
Usai menjenguk papa mamanya, Al mengajak adiknya mampir di sebuah restoran. Ia mengajaknya makan siang dulu. Di perjalanan menuju restoran Al mengatakan kalau besok ia akan ke Bandung.
"Besok kakak mau ke Bandung. Kaku mo ikut?" ucap Al mengawali pembicaraan.
"Ngapain, kak? Aku Uda ada rencana pergi sama Diaz," jawab Queen.
"Kamu mau ke mana?"
"Awalnya kita pengen naik gunung, tapi karena sering hujan, kawatir licin atau apa, jadi kami putuskan tidak kemana-mana. Mungkin dia ngajak jalan dan berkunjung ke rumahnya."
"Terserah, tapi, jangan bermalam di rumah laki-laki. Malam kamu balik ke vila, ya? Ada kak Juna dan Gea juga."
"Ih, serius?" Queen tersenyum sambil melihat ke arah kakaknya.
Sedikitpun wanita itu tidak menaruh curiga atau perasaan aneh. Terlebih ia juga mengatakan kalau kakek dan bibi juga akan di ajak. Itung-itung liburan sekeluarga.
"Sejauh apa hubunganmu dengan Diaz?" tanya Al tiba-tiba.
"Kemarin dia bilang, setelah lepas Iddah, dia akan segera menikahiku, kak."
"Semalam kalian?... "
"Percaya sama aku, kami tidak melakukan sesuatu sampai di luar batas."
"Ya, kakak percaya. Tapi, alangkah lebih baiknya selama Iddah kamu kurangin aja bertemu dengan dia."
Queen diam sesaat, meskipun ia keberatan tapi, ia masih bisa berfikir kalau maksut kakaknya itu benar, bahkan jika mengingat kejadian semalam, ia hampir saja kebablasan. Sekuat apapun iman pria juga sudah berdua dengan wanita yang sudah lama dicintai juga akan runtuh.
"Iya, aku ngerti. Makasih, ya kak," ucap Quen sambil memeluk lengan kakaknya penuh kasih sayang.
Aku ditakdirkan menjadi anak perempuan pertama. Tapi, papa dan mama mengadopsi kak Al yang usianya enam tahun lebih tua dariku. Dia benar-benar kakak yang baik, perlakuannya terhadapku melebihi saudara kandung. Bahkan jika tidak karena ibunya kak Lyli mungkin sampai sekarang aku tidak tahu kalau dia kakak angkatku.
Batin Quen.
"Sayang, kau memeluk lengan kakak saat menyetir begini bahaya, lo. Iya, kalau jalan tidak apa-apa."
"Maaf, aku sayang banget sama kakak, kakak memang yang terbaik," ujar wanita itu.
"Dasar!" Al mengacak rambut adiknya dan kembali fokus dengan jalanan.
"Loh, katanya kakak mo ke Jepang. Kapan?"
"Setelah dari Bandung, liburan saja dulu," jawab Al sekenanya.
"Harusnya kerja dulu baru liburan," timpal Queen.
"Gak apa-apa, siapa tahu belum sampai Jepang aku mati, setidaknya sudah bisa mengajak keluarga berlibur."
"Ngomong apa sih, kak?"
Al tidak langsung menjawab, ia hanya terkekeh saja. Lalu berkata, "Kalau kakak mati, kakak dah tenang dah ga ada utang lagi sama papa dan mama. Kamu juga keknya bakal bahagia sama Diaz. Aku percayakan kamu sama dia," ucap Al.
"Gak mau, pokoknya aku tetap mau kakak saja," ucap Quen nampak sedih dengan ucapan pria di sebelahnya. Takut kalau itu jadi nyata.
Sekalipun Diaz mencintai dirinya, apa bedanya dengan Alex? Tapi, kalau sodara, sampai kapanpun tetap saudara tak akan dapat terpisahkan. Hanya saja, satu hal kenyataan pahit Al bukan kakak kandungnya.
"Baiklah, kakak tidak akan mati. Kakak akan terus hidup untuk kamu. Tapi, jika kamu harus pilih salah satu kamu pilih mana?" Al menoleh ke arah Quen. Memperhatikan mimiknya wajahnya. Meski hanya sekilas Al dapat menilai, wanita itu tidak bisa.
"Tidak usah di jawab!" serunya.
