Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 102


__ADS_3

Ada apa?"


"Anu, itu Non ada yang mencari Tuan Vano dan Nyonya Clara," jawab pak Makmur merasa tidak enak. Sebenarnya sih lebih ke serba bingung dan serba salah.


Mau di abaykan sepertinya mendesak. Jika tidak... Ini masih sangat terlalu pagi.


Quen mengamati wanita yang kira-kira berusia empat puluh tahunan itu. Hanya saja karena penampilannya kuno, terlihat berbeda dengan mamanya yang masih terlihat seperti remaja.


"Ibu, ada perlu apa dengan orang tua saya?" tanya Quen dengan lembut.


"Saya yang akan bekerja di sini, Non," jawab wanita itu sambil menunduk.


Quen pun mempersilahkan wanita itu untuk duduk di teras guna menunggu mama dan papa nya sementara dia memanggil mereka dulu.


Tiba di depan kamar papa dan mamanya. Pintu kamarnya sudah sedikit terbuka. Perlahan Quen mengetuk dan memanggil mamanya.


"Ma, Mama!"


"Mama di dapur, Sayang. Ada apa?" sahut papa Vano dari dalam.


"Pah, lagi ngapain, ada yang nyariin, tuh!" Seru Quen dari luar.


"Oh, dia sudah datang, ya? Sebentar!" Tak lama kemudian Vano keluar dengan mengenakan pakaian casual, celana jeans panjang berwarna abu abu gelap dan kaus hitam press bodi. Entah kenapa, bahkan Quen saja sempat bengong melihat sang ayah.


Merasa diperhatikan, Vano memandang ke arah Quen dan bertanya, "Ada apa, Sayang?"


"Ah, tidak. Papa hari ini ganteng banget," ucap Quen lalu melompat pada pelukan papanya.


Vano hanya tersenyum menerima pelukan putrinya sambil mengelua belakang kepalanya.


"Lihatlah, bahkan putri papa yang sudah dewasa pun berubah menjadi seperti gadia kecil lagi," ucap Vano.


Sambil menyentil hidung putrinya.


"Papa terlalu subuk bekerja akhir-akhir ini. Tak pernah ada waktu luang lagi sama kami, dulu, sering ajak aku dan kak Al main bareng, entah itu ikut kakek, atau sekedar main game di rumah."


Vano diam memikirkan kata-kata putrinya. Benar saja apa yang Quen katakan. Tiba-tiba saja, ia menyesali liburan yang akan di ambilnya. Benar kata Clara anak-anak kita sudah dewasa, Van. Mereka sudah menikah dan sama-sama mengemban tanggung jawab. Tapi, bagi kita orang tua, mereka tetaplah anak-anak ya g sewaktu-waktu akan butuh kita terlebih saat mereka bosan dan lelah dengan kehidupan yang dijalaninya.


"Sayang, pulang dari Paris papa janji, akan lebih sering habiskan waktu dengan kalian, ok!"


Quen tersenyum, "Benarkah? Janji." Quen menjentikan jari kelingkingnya di depan papanya. Dan di sambut pula oleh Vano.


"Ya tuhan! Makanan yang ku buat!" Quen tiba-tiba saja berlari ke dapur mengingat kalau dirinya tadi hendak memasak roti sanwich tuna untk sarapan. Tapi, semua terlupakan karna teriakan pak Makmur. Saat tiba di dapur.


"Ini kau yang masak sayang? Lihat, rotinya terpanggang dengan sempurna dan mozarelanya meleleh. Kau bangun jam berapa untuk menyiapkan semua ini?" tanya Clara.


Sementara Quen bengong di ambang pintu mencoba mengingat kembali. Tadi, dia jadi memasukan ke microwive apa tidak? Sepertinya tidak. Jika iya, tiga menit memanggang harusnya cukup kalau lebih roti akan keras bahkan gosong jika terlalu lama.


"Ma, ada yang nyari papa sama Mama, tuh." Quen berjalan ke dapur mengambil alih pekerjaan Clara.


"Oh, dia sudah datang rupanya. Ya sudah, mama temui dia dulu, Sayang. Kau, urus ini."


Setelah Clara pergi Nayla datang. Ia kaget mendapati Quen di dapur dengan segala hidangan yang sudaj tersaji sempurna.


"Bangun jam berapa ini bumil jam segini sudah beres membuat sarapan?"


