Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 17


__ADS_3

Alex berjalan tergesa-gesa membuka pintu rumahnya.


Sesampainya, ia melihat dua orang wanita. Seorang adalah wanita paruh baya yang


membawa tas kresek penuh di tangannya. Dia adalah bibi pengurus rumahnya.


Seorang lagi wanita muda berambut coklat tua, mengenakan blus hitam dan lengan


panjang dan celana jeans warna biru tua, dengan rambut dibiarkan tergerai indah


sampai pinggang.


Alex sempat terpaku melihat penampilan Queen, beberapa kali


matanya memandang ke arah bibi dan mantan istrinya secara bergantian.


“Queen, kau sudah datang? Kau sendirian, apa bersama suamimu?”


tanyanya, dengan sedikit tergagap.


“Ya, aku bersama suamiku,” jawab wanita itu. Tak lama


kemudian Al menyusul setelah ia memarkirkan mobilnya dengan baik.


“Di mana istrimu?” tanya Queen sambil setengah mengintip ke


dalam.


“Dia ada di dalam,” jawab Alex. sambil sedikit menggeser


tubuhnya agar Queen bisa masusk ke dalam.


Tanpa ditunjukkan di mana keberadaan Zaahara Queen sudah


langsung ngeloyong menuju kamar pribadi Alex. bagaimana pun, sudah hampir dua


tahun ia tinggal di sini. Ia hafal dengan letak-letaknya. Terlebih, semuanya


masih sama seperti dulu, sedikitpun taka da yang berubah.


Alex membiarkan Queen masuk ke dalam kamarnya untuk


memeriksa Zahara, sedangkan ia, di ruang keluarga menemani Al, dan menunggu


hasil pemeriksaan istrinya.


Queen mendorong pintu kamar perlahan. Karena memang sudah


dalam keadaan sedikit terbuka. Di dalam, nampak olehnya seorang wanita


mengenakan hijab segi empat polos tengah berbaring di atas ranjang yang dulu


adalah ranjang yang seetiap malam ia tiduri. Bersama pria yang sama pula


tentunya.


Queen tersenyum lebar pada Zahara. Ia melupakan apapun


mengenai wanita itu, ia saat ini bekerja dan harus professional memperlakukan


dia sebagai pasien, jika dianggap sebagai orang yang saling kenal tidak lah


menyenangkan karena sikap Zahara yang seperti itu. Mencolok banget kalau tidak


menyukainya.


Sebab, begitu Zahara melihat kedatangannya, wajahnya


seketika berubah, sorot matanya juga menunjukkan kebencian.


“Halo,” sapa Queen dengan senyumannya yang lebar.


Wanita itu masih saja tidak menjawabnya. Tapi, Queen


mengabaikan, ia mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya, kemudian, meminta


Zahara untuk rilex dan mengecek tensi.


“Apa yang kau rasakan akhir-akhir ini?” tanya Queen dengan


lembut.


“Aku cuma gak enak badan, kemarin aku terlalu banyak makan


makanan  pedas dan asam bersama saudari


iparku. Kurasa minum obat maag saja cukup. Memang suamiku saja yang terlalu


panik, sampai harus memanggil dokter,” jawab Zahara dengan ketus.


Queen hanya tersenyum mendengar jawaban yang menusuk dari Zahara.


‘Apakah dia berfikir kalau aku masih ada rasa dengan suaminya? Ayolah, aku


sudah memiliki anak dengan suamiku, dan sudah enam tahun pula aku menikah


dengannya. Sebelumnya, kami juga hidup bersama sebagai saudara.’ Batin Queen.


“Ini tadi dari rumah, atau dari mana?” tanya Alex memulai


percakapan dengan pria yang duduk di sebelahnya.


“Dari rumah sakit, pulang kerja jemput nyonya, terus ada


telfon dari kamu.” Jawab Al dengan santai.


“Oh, iya, ya. Jadi Queen hari ini praktik pagi?” Sebisa


mungkin Alex mencoba mencairkan suasana dengan pria yang dulu adalah kakak


iparnya. Tapi, sekarang justru jadi suami dari mantan istrinya. Apakah dunia


selucu itu?


“Iya, jadi berangkat dan pulang kebetulan bareng tadi.” Al


meraih segelas kopi hangat di atas meja yang baru saja disajikan oleh bibi


pengurus rumah.


Cukup lama keduanya mengobrol, sekitar duapuluh menitan.


Bukan Al dan Alex yang merasa lama. Tapi, Queen yang serasa masuk ke dalam


kendang harimau betina.


