Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 53


__ADS_3

"Ini gaunku, kan? Kenapa kau yang make? Tidak bisa gitu, donk! Mamaaa, Papaaaa, Kak, Al..." teriak Quen mendapati gaun yang dipersiapkan untuknya dipakai wanita lain.


Wanita itu hanya diam tanpa respon. Dia tetap diam tanpa ekspresi.


Sedangkan Quen terus berteriak-teriak. Memanggil nama tiga orang terdekatnya itu.


Di sisi lain, Al melihat Nayla dan Bilqis yang sudah lebih dulu terlelap. Al memamdangi wajah Nayla yang npak lelah, serta mendengar napas yang halus dan teratur dari sosok yang telah tiga tahunan ini menemaninya.


Al mengecup lembut kening wanitanya. Dan tiba-tiba ia mendengar suara teriakan dari kamar adiknya memanggil namanya.


Merasa khawatir, Al langsung bergegas berlari keluaruu kamar, beruntung kamar Quen tidak terkunci. Dengan segera ia masuk ke dalam. Rupanya Quen tengah mengigau.


"Quen, bangun, Sayang! Kau kenapa?" Panik Al memangku kepala adiknya dan menepuk-tepuk pipinya berulang kali.


"Kakak... Itu bajuku kenapa dipake dia?" teriak Quen terus menerus dengan mata terpejam. Sementara badannya penuh dengan peluh.


Merasa kehabisan akal, Al meraih air putih yang berada di atas nakas menyipratkanya sekidikit air ke wajahnya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Al penuh perhatian.


Quen terbangun. Ia sedikit linglung. Dia melihat langit langit di kamarnya, posisinya sudah bersandar dalam pangkuan Al.


"Kak, bajuku...." Gadis itu terdiam menggantungkan kalimatnya. Ia sadar yang dialaminya barusan hanyalah sebuah mimpi.


Al masih memeluk Quen dari samping. Kembali tangannya meraih gelas air minum di atas nakas dan memberikannya pada adiknya.


"Minumlah dulu!"


Quen meraih, dan menyesapnya beberapa teguk. Air dingin membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Kini kondisinya sudah membaik. Namun, ia masih terdiam memikirkan mimpinya barusan.


Sebab, Quen pernah mendengar kalau mimpi baju diambil orang artinya kekasihnya yang akan hilang. Tapi, bukankah Aditya sangat setia dan benar-benar menyayanginya?


"Kak, Al.... " panggil Quen. Dia menggeser posisinya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang pria yang ia kenaldan telah melekat dalam benaknya sebagai kakak. Meskipun nyatanya hanyalah kakak angkat.


"Kamu kenapa, Quen? Mimpi buruk?" tanya Al dengan lembut sambil membelai lembut belakanh kepala adiknya.


Quen tidak menjawab. Ia hanya memper erat pelukannya kepada Al sambil tangannya *** lembut baju pria itu.


"Kamu istirahat, gih. Besok jadwal kamu padat bukan?" ucap Al lembut sambil mendorong pelan tubuh adiknya.


Rupanya Quen enggan melepas pelukannya, entah nyaman, merindukan tubuh itu lagi, atu baper dengan mimpo yang baru saja dialaminya.


"Kau tidak apa apa kan, sayang?" tanya Al sekali lagi.


"Kak, aku takut...."


"Kenapa? Cerita sama kakak, jika kau cuma diam, mana kakak tahu?"


"Aku mimpi gaun pengantinku dipakai orang, Kak." Quen masih bergeming dalam pelukan Al.


"Memangnya kau sudah tahu gaunnya, ha? Kau terlalu semangat untuk menikah, dan takut Aditya tertikung." Goda Al sambil mencubit ujung hidung Quen.


"Ah, sakit tau," ucap Quen manja sambil memegangi lengan Al. Quen pun duduk bersanding dengan kakaknya.


"Ini sudah malam, kau istirahatlah, bukankah besok kau akan melihat gaunmu? Jam berapa?" tanya Al seraya bangkit dari duduknya.


"Kak, mau ke mana?" Quen memegangi lengan kakaknya.


