Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 96


__ADS_3

Quen membuka dua pintu lemari lebar-lebar. Sesaat ia memandangi isi pakaian di dalamnya. Lama kemudian ia tertuju pada dress hijau zambrut dengan bahan perpaduan satin dan brukat.


Di raihnya dress itu dan ditempelkannya ke tubuhnya. Ia berdiri di atas cermin mencoba melihat pantas atau tidaknya.


Dengan seksama dia memandang pantulan dirinya. "Bagus juga," ucapnua seorang diri.


"Kriit!"


Quen menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya rerbuka. Awalnya ia berfikir kalau dia adalah Alex, tapi, dia salah. Yang datang bukan Alex, melainkan Nayla.


"Kak, Nay. Ada apa?" sapa Quen.


Wanita itu pun masuk dan kembali menutup pintu kamar dengan baik, ia duduk di tepi ranjang tak jauh dari tempat Quen berdiri.


"Kau dulu pernah bilang mas Al pernah ada hubungan dengan wanita sebelum kak Nay tuh maksutnya Lyli, Quen?" tanya Nayla.


"Iya, aku kira kakak sudah tahu lama soal ini, jadi. Belum ya?" tanya Quen sambil terus mengambil gaun selanjutnya dengan model dan warna yang berbeda tentunya.


Nayla diam, antara mau mengakui kesalahannya dan tidak kepada Quen. Tapi, jika saja dia jujur kepada adik iparnya apakah tidak jadi masalah? Andai membahas perasaan jelas saja dia punya Alex.


"Memang kenapa hubungan mas Al dan Lyli bisa batal gitu saja, Quen? Katanya Al memutuskan sebelah pihak, benar?"


Quen pun menghentikan aktifitasnya. Ia memandang ke arah Nayla tersenyum lalu menghampirinya, duduk di depannya.


"Bengini, Kak. Kak Al mulanya gak ada perasaan terhadap Lyli dan siapapun. Aku kawatir kalau dia gay habis, selain dengan kak Vico dan rekan kerja lain, dia gak pernah kelihatan dekat. Aku jomblangin sama Lyli. Melihat keluarga kita dah dekat dan baik dengannya. Ia pun ingin segera menikah untuk menyenangkan kami, dan juga mungkin tak tahan dengan ejekanku bujang tua." certia Quen panjang lebar.


"Terus gak jadinya Ibunya Lyli ngira mas Al akkaknya gitu, ya?" tanya Nayla lagi.


"Nah, iya. Itu sampai melibatkan umi Fatiya dan Zahara juga tahu itu. Awalnya kan Lyli kekeh kalu Al kakaknya dia nantang ajak brantem Ku segala. Sebelum kebenaran terungkap kak Al ya anggap dia adik juga, cuma dia tetap lebih sayang ma aku, Lyli suruh ngalah. Merasa tidak puas dengan satu pengakuan karna tanda lahi, diam-diam kak Al melakukan penyelidikan siapa bapak biologisnya dia wajah-wajah indonesia tulen ga tinggi, sementara kak Al ada, bule-bulenya, kan? Akhirnya melakukan DNA. Setelah positif ketemu hasil dan ditemukannya kak Akbar, kakak kandung Lyli sebenarnya semua jelas. Baik, kan papa dan mama gak mecat Lyli dulu itu? Tapi, dia malah gak tau diri adu domba kalian."


Setelah Nayla pergi, Quen diam sejenak, bagaimana Lyli segila itu? Apakah Al terlalu ganteng sampai tak ada pria lain yang bisa dia cintai.


"Hah, sudahlah!" Gadis itu mendesah kesal dan keluar kamar dengan dua pilihan gaun berwarna disty pink dan hijau zambrut.


Ia menghampiri Alex yang tengah berbincang dengan Al dan langsung mengajaknya untuk segera kembali.


Sesampai di rumah pun, Quen juga langsung menyiapkan pakaian dan peralatan yang perlu dia bawa bekerja besok, lalu segera beristirahat.


"Gak mau nonton dulu? Ada film bagus, loh. Lagi pula juga baru setengah sepuluh ini, Quen," ucap Alex yang sedari tadi memandang ke arah monitor laptopnya.


"Besok aku hari pertama aku menjadi koas, Alex. Aku gak mau terlambat. Malu sama tante Lusi."


