Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
EXTRA PART 2


__ADS_3

"Aku sudah mendiskusikannya dengan Berlyn. Dia bersedia menjadi istriku. Kalian bisa baca dulu bagaimana bagaimana isi dalam perjanjian itu, jika ada yang perlu dihilangkan atau ditambah, aku tidak akan keberatan," ucap Adriel lagi dengan mantap. Lalu, mengambil satu langkah ke belakang menggenggam erat tangan Berlyn sambil menunggu lima orang dewasa yang kini berkumpul dalam satu ruangan tersebut.


Queen diam sesaat. Memang, keuntungan ada banyak di pihak putrinya. Dari isi surat perjanjian itu saja sudah menunjukkan betapa tulusnya Adriel pada Berlyn. Ia tak lagi memikirkan apa-apa selain hanya ingin menikah dengan putrinya saja.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Al.


"Aku tidak tahu. Tapi, ini terlalu gila, Al," jawab Queen kemudian meletakkan isi surat perjanjian itu lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mama," lirih Berlyn tak bersuara. Jadi, tidak ada yang mendengarnya selain dirinya sendiri.


"Adriel, papa Al tahu, niat kamu itu baik. Tapi, beri kami waktu untuk berfikir dan berembuk, ya?" ujar Al setelah melemparkan pandangan pada Zahara dan Alex.


Sementara Axel, sang kakak ia tidak memberi komentar apapun selain hanya mengepalkan tangannya erat-erat dan pergi meninggalkan tempat itu.


Adriel memandang ke arah Alex. Berharap mendapatkan dukungan agar sekiranya ia bisa meyakinkan kedua orangtua dari gadis yang ingin ia nikahi. Tapi, sepertinya tidak. Ia sangat sependapat dengan Queen.


"Apa yang baru saja papa Al katakan itu benar, Driel. Ini adalah hal baik. Lebih baik menikah dari pada pacaran. Tapi, masa epan kalian masih panjang, dan kalian ini masih labil," ujar Axel.


"Tapi, Om... kami sudah sangat memikirkan ini baik-baik," bantah Adriel.


"Ya, om tahu itu. Kau sabar, ya?" ujar Alex lalu menepuk pundak Adriel.


Merasa tidak ada respon dari siapapun, Berlyn pun melepaskan genggaman tangan Adirl. Ia memberi isyarat kalau dia harus ketemu mamanya dan berusaha membujuknya. Tapi, setelah mendapatkan izin, gadis itu tidak benar-benar menuju kamar mamanya. Melainkan malah masuk ke kamarnya sendiri untuk menghubungi Clarissa yang kini berada di Indonesia juga, menjenguk oma.


Mendengar cerita dari saudarinya, Clarissa tidak memberi komen apapun. Dia tidak bisa langsung memberi solusi asal-asalan pada kembarannya sebelum tahu apa pendapat mama dan papanya. Terlebih gadis itu pikirannya juga masih belum sampai ke pernikahan. Tentang asmara aja nomor duapuluh lima. Yang ada dalam benak dan tekadnya saat ini adalah kerja keras dengan baik bagaimana agar papanya bisa bangga padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Alin. Jika kau mau curhat tentang pernikahan padaku, aku tidak bisa apa-apa. Bisa dikatakan kau ini salah alamat. Tapi, jika kamu bahas masa depan apa yang ingin kau lakukan sambil kuliah atau setelah lulus, itu namanya jurusan yang tepat," jawab Clarissa, sambil matanya sibuk menyusuri layar pcnya.


"Kalau aku tidak diskusi ma kamu, sama siapa, Sa? Kau ini satu satunya saudariku," ucap Berlyn sambil cemberut.


"Ya, aku tahu itu tanpa kau jelaskan juga sudah tahu. Tapi, coba lihat, aku bahkan pacaran saja tidak pernah. Ya sudah karena aku sibuk, kau urus ini sendiri. Kelak njika aku sudah jatuh cinta aku akan bertanya padamu, byee!" Tanpa menunggu persetujuan, gadis itu langsung memutus psambungan telefonnya sementara di sini, Berlyn mengumpat kesal pada Clarissa.


"Merasa kalau dia tengah mengganggu saudari kembarnya, akhirnya Clarissa mengakiri panggilannya. Restu tidak dia dapatkan dari dua belah pihak karena dia masih SMA, sementara dia, memang benar-benar jatuh cinta pada Adriel dan takut kehilangan pria tersebut.


Clarissa berjalan mendekati jendela. Mencoba menatap ke atas, memandangi gemerlip cahaya bintang dan rembulan yang membulat di malam purnama. 'hay kalian, cobalah berfikir, di mana ada seorang pria yang berani ambil komitmen di usia dini jika bukan karena benar-benar mencintai gadis pujaannya? Papa, mama... ayolah mengertilah kami,' batian Clarissa.


