Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 238


__ADS_3

Seorang wanita berjas putih berdiri di depan pintu ruangan


Queen dan membawa map berwana kungin di tangannya.


“Ada apa, Mel?” tanya Queen tanpa menatap wajah wanita itu.


“Ini data pasien rawat inap selama satu bulan lalu yang kau minta


kemarin, Queen. Semua sudah aku cek dan cocokkan. Kamu tinggal memasukan saja.”


“Terimakasih.”


Queen berharap wanita itu segera pergi dari ruangannya.


Tapi, ternyat dia masih tetap bertahan di tempatnya berdiri dan terus menatap


pada wajahnya.


“Kamu habis menangis, Queen? Apakah ada masalah?” tanya


wanita itu, penuh simpati.


“Tidak ada masalah. Kau bisa pergi!”


“Baiklah, Oh, iya. di rumah sakit, kita ada dokter baru.”


“Oh, ya? Semoga bisa jadi tim yang baik. Dia dibagian mana?”


“Aku tidak tahu, dia masih dokter umum, dan mengambil jurusan spesialis.”


“Oh.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Queen.


Setelah teman sesama dokternya keluar, Queen segera


mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, kemudian, ia harus segera masuk ke


tempat pemeriksaan untuk menangani para pasien.


***123


Pagi itu, ketika rumah sepi dan hanya ada bibi saja di


rumah, Nayla menerima pesan dari Jevin.


“Sayang, aku kangen sama kamu. Apakah nanti siang kita bisa


ketemu?” tulis pria itu pada pesan chatnya.


Karena tidak ada siapapun di rumah, Nayla langsung menghubungi


pria itu. Tapi, panggilannya hanya di rejeg saja. Mungkin dia sibuk. Memang ini juga jam kantor, kan? Jadi, wajar.


Nayla sadar, kalau selama ini Jevin memang sudah jarang menghubunginya.


Apalagi mengajaknya bertemu seperti dulu. Tapi, untuk meninggalkannya ia sudah


terlanjur tidak bisa. Jadi, baginya tidak ada cara lain selain memanjakan Jevin


dengan uang agar pria itu tidak meninggalakannya. Toh selama ini Al, suaminya


juga cuek walaupun sudah berapa ratus juta ia habiskan untuk memberi Jevin.


Usai menjemput Bilqis dan menyuapinya makan, Nayla pun


langsung pergi meninggalkan rumah. Baru saja dia keluar dari kamar putrinya,


papa mertuanya pun tiba. Entah dari mana dia, Nayla tidak tahu, dan tidak


pernah bertanya.


Vano yang melihat menantunya berdandan tidak seperti


biasanya pun melempar pertanyaan pada Nayla. Walau sebenarnya juga sudah bisa


menduga kemana dia akan pergi.


“Mau ke mana kamu, Nay siang-siang begini?”


“Saya mau ke tempat mama temannya Bilqis, Pah. Ada arisan,” jawab


Nayla bohong.


Vano diam dan mengangguk beberapa kali, memasang


ekspresimseolah percaya saja dengan apa yang Nayla katakana. “ Ya sudah hati-hati.”


Nayla yang bisa lolos dari papa mertuanya pun hanya bisa menghela napas


Panjang dan mengelus dada beberapa kali. Tiba di tempat yang sudah ia janjikan,


rupanya Jevin sudah berada di sana. Awalnya dia mengira kalau Jevin belum tiba,


karena saat melewati parkiran ia tidak melihat mobil Jevin terparkir di sana.


“Kamu kok sudah datang, Jev? Sudah lama, ya? Maaf ya


membuatmu menunggu,” ucap Nayla merasa tidak nyaman.


“Tidak, aku baru saja tiba kok.”


“Kamu gak bawa mobil kamu?”


“Iya, tidak. Sengaja ke kantor pakai mobil dari kantor saja


tadi.”


Nayla diam, dan hanya menunduk melihat ke arah minuman yang


sudah Jevin pesankan sebelum dia datang tadi.


“Kok diem saja sih? Kenapa apakah ada masalah?” tanya Jevin


penuh perhatian.


“Entahlah, aku bingun dengan rumah tanggaku. Apa aku harus


pisah saja ya sama mas Al?” keluh Nayla.