Usai makan siang, Al langsung kerumah sakit. Tiba di sana mereka melihat keadaan Adiitya yang benar-benar parah dan bukan rekayasa. Queen yang benar-benar tak tahu apa-apa menyangka ia benar-benar dihajar preman. Tapi, Al yang tahu hanya diam saja.
Justru pria itu malah menahan tawa, dan menatap tajam ke arah Aditya yang terbaring lemah. Hampir seluruh kepalanya dibalut perban.
Queen mengobrol dengan Novita. Wanita itu nampak sayang dan sangat percaya dengan apa yang Aditya katakan.
__ADS_1
Quen membatin Aditya yang apes, atau bagaimana, sudah babak belur di hajar kakaknya kok masih main-main sama preman. Dia mau tak percaya pun juga sudah ada kabar dari kepolisian mengenai akan hal ini.
Beda halnya dengan Al yang sudah tahu semuanya, hanyaΒ diam dan terus menahan tawa saja. Bahkan tak jarang saat tatapan matanya bertemu dengan mata Aditya, ia memberi senyuman yang mengejek.
"Quen, ayo kembali," ajak Al. Seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
Wanita itu menoleh ke arah kakaknya lalu berpamitan pada Novita, dan menatap canggung saat menoleh ke arah Aditya yang terbaring lemah.
Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi parkir, Al terus berfikir tentang rekaman yang didapatnya tadi pagi dari Juna. Ia ragu memberitahukan pada Quen. Ada beberapa hal yang memang perlu dipertimbangkan.
Apakah Quen benar-benar move on dari Alex, atau hanya pura-pura saja. Cuma itu saja yang perlu Al ketahui.
"Sayang, sejauh apa sih, kamu menyukai Diaz? Dan apa alasan kamu suka sama dia?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa, ya? Aku gak tahu, kak. Dia cerdas dan pintar. Banyak hal yang tidak aku ketahui, tapi, dia tahu. Jadi aku bisa bertukar pengetahuan sama dia. Terlebih, dia datang juga di waktu yang tepat. Saat aku kehilangan Alex, di kala aku merasa jatuh dan sedih, dia selalu ada untukku. Jadi, aku merasa nyaman dengannya. memang kenapa kak," tanya queen dengan sorot mata yang ber binar penuh keceriaan.
"Tidak apa-apa, cuma mau tanya aja terus sekarang gimana perasaan kamu sama Alex?" timpal Al
"Sama Alex, ya? Aku cenderung hambar sih sama dia, entah aku sudah tak lagi cinta dengannya, atau karena aku bosan dengan perlakuan dia selama ini terhadapku, dan tiap hari lihat dia bermesraan sama Helena. Bayangin aja, kek apa hati wanita lihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain. Tapi, aku gak tahu jelas dengan perasaanku ini. Hanya ada Diaz dan cuma dia yang aku mau, Kak."
Al sesaat memikirkan apa yang dikatakan Queen. Lalu ia memperhatikan raut wajah wanita itu tidak ada ke kebohongan selain keseriusan yang diutarakan. Al juga dapat merasakan kalau kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati Quen.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk memberitahukan apa yang didapat dari rekaman tersebut. Sebab, dia yakin seperti apapun nanti hasilnya, Al percaya kalau Queen dapat meneimanya.
Tapi, sekali lagi Al bertanya kepada adiknya untuk meyakinkan dirinya sendiri, "Seandainya Alex meminta balikan sama kamu nanti atau esok apakah kau bersedia?"
Queen mengerutkan alisnya lalu tertawa sinis, "hah, belikan? emangnya kenapa? Lagipula sepertinya mustahil mau nggak mau Helena juga sudah mengandung anaknya, kan?"
Al pun mengangguk dan kini ia yakin atas keputusannya.
"Baik, kamu balik dulu ke rumah sakit, setelah kamu selesai piket datang ke kantor kakak, ada sesuatu yang ingin kakak tunjukkan, jika sekarang waktunya juga uda mepet. Kakak antar kamu ke rumah sakit saja," ujar Al bergegas.
ππππ
Berkali-kali dias melihat ke arah layar ponselnya. Tapi, balasan yang dia tunggu sepertinya tak kunjung ada.
Ingin menelfonnya juga ini sudah lewat jam istirahat. Sedangkan tadi, ia tidak sempat bertanya kapan jam istirahatnya, dan jam berapa pulangnya. Karena ia sudah merasa sungkan dengan Al yang memang selalu bersikap dingin.
