
Sepulang dari rumah sakit, Queen sengaja tidak langsung
pulang, dia mampir ke salon kecantikan terlebih dahulu untuk melakukan
perawatan, tubuh, meni pedi, facial, lulur spa dan massage.
Sambil menunggu, ia memainkan gawainya untuk saling berbaalas
pesan chat sama Diaz, pria yang akan melamarnya beberapa jam nanti.
“Uda siap belum, kamu?” tulis Queen dalam balasan story wa
pria itu yang menunjukan sebuah foto barang-barang untuk seserahan.
“Insyaallah, kamu bukannya sudah tidak di rumah sakit, ini?”
“Ya, tapi aku mampir ke salon dulu dong, biar glowing,”
tulis Queen, tak lupa ia juga menyisipkan emot tertawa.
Diaz hanya membalas dengan stiker love dan bunga mawar
berwarna merah, dan saat itu pula chat di antara mereka juga telah berakhir,
dan Quuen juga sudah selesai melakukan perawatan.
Setibanya dirumah, Queen dibuat surprise dengan kedatangan
tente Lusi,om Reza, bahkan juga Tante Eren dan Om Hans yang berada di luar
negeri, mereka juga pulang. Helooo ramai sekali, semua teman dan sahabat mamanya
ikut berkumpul, but wait, di mana kak Al? Acara dimuali jam tujuh malam, dan
pukul enam tiga puluh harusnya keluarga Diaz juga sudah tiba, bukan? Harusnya
dia sudah ada di rumah, rumah ini sangatlah luas, pasti dia tidak ada di sini,
tapi di tempat lain. Pikir Queen.
Wanita itu menapaki anak tangga berjalan menuju ke lantai
atas menuju ke dalam kamarnya yang kosong tak berpenghuni.
Diletakkannya barang-barangnya lalu merebah setelah ia melihat
jam baru menujjukan pukul empat sore, artinya dalam dua jam saja dia harus
sudah siap dan berdandan.
Queen meraih ponselnya, menscrol nomer dan menghubungi
kakakknya, nomor itu sudah aktif. Tapi, Al tidak menjawabnya, entah di mana ia
sekarang juga tidak ada satu pun yang tahu, sebab, tadi ia juga sempat mencari
ke tempat Mrtin juga Al tidak ada.
“Huuuuh, kemana sih kamu kak sebenarnya? Uda dua hari tidak
pulang, dihubungi juga tidak bisa. Queen pun akhirnya memutuskan untuk turun
menanyakan pada kakeknya, barang kali saja dia tahu keberadaan Al.
“Hay, Queen, kenapa tidak cepetan berganti pakaian, pini
sudah jam lima lebih, loh!” seru tante Lusi.
“Tante, lihat kak Al, tidak, Tan?”
Wanita itu melihat sekitar ruangan sampai sudut-sudutnya,
kemudian kembali pandangannya mengarah pada wanita yang berdiri di hadapannya, ia mengelengkan kepada
dan berkata, “Sejak tante tiba di sini tante sama sekali belum bertemu
dengannya.”
Mendengar jawaban itu, Queen pun mulai panik dan berfikir,
apakah acara tunangannya bisa berjalan lancar tanpa ada kakaknya? Kemana dia
dari kemarin nomornya tidak aktif, baru ktif juga tidak diangkat. Queen kian
panik dan berfikir yang macem-macem saja.
Ia pun beranjak mncari sang kakek yang ada di halaman belakang
bersama Hanifah, Sepertinya pria tua itu tengah membujuk saudarinya supaya
berhenti menangis. Tapi, menangisi apa dia? Pikir Queen.
“Kakek sayangnya setingan sama aku, kan? Ngapain coba minta
aku ikut datang dalam acara seperti ini? Mana sanggup aku, kek?” protes Hanifah
sambil sesenggukan.
“Sudahlah, kau merasa yakin tidak dengan takdirmu? Kakek
melihat ada kecocoan antara kau dan Diaz, bahkan sosok yang dia butuhkan
sebenarnya adalah dirimu bukan Queen. Sudahlah, tenang kau tidak bisa
terus-terusan begini, apakah kau piker mama dan papamu akan senang jika
mengetahui hal ini?” ucap kakek Andreas.
Hanifah hanya mengangguk berkali-kali sambil menusap air
matanya.
“Kakek!”
