
Gimana setelah tau sama Alex? kalian pilih Al, apa Alex?
Quen dan suaminya berada di dalam kamarnya, ia menunjukan cangkang kerang bersar berisi kalung mutiara pemberian Alex di masa putih abu-abu dulu, saat keduanya tengah bermain ke pantai.
"Alex, kau lihat ini, aku punya Jinny, lo," ucap Quen seraya mengangkay kerang itu dan menunjukan kepada pria yang baru beberapa menit lalu sah menjadi imamnya.
"Kau masih menyimpannya?" tanya Alex tidak percaya.
Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk. Alex beranjak mendekati istrinya dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggangnya yang ramping.
"Apa alasanmu menyimpan itu sampai saat ini? apakah itu terlalu berharga?" bisik Alex, di dekat telinga Quen.
"Tidak juga, aku bisa membelinya sendiri jika aku mau," jwab Quen sedikit bergedik geli merasakan napas Alex yang berhembus di telinganya.
"Lalu, kenapa masih di simpan?" tanya pria itu sambil mencium pipi istrinya.
"Karena ini kuterima darimu, kau tahu, Lex hal yang sulit aku lupakan tentangmu itu apa?"
"Apa?" Alex sedikit menyenggol tepi bibir Quen. pria itu tidak begitu peduli, ia terus terusan menciumi wanita yang ada di dekapannya saat ini.
"Kau cerewet, dan selalu maksaku menghabiskan makananku," ucap Quen sambil tertawa karena geli Alex menggigit daun telinganya.
"Lex, geli, ah jangan gitu," lenguh Quen, berusaha mendorong tubuh Alex.
"Aku ini suamimu, kenapa? memangnya tidak boleh aku berbuat begini pada istriku,?" Ciuman Alex semakin bergerilnya, bahkan tangannya pun gencar menjajaki lekui tubuh Quen.
sesat kemudian Alex mundur beberapa langkah dan duduk di tepi ranjang sambil memangku Quen berhadapan.
"Apakah kau akan melakukannya sekarang?" tanya Quen saat Alex semakin berani,"
"Tidak. sekarang masih banyak orang. aku takut terganggu, lebih baik nanti saja setelah resepsi," ucap Alex.
"Ya sudah, lepaskan aku!"
"Tidak boleh, ya aku memangkumu begini?"
"Aku takut tiba-tiba ada yang membuka pintu,"
"Kenapa tidak dikunci?"
"tidak peelu," jawab Quen. "Oh, ya Lex gimana ceritanya kok kamu bisa ikut hadir di acara ijab qobulkh tadi?"
"Kak Al yang memintannya. dia memberitahuku semuanya dan bertanya apakah aku masih mencintaimu? jika ya aku diminta datang dalam acara ijab Qobulmu. dan ternyata dugaan dia tepat, dan semua berjalan sesuai rencana. tapi kedatangan kakakku itu dokuar dugaan kami.
"Oh, ya. bahkan aku tidak nyangka kalau kak Novi itu kakak kandungmu, pantas saja kemarin pertama aku ketemu dia, aku melihat wajahnya kaya gak asing. ah ternyata dunia itu sempit, ya?" ucap Quen sambil memeluk Alex.
Alex mengelus-elus wajah Quen dan mencium keningnya, "Kau istirahatlah dulu, biar nanti fresh saat acara resepsi, aku akan turun dengan kak Al dan kak Juna, ya?" Alex pun beranjak meninggalkan kamar Quen.
🍁 🍁 🍁 🍁
"Hello... Madam datang... ini mana ini mantennya yang mau di rias?" ucap Erwin begitu tiba di kediaman keluarga Clara.
"Kau tidak mau makan siang dulu? atau setidaknya minumlah pasti capek, kan kepanasan terjebak macet?" ucap Clara kepada Erwin. sementara rombongannya tengah sibuk mengeluarkam dan menata alat-alat untuk rias pengantin.
"Iya, hayati lelah, Bang... Oh, iya. nanti Reza datang, kan?" tanya Erwin bersemangat.
"Pasti, tentusaja dia datang. kayaknya akan datang bersama Selly dan Hengki, deh."
"Terus Eren sama lakinya?"