“Alex, selamat, ya?” ucap seorang wanita dengan wajah yang


berbinar.


Seketika, Alex langsung berdiri dan menanyakan apa


sebenarnya yang terjadi. Sedangkan Al, ia meletakkan cangkirnya dan memandang


ke arah Queen juga.


“Zahara hamil, sebentar lagi kau akan jadi ayah. Sekali


lagi, selamat, ya?” ucap Queen sambil mencangklongkan tasnya.


“Hah, benar kah? Berapa usia calon anakku sekarang?”


“Sudah jalan tiga bulan, gimana, sih gak ketahuan,” ucap


Queen.


Alex masih bengong dan tidak percaya dengan apa yang


didengarnya sendiri. Padahal, baru semalam ia meminta izin pada sang kakak


untuk mengasuh Adriel keponakan kecilnya untuk dijadikan pancingan. Bahkan, sore


tadi pula kakaknya juga menlfon dan memberinya Izin.


“Lex. Wanita hamil itu butuh perhatian Extra. Buat dia merasa


kalau dialah satu-satunya wanita terbaik dalam hidupmu, dan tunjukkan, kalau


hanya ada dia di hatimu,” pesan Queen memberi kode keras.


Al yang sudah faham dengan maksut istrinya hanya tertawa


miring saja.


Seketika Alex langsung ke kamar dan menghampiri istrinya.


Keduanya nampak bahagia dan saling berpelukan, Queen dan Al hanya tersenyum


saja menyaksikan kebahagiaan mereka. Pasti mereka sangat bahagia setelah sekian


lama menanti kehadiran buah hatinya.


“Kau baik-baik, saja Sayang?” bisiknya lirih di dekat telinganya


seraya merangkulnya dari belakang.


“Tentu saja, kan ada kamu dalam hidupku.” Queen mendongkak


ke belakang, sambil memberikan senyuman terbaik pada suaminya.


Al mencium kening Queen dan menghirup aroma rambut wanita


itu, dan mengajaknya untuk duduk karena dia juga dibuatkan minum oleh bibi yang


bekrja di rumah Alex.


“Queen, Al. terimakasih, ya?” Alex dan Zahara keluar kamar


bersama.


“iya, sama-sama,” jawab Queen. Akhirnya mereka pun


berpamitan untuk pulang.


Al yang semula senang mengira akan langsung pulang mendadak


ekspresi wajahnya berubah saat Queen berkata, “Kita ke salon, kan Sayang?” Terlebih


wanita itu mengatakannya sambil tersenyum lebar. Al tak sanggup membuatnya


kecewa jika berkata tidak.


“Eh, kirain kamu lupa.” Al hanya menggaruk tengkuknya yang


tidak gatal, sambil cengiran.


“Masih mau jadi pacarku, atau tidak? Jangan banyak protes


jadilah pacar yang baik.”


“Iya, Sayangkuuuuuu!” Al meraih tangan Queen dan mencium


punggung tangannya berulang-ulang.


Zahara dan Alex turut menyaksikan bagaimana harmonisnya


rumah tangga Queen dan Al.


“Ra, kau percaya tidak, jika dihatinya Queen atau Al masih menyimpan


kenangan masalalunya, tidak mungkin mereka bisa seperti itu,” ucap Alex, tanpa


mengalihkan pandangannya pada mereka berdua.


Zahara diam tidak menjawab. Bahkan, saat Queen membuka


jendela mobil dan melambaikan tangannya   saja hanya Alex yang membalas lambaian tangan


itu.


“Kamu ke salon mau ngapai, sih? Kan kamu uda cantik,” ucap


Al dengan nada melas.


Queen masih saja diam, ia pura-pura tidak dengar dengan apa


yang baru saja dikatakan oleh suaminya.


“Lagian, selama ini, mana ada aku lirik-lirik cewek lain,”


imbuh pria itu lagi, dengan nada dan ekspresi wajah yang sama.


“Mana ku tahu, Al. kan kamu tidak duapuluh empat jam


bersamaku. Kau di kantor berankat jam enam semenjak Berlyn masuk sekolah.


Pulang jam setengah enam sore, kadang juga lembur, waktu bersamaku hanya berapa


jam? Kau lebih banyak jadi suami orang dari pada suamiku,” jawab Queen sambil


mengibaskan tangannya yang masih menggenggam ponselnya dengan keras di atas


pahanya sendiri.


