
Diaz diam sesaat tidak langsung memberikan jawabannya. Ia pun sebenarnya bingung. Inging datang, tapi ia tak bahagia dengan acara itu. Jika tidak. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi Queen.
"Insyaallah datang, Kek. Hanya untuk Queen saja. Tidak lebih."
Andrean memahami sorot mata pria itu, dia menaruh hati pada cucunya. Dan mau melakukan apapun demi Queen, selama itu tidak menimbulkan fitnah untuk keduanya. Andrean menepuk pundak Diaz dan memintanya istirahat.
"Ini sudah cukup larut, Nak. Kau istirahatlah!"
"Diaz antar ke kamar, kek." Pria itu pun beranjak mendorong kursi Andrean membawanya ke kamar. Usai membantunya berbaring di atas ranjang, Diaz pun keluar.
Sudah banyak perkembangan ada kaki Andrean. Ia sudah mampu berdiri dan melangkah meski hanya satu dua langkah saja. Tapi, sengaja ia menyembunyikan hal itu dari Al dan Quen. Hanya Diaz saja yang tahu. Hanifah yang setiap hari ngintilin mereka saja juga tidak tahu akan hal itu.
"Diaz, apakah kau sudah ngantuk?"
Diaz menghela napas dalam merasa dirinya tengah siaal.
"Hanifah, kamu belum tidur?"
"Gimana aku bisa tidur? Aku nunggu dikelonin kamu, loh Diaz, hehehe."
"Ini sudah larut. Aku juga sudah ngantuk, kembalilah ke kamarmu." Dengan raut wajah datar Diaz melangkah hendak ke kamar sebelah.
Dengan cepat Hanifah mengejar dan berhasil memegangi lengan Diaz, "Aku takut di sini. Aku tidur sama kamu, ya?" rengeknya.
"Hanifah, lepaskan tanganmu. Gak boleh tidur bersama," ucap Diaz.
"Siapa yang larang? Aku pokoknya mau tidur sama kamu, titik ga pake koma." Hanifah dengan agresif nya memeluk lengan Diaz dan menyandarkan kepalanya pada lengannya.
"Hanifah, kamu jangan kek gini dong. Jangan bikin aku tidak suka sama kamu."
Hanifah mengibaskan lengan Diaz lali pergi begitu saja. Rupanya gadis itu marah dengan perkataan Diaz. Tapi, pria itu sedikit pun tak peduli. Dengan begini bukannya lebih baik, kan?
Diaz pun masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya pada kasur yang tersedia di sana. Tapi, matanya tiba-tiba tertuju pada bebuah album foto yang nampak usang.
Rasa penasarannya membuat ia kembali bangkit dari ranjang dan meraih album itu. Dibukanya satu demi satu lembaran yang ada.
Diaz mengerutkan kedua alisnya saat melihat wajah Queen di sana berpakaian SMA dan baju santai. Tapi, jika dilihat. Inilah foto-foto lama. Bahkan dari tahunnya juga sudah tiga puluh tahun silam. Apakah ini Tante Clara, mamanya Queen.
"Mereka benar-benar sangat mirip, hanya beda di warna rambut saja. Tapi, rambut Queen itu asli apa memang di warna, ya?" Diaz tersenyum seorang diri. Meletakan kembali album itu dan tidur.
🍁🍁🍁🍁
Berkali-kali ponsel Queen berdering. Tapi, ia dengan sengaja mengabaikan panggilan itu setelah tahu siapa yang menelepon. Ia menarik selimut lagi dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Toook... Toookkk...tooookkk!"
"Ah, siapa pula ini yang mengetuk pintu?" umpatnya seorang diri lalu ia pun turun dari ranjang dan membuka pintu.
Di sana berdiri bibi pengurus rumah mengatakan kalau sarapan sudah siap.
"Neng, sarapan dulu. Itu tuan Al...."
