
Seorang wanita berjas putih berdiri di depan pintu ruangan
Queen dan membawa map berwana kungin di tangannya.
“Ada apa, Mel?” tanya Queen tanpa menatap wajah wanita itu.
“Ini data pasien rawat inap selama satu bulan lalu yang kau minta
kemarin, Queen. Semua sudah aku cek dan cocokkan. Kamu tinggal memasukan saja.”
“Terimakasih.”
Queen berharap wanita itu segera pergi dari ruangannya.
Tapi, ternyat dia masih tetap bertahan di tempatnya berdiri dan terus menatap
pada wajahnya.
“Kamu habis menangis, Queen? Apakah ada masalah?” tanya
wanita itu, penuh simpati.
“Tidak ada masalah. Kau bisa pergi!”
“Baiklah, Oh, iya. di rumah sakit, kita ada dokter baru.”
“Oh, ya? Semoga bisa jadi tim yang baik. Dia dibagian mana?”
“Aku tidak tahu, dia masih dokter umum, dan mengambil jurusan spesialis.”
“Oh.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Queen.
Setelah teman sesama dokternya keluar, Queen segera
mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, kemudian, ia harus segera masuk ke
tempat pemeriksaan untuk menangani para pasien.
***123
Pagi itu, ketika rumah sepi dan hanya ada bibi saja di
rumah, Nayla menerima pesan dari Jevin.
“Sayang, aku kangen sama kamu. Apakah nanti siang kita bisa
ketemu?” tulis pria itu pada pesan chatnya.
Karena tidak ada siapapun di rumah, Nayla langsung menghubungi
pria itu. Tapi, panggilannya hanya di rejeg saja. Mungkin dia sibuk. Memang ini juga jam kantor, kan? Jadi, wajar.
Nayla sadar, kalau selama ini Jevin memang sudah jarang menghubunginya.
Apalagi mengajaknya bertemu seperti dulu. Tapi, untuk meninggalkannya ia sudah
terlanjur tidak bisa. Jadi, baginya tidak ada cara lain selain memanjakan Jevin
dengan uang agar pria itu tidak meninggalakannya. Toh selama ini Al, suaminya
juga cuek walaupun sudah berapa ratus juta ia habiskan untuk memberi Jevin.
Usai menjemput Bilqis dan menyuapinya makan, Nayla pun
langsung pergi meninggalkan rumah. Baru saja dia keluar dari kamar putrinya,
papa mertuanya pun tiba. Entah dari mana dia, Nayla tidak tahu, dan tidak
pernah bertanya.
Vano yang melihat menantunya berdandan tidak seperti
biasanya pun melempar pertanyaan pada Nayla. Walau sebenarnya juga sudah bisa
menduga kemana dia akan pergi.
“Mau ke mana kamu, Nay siang-siang begini?”
“Saya mau ke tempat mama temannya Bilqis, Pah. Ada arisan,” jawab
Nayla bohong.
Vano diam dan mengangguk beberapa kali, memasang
ekspresimseolah percaya saja dengan apa yang Nayla katakana. “ Ya sudah hati-hati.”
Nayla yang bisa lolos dari papa mertuanya pun hanya bisa menghela napas
Panjang dan mengelus dada beberapa kali. Tiba di tempat yang sudah ia janjikan,
rupanya Jevin sudah berada di sana. Awalnya dia mengira kalau Jevin belum tiba,
karena saat melewati parkiran ia tidak melihat mobil Jevin terparkir di sana.
“Kamu kok sudah datang, Jev? Sudah lama, ya? Maaf ya
membuatmu menunggu,” ucap Nayla merasa tidak nyaman.
“Tidak, aku baru saja tiba kok.”
“Kamu gak bawa mobil kamu?”
“Iya, tidak. Sengaja ke kantor pakai mobil dari kantor saja
tadi.”
Nayla diam, dan hanya menunduk melihat ke arah minuman yang
sudah Jevin pesankan sebelum dia datang tadi.
“Kok diem saja sih? Kenapa apakah ada masalah?” tanya Jevin
penuh perhatian.
“Entahlah, aku bingun dengan rumah tanggaku. Apa aku harus
pisah saja ya sama mas Al?” keluh Nayla.
