
Al masih menggandeng tangan Queen dengan erat. Ia mengabaikan Nayla yang tersenyum ke arahnya bersama kakek, Hanifah dan juga Bilqis.
Sementara mata Queen di edarkan ke seluruh area gedung. Namun, seseorang yang di carinya tidak dapat ia temukan. Ingin menelfonnya tapi tadi saat Al membawanya paksa, bahkan ia tidak sempat membawa apapun. Jadi, saat ini ponselnya ada di dalam kamarnya.
"Kak, apakah kau punya kontaknya kak Novi, atau kak Aditya?" tanya Queen.
"Iya, ada. Kamu mau menelfonnya?"
"Iya, pinjam hpnya, ya?"
Al mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya dan memberikannya kepada Quen.
Dengan raut ceria gadis itu pun berlari mencari ke tempat yang sepi. Sekitar sepuluh menit Queen kembali dan mengembalikan ponsel milik kakaknya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kukira mereka akan datang sekarang melihat acara ijab qobul, tapi mereka hanya akan bersalaman pada pengantin saat resepsi nanti." Queen tertunduk, wajahnya nampak kecewa tapi, dalam waktu yang bersamaan ia juga nampak sangat sakit.
Lagi pula wanita mana yang tak sakit hati jika suaminya menikah lagi?
"Queen!"
Quen menoleh melihat ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Ia melihat Helena melambaikan tangan padanya dan memberi isyarat agar ia datang ke tempatnya.
"Tunggu dulu, kak," ucap Queen melepaskan tangan Al lalu beranjak ke tempat Helena yang tampil anggun Dengan balutan gaun Vera Wang nya.
"Aku menunggumu dari tadi, bagaimana gaun ini? Apakah ini sangat cocok?" Helena tersenyum dan berputar-putar di depan Queen.
"Cantik," jawab Queen singkat. Ia tersenyum sambil memperhatikan Helena.
"Oh, ya Queen. Tadi aku terus menelfon mu, tapi kau tidak mengankatnya."
"Ponselku ketinggalan di kamar tadi."
"Apakah sesibuk itu dirimu di kantor sampai untuk cuti sehari saja kakakmu tak mengizinkan?"
"Tanyakan saja pada papamu, pasti dia tahu. Dia hanya bekerja di salah satu perusahaan kakakku, sementara kakak, mengurus tiga perusahaan sekaligus dan itu pun beda bidang," jawab Queen dengan ketus dan tersenyum sinis.
Tiba-tiba saja ia merasa sakit hati dan tak dapat mengontrol emisinya. Jadi, yang ada, kata-katanya pun terkesan menghina Helena. Dan lebih menonjolkan kalau dia memiliki segalanya satu Alex di rebut Helena, ia bisa mendapatkan seribu pira yang seperti Alex, bahkan lebih.
"Helena, apakah kau sudah siap sayang?"
Queen mengarahkan pandangan pada Alex buang mengenakan teksudo dengan warna senada dengan gaun yang Helena pakai, putih tulang.
Ia menggandeng tangan Helena dengan mesra dan berjalan ke pelaminan. Keduanya duduk bersanding di depan penghulu dan disaksikan oleh para tamu yang hadir.
Quen masih mematung di tempatnya memperhatikan mereka dari jauh. Harusnya dia sudah bisa terima dan tidak apa-apa, tapi, ternyata Queen salah, rasanya ingin sekali dia berteriak agar pernikahan dihentikan, tapi, apa kata orang tentang dia? Dia sendiri yang meminta Alex menikahi Helena. Tapi, kenapa di saat seperti ini malah ia meminta agar membatalkannya? Siapapun juga pasti akan menyalahkannya.
Akhirnya ia pun berlari ke luar ruangan mencari tempat yang sepi dan menangis sepuasnya.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya.
"Kamu yang kuat, ya?"
__ADS_1
Quen menoleh ke belakang dan mendongak ke atas.
Dengan refleks gadis itu berdiri dan memeluk pria di belakangnya.
"Maafkan aku, Diaz. Aku tidak bisa menjadi wanita yang kuat. Aku benar-benar lemah dan tak sanggup melihat semua ini," keluh Queen.
Sementara Diaz hanya membeku saja, tak tahu harus berbuat apa. Melepaskan pelukan Queen mendorongnya perlahan atau mengusap punggungnya?
"Kamu harus bisa tegar di depan mereka agar mereka tahu betapa hebatnya kamu, ayo kita ke depan!" Ajak Diaz.
"Gak mau."
"Terus kamu mau di sini terus sampai kapan?"
"Baiklah, ayo!"
Mereka pun melangkah bersama menuju ke aula tempat di mana Alex dan Helena akan melakukan ijab qobul. Dan Queen sebagai istri pertama juga harus hadir di sebelah sang suami yang akan menikah lagi.
