Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 105


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, ia melihat Alex tertinduk lemas tersungkur dengan pakaian penuh darah.


"Alex bagaimana keadaannya?"


"Bayinya tak bisa diselamatkan lagi, kak. Padahal sudah empat bulan dua minggu. Aku gak apa-apa. Asal Quen selamat. Tapi, bagaimana jika Quen nanti sadar? Apakah dia bisa terima?"


Al pun ikut lemas dan menjatuhkan diri di atas lantai sebelah Alex. Ia menunduk dan memegangi kepalanya sambil menjambaki rambutnya sendiri. Kali ini idupnya benar-benar hancur, sehancur-hancurnya.


"Maafkan aku, Kak."


"Maafkan Aku, Lex."


Bahkan dua pria itu saling menyalahkan dirinya sendiri. Dalam waktu bersamaan, mereka mengucapkan kata maaf.


"Aku terlalu sibuk tadi, tidak sempat menjaga Quen dengan baik, sampai kalian kehilangan bayi yang selama ini kalian nanti."


"Sudahlah Kak. Mungkin ini takdir. Tidak seharusnya kakak menyalahkan diri sendiri. Quen adalah tanggung jawabku."


Kedua pria itu pun sama-sama diam. Tidak hanya Alex. Al pun juga nampak terpukul. Meski sakitnya mungkin tak ada apa-apanya dibandingkan Alex dan Quen.


"Keluarga ibu Quen," teriak seorang suster dari IGD sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah di luar ruangan.


Dengan cepat dua pria itu langaung berdiri dan menghampiri suster tersebut. Dalam bersamaan mereka bilang.


"Saya kakaknya."


"Saya suaminya."


Suster muda itu tidak langsung merespon,  ia tertegun melihat dua pria tampan di depannya. Sekitad dua menitan. Lamunannya dibuyarkan oleh pertanyaan Alex.


"Sus, istri saya sudah siuman?"


"I... Iya, sudah. Dia sudah bangun."


Tanpa seizin suster itu, Al juga ikut menyerobot masuk menyusul Alex di depannya. Harusnya, hanya satu orang saja yang diizinkan masuk menemani masuk tapi, karena terlanjur, suster itu pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Di sana, mereka melihat Quen terbaring lemas dengan mata menatap kosong ke atas langit-langit ruang IGD. Menyadadi kakak dan suaminya ada di sampingnya, Quen menoleh pada dua pria itu lalu tersenyum.


"Dia pergi ikut bersama kakek buyutnya, dan mempercayakan kakek neneknya kepada mamanya." Bersamaan dengan selesainya Quen mengucap kalimat itu, air matanya pun kembali mulai menetes.


Al merasa seluruh tubuhnya kaku tak dapat di gerakan. Tapi, Alex sekuat tenaga berusaha menenangkan hati Quen.


Ia sadar senyuman dan air mata istrinya itu bukan karena dia ikhlas dan sabar. Justru karna terlalu sakit dan tak mau lagi meratapi nasib. Dalam waktu sehari saja, dia sudah kehilangan banyak hal. Jelas saja, dia sangat syok dan tertekan.


"Alex, bilang sama kakak aku mau pulang saja. Di rumah banyak tamu," ucap Quen merengek.


Sementara Al masih bungkam dan tetap berdiri di tempatnya yang tadi.

__ADS_1


"Tunggu keputusan dari dokter dulu, ya? Jika memang harus di rawat inap dulu, kamu sabar, ya?" bujuk Alex.


"Tidak perlu. Aku yang paling mengerti dengan kondisiku sendiri. Aku baik-baik saja." Quen mencoba untuk bangkit dan duduk di tepi bangkar, bahkan ia bersiap hendak melompat turun.


Seorang suster datang dengan sebuah tabung kaca bening dengan tutup berwarna biru. Quen sudah menebak apa isi dari tabung kaca itu. Kembali ia tersenyum.


"Kita sama-sama bawa dia, dan memakamkannya dengan baik di samping pemakaman kedua buyutnya. Biarkan mereka bahagia di sana." Kali ini tatapan Quen semakij kosong. Napasnya pun seolah terasa berat dan sesak. Tapi, dia masih saja bersikeras mengatakan pada siapapun kalau dia baik-baik saja dan akan pulang.