Belum sempat bibi menyelesaikan kalimatnya mata Queen sudah melihat kakaknya berjalan ke arah kamarnya. Dengen segera ia mendorong tubuh bibi dan menutup pintu. Belum juga pintu tertutup sempurna. Al mengganjal bagian bawah dengan memasukan kakinya lalu mendorong agar pintu terbuka.
"Ayo berangkat ke kantor sekarang!" seru Al dengan mimik serius.
"Gak mau, kan aku Uda bilang kalau aku tidak akan masuk kerja hari ini," jawab Quen masih tetap mempertahankan pintu kamarnya.
"Tapi kakak kemarin sudah memperingatkan kamu kalau tidak ada libur. Ditelfon pun bahkan tidak kau angkat. Ayo kerja sampai jam istirahat saja," ucap Al begitu pintu terbuka sempurna, Queen berlari ke atas ranjang dan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.
Tapi, Al tidak mau tahu, ia membuka paksa selimut itu dan menggendong tubuh Queen keluar dan membawanya ke dalam mobil. Ia tak peduli meskipun adiknya sudah berteriak-teriak minta turun.
Sementara bibi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Aduh... Mereka ini benar-benar lucu. Andai papa dan mama mereka sudah sadar, pasti senang melihat dua anaknya seperti ini."
Begitu Queen sudah keluar Helen keluar dari kamar dan bertanya pada bibi.
"Tadi itu Quen yang teriak-teriak, Bi? Sepagi ini? Kenapa dia?" tanya Helena, rupanya dia baru saja bangun.
__ADS_1
"Tuan Al menjemputnya untuk kerja, dia menolak awalnya ingin libur tapi tuan Al sepertinya tidak pernah mengizinkan," jawab bibi singkat lalu pergi ke dapur meninggalkan Helena.
***
Dengan hati kesal dan dongkol Quen membuang wajahnya ke arah jendela. Sedikitpun ia tak mau melihat ke arah Al yang super menyebalkan hari ini.
"Kenapa gak teriak, lagi? Capek ya? Suaranya habis?" ledek Al sambil terkekeh.
Quen hanya melirik Al sebentar lalu memutar kedua bola matanya tanpa berkata sepatah pun. 'Lagi pula, kau tak mungkin membawaku ke kantor dalam kondisi seperti ini, kan? Aku masih pake piyama dan cuci muka gosok gigi juga belum,' batin Quen tenang.
Tapi, siapa sangka kalau Al benar-benar serius dan tidak sedang bercanda. Queen baru sadar saat mobil masuk area parkir kantor. Ia tersentak kaget dan matanya terbelalak melihat ke arah Al.
"Kak, kau gila membawaku ke kantor dalam keadaan seperti ini?"
"Kan kakak sudah bilang kau gak bisa libur, ayo kerja ini kantor aku bosmu bukan kakakmu," ucap Al, lalu melepaskan sabuk pengaman, mengenakan kaca mata hitamnya dan turun bersiap kembali menggendong Quen.
Jelas saja gadis itu berteriak lagi sambil berusaha melepaskan diri seperti bocah korban penculikan.
"Pak, lepaskan aku, turunkan aku, aku sudah bilang kalau hari ini libur. Apakah kau tuli? Pak kau benar-benar gila memaksaku bekerja saat ambil cuti. Turunkan aku!"
Al tidak peduli, ia tetap melangkah menuju ruang pribadinya sambil menggendong Quen dan mengenakan kacamata hitamnya. Bahkan ia cuek saat semua staf memperhatikan mereka.
"Haaaahhh... Lihat, itu bos kita pak Al, kan? Dan yang di gendong itu asisten barunya?" ucap salah satu karyawati kepada temannya.
"Iya, bahkan dia masih pake baju tidur," jawab temannya sambil bengong melihat Al yang acuh tak acuh dengan teriakan Queen yang terus mengatainya tuli, gila tak waras dan kata-kata tak sopan lainnya dari bawahan pada atasannya.
