Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 88


__ADS_3

"Nay, kau tahu pondasi dalam langgengnya suatu hubungan itu apa? Satu saling percaya, dua jujur. Papa sudah menikah dengan mama dan menolak wanita lain artinya hanya ada mama di hatinya, gak ada yang lain. Cemburu boleh, karena kalau ga sayang ga cinta ga bakal cemburu, misal kamu lihat pak makmur tiba-tiba pdkt dengan janda muda, kau biasa saja, yang ada malah mendukung dari pada hanya menduda. Kenapa? Karena kau tidak cinta. Tapi, jika Al yang demikian? Jelas kau akan marah bahkan sampai lupa diri melakukan banyak hal gila. Tapi, terlalu cemburu juga tidak baik, karena hanya akan membuat pasangan kita menjadi risih dan bosen sama kita."


Nayla diam sesaat, merenungi setiap kalimat yang Clara sampaikan. Memang benar, dia terlalu posesiv. Lagi pula, jika benar Quen dan Al saling suka, gak mungkin menikah dengan yang lain.


Nayla jadi teringat dengan beberapa novel dan juga kehidupan pemuda pemudi di kampungnya. Pria yang tidak mencintai seorang wanita dan dipaksa menikah sampai bertahun-tahun istrinya tidak akan di sentuh. Jika wanita, masih ada kemungkinan karena kewajiban. Tapi, Al dari malam pertama juga sudah menjalankan tugasnya dengan baik bahkan sampai sekarang. Sedangkan Quen, sendiri terlihat dari sikap dan raut wajahnya benar-benar sayang pada Al. Bahkan sangat cemburuan.


"Mama, apa dampak negatif dari pria yang selalu dituduh?" tanya Nayla serius.


"Jenuh, bosan itu pasti, ya? Kalau gak ninggalin pasangannya. Dia malah main gila."


"Maksutnya main gila, Ma?"


"Misal mama ya, posesiv nuduh ada main gila dengan Lyli. Misal... Semoga gak," ucap Clara sambil tertawa. "bisa jadi, lama-lama papa beneran godain Lyli dan ada main belakang. Jadi, kita harus bawa rilex aja. By the way. Mama seneng banget lihat kalian sudah baik-baik lagi. Jangan brantem terus, ya?"


"Iya, Ma. Terimakasih."


"Nay, mama lihat Quen dulu, ya? Tumben banget dia tidak ikut berkumpul di sini," ucap Clara lalu beranjak meninggalkan Nayla.


Clara awalnya mengira kalau putrinya berada di kamar. Tapi, kamarnya kosong. Ternyata gadis itu ada di ruang keluarga tengah ngobrol bersama kedua kakeknya sambil tangannya sibuk memijat kaki neneknya.


Tak lama kemudian Al, Vano dan Yuna keluar dari ruangan baca. Hasil kerja sama pun terjalin mulus. Sepertinya setelah menyelesaikan rapatnya mereka sempatkan bercanda sebelum keluar ruangan. Terlihat dari cara Vano yang terus menggodai Yuna.


"Suamimu suruh cepat pulang. Kalau maennya via telfon, mana bisa jadi, Yun? Masa anak mau di download." pria itu pun terkekeh.


Sementara Al yang sedari tadi mendengarkan celotehan papa dan temanbya hanya tersenyum simpul.


Tepat pukul sembilan Yna mengajak Candra putranya untuk pulang. Laki-laki itu pun berpamitan pada Alex yang sedaru tadi menemaninya.


"Quen, kau mau menginap di sini atau, tidak?" tanya Alex kepada istrinya.


Quen nampak berfikir sejenak, lalu ia pun memutuskan untuk menginap. "iya, Deh. Besok aku masuk sore lagi," jawab wanita muda itu.


"Alex, besok ada waktu ikut papa dan kak Al tidak?" tanya Vano.


"Kayaknya besok jam kosong, Pa. Ke mana?"


"Ya, ikut saja, besok pagi apa gimana, Al?" Vano melemparkan pertanyaan kepada putranya.


"Sore Quen kuliah, Pa. Barangkali dia juga mau ikut, siang biaa lah buat istirahat dulu."


"Ok, besok pagi. Quen ikut tidak?" tawar Vano.


"Iya deh, pokoknya kalau sama papa mau aja."