"Kakak mau istirahat, Sayang. Ini sudah sangat larut. Kau juga tidurlah.


"Besok pagi aku ada kelas, dan siangnya mau ke butik om Erwin, kakak ikut, ya?" ucap Quen memohob dengan tatapan memelas.


"Iya, besok kalau papa gak ngajak kakak deh, aku temani kalian. Sekarang tidurlah dulu biar tidak kesiangan!" Seru Al sambil memasangkan selimut pada Quen.


"Aku tidak bisa tidur."

__ADS_1


"Mau di temani?" goda Al sambil tersenyum jail.


"Tentu saja tidak, jika kau menemaniku bagaimana dengan istrimu?"


"Kan dia sudah ditemani Bilqis," jawan Al apa adanya.


Quen pun tertawa menutup wajahnya dengan selimut dan meminta Al untuk keluar.


Pria itu pun tersenyum dan meninggalkan kamar Quen kembali masuk ke dalam kamarnya.


Saat Al menutup pintuk kamar Quen, mendadak ingatannya teringat dengan momen tiga tahun lalu, saat ia datang ke apartemen Quen di malam hari. Dan tanpa dia duga Quen menggodanya hingga keduanya melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh kakak beradik.


Al diam sejenak. Berdiri di depan pintu, cukup lama akhirnya pun ia melangkah meraih gagang pintu kamarnya. Kembali dilihatnya Nayla yang masih pulas terlelap dan ia pun berbaring di sebelah Bilqis. Semalaman tidak dapat tidur.


🌸 🌸 🌸


Nayla terbangung sekitar pukul lima pagi, ia melihat Al yang namoak masih tidur, awalnya wanita itu ingin membangunkan suaminya, tapi, urung. Sebab semalam sebelum dia terlelap suaminya masih berkerja di depan komputer. Entah sampai kapan dia tidak tahu. Jadi, wanita itu pun bergegas mencuci muka dan turun ke dapur. Membantu Lyli dan mama mertuanya menyiapkan sarapan.


"Nayla, kau sudah bangun Sayang?" sapa Clara yang tengah mengocok telur untuk dibikin omelet.


"Mama bangun jam berapa kok masaknya hampir selesai?" tanya Nayla dengan ekspresi sungkan.


"Kan dua orang yang mengerjakan, ya sudah. Kau goreng ini dulu dengan sedikit mentega, biar mama membangunkan Quen dulu." Clara punemberikan mangkuk besar berwarna putih berisi adonan omelet itu kepada menantunya dan pergi meninggalkan dapur.


Dua wanita itu nampak kaku, awalnya Nayla juga ramah terhadap Lyli, ia juga melakukan apa yang dilakukan keluarga ini. Menganggap ART seperti keluatga. Hanya saja, sepertinya Lyli menunjukan sikap ketidak sukaannya kepada Nayla.


"Mama biasa pakai teflon mana, kak?" tanya Nayla.


"Terserah mau pake yang mana aja!" jawab Lyli dengan ketus.


Nayla hanya tersenyum meski sebenarnya dia juga jengkel terhadap gadis ini, "Aku pake ini saja ya, kak?" ucap Nayla menunjukan teflon berukuran sedang berbentuk love.


Lyli hanya memandang sekilas dan kembali pada pekerjaannya.


Tiga puluh menit kemudian memasakpun sudah selesai. Nayla hendak ke atas untuk mandi sekalian memanggunkan Bilqis dan suaminya. Tetapi. Dua orang itu sudah bangun. Dan berdiri di balkon bersama Quen yang sudah berpakaian rapi.


Sontak tiga orang itu pun menoleh, dab Bilqis pun berhambur dalam pelukan mamanya meminta gendong.


"Sepagi ini kok sudah rapi, Quen?"


"Iya kak, aku ada kelas pagi ini," jawab Quen. Kelasnya sih mulai jam sembilan, tapi dia akan ke tempat Axel dulu mengantar calon anak tirinya sekolah.


"Bukannya kemarin kamu sudah wisuda, ya?" Nayla mengerutkan alisnya.