Tapi, saat berada di ambang pintu, Quen kembali ragu untuk masuk. Dan Diaz pun berhasil meyakinkan dan membujuk Queen. Memang tak ada air mata Queen pada saat ijab qobul sampai resepsi. Tapi, keceriaannya luntur. Tak lagi ada. Ia lebih banyak diam. Padahal tadi pagi dia masih bisa berteriak tapi, kali ini ia benar-benar bunga yang layu yang terpisahkan dari akarnya.
🍁🍁🍁
Satu bulan di madu, Queen merasa sudah tidak tahan lagi dengan kehidupannya ini.
Sekalipun memiliki kakak yang selalu ada untuknya. Tapi, tetap saja dia tidak dapat memenuhi segala yang dia butuhkan. Dia tetap saja merasa sepi.
Quen melihat Alex yang tengah serius mengoreksi hasil tugas dari muridnya di kampus. Ia memperhatikan pria itu hanya gambar yang ada. Cinta mungkin masih ada tapi, setelah setengah tahun ini hanya di abaikan ia pun lelah. Queen sudah memikirkan segalanya. Tak ada lagi alasan utnuk dia tetap bertahan dengan Alex. Melihat Helena juga ia menjadi istri yang baik dan tulus menyayangi Alex.
"Alex, aku mau bicara sama kamu," ucap Queen datar. Lalu ia menarik kursi yang ada di hadapan Alex dan duduk di situ.
"Lex, kamu denger gak, sih?"
"Iya, kamu mau bicara, ya bicara saja!"" Jawab Alex datar. Dan masih tidak menolah pada Queen sedikit pun.
Kesal, nyesek dan sakit jelas ia rasakan. Setelah sekian lama dikejar dan dijadikan prioritas kini bahkan dia tidak lebih berharga dari setumpuk sampah. Sungguh benar-benar diabaikan.
"Lex, memang begitu cara berbicara dengan orang? Sesibuk apa sih kamu tidakkah bisa kau meletakan itu dulu dan bicara denganku sebentar saja?" ucap Queen dengan emosi tertahan.
Dengan kesal Alex melempar kertas yang ada di tangannya melempar menutupi keyboard leptop di hadapannya.
"Kamu mo ngomong apa, sih?" Pria itu menatap tajam ke arah Queen yang juga menatapnya dengan tatapan penuh emosi.
"Aku mau kamu menandatangi ini. Kita cerai saja. Jadi, Minggu depan kau tak perlu ikut hadir dalam pelantikan ku menjadi dokter," ucap Queen sambil memberikan map berisi surat perjanjian cerai.
Alex nampak terkejut dengan apa yang Queen katakan. Bibirnya terkatup rapat saat mata cokelatnya itu menatap ke arah map yang tergeletak di atas meja dan menatap Quen secara bergantian.
Meski semenjak kejadian itu ia merasa jengah saat melihat gadis di depannya. Tapi, ia tidak bisa bohong. Hatinya mendadak terasa sakit dan teriris saat Quen mengatakan perceraian. Kenapa? Kenapa sekarang dia minta cerai tidak dari awal saja? Apakah dia sudah lelah hidup begini?
"Kamu minta cerai, kenapa? Dan bahkan saat kau akan melakukan pelantikan? Kamu tak ingin aku hadir dalam acara tersebut?"ucap Alex mencari kesalahan Queen.
"Kenapa? Bukankah selama ini kau tidak pernah peduli sama aku? Sekalipun aku berusaha mencari alasan untuk kita bersama dan melibatkan dirimu dalam setiap kegiatanku di luar, entah itu di kantor, rumah sakit atau apa, apakah kau peduli dan mau? Tidak, kan? Kau hanya ada untuk Helena saja, seolah melupakan kalau aku ini juga istrimu. Dari pada berstatus kan istri tapi kemana-mana sendiri lebih baik aku jadi janda aja," ucap Queen lalu beranjak pergi.
Alex menatap kepergian Queen. Wanita itu menuju kamar tamu yang ia jadikan kamarnya semenjak enam bulan yang lalu.
Alex masih saja diam, menikmati kesakitan yang terasa kian dalam menyayat relung hatinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Queen keluar dengan menyeret koper dan mencangklong handback nya.
Alex tak mampu menguasai diri. Rasa takut yang teramat membuatnya seolah bergerak sendiri memeluk Queen dari belakang memintanya untuk tetap tinggal.
"Lex, lepasin aku, aku sudah tidak seharusnya tinggal di rumah ini lagi. Aku harus pergi," ucap Quen sambil berusaha melepaskan pelukan Alex.
"Tidak, kamu gak boleh pergi. Kamu harus tetap di sini menjadi nyonya pertama rumah ini kamu istriku, Queen. Aku tidak mau menandatangani surat itu dan cerai sama kamu," ucap Alex emosi.
"Kamu itu egois Lex. Kalau memang kamu ingin tetap aku tinggal, kenapa sikap mu seolah memintaku agar pergi? Lepasin aku!" Teriak Queen sambil menginjak keras kaki Alex yang telanjang kaki dengan sepatu keatnya.