Al menoleh dengan cepat ke arah Queen sambil sesekali


melihat jalan, dahinya berkerut. “Kok suami semua orang, sih, Sayang? Kau pikir

__ADS_1


aku ini buaya?” protesnya tidak terima.


“Ya iyalah, mereka kan selalu caper sama kamu, ingin dekat


sama kamu dan membayangkan banyak hal tentang kamu. National husband ya gitu.


Aku harus kuat-kuat aja hatinya, dan berfikir di rumah kau suamiku tapi, di


luar… “


Al yang lupa tidak mengenakan sabuk pengaman langsung


membusungkan tubuhnya ke samping dan mencium kilat bibir Queen.


“Kau nyetir yang bener! Bagaimana bisa kau tidak memasang


sabuk pengamanmu?” ucap Queen setelahnya. Ia kian marah saja.


“Diam kau, jangan bahas itu lagi. Aku tetap suamimu di


manapun kau berada. Atau akan kugigit kau jika bicara begitu lagi.”


Queen cemberut dan membuang wajahnya ke jendela. Ia


berfikir, kenapa kesannya malah seperti bertengkar begini? Bukankah awalnya


bahas soal pacarana? Queen dalam hati menertawai dirinya sendiri, wajar saja


mereka para pria suka menyerah pada wanita dan menganggap kalau wanita makhluk


unik yang susah ditebak.


“Ke salon dulu, apa makan dulu?” tanya Al, saat sudah dekat


dengan tujuan.


“Ya ke salon dulu, dong! Masak mau ajak pacarnya makan dalam


keadaan kucel begini,” jawab Queen sambil tersenyum.


“Oke, baiklah, sayangku.”


Berkali-kali Al melihat jam tangan dan juga jam yang ada di


layar ponselnya. Sudah satu jam setengah berlalu, Queen masih saja belum


keluar. Ia mengumpat seorang diri, “Apa, sih yang dia lakukan di dalam? Kenapa


lama banget?”


Pria itu kembali duduk di kursi ruang tunggu, membolak-balik


majalah yang ada di sana, isinya juga seputar kecantikan dan pelayanan yang ada


di salon tersebut. Ia bosan dan jengah.


“Sayang, maaf sudah membuatmu menunggu.”


Barulah dia bernapas lega saat mendengar suara istrinya.


Tanpa terasa dua jam sudah dia menunggu.


Tapi, tunggu ada yang aneh dengan Queen. Ya, dia nampak


berbeda, wajahnya terlihat jauh lebih bercahaya saja, inner beautynya juga kian


terpancar kuat. Terlebih, rambutnya juga diombre dan bagian bawahnya diwarnai


maroon, sangat serasi dipadukan dengan rambutnya sendiri yang berwarna coklat


tua. Dengan sentuhan mekap flowes.


“Ayo! Kenapa bengong saja?” ucap Queen sambil menyenggol


lengan Al.


“Eh, iya. Kamu kelihatan beda dan lebih cantik,” puji Al


tanpa sadar.


Queen hanya tersipu malu mendengar itu. Lalu, dengan


rencananya tadi apakah gagal setelah dipuji? Tentu saja tidak. Ini adalah modal


utama untuk menjalankan rencananya.


“Ya sudah, kamu bayar, gih!” bisik Queen.


Al sedikit terkejut dengan total biaya yang harus ia bayar


untuk perawatan Queen. Ia membatin, ‘Mungkin ini banyak staf kantornya yang


melakukan hal kotor, pria nekat korupsi, dan yang wanita berlomba-loba menggaet


bosnya, dan pria kalangan atas untuk diporotin. Ternyata untuk cantik itu


mahal. Belum skin care yang mereka gunakan sehari-harinya.


Setelahnya, barulaah ia kembali menghampiri Queen yang


mengenakan mini dress warna maroon. Rupanya dia sudah menyiapkan pakaian


gantinya. Mungkin saat pulang makan siang tadi. Sebab, Al melihat kalau Queen


sempat masuk ke kamar sebentar. Ternyata memang sudah dia rencanakan semuanya


dengan sangat rapi. Malah Al kini yang terlihat sedikit kucel sekarang.


“Kita mau makan di mana?” Al berjalan menjajari Queen dan


meraih pinggang Queen.


“terserah kamu, yang penting nyaman buat kita yang sedang


pacarana,” jawab Queen.


Akhirnya, setelah makan malam, Queen mengajak untuk membeli


parfum dan juga tas baru. Untuk semalam ini saja pengeluaran Al lumayan. Andai


dia hanyalah karyawan biasa, pasti ngelus dada uang gaji sebulannya lenyap


dalam sekejab.


