Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 59


__ADS_3

“Sudah pasang sabuk pengaman belum?” tanya Al berbasa-basi kala menyadari kalau Queen memang belum memasangnya.


“Oh, maaf. Barusan telfon siapa?” Queen memandang Al sambil tangannya memasang sabuk pengaman.


“Telfon Vico buat minta tolong ambil mobil papa.”


“Dia bisa?” tanya Queen memastikan.


“Sepertinya tidak. Katanya dia sakit kepala. Aku minta Dedi


saja yang datang,’’ jawab Al kemudian melajukan kendaraannya.


****


Dengan sangat tergesa-gesa Lyli berlari menuju mobil yang


sudah ada Bondan di dalamnya.


“Bondan, cepat lajukan mobilnya,” ucap Lyli panik.


“Kita mau ke mana ini, Nyonya?” tanya Bondan yang juga tidak tahu harus pergi ke mana.


“Kau tenang saja dulu. Yang penting sekarang kita keluar dari area ini dulu. Aku telfon si bos dulu,” ucap Lyli. Kemudian ia marah-marah setelah menyadari kalau dia pergi terburu-buru, dan tak ada persiapan sama sekali. Pergi saja masih memakai pakaian renang, dan tak sempat bawa apa-apa. Mau telfon pakai apa?


“Ck! Sialan. Apes banget sih hari ini,” umpat Lyli seorang diri.


“Ada apa, Nyonya?” tanya Bondan yang juga panik, karena


takut.


“Aku tidak bawa apa-apa, Bondan. Mau Teflon dia pakai apa?


Jaman sekarang wartel juga tidak ada,” gerutu Lyli. Membuat Bondan juga sedikit tertawa tertahan di tengah-tengah kepanikannya.


“Jangan tertawa, kau!”


“Pakai saja hp saya, Nyonya!” seketika pria itu mengulurkan


benda pipi dari dalam sakunya pada Lyli.


Tanpa ragu-ragu, Lyli langsung menerima ponsel itu.


“Kata sandi?” tanyanya tanpa menoleh pada Bondan yang berada


di sampingnya.


“190492,” jawab Bondan singkat.


“Bos Darto?” tanyan Lyli lagi seraya menunjukkan nomor


kontak yang ada pada benda pipih berwarna biru senja tersebut.


“Yusp.”


Tanpa ragu-ragu, Lyli langsung menghubungi nomor itu. tidak


berselang lama, panggilan sudah diangkat oleh seorang pria dengan suara yang sangat tegas.


“Iya, ada apa, Bondan?”


“Emb…. “ Lyli sempat bingun, mau manggil apa pada si tua


itu. mau sayang, juga tidak ada cinta. Dipanggil nama, usianya sama seperti


bapaknya. “Tuan, ini aku, Lyli. Aku ketakutan, ini pergi dari rumah karena ada kejadian yang tak pernah kuduga,” ucap Lyli dengan nada memelas.


“Oh, kamu, Sayang? Di mana kau sekarang?” tanya si tua itu


sudah berbeda lagi logat bicaranya.  Kali ini lebih lembut karena ia tahu, yang menelfonnya adalah Lyli.


“Aku sudah ada di dalam mobil sama Bondan. Bagaimana?  Aku harus ke mana ini?”


“Minta Bondan pergi ke rumah kamu yang ada di Bandung. Sekarang aku masih sibuk. Jika sudah selesai, aku akan datang menemuimu, ceritakan masalahmu padaku, oke sayang?”


“Baik Bos!”


Bondan sedikit melirik pada Lyli. Ia tidak menyangka kalau


Lyli pernah gila. Lalu, wanita cantik yang datang karena kematian papanya itu tadi siapa? Dia kah musuhnya? Malang sekali nasibnya. Setelah empat hari papanya meninggal karena Lyli, sekarang malah mamanya, mati di tangan Lyli juga. ku sangka dia dulu adalah wanita simpanan yang biasa si boss jadikan


simpanannya. Ternyata, dia adalah wanita berhati iblis, menyesal sekali aku


pernah mengakumi dirinya. Jika dipikir-pikir, wanita yang tadi itu, adalah


orang baik. Pantas saja, pria yang dia cintai lebih milih dia. Aku jadi pria


itu, lebih baik memilih dia satu, dari pada Lyli walaupun ada seratus. Batin


Bondan di tengah lamunannya.