“Hah? Pisah? Nay, kamu jangan gegabah. Kamu harus bisa


memikirkan ini dengan kepala dingin, jangan meminta cerai padanya, selama dia


tidak menceraikanmu.”


Nayla memandang pria di depannya dengan alis yang berkerut


dan saling bertautan, “Kamu kok jadi paling semangat buat aku mempertahankan


rumah tanggaku dengan mas Al sih, Jev? Dulu, ketika aku masih mengharapkan mas


Al, kau yang paling gencar memintaku agar berpisah dengannya. Ada apa denganmu?


Kenapa kau jadi begini?”


Nayla nampak sangat


kecewa pada Jevin. Ia kian yakin dengan feelingnnya itu benar, Jevin cintanya


sudah tak lagi tulus. Tapi, juga karena uang. Tapi, kenapa dia jadi begini?


“Bukan begitu, Nay. Dulu kau bilang tidak mau pisah karena


Bilqis yang sudah terlanjur menganggap Al adalah papa kandungnya. Makanya, sekarang

__ADS_1


pun aku juga memikirkan psikis dia, jika tidak… Aku bisa saja memaksamu kala


itu, kan? Apakah masih kurang apa yang aku lakukan untukmu sebagai bukti betapa


cintanya aku padamu selama ini?”


“Kenapa kau sekarang cenderung matre, Jev?’’ lirih Nayla,


nyaris tak terdengar.


Jevin yang mendengar ucapan Nayla kali ini benar-benar


marah. Dia tidak terima dikata seperti itu. Dengan cepat, pria itu pun


membalikan kata seolah, Nayla lah yang bersalah.


“Nay, aku gak minta apapun, mobil juga kamu yang kasih, kan?


Uang. Oke, aku memang perlu, berapa sih yang aku minta dari kamu? Cuma limabelas


juta saja, kan? Oke aku kembalikan.”


Dengan cepat Jevin mengeluarkan dompet dari saku celananya


dan mengeluarkan sebuah kartu atm berwarna biru dan melemparkan di depan meja Nayla.


“Kala itu aku memang belum gajian dan aku benar-benar butuh


untuk biaya kuliah adik dan control mamaku, itu di sana ada duapuluh juta. Kamu


ambil saja semuanya, kata sandinya adalah tanggal ulang tahunmu.”


NAyla meneteskan air mata sambil tertunduk, mengetahui kode


sandi ATM Jevin adalah tanggal ulang tahunnya ia pun merasa terharu.


“Ambil saja itu, besok aku kembalikan mobil darimu itu,


setelahnya, anggap semua yang terjadi di antara kita tidak pernah ada!”


Secepat kilat Nayla berdiri dan memegangi kedua tangan


Jevin, ia memohon agar pria itu tidak pergi meninggalkannya.


“Jev, maafin aku. Aku khilaf. Aku tidak butuh kau kembalikan


apa yang telah kuberikan kepadamu. Aku hanya butuh kamu selalu ada untukku dan


jangan pernah pergi dari hidupku, Jev.”


“Tapi, kamu selalu mengungkit itu saja. Seolah aku jadi


lelaki tidak berguna saja di matamu. Kau masih saja memuja suamimu yang kaya


itu, kan? Padahal dia sendiri sudah tidak menginginkamu.”


Nayla hanya diam, dalam hatinya saat ini hanya ada dendam dan kebencian terhadap


Queen yang kian berlipat saja. Coba saja tidak ada dia, pasti mas Al akan tetap


baik seperti dulu dan tak cuek dengannya. Hati Nayla kian mendidih bagaimana


ketika dia teringat bagaimana Queen semalam mencium suaminya di depannya matanya sendiri.


Semalam Al tidur di kamarnya, tapi tidak melakukan apapun terhadapnya. Lalu


paginya, suaminya kembali cuek saat melihat Queen jutek.  Ya, mnemang Queen tidak suka jika suamiku


sendiri menaruh perhatian dan memberikan kasih sayangnya kepadaku. Siapa dia


memangnya? Beraninya brgitu.


“Jev, ini masih ada waktu, kan? Aku menginginkan dirimu saat


ini juga.” Ucap Nayla to the point.


Jevin menggandeng tangan Nayla dan membawa masuk ke dalam kamar hotel yang dulu sering ia gunakan.