Mendengar suara Queen memanggilnya, dengan segera Andrean
pun mengganti topik pembicaraannya. Beruntung sekali Hanifah bisa lansung cepat
menyadari maksut sang kakek.
“Sudah, Hanifah. Menangis tidak akan memberikan solusi.
Sekarang cepat kamu temui papa kamu, minta maaf padanya dan berjanjilah akan mengurangi
bersosmed an,” ujar Andrean, begitu Queen sudah berada tidak jauh dengannya.
“Iya, Kek, mungkin memang maksut papa benar, hanya saja aku
yang sulit dibilangin. Aku akan kesana dan meminta maaf.” Hanifah pun pergi,
melewati Queen lalu menunduk setelah bebrapa detik keduanya saling tatap.
“Hanifah kenapa, Kek?” tanya Queen saat ia sudah berdiri di
sebelah kakek Andrean.
“Tidak apa-apa dia itu sebenarnya sangat cengeng,” jawab
Andrean berlagak tidak mau menceritakan, padahal maksudnya hanya ingin mengetes Queen apakah dia juga mendengar
saat dia dan Hanifah membahas Diaz?
“Maaf, Kkek. Tanpa sengaja aku tadi mendengar pembicaraan
kalian, om Hans marah sama dia, ya?”
Andrean tersenyum bukana karena melihat Queen yang nampak
simpatik dengan saudarinya. Melainkan cara pengalihan topiknya tadi berhasil.
“Ya, begitu lah. Dia memang sedikit bandel, tapi bisa akan
__ADS_1
menjadi sangat penurut apabila menasehatinya dengan kelembutan. Ada apa kamu
kemari? Kenapa tidak segera bersiap?”
“Kakek tahu di mana kak Al?”
Seketika itu juga, raut wajah pria tua itu pun berubah panik.
Sepertinya sudah lama dia memikirkan keberadaan cucu laki-lakinya itu. Hanya
saja mungkin sempat teralih ketika Hanifah datang untuk mengadu kepadanya.
“Apakah kau tidak berusaha menghubungi?” tanya kakek Andreas
dengan sorot mata yang tak bisa diungkapkan.
“Dari kemarin nomornya tidak aktif, Kek. Baru saja aktif
tadi tiga kali aku menelfonnya tapi
tidak diangkat sama kakak.”
“Mungkin dia masih ada urusan, ya sudah, jangan kau pikirkan
itu dulu. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah bersiap, agar kau ditemani
Hanifah nanti. Kakek akan mencoba mencari informasi tentang kakakmu.
Andrean pun nampak panik, tidak hanya pada Juna Vico dan
Martin saja dia menanyai keberadaan cucunya itu. Tapi juga hampir seluruh anak
buahnya yang menjadi ketua di setiap daerah dan lokasi pun semua tidak ada yang
tahu keberadaan Al.
Andrean mulai putus asa, sampai pukul enam lewat Al juga belum datang. Sementara, pihak keluarga dari Diaz semua sudah tiba
dan berkumpul, menikmati hidangan pembuka. Queen dan Hanifah berada di lantai
atas, sekilas tadi dia melihat kalau keduanya sudah sama-sama mengenakan baju
kebaya dengan warna yang hampir sama, namun modelnya berbeda.
🍀🍀🍀🍀
Di sebuah ruangan yang tenang dengan cahaya remang-remang,
seorang pria duduk dbersandar di sebuah sofa sambil menghisab rokok yang ada di
tangannya. Sementara di atas meja dan lantai, berserakan banyak sekali puntung
rokok yang masih Panjang dan beberapa buah botol minuman keras yang sudah
kosong, di tangan kirinya ia juga memegang satu botol minuman dengan merk the
Winston cocktail, salah satu miras paling mahal di dunia. Entah, apa yang ada
di kepala pria itu, membuang uang ratusan juta hanya untuk satu botol minuman
keras. Apakah dia pikir dengan begitu dia bisa puas dan lepas dari beban?
Haaaah, kurasa tidak, dari cara ia merokok saja sudah
terlihat kalau ia sedang tidak dalam keadaan yang baik, baru menghisab beberapa
kali rokok yang telah dianyalakannya, ia sudah mematikan, lalu ia kembali
menyalakannya lagi dan begitu seterusnya, artinya dia tidak bisa berfikir
yang kacau. Dia sedang gundah dan tak tenang, ada beban berat yang hampir ia
tak mampu memikulnya sendiri, namun sebenarnya penyelesaian pun juga ada di
tangannya sendiri.