"Dia bahkan sangat berani pada pak Al."
"Gila, baru berapa bulan dia bekerja di sini, itu pun seenaknya saja kadang masuk kadang gak, bahkan sering cuka setengah hari saja sudah bisa menaklukkan hati pak Al. Sedangkan kita yang sudah bertahun-tahun dan sering lembur saja tak pernah dilihat sama beliau."
"Benar juga ya."
Al menendang pintu ruanganny, belum juga terbuka, ia menurunkan Queen sambil berkata, "Heh, kau ini kucing atau manusia sih, gigitanmu sangat sakit."
Para karyawati pun heboh mendengar kata-kata Al.
"Ha? Dia emnggigit bos kita?"
"Lagi pula kenapa tahu jam kerja malah enak-enakkan tidur?" jawab Al tidak mau kalah.
"Apa kau tuli kalau kemarin aku sudah bilang hari ini aku libur?"
"Lalu, apa kau jug tidak dengar kalau aku sudah bilag tidak dan kau akan tau konsekuensinya jika tidak patuh."
Quen melipat kedua tangan di depan dadanya sambil membuang muka dari Al. Ia menatap banyak gerombolan karyawati memandangi dirinya dan Al. Ia pun sadar betapa memalukannya dirinya.
Mendadak mentalnya pun ciut saat melihat mereka menatap dirinya dengan tatapan tajam. Jelas mereka akan marah padanya karena tidak sopan karena yang mereka tahu, ia hanyalah staf baru yang langsung jadi asisten pribadi Al.
"Maaf, pak. Saya akan kerja hari ini," jawab Queen lirih.
Dan Al pun tertawa penuh dengan kemenangan karena sukses mengerjai adiknya. Ia sengaja membiarkan para karyawannya menggosip Tetang dirinya dan Queen. Dengan Quen tidak dekat dengan mereka itu akan lebih baik. Bukankah ini juga salah satu alasan kenapa Queen ada dalam satu ruangan dengan dirinya?
Al pun ikut masuk ke dalam tak peduli di dalam nanti adiknya kembali mengamuk seperti singa betina lapar, yang penting dia sudah membawanya keluar dari rumah.
Ia tahu persis apa yang direncakan Helena untuk Queen jadi, ia membawanya paksa.
"Memang asisten baru itu sangat cantik. Lihat saja tanpa mekap belum cuci muka dan memakai baju tidur saja dah kaya gitu, ya? Pantas saja pak Al suka sama dia."
"Iya, tapi, pak Al kan sudah punya istri dan sepertinya sang istri juga lumayan baik dengannya. Apa Bu Nayla sudah siap dimadu dengan gadis muda yang jauh lebih cantik darinya ya?"
"Hahaha gak tahu. Biasanya putra CEO kan gitu tapi, baru kali ini ada istri yang tak marah melihat suaminya mendua."
"Hus, jangan menggosip. Nanti ketahuan pak Al kita dipotong gajinya," tegur salah satu dari mereka lalu, mereka pun kembali bekerja.
***
Sementara di dalam ruangan pribadi Al. Queen berdiri di depan jendela memandang luasnya ibu kota.
__ADS_1
Ia mulai berfikir kenapa kakaknya membawanya paksa kemari sementara dia berjanji pada Helena akan mengurus riasan pengantinnya bersama Alex. Tapi, apakah itu tidak terlalu konyol dan bodoh?
Mengizinkan suaminya menikah lagi tanpa paksaan saja sudah suatu keberuntungan untuk dua pasangan gila itu.
'Kakak melakukan ini karena tak membiarkan aku sakit lebih dalam lagi, aku malah memarahinya. Aku harinya meminta maaf,' batin Queen.
Gadis itu menoleh ke belakang melihat Al yang tengah fokus dengan laptopnya.
