Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 128


__ADS_3

Tepat pukul tiga tiga puluh sore, Bilqis bersama Diaz, Hanifah, dan kakek Andrean pun tiba di rumah dengan membawa seekor ikan emas besar.


Dengan riang bocah kecil itu berlari melompat ke arah mamanya sambil tersenyum ceria.


"Mama, tadi Bilqis dapat banyak ikan saat memancing bersama tante dan om Diaz," ucap bocah itu mulai menceritakan yang pengalamannya.


"Oh, iya kah? Dapat berapa ekor ikan memangnya?" timpal Nayla.


"Banyak, sekali tapi, tadi dikasihkan orang-orang sama kakek dan Bilqis dikasih satu yang paling besar."


"Kamu tiru kebaikan kakek buyut ya sayang. Suka berbagai pada sesama." Nayla mengusab rambut putrinya lalu menyuruhnya untuk mandi, sementara dia akan memasak ikan mas yang baru saja di dapatnya.


Andrean melajukan kursi rodanya dengan memutar kedua roda dengan tangannya. Membiarkan Diaz dan Hanifah di halaman rumah yang masih saja ribut. Entah apa yang mereka ributkan.


"Diaz, tungguin... Dasar kaki panjang jalannya cepet banget sih?" ucap Hanifah sambil mengerjar pria itu dari belakang.


Meski Hanifah sudah memegangi belakangan baju Diaz, namun pria itu tetap saja acuh tak acuh mengabaikan gadis itu.


"Hanifah, stop jangan gitu, di sini banyak orang," keluh Diaz.


"Kalau sepi orang mau, ya? Ya udah ayok kita ke taman belakang saja. Di sana sepi kali aja kamu mau berbuat mesum denganku," jawab Hanifah sambil cengar cengir.


Diaz pun merasa lelah dan tak mau lagi meladeni Hanifah yang kian hari makin menyebalkan, baginya. Dengan segera pria itu masuk ke dalam rumah dan berpamitan ke pada kakek Andrean.


"Kek, kalau gitu saya pulang dulu, ya. Karena saya harus bekerja. Dan besok siang saya ada jadwal praktik," pamit Diaz dengan sopan.


"Kau tidak makan malam dulu di sini, Diaz?" tanya kakek Andrean.


"Tidak, kek. Nanti saya akan makan di cafe saja, permisi, Kek. Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam. Hati-hati, Nak Diaz."


Andrean terus memandangi punggung pira itu sampai tak nampak lagi dari pandangannya.


Ia pun memutar kursi rodanya hendak masuk ke kamar. Tapi, urung dihebohkan dengan suara Hanifah yang sepertinya merajuk.


Dan ternyata benar saja,cucunya yang satu itu memaksa untuk ikut bersama Diaz. Entah apa ya g ada di kepala bocah itu.


"Hanifah, ini sudah larut. Kau masuk dan mandilah. Diaz akan bekerja hari ini," perintah Andrean.


"Kek, aku cuma mau ikut Diaz pulang ke kos-kosannya saja, masa gak boleh."


"Tidak boleh. Kamu masuk atau kakek laporkan pada papa kamu biar kau dipindahkan kembali ke Australia?"


Hanifay mendesah kesal, "ok, Hanifah nurut, dah... Tapi, tunggu dulu." Gadis itu diam sesaat seperti orang yang tengah berfikir. Sementara Andrean sudah masuk ke dalam rumah. Dengan gerakan cepat Hanifah menarik lengan Diaz ke bawah dan mencium lagi pipinya dan kali ini hampir mendekati bibirnya. Gadis itu pun berlari sambil tertawa kegirangan seperti habis menang lotre saja sementara Diaz dia terlalu kaget dan membeku.


Bahkan sampai di rumah, rasanya ciuman itu masih terasa. Hanya saja yang ada di benak Diaz adalah Queen. Sampai-sampai bekerja pun ia tak fokus. Tidur pun di dalam mimpinya dia malah mimpi bertemu dengan Queen dan berciuman dengan wanita yang bersuami itu.


Jadi orang baik memang sulit. Harus kuat dengan godaan apapun macamnya.


🍁🍁🍁


Usai mandi, Al mengajak Queen ke pusat perbelanjaan untuk mencari outfit untuk berjalan-jalan karena semua tidak membawa gantin dengan hanya mengenakan kemeja putihnya yang kotor ia mulai berkeliling dan memilih celana jeans panjang dan kaus putih berkancing lengan banjang juga, karena di Bandung hawanya sangat dingin. Beda dengan Jakarta.