***123


Sebelum jam istirahat, Al lebih dulu keluar meninggalkan


kantor. Dia sengaja pergi lebih awal karena ingin memberi kejutan pada Queen.


Meskupun ia tahu kalau istri mudanya baru akan keluar dari rumah sakit sekitar


jam duabelas lebih, dan paling cepat, adalah lewat limabelas.


Al membelokkan mobilnya di sebuah toko bunga, ia sengaja


membeli rangkaian atau buket bunga untuk Queen. Walau terkenal bucin dan


gombal, pria itu tidak peduli.  Yang dia


tahu hanyalah ingin memberi apapun yang dia mampu untuk menyenangkan Queen.


Tak menunggu lama pria itu pun keluar dari toko Bungan


tersebut dengan buket mawar merah yang indah di tangannya.


Tiba di rumah sakit, Al memarkirkan mobilnya, sebelum ia


keluar, ia mengenakan kaca mata hitam terlebih dahulu. Dengan rasa percaya diri


Al melangkah dengan membawa buket bunga tersebut dan menunggu istrinya di ruang


tunggu. Sambil menunggu, Al memainkan gawainya untuk membunuh rasa bosan, dan


mengabaikan tatapan orang di sekitar yang melihat ke arahnya.


Queen yang jam kerjanya sudah berakhir. dengan cepat ia membereskan semuanya,


setelah membereskan meja dan barang-barang miliknya. Seperti biasa, wanita itu


selalu menyempatkan diri untuk membuka poselnya. Di sana, dia mendapati banyak


pesan yang masuk, dan dibarisan paling atas adalah nama Mukidi yang terpampang


di sana.


“Ah, aku lupa mengganti Namanya. Semoga saja dia tidak tahu,”


gumamnya seorang diri.


“Sayang, aku menunggumu di tempat antri, depan pendaftaran.”


Queen tersenyum saat membaca isi pesan dari suaminya. Ternyata


dia sudah menunggunya. Dengan semangat, wanita itu pun beranjak dari tempatnya,


melakukan absen dan kemudian ia menuju di tempat pendaftaran. Di sana ia


melihat sosok suaminya masih mengenakan pakaian kantor dan dan membeawa bunga


mawar merah yang cantik.


“Al,” sapa Queen sambil menunjukkan senyuman terbaiknya, gadis


itu berjalan menghampiri Al.


Sedangkan pria itu pun berdiri dari duduknya dan melepaskan


kaca mata hitamnya, memberikan sedikit pelukan pada wanitanya dan memberikan

__ADS_1


rangkaian bunga mawar merah itu kepada Queen.


“Wow!” Queen menerima dengan senang hati, diciumnya bunga


itu, dan berkata, “Terimakasih!”


“Kamu suka, Sayang?”


“Suka banget, Dong!”


“Mana?” tanya Al sambil menunjuk pipi kanannya dengan jari


telunjukanya.


 “Nanti saja, jangan


di sini. Banyak orang sakit, loh!” ujar Queen.


Keduanya pun berjalan menuju ke parkiran untuk pulang. Di sana,


di dalam mobil, Al tidak segera menyalakan mesin.


“Kenapa?” tanya Queen dengan heran.


“Mana sebagai ungkapan kalau kamu suka dengan bunganya?”


tanya pria itu.


“Oh. Itu, ya?” Queen mendekatkan wajahnya ke wajah Al dan


mencium bibir tipis pria itu. Walau tidak melakukan apa-apa, dia juga


menempelkannya dalam waktu yang cukup lama.


Al yang tidak terbiasa dengan sikap Queen yang seperti itu,


Ia jadi sedikit canggung, dan mulai salah tingkah. Queen melihat perubahan


wajah itu hanya terkikik sendiri. Membuatnya teringat saat SMA dulu, saat


kakaknya masih jadi jomblo akut, sepulang dari Jepang. Dia yang suka menggodanya.


“Al, apakah kita akan tetap berdiam diri di sini? Tidakkah


kau mengajakku ke suatu tempat sebelum kembali ke kantor? Perutku sudah mulai lapar, nih.”


“Oke, kamu mau makan apa?”


“Apapun, kamu juga boleh,” jawab Queen sambil tertawa.


“Bagaimana kondisi mama, Sayang? Apakah sudah ada


perkembangan?”