Diaz pun kembali ke dalam, melihat apakah kakek Andrean masih tidur siang atau bangun. Pria itu berniat memberinya terapi lagi, sebab, selama beberapa bulan ini ia mendapati kemajuan pesat pada diri kakek. Meski tidak jauh melangkah, setidaknya beliau sudah bisa berjalan. Hanya saja, hal ini hanya Diaz yang tahu. Sebenarnya sih, Alex juga. Tapi, berhubung Alex mengalami kecelakaan dan melupakan segala, hanya Diaz lah satu-satunya orang yang tahu.
Karena kakek Andrean masih tertidur Diaz pun duduk di halaman belakang sambil memainkan ponselnya.
"Diaz, kamu ada di sini?" seorang wanita muncul dari balik pintu. Lumayan mengagetkan pria itu.
"Eh, Hanifah. Apa kabar?" sapa pria itu pada gadis berkulit putih dengan rambut lurus yang dicat dengan beraneka warna.
Hanifah tampak memasang raut muka muak pada pria di depannyan tapi, tak ingin menyudahi obrolannya dengan cepat.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja," cetusnya.
"Tapi, tidak dengan hatiku," batin Hanifah.
Hanifah pun meletakan tas tangannya di atas meja pembatas antara kusri satu dan yang satunya. Ia duduk di sebelah kiri meja, sementara Diaz ada di sebelah kanan meja tersebut.
"Kudengar kau dapat tugas di Bandung setelah resmi menjadi dokter, apakah hari ini libur?" tanya gadis itu berusaha rilex dan memasang ekspresi setenang mungkin.
"Iya, dari kemarin malam aku tiba di Jakarta. Gimana kuliah kamu?"
"Baik, kok."
Keduanya diam dalam kecanggungan. Hanifah lebih banyak diam.
"Diaz, kamu mau ke Bandung nanti sore, kan? Sekalian saja bareng," kata Nayla dari dalam.
Ia tidak tahu kalau ada Hanifah di sana.
__ADS_1
"Kak Nay mau ke sana juga? Ada apa?"
"Tadi mas Al ngubungi. Kami akan ke Bandung sekeluarga sebelum dia berangkat ke Jepang. Katanya juga sudah nyewa vila. Loh, ada Hanifah. Kapan datang?" sapa Nayla.
"Baru saja kak. Lihat kakek masih tidur. Eh, ternyata ada Diaz di sini," jawab Hanifah ceria.
"Dia sudah dari pagi di sini, Nif. Dia kan rencana mo ngajakin Queen ketemu camernya," ucap Nayla.
Hanifah diam, ia nampak tertegun seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Mendadak raut muka gadis itu pun berubah. Nampak kikuk melihat canggung kepada Diaz dan juga Nayla.
"Maksudnya apa ya, Kak? Mertua? bukannya Quen ini sudah resmi jadi janda, ya?"
"Calon, Hanifah. Kamu gak tahu, Quen dan Diaz dah lama jadian, eh. Gak tau jadian apa gimana. Sejak saat itu mereka dah saling cinta aja, makanya dia urus perceraian. Toh sama Alex dia juga dianggap gaib selama ini."
Nayla terus berbicara membicarakan mengenai hubungan Queen dan Diaz. Ia tak mengerti bagaimana perasaan Hanifah saat mendengarnya, tentu dia juga tak menyadari perubahan wajah saudarinya itu. Sebab, sejauh ini dia tak tahu kalau hanifah diam-diam menyukai Diaz.
"Ya sudah, kalian ngobrol aja dulu di sini. Aku mau membangunkan Bilqis dulu. Satu jam lagi, dia harus berangkat les," pamit Nayla. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Nayla pergi, Hanifah memandang Diaz dengan tatapan sayu. Gadis itu masih tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
Sebab, sejauh ini yang dia tahu, Diaz hanyalah berteman biasa dengan Quen. Dan saudarinya itu juga apa-apa lebih tergantung pada kakaknya, daripada pria lain semenjak apa yang telah menimpa Alex. Lalu, bagaimana ceritanya? Apakah aku yang terlalu lama menghilang?
"Selamat atas apa yang kau dapatkan, semoga langgeng sampai ke pelaminan, Diaz."
Hanifah langsung menyambar tas yang ia letakan di atas meja, ia berlari sambil mengusap air matanya yang sudah mengalir. Ia berharap Diaz tadi tidak melihatnya. Tapi, harapannya tak terpenuhi Pria itu tahu dan terlanjur melihatnya.