“BONDAN!” seru Lyli keras karena sudah berkali-kali dia


mencoba mengajak bicara pria di sebelahnya masih saja diam.


“Iya, Nyonya. Maaf, saya melamun,” jawab pria itu sedikit


tergagap, namun tetap tegas.


“kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan?”


“Tidak ada, Nyonya. Maafkan saya.”


“Aku tahu. Pasti wnita itu, ya? Dia Namanya Queen. Dia


adalah seorang dokter. Cantik, bukan?” tanya Lyli sedikit memancing sambil

__ADS_1


melirik pada Bondan.


‘Banget. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu,’


jawab Bondan dalam hati.


“Aku tawarkan kau kerja sama, bagaimana? Rebut saja dia dari


suaminya. Dan aku, juga akan berusaha memisahkan dia dari suminya. Aku tahu,


kau sejak tadi diam seperti terhipnotis juga kagum akan kecantikannya,


bukan?  Bukankah ini menguntungkan? Aku


inginkan Al, dan kau Queen.”


“Anda mau menghianati si boss? Kalau saya, mau bersama siapa


saja bebas, asal tidak dengan simpanannya,” jawab Bondan enteng.


Dalam hati Lyli mengumpat. Membongkar rahasia Bondan kalau


dia ada main dengannya pada tua bangka itu juga sama halnya dengan menggali lubang kuburannya sendiri, bukan?


“Kau tahu, bukan? Kalau aku kembali hanya untuk balas


dendam? Jadi, apapun yang aku lakukan itu hanya untuk balas dendam. Apa yang lebih menyakitkan setelah melihat kedua


orangtuanya mati di depan mata, dan suaminya di ambil oleh wanita yang membunuh


papa dan mamany? Aku berani bertaruh, jika begini kasusnya, si boss juga akan


tetap membantuku, dengan catatan setelah Queen hancur, aku harus segera meninggalkan Al.”


Bondan menyeringai. Pandangannya tetap lurus menatap jalanan


yang memadati jalan tol. Dalam hati ia membatin, kalau Lyli ini lumayan cerdik juga. kalau licik, tidak ada wanita simpanan yang tidak licik, apalagi polos.


Sekitar pukul lima sore, Ketika Lyli tengah bersantai di


halaman belakang sambil membersihkan kuku jari tangan dan kakinya, pak Darto


sudah tiba. Ia tahu, saat salah satu pelayan  yang bekerja di rumah itu datang memberi tahu padanya.


“Nyonya, Tuan sudah datang. Beliau menunggu anda di tempat


pemandian air hangat.”


“Baik, aku akan segera ke sana,” jawab Lyli. Kemudian wanita


itu bergegas ke kamarnya dulu untuk mengambil kemben basahan untuk berendam air hangat bersama sugar dadynya.


Tiba di sana, pria itu tengah berendam sambil menikmati


segelas wine yang ada di tangan kanannya.


“Hey, kemarilah, Girl. Apa yang membuatmu sampai ketakutan


begitu? Tenang saja, kau adalah milikku. Aku kan melindungimu,” ucap pria itu sambil membuka kedua lengannya bersiap untuk memluk Lyli setelah meletakkan gelas wine yang tinggal setengah di pinggir bethup.


“Boss, aku sudah seminggu ini sudah melakukan perlawanan


terhadap musuhku, aku tidak sengaja membuh papa dan mamanya,’ ucap Lyli berlagak manja dan lemah saja di hadapan pria tua yang memiliki kekuasaan itu.


“Bagaimana bisa?” tanya pak Darto penasaran sambil mengerutkan keningnya.