Sementara di dalam kamar, Queen nampak sangat tidak mood dengan tingkah yan dua bocah itu lakukan. Mereka terlalu dini untuk membahas pernikahan. Jadi, wajar jika ia geli-geli gemes.


"Sayang, sudahlah kau jangan banyak pikiran. Kuperhatikan akhir-akhir ini kondisi kesehatanmu juga sepertinya sedang tidak baik," ucap Al saat melihat istrinya nampak stres.


"Apa? Tidur? Ini terlaru sore sayang. Aku masih ingin bermain-main denganmu," ujar Al sambil mekancarkan akrinya membuat wanita yang berada di bawah tubuhnya mengelinjang dan mendesah. Setelah satu jam bermain bersama dan penuh keringat, keduanya sama-sama kelelahan dan tertidur sambil berpelukan.


Keesokannya, aura Queen nampak berbeda, memang beda, wanita yang sudah menikah jika sudah lama tidak melakukan aktifitas malam itu terlihat layu dan auranya redup. Tapi, kali ini ia tampil dengan sangat fresh.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Al sambil memeluknya dari belakang saat Queen tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sebabm bibi tengah ke pasar sejak pukul lima dini hari tadi.


"Al... jangan gitu, nanti dilihat Clarissa, loh!" ucap Queen berusaha mengelak saat suaminya hendak mencium lehernya dari belakang.


"Dia belum bangun."


"Bagaimana kau bisa yakin?" Queen menoleh dengan cepat, sehingga tanpa sadar wajahnya langsung menyentuh dada bidang Al yang terbuka. "Kamu ini.... " kesalnya.

__ADS_1


"Tolong, bantu aku!" ucap Al dengan manja sambil merentangakan kedua tangannya, menunjukkan kalau seluruh kancing kemejanya belum ia pasang kancingnya serta dasi yang masih ia kalungkan begitu saja. Sudah lama keduanya menikah bahkan putri kembarnya sudah menjadi remaja, kelakuan mereka masih sama, tidak berubah oleh masa.


"Baik, setelah itu, duduk di sana! Jangan mengangguku, oke?" ucap Queen dan mulai memasangkan satu persatu kancing baju suaminya dengan rapi, teralhir, ia juga membenarkan dasinya, setelahnya, ia kembali melanjutkan aktifitasnya dan sarapan bertiga dengan Clarissa dan Al sebelum mereka sama-sama memulai aktifitas bersama.


 


 


Di tempat kerja, tiba-tiba tubuh Queen menjadi sangat lemah. Ia sendiri juga merasa aneh, sebab, pagi tadi ia merasa baik-baik saja. 'Apa mungkin yang Al katakan semalam benar kalau aku dalam keadaan tidak fit?' batinnya.


"Queen! siapa tahu Clarissa akan punya seorang adik bayi. Kenapa kau tidak coba memeriksanya?" ucap Gea saat melihat sahabatnya sudah sadar dan kondisinya membaik.


"Tidak Gea. Aku takut nanti hasilnya negatif dan membuat Al kecewa seperti sebelumnya. Lagian, aku sudah tidak muda lagi sekarang," jawab Queen. Ia juga sebenarnya malu jika harus hamil lagi di saat anak-anaknya sudah berusia hampir tujuh belas tahun.


"Tapi, kau sangat pucet dan aneh. Tidak apa-apa. Jika kau tidak mau, aku yang memeriksanya. Lagian, hanya ada kita berdia di sini, kan?"


Setelah dipaksa dan diyakinkan, Akhirnya Queen menerima saja saran Gea. Kali ini, Gea yang benar, Queen benar-benar tengah hamil duabelas minggu, bahkan saat di tes dengan alat pendeteksi detak jantung janin juga terdengar sudah keras.


"Queen! Selamat, ya? Al pasti senang jika mendengar ini," ucap Gea dengan binar kebahagiaan.


"Ya, kau benar. Tapi, tolong Gea, kau jangan katakan ini pada siapa-siapa. Aku akan mengatakannya sendiri nanti jika sudah kembali, sebagai supriese. Aku ingin melihatnya secara langsung seperti apa reaksinya nanti," pinta Queen pada Gea.


"Jadi, kau akan katakan setelah kita kembali ke Jakarta? Apa kau bisa menunggu dua hari lagi?"


"Kenapa tidak? Tentu saja bisa, bahkan jika harus seminggu lagi juga tidak masalah."

__ADS_1


__ADS_2