Queen sengaja mengulur waktu, sampai hampir jam sepuluh


lebih keduanya tiba di rumah. Rumah juga sudah sepi, bibi yang hanya tinggal


sendiri juga mungkin sudah tidur jam segini.


dulu, setelah mandi, ia langsung membuka laptopnya, ia sengaja mengerjakan di


ruang keluarga, agar tidak tergoda oleh bantal dan guling hidupnya yang baru


saja nyalon.


Queen tertawa seorang diri melihat suaminya yang kembali


bekerja setelah lelah menenaminya ke salon dan berbelanja kebutuhan pribadinya.


ia kembali masuk ke dalam kamarya dan hanya memakai lingeri saja.


Lalu berjalan mengendap-endap ke dapur membuatkan suaminya


secangkir kopi.


“Lembur, ya? Ini, aku buatkan kamu kopi,” uapnya sambil


meletakkan secangkir kopi di atas meja, tidak jauh dari leptopnya.


Al mencium aroma wangi dari tubuh Queen yang duduk di


sebelahnya. Aromanya segar dan sangat menenangkan, membuat ia jadi rilex.


“Makasih, Sayang,” ucap Al tanpa melirik ke arah istrinya. Sepertinya ia belum


bisa berpaling dari tugas yang tengah ia kerjakan.


“Banyak banget, ya PR kamu?”


“Lumayan,” jawabnya singkat.


“Diminum dulu, gih. Keburu dingin nanti, biar kamu tidak


ngantuk juga,” ucap Queen,


Al hanya tersenyum, dengan mata yang masih tertuju pada


layar leptopnya, ia meraba cangkir tersebut dan mulai menyeruputnya. Kemudian


meletakkan kembali cangkir tersebut.


“Gimana kopi buatanku, Sayang? Enak tidak?” tanya Queen


tanpa menyentuh Al sedikitpun. Biasanya dia kalau seperti ini manja terus dan


terus menempel.


“Enak banget, Sayang. Aku selalu menyukai kopi buatanmu,”


jawabnya.


“Cuma gitu saja, Ya?”


Al tersenyum seorang diri, ia memutar tubuhnhya, menghadap


ke Queen yang tengah duduk di sebelahnya untuk mencium kening dan kedua


pipinya. Itulah permintaan Queen jika ia membuat sesuatu yang enak, ia harus


mendaptkan imbalan dari suaminya.


Tapi, tiba-tiba saja Al terpaku ketika mendapati Queen yang


hanya mengenakan lingeri. Paha mulusnya yang putih tereskspose, ditambah lagi


rambutnya yang bergelombang tergerai indah dan wewangian yang membuatnya ingin


terus menghirup baunya. Karena Queen sengaja mengambil paket pengantin tadi,


saat disalon. Mungkin, itu pula sebabnya, Al melihat ada yang berbeda dengan


istrinya saat keluar dari ruang perawatan.


‘Duh, kenapa dia harus berpakaian di saat seperti ini?


Kerjaan numpuk lagi. Lagian, kenapa papa gak ngasih sejak pagi saja,’ keluh Al


dalam hati.


Al mencium kening Queen lama sekali, rasanya ia tak ingin


melepaskan saja pelukannya. Tapi, Queen yang meminta agar menyudahinya.


“Al, selesaikan dulu tugas kamu, biar besok kau tidak


keteteran kalau missal bangun kesiangan,” ucap Queen.


“Oke, baiklah. Aku akan semangat menyelesaikan ini. Kurang


sedikit lagi.”


Sudah pukul sebelas malam. Al mulai mengantuk, diraihnya


sisa kopi miliknya diminumnya hingga habis agar dia bisa tetap melek, minimal


sampai pekerjaannya selesai.


Queen yang masih setia menemani Al di sampingnya tertawa


tertahan melihat Al sudah menghabiskan minuman yang ia buatkan.


“Sayang, aku ngantuk banget, nih. Aku tidur duluan, ya?”


pamit wanita itu, lalu ngeloyong berjalan pelan menuju kamarnya.


“Ya, Sayang. Kau istirahatlah dulu,” jawab Al sambil menatap


Queen dari belakang. Entah kenapa, tiba-tiba saja tatapan matanya tertuju pada


pinggul wanita itu yang sangat menggoda dan terlihat lebih sexi.


‘Sialan, kenapa gua horny gini, ya?’ umpatnya dalam hati.