“Mulanya, sekitar empat hari yang lalu aku berniat mendatangi suami dari Queen ke kantornya. Ternyata, pria itu sudah tidak di sana, melainkan memegang perusahaan yang lain, dan aku tidak tahu. Di sana papa


wanita itu yang memegangnya sendiri. Tidak mau kedatanganku sia-sia, aku


mengatakan apa yang dilakukan oleh anak yang diasuhnya yang kini telah jadi menantunya itu padaku tujuh tahun silam. Dengan harapan agar dia marah dan minta anaknya bercerai dan membuang pria itu. Kan, dengan begitu wanita itu akan sakit hati. Ternyata, malah di luar dugaan,” jawab Lyli panjang lebar.


“Kenapa?”


“Dia terkena serangan jantung dadakan dan meninggal. Lalu


tadi, Queen tahu kalau aku pelaku utama penyebab kematian papanya dengan mengatakan hal buruk dia tidak terima dan aku tak tahu, dari mana dia bisa tahu rumahku,


dia marah-marah dan menghajarku, lihat ini, rambutku banyak yang rontok,


sekujur tubuhku juga dibuat lebam oleh wanita gila itu. tanpa di sangka, mama wanita itu mengikuti, dan aku tidak sengaja memukul tengkuknya dengan tongkat besi saat dia berusaha menghentikan aku menendangi perut wanita itu. jadi, dia


mati.”


“Baiklah, kau tidak perlu takut. Aku ada di sini untuk melindungimu, oke? Sekarang, apa Langkah selanjutnya yang ingin kau lakukan?


Apakah balas dendammu berakhir, atau aku minta salah satu orangku menculik wanita itu dan melakukan sama persis seperti yang suaminya lakukan padamu tujuh


tahun silam?” tawa pria botak KW-nya kakek Sugiono itu.


“Boleh. Tapi, sebelumnya aku ingin lihat apa reaksi dia jika


suami dia berpaling darinya. Dia sangat mencintai suaminya, Tuan. Aku ingin bersandiwara. Apa jadinya jika suaminya berpaling darinya demi bisa bersamaku. Aku yakin, dia pasti akan gila.”


“Baiklah, lakukan apa yang kau mau. Apakah aku tidak usah


menculiknya?”


“Tetap culik dia saat perustasi. Aku mau dia melihat dengan mata kepalnya sendiri melihat anaknya mati secara tragis dan melihat


rekaman bagaimana suaminya mengatakan cintanya padaku. Apakah itu sepadan?”


“Oke, baiklah. Lakukan apa yang kau mau, jika butuh bantuan,


segeralah telfon aku.”

__ADS_1


“Termikasih, Tuan. Kau benar-benar tepati janjimu mau


membantuku melakukan balas dendam,” ucap Lyli seraya menyandarkan kepalanya


pada dada yang hampir keriput itu. ia tersenyum puas membayangkan keberhasilan


sudah berada di depan mata. Ia tak sabar untuk itu. ingin melihat Queen jatuh sejatuh-jatuhnya. Kedua orang tua tidak ada, anak mati, dan suami pergi. Lantas, untuk siapa dia akan hidup? Belum lagi, beberapa anak buah pak Darto


yang nanti akan menggilirnya saat ia prustasi. Jelas, dia tak ada pilihan


selain bunuh diri.


Untuk menyambut rencanya yang ia yakini tidak akan melset dan


pasti akan berhasil, ia berpesta miras hanya berdua saja dengan si tua itu.


entah sudah berapa banyak minuman yang Lyli habiskan malam itu.


Di pertengahan malam, sekitar pukul satu lewat tigapuluh


dini hari, hp pak Darto berdering. Beruntung, dia tidak minum terlalu banyak,


karena ia dalam masa menangani pasien yang darurat. Ia khawatir, saat mabuk parah malah ada telfon dari rumah sakit. Kan, tidak lucu. Selain citranya


sebagai doikter kejiwaan akan hancur, dia bisa saja dipecat sebagai dokter.


Pria tua itu terkejut tatkala mendapati siapa yang telah menelfonnya.


