
Aditya berjalan mondar-mandir tidak bisa tenang. Pikirannya spertinya sudah kacau. Ia melirik jam dinding yang tergntung antara ruang tengah dan dapur. 'Baru pukul tujuh, ya?,' batinnya.
Tak lama kemudian ia pun menyambar kunci mobil lalu keluar rumah tanpa pamitan pada Livia.
"Dit, kau kemana?" teriak wanita itu. Tapi, Aditya mengabaikannya. Mungkin ia tidak dengar.
Dalam keadaan kacau, pria itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai depan rumah besar berpagar besi berwarna putih dan kuning emas ia menghentikan mobilnya.
Ia memperhatikan lanatai atas rumah itu, terihat bayangan wanita berdiri di atas balkon. Aditya tersenyum tipis, diraihnya gawai dari saku celananya dan menghubungi salah satu nomor yang tersimpan dalam benda pipih itu.
"Hay, apakah kau sibuk saat ini?"
"....."
"Aku melihatmu di balkon. Ngapain? Apakah kau merindukanku?"
"...."
"Aku ada di luar pagar. Keluarlah sebentar, aku kangen sama kamu."
Aditya pun mematikan panggilannya. Dan tak lama kemudian pagar terbuka. Quen keluat mengenakan kaus berwarna kuning dan hot pant hitam menghampiri mobil Aditya.
"Kenapa tidak masuk?" sapa gadis itu membungkuk mengintip darinkaca mobil yang terbuka setengahnya.
Tanpa menjawab Aditya pun keluar. Ia langsung memeluk erat tubuh Quen tanpa berkata-kata.
"Dit, kau baik-baik saja, kan?"
"Ya, aku cuma sangat merindukanmu. Aku takut kehilanganmu, Quen."
"Hay, kau ini kenapa? Bukannya minggu depan kita akan menikah?"
Aditya enggan melepaskan pelukannya meskipun Quen berusaha keras mendorong tubuh pria itu.
"Dit, ini tempat umum, jangan begitu, ok," ucap Quen.
Aditya melepaskan pelukannya tapi matanya masih lekat memandang wajah Quen. Sedangkan Quen merasa salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh Aditya.
"Kau ini kenapa?" tanya Quen salah tingkah sambil tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa, ya sudah. Aku pulang dulu, daaa." Dengan berat hati Aditya kembali masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin melajukan sampai hilang dari pandangan Quen.
Gadis itu pun kembali masuk ke dalam rumah. Ikut berkumpul dengan papa mamanya di ruang tengah.
Vano melihat putrinya yang baru saja dari luar, memperhatikan gelagat tak wajar, jelas, ia paham ada hal yanh pasti Quen sembunyikan.
"Dari mana Quen?" tanyanya.
"Dari luar, Pa. Cari angin," jawab gadis itu sedikit gagu. Ia pun memilih duduk di samping ayahnya menghindari pertanyaan yang lebih mendetil lagi.
Vano melihat putrinya yang duduk di sampingnya. Ia tersenyum tertahan lalu mencubit hidung mancung Quen sambil berkata, "Lain kali kalau ada tamu ajak masuk, jangan bicara di luar. Ok?"
Quen nampak kaget dengan apa yang baru saja Vano katakan.
'Bagaimana papa bisa tahu kalau Aditya datang?' gumam gadis itu dalam hati.
__ADS_1
"Cuma urusan sebentar, kok Pa. Tadi aku suruh masuk dia menolak," jawan Quen.
Padahal Vano bicaranya pelan agar Clara tidak mendengar, karena Quen menjawabnya keras, membuat Clara bertanya.
"Siapa yang datang?" tanya Clara.
"Aditya, Ma. Barusan ada perlu," jawab Quen.
"Oh, Aditya ya tadi, kirain siapa," timpal Vano sambil tertawa.
Seketika itu juga muka Quen berubah merah karena ia sadar kalau dari awal sebenarnya papanya tidak tahu kalau Aditya lah yang dia temui. Merasa tidak enak, ia pun akhirnya berlari ke kamar.
Clara nampak bingung dengan tingkah anak perempuan dan suaminya, ia hanya bengong melihat Quen pergi lalu Vano yang masih terkikik geli.
"Ada apa sih, Van?"
"Kau tidak tahu? Hahahaha."
"Kalau aku tau, ngapain aku tanya?" ucap Clara sambil mencubit perut Vano.
"Tidak ada apa-apa, barusan Quen keluar, aku kira siapa, awalnya ngira Gea yang datang tapi lihat dia aneh banget malah keceplosan Aditya."
"Aditya? Kenapa tidak masuk malah cuma bertemu di depan saja?"
"Lah, mana ku tahu? Makanya tadi aku tanya, kenapa tamunya tidak di suruh masuk dianya diam saja, katanya gapapa."
"Anak muda jaman sekarang, biarkan saja, selagi masih dalam batas, lagi pula dua minggu lagi mereka juga sudah menikah kan Van?"
"Oh, iya. Al sudah di kabari belum, Sayang?"
"Sudah, kemarin setelah Quen dilamar Aditya, ternyata sudah menelfon kakaknya terlebih dulu."
"Kita juga akrab, kan?" goda Clara sambil tersenyum jahil.
Vano tidak tahan melihat Clara seperti itu, ia pun bangkit memeluk istrinya yang duduk di sebelahnya mencium dengan keras hingga membuat Clara sedikit berteriak.
"Van, kau gila. Lepaskan aku!" Serunya sambil meronta-ronta.
"Kau yang menggodaku, kan sayang?"
"Hay, aku cuma tanya, apakah kita tidak akrab?"