Tidak hanya itu. Dia juga nekat melompat berjalan menghampiri suster itu dan berkata, "Berikan dia padaku." Dan saat itu pula, tubuhnya ambruk ke atas lantai dan kembali tak sadarkan diri.


Quen pun dipindah di ruang rawat. Karena belum sadar, Al meminta Alex untuk kembali dulu berganti pakaian. Sekalian meminta Nayla ke rumah sakit Bhayangkara untuk menemani sang kakek. Ia juga berpesan pada Alex. Untuk tidak mengatakan apapun. Jika dia dicecar pertanyaan mengenai Quen. Cukup bilang kalau Quen masih dalam tahap pemulihan. Soal dia keguguran dan di rumah sakit mana, biar di rahasiakan dulu.


Alex pun menuruti perintah Al ia pun pergi. Tapi, dia tidak kerumah mertuanya. Dia mengambil baju ganti di rumahnya sendiri. Soal Nayla dia mengabarinya melalui telfon.


Sementara Al masih tetap setia menunggu sang adik di sampingnya. Hatinya benar-benar hancur melihat orang yang harusnya bahagia menikmati hari-harinya dengan menyenangkan sambil menanti kelahiran bayinya malah seperti ini. Dia sudah sakit orang tua koma, kakek nenek tiada dalam waktu bersamaan dan dengan keadaan sangat tragis.


"Maafin kakak, Quen. Kakak janji mulai saat ini akan selalu ada waktu untukmu agar kau tidak terlalu larut dalam kesedihan. Kakak sudah berjanji pada mendiang kakek Andreas untuk menjagamu. Dan juga janji pada mama dan papa. Kau cepat sadar ya?" ucap Al serorang diri sambil terus mengusap kening Quen yang masih terpejam.


Al terus mengelus dahi, pipi dan terakhir tangannya. "Kakak janji, kau akan bahagia. Dan harus bahagia! Pegang janji kakak, ya!"


"Kriieet!"


Al menoleh saat mendengar pintu kamar ruangan Quen terbuka. Dia mengira itu Alex atau perawat, ternyata bukan. Melainkan Momy Jeslyn dan Hanifah.


Al sedikit tersentak melihat kedatangan dua itu. Selain dari kuar negeri, harusnya Hanifah dengan tantr Eren, kan? Kenapa malah dengan ibu kandungnya. Bukannya mereka beda negara?


"Momy baru saja tiba, Al. Nayla bilang kalau Quen mengalami pendarahan." Jeslyn menoleh ke aeah Quen yang masih tak sadarkan diri. Bergegas ia menghampiri gadis itu nengelus dan menciun dahinya. Tanpa terasa Momy Jeslyn pun menitikan air mata.


"Kau yang sabar ya, Sayang? Kita sama-sama doakan papa dan mama kamu baik-baik saja. Selama mereka belum pulih. Momy janji tidak akan kembali ke Singapura. Momy akan temani Quen di sini. Akan momy anggap Quen putri sendiri seperti papa mamamu meperlakukan Al," ucap Jesly. Sambil terus menciumi Quen.


Sementara Hanifah hanya terpaku melihat saudaranya tak berdaya seperti itu. Walau keduanya selalu bertengkar seperti tom and jery saat berkumpul.


"Bagaimana kondisi bayi Quen, kak?" tanya Hanif.


"Sudah diurus Alex. Dia akan dimakamkan di sebelah makam kakek dan nenek buyutnya," jawab Al dengan kepala tertunduk.


Mendengar jawaban Al Jeslyn tersentak kaget dihampirinya Al dan kembali meyakinkan pendengarannya.


"Maksutmu, Quen keguguran?"


Jeslyn menatap Alex dengan tatapan nanar, berharap kalau pendengarannya salah dan jawabannya ditepis Al.