“Hah? Pisah? Nay, kamu jangan gegabah. Kamu harus bisa
memikirkan ini dengan kepala dingin, jangan meminta cerai padanya, selama dia
tidak menceraikanmu.”
Nayla memandang pria di depannya dengan alis yang berkerut
dan saling bertautan, “Kamu kok jadi paling semangat buat aku mempertahankan
rumah tanggaku dengan mas Al sih, Jev? Dulu, ketika aku masih mengharapkan mas
Al, kau yang paling gencar memintaku agar berpisah dengannya. Ada apa denganmu?
Kenapa kau jadi begini?”
Nayla nampak sangat
kecewa pada Jevin. Ia kian yakin dengan feelingnnya itu benar, Jevin cintanya
sudah tak lagi tulus. Tapi, juga karena uang. Tapi, kenapa dia jadi begini?
“Bukan begitu, Nay. Dulu kau bilang tidak mau pisah karena
Bilqis yang sudah terlanjur menganggap Al adalah papa kandungnya. Makanya, sekarang
__ADS_1
pun aku juga memikirkan psikis dia, jika tidak… Aku bisa saja memaksamu kala
itu, kan? Apakah masih kurang apa yang aku lakukan untukmu sebagai bukti betapa
cintanya aku padamu selama ini?”
“Kenapa kau sekarang cenderung matre, Jev?’’ lirih Nayla,
nyaris tak terdengar.
Jevin yang mendengar ucapan Nayla kali ini benar-benar
marah. Dia tidak terima dikata seperti itu. Dengan cepat, pria itu pun
membalikan kata seolah, Nayla lah yang bersalah.
“Nay, aku gak minta apapun, mobil juga kamu yang kasih, kan?
Uang. Oke, aku memang perlu, berapa sih yang aku minta dari kamu? Cuma limabelas
juta saja, kan? Oke aku kembalikan.”
Dengan cepat Jevin mengeluarkan dompet dari saku celananya
dan mengeluarkan sebuah kartu atm berwarna biru dan melemparkan di depan meja Nayla.
“Kala itu aku memang belum gajian dan aku benar-benar butuh
untuk biaya kuliah adik dan control mamaku, itu di sana ada duapuluh juta. Kamu
ambil saja semuanya, kata sandinya adalah tanggal ulang tahunmu.”
NAyla meneteskan air mata sambil tertunduk, mengetahui kode
sandi ATM Jevin adalah tanggal ulang tahunnya ia pun merasa terharu.
“Ambil saja itu, besok aku kembalikan mobil darimu itu,
setelahnya, anggap semua yang terjadi di antara kita tidak pernah ada!”
Secepat kilat Nayla berdiri dan memegangi kedua tangan
Jevin, ia memohon agar pria itu tidak pergi meninggalkannya.
“Jev, maafin aku. Aku khilaf. Aku tidak butuh kau kembalikan
apa yang telah kuberikan kepadamu. Aku hanya butuh kamu selalu ada untukku dan
jangan pernah pergi dari hidupku, Jev.”
“Tapi, kamu selalu mengungkit itu saja. Seolah aku jadi
lelaki tidak berguna saja di matamu. Kau masih saja memuja suamimu yang kaya
itu, kan? Padahal dia sendiri sudah tidak menginginkamu.”
Nayla hanya diam, dalam hatinya saat ini hanya ada dendam dan kebencian terhadap
Queen yang kian berlipat saja. Coba saja tidak ada dia, pasti mas Al akan tetap
baik seperti dulu dan tak cuek dengannya. Hati Nayla kian mendidih bagaimana
ketika dia teringat bagaimana Queen semalam mencium suaminya di depannya matanya sendiri.
Semalam Al tidur di kamarnya, tapi tidak melakukan apapun terhadapnya. Lalu
paginya, suaminya kembali cuek saat melihat Queen jutek. Ya, mnemang Queen tidak suka jika suamiku
sendiri menaruh perhatian dan memberikan kasih sayangnya kepadaku. Siapa dia
memangnya? Beraninya brgitu.
“Jev, ini masih ada waktu, kan? Aku menginginkan dirimu saat
ini juga.” Ucap Nayla to the point.
Jevin menggandeng tangan Nayla dan membawa masuk ke dalam kamar hotel yang dulu sering ia gunakan.
***123
Sebelum jam istirahat, Al lebih dulu keluar meninggalkan
kantor. Dia sengaja pergi lebih awal karena ingin memberi kejutan pada Queen.