Usai memilih baju dan berganti pakaian, mereka memilih untuk makan malam dulu. Entah kebetulan atau bagaimana, mereka dengan kompak memakai atasan yang sama-sama putih. Hanya saja, Queen memilih bawahan rok selutut berwarna milo.


Begitu keduanya bertemu, mereka sama-sama tertawa karena memang tidak janjian dan tau-tau sama.


"Loh, jadi kompakan gini, ya?" ucap Al.


"Beneran deh, aku gak tahu lo kalau Kakak juga ambil baju putih. Sama-sama lengan panjang lagi," timpal Queen.


"Ya sudah gapapa, gak ada salahnya juga, kan? Kita cari makak dulu saja yuk baru jalan-jalan lagi," ajak Al sambil merangkul adiknya.


Setiap orang yang berpapasan dengan keduanya saling memandang. Begitulah. Mereka menjadi pusat perhatian. Banyak yang mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih atau pengantin baru.


Usai makan, keduanya jalan-jalan. Queen sengaja meminta ke alun-alun saja. Dengan alasan cari suasana yang berbeda. Dan mencicipi kuliner khas kaki lima yang ada di Bandung. Diam-diam dia menyesal mau makan dulu dengan kakaknya. Baru makan, seblak, cimol dan basreng aja rasanya sudah sangat kenyang. Padahal masih ada banyak makanan yang ingin dia coba. Akhirnya mereka pun memilih jalan tengah, membeli setiap makanan satu porsi untuk berdua.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Hawa dingin juga kian menusuk.


"Udah malam, Ayuk kita kembali ke hotel," ajak Al pada adiknya.

__ADS_1


Tapi, Queen diam tak menyahut. Mataknya tertuju pada odong-odong yang sudah hampir penuh penumpang.


Menyadari apa yang dilihat Queen, Al pun menawarinya, "mau keliling area alun-alun, dulu naik, itu?"


"Iya, iya." Queen mengangguk dan tertawa menunjukan keceriaannya.


"Ayok!" Al mengulurkan tangannya dan disambut oleh Queen dan mereka pun bergandengan menuju ke arah odong-odong tersebut.


Tepat jam sepuluh malam keduanya sudah turun lagi di alun-alun tempat di mana mereka tadi naik.


"Ok. Makasih ya kak untuk hari ini," ucap Queen sambil memeluk lengan kiri Al dan berjalan beriringan menuju ke mobil.


Setibanya di hotel, Queen memakai dres dari bahan kaos selutut untuk tidur agar lebih nyaman. Ia melihat sebentar ke layar ponselnya tak seorangpun yang mengubunginya.


"Ah, sudahlah Queen. Alex pasti juga sudah tidur," ucapnya seorang diri lalu tidur menepi membekangi Al yang masih sibuk denga laptopnya.


"Queen sudah tidur sayang?" tanya Al sebab sedeibtadi adiknya diam saja.


"Belum, kak. Besok kita jam berapa kembalinke Jakarta?"


"Terserah kamu saja, apa perlu jalan-jalan lagi lebih lama di sini? Barangkali kau ingin ke lembang," tawar Al.


"Lain kali saja, kak, Besok siang jam satu aku ada jadwal praktek di rumah sakit," sahut Queen tanpa menoleh ke arah kakaknya.


"Ya sudah, kau cepet tidur besok setelah sarapan kita kembali agar kau punya waktu untuk beristirahat dulu, ok?"


Quen tidak menjawab dan masih saja miring membelakangi Al.


Pukul sebelas malam Al memastikan laptopnya melekannya di atas nakas. Lalu mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidur saja. Tapi, ia merasa kalau Queen nampak gelisah dan belum juga bisa tidur.


Tanpa banyak bicara Al memeluk tubuh Queen dari belakang dan berbisik di dekat telinganya, "Kenapa kau nampak gelisah? Apakah kau merindukan Alex? Tenang ya. Ada kakak di sini tidurlah."


Dan tanpa terasa keduanya pun sama-sama terlelap hingga pagi.


Pagi itu Queen terbangun dalam posisi saling berhadapan dengan Al sementara ia tidur di atas lengan Al dan memeluk erat tubuh kakaknya seperti bagaimana ia biasa saat bersama Alex.