"Emang kenapa kok kalau sama papa selalu mau? Tanya Clara.


"Soalnya, kalau ikut kak Al selalu dijadiin tameng mulu. Masa iya pernah dulu pas Quen masih SMA suruh jadi istrinya di depan cewek Jepang. Mana ga nraktir lagi. Cuma bayarin ojol sepuluh ribu."


Semua yang ada di ruang keluarga pun tertawa. Tak terkecuali Nayla. Hanya saja dia tidak bisa berkata apapun.


"Quen, bagaimana dengan kuliah kamu? Uda ada pengumuman praktik di mana gitu apa belum, sayang?" tanya Vivian.


"Katanya sih, besok baru akan ada pengumuman, Nek. Tempat juga dari universitas yang menentukan."


"Cieee dokter Quen!" goda Al.


Sementara Quen hanya mengerlingkan mata dan mendengus kesal kepada kakaknya.


"Bilqis, nanti kalau besar mau jadi apa?" tanya Quen kepada keponakam tirinya.


"Emmmm jadi apa, ya? Pengen jadi dokter kaya Tente saja. Biar bisa nyembuhin orang sakit," jawab bocah itu dengan polos dan binar mata yang cerah penuh kebahagiaan.


"Mau jadi dokter apa, sayang?"


"Emmmm, apa ya? Apa saja deh yang penting bisa sembuhin orang sakit. Tante sekarang jadi dokter apa?"


"Tante? Tante masih jadi dokter biasa, karena masih harus menempuh pendidikan. Jadi prakteknya juga termasuk sekolah, sayang. Mesti diawasi oleh dokter ahli dulu."


"Kalau om Aditya, papanya kak Axel itu dokter ahli, ya Tante?"


Seketika wajah Quen berubah meski bibirnya masih mekengkung membentuk senyuman. Dia merasa tidak enak dengan Alex. Dia melirik ke arah suaminya, mencoba memperhatikan ekspresi wajah pria itu.


Tapi, sungguh di luar dugaan, dengan penuh kesabaran Alex menjawab pertanyaan Bilqis.


"Iya, sayang. Om Adit sudah menempuh pendidikan panjang untuk kariernya. Bahkan dia juga menjadi dosen di mana tante Quen belajar dulu. Usianya saja juga jauh dari tante Quen. Hampir seusia nenek Clara. Cuma lebih muda dikit. Sedangkan tantemu yang cantik ini, dia masih muda," ujar Alex sambil mengusap ujung kepala bocah itu.

__ADS_1


Sekali lagi, Nayla di hadapkan dengan Alex yang membahas tentang mantan istrinya, pria itu bahkan juga sangat rilex. Padahal Quen dan Aditya sudah tiga tahun menjalin hubungan sebelum akhirnya mereka akan menikah, dan batal dinhari pernikahan itu pula di gantikan olehnya.


"Kau harus bisa, Nay," bisik Nayla dalam hati.


"Aduh!" Seru Quen tiba-tiba sambil memegangi pinggangnya.


Lalu tangan kanannya meraih tangan Alex, di genggamnya erat-erat tangan itu sambil berkata lirih, "Aku capek, nih. Istirahat, yuk!"


Alex pun nampak panik, ia dapat merasakan sakitnya Quen dari cara wanita itu menggenggam tangannya.


"Quen, kau kenapa?" tanya Clara dan Vano bersamaan.


"Kecapekan mungkin, Ma."


"Alex, ajak istirahat saja dulu!" surub Clara.


"Iya, Ma." Alex pun menuntun Quen dengan perlahan. Begitu dapat tiga anak tangga, Alex tidak sabar ia pun menggendong Quen membawanya ke kamar.


Sedangkan dari belakang Clara membawakan segelas air hangat untuk putrinya.


"Bagaimana sekarang, Quen? Sudah tidak apa-apa?" tanya Clara setelah Quen meminum air hangat yang dibawakannya.


"Iya. Gapapa, ma. Akhir-akhir ini emang banyak kegiatan banget sih di luar rumah, kurang istirahat."


"Kurang minum air putih mungkin, ya sudah kamu istirahatlah lebih awal." Clara pun keluar meninggalkan kamar putrinya.


