapi, ia masih ingin menemaninya dan besok
pagi baru akan kembali. Hanya saja, Queen yang memang disiplin sejak dini, dia
terus saja mengomel dan segera menintanya kembali. Lagian nanggung ka888888lau Cuma
tengah hari begini.
“Al! Malu, ah banyak orang!” seru Queen sambul memukul
lengan Al.
Sedangkan pria itu hanya cekikikan saja. Dia memang aslinya
juga sangat disiplin, bahkan lebih dari Queen sendiri. Hanya saja kenapa setelah
Queen hamil kok jadi susah disiplin begini. Pengennya terus bersama saja terus
sepanjang hari, setiap saat setiap detik.
“Ya sudah, ayo masuk ke mobil, kita pulang sekarang saja!”
ajak Al.
Setiba di rumah, mereka mendapati rumah besar itu sepi.
Lalu, di mana bibi, kakek dan mama?
“Kita coba lihat ke belakang, yuk!” ajak Al.
Tiba di halaman belakang, Queen dan juga Al melihat mamanya
berada di atas ayunan yang dibawahnya ada kola mikan koi yang sudah besar-besar
dengan warna yang cerah. Tapi, tunggu. Mama tidak sendir, ada anak kecil yang
menemaninya. Tapi, siapa?”
__ADS_1
“Itu mama dan papa sudah kembali, ayo kita ke sana,” ucap Clara
pada anak itu.
Anak itu pun menoleh, membantu Clara turun dan kembali duduk
di kursi rodanya, kemudian sambil tersenyum bahagia gadis kecil itu menghampiri
Al dan juga Queen.
“Papa, Mamam. Kalian sudah kembali? Bagaimana kabar adik
bayiku? Apakah dia baik-baik saja?”
Queen terlihat tidak senang saat melihat Bilqis berada di
sini. Harusnya ia berada di rumah berasama ibunya. Kenapa harus di sini? Wanita
itu pun memalingkan wajah, mengabaikan dan terus berjalan melewati gadis kecil
itu dan menghampiri mamanya.
“Bibi dan kakek di mana, Ma? Apakah mama sangat kesepian?”
Clara tersenyum lebut dan berkata. “Sayang. Kau boleh benci
sama mama anak itu, tapi, dia tidak tahu apa-apa. Dia masih kecil dan ibarat
kertas, ia masih putih dan sangat polos. Mama kangen dengannya, dia
sebentar-sebentar selalu menelfon rumah menanykan Al dan juga kamu.”
“Tapi, Al Cuma ayah tiri dia, Ma. Dan sudah bercerai dengan
ibu kandungnya. Lalu, kenapa harus memanggilku mama? Aku tidak mau.”
Dengan jengkel Queen pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan
suami dan mamanya yang terlihat sayang dengan bocah itu.
Mata bilqis nampak berkaca-kaca melihat bagaimana Queen
memperlakukan dirinya, ia menatap Al dengan tatapan anak pada ayahnya yang
mengharap pelukan.
Al berjongkok di depan bocah itu dan berkata dengan lembut. “Bilqis,
mama Queen sedang capek, kau lihat bekas luka di wajah dan lengannya? Bahkan
masih ada banyak lebam-lebam, bukan? Kamu sabar dulu, ya? Papa akan bujuk dia
perlahan-lahan.”
“Iya, Bilqis ngerti, Pa.” bocah itu tertawa kencang. Tapi,
air matanya pun juga deras mengalir.
Al yang tidak tega, langsung meraih tubuh nkecil itu dan
memeluknya.
“Papa, cepat bujuk mama Queen. Bilqis biar sama oma Clara
saja.”
Gadis itu langsung berbalik dan berlari memeluk Clara yang
sudah membuka tangannya. Gadis itu menumpahkan air matanya pada wanita paruh
baya itu.
“Ini salahku yang selalu nurut mama untuk jahat sama mama
Queen, Oma. Mama memang salah, dia sering pacarana dengan om Jevin. makanya,
papa jadi benci.”
Clara sedikit terkejut mendengar ucapan bocah berusia enam
tahun itu. Bagaimana bisa ia mengerti ap aarti setia dan selingkuh? Sungguh, ia
dewasa belum waktunya.
“Kamu sabar, ya? Semua butuh proses. Jika mereka menolakmu,
kau datang kemari untuk oma. Mau, kan?”
Gadis itu mengangguk berkali-kali sambil terisak. Namun,
bibirnya tersenyum. Dalam keadaan selemah itu, ia masih berusaha keras tegar
dan menutupi apa yang ia rasakan.
Sedangkan Al berusaha membujuk Queen agar tidak demikian. Menatap
mata Bilqis tadi, sungguh, ia seperti terpukul saja, karena selama ini dia
menganggap kalau dirinya adalah ayah kandungnya. Tapi, di sisi lain, ia sendiri
juga tidak bisa menyalahkan Queen. Dia juga tengah hamil dan orang hamil itu biasanya
juga selalu sensitive dan mudah tersinggung. Mungkin saja, ia dengan melihat Bilqis
jadi teringat dengan Nayla. Hal itu wajar.
“Sayang, kau ini kenapa? Kalau tidak suka sama Bilqis, biar
aku minta Dedi mengantarkannya pulang saja.”
Queen masih diam meskipun Al sudah to the point. Dia sebenarnya
tidak tega mengusir bocah itu. Tapi, melihatnya hanya membuat hatinya terasa sakit dan nyesek saja.
“Kau keluarlah! Aku sedang ingin sendirian saja.” Bahkan sedikitpun
Queen tidak mau memandang pada Al yang sudah kelelahan menjaga dia sendirian
tanpa pengganti di rumah sakit. Saat ia bangun, Al menemaninya ngobrol. Ketika dia
terlelah, Al juga sering terjaga untuk menjaga dan melindunginya.
“Tapi, aku gak bisa jauh sama kamu. Jika pun aku bisa, aku
tidak akan pergi menemui Bilqis. Tapi, ke kantor dan lembur sampai beberapa
hari tak akan pulang, mengerjakan tiga hari yang tertinggal,” jawab Al.
berusaha mengalah. Namun, masih tetap bertahan di tempat itu.
Queen masih saja telungkup dan tak mau memandang Al. Al pun
berjalan menuju tempatnya dan duduk di tepi ranjang.
“Sayang, kau ini besar dan berat. Bagaimana bisa kau menindih
anak kita yang bahkan masih sangat lemah itu?” bisik pria itu di dekat telinga
istrinya.
Queen langsung duduk menghadap Al dan berkata dengan sangat
cepat, “Mana mungkin? Ya tidak akan terjadi sesuatu padanya, lah selama aku
tidak merasa sakit.”
“Hahahaha. Akhirnya kau mau bicara sama aku juga. Sudahlah jangan
marah-marah, ya? Kemarilah.” Al membuka tangannya lebar-lebar dan bersiap
__ADS_1
memeluk Queen. Bahkan Queen pun juga tidak menolak, ia menggeser tubuhnya dan
memeluk erat pria di hadapannya itu.