Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 3


__ADS_3

Sepertinya orang yang berada di balik pintu itu sangat tidak


sabar untuk masuk, terlihat dari cara bagaimana ia memencet belnya yang terus


berulang-ulang meskipun pemilik rumah sudah menjawab.


Hal itu jelas sangat mengganggu Vico dan membuatnya marah “Iya


sebentar, bangke!” umpat pria itu dan membuka puntu dengan kasar.


Begitu pintu terbuka, seorang wanita mengenakan drees warna


biru muda polos sepanjang lutut berdiri dan mengumbar senyumnya pada Vico.


“Apakah aku membuatmu, marah?” tanya, nya.


“Kamu, kok sudah sampai sini saja, Shin?” Vico nampak


sedikit salah tingkah saat mendapati ternyata yang datang adalah tunangannya sendiri. Ia tak berfikir demikian, sebab baru saja mematikan panggilan dan berkata baru keluar.


“Ya emang uda datang, pas kamu telfon aku kan aku bilang kalau aku baru keluar dari mobil.”


“Oh, kukira mobil baru keluar dari garasi, hehehe.” Vico


cengar-cengir tidak jelas karena malu dan salah tingkah sudah berkata sekasar itu.


“Apa kau akan begitu terus dan tidak memintaku untuk masuk?”


tanya gadis itu.


“O, iya. Masuklah!” Vico menggandengan tangan Shinta dan


langsung mengajaknya ke ruang keluarga.


“Kamu pasti belum makan siang, kan? Aku akan masak untuk


kita, dan setelah makan kita jenguk, Queen. Oke?”


“Apa? Masak?” tanya Vico tak percaya, ia berfikir, apa yang


mau dimasak, dia tinggal sendirian dan tidak pernah memasak. Tak ada bahan


makanan apapun di dalam lemari es selain bir dan berbagai minuman beralkohol lainnya.


“Ya makanan rumahan tentunya. Aku tahu kalau kau kebanyakan


makan junkfood, itu tibak baik untuk kesehatanmu.” Tanpa sungkan-sungkan gadis


itu berjalan ke dapur dan mulai memakai celemak yang tersedia di sana.


“Ya, aku tahu. Tapi, maksutku, apa yang akan dimasak?


Sedangkan aku tidak ada bahan makanan di rumah?” pria itu menggaruk pelipisnya


yang tidak gatal dengan ujung jari telunjuknya.


“Aku sudah membawa sayur dan ikan dari rumah. Masak yang


simple dan praktis saja, ya?” tanpa menoleh, gadis itu mengangkat kantong kresek dari atas lantai dan meletakkan pada meja kitchen set dan mulai mengeluarkan


isinya. Dengan lincah pula, ia memotongi sayur dan menyiapkan bumbu-bumbu.


Vico yang sedari tadi mematung di tempat keluarga pun beranjak


ke dapur mendekati Sinta dan menawarkan bantuan. “Perlu kubantu?”


“Tidak usah. Kau disitu saja. Perhatikan bagaimana aku


memasak, nanti jika aku bekerja, kau bisa memasak untuk dirimu sendir. Dan hentikan memesan makanan online.”


“Ya, baiklah nyonya,” jawab Vico sambil duduk di kursi yang


ada di dapur.


“Lagi pula, kenapa kamu harus memesan makanan kalau dapurmu


secantik ini? Perabotnya dan alat-alatnya juga lengkap, lo?”


“Aku tidak tau fungsi semua benda-benda itu  selain panci untuk merebus dan wajan untuk menggoreng.”


Bahkan jawaban Vico juga cenderung memelas begitu. Namun, jenaka.


“Baiklah, tidak masalah. Selama cowok itu tetap bisa setia


pada satu wanita, itu hebat!”


Hanya butuh waktu tigapuluh menit saja, Shinta sudah


bisa menyajikan capjay putih ikan dori filet goreng tepung dan jus jeruk.


Mereka berdua pun makan dengan lahapnya lalu kemudian mereka bersiap akan ke


rumah Queen. Kebetulan hari ini dia sudah boleh pulang. Sekalian, memastikan kalau dia sudah benar-benar ada di rumah, baru keduanya akan berangkat.


****


Seorang pria bertubuh besar dan berotot tengah


berputar-putar didepan cermin besar yang terdapat di kamarnya.


“Ck, kenapa canggung gini, ya? Ayolah, Lex, ini bukan


pertama kali kamu ketemu wanita,” gerutunya seorang diri.


