
Menerima kabar kalau Quen sudah menuju rumah sakit di mana kakeknya dan kedua mertuanta dirawat, Alex pun memacukan kendaraannya ke sana dan mengurungkan ke rumah sakit di mana istrinya praktik.
Quen bersama dua temannya tiba di depan kamar Vip di mana sang kakek dibrawat. Tapi, di depan pintu hanya ada satu sepatu pria, jelas dia tahu siapa pemilik sepatu itu.
Ketika ia mengetuk pintu dan membukanya ternyata benar Al duduk di tepi ranjang menemanu sang kakek mengobrol.
"Kak, Al, sejak kapan kau di sini?" tanya Quen. Sambil meletakan tasnya pada sofa yang tersedia.
"Baru saja. Apakah kalian tidak ketemu sam kak Nay di jalan?"
Quen mengelengkan kepalanya lalu duduk di seblah Al, lebih dekat dengan kakeknya.
"Mereka teman-temanmu, Quen?" tanya Andrean yang tengah berbaring.
Gea melangkah mendekati Andrean dan meletakan satu parcel buah di atas nakas dan berkata pada Andrean, "Cepat sembuh ya kek."
"Oh, Gea rupanya. Apa kabar kamu, Nak?" sapa Andreab bahagia.
"Saya baik, Kek."
"Itu, siapa, Quen? Kakek belum pernah bertemu, ya?"
"Iya, kakek baru pertama bertemu dengannya, Dia adalaj Diaz, teman satu tim hanya saja kita beda universitas dulunya.
"Semoga kelak kalian bertiga sama-sama sukses." Mata Andrean lekat memandang Diaz seolah tiada berpaking sedetikpun. Entah kenapa,meski baru pertama kali bertemu hatinua sudah merasa suka dsn ada ketenangan tersendiri melihat anak muda yang tengah duduk dan ngobrol dengan Al. Ada sesuatu yang istimewa yang sulit dijelaskan oleh kata-kata dibalik kesederhanaannya.
"Kakek, kapan akan pulang?" tanya Quen merasa tidak ada yang dibicarakan.
"Tanyakan saja pada kakakmu, kemarin seharusnya kakek sudah boleh pulang. Tapi, dia malah tidak mengizinkan," jawab Andrean kesal.
"Aku tidak mau kakek kenapa-kenapa jika pulang bukan dari keputusan dokter," kilah Al dengan muka tegas dan dinginnya.
"Mengajukan rawat jalan apa sih kak salahnya? Dari pada di sini kakek stres, sama aja ga akan cepat sembuh. Di rumah kalau pasien rilesx, malah bisa cepat sembuh, lo. Ya kalau papa dan mama emang mereka belum sadarkan diri," ucap Quen.
Mendengar penjelasan Quen ekspreai wajah Al dengan drastis berubah, dengan nada lembut ia berkata pada sang kakek, "Kakek maunya sepertj yang Quen katakan barusan, ya?"
"Iya dari kemarin begitu, Al."
"Baiklah, kalian di sini dulu, ya? Aku akan urus dulu semuanya." Al pun bergrgas keluar dari kamar rawat Andrean.
"Nak, kemarilah! Siapa namamu?" tanya Andrean kepada Diaz.
Pemua itu pun melangkah dengan ragu-ragu. Dan berdiri di sebelah Andrean sementara, Quen masih berada di tempatnya.
"Kau tinggal di mana, Nak?"
"Saya ngekos di jalan pahlawan, Kek. Dekat dengan rumah sakit saya praktik dan juga cafe di mana saya bekerja sambilan."
Quen memperhatikan pria di hadapannya. Ia tak menyangka kalau Diaz juga melakukan kerja sampingan.
__ADS_1
Andrean mengangguk-angguk paham. "Kau mau bekerja sampingannya menjagaku, Nak? Kau tahu, aku sekarang sendiri. Kakak dan isteriku sudah tiada. Anak-anak masih koma dan belum sadar sejak kecelakaan itu. Dan cucu-cucuku sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Al, kakaknya Quen dia mengurus sendiri tiga perusahaan inti yang keluarga kami dirikan. Aku kasian tapi, aku juga kesepian. Bersediakah kau. Nak? Bepara gajimu di cafe? Jika perlu, akan kuberi lebih."