Queen hanya menjawab pertanyaan Al dengan gelengan kepala


saja, kemudian, ia meletakkan bunga mawar merah dalam genggamannya ke atas dashboard


mobil.


“Munkin mama menunggu cucunya untuk sadar,” ucap Al sambil


melirik ke arah Queen dan menunjukkan senyuman genitnya.


Seketika, raut wajah wanita itu berubah. Dia diam tidak


menjawab, bahkan juga tidak mengalihkan topik.


‘Mana mungkin? Jika memang sudah waktunya mama sadar, dia


juga bakalan sadar. Tidak harus menunggu aku punya anak denganmu. Karena, itu


mustahil,” batin Queen.


“Kok murung gitu, sih? Aku bercanda, Sayang.”  Al berfikir, diamnya Queen bukan karena


masalah anak. Melainkan, mungkin istrinya ingin mamanya sadar seblum dia punya


anak atau hamil. Atau intinya yang diharapkan Queen mama akan sadar dalam waktu


dekat ini.


“Tidak apa-apa,” jawab Queen singkat.


Usai makan siang, Al mengajak Queen ke kantor, di sana,


tanpa ragu-ragu al berjalan beriringan sambil memeluk pinggang Queen.


“Al, ini di kantor!”


“Tidak apa-apa.” Al nampak tenang. Karena sudah tidak ada lagi staf yang berkeliaran. Sebab, ini sudah jam waktunya masuk kerja.


Queen pun menurut saja, dia juga sebenarnya semua tahu, kalau


Al adalah suaminya. Tak peduli dengan gossip apapun yang beredar, kalaupun dia


di kata sebagai wanita kedua, memang faktanya begitu. Tapi, walau begitu kan


tetap diutamakan.


“bagus sekali jika kau mau nurut gitu, tetap jadi istri yang


baik ya, Sayang,” bisik Al di dekat telinga Queen.


***


Karena pekerjaan Al tidak banyak dan tak ada pertemuan


dengan siapapun. Jam empat sore dia dan Queen sudah tiba di rumah.


Di garasi keduanya tidak langsung turun. Al melihat isi


pesan yang masuk di ponsel istrinya dengan alasan ingin menghapus nomor Diaz.


Queen tidak peduli, dia sudah memblokirnya. Tapi, memang Al saja yang dasarnya


memang keras kepala, tetap tidak percaya jika tidak melakukannya sendiri.


“Sayang, Mukidi itu siapa?” tanya Al sambil menatap wajah


Queen dengan ponsel masih dalam genggamannya.


Queen terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya. 'Duh! ****** gue! Lupa namanya enggak gue ganti gimana nih batin Queen,' batin Queen.


"Tidak penting sayang," jawab Queen singkat. Tapi, dia tidak berani berbuat apapun. Untuk bernapas saja, dia berhati-hati sekali.


"Kudengar Mukidi itu orang gila yang ditangani oleh temanmu yang menjadi dokter jiwa, ya?" ucap Al lagi dengan tenang. Memandang Queen dengan tatapan penuh arti.


"Ya, aku sempat mendengarnya beberapa waktu lalu."


"Oh, Ya sudah. Ayo kita turun!"


"Tapi, kenapa kau memiliki nomernya? Apakah kau jatuh cinta padanya?"


"Sejak kapan kau jadi posesif, Al?"


"Sejak aku tahu, kalau nama Mukidi di sini adalah nomor hp-ku." Al tertawa penuh Arti, mendekatkan tubuh ya pada Queen dan menggigit leher serta menggelitik perut wanita itu.


"Al, Uda! Stop aku geli!" teriak Queen beberapa kali sambil berusaha melepaskan diri. Tapi, Al masih saja terus melakukan apa yang ia lakukan tadi tanpa berhenti. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, ia hanya gemas dengan Quen dan ingin memakannya saja saat itu.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu dengan dua sarat."


"Apa?" tanya Queen sambil merapihkan kembali kemejanya.

__ADS_1


"Kamu ganti nama kontak dengan nama suamiku dan biarkan aku nanti bermalam di kamarmu."


"Oke, sarat yang mudah," jawab Queen.keduanua pun turun dari mobil. Tanpa sadar Queen lupa membawa rangkaian bunga yang diberikan oleh suaminya tadi. Al yang kebetulan melihatnya, ia pun langsung mengambil dan membawanya masuk ke dalam.


__ADS_2