"Dia susah ada di sini sejak kemarin,"
"Oww..." Erwin menganggukan kepalnya berunlang sekilas ia meluhat bayangan seorang pria persis dengan mudanya Vano dulu, masa iya, Vano tetap muda gak ada tua-tuanya dikit?"
"Lala... cowok itu siapa? ganteng banget," tanya Erwin dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1
"Mana?" tanya Clara menoleh ke arah yang di tujuk Erwin.
"Itu, Loh. kemeja hitam." Erwin menunjuk ke arah Al yang nanpak duduk bersama Alex dan Juna.
"Oh, yang kemeja merah itu Al anakku, dan yang berkemeja putih itu, Alex menantuku, suaminya Quen. dan yang biru itu Juna. Teman anak dan menantuku juga seniornya Quen saat SMA. mereka juga satu fakultas hanya saja beda jurusan. kenapa?"
"Astagaaa Lala, kau emang ditakdirkan tuhan hidup di kelilingi pria-pria ganteng, Ya... aih, iri aku, aww ada yang berdiri lihat yang ganteng-ganteng, gimana, Nih. aku kebelet," bisik Erwin sambil tertawa.
"Heh, kau merias putriku, ya? harus fokus awas kalau dia jadi jelek. harus tambah cantik, inner beautynya harus tsrpancar keluar 1000%," ucap Clara merasa jengkel dengan Erwin.
"Hahaha, dasar Nenek! gampang banget emosi, awas darah tinggi nanti, kena hiper tensi kamu tau rasa!" seru Erwin sambil menyeruput minuman dingin yang disediakan pelayang catring yang disewanya.
"Ngerias satu manten dengan hasil maximal lama, lo. gimana? aku rias sekarang ya? ini kan dah jam setengah empat. pas lah kalau habis magrib nanti," ucap Erwin sambil melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Ok, kau masuk saja di kamar rias yang sana, aku panggil anakku dulu," ucap Clara naik ke atas tangga memastikan Quen sudah bangun atau belum, sebab pasca ijab Qobul tadi dia bilang kelelahan dan ingin istirahat sebentar agar tidak drop.
Clara mengetuk pintu dengan perlahan dan membukanya. Quen tidak ada di ranjangnya, tapi tersengar suara guyuran air shower di kamar mandi.
"Sayang, om Erwin sudah datang, cepat, ya?" ucap Clara. memberi tahu.
"Iya, Ma. Quen udah selesai," ucapnya. Tak lama kemudian gadis itu keluar mengenakan handuk baju berwana pink sambil rambutnya yang basah dibungkus dengan lilitan handuk berwarja serupa.
"Ayo, turun saja ranbut dikeringin di sana!" seru Clara sambul merangkul pundak anaknya dan berjalan keluar.
"Hay, Om." Sapa Quen pada Erwin. sementara anak didik Erwin sibuk meriasi keluarga mempelai wanita yang sudah mengenakan kebaya berseragam. termasuk Lyli.
"Wah, cantiknya... habis mandi, ya? jadi seger, kan? yadah, kamu ganti gaun dulu, Say, baru nanti om rias secantik-cantiknya, Ok."
🍁 🍁🍁
Sementara di tempat Lain Aditya tengah merayakan kebersamaanya kembali sebelum mereka menghadiri resepsi pernikahan adik iparnya.
Bersama Axel, ketiganya menikmati momen-momen yang sudah sangat lama tidak terjadi.
di sebuah taman belakang Vila yang sudah di sewa Aditya sebelumnya, Axel merasa kelelahan, dia bahkan sampao tertidur dalam pangkuan Novita mamanya.
"Yang lalu biarlah berlalu, jadikan saja semuanya pembelajaran untuk kita, ok? kau jangan lagi hancurkan hatiku juga hati Axel," ucap Aditya sambil merangkul pundak istrinya dari belakang.
"Aku janji Dit, cukup satu kali saja mengalami kebodohan, cukup, aku sangat menyesal. terimakasih, sudah mau memaafkanku." ucap Novi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aditya
"Mumpung Axel tidur, kita masuk, Yuk! kita di kamar sebelah saja," ucap Aditya memberikan kode.
🍁 🍁 🍁 🍁
Malam sudah tiba, Helena sudah siap dengan longdrea berwana maroon dan sentuhan mekap natural untuk menghadiri undangan pernikahan teman SMA nya dulu, Quen.
ia sedari tadi nampak sibuk dengan ponselnya, berkali-kali mengirim oesan tidak terkirim selain centang. sementara di telfon pun juga nomornya tidak aktif.