Di sebelah kiri tubuhnya, sebuah benda pipih berkali-kali
menghubunginya. Tapi, sejak pagi ia memilih untuk mengabaikannya, jangan untuk
mengankat panggilan itu, untuk beranjak mengambil sesuatu yang tak terjangkau
oleh tangannya saja dia malas, dia masih asik menikmati sakit yang tak
mengeluarkan setetes darahpun.
“Queen…. Queen… Aku heran, kenapa orangtuamu menamimu itu?
Apakah kau seorang ratu, kurasa bukan, kau tidak mandiri dan manja, tidak sama
dengan mamamu. Dialah ratu yang sebenarnya. Tapi, sejak dia tak lagi ada di
sampingmu kini kau sudah berubah menjelma seperti dia, kau bahkan berhasil
menjadi ratu di hatiku. Lalu, kenapa kau harus menjalim hubungan dengan pria
lain? Pria yang lemah, bahkan untuk melindungimu saja dia tidak pecus,” racau
Al seorang diri, sambil menegak minuman yang ada di tangan kirinya itu.
Tak ada sepatah kata
lagi yang keluar dari bibir sexy pria itu, ia melanjutkan lagi menghisab rokok dan
meminum minuman keras terakhir di tangannya. Merasa belum puas dan semua
mirasnya sudah habis, Al pun melempar botol itu keras dan jauh dari tempatnya.
Seketika…
“Pyar!” Botol itu pun pecah, tak hanya menimbulkan suara
berisik namun juga pacahan botol kaca yang menyerupai kristal tajam itu pun berserakan
di atas lantai menyebar ke seluruh ruangan.
Al memandang ke sana, lalu tertawa miring. Tanpa terasa, ia
sudah dua hari mengurung diri di tempat itu bertemankan rokok dan juga miras,
yang kini telah habis.
Al berusaha berdiri meski badannya terasa berat, ia berjalan
menuju westafel untuk membasi wajahnya dengan air tanpa sabun, karena memang
tidak tersedia di situ, hanya ada dia saja dan hampir semua orang tidak tahu
kalau Vila pribadi itu adalah miliknya, ia sengaja membelinya hanya untuk
keperluan pribadinya, tepatnya tempat untuk menenangkan diri saat ia
merasa kacau.
Al mengamati wajahnya di depan cermin, betapa menyedihkannya
dia saat ini, kucel, kusam, tak terawat dan berminyak. Lamunanannya buyar saat
ia mendengar suara deringan ponselnya untuk yang kesekian kali, ia bisa menebak,
pasti itu-itu saja yang menghubunginya, kalau tidak, kakek ya dua teman yang hobi
membulinya.
Tanpa mengelap wajah, Al berjalan dengan langkah lesu menuju
ke arah sofa, diraihnya benda pipih itu dan melihat ada beberapa ratus panggilan
tak terjawab dan seribu lebih pesan chat masuk. Al menyeringai, bakan satu
di antara mereka ada juga nama Martin.
__ADS_1
Ada salah satu pesan Martin yang berhasil membuat perhatian
Al tertuju padanya yaitu, “Al, kau ada di mana? Adikmu barusan ke café menanyakan
dirimu, dia terlihat sangat mengkhawatirkan dirimu, keluarlah dari sarangmu!”
Dalam hati Al menumpat saat membaca terakhir pada kalimat
pesan yang ditulis oleh Martin. Awalnya ia mengabaikan, tidak percaya kalau
Queen mencarinya. Akhirnya ia pun mengecek log panggilan. Ternyata benar, Queen
telah menghubunginya sekitar satu jam yang lalu sebanyak tiga kali.
“Apakah kau masih butuh aku, Queen? Kau sepertinya sudah
akan bahagia dengan Diaz, kalian akan segera tunangan bukan? Apa kau mencariku
hanya agar aku melihatmu dengan dia? Apa kurang puas kau selama ini menyakitiku?
Aku hancur seperti ini juga karena kamu, aku selalu ada untuk kamu, tapi kamu
lebih memprioritaskan pria banci seperti Diaz. Aku benci kamu!” umpat Al
seorang diri.
Ponsel masih ada dalam genggamannya itu kembali berdering
saat ia hendak melemparkannya. Beruntung yang menghubunginya adalah Martin,
jika itu Vico, pasti ia sudah meleparkan benda pipih itu.