Diaz terpaku melihat Hanifah yang menangis karenanya. Ia tak pernah menyangka sebelumnya jika sampai ada seorang gadis cantik dari kalangan atas menangis karena tak dapat bersama dirinya. Tapi, dia pun juga lebih tak menyangka bisa mendapatkan cinta wanita dari kelas atas. Sekalipun dengan status janda.
Diaz menjambak rambutnya sendiri dia benar-benar bingung. Menyusul Hanifah, atau tidak. Jika disusul ia takut wanita itu kembali berharap. Tapi, jika tidak, dia berlari ke arah kolam.
Tanpa pikir panjang lagi, Diaz berlari menyusul Hanifah, berusaha menenangkan tanpa memberi harapan. Hidup sebagai saudara atau sahabat bukannya sah-sah saja? Pikir laki-laki itu.
Hanifah duduk di bangku bawah pohon akasia, ia menangis sejadi-jadinya sambil mengusap air matanya di pipi kanan kiri, sambil mengumpat seorang diri.
"Gila, sakit banget dada gua. Apa ini yang namanya sakit hati? Lalu kenapa sakit, coba? Bukannya selala ini aku cuma iseng sama Diaz? Apa pula masalahnya coba kalau dia kejadian sama Queen? Toh dia juga saudaraku sendiri."
Hanifah terus berusaha menghibur diri mencari pengalihan pikiran agar tidak terfokus dengan hatinya yang kian nyesek. Tapi, sepertinya sia-sia. Tetap saja kepalanya dipenuhi oleh nama Diaz.
"Tunggu. Sejauh ini aku tak pernah menangisi laki-laki. Dan ini yang pertama kalinya. Kalau saja wanita itu bukan Queen aku bisa lah berlagak gila merebutnya selama belum menikah. Katanya gak apa-apa daripada pacaran. Tapi, apa sih, istimewanya Diaz?" kembali wanita itu bergumam seorang diri sambil memikirkan pria itu.
"Ah, iya, Diaz memang istimewa. Dia satu-satunya laki-laki yang tidak tertarik padaku sekalipun aku sudah berupaya keras menggodanya agar ada kebanggan aku bisa menaklukkan si alim itu. Tapi, siapa sangka kalau harus berakhir seperti ini? Malah aku yang benar-benar suka sama dia, dan sakit saat dia akan menikahi saudariku sendiri."
Diaz berusaha mencari Hanifah kesana kemari tak juga di temukan. Sampai ia hampir memutari seluruh halaman rumah.
Tiba di kiri rumah ia melihat Hanifah yang duduk di bangku bawah pohon akasia membelakanginya.
"Harusnya dari teras belakang aku belok kiri kan tidak ke kanan? Rupanya dia ada di sini," batin Diaz.
Diaz mengatur napas sejenak sebelum akhirnya menghampiri gadis itu. Setelah jarak beberapa meter, ia menegur Hanifah.
"Di sini kau rupanya?" ucapny, lalu duduk di sebelah gadis itu.
Hanifah menoleh memandang Diaz dengan matanya yang merah. Saat mata mereka saling bertemu Diaz berusaha mencarikan suasana.
"Kenapa mata kamu merah? Sakit? Atau, baru saja nangis?"
"Gak, kok. Aku baru saja kelilipan," kilah Hanifah sambil mendongak dan mengedipkan matanya.
"Maaf kalau aku menyakitimu. Dengan aku menikah dengan saudarimu, artinya kita juga saudara, kan? Atau, mulai sekarang kita bersahabat saja bagaimana?" ucap Diaz sambil menatap ke arah Hanifah dengan senyumannya yang hangat.
Hanifah bengong ke arah Diaz. Rasanya ia ingin menangis dalam pelukan pria itu. Tapi, ia sadar itu salah. Sekuat hati ia berusaha menguasai diri. Tapi, matanya tetap tak dapat teralihkan dari mata, wajah, rahang, leher serta dada bidang yang dimiliki Diaz. Bagi Hanifah pria ini sangat sempurna.
"Iya, ya sudah. Aku kembali, dulu, ya?" ucap Hanifah. Lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Setelah itu, barulah Diaz merasa lega. Sebab, ia sudah menyelesaikan permasalahan yang ada diantara dia dan Hanifah. Soal hati dan cintanya tetap saja pada Quen sejak pandangan pertama.