Helna nampak mulai putus asa, lalu dikirmnya sekali lagi sebuah pesan chat pada nomor Alex. ["Lex, kau jadi hadir di resepsinya Quen juga, kan? Aku bareng kamu aja ya?"]
lagi-lagi pesan itu pun centang. sekali lagi Ia menelfonnya tapi panggilan masih juga tidak aktif.
akhirnya Helena pun keluar kamar menghampiri mama dan papanya yang nuga sudah siap.
"Nomor Alex, gak bisa dihubungi, Pah. Helen bareng kalian saja, ya?" ucap gadis itu.
"Ok, ya sudah Ayo kita berankat sekarang saja." Ajak papanya Helena. karena sudah dia dan semua rekan kantornya sudah berjanji jam tujuh pagi sudah sama-sama berkumpul di lokasi."
Sepanjang perjalanan Helena hanya diam saja, pikirannya terus tertuju pada Alex. meski sudah putus, sejujurnya dia masih mencintai laki-kaki itu. Tapi, Alex malah menyesal telah meninggalkan Quen. Bahkan dulu pria itu memutuskan dirinya hanya untuk mengejar kembali cinta Quen. Helena tahu, tapi ia tidal bisa berbuat apa-apa, memaksapun juga percuma, satu-satunya jalan ya membiarkan saja. toh sekarang Quen juga menikah dengan seorang dokter dari rumah sakit terna yang juga merupakan dosennya.
"Jangan-jangan Alex tadi prustasi tidak kuat melihat gadis yang dia cintai menikah dengan proa lain? atau jangan-jangan.... sudah, Helena, sudah jangan berfikir buruk tentamg Alex, dia tidak apa-apa. hal buruk takan terjadi padanya, ok?" gumam Helena dalam hati.
Tanpa terasa, Mobil sudah tiba di area parkiran di halaman depan rumah keluarga Quen. sementara pelaminan berada di halaman kiri rumah. dari jauh Helena melihat Quen yang nampak cantik dengan balutan gaun pengantin putih, dan rambut dengan staylish kelas internasional di tambah lagi dengan mahkota yang membuatnya semakin anggun.
"Helena, tidakkah kau ingin menyalami temanmu dan berfoto bersama dulu?" ucap Mamanya Helen.
__ADS_1
"Iya, Ma." Helena sedikit menjinjing dresnya melangkah menuju pelaminan. Tapi, tiba-tiba langkahnya berhenti saat matanya menagkap sosok pria mengennakan teksudo hitam dan kemja putih berdiri di atas pelaminan sambio tangannya menggandeng Quen. Ia berusaha meyakinkan pandangannya. terus bejalan mdndekat dengan harapan yang menjadi pengantin pria hanyalah orang lain yang kebetulan memiliki kemiripan dengan Alex.
Mata Helena seolah tidak berkedip terus memandang ke arah pengantin pria tanpa peduli jalan yang dia lewati dengan beberapa kali ia menabrak orang yang berada di sana. dan benar saja saat Helena naik pelaminan dan jarak dengan pengantin hanya beberpa meter saja.
"Alex, bagaimana bisa kau yang menikah dengan Quen? apakah kalian semua mengerjaiku? pantas saja sedari tadi kau ku tunggu untuk berangkat bersama tak kunjung menghubungi, dan kutelfon kuga tidak mengkatnya," ucap Helena seolah dia sangat-sangat kecewa.
Quen dan Alex menoleh ke arah Helena. ia berusaha menjelaskan, tapi, entah mau di mulai dari mana.
"Helen, ini sebuah ketidak sengajaan aku menikah dengan Alex, ceritanya panjang, kau dengarkan aku, ya? nanti saat ada waktu, aku akan bercerita," ucap Quen merasa bersalah. sebab ia tahu kalau Helen masih mencintai Alex, bahkan dari pancaran matanya pun ia bisa memahami semyanya. gadis itu benar-benar terluka dan kecewa.