Tapi, ia harus berusaha mengerjakan tugas yang papanya berikan dulu malam ini.


Karena besok pagi harus segera diberikan. Jika tidak sekarang, mana sempat.


Susah payah Al menahan  hasratnya, terfokus pada tugas yang ia


kerjakan. Ia Cuma berharap agar Queen belum tidur duluan saja. Tapi, bodo amat,


memang kenapa kalau sudah, tidur? Pikir pria itu.


Tepat pukul setengah satu dini hari, Al berhasil


menyelesaikan pekerjaannya. Setelah laptop ia matikan, dengan segera ia menuju

__ADS_1


kamar untuk meminta haknya sebagai suami pada Queen. Tapi, apa yang dia dapat?


Bukan Queen sudah tidur. Wanita itu masih terjaga. Tapi, ia menolak melakukan


kewajibannya sebagai seorang istri.


“Kau belum tidur, Sayang? Apakah kau menungguku?” bisik Al


dengan suara serak karena nafsu sambil menciumi leher Queen dari belakang.


Sedangkan tangannya juga bergerilya ke  seluruh bagian sensitive istrinya.


“Al… uh, apa yang kau lakukan?’ ucap Queen memberontak


sambil mendorong dada bidang pria itu.


“Apa yang kulakukan? Kenapa kau masih nanya, Sayang? Harusnya


kan kamu tahu.” Al yang sudah benar-benar konak oleh perangsang yang dipasang


Queen pada kopinya langsung menerkam wanita itu begitu saja, dan menindih


dibawahnya.


Dengan sekuat tenaga, Queen mendorong tubuh Al yang ada di


atasnya hingga pria itu jatuh terpelanting di atas lantai.


“Aduh! Queen, apa yang kau lakukan? Aku ini suamimu. Tapi,


kenapa kau seolah menganggapku orang lain yang akan memperkosamu?” keluh Al


sambil memegangi pinggangnya.


Queen segera merapikan lingerinya yang sempat lolos dari


pundaknya, kemudian ia bersendekap sambil tertawa miring melihat Al.


“Sayang, kurasa kau melupakan sesuatu. Tidakkah kau ingat,


aku ini pacarmu? Seseorang yang masih pacarana tidak boleh melakukan hubungan


suami istri, Mengerti?” ucap Queen, lalu mendorong Al keluar dari kamar.


Tak lama kemudian, wanita itu kembali dengan selimut dan


batal. Lalu memberikannya pada Al yang masih berdiri di depan pintu kamar


mereka.


“Queen?” Belum sempat Al melanjutkan kalimatnya, istrinya sudah


menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya.


Jelas, hal itu membuat Al akan sangat menderita dan entah


bagaimana ia harus mengatasinya nanti. Ia bisa tidur apa tidak nanti, juga


tidak tahu. Kali ini pasti Al akan sangat menderita, merasakan rasanya sangat menginginkan


tapi, tak menemukan pasangan. “Haaah… ya Tuhan, apakah salah kemarin saat aku


mengatakan kita pacarana lagi padanya? Kenapa malah tidak sesuai harapan?”


keluh Al dengan suara tertahan.


Queen yang masih berada di balik pintu hanya terkikik saja


menahan tawanya. Ia tahu, kalau itu akan membuat suaminya amat sangat


menderita. Tapi, jika tidak sekali-kali diberi pelajaran, mana bisa ngerti dia?


***


Alex menceritakan pada Zahara mengenai kabar dari Novita. Sesuai


permintaan Zahara juga, yang selama tiga bulan ini kian menyukai Adriel pun tetap mengajak keponakannya sesekali tingal bersamanya. Kali ini, jelas beda niat lagi tentunya.


“Ya sudah. Ayo kita ke tempat kak Novi. Kita beri tahu kabar


gembira ini. Mengenai Adriel sendiri, bagaimana kalau tetap mengasuhnya untuk kujadikan teman ngobrol di kala kau tidak di rumah?” usul Zahara.


“Kalau itu maumu, Sayang. Kenapa tidak? Ya sudah, kamu siap-siap,


gih. Seru Alex. lalu keduanya pun pergi ke rumah Novita. Sesampai di sana, Novita sangat bahagia atas kabar kehamilan Zahara.


Untuk urusan Adriel, ia sama sekali tidak keberatan jika


adiknya membawa putra kecilnya. Karena, Adriel sendiri juga sudah tahu kalau tantenya tengah hamil. Apalagi, Alex dan Zahara ngomongnya Adriel menemani tate dan calon debaynya di saat omnya tidak berada di rumah.