Bukan masalah pertama atau tidaknya. Pasalnya, yang dia temui kali ini berbeda dengan wanita yang kebanyakan. Gadis itu pendiam, tertutup dan cenderung religius. Sementara dia? Lalu wanita-wanita yang pernah didenatinya? Itu sebabnya Alex menjadi canggung.


Pria itu pun meraih jas hitam yang sudah ia siapkan di atas


tempat tidur, memakainya, kemudian merapikan rambutnya dan berangkat. Ia juga


tak lupa membawa sebuah box kecil berwarna putih transparan untuk diberikan


pada wanitanya nanti.


Alex bernapas lega saat ia datang lebih dulu di restoran


tersebut. Pria itu langsung menuju ke kursinya dan langsung memesan maksnan


kesukaan Zahara. Baru saja pektayan pergi, gadis yang ia tunggu pun tiba juga. Ia


menggenakan gamis warna maroon berbahan sifon kombinasi brukat di bagian atas sampai lengan dan dipadukan dengan phasmina


dusty pink dibiarkan terurai ke belakang indah dan melambai-lambai diterpa


angina malam yang lumayan kencang.


“Maaf sudah membuatmu menunggu, Lex.”


Alex sempat sedikit terpana dengan panampilan Zahara malam ini, ia sangat cantik sekali.


“Aku pun juga baru sampai,” jawab Alex.


Keduanya pun mengobrol menghabiskan waktu bersama sampai


sepuluh menit kemudian pelayan pun datang membawakan pesanan Alex, berupa


softdrink dan hidadangan pembuka, terus bertahap. Sampai pada saat mereka


menghabiskan hidangan penutup berupa pudding bertoping aneka buah-buahan, mendadak lampu restoran mati. Seketika semuanya menjadi gelap gulita.


Sontak para pengunjung terkejut, tak lain juga Zahara yang


seorang nyctophobia, takut akan kehgelapan.


“Lex, kenapa ini bisa lampunya mati?” teriaknya panik, ia


meraba-raba apapun yang ada, dan sepertinya pria yang mengajaknya berkencan


tak ada di situ, tak ada jabawaban dan dia tak menemukan siapapun di dekatnya.

__ADS_1


Terlebih jarak mejanya dan meja para pengunjung lain sangat jauh.


Seketika lampu redup mulai menyala, dan terdengar suara


petikan gitar melodi yang melantun indah. Kemudian disusul oleh suara pria yang


sedikit serak, namun enak didemgar mulai bernyanyi.


What  would I do


whithout your smart mouth


Dwaring me in you kicking me out


Got my head spinning no kidding I can’t pin you down.


What’s going on in that beautiful mind


I’m on your magical mystery ride


And I’m so dizzy don’t know what hit me but iam be alraigh


My head under water but i'm breating fine.


Semakin lama, pria yang membawakan lagu dan mencangklong gitar itu semakin dekat saja pada tempat Zahara duduk BBM, dan lampu itu kian menerang walau


masih remang-remang. Alex mengehentikan lagunya dan memegang tangan Zahara. Sedangkan


tangan kirinya membawa box yang sudah ia siapkan dari rumah berisi sebuah


cincin berlian untuk melamar wanitanya.


“Zahara, aku benar-benar mencintaimu, maukah kau menjadi


istri dan ibu dari anak-anakku?”


Gadis itu merasa terharu melihat apa yang sudah Alex lakukan


untuk membuktikan keseriusannya kepadanya. Terlebih, semua mata tertuju padanya,


ia jadi malu dan menutupi wajahnya dengan sepuluh jari-jari tangannya.


“Alex… “ Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Zahara, rasa


haru, senang dan terkesan berkecamuk jadi satu, sampai-sampai ia menitikan


buliran bening dari netra indahnya.


“Bagaimana? Apakah kau bersedia?” tanya Alex, sekali lagi.


“Iya, Lex. Iya, aku mau,” ucapnya sambil menyeka air matanya


yang membasah di kedua pipi merahnya itu.


“Alex terlihat senang sekali, ia tidak menyangka kalau


wanita itu mau menerima dirinya yang seorang duda dan juga dulunya termasuk buaya.


Akhirnya, sebelum jam setengah Sembilan, Alex sudah mengantarkan


Zahara pulang sekalian mengatakan keinginan mereka untuk segera menikah Umik,


satu-satunya orang tua yang Zahara miliki.