"Ok baiklah. Semoga harimu menyenangkan dan berjalan sesuai keinginan ya!" Alex pun menutup laptopnya dan hendak menyusul istrinya tidur di samping sambil memeluknya.


       🍁 🍁 🍁 🍁


Deg-degan, kurang percaya diri (pd) dan merasa semua mata memperhatikan membuat ia menjadi sedikit kikuk di hari pertama praktik. Terlebih, banyak ia mendengar tentang curhatan para senior tentang deritanya menjadi koas atau cikal bakal dokter yang kini sudah lebih berpengalaman dan bahkan sudah memiliki gelar dr itu sendiri.


Quen menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dari mulut perlahan. Aku harus bisa. Pasang wajah cerah, tersenyum dan sapa semua yang ada.


Begitu tiba di ruangan di mana para koas dan dokter pembimbing berkumpul, gadis itu nampak mulai lega. Tapi, tetap saja masih agak takut dan ragu jika harus turun tangan melayani pasien.

__ADS_1


"Selamat pagi, Quen." sapa Gea teman seangkatan dan juga sekelasnya itu.


"Hay, kau lebih awal dariku?" balas Quen sambil tersenyum manis.


"Ya donk! Aku sih ga seribet kamu yang punya laki," jawab Gea sambil tertawa.


Sementara Quen hanya tersipu malu mendengar candaannya.


Sekitar duapuluh menit. Dr. Lusi sudah tiba, ia memanggil beberapa koas dan memberinya tugas ubtuk mengecek para pasien rawat inap di beberapa kamar yang sudah di tentukan. Termasuk juga Quen.


"Quen, kau hari ini kasih suntikan pada infus dan memeriksa perkembangan pasien kelas tiga di kamar Angreek satu sampai lima. Masing-masing kamar ada empat sampai tujuh pasien. Buat laporan dan serahkan padaku setelehnya. Ok. Silahkan selamat melakukan tugas semoga hasilnya tidak mengecewakan."


Quen mengangguk patuh dan hanya menjawab dengan jawaban singkat. "Paham."


Ia tidak menunjukan kedekatannya sama sekali dengan dokter Lusi.


* * *


Hari pertama praktik hampir tidak ada kendala. Hanya terjadi sedikit drama ketika Quen akan mengimpus seorang anak berusia sembilan tahunnan. Anaknya besar dan gemuk, jadi, dia sangat kuat. Quen sampai kesakitan saat terkena tenadangan anak itu tepat di perut.


"Aduh!" Seketika itu juga Quen berjongkok memegangi pertutnya, beruntung ada teman sesama koas dari universitas lain yang tanggap.


Diaz, nama pria itu. langsung meminta gea mengajak Quen beristirahat. Sementata anak itu Diaz lah yang menanganinya.


Usai tugasnya terselesaikan, buru-buru Diaz menyusul Gea dan Quen. Pria itu masuk begitu saja wajah paniknya berangsur-angsur terlihat cerah saat mendapati Quen baik-baik saja.


"Quen, apakah kau baik-baik, saja?" tanya pria itu sedikit panik.


"Iya, aku gapapa. Makasih ya uda bantu aku," ucap Quen dengan tulus.


"Sudah waktunta makan siang, ke kantin, yuk!" ajak Diaz.


Quen pun tidak menolak, ia langsung begitu saja turun dari blangkar dan berjalan sejajar dengan Diaz dan juga gea.


"Kalian mau makan apa?" tawar Diaz pada dua gadis cantik yang tengah bersamanya.


"Aku mau mie kuah pake telur dan sawi, deh!" Seru Gea.


Sementar quen nampak melihati menu yang berjajar di mangkuk kaca besar sambil mengelus-elus perutnya.


"Kau mau makan apa, Quen?" tanya Diaz, pelan.


"Aku mau nasi putih, sayur bayam dan tempe goreng saja deh. Pengen banget makan itu," ucapnya.


Diaz nampak ragu-ragu dengen selera Quen. Melihat dari penampilan dan cara bicaranya seperti anak dari keluarga kelas atas. Tapi, mengapa menunya seperti anak kelas menengah ke bawah?


"Tidak mau nambah ayam atau mungkin daging?" tawa Diaz, sekali lagi memastikan.


"Gak, mau. Pokoknya aku mau makan itu saja."