"Iya, ini aku sekolah profesi kak, semoga dalam dua tahun saja cukup untuk menjadi dokter, doa kan ya kak?" ucap Quen. Sambil tangannya sibuk menyisir rambut panjangnya.


"Ok, ya sudah. Kami mandi dulu," ucap Nayla pun pergi ke dalam sambil menggendong Bilqis.


Al tersenyum melihat Quen, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada gadis itu untuk ditanyakan, tapi, sepertinya itu tidak perlu.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu?" tanya Quen dengan tatapan menyelidik.


"Tidak apa-apa, sepertinya tidak percaya saja, rasanya baru kemarin kakak masih mengajakmu bermain dan menggendongmu kemanapun, sekarang anak itu sudah dewasa dan


akan menikah. Tapi, kenapa gadis secantik kamu harus menikah dengan duda beranak satu, Quen?"


"Kau ganteng. Tapi nikahnya juga janda anak satu," jawab Quen sekenanya sambil terkikik geli pada pertanyaan Al.


Al pun ikut tertawa karena ia melupakan tentang dirinya sendiri, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengetuk dahi Quen.


"Ya sudah, cepatlah turun dan sarapan, nanti kau terlambat," ujar Al lalu pergi meninggalkan adiknya.


🌸 🌸 🌸 🌸


Seorang pria berbadan tinggi dan atletis mengejar wanita yang nekat pergi dari rumahnya. Meski sudah berkali-kali pria itu memanggilnya, wanita itu tetap saja berlari tak menggubrisnya.

__ADS_1


"Kak, Kak Novi. Jangan lakukan tindakan gila ini, kau harusnya berfikir untuk Axel, jangan hanya demi kemauan dan keuntunganmu saja, Kak." Teriak pria itu, Alex. Adik kandung dari wanita cantik berbadan tinggi langsing bak model Luna maya.


"Lex, kau ini adikku, atau adiknya Aditya? Kau seolah menahanku kembali padanya setelah dia menemukan wanita lain, dia tidak mencintai wanita itu, dia hanya memintai aku dan sayang Axel saja, Lex, tidakkah kau tahu itu?" ucap Novita berbalik.


Alex menghela napas panjang, lalu mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan kanannya.


"Kak Adit mencintai gadis itu, Kak. Sepuluh dirimu pun, belum tentu bisa menggantikan dia seorsng dalam hatinya saat ini." lirih Alex, sambil menunduk.


"Bagaimana kau seyakin itu? Kau pasti bohong. Aku akan ke sekolahannya Axel saat ini juga." Kembali wanita itu berlari menuju ke garasi.


"Kak, berhentilah!" Seru Alex. Tapi, Novita tetap bersikukuh pergi tak menghiraukan panggilan adiknya.


Awalnya Alex menyerah tidak mau ikut campir lagi dengan urusan mereka, dia sudah berusaha sebisa mungkin menahan kakaknya demi Axel, dan Quen tentunya. Karena ia melihat kalau gadis yang dicontainya juga mencintai Aditya dan menerima Axel. Tapi, ia teringat kalau hari ini Axel pasti dijemput Quen dan Aditya. Akhirnya pria itu buru-buru mengambil kunci motor mengejar Novita.


Tiba di sekolahan keponakannya Alex hanya menemui Axel bersama Aditya, tak lama kemudian Novita tiba dan langsung menghampiri sepasang anak dan ayah.


"Axel," sapa Wanita itu.


"Mama Novi," jawab Axel, tanpa reaksi. Tapi, tetap saja binar mata kebahagiaan yang terpancar dai mata anak itu terlihat jelas.


Perlahan Novita berjalan ke arah dua laki-laki itu. Ia mengusap rambut Axel lalu berjongkok.


"Axel, apakah kamu kangen mama?" Mata Novita lekat menatap ke dalam mata putranya. Menghara sebuah jawaban  yang kiranya mampu mengurungkan pernikahan Aditya dengan wanita baru.


Anak itu enggan menjawab, ia hanya bungkam dan mendongak ke arah papanya.