Ternyata, keinginan mereka disambut baik oleh umik. Umi Fatiya


langsung saja merestui keduanya, dan sangat setuju sekali jika keduanya akan


segera menikah. Lagipula, Zahara usianya juga sudah tidak muda lagi, dan anak


perempuan lain seusianya juga kebanyakan sudah oada memiliki anak.


***


Siang itu, Queen sudah diizinkan untuk pulang oleh. Dia merasa


senang karena hanya butuh dua hari saja di rumah sakit. Tapi, baginya waktu dua


Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Al terus saja


menggandeng tangan istrinya dan tak ia lepaskan, seolah ia takut akan terjadi


sesuatu pada istri tercintanya itu. Terlebih  kini ia tengah mengandung anaknya. Ia akan


lebih waspada saat bersama istrinya, tak mau kejadoan kemarin sampai terulang


lagi. Meski sudah membuat Jevin tengah babk belur dan dirawat di IGD, bahkan


sampai detik ini juga kabarbya masuh belum sadar saja Al masih belum puas. Jikapun


lelaki itu mati, rasanya Al masih ingin mengejarnya sekalipun sampai di neraka,


dan menghajarnya di dalam sana.


“Mau mampir ke mana dulu, apa langsung pulang saja?” Al menatap


lembut pada Queen yang berjalan di sampingnya.


“Langsung oulang saja, apa kau tidak ingin segera kembali ke


kanto?”


“Tidak, aku masih ingin menemanimu dulu saja, tugas akan aku


kerjakan di rumah saja.”


“Jangan gitu, kamu di interior, tidak ada kak Juna di sana,”


ucap Queen mengingatkan.


“Muah.” Al mencium pipi Queen dengan kilat di depan umum. Apa


yang dikatakan istrinya memang benar. Tapi, ia masih ingin menemaninya dan besok


pagi baru akan kembali. Hanya saja, Queen yang memang disiplin sejak dini, dia


terus saja mengomel dan segera menintanya kembali. Lagian nanggung ka888888lau Cuma


tengah hari begini.


“Al! Malu, ah banyak orang!” seru Queen sambul memukul


lengan Al.


Sedangkan pria itu hanya cekikikan saja. Dia memang aslinya


juga sangat disiplin, bahkan lebih dari Queen sendiri. Hanya saja kenapa setelah


Queen hamil kok jadi susah disiplin begini. Pengennya terus bersama saja terus


sepanjang hari, setiap saat setiap detik.


“Ya sudah, ayo masuk ke mobil, kita pulang sekarang saja!”


ajak Al.


Setiba di rumah, mereka mendapati rumah besar itu sepi.


Lalu, di mana bibi, kakek dan mama?


“Kita coba lihat ke belakang, yuk!” ajak Al.


Tiba di halaman belakang, Queen dan juga Al melihat mamanya


berada di atas ayunan yang dibawahnya ada kola mikan koi yang sudah besar-besar


dengan warna yang cerah. Tapi, tunggu. Mama tidak sendir, ada anak kecil yang


menemaninya. Tapi, siapa?”

__ADS_1


“Itu mama dan papa sudah kembali, ayo kita ke sana,” ucap Clara


pada anak itu.


Anak itu pun menoleh, membantu Clara turun dan kembali duduk


di kursi rodanya, kemudian sambil tersenyum bahagia gadis kecil itu menghampiri


Al dan juga Queen.


“Papa, Mamam. Kalian sudah kembali? Bagaimana kabar adik


bayiku? Apakah dia baik-baik saja?”


Queen terlihat tidak senang saat melihat Bilqis berada di


sini. Harusnya ia berada di rumah berasama ibunya. Kenapa harus di sini? Wanita


itu pun memalingkan wajah, mengabaikan dan terus berjalan melewati gadis kecil


itu dan menghampiri mamanya.


“Bibi dan kakek di mana, Ma? Apakah mama sangat kesepian?”


Clara tersenyum lebut dan berkata. “Sayang. Kau boleh benci


sama mama anak itu, tapi, dia tidak tahu apa-apa. Dia masih kecil dan ibarat


kertas, ia masih putih dan sangat polos. Mama kangen dengannya, dia


sebentar-sebentar selalu menelfon rumah menanykan Al dan juga kamu.”


“Tapi, Al Cuma ayah tiri dia, Ma. Dan sudah bercerai dengan


ibu kandungnya. Lalu, kenapa harus memanggilku mama? Aku tidak mau.”