Dasar memang orang tidak berperasaan. Dia tidak berusaha menghibur ku atau apa, malah asik kerja. Dasar workaholic. umpat Queen dalam hati.
Queen melangkah mendekati Al dan berdiri di depannya, mematung cukup lama mengamati kakaknya yang masih fokus bekerja.
Sekitar lima menit Al baru sadar kalau Queen berdiri di situ. Ia mendongak melihat ke arah adiknya yang masih pada g ekspresi cemberut.
"Ada sayang? Masih marah sama kakak?"
Queen menggelengkan kepalanya sambil memegangi perutnya.
Al tersenyum begitu menangkap isyarat yang diberikan sang adik.
"Kemarilah!" Al menggeser kursi putarnya agak kebelakang dan menghadap ke samping meja.
Queen berjalan mendekati Al dan menuruti kemauan kakaknya yang menarik lengannya membawa dalam pangkuannya.
"Kamu pasti belum sarapan, kan?" Bisik Al di dekat telinga Quen. Sementara gadi itu sudah duduk di pangkuan kakaknya tanpa protes.
"Kamu mau makan apa?" tawar Al lagi.
"Terserah apa aja, kalau aku lapar, aku tidak akan bisa bekerja."
"Katanya ga mau kerja?" Ledek Al sambil tertawa.
Queen menoleh ke belakang memandang kakaknya.
"Terus ngapain pake maksa aku ke sini segala? Mana masih pake baju tidur lagi," kesal Queen. Lalu meluruskan tubuhnya menghadap ke depan.
Al memeluk pinggang Queen dari belakang dan mencium punggungnya, lalu berkata, "Cukup, jangan terlalu dalam menyakiti dirimu sendiri. Nanti acara jam dua siang, kan? Saat istirahat kita pergi ke sana, cukup sebagai tamu saja, soal urusan lain, kau sudah 98% telah membantunya."
Queen diam tak menjawab. Tapi, dalam hati ia membenarkan apa yang Al sampaikan.
"Toook....toook...toook!"
Quen segera beranjak dari pangkuan Al. Tapi, dengan kuat Al menahannya sambil meminta orang di luar pintu masuk.
Queen bernapas lega setelah melihat yang masuk ternyata adalah seorang cleaning servis. Dia yang semula berusaha melepas lengan Al yang melingkar di pinggangnya kijinhanya diam saja. Sambil menoleh ke belakang melihat ke wajah kakaknya.
"Kamu dah mesenin aku sarapan?" ucapnya sambil tersenyum.
"Iya, sayang. Kamu sarapan dulu gih, habis gitu kamu mandi sana, cuci muka gosok gigi," ucap Al sambik mencium kilat pipi Queen.
Dugaan Queen ternyata salah, para staf wanita yang penasaran dengan keadaan di dalam ruangan bosnya.
"Eh, eh, kamu. Apa yang kamu lihat di dalam?" Tanya Iren yang sedari awal memang sudah menaruh hati pada putra pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
"Pak Al lagi sibuk kerja di depan laptopnya, mbak. Kenapa?"
"Lalu satunya?"
"Pacar pak Al ya itu?" tanya gadis itu polos.
"Dia bukan pacar pak Al. Tapi, asisten beliau.
"Loh, bukan, ya? Tapi tadi datang digendong. Di ruangan ya dipangku terus sambil kerja. Pak Al katana sayang banget lo sama mbak Queen."
Iren terkejut sampai mulutnya menganga. ia tak percaya pria idamannya bisa berlaku sehangat itu pada wanita. pada istrinya aja nampak biasa saja. kembali ia mengamati gadis office girl itu. seditk pun ia tak nampak berbohong.
"Ya sudah mbak Iren. maaf saya harus kembali bekerja," pamitnya, santun.
__ADS_1
🌸🌸🌸
maaf jika terjadi keterlambatan up. author lagi sibuk di dunia nyata