
“Kau lembur lagi, ya?” tanya seorang wanita, sambil
meletakkan ponselnya di pipi kanannya, ia berdiri di depan jendela dapur dan
menatap kosong ke halaman belakang.
“Iya, Sayang. Maaf, ya kalau malam ini aku tidak bisa pulang
lagi. Besok pagi aku harus mengunjungi proyek di Bandung, dan setelahnya ada
pertemuan di Joga,” jawab soerang pria dari balik ponsel itu.
Queen diam tidak langsung menjawab. Rasa kecewa sedikit
terbesit di hatinya. Sudah satu bulan ini, Al sangat jarang sekali berada di
rumah.
“Besok kau tidak masalah, kan jika keluar sendiri dengan
Axel memilihkan jas terbaik untunya wisuda, lusa? Aku janji, akan segera
kembali saat semua urusan di Jogja kelar, oke?”
Queen masih diam. Ia enggan berbicara dengan Al. tapi, ia
juga tidak bisa menyalahkan suaminya. Dia tidak bisa lagi menyebutnya sebagai
workaholic. Pria gila kerja. Semua yang dilakukannya ini semata-mata karena
sebuah tanggung jawab, yang dia rasa juga pasti tidak akan mudah. Lagi pula,
kurang apa dia selama ini. Toh setiap kali ada kesempatan dan waktu luang juga
dia habiskan untuk keluarga.
“Tidak masalah. Aku dan anak-anak baik-baik saja. Kau jaga
Kesehatan, ya?” ucap Queen. mencoba menutupi rasa kecewanya.
“Ya, Sayang. Kau cepatlah istirahat, mcuah.”
Queen tersenyum getir. Lalau mematikan panggilannya. Ia
membereskan semuanya, sisa-sisa makan malam, sedangkan bibi jam segini ia
menggunakan waktunya untuk menyeterika baju dan menyiapkan seragam Adriel dan
juga Berlyn, karena, urusan dapur sudah pemilik rumah yang menghandle.
Sementara di ruang tengah, terdengar Axel dengan telaten
menemani belajar Adriel dan Berlyn. Queen tersenyum seorang diri melihat remaja
itu dan membatin, sambil matanya melihat ke atas langit cerah dengan
bintang-bintang yang bertebaran di sana.
‘Kau, cobalah lihat putramu, Kak. Dia tumbuh dewasa menjadi
remaja yang tampan dan baik. Sangat baik. Jika saja kau masih hidup, aku yakin,
kau pasti akan bangga pada Axel. Semoga, kelak Adriel juga banyak mencotoh
kakaknya,’ ucap Queen dalam hati. Sambil tersenyum seorang diri. kemudian ia
menghampiri anak-anaknya yang tengah belajar, ia mengajari Adriel, karena Axel
terlihat lebih dominan memberi perhatian pada putrinya. Ia juga senang, melihat Axel yang begitu. Tapi,
ia tidak sadar akan perasaan remaja duapuluh tiga tahun tersebut. Entah, apa
rekasi Queen jika dia tahu kalau saja Axel diam-diam menaruh hati pada Berlyn
yang abru berusia sepuluh tahun setengah.
“Sudah selesai, semuanya? Ya sudah, Adriel segera rapihkan
buku-buku kamu, dan siakan jadwal kamu, ya Sayang?” ucap Queen.
“Baik, Mama. Siap laksanakan,” jawab bocah itu. kemudian
berhambur menuju kamarnya yang bersebalahan dengan Berlyn.
Sementara Berlyn sepertinya juga sudah selesai. Terlihat kalau
anak gadisnya tengah menata kembali peralatan tulisnya.
Sekarang, di ruang tengah hanya ada Axel dan Queen saja. keduanya
mengobrol, membahas jadwal untuk besok.
“Besok kamu ada acara, Xel?”
“Tidak, Ma.”
“Ya, sudah, besok pagi, kamu bangun lebih awal, temani mama
anter kedua adik kamu dan setelahnya kita beli jas, oke?”
“Apakah tidak merepotkan, Ma? Axel bisa berangkat sendiri.”
“Tidak, Sayang. Kau ini punya mama,” jawab Queen.
Sementara Axel hanya tertawa tertahan karena malu. Sebab,
banyak teman-teman barunya yang tidak tahu tentang dirinya dulu mengira kalau Al
dan Queen benar-benar orang tua kandung dari Axel dan Adriel. Termasuk juga
Bilqis. Jadi, banyak yang salah sangka. Mengira kalau Axel empat bersaudara.
“Papa tidak pulang, Ma?” tanya Axel.
“Tidak. Dia berada di Bandung. Dan masih ada urusan di Jogja
juga katanya,” jawab Queen sambil menundukkan pandangannya.
“Papa pasti sangat lelah mengurus semuanya sendiri. Sepertinya
dia juga kurang sehat,” ucap Axel.
__ADS_1
“Bagaimana kau tahu?” tanya Queen, penasaran. Sebab, selama
ini ia merasa kalau suaminya baik-baik saja.
“Kapan hari Axel lihat papa memgang kepalanya. Sepertinya sangat
kesakitan. Tidak berselang lama dia juga mimisan,” jawab remaja itu.