"Axel, masuklah ke mobil dulu, tunggu papa di sana ya, Sayang!" Seru Aditya sambil mengusap punggung putranya.


Axel pun menurut, ia pergi menuju mobil papanya.


"Ada apa kau menemui Axel?" tanya Aditya dingin.


"Dit, aku benar-benar tulus meminta rujuk, jika kau sudaj tak mencintaiku, lakukan demi anak kita. Kau bisa, kan?" Wanita itu meraih pergepangan kanan Aditya dengan kedua tangngannya.


"Nov, aku tidak bisa. Aku mencintainya dan tak ingin membuat dia kecewa dengan alasan Axel."


"Apakah kau pikir Axel benar-benar lebih menyukai ibu tirinya dari pada aku yang ibu kandungnya sendiri, Dit?"


"Dia sangat menyukai Axel, begitupun Axel. Terlebih, kami juga saling mencintai."'


"Ok, gadis itu menyayangi Axel di hadapanmu, tapi kita tidak tahu bagaimana dia di belakang kita. Dan... Kalaupun dianjuga sayabg luar dalam, karena dia belum mempunyai anak sendiri denganmu, ceritanya akan lain, Dit. Jika kalaian sudah memiliki anak sendiri dengan gadis itu, malah yang ada kau juga akan turut tidak peduli dengan Axel. Dan menyalahkan Axel atas kenakalan adik barunya yabg seayah tapi beda ibu."


Aditya nampak geram mendengar ucapan Novita. Ia mengepalkan tangannya, sebisa mungkin menahan emosi yang hampir meluap. Bahkan tangannya ingin sekali menampar wajah wanita dihadapannya karena berani berkata buruk tentang Quen.


"Nov, tidakkah kau ingat bagaimana perlakuanmu dulu saat pergi demi laki-laki lain? Kqu begitu teganya pergi meski mendengat Axel menangis memanggil namamu, dan sekarang kau kembali meminta rujuk dengan alasan demi Axel. Apakah kau tidak malu pada dirimu sendiri?"


"Aku khilaf, Mas. Maafkan aku,"


"Heh,khilaf, atau memang suami baruku sudah mencampakanmu, menemukan wanita laij yang mebih menarik dadimu?" sindir Adtya sambil menyeringai kecil.


"Aku mohon beri aku kesempatan, Mas." Novita bersujut sambil memegangi pergelangan tangan Aditya.


Namun rupanya hati Aditya sudah beku, dia tidak mau lagi berurusan dengan mantan istrinya. Prioritas utama dia saat ini adalah Quen dan Axek, putranya.


"Maaf, aku harus segera kembali," ucap Aditya sambil mengibaskan tangannya, lalu pergi menyusul Axel yang sudah lebih dulu berada di Mobil. 


Begitu mobil Aditya sudah pergi, Alex menghampiri kakaknya. "Sudahlah kak, sia-sia saja kau melakukan ini, kita pulang saja, ya?" Ajak Alex.


Tanpa menjawab, Novita pun melangkahkan kakinya menuju mobil, sementara Alex, ia berjalan ke arah motornya dan mengikuti mobil Novita dari belakang.


Dalam hati pria itu juga turut bingung. mendukung Novita, atau membiatkan wanita yang dicintainya bahagia.


Andai kelak kak Novi kembali rujuk dengan kak Aditya, aku tidak akan keberatan menerima Quen. tapi, yang jadi masalah apakah Quen masih mencintaiku? sepertinya di hatinya saat ini hanya ada nama Aditya saja. Tiga tahun lalu ketika aku kembali mendekatinya dia juga terkesan biasa saja. tak ada respon lebih selain menganggapnya mantan.


selama perjalanan Alex benar-benar mengalami perang batin. bahkan larena melamun. ia hampir saja menabrak orang yang melintas menyebrangi jalan raya.

__ADS_1


"Hay, kalau naik motor yang bener, pakai mata jangan nglamun saja!" Teriak seorang yang melihat Alex. namun pria itu tidak menggubris. ia tetap memacu kendaraannya. toh dia tidak menyenggol orang itu, hanya hampir menarbraknya saja.


__ADS_2