Diaz diam sesaat, ia tidak menunjukan ekspresinya, bahkan. Suka atau tidak saja dengan tawaran yang diberikan Andrean tidak tertebak.
"Kakekku cuma butuh teman saja, Diaz. Kami, tidak keberatan menemaninya. Tapi, kalau saat aku praktik, dan kakakku harus ke Jepang mendadak, bagaimana dengan dia? Kau bersedia, kan?"
"Kalian bicara sama kak Al dulu. Jika dia tidak keberatan, aku akan minta izin sama ibuku," jawab Diaz, lirih.
Andrean tersenyum puas. Ia bahkan memberi nilai lebih pada sosok anak muda di depannya. Tidak hanya santun, namun, ia tidak buru-buru dalam ambil keputusan. Sifat serakah nyaris tak ada dalam dirinya. Sungguh langka. Puji Andrean dalam hati.
"Baik, nanti sampai rumah aku akan berembuk dengan cucu laki-lakiku dulu." Andreas tersenyum sambil menepuk bahu Diaz beberapa kali.
Tak lama kemudian, Juna, Al dan juga Alex masuk ruang rawat Andrean secara bersamaan.
Entah bagaimana bisa kebetulan begitu, bilangnya, Juna dan Alex ketemu di tempat parkir. Sementara keduanya beremu Al di pintu kamar inap Andrean.
"Semua sudah beres, kita kemasi saja barang kakek lalu pulang. Al juga sudah telfon bik Yul untuk mempersiapkan semuanya," ucap Al seraya memasukan kertas bukti administrasi ke dalam sak kemeja hitamnya.
"Kalian pulang saja dulu, aku mau nunggu mama dan papa," ucap Quen tanpa melihat satu pun orang dalam ruangan itu.
"Apa kamu tidak capek, Quen?" tanya Alex, kawatir.
"Tidak, kau juga pulang saja, ya. Aku tidak apa-apa." Quen tersenyum ke pada Alex. Bahkan dia juga menegaskan tidak mau ditemani siapapun yang ada di dalam ruangam itu.
Dengan berat hati, akhirnya semuanya pun pergi meninggalkan Quen sendiri. Sementara Clara dan Vano setiap harinya ada beberapa anak buah Al yang setia menunggu secara bergilir dan selalu memberikan kabar atau perkembangan pada tuannya.
Quen berdiri di depan pintu yang tanpa celah, bahkan, kaca pintu pun ditutupi dengan kertas. Ia menyandarkan sedikit kepalanya pada pintu itu. Dia tahu, ini salah dan jika ada perawat yang melihatnya. Jelas, ia akan ditegur. Tapi, ia tidak peduli, ia gunakan kesedihan dan air matanya untuk memohon.
Dan benar saja, ketika dokter yang ada di dalam membuka pintu hendak keluar, Quen pun terjatuh pada pelukam dokter itu. Sebab, ia bersandar penuh dan pintu dibuka mendadak, dia tidak bisa atur kondisi tibuhnya.
"Nona, apa yang ada lakukan di sini?" tanya dokter pria paruh baya itu, heran dan hendak marah tapi, urung karena melihat tampang Quen yang benar-benar kusut.
"Maaf." Quen mengusap air mata yang jatuh di kedua pipinya bergantian. "Papa dan mama saya sudah seminggu ini koma, belum sadar dari kecelakaan beruntun kemarin, dan saya belum menemuinya meski hanya sekali, sebab, bersamaan dengan kabar itu, saya juga tertimpa musibah," ucap Quen tertunduk.
"Maksut anda papa dan mama itu tuan Vano dan nyonya Clara?" tanya sang dokter penuh simpati dan rasa iba.
Quen tidak berkata melainkan hanya mengangguk pelan saja.