Queen yang memang tidak mengetahui tentang Al, mengira itu
hanyalah sakit biasa karena efek kurang istirahat dan banyak pikiran. Ia berfikir,
jika kelak setelah dia sudah kembali ke rumah, dan masalah Axel sudah beres, ia
berencana mengajaknya ke Jepang.
“Ya sudah, ini sudah malam. Cepatlah istirahat,” ucap Queen
pada Axel.
Sementara Queen di dalam kamar masih memikirkan perkataan
Axel tadi, ia mulai berfikir ada yang tidak beres. Tapi, ia teringat dulu, saat
keduanya masih bujang dan Queen masih duduk di bangku SMA, Al sering sekali
mimisan. Bahkan mendiang kakek Adries pernah memarahi Lily habis-habisan karena
mengajak Al begadang menonton di ruang tengah, dan pagi harinya, Al mimisan. Lalu,
sang kakek marah besar. ***, sejauh ini tidak ada Riwayat penyakit aneh yang di
derita suaminya.
****
Sementara Al, sebenarnya dia tidak berada di Bandung.
Masalah dia akan ada pertemua dan survery itu hanyalah alasannya untuk mengulur
waktu. Dia berada di Jepang mencari dokter terbaik untuk mengobati penyakitnya
sejak ia masih remaja dulu. Memang, ia sempat sembuh. Tapi, karena ia sering
begadang, banyak memforsir tenaga dan pikiran serta menjadi perokok berat,
leukimia yang sempat hilang kini mulai timbul lagi dan menggerogoti tubuhnya.
“Pa, apakah ada yang sakit?” tanya Clarissa sangat panik.
Sebab, ia melihat papanya sangat pucat dan suhu badannya juga sangat tinggi.
“Tidak, Sayang. Papa akan baik-baik saja. Papa akan sembuh
dan mampu melawan penyakit ini demi kalian, oke? Maafkan papa yang belum bisa
tepati janji papa kemarin, untuk membawa mama dan saudari kamu kemari, ya?”
ucap Al sambil mengecup kening putrinya.
Sementara Clarissa tidak bisa menahan iar matanya. Kali ini
dia memang tidak rewel, ia bertingkah layaknya gadis remaja yang berbakti
“Sayang, berjanjilah pada papa, jangan katakana ini pada
mama dan saudarimu, ya? Sebenarnya dulu papa sudah pernah terkena penyakit ini.
Tapi, sudah bisa disembuhkan hanya saja… “
“Papa terlalu lelah, makan sering telat dan juga banyak
merokok, kan? Papa demi aku dan Berlyn, kau sembuhlah,” ucap Clarissa lagi. Ia
tidak bisa menahan harunya. Sudah dua minggu ini Al menghabiskan banyak waktu
di Jepang untuk melakukan pengobatan.
“Sudah, jangan sedih. Papa yakin akan sembuh. Karena ini
masih belum parah. Terimkasih, ya kamu sudah banyak sekali membantu papa
menjalankan tiga perusahaan itu, dan juga merawat papa selama di sini. Clarissa
memang anak hebat,” ucap Al sambil merangkul putrinya. Menggelus punggung gadis
yang duduk di tepi ranjang. Kian lama elusan itu kian lemah, dan tangannya
terjatuh. Sepertinya ia ketidur.
Dengan perlahan, Clarissa memindahkan tangan papanya,
kemudian membenarkan selimut yang papanya pakai. Lalu, ia mulai membuka leptop
milik papanya dan mulai mengerjakan tugas yang biasanya papanya kerjakan.
Usai mengerjakan pekerjaan papanya, mulanya Clarissa ingin segera
tidur agar besok bisa menemani papanya melakukan kemo terapi. Tapi, karena
tidak bisa tidur dan terus mengkhawatirkan kondisi papanya, Clarissa berusaha
memutar otak mencari ide.
Dia tidak mengkhawatirkan kondisi papa Al Ketika di sini. Gadis
kecil itu yakin, kalau papanya akan sembuh. Yang ia takutkan, papanya akan
hilang kesimbangan hidup, kurang istirahat jika sudah kembali di Indenesia.
Sekalipun mamanya seorang dokter, papanya sering mengabaikan saat dinasehatin.
Masih saja suka mencuri-curi waktu. Ketika malam, saat semua orang tidur, dia bangun
dan diam-diam lembur. Lain kalau di sini, bocah itu sangat cerdik, bahkan Al
saja tidak bisa mengatasinya.
Clarissa bergegas masuk ke dalam kamarnya, ia mencari
sesuatu yang kiranya bisa membantunya. Diambilnya sepatu hak tinggi, ia coba
__ADS_1
pakai heels dengan tinggi 10cm. masih terliat pendek. Akhirnya, ia mencari
inisiatif. Diambilnya foam bekas dvd, ia masukkan ke dalam kaus kaki untuk
mengganjal kaki depan dan belakangnya, serta menggunakan hells dengan panjang
15cm. lumayan, tingginya bertambah 20 cm. lumayan, tinggi badan dia sendiri
130cm. 150 memang, pendek. Tapi, bukankah banyak wanita Indonesia dengan tinggi
badan segitu? Toh aslinya dia juga masih berusia sepuluh tahun. Masih bisa
tinggi lagi.