"Kalian, aku yang traktir deh, jangans sungkan-sungkan," ucap Diaz. Padahal duit di dalam dompetnya hanya tersisa tiga ratus ribuan. Sementara dia, duit dapat dari kerja sampingan di sebuah cafe. Sedangkan ia bisa masuk fakultas kedokteran juga karena ia dapat beasiswa dari berkat hafal tigapuluh juz.

__ADS_1


"Aku mual dengab ayam daging dan sejenisnya. Cuma mau itu saja," jawab Quen.


Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum lembut. Akhirnya ia pun memilih menu serupa dengan Quen.


Sebelum pelayan kantin datang membawakan pesanan mereka bertiga, nada dering panggilan terdengar dari dalam tas yang di bawa Quen.


Dengan antusias Quen mengambil benda pipih itu dari dalam sentuhnya. Ternyata sebuah panggipan Video yang menanti untuk di angkat.


Gea yang kebetulan duduk tepat di sebelah Quen wajahnya tampak semringah melihat nama kontak yang tertera di layar sentuh sahabatnya itu.


"Wah, kak Al yang VC, Quen. Angkat donk cepet!" Serunya girang.


Sementara Diaz nampak diam memperhatikan. Menebak-nebak siapa dan apa hubungan antara pria yang disebut Gea kak Al barusan dengan Quen.


"Hallo, sayang. Bagaimana harimu pertama praktik menjadi dokter?" Sapa pria itu.


Quen hanya diam memasang mimik datar. Sementara Diaz, ia pura-pura tidak mendengar. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, melihat ke sana tak ada satu pun pesan yang masuk. Lalu, ia membuka aplikasi terkutuk yang penuh dengan kepalsuan itu lumayan. Agak banyak notif dan komen-komen di sana.


"Yah, kamu sih yang telfon, kirain Al satunya," ucap Quen dengan nada dibuat kecewa. Tapi, dia tertawa.


Al nampak tersenyum sambil membenarkan kacamata baca yang membingkai wajahnya. Sehingga tampilan pria itu makin terlihat cute.


Gea buru-buru meraih ponsel Quen dan langsung saja menyapa si penelfon.


"Hay, kak Al. Apa kabar?"


"Gea, kamu satu tempat praktik sama Quen?"


"Iya, nih kak. Kita bertiga ada di kantin, rumah sakit. Kakak sudah makan siang?"


"Masih mau, lihat keadaan Quen dulu bagaimana ya sudah kalau baik-baik saja. Aku titip dia, ya?" jawab Alex.


"Ok, beres, kak. Adikmu aman bersama kita. Iya, kan Diaz?" ucap Gea sambil mengarahkan ponsel ke arah pria di sebelahnya agar Al bisa melihat dengan siapa saja Quen malam siang.


Diaz nampak menoleh dan melihat wajah di dalam ponsel itu. Dia mendengar semua obrolan Gea. Tapi, ia sedikit ragu saat Gea berkata adikmu. Jadi, ketika panggilan gerputus, Diaz pun bertanya kepada Quen untuk memastikan.


"Siapa, barusan, Quen?"


"Kak, Al. Dia kakakku. Nanti dia yang akan jemput aku, aku kenalkan kau dengannya."


"Dari cara memanggilmu, dia kelihatannya sayang banget sama kamu, ya?"


"O, tentu, dia kakakku satu-satunya. Dan aku adik satu-satunya yang dia miliki juga." jawab gadis itu ceria sambil melahap makanan yang dia pesan tadi.


Selama makan siang Diaz sibuk melihat ke arah Quen. Di matanya, Quen sedikit manja, kekanakan. Namun, juga memiliki rasa tanggung jawab. Ia bisa menempakan ditinya di segala posisi. Kapan dia harus serius, mandiri dan berfikir dewasa.


Sungguh sosok istri yang sempurna, gumam Diaz dalam hati.


"Kau memiliki berapa saudara, Diaz?" tanya Quen.


"Satu. Dia perempuan dan masih SMA."

__ADS_1


"Kau pasti sangat menyayanginya, ya? Seperti kakakku sayang aku."


Diaz lagi-lagi hanya tersenyum dan bergumam dalam hati. "Aku sayang adikku, tapi, tidak pernah memanggilnya sayang kepadanya, Quen."


__ADS_2