"Ya sudah, waktu besuk cuma satu jam. Apakah kau akan menggunakan satu jam itu sendirian saja?"
"Apakah boleh, Dok?" tanya Quen sengan wajah yang kian cerah.
Dokter itu pun mengangguk pelan dan tersenyum tipi, sangat tipis bahkan hampir tak terlihat.
"Terimakasih, Dok. Terimakasih."
Quen pun melangkahkan kakinya. Tiba-tiba badannya terasa limmbun saat mendapati dua insan di paling ujung dengan tibuh penuh perban dan alat-alat penopang kehidupan di dada, jari dan semuanya.
Bibir Quen bergetar, tiba-tiba kakinya terasa seolah lumpuh, sekuat tenaga ia melangkah dan akirnya tersungkur jatuh di dekat tempat papanya berbaring. Kembali ia menangis sejadi-jadinya. Dengan suara bergetar, Quen mulau barkata kepada sang papa yang masih belum sadar.
__ADS_1
"Pa, kau bilang akan menemaniku setelah dari prancis, tapi kemapa sudah sembilan hari kau bahkan juga belum sadar? Pa, bukankah kau sendiri yang bilang janji itu adalah hutang yang harus di tepati? Kau yang berjanji, kau pula yang mengingkari. Bangun, Pa... Bangunlah... !"
Quen berusaha bangkit, diraihnya tangan Vano lalu mengenggamnya dengan erat. Dan kembali dia mengungkap apa yang ada di dalam hatinya.
"Pa, meski pun kau tidak menemaniku, aku yang akan menemanimu. Meskipun kau tidak bisa menjagaku, aku ayang akan memjagamu, Pa. Kau tidak perlu kawatir akan kondisiku, aku baik-baik saja. Dan soal cucumu, dia lebih memilih kakek dan nenek buyutnya di sana. Tidak apa-apa. Aku masih bisa memberimu cucu lagi, Pah jika memang kau benar-benar mau. Tapi, sadarlah dulu. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Pa. Aku rindu bersandar dan berayun-ayun di kakimu. Sekalipun aku sudah dewasa, kau kan selalu memanggilku putri kecilmu? Bangunlah, Pa. Putri kecilmu merindukanmu. Dia merindukan masa-masa duduk di halaman bersama kakak menanti mobil papa masuk gerbang, dan dengan senyuman itu, kau memeluk dan mendong kami berdua, sementara mama, dia sibuk menyiapkan makan malam kita. Tidakkah kau rindu dengan masa itu, Pa? Kau terlalu lama tertidur di sini, Pa?"
Tanpa Quen sadari, bulir bening mengalir di kedua ekor mata Vano. Meski tubuhnya tiada memberi sedikit pun respon, tapi, ia ikut menangis saat putrinya mengadu dan memohon padanya dengan terisak. Memang sejak dulu, Vano paling tidak bisa melihat Clara dan putrinya menangis. Quen baginya adalah Clara kecil yang paling diprioritaskan.
Quen menghadap ke belakang. Ia melangkah ke arah Clara yang sama-sama tidak berdaya. Meski air matanya mengalir deras pada kedua pipinya, gadis itu berusaha tersenyum.
"Mama, bangunlah. Mau sampai kapan kau akan begini, Ma? Lihat! Putrimu sudah tidak cengeng lagi? Tidakah... Kau ingin melihatnya? Aku tersenyum, Mah. Bahkan tadi praktikku lancar, dan selalu lancar meski sering dihina dan dipandang sebelah mata oleh pasien yang meragukan para koas sepertiku." ucapan Quen terbata-bata akibat dari ia menahan tangisnya. Jadi, ia merasa seolah lehernya seperti tercekik saja, hingga berbicara pun tidak bisa lancar.
"Ma, apakah kau tahu? Tante Lusi tadi bilang begini, Quen, jika kau selalu mempertahankan prestasimu. Tante yakin, dalam waktu satu setengah saja kau akan di lantik menjadi dokter, lalu, kau akan ambil spesialis apa? Begitu, Ma," ucap Quen bercerita dan meniru kalimat yang diucapkan dr.Lusi sebagai dokter pembimbingnya.