Setelah mendaptkan solusi dari masalah tinggi badan,
Clarissa. Membuka kotak mekap yang dulu ia beli. Ia membeli dua paket mekap wo.
Satu ia berikan pada mamanya Ketika papanya datang bulan lalu, yang satunya, ia
simpan sendiri. Dan mungkin, saat ini akan berguna. Setelah semua siap, ia
pilih pilah foundi dan bedak tabur sesuai warna kulitnya, gadis itu membuka
chanel you tube cara bermekap agar terlihat natural, dan sedikit memberi kesan
dewasa. Butuh waktu satu jam ia mempelajari dan hasilnya sempurna.
“Hoaaam…. Ngantuknya. Ah, besok aku akan mengantar papa kemo
terapi dengan dandanan seperti ini. Jika banyak orang yang mengira aku ini
gadis dewasa berusia belasan tahun, maka aku bisa meyakinkan papa. Masih ada
waktu dua hari, aku bisa atur segalanya. Sisanya biar papa dan mama yang atur setelah
sampai di Indonesia,” gumam bocah itu, kemudian ia bergegas tidur setelah
merapikan peralatan mekapnya.
*****
Pagi ini Queen disibukkan dengan anak-anaknya. Usai mengantarkan
Adriel dan Berlyn, ia langsung mengajak Axel ke boutique, untuk mencarikan jas
yang pantas untuk acara wisudanya yang tinggal menunggu hari.
“Mama, maaf jika aku banyak merepotkanmu. Seharusnya aku bisa
pergi dan memilih sendiri,” ucap Axel, sambil mengendalikan kemudianya.
“Sudahlah, ini sudah tanggung jawabku sebagai orangtuamu dan
Adriel. Kecuali, jika kau di tempat om Axel. Kan kau di sini,” jawab Queen.
Sementara Axel hanya diam saja. Ia tidak bisa berkata apapun
lagi. Malah pikirannya yang justru pergi ke mana-mana.
“Bagaimana caraku membalas jasa mereka? Apakah dengan
menjauhi Berlyn? Bagaimana pun, usia kami terpaut sangat lah jauh. Duabelas tahun.
Aah… tapi, banyak kok yang menikah dengan selisih sepuluh tahun, dan bahkan
lebih. Kan yang lebih tua yang cowok, mungkin harus menunggu dia berusia tujuh
belas tahun dulu, harusnya itu tidak masalah, selama Berlyn juga menyukaiku,
dan mau hidup bersamaku selamanya,” batin Axel.
“Xel, kok kamu melamun? Hati-hati, loh!” tegur Queen yang
ternyata sedari tadi terus memperhatikan Axel.
“Oh, tidak. Axel Cuma terharu saja atas kebaikan mama Queen
dan papa Al,” jawabnya sedikit tergagap sambil tersenyum. Memang, jawabannya
juga tidak semuanya bohong, kan? Walau, bukan itu yang membuatnya sampai gagap
karena grogi.
Queen hanya tersenyum saja. ia tidak mengharap apapun dari remaja
di sebelahnya ini. Bisa berbuat baik padanya setelah kematian mamanya adalah
suatu keberuntungan baginya. Karena, bagaimana pun papanya meninggal juga
karenanya.
“Inyaallah, Xel. Kami menjagga kalian berdua itu benar-benar
tulus. Oh, iya kamu katanya sudah interview, gimana?”
“Ya sudah bisa mengajar, Ma. Tapi, lucu juga, yang jadi
dosen belum wisuda,” jawab Axel sambil tertawa.
“Tinggal menunggu hari. Lima hari aja, kok. Gak masalah,”
ucap Queen.
Usai memilih dan memilah jas untuk Axel, mereka memutuskan
untuk pulang. Awalnya Queen ingin pergi ke klinik. Tapi, ia menundanya nanti saja, setelah Adriel dan Berlyn sudah berada di rumah dan sama-sama tidur siang. karena, jika datang sekarang juga nanggung waktunya.
"Kita langsung pulang saja, ya Xel," ucap Queen setelah keduanya berada di dalam mobil.
Axel menoleh, memandang ke arah Queen dengan sedikit terkejut. 'Knapa harus pulang?' batin remaja itu. "Apakah mama tidak akan ke klinik?" tanya remaja itu.
"Iya, Nanti saja, Xel. setelah adik-adikmu tiba di rumah. Mama titip mereka, ya nanti?" ucap Queen.
"Iya, Ma." Axel mengangguk patuh sambil tersenyum.
"Oh, iya. emang kamu ga ada acara, ya, kok mama asal main nitipin aja, sih?" ucap Queen tiba-tiba teringat suatu hal.
"Kan ada Bilqis, Ma. Kemarin Berlyn bilang kalau dia akan kemari. Biar Axel ajak mereka ke rumah om Alex saja."
"Ya sudah. Terimakasih banyak, ya Xel," ucap Queen senang.
__ADS_1
#Apakah dia cocok jadi visual Axel?