Quen menggeserkan tubuhnya sedikit minggir mendekati Alex yang duduk di tepi ranjang. Dengan ekspresi melas dan nada suara manja ia sandarkan kepalanya di bahu Alex yang sedari tadi menggenggam erat tangannya.


"Kepalaku sakit."


Alex pu meminat lembut kepala istrinya sambis setengah mengelus-elusnya.


"Perlu ke dokter?" tawar pria itu kepada istrinya.


"Gak usah. Kayaknya aku masuk angin. Agak mual dan ga enak banget nih rasanya. Kalau besok masih kek gini, baru ke dokter gapapa."


"Ya sudah, ayok tidur saja!" Alex melepas kemejanya hanya mengenakan kaus singlet dan boxer alias celana kolor lalu berbaring di sebelah Quen dan memeluknya.


***


Alex yang melihat keadaan istrinya dan  lagi dia sangat pucat, sangat panik. Segera ia keluar kamar dengan tergesa-gesa menuju dapur untuk mengambilkan  segelas air putih hangat.


"Alex, kenapa buru-buru?" tanya Nayla yang kebetulan juga akan ke dapur dan bertemu di tangga.


"Ke dapur, Kak. Quen muntah-muntah. Semalam bilangnya dia masuk angin."


"Masuk angin, ya?" Nayla tersenyum.  Lalu berbalik arah menuju kamar Quen.


Alex yang sudah sangat panik ia tidak banyak berfikir apa arti senyuman dari istri kakak iparnya itu. Kebetulan hanya ada Lyli di dapur. Mertuanya belum ada di sana.


"Kak, tolong ambilkan segelas air hangat, ya?" ujar Alex pada asisten rumah tangga keluaga ini.


Tak lama kemudian Lyli memberikan satu gelas besar air hangat kepada Alex. Ketika Alex kembali ke dalam kamar Quen sudah tidak sendirian lagi. Ada Al dan juga Nayla di sana mereka nampak tersenyum seolah bahagia. Tapi, kenapa? Adiknya sakit kok di senyumin.


"Kamu tidak ada persediaan, Quen?" tanya Al penuh perhatian.


"Gak tau, coba cari di kotak putih itu, dulu ketinggalan." tangan Quen menunjuk ke sebuah kotak di bawah meja belajarnya. Dengan cekatan Nayla beranjak mengambil benda kecil panjang berwarna biru dan putih itu.


"Ayo, aku antar. Semoga aja hasilnya tidak mengecewakan," ucap Nayla.


"Kenapa, Quen Kak?" tanya Alex kepada Al. Bingung.


"Kenapa? Kau yang suaminya harusnya aku tanya kau apakan adikku bisa seperti itu?" ucap Al dengan muka datar.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik sampai dianharus sakit begini. Mungkin acnya semalam terlalu dingin."


Dalam hati Al ingin tertawa, betapa polosnya dia, masa iya tidak tahu gejala apa yang dialami Quen saat ini.


Selang beberapa menit  nampak Nayla keluar dari kamar mandi seorang diri, lalu menghampiri Al dan membisikan sesuatu padanya.


Al nampak fokus dengan apa yang Nayla katakan. Lalu, matanta menatap tajam ke arah Alex yang merasa semakin tidak enak saja.


"Kau susul Quen. Kami akan turun dulu!" Seru Al lalu beranjak keluar. Sementara Nayla mengikutinya dari belakang.


Alex meletakan gelas itu di atas nakas laku membuka pintu kamar mandi perlahan sambil memanggil nama istrinya, "Quen. Kau tidak apa-apa, sayang?"

__ADS_1


Quen nampak berdiri di depan cermin sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Wajah itu nampak ceria berhiaskan senyuman meski nampak sedikit pucat.


"Kau tahu, apa yang ada di dalam genggaman tanganku ini, Alex?"


"Apa? Sayang. Plis jangan menakutiku, kak Al juga nampak marah tadi kepadaku. Apa yang ter .... " Kalimat Alex menggantung tak ditruskan saat Quen menunjukan benda sebesar ibu jari, dengan panjang kira-kira sepuluh cm an. Wajah itu nampak sumringah dan bahagia.


Alex melangkah lebih dekat. Dengam ekspresi tegang serta tangan bergetar meraih benda itu dari tangan Que. Diamatinya garis merah yang ada di sana dan ternyata ada dua garis. Secara reflek laki-laki itu memeluk erat Quen bahkan air matanya smepat menetes karna saking bahagianya.