Dengan cepat gadis itu menggeser tubuhnya dan membuat Al pun juga terbangun.


"Tidak ada hal lain yang terjadi selain yang kau lihat pagi ini sayang. Semalam kau nampak glisah, kakak memelukmu dari belakang. Dan selebihnya kita sama-sama terlelap. Tidak ada hal buruk terjadi," tukas Al memotong pembicaraan Queen.


"Aku minta maaf jika semalam merepotkan, kakak, ya."


"Tidak apa-apa, ayo cepatlah mandi dan lalu kita cek out. Mau makan di hotel apa di luar?"


"Terserah deh, di luar saja yuk, kita coba kuliner pinggir jalan lagi," ajak Queen bersemangat.


🍁🍁🍁


Sepulang dari Bandung Queen sengaja tidak kembali ke rumah. Ia memilih ke kantor bersama Al dan beristirahat di dalam ruangan kusus yang dia gunakan kerja dengan Al. Kebetulan di dalam sana juga terdapat satu sofa panjang cukup lah untuk dia selonjoran.


Setelah seharian di kantor dan sedikit membosankan , akhirnya waktu untuk ke rumah sakit pun tiba.


"Kak, aku ke rumah sakit dulu, ya?" Pamit Queen sambil mengemasi barang-barsngnya.


"Jam berapa sih kamu mulainya?"


"Ya nanti setengah jam lagi, cukup lah untuk waktu perjalanan sisa sepuluh menit," jawab Quen sambil berdiri di dekat Al.


"Ok, Ayuk kakak antar kamu saja," ajak Al.


Quen pun menyetujui ajakkan sang kakak.


Selama di perjalanan dan melihat Queen sudah mulai rilex, Al pun memberanikan menanyakan lagi kondisi Alex.


"Dari kemarin kakak tidak melihat kau menghubungi Alex sama sekali, Quen. Apa kau tidak merasa kawatir dengannya?" ucap Al memulai pembicaraan.


"Ngapain aku khawatir kak? Kan sudah ada yang jaga dan rawat dia." Cetus Queen sekenanya. Seketika itu juga raut wajahnya pun berubah jutek.


"Yang rawat dia? Siapa?" tanya Al penasaran.


'dih, hampir keceplosan. Mati kau Queen," umpat Quen dalam hati.

__ADS_1


"Ya si bibi, lah kak," jawab Queen sekenanya.


"Iya juga, ya? Kakak kira mama dan papa mertuamu yang ada di sana."


"Tidak. Dia marah sama Alex saat melihat kondisinya seperti itu. Iya sih lupa tapi dah diingatin ttp aja ngeyel Helen gadis yang dia cintai. So, mereka gak mau ketemu Alex dari pada emosi katanya," jawab Quen tak sepenuhnya bohong.


Tanpa terasa mobil Al sudah tiba di depan rumah sakit Medika sehat. Al pun mengentikan mobilnya membiarkan Queen turun dan pergi ke rumah sakit sendirian. Tapi, sebelum gadis itu turun Al memeluk Quen lebih dulu, seperti biasa ia mencium kedua pipi adiknya dan melambaikan tangan. Begitu punggung Queen kian menjauh dari tempatnya parkir Al pun menancap gas dan pulang ke rumah dulu menjenguk kakeknya. Sebab Diaz pasti juga tengah berada di rumah sakit untuk pendidikannya.


Tiba di ruangannya Diaz sudah tiba, tapi Queen tidak melihat Gea di sana.


"Hay, baru pulang dari Bandung, ya?" sapa Diaz dengan senyumannya yang hangat.


"Iya, dari tadi pagi, sih Diaz. Cuma aku masih bantu kakak di kantor sebentar dan tadi juga kak Al yang antar aku kemari," jawab Queen dengan ramah dan memberikan satu tas kresek berisi oleh-oleh dari Bandung kepada Diaz.


"Apa, ini? Bawa oleh-oleh, juga ternyata tuan putri. Makasih, ya," ucap Diaz begitu menerima tas itu dari Queen. Tanpa melihat apa isinya terlebih dahulu, pria itu meletakan tas itu ke dalam lokernya.


"Gea mana, Diaz? Apa dia belum datang?" tanya Quen lalu duduk sejenak.