Quen menoleh sambil tersenyum, "Habis ini aku sama Alex akan joging. Barangkali kakak dan Bilqis mau ikut."


"Di area kompleks perumahan saja, kan?"


"Iya." Sementara Quen tangannya masih sibuk membereskan dan mencuci prabot dapur yang baru saja digunakannya.


Dan Nayla ia membawa semua masakan ke meja makan, menatanya di sana.


Quen sudah menyelesaikan pekerjaannya, di raihnya saus tomat dan saus pedas di bawanya ke ruang makan bersamaan dengan itu, kedua orang tuanya masuk dengan wanita yang tadi menunggu di kursi teras.


"Bi, perkenalkan, ini Quen putri saya, dan satunya lagi Nayla, menantu saya," ucap Vano.


"Wah... Ulu-ulu... Tuan, sama muda masih muda banget udah punya anak dan menantu, mana gelius-gelius (cantik-cantik) lagi, maysalla.$ Kagum Bibi baru.


"Quen, Nayla. Ini Bibi Yul, pembantu baru kita. Mama minta bantuan kalian, ya. Khususnya Nayla mama minta tolong untuk beberapa hari ini temani bi Yul dulu tunjukan tugas-tugasnya apa saja dan bawa dia belanja ke pasar biar tahu di mana langganan kita kalau beli sayur dan buah."


"Beres, Ma. Serahkan aja pada, Nay."


"Dua hari aku libur, kak. Ajak aku juga, napa?" rengek Quen.


"Ya sudah, ini waktunya belanja. Bagaimana kalau hari ini? Sekalian joging ajak Alex."


Bersamaan nama Alex di sebutkan oleh Nayla, Alex pun muncul bersama Vivian dan kedua kakeknya.


"Ada apa, Kak?" ucap Alex.


Seontak semuanya menoleh, tak terkecuali bik Yul, ia langsung menganga mulutnya seolah tak mempercayai apa yang dilihatnya.


"Nyah, siapa lagi ini? Wah ini bule beneran, ya? Boleh disentuh? Bik Yul sentuh bentar, ya biar tahu kayak apa rasanya nyentuh bule," ucap wamuta itu dengan gaya konyolnya.


Sementara Clara, Quen dan Vivian terkikik melihat tingkah lucu bik Yul dan ekspresi Alex yang nampak bingung.


"Boleh, foto bareng juga boleh, dia namanya Alex, suami saya," jawab Quen sambil menahan tawa.


"Yang bener Non, boleh minta selfie bareng?" Wanita itu merogoh benda pipih dari dalam ranselnya. Lumayan gaul juga bik Yul ini orangnya biar penampilan dapat di kata ndeso, tapi, dia sudah menggunakan smart phone. "ayuk, Den foto bareng tak tunjukan ke orang-orang di kampung kalau saya ketemu dan bisa foto bareng sama bule," ucap wanita paruh baya itu.


"Sini, sini biar saya yang fotokan," ucap Clara mengulurkan tangan menerima ponsel bil Yul dan mengambil beberpa pose.


"Benar, ya kata orang, bule itu tinggi, saya aja gak sampai sebahunya," ucapnya begitu selesai berfoto.


"Makasih, ya Nyah."

__ADS_1


"Papa, Mama dan Alex, ini bik Yul, pembantu baru kita. Oh iya Bi. Ini papa mama saya dan ini mertua saya. Dia yang bule menantu kedua saya. Putra kami belum pulang. Munkin lusa," ucap Clara memperkenalkan.


Hari ini acara sarapan berjalan penuh canda tawa dan keceriyaan dengan kedatangan bi Yul di sini. Selain.kudah akrab, dia orangnya memiliki selera humor yang tinggi. Tapi, masih dalam garis sopan. Bahkan orangnya juga tidak aneh-aneh.


Tepat pukul sembilan pagi, Clara Vano, Vivian dan duo Andre berpamitan. Dengan di atantar Pak makmur menuju pesawat di landaskan.


Karena di rumah tidak ada orang, dan cuaca di luar sangat panas, acara ke pasar di batalkan. Nay dan Quen menunjukan tempat mencuci dan jemuran serta mengenalkan tempat atau ruangan yang ada di dalam rumah ini.


Setengah jam kemudian Quen ke dapur, sementara Nayla menemani Bilqis di taman belakang dan bik Yul tengah beberes rumah. Sementara suaminya, ia masih sibuk mengoreksi hasil ulangan siswanya.