"Kau hamil, Sayang? Kau mengandung anak kita? Buah hati kita?"


Quen tersenyum dalam pelukan pria yang dicintainya sambil mengangguk.


Alex menyeka air matanya yang sempat menitik di pipinya. Ia melepaskan pelukan dari Quen. Kepalanya tertunduk setelah melihat wajah itu. Mengamati perut istrinya yang masih rata lalu mengelusnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya merangkul pundak wanitanya itu.


"Kau tahu, berapa usia bayi kita ini, Dokter Quen?" Mata Alex menatap mata wanita di depannya dengan tatapan lembut, penuh kasih sayang.


"Terakhir kali aku mentruasi adalah dua minggu yang lalu. Jadi, bayi ini berusia dua mingguan, Sayang." Quen tersenyum sambil tangan kanannya memegang pipi Alex.


Alex menyentuh punggung tangan Quen lalu mencium bibirnya dan mengajaknya turun ke bawah untuk sarapan.


"Aku males jalan," ucap Quen dengan manja.


"Terus gimana? Minta gendong?" ucap Alex, menimpali. Masih dengan tatapan yang sama.


Wanita itu pun tersenyum sambil mengangguk manja.


Alex pun berjongkok di depan Que. Cukup lama, sampai sepuluh detik tapi wanita itu tidak juga kunjung memeluk punggungnya. Alex pun mendongak.


"Loh, ayo! Jadi minta gendong, tidak?"


"Jadi. Tapi, ada syaratnya."


Pria itu menaikan sebelah alisnya. "Sayarat? Apa, itu?" tanyanya. Dalam hati sih dia geli, siapa yang minta dan siapa yang memberi syarat.


"Ok, apa saratnya, tuan putri?"


"Turunkan aku kalau sudah turun tangga. Aku cuma malas menaiki tangga saja," ucp wanita itu yang membuat Alex gemas dan ingin menerkamnya saat itu juga.


"Kenapa?"


"Aku malu di lihat yang lain. Aku kan cuma malas naik turun tangga saja."


"Baiklah! Ayo, bu Dokter!" Seru Alex.


Sedangkan di lantai bawah, para orang tua heboh dengan berita mehamilan Quen yang diberitahukan Nayla. Awalnya Nayla menghampiri Clara yang ada di dapur. Dan Al mengatakannya kepada papa dan kakeknya yang mebetulan ketiganya tengah berkumpul menikmati kopi.


"Mama, kau tahu kenapa Quen kemarin kwsakitan dan nampak tidak fit akhir-akhir ini?"


"Kenapa? Pasti darah rendah sama kurang asupan air putihnya."


"Bukan, tadi pagi aku melihat Alex buru-buru kedapur mengambil air hangat untuk Quen yang muntah-muntah. Dan tau apa yang terjadi?"


Jantung Clara berdetak cepat mendengar ucapan itu dari Nayla. Ia menebak sesuatu tapi. Takut salah dan akhirnya kecewa.


"Apa, Nay?" seketika wanita itu menghentikan aktifitasnya.


"Dia hamil." Nayla tersenyum bahagia.


"Benarkah? Papa harus tahu tentang ini." Clara meletakan pisau yang digunakan untuk memotong sayur. Ia pun berhambur keluar dapur mencari suaminya dan membarkan kehamilan putrinya.


"Van, Quen ternyata hamil, dan kita akan punya cucu," ucap Clara senang.


Tidak ingin mengecewakan istrinya, Vano pun bangkit dari duduknya, menghampiri istrinya dan memeluknya.


"Iya, Sayang. Barusan Al kasih tau ke kita. Kita tunggu mereka turun saja, ya?" bisik Vano di dekat telinga Clara.


"Kau sudah tahu, Van?"


"Ya, barusan dari, Al. Kan pas Alex ambil air putih di kamar Quen di temani Al dan Nayla.


"Udah tahu kok gak bilang?" protes Clara sambil memukul lengan tangan suaminya.


Sedangkan Vano hanya tertawa mendapati tingkah istrinya.


"Wanita itu ya begini, Al. Susah dimengerti, kau yang sabar saja, ya? Mamamu juga bawel soalnya," ucap Vao lagi sambil terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2