"Kau tahu jelas jawabannya, jika tidak, Quen tidak akan ada."
"Clara, Vano! Apa yang kalian lakukan? Tidak sopan sekali!" teriak Vivian yang melihat perbuatan kedua anaknya.
"Tuh, kan?" ucap Clara lirih.
Sedangkan Vano tersenyum-senyum sendiri menutupi malu.
"Anu, Ma. Maaf." Keduanya pun berlari menuju kamarnya.
Vivian hanya mengelengkan kepalabya melihat tingkah anak-anak yang masih saja konyol seperti pasangan muda, padahal, mereka sudah bisa di sebut kakek dan nenek oleh Bilqis. Sekalipun cucu tiri dari putra angkat. Tapi, Quen juga akan menikah, kan?
🌸 🌸 🌸
__ADS_1
Hari ini sengaja Quen ke kampus membawa mobil sendiri lantaran usai kelas dia akan langsung menuju Bandara Soekarno Hatta untuk menjemput kakak beserta anak istrinya dari Jepang.
Walau bukan pertama kali Al pulang pergi, tapi, ini kali pertamanya Quen menjemput kakakknya karena dari dulu ia tidak pernah tahu kapan kakakknya akan pulang, tahu-tahu sudah tiba di rumah saja.
Suasana panas dan macet memang sudah jadi hal wajar di ibu kota.
Suara klakson bersahut-sahutan terasa memekakan telinga membuat Quen semakin jengah dengan suasana jalan yang padat merayap.
"Sekalipun di clakson sampai jebol, kalau belum waktunya jalan ya tetap aja, kurang kerjaan. Bikin bising aja." umpat Quen seorang diri.
Perlahan-lahan mobil yang dikendarai Quen mulai maju dan melesat hingga kurang lebih duapuluh menitan ia bebas dari macet. Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tiga belas siang. Artinya, masih kurang lima menit lagi. Sedangkan Al bersama Nayla dan Bilqis akan landas jam tigabelas tepat. Quen tersenyum seorang diri.
"Biarkan saja dia menunggu, tidak tau apa bagaimana jalanan jakarta?" gumam Quen lagi sambil terkikik.
Lima menit kemudian Quen sudah berada di parkiran Bandara, yang ia lakukan pertama adalah mengambil gawainya dan menelfon nomor Al.
cukup lama Al menjawab panggilannya.
"Halo, Quen. kau sudah sampai di Bandara, Sayang?" jawab suara itu.
"Iya, Kakak di mana? aku ada di parkiran ini, perlu aku keluar dan menunggumu di..." kalimat Quen menggantung ketika ia melihat seorang pria melambaikan tangannya.
Dengan segera Quen keluar dari mobil berlari menghampiri pria itu dan memeluknya. "Kakak, apa kabar kalian?" tanya Quen begitu melepaskan pelukannya.
"Kami baik, gimana kabar kamu? dah mau nikah aja ya, tau-tau." Goda Nayla.
"Ya, Dooong...!" Seru Quen lalu bergantian memeluk kakak iparnya dan saling cium pipo kiri dan kanan.
"Wah, Bilqis sudah gede ya, ternyata. hay Sayang, dulu saat kau pergi ke Jepang masih berusia satu setengah tahun, jalan belum benar dan gampang jatuh, aekarang dah gede aja," sapa Quen pada keponakannya.
Bilqis tidaj ada respon. ia malah bersembunyi di belakang Al, takut dengan Quen. wajar, anak sekecil itu, pasti belum ingat dengan Quen. terlebih mereka tinggal bersama hanya dua mingguan.
melihat ekspresi Bilqis yang menggemaskan Quen tidak tahan meraih dan menggendong paksa balita berusia empat setengah tahun itu.
"Hay, cantik. tidakkah kau ingat aku? Dulu, saat papa dan mamamu menikah, kau mengompoliku. aku ini tantemu. Adik dari Papa, jangan takut sama tante lagi, Ok?" ucap Quen lalu berlari membawa Bilqis ke dalam mobil dan mendudukannya di samping kemudi.
"Quen, jika kamu capek, biar kakak saja yang nyetir," ucap Al menawarkan diri.
"Tidak usah! cukup kalian pijitin aku saja nanti kalau sudah sampai rumah, beres kan?" ucap Quen sambil mengedipkan matanya kepada Al dan Nayla.
Nayla tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan. "Astaga, Mas. Adikmu lucu sekali, ya?" ucap Nayla lirih.
Al hanya tersenyum saja sambil berujar, "Iya tuan Putri."
"Hay, kalian sudah tiga tahunan menikah, kenapa tidak punya anak lagi? apakah Bilqis tidak menginginkan adik?"
Seketika suasana mobil yang sedari tadi terasa hangat dan penuh canda menjadi hening.
Nayla saling tatap dengan Al, lalu diam.
"Sudahlah, tuan putri, ayo kita pulang aku sudah kangen dengan suasana rumah. bagaimana keadaan mama, Quen?" tanya Al berusaha mencairkan suasana.
"Semua baik-baik saja. Mama dan papa yang jelas makin tua, dah mau punya cucu dua," jawab Quen sambil mengemudikan mobil.
"Kau sudah punya cita-cita segera punya anak?" timpal Al dari belakang.
__ADS_1
"Aditya punya anak usianya delapan tahunan. laki-laki." Nata Quen terus fokus ke depan.
Nayla mengerutkan alisnya. Dalam hati ia merasa heran, kenapa Al dan adiknya kok menikah dengan single parrent, ya? mereka sama-sama menarik, kaya cerdas dan kaya. Apakah ada masalah dengen selera kakak beradik ini.