Pandangan Helena seolah menjadi buram dan kabur, dadanya terasa sesak dunia seolah berhenti berputar bahkan langit kokoh pun terasa runtuh menimpa dirinya.
beberpa menit Helena berdiri dengan wajah kian pucat, tiba-tiba tubuhnya ambruk. Henepa pingsan tak sadarkan diri.
sontak orang-orang yang dekat posisinya dari Helena berbondong-bondong mengerumuni Helena untuk memberi pertolongan.
"Alex, gimana ini?" ucap Quen panik.
Alex menggenggam erat tangan Quen berusaha menenangkan. "Sudah, tidak apa-apa, dia cuma pingsan dan sudah banyak yang menolong. kita tetap di sini saja, ya? Yuk Duduk!" ajak Alex. namun, Quen masih saja nampak kepikiran nasib temannya.
"Ada apa, Ini? bagaimana bisa sampai pingsan? Cepat bawa dia ke kamar tamu," ucap Vano pada yang mengankat tubuh Helena yang tak sadarkan diri.
"Lyli, tolong ambilan P3K, ada yang pingsan," ucap Clara panik. untung saja Lyli berada di dekatnya.
Dengan segera gadis itu beranjak mengambil P3K dan memberikannya kepada Clara. Sementara kedua orang tua Helena sudah ada di kamar bersama Clara. dan Vano sendiri sudah kembali keluar menemui tamu-tamu dari perusahaan. dan tak lama kemudian ayahnya Helena ikut menyusul. dan putrinya ditemani oleh istri dan Clara. istri dari CEO-nya.
"Apakah putrinya memang sedang tidak, Fit, Bu?" tanya Clara sambul memijat-mijat Kaki Helena.
"Sepertinya tidak, Bu. Tadu dua baik-baik saja kok," jawab mamanya Helena. yang masih belum melihat anak dan menantu Bos dari suaminya itu.
"Lalu kenapa, ya kira-kira? apa dia kelelahan?" tebak Clara.
"Bisa jadi, Bu. dia baru saja pulang liburan dari Singapura dan Macau."
"Oo, pantas saja," ucap Clara lirih sambil mengangguk-angguk.
Beberapa saat kemudian Helana sadar, dia langsung berusaha untuk bangun, ia melihat kiri dan kanan nampak Clara di sebelah kiri dan di kanannya mamanya.
"Ma, aku di mana ini?" tanya Helena lirih.
"Kau tadi pingsan. dan seseorang menolongmu. ini di rumah orangtua papamu. beliau istri dari pemilik perusahaan. mamanya Quen,"
Dengan cekatan Clara meraih segelas air putih dari atas nakas dan memberikannyankepada Helena. "Minumlah dulu, Nak? apakah kau masih pusing?"
"Tidak, Tante. terimakasih." jawab Helena,
Clara melirik jam di tangannya sudah pasti teman geng semasa SMA nya datang.
"Bu, Intan. saya permisi dulu, biarkan Helen istirahat aejenak sampai kondisinya membaik, tidak perlu sungkan-sungkan saya akan temui tamu dulu," pamit Clara dengan santun.
"Iya, Bu Clara. terimakasih. maaf sudah merepotkan." jawab mamanya Helena. merada tidak enak hati.
Kini di dalam kamar itu hanya ada Helena dan mamanya saja. karena penasaran, mama intan pun bertanya kepada putrinya. "Kenapa kau tiba-tiba jatuh pingsan?"
"Ma, Alex sudah menikah, Ma." jawab Helena sambil menggenggam erat gelas di tangannya.
"Apa maksutmu?" Tanya Intan Heran.
"Yang di pelaminan sana, Quen dan suaminya Alex. mereka sudah menikah. putri bosnya papa dulu memang mantan pacarnya, Ma."
"Loh, di undangan namanya Aditya Mahendra, dia kan dokter THTnya ruma sakit Medica Sehat, kan?"
"Itulah, aku juga bingung. Alex menggunakan identitas palsu, juga tidak mungkin, kan Ma? jika salah ketik kok bisa dokter? Alex kan..." Helena tidak melanjutkan lagi kalimatnya. dia berusaha berdiri dan keluar ikut dalam acara pesta, sebab tadi ia pun melihat Sinta dan Bella hadir. ia ingin kumpul-kumpul dengan teman sesekolahnya yang sudah lama tidak berjumpa. itung-tung reuni kecil-kecilan.
Nih buat kakak-kakak. kukasih lagi deh casnya Alex.
__ADS_1