Ia mencari kotak susu hamil miliknya ternyata ada di tas. Baru saja ia akan meraihnya, ponselnya berdering. Begitu dia angkat ternyata neneknya, Vivian. Dengan ceria gadis itu mengankatnya.


"Halo, iya. Ada apa, Nek? Apakah kalian sudah berada di dalam pesawat?"


Tidak langsung terngar jawaban dari neneknya. Yang ada hanya suara ramai orang-orang dan suara sirine ambulace dan polisi yang bersahut-sahutan.


"Nek, kalian di mana kok ramai sekali?" tiba-tiba Quen memiliki perasaan tidak enak. Si penelfon tidak kunjung bicara entah kenapa. Dia dengan segera berlari dan meneriaki suaminya.


"Alex, kamu ngapain, sini donk, Yank."


"Maaf, apa ini keluarga pemilik ponsel ini?" ucao seorang pria.


"Iya, saya cucunya. Ada apa, ya? Di mana, nenek kakek dan papa mama saya? Anda siapa?" tanya Quen sambil terus melangkah ke atas tangga.


"Nenek anda sudah meninggal. Dari enam penumpang dan satu sopir hanya ada tiga orang yang kemungkan selamat. Semua sudah di bawa ke rumah sakit. Mobil terbalik setelah melaju kencang dan menabrak pembatas jalan di duga karena rem blong. Hallo .. Mba... Mba.. Halo..."


Karena tidak ada jawaban, pria itu mematikan telfonnya dan kembali fokus menong para korban. Akibat kecelakaan ini banyak korban susulan karena kendaraan yang dibelakangnya tak sempat mengerem menabarak kendaraan di depannya. Dan terjadilah kecelakaan beruntun.


Mendengar teriakan istrinya, Alex segera membereskan tugasnya dan segera turun ke bawah. Tapi, istrinya sudah duduk bersimpuh dengan posisi kaki terlipat ke samping.


Melihat hal itu Alex menyangka kalau Quen terpeleset kebetulan tadi saat ia nail lantainya basah. Buru-buru pria itu menuruni tangga dan menghampiri Quen.


"Sayang, kau kenapa? Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Alex panik.


"Aku tidak apa-apa, Lex, tapi, Nenek dan semuanya yang kenapa-napa. Mereka kecelakaan." ucap Quen dengan lemas wajahnya bahkan kiam pucat.


"Apa? Bagaimana bisa? Bagaimana sekarang, ayo kita susul," ucap Alex sambil menggendong istrinya yang nampak sangat lemah. Bahkan saking paniknya mereka tidak sempat mengajak atau sekedar berpamitan pada Nayla. Jangankan Nayla yang Alex tidak tahu di mana keberadaannya, bik Yul di depannya saja di abaikan.


Sesampai di mobil, Quen baru mulai bisa menangis sejadi-jadinya. Neneknya dan sopir yakni pak Makmur sudah dipastikan meninggal di tempat. Sedangkan, siapa yang ada kemungkinan selamat cuma tiga orang lalu siapa satu orang lagi yang tiada? Tiga orang yang dilarikan ke rumah sakit ada harapan hidup. Siapa?


Alex membuka ponselnya sambil menyetir. Menelfon nomor nenek mertuanya dengan harapan orang yang menelfon Quen lagi segera mengangkatnya. Dan benar saja, tak lama setelah panggilan tersambung, seorang pria mengankat telfonya.


"Halo, pak, bagaimana kondisi korban dalam mobil Alphard hitam itu? Apa penyembab kecelakaannya. Pak?"


"...."


"Ok, baik Pak terimakasih saya sedang menuju ke sana." Alex pun mematikab telfonnya.


Ia melirik Quen yang hanya menagis sesenggukan tak mampu berkata apapun. Ia menyetir sambil sesekali mengelus punggung Quen untuk menenangkan.


Bahkan, ia pun juga tak sanggup berkata apa-apa. Quen pasti juga sudah mengetahui kalau nenek dan sopirnya meninggal di tempat sedang satu orang lainnya siapa tak tahu. Tiga orang yang kritis dari dalam mobil itu sudah dikirim ke rumah sakit beserta korban susulan lainnya. jadi, yang ada di sana hanya jenazah saja. Menunggu ambulance yang lain datang.


"Bilqis, matahari sudah terik, Nak. Ayo kita masuk. Nanti sore main lagi," teriak Nayla.