Meskupun ia tahu kalau istri mudanya baru akan keluar dari rumah sakit sekitar
jam duabelas lebih, dan paling cepat, adalah lewat limabelas.
Al membelokkan mobilnya di sebuah toko bunga, ia sengaja
membeli rangkaian atau buket bunga untuk Queen. Walau terkenal bucin dan
gombal, pria itu tidak peduli. Yang dia
tahu hanyalah ingin memberi apapun yang dia mampu untuk menyenangkan Queen.
Tak menunggu lama pria itu pun keluar dari toko Bungan
tersebut dengan buket mawar merah yang indah di tangannya.
Tiba di rumah sakit, Al memarkirkan mobilnya, sebelum ia
keluar, ia mengenakan kaca mata hitam terlebih dahulu. Dengan rasa percaya diri
Al melangkah dengan membawa buket bunga tersebut dan menunggu istrinya di ruang
tunggu. Sambil menunggu, Al memainkan gawainya untuk membunuh rasa bosan, dan
mengabaikan tatapan orang di sekitar yang melihat ke arahnya.
Queen yang jam kerjanya sudah berakhir. dengan cepat ia membereskan semuanya,
setelah membereskan meja dan barang-barang miliknya. Seperti biasa, wanita itu
selalu menyempatkan diri untuk membuka poselnya. Di sana, dia mendapati banyak
pesan yang masuk, dan dibarisan paling atas adalah nama Mukidi yang terpampang
di sana.
“Ah, aku lupa mengganti Namanya. Semoga saja dia tidak tahu,”
gumamnya seorang diri.
“Sayang, aku menunggumu di tempat antri, depan pendaftaran.”
Queen tersenyum saat membaca isi pesan dari suaminya. Ternyata
dia sudah menunggunya. Dengan semangat, wanita itu pun beranjak dari tempatnya,
melakukan absen dan kemudian ia menuju di tempat pendaftaran. Di sana ia
melihat sosok suaminya masih mengenakan pakaian kantor dan dan membeawa bunga
mawar merah yang cantik.
“Al,” sapa Queen sambil menunjukkan senyuman terbaiknya, gadis
itu berjalan menghampiri Al.
Sedangkan pria itu pun berdiri dari duduknya dan melepaskan
kaca mata hitamnya, memberikan sedikit pelukan pada wanitanya dan memberikan
__ADS_1
rangkaian bunga mawar merah itu kepada Queen.
“Wow!” Queen menerima dengan senang hati, diciumnya bunga
itu, dan berkata, “Terimakasih!”
“Kamu suka, Sayang?”
“Suka banget, Dong!”
“Mana?” tanya Al sambil menunjuk pipi kanannya dengan jari
telunjukanya.
“Nanti saja, jangan
di sini. Banyak orang sakit, loh!” ujar Queen.
Keduanya pun berjalan menuju ke parkiran untuk pulang. Di sana,
di dalam mobil, Al tidak segera menyalakan mesin.
“Kenapa?” tanya Queen dengan heran.
“Mana sebagai ungkapan kalau kamu suka dengan bunganya?”
tanya pria itu.
“Oh. Itu, ya?” Queen mendekatkan wajahnya ke wajah Al dan
mencium bibir tipis pria itu. Walau tidak melakukan apa-apa, dia juga
menempelkannya dalam waktu yang cukup lama.
Al yang tidak terbiasa dengan sikap Queen yang seperti itu,
Ia jadi sedikit canggung, dan mulai salah tingkah. Queen melihat perubahan
wajah itu hanya terkikik sendiri. Membuatnya teringat saat SMA dulu, saat
kakaknya masih jadi jomblo akut, sepulang dari Jepang. Dia yang suka menggodanya.
“Al, apakah kita akan tetap berdiam diri di sini? Tidakkah
kau mengajakku ke suatu tempat sebelum kembali ke kantor? Perutku sudah mulai lapar, nih.”
“Oke, kamu mau makan apa?”
“Apapun, kamu juga boleh,” jawab Queen sambil tertawa.
“Bagaimana kondisi mama, Sayang? Apakah sudah ada
perkembangan?”
Queen hanya menjawab pertanyaan Al dengan gelengan kepala
saja, kemudian, ia meletakkan bunga mawar merah dalam genggamannya ke atas dashboard
mobil.