“Mr. Akhira?’’ gumamnya lirih. Kemudian pria tua itu buru-buru membaringkan


Lyli di atas tempat tidurnya, sementara dia berdiri di depan jendela kamar dan


mengangkat panggilan itu dengan tubuh bergetar.


‘Bagaimana mungkin dia bisa muncul setelah bertahun-tahun


lamanhya menghilang entah kemana? Apakah dunia mafia yang dia pimpin akan


kembali aktif?’  batin pak Darto.


“Halo, selamat malam, Mr. ada yang bisa saya bantu?” jawab


pria itu dengan santun pada atasannya, sekalipun, mungkin usianya juga lebih


pantas menjadi anaknya.


“Di mana kau? Aku berada di depan masion milikmu yang barada


di Bandung,” jawab seorang pria dengan suara dingin.


“Baik, saya akan segera ke sana. Anda, silahkan masuk,


jangan sungkan-sungkan. Apa yang saya milikki juga dari anda, artinya, itu juga milik anda Mr,” jawab pria itu dengan sangat santun. Kemudian, ia pun meninggalkan kediaman Lyli dan menitipkan Lyli pada beberapa asisten rumah tangga


yang dipekerjakan di rumah tersebut.


“Bi, kalau nyonya nanti sudah bangun, tolong sampaikan


padanya, kalau saya ada panggilan mendadak dari atasan,” ucap pria tua itu


sambil mengancingkan kemeja yang ia kenakan.


“Bondan! Ikut denganku. Kita pergi ke mansion sekarang.


Bosku datang sekarang,” ucap pak Darto tergesa-gesa saat membangungkan Bondan


yang tidur di atas ayunan taman depan.


“Mr. Akhira?” tanya pria itu.


“Iya. Ayo cepat. Entah apa yang membawaya bisa datang


sepetang ini. Sudah lama tidak pernah ada kabar darinya. Di mana keberadaannya aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja telfon dan sudah berada di sana.”


“Semoga tidak ada kabar buruk,” ucap Bondan dengan semangat.


Selama ini dia memang hanya sekedar mendengar nama Akhira saja sebagai atasan bosnya. Pria hebat dari jepang yang masih masih sangat berusia muda. Ia penasaran sekali


dengan sosoknya itu. jadi, tanpa diminta pria itu sudah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Mungkin pak Darto mengira kalau Bondan tak ingin big bossnya menunggu lama. Padahal, ada alasan lain di balik itu semua.


Tiba di halaman luas depan mensionya, pak Darto mendapati


mobil Ferrari335 Sport Scaglietti keluaran terbaru dan termahal di dunia warna merah terparkir di halaman rumahnya. Ya, mobil seharga US$.35.711.359 atau sekitar


Rp.486,92 Milyar.


“Bondan, Mr.Akhira sudah ada di dalam. Kau tunggu saja di


sini,” ucap pak Darto. Pria itu hanya mengangguk mematuhi perintah bossnya saja.


Setelah bossnya masuk, ia melihat ke arah mobil berlogo kuda


jingkrak itu dengan tatapan kagum. “Wow! Tidak heran kalau Mr. Akhira sangat kaya. Lihat bos Darto yang hanya bawahannya saja sudah kek gitu,'’ ucapnya seorang diri sambil


geleng-geleng.


Selang beberapa menit,  Bondan mengamati sekitar, setelah semua di rasa aman, pria itu berjalan


mendekati mobil Ferrari merah itu dan menyentuhnya.  “Wah, mimpi melihat mobil semewah ini aja


tidak, ini aku malah menyentuhnya. Poto ah,” gumam pria itu, tak peduli betapa noraknya dirinya saat itu. kesempatan belum tentu bisa datang dua kali, pikirnya kala itu. kebetulan satpam yang bertugas di rumah besar itu belum tidur, Bondan


memanggilnya dan meminta tolong pada pria  itu untuk mengambilkan foto dirinya bersama


mobil mewah tersebut. Yang pada akhirnya, pak satpam itu juga minta difotokan

__ADS_1


dengan mobil mewah tersebut dengan buru-buru. Sebelum pemiliknya keluar.


__ADS_2