Mendengar suara ribut di depan, bibi pengurus rumah dan Helena bergegas ke depan melihat apa yang telah terjadi. Sebab, tidak pernah terjadi keributan sekalipun selama Queen menikah, jadi, bibi benar-benar kaget takut menjadi satu see hingga tubuhnya bergetar dan tangannya ya mengeluarkan keringat dingin.
"Ya Allah, neng Queen dan tuan Alex tidak pernah berantem selama ini, kenapa ini jadi begini," keluh bibi sambil menangis karena takut dan juga kasihan. Terlebih ia melihat Quen membawa tas kopernya.
Sementara Helena menghampiri keduanya, "Alex, Queen. Kenapa kalian berdua ribut malam-malam begini?" tanya Helena.
"Aku dan Alex akan segera bercerai, dengan begitu, aku sudah tak ada lagi tempat di rumah ini. Helena aku percayakan dia sama kamu, aku titip Alex sama kamu, Ya?"
Queen menepuk bahu Helena lalu beranjak sambil menyeret kopernya keluar.
Alex hendak berlari menyusulnya tapi, Helena dari belakang sudah memeluknya sambil berkata, "Lex, aku tidak mau kamu pergi. Jangan tinggalin aku."
Alex pun terpaksa diam dan hanya dapat menatap kepergian Queen begitu saja. Sejak saat itu, Alex lebih suka berdiam diri merenungi apa yang dia ingat, tentang Quen yang mati-matian memperhatikan dirinya. Membuatkan sarapan, menyiapkan pakaian untuk bekerja dan mengecek perlengkapan pekerjaannya. Berlari kala sibuk mengejar Alex demi sebuah marker yang terringgal. Kini ia harus pergi.
Alex duduk di sudut kamarnya sambil meremasi rambutnya sendiri. Semua benda-benda di sini membuatnya teringat Queen selama enam bulan terakhir. Ia selalu mengabaikan tapi, wanita itu selalu memperhatikan dirinya tanpa kenal lelah, lalu, kenapa dia sekarang malah pergi dan menggugatnya cerai?
Alex bergegas keluar kamar, tapi, saat ia membuka pintu, Helena berada di depan kamar sambil membawa nampan berisi makanan untuknya.
Sambil tersenyum manis gadis itu berkata, "Sayang, dari kemarin malam perutmu belum terisi apapun.kamu makan dulu, ya?"
"Helena katakan padaku dengan jujur, apakah benar sebelumnya aku dan Queen saling mencintai dan tak pernah ada hubungan apapun dengan mu?" bentak Alex.
"Kamu tidak percaya sama aku, Lex? Kamu.... "
Belum sempat Helena melanjutkan kalimatnya Alex pergi menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya pergi entah kemana, Helena pun tak tahu.
Karena panik Alex menyusul Queen kerumahnya, Helena pun menghubungi Aditya mengatakan apa yang terjadi kemarin antara Alex dan Quen.
"Halo, Dit. Kita bisa ketemu seakrsng? Ini penting, mengenai Alex dan Queen," ucap Helen begitu pria yang ditelfonnya mengangkat panggilannya.
"Apa? Tidak bisakah kau mengatakannya sekarang?" jawab Aditya.
"Panjang masalahnya , Dit. Bagaimana kalau kita ketemu di luar saja?" usul Helena.
"Baik, kita ketemu di kamar hotel biasa."
Setelah mengatakan itu, Aditya rupanya langsung mematikan panggilannya. Ia tak mau mendengar alasan wanita itu.
Helena mengumpat kesal menyumpah serapai Aditya. Dalam kondisi seperti ini bahkan dia masih saja sempat mengajak ketemu ke hotel, lewat telfon atau di cafe saja kenapa, coba? Apakah istrinya lagi datang bulan? Pikir Helena lalu keluar begitu saja.
Bibi yang melihat kelakuan Helena hanya mengelus dada saja. Memang dia bukan siapa-siapa di sini, hanya pembantu rumah tangga saja. Tapi, Queen selalu menghargai nya sebagai orang yang lebih tua darinya. Mau kemanapun pamit, pulang dari mana pun juga menyapanya bahkan tak jarang wanita itu memberinya oleh-oleh meski pun itu hanya martabak atau apa yang dimakannya di luar, ia selalu dibungkuskan.
Dengan begitu, ia merasa nyaman dan betah bekerja di sini, tidak seperti Helena yang hanya bisa memerintah dan menyalahkan saja.
"Ah, dengar-dengar papanya non Helena bekerja di perusahaan milik orang tua neng Queen. Begitu, ya, orang kalau udah kaya sekalian malah tidak aneh-aneh. Justru ia menunjukan bahwa dirinya berkualitas dan terpelajar. Duh, apa gak nyesel tuan Alex nanti jika benar cerai dan ingatannya kembali?" Batin si bibi.
__ADS_1