“Mama, apakah itu artinya Adriel akan memiliki adik bayi


dari perut tante Zahara?” tanya bocah itu polos dan penuh dengan rasa ingin


tahu.


“Benar, Sayang. Kamu ikut tante tinggal di sana temani tante


saat om pergi, mau tidak?” ucap Novita menjelaskan.


“Mauuuu, mau sekali,” jawab bocah itu dengan girang. Lain halnya


dengan Axel yang hanya diam dan selalu pasang muka datar sedari dulu, dalam situasi apapun ya begitu, sekalipun itu pesta ulang tahunnya sendiri pun juga akan begitu, datar dan dingin seperti kulkas.


“Axel, kamu temani mama, ya? Adik biar ikut om sama tante


dulu,” ucap Alex sambil menepuk bahu keponakannya yang sudah beranjak dewasa.


“Ya, Om.” Memang bawaannya Axel anaknya sangat dingin. Jika saja


yang berkata demikan bukan Alex, omnya sendiri, jawabannya pasti tidak akan begitu. Akan sangat pedas.


Tanpa diminta, sebagai anak dia juga sudah tahu apa kewajibannya. Kenapa mesti diingatkan?


****


“Bilqis!”


Gadis berusia duabelas tahun itu menoleh ke sumber suara


yang memanggilnya.


Dari belakang, seorang gadis berpawakan lebih besar darinya.


Tapi, tingginya, sebenarnya tidak begitu jauh jaraknya. Mungkin hanya selisih dua sentimeteran saja. Hanya saja badan Bilqis yang masih sangat ramping dan lurus, dan belum berbentuk, seolah memberi kesan kalau Bilqis masih sangat kecil.


“Ada apa Tiara?” tanyanya. Tumben saja sepagi ini, gadis itu


sudah mencarinya.


Dengan napas terengah-engah wanita itu membungkuk memegangi


kedua lututnya. “Aku au nanya. Kamu kenal sama kak Axel, ya?”


Bilqis diam tidak langsung menjawab. Ia mulai curiga kalau


Tiara yang memang terkenal mata keranjang itu naksir pada Axel juga.


“Kenapa memangnya? Kamu kenal dia?” tanya Bilqis balik, bukannya malah menjawab.


“Kemarin, saat aku di rumah pacarku, dia datang. Ternayata dia


sahabatnya pacarku.”


“Oh. Memang kenapa?”


“Tidak ada apa-apa. Dia jadi cowok dingin banget, ya? Kamu kayaknya


akrab banget sama dia, bagi nomor wa dia, dong!”


“Aku tidak berani asal menyebarkan nomor miliknya. Jika kau


mau, kamu minta saja langsung padanya. Kalaupun kau dapat dariku tanpa sepengetahuannya juga percuma. Dia gak bakal respon,” jelas Bilqis, panjang lebar.


“Ah, masa, sih? Terus kamu bisa dapat dari mana? Gimana bisa


kalian kenal baik dan akbrab banget? Kemarin kamu belajar sama dia kan minta diajarin?” cecar Tiara.


“Ya kenal lah. Mamanya kenal baik dengan mamaku,” jawab


Bilqis. Yang ia maksud adalah Queen. Ia tidak pernah terbuka mengenai


keluarganya. Jadi, Tiara tidak akan mungkin bertanya lebih lanjut padanya. Terlebih tentang orang tua.


“Oke, katamu kan dia gak bakal respon nomerku jika aku tidak


minta langsung darinya. Ayo, mana buktikan? Atau memang  diam-diam kau naksir? Baiklah, jika kau tidak ngasih nomer kak Axel sekarang juga, anggap aja kita saingan, aku akan minga padanya sendiri lain hari,”


tantang Tiara sambil tertawa terbahak.


Dengan berat hati dan sangat terpaksa, Bilqis pun akhirnya


memberikan nomoer wa Axel pada Tiara. Dalam hati, ia tidak berhenti berdoa agar Axel mengabaikan nomor Tiara.


"Ini kamu catat itu nomornya 0821xxxxxxx"


"beneran gak ini nomornya Kak AC? jangan-jangan kamu bohong, lagi. Nomor orang kamu bilangnya nomornya Kak Axel," ucap Tiara meragukan Bilqis.