Tapi, gadis itu tidak menggubris panggilannya. Nayla pun agak kesal.


"Bilqis, tidakkah kau ingin menemani tante, Quen? Agar adek bayinya tidak kesepian?" Kali ini triksnya suses gadis kecil itu menghentikan aktifitasnya memetiki bunga dan mengambil buah murbey yang mulai masak berwana hitam seperti anggur.


"Ma, buah ini kata tante Quen kandungan vitamin c nya tinggi bagus untuk kesehatan tubuh dan kacantikan kulit. Ini yang warna merah rasanya asem banget. Pasti tante mwnyukainya," ucap gadis itu sambil tertawa menunukan barisan giginya yang putih dan kecil-kecil.


"Jadi, kau dari tadi sibuk mengumpulkan ini untuk tantemu?"


Bocah itu mengangguk dan tertawa.


"Untuk calon adik bayiku juga, biar dia sehat dan cantik nantinya," jawabnya.


Nayla pun menggandeng tangan Bilqis dan mengajaiknya masui ke dalam rumah.


Uda ada yang tahu buah murbei, kan? pasti tahu lah buahnya kecil. yang masak warnanya hitam rasanya manis. kayak gini tapi kasiatnya luas biasa loh.



Jadi, kau dari tadi sibuk mengumpulkan ini untuk tantemu?"


Bocah itu mengangguk dan tertawa.


"Untuk calon adik bayiku juga, biar dia sehat dan cantik nantinya," jawabnya.


Nayla pun menggandeng tangan Bilqis dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Nayla mendapato suasana rumah begitu sunyi dan sepi. Seperti tak ada seorang pun di rumah. Padahal ada Alex, Quen dan Bik Yul. Lalu kemana mereka semua?


Ia mendengar suara air kran di dapur bergemericik. Dilihatnya ke sana. Ternyata Bik Yul. Wanita itu pun menyapa dan menanyakan di mana adik iparnya.


"Bik, nona Quen dan tuan Alex, ke mana?"


"Tadi kayaknya nona Quen jatuh dia kelihatan lemes gitu, Non. Terus tuan Alex menggendongnya buru-buru keluar naik mobil," jawab bik yul, seban ia juga tidak tahu apapun mengenai ini.


Mendengar Quen jatuh ia pun jadi panik berusaha menelfon Quen. Bersamaan dengan panggilan tersambung. Terdengar pula suara nada dering ponsel Quen di dekat tangga. Sepertinya dia telah meninggalkan hpnya.


Buru-buru dia menelfon Alex, tapi, sudah dua kali memanggil tak ada jawaban. Ia pun makin panik. Ia bingung harus ke mana. Jika pun mau ke rumah sakit, dia tidak bisa menyetir mobil meskipun di rumah ada lengkap dengan kuncinya. Dan lagi puka rumah sakit banyak, jika biasanya selalu ke rumah sakit Medica, tapi dalam situasi rumit apakah mungkin Alex masih akan bawa Quen ke sana.


Nayla mondar-mandir bingung. Tidak munkin, kan dia menelfon Al, sebab suaminya akan kacau jika tahu hal ini. Mertuanya? Apalagi. Mereka pasti sudah terbang di udara serta kemungkinan besar hp di nonaktifkan.


Akhirnya ia hanya bisa berusaha setenang mungkin menunggu kabar dari Alex, sebelumnya dia juga sempat mengirim pesan menanyakan keadaan Quen yang katanya jatuh, serta di bawa ke rumah sakit mana.


"Ya, tuhan... Kalo pun tahu ke rumah sakit mana, bisa aja kan aku pesan taxi online atau ojol," gumam Nayla seorang diri.

__ADS_1


🍁 🍁 🍁


Tiba di lokasi kecelakaan. Ada tiga buah unit mobil dan beberapa motor yang juga remuk di belakang mobil alphard milik mertua Al. Mobil belum terparkir sempurna Quen sudah membuka pintu, melompat lari mencoba melihat dari jarak dekat. Tapi, melihat beberapa kendaraan hancur parah, serta darah dari para korban yang menganak sungai tiba-tiba Quen limbung.


Bukan karna dia takut darah, karna dia juga lulusan kedokteran yang tengah menyandang koas. Jelas, ini hal biasa bagi dia. Yang membuay dia tidak mampu adalah sebagian besar dari korban adalah orangtua kakek neneknya.