"Iya." Al mundur beberapa langakah dan merebahakan diri di atas sofa. Dia pun sebenarnya sangat lelah. Tapi isi kepalanya terus berputar tuada henti. Bahkan hati nya pun juha sudah tak keruan lagi. Mau berbuat apa dia pun tak tahu. Sakit dan kehilangan kakek nenek serta melihat kenyataan keadaan papa mamanya memilukan saja belum bisa dia mengontrolnya ditambah Quen keguguran.


Al menutupi wajah de gan lengan kanannya tak peduli dengan dua wanita di sebelahnya. Hanya pada ibu kandungnya saja dia berpamitan.


"Mom, titip Quen. Al lelah mau istirahat dulu."

__ADS_1


Mungkin dia memang benar-benar terlalu lelah tiba dari Jepang tidak istirahat langsung melihat peristiwa seperti ini. Dia pun benar-benar tertidur.


Hanifah diam memandangi wajah lelah Al yang tertidur. Terus dia memandang bahkan hampir tidak berkedip. Sementara Jeslyn dia duduk di samping Quen yang juga tidak kunjung sadar.


🍁 🍁 🍁 🍁


"Kakek, makan dulu, ya?" bujuk Nayla saat suster mengantarkan makan malam untuk pasien.


Andrean memang orangnya lembut tidak pernah kasar seperti Andreas. Jadi, dia menolak pun dengan cara halus agar tidak menyinggung orang yang sudah susah payar merawatnya.


"Kau sendiri apakah sudah makan, Nay?" tanyanya balik. Dan masih sanggup mengukir senyuman sekalipun senyum itu mungkin juga palsu.


"Kakek, kan sakit, biar cepar sembuh dan pulang, ya?"


"Kakek tanpa makan ga jadi masalah masih ada infus. Kalau kamu gak makan bisa-bisa sakit kamu, Nay. Kalau kamu sakit. Al, Quen dan semuanya juga akan repor nanti. Kamu saja makanlah dulu. Cari makan di luar gak apa-apa. Kakek bisa makan sendiri nanti," buju Andrean.


Wanita itu pun tidak mau berdebat. Ia meng iyakan saja. Meraih ponsel dan memesan makanan online.


"Nay sudah pesan makanan, Kek. Kakek makan dulu. Ya? ucap Nayla.


Andrean tersenyuk lebar dan berkata dengan lembut, "Kau bawa itu ke sini dulu, Nay. Biarkan kakek makan sendiri."


"Kakek bisa makan sendiri? Nay suapin aja."


"Nay, tangan kakek tidak apa-apa. Habya kaki saja sepertinya lumpuh. Semoga tidak selamanya. Jadi, selama bisa dikerjakan sendiri, kakek tidak akan merepotkan cucu kakek."


Pria itu pun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Namun, tiba-tiba dia teringat pada Quen dan Al. Lalu, ia pun menanyakan mereka kepada Nayla.


"Nay, Al ada di mana? Dan tadi kau ke sini, Quen baik-baik saja. Kan? Kasian dia sedang hamil malah mengalami hal seperti ini. Besok mungkin kakek sudah bisa pulang."


Nayla diam tak menjawab. Sebab, kenyataannya Al sedang berada di rumah sakit lain. Dan Quen tidak sedang baik-baik saja.


"Apakah terjadi sesuatu pada Quen, Nay?"


"Ya wajar saja kalau dia sedih, Kek. Dia tadi di rumah sempat jatuh pingsan," jawab Nayla.


Tapi, Andreas merasa ada sesuatu yang jelas Nayla sembunyikan."Bagaimana kondisi Quen tadi, Nay? Saat kau kemari, siapa yang menemani dia di dumah?"


"Tante Eren datang tadi, Kek. Ada momy jeslyn juga. Mereka masih mengurus tamu-tamu dan jemaah yang tahlil. Mungkin besok akan ke sini."


"Lalu, Al apakah dia di dumah?"


"Mas Al... Mas Al ikut acara tahlil. Iya ada di rumah. Mungkin sebentar lagi dia kemari, Kek."


"Baiklah. Jam delapan nanti aku mau menelfon Al."


"Iya, kek. Sekarang kakek makan saja dulu."

__ADS_1


__ADS_2