"Kan kamu bisa cek foto profilnya. benar, apa tidak? Coba deh kamu hubungin. Tapi, nanti aja ini masih pagi jam istirahat atau pulang sekolah," ucap Bilqis menjelaskan setelah mengetahui kalau itu benar nomornya Axel terlihat dari foto profilnya.


Tiara langsung memeluk Bilqis yang badannya lebih kecil darinya dan berkata, "Terima kasih, ya? Kamu sangat baik sekali," ucap Gadis itu lalu kabur pergi meninggalkan Bilqis seorang diri.


Bilqis hanya menatap Tiara dari belakang. Gadis itu terlihat ceria dan sangat senang setelah mendapatkan nomornya Axel. Namun, jauh didalam lubuk hati Bilqis, ia merasa sedih dan merasa kehilangan lebih tepatnya dia takut tersaingi. Dia merasa kalah cantik. Walaupun sebenarnya dia lebih cantik dari Tiara. Hanya saja Tiara anak nya sangat mencolok lain dengan dirinya yang lebih tampil polos dan apa adanya.


'Kak Axel. Please jangan hiraukan dia. Abaikan nomornya saat dia menelpon, ataupun chat kamu. Maafkan aku telah memberikannya, mungkin kau tidak suka. Tapi, jangan marah padaku. diia memaksaku. Aku melakukan ini, demi teman tapi percayalah hatiku juga sakit,' ucap Bilqis dalam hati. Lalu beranjak pergi masuk ke dalam kelasnya.


Tiara tidak mendengarkan apa pesan Bilqis tadi. Tiara tetap nekat menghubungi Axel. Di mana kala itu Axel tengah bersama dengan Ricky. pacar Tiara.


Menerima panggilan WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal, Axel langsung memberikan panggilan tersebut kepada sahabatnya. Dia memang seperti itu. Saat bersama siapapun seringnya dengan Ricky. Setiap kali ada telepon dari nomor yang tidak dikenal, terlebih cewek selalu menyerahkannya kepada Ricky, dan Ricky lah yang akan mengerjainya habis-habisan


Axel tidak langsung menyerahkan kepada Ricky. Dia mengamati foto profil pada WhatsApp tersebut. Ia sepertinya kenal dan familiar dengan foto tersebut Tapi, siapa?


Axel menyenggol lengan Ricky dengan sikutnya. seraya menunjukkan foto profil pada nomor wa asing yang tengah menelponnya.


"Bro, kamu kenal dia, gak? kekny kok familiar banget, ya?"


Ricky Diam sejenak memperhatikan gambar wanita tersebut.


"Ini, kan.... " Bahkan Ricky nampak bingung 'bagaimana bisa?' batin Ricy.


"Dia tahu nomormu dari mana? Elu ada kasih ke dia apa nggak?" tanyanya.


Axel menggeleng bingung "Aku sendiri juga tidak tahu dia mendapatkan nomorku dari mana. apa jangan-jangan dia minta ke Bilqis? Katanya mereka saling kenal. Siapa tahu aja kamu angkat gih," ucap Axel malas


Tidak merasa semangat sama sekali bahkan sepertinya Ricky mulai merasakan ada sesuatu hal yang tak ia inginkan. Sepertinya hari ini hubungannya dengan Tiara akan kandas. Ia mengangkat tanpa menunjukkan ciri khas suaranya agar Gadis itu menyangka yang mengangkat adalah pemilik asli dari ponsel tersebut.


"Hay, siapa ya?" ucap Ricky.


"Halo Kak Axel ini aku Tiara. Aku mendapatkan nomormu dari Bilqis, loh. Semalam kita kenal nya kurang deket lewat ponsel aja ya kan kemarin enggak enak juga sih di rumahnya Ricky. Ada dia," ucap gadis itu


Ricky tersenyum kecil mendengar perkataan Tiara. Ternyata benar. Gadis itu tidak hafal dengan suaranya. Berbicara tanpa difilter. Menyangka kalau dia adalah pemilik asli dari nomor yang dia telepon.


"Oh itu, emang kamu mau kenalan? Kenalan yang bagaimana? Kau sudah tahu namaku, kan?" jawab Ricky dengan jutek. Dia tidak berniat meniru logat bicaranya Axel. Tapi, dari dalam hati jujur dia memang sudah sangat malas dengan wanita itu ia merasa kalau Tiara sudah tak bisa lagi dipertahankan.


"Kak, bukannya kamu nggak punya pacar, ya? Aku mau lo, jadi pacar kamu. Kalau kakak mau pacaran sama aku. Aku akan mutusin Ricky," ucapnya sambil cengengesan.