"Ma, menurutmu aku harus ambil spesialis apa? Kulit dan kecantikan boleh?" tanya Quen, menentang permintaan mamanya, sebab, dulu mamanya berpesan, jika memang ingin menjadi dokter, ambil spesialis yang umum di derita orang dan jadilah penolong setiap kalangan bawah. Jika dia menjadi dokter kecantikan dan kulit, jelas, hanya orang elit saja yang akan berkonsultasi kepadanya.
"Ma, kau jangan diam saja, atau kau akan terbangun dengan kejutan gelarku sebagai doktet kecantikan?" ancam Quen. Sambil terus menyeka air matanya.
Sementara, di belakagnya dua oranv perawat magang kira-kira seumuran dengannya tengah berdiri. Quen tahu, apa yang akan mereka lakukan. Dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan kembali tersenyum pada mamanya.
"Ma, tanpa terasa sudah satu jam putrimu ini bicara pada kalian. Dan kalian bahkan hanya diam tidak meresponnya. Aku kembali dulu, ya Ma?" Quen sedikit membungkuk mencium kedua pipi Clara lalu, bergantian kedua pipi Vano, dan melangkah keluar sambil mengangguk dan memberi sedikit senyuman tipis pada dua perawat yang hendak mengingatkannya, tapi, tidak tega melihat keadaan Quen yang sungguh terpukul.
"Dia calon dokter ternyata, kasian. Ini pasti ujian dia dalam menempuh pendidikan," bisik salah satu suster pada temannya.
"Iya, bahkan kakek neneknya meninggal. Satu kakeknya langsung sadar, tapi, katanua sementara lumpuh. Kasian sekali, dia," ucap satunya lagi. Menimpali.
Quen terkejut ketika mendapati Diaz juga duduk di kursi tunggu luar ruang ICU.
"Diaz, kenapa kau tidak pulang?" tanya Quen sambil menoleh melihat sekitar.
"Ya, aku kembali. Tadi, dengar Kak Al dan pacarnya Gea membicarakanmu, kau sempat lima kali pingsan sampai keguguran, jadi, aku turun dengan alasan ambil motor di kampus, dan aku segera kemari."
Quen tersenyum dan matanya menatap lembut ke arah Diaz dan berkata, "Kau tidak pantas disebut teman, Diaz. Tapi, sahabat. Aku beruntung kenal kamu, aku bangga memiliki sahabat kamu, Diaz."
sementara Diaz gelagapan mendapati Quen yang seperti itu. Mungkin karena tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. jadi, ia belum terbiasa. Tapi, dalam hati Diaz mengutuk dirinya sendiri. baru saja berani dekat dan mungkin merasa jatuh cinta pada wannita, kenapa harus pada istri orang, Diaz?
Quen dan Diaz tanpa sadar berjalan sampai di parkiran sepeda motor, Diaz berhenti ketika sepeda motornya berada kira-kira sepuluh meter dari tempat dia dan Quen berdiri. ia agak bingung canggung dan merasa tak enak berkecamuk menjadi satu. akhirnya ia pun memilih untuk berbasa-basi.
"Mau aku antar pulang? Tapi, aku cuma naik motor, lo!" seru pria itu sambil tertawa canggung.
Di luar dugaan, Quen menanggapi serius dan dengan senang hati sangat bersedia.
"Boleh, ayo! aku juga lama gak naik motor, loh. emang, gak apa-apa ya kalau aku gak pakai helmet?" tanya Quen polos.
"Kamu serius mau naik motor sama aku?" Mata Diaz terbelalak kaget, tak percaya.
"Ya, iyalah, kau kira aku bercanda dan pura-pura mau? kalau tidak, aku tidak akan mengikutimu berjalan sampai sini."
Diaz memasang eksprsi kecut, dalam hati dia mengumpat, 'Yang basa basi itu aku, Quen. kenapa kau mau aku antar? tidakkah kau malu, atau gengsi? tidakkah kau takut masuk anggin?'
__ADS_1