“Munkin mama menunggu cucunya untuk sadar,” ucap Al sambil
melirik ke arah Queen dan menunjukkan senyuman genitnya.
Seketika, raut wajah wanita itu berubah. Dia diam tidak
menjawab, bahkan juga tidak mengalihkan topik.
‘Mana mungkin? Jika memang sudah waktunya mama sadar, dia
juga bakalan sadar. Tidak harus menunggu aku punya anak denganmu. Karena, itu
mustahil,” batin Queen.
“Kok murung gitu, sih? Aku bercanda, Sayang.” Al berfikir, diamnya Queen bukan karena
masalah anak. Melainkan, mungkin istrinya ingin mamanya sadar seblum dia punya
anak atau hamil. Atau intinya yang diharapkan Queen mama akan sadar dalam waktu
dekat ini.
“Tidak apa-apa,” jawab Queen singkat.
Usai makan siang, Al mengajak Queen ke kantor, di sana,
tanpa ragu-ragu al berjalan beriringan sambil memeluk pinggang Queen.
“Al, ini di kantor!”
“Tidak apa-apa.” Al nampak tenang. Karena sudah tidak ada lagi staf yang berkeliaran. Sebab, ini sudah jam waktunya masuk kerja.
Queen pun menurut saja, dia juga sebenarnya semua tahu, kalau
Al adalah suaminya. Tak peduli dengan gossip apapun yang beredar, kalaupun dia
di kata sebagai wanita kedua, memang faktanya begitu. Tapi, walau begitu kan
tetap diutamakan.
“bagus sekali jika kau mau nurut gitu, tetap jadi istri yang
baik ya, Sayang,” bisik Al di dekat telinga Queen.
***
Karena pekerjaan Al tidak banyak dan tak ada pertemuan
dengan siapapun. Jam empat sore dia dan Queen sudah tiba di rumah.
Di garasi keduanya tidak langsung turun. Al melihat isi
pesan yang masuk di ponsel istrinya dengan alasan ingin menghapus nomor Diaz.
Queen tidak peduli, dia sudah memblokirnya. Tapi, memang Al saja yang dasarnya
memang keras kepala, tetap tidak percaya jika tidak melakukannya sendiri.
“Sayang, Mukidi itu siapa?” tanya Al sambil menatap wajah
Queen dengan ponsel masih dalam genggamannya.
Queen terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya. 'Duh! ****** gue! Lupa namanya enggak gue ganti gimana nih batin Queen,' batin Queen.
"Tidak penting sayang," jawab Queen singkat. Tapi, dia tidak berani berbuat apapun. Untuk bernapas saja, dia berhati-hati sekali.
"Kudengar Mukidi itu orang gila yang ditangani oleh temanmu yang menjadi dokter jiwa, ya?" ucap Al lagi dengan tenang. Memandang Queen dengan tatapan penuh arti.
"Ya, aku sempat mendengarnya beberapa waktu lalu."
"Oh, Ya sudah. Ayo kita turun!"
"Tapi, kenapa kau memiliki nomernya? Apakah kau jatuh cinta padanya?"
"Sejak kapan kau jadi posesif, Al?"
"Sejak aku tahu, kalau nama Mukidi di sini adalah nomor hp-ku." Al tertawa penuh Arti, mendekatkan tubuh ya pada Queen dan menggigit leher serta menggelitik perut wanita itu.
"Al, Uda! Stop aku geli!" teriak Queen beberapa kali sambil berusaha melepaskan diri. Tapi, Al masih saja terus melakukan apa yang ia lakukan tadi tanpa berhenti. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, ia hanya gemas dengan Quen dan ingin memakannya saja saat itu.
"Baiklah. Aku akan memaafkanmu dengan dua sarat."
"Apa?" tanya Queen sambil merapihkan kembali kemejanya.
__ADS_1
"Kamu ganti nama kontak dengan nama suamiku dan biarkan aku nanti bermalam di kamarmu."
"Oke, sarat yang mudah," jawab Queen.keduanua pun turun dari mobil. Tanpa sadar Queen lupa membawa rangkaian bunga yang diberikan oleh suaminya tadi. Al yang kebetulan melihatnya, ia pun langsung mengambil dan membawanya masuk ke dalam.