“Ada apa?” jawab Al dengan nada datar, ia lebih menghargai Martin,
karena pria itu tidak pernah ikut campur dalam masalah pribadinya, apalagi
membuli, sama sekali tidak. Pertemanan mereka sangat akrab dan sudah terjalin
lama, namun hubungannnya dengan Martin masih saja terkesan formal. Bukan berarti
ia tidak menghargai Vico dan Juna. Jika pun Al harus memilihi antara Martin dan
salah satu dua orang yang suka membulinya itu ya tetap saja, jawabannya salah
satu dari Juna dan Vico.
“Kamu ada di mana? Keluarlah, adikmu mencarimu. Tadi kesini
dia.”
“Biarkan saja, dia kan tunangan, tak butuh aku lagi untuk
menjaganya.”
“Al, dalam acara sesakral ini kenapa kau malah tidak
menujukan keberadaanmu di sana? Pulanglah, bagaimanapun kau adalah keluarganya.
Papa dan mama kalian tidak bisa datang, masa kamu juga tidak akan muncul di
sana? Pikirkan perasaan Queen jika memang kau sayang sama dia.”
Al diam tidak menjawab, selama ini ia sudah merasa banyak
sekali memikirkan adiknya. Tapi, sekalipun adiknya tidak pernah memikirkan perasaanya.
“Menurutmu, aku harus bagaimana?”
“Pulanglah sebagai kakak yang baik dan pedili dengan adiknya.”
“Baiklah!” Al pun mematikan panggilannya dan meletakkan
ponsel tersebut di atas meja, lalu kembali merebahkan tubuhnya dan meluruskan kedua
kakinya.
“Aku tak tahu kenapa gak mau lihat Queen dengan yang lain,
enak sekali mereka memintaku untuk pulang, Bahkan mereka saja tidak tahu
bagaimana perasaanku,” umpat Al seorang diri.
Namun, tiba-tiba saja ia berubah pikiran, ia meraih ponsel
dan kunci mobilnya lalu bergegas keluar,
ia harus pulang. Benar yang dikatakan teman-temannya, berdiam diri dan
bersembunyi tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
🍀🍀🍀
Queen kian panik dan cemas saat kakaknya belum juga tiba,
padahal ini sudah pukul delapan belas lewat. Dan acara juga akan dimulai pukul delapan
belas lewat tigapuluh menit.
Tidak hanya Queen Andrean pun juga nampak panik dan berususaha
tenang. Queen meremas ujung kebayanya untuk menetraalisir kecemasannya.
“Pak Andrean, di mana kakaknya Queen? Kok tidak terlihat?”
tanya pamannya Diaz.
“Oh, sebentar lagi dia juga akan tiba, dia memang seperti
itu, jika sudah sibuk dengan tugas, ia melupakan banyak Hal,” jawab kakek
Andrea, berusaha menutupi kepanikan dan ketidak tahuannya di mana Al
sesungguhnya berada.
Tepat pukul setengah tujuh malam. Al benar-benar tiba di
rumah itu, Queen seketika berdiri dan
melempar senyuman saat melihat sang kakak akhirnya datang juga. Tapi tunggu, ada yang
salah dengan penampilan Al. Pria itu nampak berantakan, rambut, muka
kucel dan berminyak, bakan beberapa tetes keringatnya juga mengalir dari kedua
pilipisnya. Belum lagi kemeja warna maroon yang dipakainya pun juga nampak
lusuh, dua kancing teratasnya sudah terlepas, sehingga sebagian dada bidang
pria itu terexpose, lengannya juga dilipat asal sampai sebatas siku, dan bagian
bawah, hanya bagian sebelah kemeja saja yang masuk dalam celanya, selebihnya
sudah sangat berantakan.
‘Al, kenapa kau sangat berantakan begini dalam acara
addikmu?’ runtuk kakek Andrean dalam hati, saat menyadari penampilan cucunya
seperti apa, mana banyak orang lagi, dan semua mata juga tertuju padanya.
Beruntung sekali dia masih tertolong dengan wajah tampannya. Jika tampangnya ngepres,
pasti sudah dikira gembel masuk.
Ada yang tahu, selanjutnya Al mau ngapain? Dia mengamuk, cuek
dan pergi memilih tidur, atau memberi selamat pada adiknya meskipun sakit, dan
menjalankana apa yang sudah ditugaskan sang kakek agar acara tersebut tetap
berjalan lancar meskipun sedikit terlambat.
__ADS_1