Dengan jengkel Queen pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan


suami dan mamanya yang terlihat sayang dengan bocah itu.


Mata bilqis nampak berkaca-kaca melihat bagaimana Queen


memperlakukan dirinya, ia menatap Al dengan tatapan anak pada ayahnya yang


mengharap pelukan.


Al berjongkok di depan bocah itu dan berkata dengan lembut. “Bilqis,


mama Queen sedang capek, kau lihat bekas luka di wajah dan lengannya? Bahkan


masih ada banyak lebam-lebam, bukan? Kamu sabar dulu, ya? Papa akan bujuk dia


perlahan-lahan.”


“Iya, Bilqis ngerti, Pa.” bocah itu tertawa kencang. Tapi,


air matanya pun juga deras mengalir.


Al yang tidak tega, langsung meraih tubuh nkecil itu dan


memeluknya.


“Papa, cepat bujuk mama Queen. Bilqis biar sama oma Clara


saja.”


Gadis itu langsung berbalik dan berlari memeluk Clara yang


sudah membuka tangannya. Gadis itu menumpahkan air matanya pada wanita paruh


baya itu.


“Ini salahku yang selalu nurut mama untuk jahat sama mama


Queen, Oma. Mama memang salah, dia sering pacarana dengan om Jevin. makanya,


papa jadi benci.”


Clara sedikit terkejut mendengar ucapan bocah berusia enam


tahun itu. Bagaimana bisa ia mengerti ap aarti setia dan selingkuh? Sungguh, ia


dewasa belum waktunya.


“Kamu sabar, ya? Semua butuh proses. Jika mereka menolakmu,


kau datang kemari untuk oma. Mau, kan?”


Gadis itu mengangguk berkali-kali sambil terisak. Namun,


bibirnya tersenyum. Dalam keadaan selemah itu, ia masih berusaha keras tegar


dan menutupi apa yang ia rasakan.


Sedangkan Al berusaha membujuk Queen agar tidak demikian. Menatap


mata Bilqis tadi, sungguh, ia seperti terpukul saja, karena selama ini dia


menganggap kalau dirinya adalah ayah kandungnya. Tapi, di sisi lain, ia sendiri


juga tidak bisa menyalahkan Queen. Dia juga tengah hamil dan orang hamil itu biasanya


juga selalu sensitive dan mudah tersinggung. Mungkin saja, ia dengan melihat Bilqis


jadi teringat dengan Nayla. Hal itu wajar.


“Sayang, kau ini kenapa? Kalau tidak suka sama Bilqis, biar


aku minta Dedi mengantarkannya pulang saja.”


Queen masih diam meskipun Al sudah to the point. Dia sebenarnya


tidak tega mengusir bocah itu. Tapi, melihatnya hanya membuat hatinya terasa sakit dan nyesek saja.


“Kau keluarlah! Aku sedang ingin sendirian saja.” Bahkan sedikitpun


Queen tidak mau memandang pada Al yang sudah kelelahan menjaga dia sendirian


tanpa pengganti di rumah sakit. Saat ia bangun, Al menemaninya ngobrol. Ketika dia


terlelah, Al juga sering terjaga untuk menjaga dan melindunginya.


“Tapi, aku gak bisa jauh sama kamu. Jika pun aku bisa, aku


tidak akan pergi menemui Bilqis. Tapi, ke kantor dan lembur sampai beberapa


hari tak akan pulang, mengerjakan tiga hari yang tertinggal,” jawab Al.


berusaha mengalah. Namun, masih tetap bertahan di tempat itu.


Queen masih saja telungkup dan tak mau memandang Al. Al pun


berjalan menuju tempatnya dan duduk di tepi ranjang.


“Sayang, kau ini besar dan berat. Bagaimana bisa kau menindih


anak kita yang bahkan masih sangat lemah itu?” bisik pria itu di dekat telinga


istrinya.


Queen langsung duduk menghadap Al dan berkata dengan sangat


cepat, “Mana mungkin? Ya tidak akan terjadi sesuatu padanya, lah selama aku


tidak merasa sakit.”


“Hahahaha. Akhirnya kau mau bicara sama aku juga. Sudahlah jangan


marah-marah, ya? Kemarilah.” Al membuka tangannya lebar-lebar dan bersiap

__ADS_1


memeluk Queen. Bahkan Queen pun juga tidak menolak, ia menggeser tubuhnya dan


memeluk erat pria di hadapannya itu.


__ADS_2