Quen melihat beberapa jenazah berjajar ditutup dengan penutup seadanyan koran, kain bahkan kardus. Sebagian sudah ada yang di muat ambulance, dia tidak tahu, bagaimana selain nenek dan sopirnya. Bahkan mereka yang masih hidup saja sepertinya keselanatannya tidak terjamin melihat kondisi mobil yang rusak parah dan terjungkal.


"Papa... Mama... Kakek... Kalian gak ninggalin, Quen, kan? Kalian selamat di rumah sakit dan akan sehat dan pulang, kan?" ucap Quen seorang diri sambil beruraian air mata.


Mendadak, pandangannya menjadi kabur, berasap putih dan ia pun ambruk tak sadarkan diri.


"Ada yang pingsan, sepertinya keluarga korban," teriak beberapa orang yang juga ada di lokasi.


Mendengar ada yang pingsan Alex sudah menduga itu Quen. Buru-buru dia berlari menyeruak dari kerumunan orang-orang.


"Pak, apakah dia keluarga salah satu korban?"


"Iya, benar. Dia istri saya. Korban pengendara mobil alphard hitam yang di depan itu mertua saya. Sekarang di bawa ke mana korban?"


"Korban tiga korban kritis dan tiga korban yang meninggal sudah di bawa ke rumah sakit Bayangkara, Pak."


"Terimakasih," ucap Alex. Menggendong sendiri Quen dan membawanya ke sana.


Di tengah kepanikan dan kemacetan yang padat merayap, handphone Alex berdering dilihatnya layar panggilan itu. Ternyata Nayla. Tanpa rasa bersalah ia pun mengangkat panggilan ipar istrinya itu.


"Alex, kata Bik Yul tadi Quen terjatuh, ya? Bagaimana keadaannya? Di rumah sakit mana kalian?" panik Nayla.


Alex baru sadar kalau dia pergi tadi tidak pamit Nayla dan pada siapapun. Bahkan mengenai kecelakaan ini sepertinya dia tidak tahu, sebab dari cara dia bicara hanya Quen yang dicemaskan dan yang ada dalam benaknya.


"Kak, mobil papa mama mengalami kecelakaan hebat. 3 orang meninggal di tempat. Yang tiga entah, tak sadar sepertinya parah. Mereka di bawa ke rumah sakit Bhayangkara. Aku menuju ke sana. Baru saja dari lokasi dan ini, Quen pingsan, kak."


"Apa?" hanya suara itu yang didegat Alex, selebihnya tidak lagi.


Nayla sudah panik dan tak tahu bagaimana. Terlebih ada kabar kalau tiga dari enam orang dalam mobil itu meninggal dunia. Siapa tiga orang itu? Siapa pun itu yang jelas Nayla tak berani menebak. Bagaimana pun semua adalah keluarga. Dia duduk sejenak. Menetralisir pikirannyan tanpa sadar, ia menelfon nomor suaminya.


"Halo, ada apa, Nay? Papa mama dan semua sudah berangkat, kan?" sahut Al dengan santai.


"Mas... " hanya itu yang terucap dari bibir Nayla selebihnya dia menangis tersedu-sedu.


"Ada apa, Nay? Apakah hal buruk terjadi padamu? Ngomong, Nay, agar aku tahu?" ucap Al dengan lembut.


"Iya, Mas... Tapi tidak padaku. Mobil yang di kendarai menuju bandara mengalami kecelakaan. Tiga orang meninggal." Dengan terbata-bata Nayla mengucapkan kalimat itu. Sementara Al langsung beranjak pergi dan menelfon pilot pribadinya supaya saat ini juga terbang kembali ke indonesia. Selama perjalanan menuju pesawat dia langsung menelfon Alex.


"Halo, Lex, bagaimana dengan Quen?"


"Kakak sudah tahu? Dia juga di rumah sakit bhayangkara, Kak. Dia jatuh pingsan tadi, sampai sekarang belum juga sadar."


"Baik, aku akan segera ke pulang. Tolong jaga Quen, dulu, ya?" Al pun langsung mematikan telfon. Sepuluh meter dari privat jetnta, ia bertetiak pada salah satu orangnya.


"Siapakan hallykopter dibandara. Aku landas harus sudah siap. Dan bilang pada Aiko, semua jadwal di batalkan aku haru kembaki ke Indonesia sekarang!" Seru Al dengan suara tegas dan raut muka serius.