"Sudah, tadi pacarnya kemari, mungkin mereka masih ngobrol berudua di suatu tempat, jawab Diaz


***


Sekitar pukul tiga sore kegiatan di rumah sakit pun selesai bsemoa para koas yang satu jadwal dengan Queen pun pulang.


"Diaz, apakah kau ada waktu?" tanya Queen.


"Ya, ada. Kenapa?"


"Ada yang ingin aku obrolin sama kamu, kira-kira bisa kapan?" tanya Queen sedikit mendesak.


"Sekarang?"


"Boleh, di mana? Kita ke taman saja yuk, selain agak sepi suasananya enak buat ngobrol, kan?" usul Queen.


"Kita sholat ahsar aja dulu di masjid rumah sakit, yuk! Ajak Diaz.


Meskipun ini bukan pertama kalinya Queen melakukan ibadah, tiba-tiba saja ia merasa gemetar sejak dia pertama menyalakan kran air untuk berwudhu. Ada getaran aneh di hatinya yang tak bisa dia jelaskan.


Bahkan dalam sujudnya ia enggan bangkit dan masih ingin berlama-lama. Sungguh ini bukan hal yang biasa bagi gadis itu. Getaran kuat dihatinya membuat air matanya mengalir tanpa henti tapi dia tidak sedih.


Usai menunaikan sholat ashar pun, kebetulan suasana masjid sepi, sholat berjamaah sudah selesai, jadi, Diaz dan Queen berjamaah sendiri dan Diaz menjadi imamnya.


Getaran aneh itu rupanya tidak hanya dirasakan oleh Queen saja, tapi, juga Diaz. Namun beda sebab. Jika Diaz gemetar karena membayangkan Queen tak hanya sekedar menjadi makmum sholat saja, tapi, makmum dalam rumah tangga.


'Ah, apaan sih, kamu, Diaz. Kebanyakan ngayal. Ingat dia istri orang,' umpat Diaz dalam hati.


Diaz memutar posisi duduknya menghadap kebelakang setelah berdoa. Ia melihat Queen dengan khusyuk berdoa dengan air mata yang berlingan. Sampai ujung hidung dan kedua pipinya nampak kemerarah. Tapi, pria itu malah terpana. Melihat Queen yang begitu nampak lebih cantik, menurutnya.


Quen pun membuka matanya, dan buru-buru menghapus buliran bening yang membasahi kedua pipinya saat sadar kalau Diaz rupanya memperhatikan dirinya.


"Apakah sudah, Diaz?" tanya Quen berbasa basi, dan hanya di balas senyuman tipis dan anggukan dari Diaz.


Mulanya pria itu ingin mengajak Queen ngaji dulu, tapi, ia khawatir Queen ngajinya tidak lancar dan malu pula dengan jemaah lain, jadi ia pun mengurungkan niatnya dan mengajak Queen ke tempat yang sudah dirancakan tadi.


tiba di taman Queen tidak langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan. mereka mencari tempat duduk dulu untuk beekrsantai sambil menikmati jus buah yang baru saja mereka beli.


karena Queen hanya diam, Diaz pun memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang sudah Queen duga sebelimnya.


"Tadi kenapa di masjid kok nangis? ingat sesuatu?"


Benar, kan dugaan Queen?


"Enthlah, aku sendiri juga tidak tahu, Diaz. air mata tiba-tiba saja mengalir deras, aku sudah berusaha menahannya tapi tidak bisa. padahal aku tak ingat masalah yang ada di rumah. soal papa mamaku, aku sudah menerima. Tapi, tetap berharap mereka akan sadar kepak dalam kondisi terburuk sekalipun tak masalah. aku dan kakak siap merawat. dibilang sedih, tadi aku juya tidak sedih, Diaz."


"Mungkin kau merasakan kenikmatan bersama Allah, Queen. kau tahu, jarak terdekat antara manusia dan penciptanya itu apa? pada saat sujud."


Gadis itu terdiam dan nampak berfikir dan membenarkan ucapan Diaz. semua lelahnya akan masalah dunia seolahnikut jatuh bersamaan ia bersujud tadi. semakin lama ia bersujud, semakin ringan pula saat ia bangkit.


tapi, Queen tidak mau terlarut dalam hal itu dulu. ini bisa dibahas lain waktu. yang uatama adalah tentang rumah tangga antara dia dan Alex.


"Diaz, aku ingin cerai saja sama Alex," ucap Quen to the point.

__ADS_1


__ADS_2