Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 40


__ADS_3

Clara terduduk gelisah di kamarnya, berkali-kali ia pandamgi jam pada layae sentuhnya sambil terus mengusap perutnya yang mulai membesar.



Sudah menunjukan pukul 19.00 tapi Vano belum juga pulang, sementara ia sudah sangat tudak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan.



Di raihnya gawai di atas kasur lalu menghubungi suaminya.



["Halo sayang, apakah kau baik-baik saja?"] jawab Vano begitu panggilan tersambung.



["Kau sedang apa? Bisakah kau pulang lebih cepat?"] jawab Clara perlahan sambil meringis menahan sakit.



["Apa yang terjadi padamu? Katakan."] Nada suara Vano terdengar sangat panik.



["Perutku, dari tadi sore sakit banget, Van, tolong kamu cepat pulang ya."]



["Iya, baik. Kamu tahan dulu ya, aku akan segera pulang."]


Vano pun memutus panggilan dan bergegas pergi begitu saja membiarkan semua dokumennya berantakan di atas meja kerja.



Setiba di rumah Vano terkejut melihat kondisi Clara, darah sudah mengalir sangat banyak, tanpa banyak pikir ia langsung menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit.



"Ra, sejak kapan kamu kesakitan? Kenapa tidak langsung hubungi aku?"



"Maaf, aku pikir kau sibuk karna lembur, jadi... Aduh, cepat dikit Van."



Clara menggigit bibir bwahnya menahan rasa sakit yang luar boasa sambil memegangi perutnya, sementara tangan kirinya memegang pegangan pintu mobil kuat-kuat.



"Iy... Iya Sayang, kamu sabar dulu, ya. Bentar lagi kita sampai."



Vano tampak makin panik, matanya mengarah pada Clara yang kesakitan dan jalanan yang lumayan macet secara bergantian.



Sekitar kurang 500meter letak rumah sakit, kondisi jalan menjadi macet total, tidak tega melihat kondisi Clara yang sudah kehabisan banyak darah, tanpa pikir panjang lagi Vano mematikan mesin mobil, turun menggendong Clara berjalan ke rumah sakit.



Tiba di gerbang, scuryti langsung berteriak meminta bantuan, tak lama kemudian datang beberapa perawat dengan mendorong blangkar pun tiba.



Vano nampak kacau melihat pendarahan hebat yang dialami istrinya, ia terus mengikuti para perawat itu tanpa pedulikan kemeja putihnya penuh dengan noda darah.



Tiba di depan IGD seorang perwat mencegah Vano untuk masuk, "Pak, silahkan anda menunggu di luar dulu."



Vano hanya terdiam tanpa menjawab, ia duduk di kursi tunggu mendunduk sambil menjambaki rambutnya sendiri.



Cukup lama menunggu akhirnya ia baru teringat akan orang tuanya.


Awalnya ia sempat bingung siapa dulu yang harus dia hubungi, akhirnya ia menghubungi Vivian dulu. Ayahnya Lalu Andrean. Yang tetap ia panggil papa.



Sekitar 30 menit mereka bertiga tiba, dan Clara pun sudah dipindah di ruang rawat pasien.



Vano terus mengusap ujung kepala Clara yang terbaring lemah, ia terus menenagkan hati Clara yang sudah tidak karuan.



"Kamu sejak kapan merasa sakit?" tanya Vano dengan lembut dan berhati-hati.

__ADS_1



"Sejak sore tadi," ucap Clara sambil terisak.



"Kok ga cepat hubungi aku?"



"Aku gak tahu kalau bakal kaya gini. Aku pikir usia kandungan juga baru 7 bulan, dan lagi kamu lembur, pasti.juga banyak kerjaan, kan?" Mata Clara lekat memandang Vano yang juga nampak sedih.



"Tidak apa-apa, lain kali jangan begitu, ya. Prioritas utamaku adalah kamu, bukan pekerjaan."



Begitu Andrean, Andreas dan Vivian masuk ke ruangan Clara. tak lama kemudian Lusi datang memanggil Vano.



"Ada apa, Lus?" tanya Vano penasaram, karena ia mengajak Vano ngobrol di luar.



"Sebenarnya apa yang terjadi pada Clara. Kenapa bisa sampai begini, Van?"