Jika Al sudah seperti itu ekspresinya, jangankan bawahaan. Nyamuk lapar pun tak berani mendekat, apalagi semut yang hanya ingin mencicipi wajah manisnya itu.


"Cepat terbang ke Indo, ini mendesak," ucap Al pada pilot pribadinya yang sudah siap sejak lima menit setekah diperintahkan tadi.


"Baik, Tuan."


🍁 🍁 🍁


Tiga jam setengah perjalanan, terasa sangat lama bagi Al saat ini. Ingin rasanya dia marah pada pilotnya karena merasa ini kurang cepat. Jika tahu begini, tapi, dia menahan amarahnya. Atau akan disuruh naik pesawat tempur oleh pilotnya karna ini pun sudah sangat cepat. Coba saja dia naik pesawat umum, minimal tujuh jam sampai, itu pun jika ada penerbangan pada saat itu juga.


tepat pukul duabelas siang Al tiba di Bandara Soekarno Hatta. Begitu privat jet yang dia naiki landas dengan segera ia turun dan menuju ke hally kopter yang sudah disiapkan untuk hindari macet.


"cepat ke rumah sakit Bhayangkara!" perintahnya dengan nada dingin serta ekspresi yang datar. Tapi, isi hati pria itu sebenarnya telah hancur dengan ketakutan dan kedihan yang tak dapat dilukiskan olej kata-kata.


Sekitar sepuluh menit ia tiba di halaman rumah sakit tersebut. Suara hally kopter yang kencang sukses mengundang perhatian siapapun yang berada di sana. Terlebih saat hally kopter berada di ketinggian lima materan, dengan lincah dan maskulin Al melompat ia jatuh berjongkok dan berdiri, dengan setengah berlari ia memasuki rumah sakit itu.


Aksi itu benar-benar membuat para gadis remaja mulai dari perawat, tamu yang akan dan baru saja besuk paasien benar-benar terpukau. Tapi, sayangnya Al tidak memikirkan tentang itu yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah bagaimana kondisi keluarganya.


Setelah tanya pada petugas rumah sakit di mana letak korban kecelakaan pagi tadi Al pun langsung segera bergegas begitu mendapatkan jawaban.


Di depan ICU ia melihat adik dan istrinya nampak menangis. Tapi, yang jadi perhatian dia adalah Quen. Dia benar-benar sangat terpukul badannya terlihat lemas dan bersandar di dada Alex.


"Bagaimana keadaannya?" ucap Al bingung mau berkata apa. Siapa yang meninggal, ia masih belum tahu.


Melihat Al datang, Quen berusaha berdiri memeluk sang kakak dan masih dengan isakan.


"Kak, papa, mama dan kakek Andrean ada di ICu, yang lainnya...."


Quen tidak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba tubuhnya merosot kembali dia pingsan untuk yang ke tiga kalinya.


Dengan sigap Al mngeratkan pelukannya agad Quen tidak sampai terjatuh begitu pun Alex, dia juga segera menangkap tubuh istrinya dari belakang.


"Dia sudah pingsan tiga kali ini, kak," ucap Alex.


Tak lama kemudian, Aditya dan Novita datang. Turut mengucapkan bela sungkawa.


Sementara Alex memijat bagian kaki Quen agar dia segera sadar. Karena kondisinya yang sangat lemah. Akhirnya ia pun di infus karena tadi perutnya kosong terlebih ia juga sedang hamil.


Sementara Al menemui polisi menanyakan kronologinya.


"Menurut saksi, mobil aphard hitam mengalami rem blong dan sempat oleng, Pak. Dan menabrak pembatas jalan saat di tikungan mobil pun terpelanting beberapa kali dan kendaraan dari belang tak sempat rem mendadak jadi menabrak mobil orang tua anda dan terjadilah kecelakaan beruntun itu."


Al diam sejenak memikirkan soal rem mobil, sebab, sebelum dia berangkat ke Jepang, mobil itu dia yang mengendarai dari rumah ke kantor itu pun pp dan tidak terjadi masalah sedikit pun, termasuk pada rem.


"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kalau pun karena laju kendaraan terlalu kencang juga tidak mungkin. Aku tahu bagaimana karakget pak makmur saat berkrndara."

__ADS_1


Al pun pergi pulang ke rumah berusaha mengecek sesuatu yang tidak beres.


__ADS_2