Bagaikan disambar petir di siang bolong. Ricky mendengarkan hal itu seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Ia menoleh kearah Axel. Axel hanya menepuk punggung sahabatnya. Memberi isyarat melalui pandangan mata yang berkata seolah, lepaskan dan buang saja Gadis itu. Dia tak pantas untukmu.


Ricky menerima saran dari sahabatnya. Ia mengangguk pelan lalu berkata dengan mantap.


"Oh, jadi begitu? Ngapain harus nunggu jadi pacarnya Axel dulu kalau memang kamu mau mutusin aku ya putus aja, tidak apa-apa. Jika Axel mau pacarin kamu, aku nggak masalah. Aku nggak bakalan sakit hati. Aku juga gak dendam" jawab Ricky dengan panjang lebar.


Tiara syok dan kaget setelah menyadari kalau yang mengangkat telfon tadi adalah Ricky, bukan Axel.


"Halo... halo, ini siapa sih?"


"Aku Ricky. Oh jadi ternyata begitu ya? Kemarin saat aku pergi membeli makanan kou diam-diam menggoda sahabatku baiklah? kalau begitu maumu, kita putus. Selamat mengejar cowok yang ingin kau kejar bye." Ricky kemudian mematikan panggilannya


Tiara yang menyadari kalau yang mengangkat panggilannya adalah pacarnya sendiri ia merasa kesal sekaligus menyesal. Berkali-kali ia hentakan kakinya sialan kenapa sih aku gak mau dengerin apa yang dikata Bilqis? Mungkin kalau di rumah setidaklnya dia sendiri yang mengangkat panggilanku bukan Ricky.


"Lagian kenapa sih, Ricky megang megang hp-nya Axel?" runtuknya seorang diri.


Kebetulan kalau itu Bilqis sedang lewat, "Hey, kau kenapa?" tanyanya dengan nada datar, tapi juga kepo.


"Tau gini, aku tidak nurut dengan apa yang kau sarankan. Setidaknya aku tidak akan apes," keluh Tiara.


Bilqis hanya menaikkan sebelah dari alisnya. Ia bertanya, "Memang kenapa? Apakah kak Axel tidak menjawab panggilanmu? Tapi, kok barusan bicara banyak?" Bilqis berusaha mengorek lebih dalam apa yang ingin diketahui.


"Ya panggilannya diangkat. Tapi, bukan kak Axel yang berbicara. Malah Ricky yang mengangkat panggilanku. Dia yang berbicara," ucap Tiara dengan kesal.


Bilqis tersenyum miring. Dalam hati, ia bersyukur. Tapi, lisannya berkata seolah-olah Dia sangat simpati kepada Tiara. "Lantas, bagaimana? Tidak terjadi masalah, kan antara kau dan cowokmu?"


"Tidak terjadi masalah, apanya? Dia ngajakin aku putus," ucap Tiara dengan prustasi.


"Kalau kak Axel, gimana?"


"Justru itu. Sepertinya benar kata kamu. Dia cuek. Dia tidak mau mengangkat panggilanku. Ia sengaja meminta Ricky yang mengangkat panggilanku dan menyamar suaranya seolah-olah dia menjadi Axel, dan aku mengatakan apa yang ada di dalam hatiku."


"Memang, apa yang ada di dalam hatimu?" tanya Bilqis.


"Ya, aku ngomong, kalau kamu jadi pacarku. Aku akan mutusin Ricky. Eh ternyata yang ngangkat Ricky. Ricky bilang gini kalau memang kamu mau jadi pacarnya Axel ngapain nunggu putus sama aku ya sudah itu saja kau kejar pria mana yang ingin kau pacari."


Bilqis hanya diam tapi dalam hatinya dia bersorak. Dia sangat senang dengan apa yang dia dengar barusan. Tidak rugi juga memberikan nomor ponselnya. Dia sendiri bisa dekat dengan Axel karena dia anak tiri Al dan masih berkomunikasi baik.


Namun, hubungan baiknya dengan keluarga mantan ayah tirinya bukan semata-mata untuk mendekati Axel. Melainkan Ia memang menyayangi Al sebagai ayah, Clara dan Vano kakek dan neneknya. Serta Berlin, dianggap seperti adiknya sendiri, dan juga Queen tentunya. yang sudah bisa menerima dirinya dengan baik.


"Sabar aku turut prihatin padamu," ucap Bilqis sambil menepuk bahu Tiara padahal dalam hatinya ia bersorak

__ADS_1


__ADS_2