"Aku juga tidak tahu, Lus selama ini juga tidam pernah ada masalah, tiba-tiba saja dia nelfon aku dan sampai rumah dia sudah mengalami pendarahan hebat."



"Aneh, sebelumnya dia ada tanda-tanda tidak?"



"Tidak ada, Lus. Kalau Clara gabis jatuh, dia pasti juga ngomong."



"Tidak ada tanda-tanda itu, kalau boleh jujur, dia seperti mengkonsumsi obat aborsi, Van," ucap Lusi merasa takut dan ragu saat menyempaikan kebenarannya.



"Apa maksut kamu, Lus?"




Vano dia sesaat memikirkan sesuatu, seolah menangkap maksut Lusi.



"Ya, baru kemarin. Apa perlu aku bawa ke sini obat yang diberikan dokter tugas untuk di cek?"



"Iya, Van. Itu perlu."



"Baiklah, nanti atau besok aku berikan kepadamu."



Hampir satu jam terlewatkan, Clara masih belum juga mau berbicara sepatah kata pun.



"Clara, anak kamu pasti bisa selamat. Sekarang kamu harus sehat dulu biar bisa merawatnya, ok?" ucap Andreas terus menyemangati.



Sesaat Clara berfikir, membenarkan ucapan ayah mertuanya.



"Benar kata Ayah, Clara. Kamu jaga diri baik-baik di sana dia pasti juga merindukan mamanya, tapi bagaimana kamu bisa kesana jika kau sendiri lemah?" Vivian pun tak kalah membujuk Clara agar mau makan.



Tak lama kemudian dengan wajah yang lesu dan pakaian yang sama Vano kembali ke kamar Clara.



Clara tidak berani menatap Vano, ia kembali diam tenggelam dalam rasa bersalah.



Kembali Vano mengusap kening Clara dan menggenggam erat tangannya.

__ADS_1



"Maafkan aku Van, gak bisa jaga anak kita."



"Ini musibah sayang, aku percaya kau selalu melakukan yang terbaik buat amak kita, kota cukup berdoa saja agar bayi kita bisa bertahan dan tumbuh besar, ya," ucap Vano lembut penuh kasih sayang.



"Van, mungkin Clara perlu istirahat. Biarkan dia menenangkan pikirannya, kami pamit dulu, ya."



Vivian berkata pelan, seperti apapun dia adalah ibu kandung Clara, jadi paham betul dengan sifatnya.



"Baik, Ma." Vano pun bangkit mengantar ketiganya sampai ambang pintu.



Cukup lama Vano ada di depan sana, sepertinya ada sedikit yang dia obrolin bersama kedua ayahnya.



***********



"Kamu jalan hati-hati ya sayang, sini aku gandeng." Dengan perlahan Vano menggandeng tangan Clara dan jalan perlahan sambil memegangi pungung istrinya.



"Apakah letak ruangannya masih jauh?" tanya Clara manja.



"Tidak, sebentar lagi kok. Apa perlu aku gendong." Goda Vano sambil tersenyum nakal.



"Apaan sih, malu banyak orang." Clara tertunduk wajahnya memerah malu-malu.



"Kan aku suamimu," ucap Vano di dekat telinga Clara.



Mata Clara berbinar saat melihat seorang bayi mungil di dalam akubator.



"Itu bayi kita, Van?" Tanpa menoleh Clara melangkah perlahan mendekati Akubator. Ia tersenyum sambil menitikan air mata kebahagiaan.



Vano mengamati Clara dari jauh, sampai pada akhirnya ia melangkah perlahan memeluk istrinya dari belakang.



"Meski terlahir prematur lihat, dia begitu kuat dan sehat, bukan? BB nya saja standar 2,5kg," ucap Vano.



Clara mendongakkan kepalanya ke belakang, mengangguk perlahan. Dan kembali melihat putrinya yang cenderung mirip dengan Vano.



"Kapan aku dan dia pulang?"



"Dokter bilang, tiga hari lagi si kecil baru bisa keluar dari akubator, dan kamu asal sudah stabil gapapa pulanh dulu."



"Lalu, gimana sama putri kita, Van?"



"Kan ada dokter dan perawat, kita juga akan sering-sering jenguk dia buat kirim asi, kan?" Hibur Vano.



"Baiklah, aku tidak masalah."




__ADS_1



__ADS_2