Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 39


__ADS_3

Axel terjaga sejak pukul 4,00 dini hari. Dia memang bukan pemabuk dan tidak pernah sekalipun dalam hidupnya menyentuh yang namanya minuman keras. Jadi, meski hanya sedikit saja, ia sudah sempoyongan dan hilang keseimbangan. Atau, memang yang diminum Al adalah jenis miras yang berdosis tinggi? Entahlah. Pengetauan Axel terkait Coktail, wine dan sejenisnya big nol.


Ia langsung duduk di tepi ranjang sambil sesekali mengusap wajahnya. Kepalanya terasa sangat berat, tapi ia harus bangun. Dicoba diingatnya kejadian mdemi kejadian yang terlintas di benaknya semalam. Ia teringat bagaimana menarik dan mendorong tubuh Berlyn dan menindihnya.


"Ya, Tuhaaaan! Kemana apa aku berprilaku seperti binatang?" gumamnya seorang diri. Axel pun beranjak keluar kamar. Ia menuju westafel depan kamar mandi dekat dapur. Beberapa kali dicucinya wajah itu degan air. Saat matanya menatap ke cermin, ia melihat adapantulan wajah Berlyn di belakangnya.


"Berlyn?" tanyanya. Tanpa menoleh ke belakang.


Gadis itu beranjak menghampiri Axel. Ia tahu dari saudarinya kalau pria di dapannya sudah tahu kalau Berlyn bisa berbicara. Tapi, ia sengaja diam saja.


Karena tidal menerima jawaban, Axel berbalik badan dan meraih kedua tangan gadis itu dan mengucapkan kata maaf sekali lagi. "Lyn, maafin kak Axel semalam, ya? Kak Axel benar-benar khilaf semalam. Tak tahu diri dan bertindak seperti binatang."


Clarissa hanya diam, ia menunduk dan berusaha keras menahan tawa. Bagaimana tidak tertawa, Pria di epannya salah mengenali orang. Berbuat salah pada siapa, meminta maaf pada yang mana. Lucu sekali, bukan? Ia tidak sadar itu karena memang tidak tahu kalau Berlyn itu memiliki kembaran. Mungkin, setelah ini mereka akan lebih sering bertemu. Tapi, itu hanya asumsi saja. Bagaimana nanti, tidak ada yan tahu.


Clarissa melepaskan tangannya. Ia pergi. Ia ke dapur niatnya mau mengambi air putih. Tapi, malah ketemu Axel. Ia merasa tak layak meminta permintaan maaf dari Axel. Krena, pria itu bersalah pada saudarinya. Jadi, tinggalin saja, biar dia meminta maaf sendiri pada saudarinya.


"Berlyn, kau mau ke mana? Kak Axel minta maaf sama kamu. Oke, baiklah mulai sekarang kak Axel berjanji sama kamu. Kak Axel tidak akan ganggu kamu dengan Adriel lagi. Tapi, aku harus memastikan dulu, apakah dia benar-benar tulus apa tidak padamu. Jika memang aku yain dia bisa menjagamu dengan baik, aku akan lepasin kamu. Tapi, jika tidak. Terang-terangan aku akan merebutmu darinya. Aku tidak akan menggunakan cara halus seperti ini.


Namun, Clarissa tetap tak hiraukan. Buru-buru dia masu ke dalam kamar yang ia gunakan semalam dan menguncinya dari dalam.


"Lyn, Aku pulang dulu. Titip salam pada papa dan mama, ya?" ucap Axel dari luar kemudian ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Clarissa diam sejenak. Memikirkan dua pria kakak beradik itu. Ia membayangkan jika saja berada di posisi saudarinya. Enak, kah jadi rebutan dua pria tampan? Sementara dia? Siapa yang mau dengannya? Di usia dini ia sudah memegang perusahaan milik papanya di Jepang. Setiap laki-laki yang mendekatinya pastilah merasa minder. Jika pun ada yang setara dengannya,itu orang tuanya. Dia masih belum memiliki tanggung jawab sepenuhnya. Mendekati juga bukan karena cinta yang tulus seperti dua pria tampan yang menginginkan kembarannya. Tapi, untuk memperbesar dan memperkuat perusahaan milik mereka. Intinya, karena ada apanya, bukan apa adanya.


Tanpa sadar, Clarissa menitikkan air matanya. Ia mulai mendabakan hidup normal layaknya gadis berusia sembilan belas tahun. Ia ingin mendapatkan cinta yang tulus dan abadi seperti papa dan mamanya. Ia jadi berfikir, bagaimana jika ke;ak sudah saatnya ia menikah dan menikah dengan sosok yang kaku dan dalam rumah tangganya gak ada rasa cinta. Menyendiri selamanya juga ngenes. "Oke, tidak apa-apa. Memang tidak selamanya keberuntungan berada dalam pihakku, bukan?" ucap gadis itu seorang diri.


Tidak lama kemudian, lamumannya terbuyarkan dengan suara dering ponsel miliknya yang berada di bawah bantal. Kebiasaan buruk Clarissa memang selalu meletakkan ponsel di bawab bantal. Sudah berkali-kali diingatkan juga masih tetap saja. Bukan dia tidak ngeh. Tapi, memang dia tidak bisa tidur jika tidak memeluk benda pipih alatnya untuk berkomunikasi.


'Siapa yang telfon sepagi ini? Apakah Berlyn menanyakan apa yang baru saja terjadi? Apakah kak Axel sudah mengirimkan sebuah pesan padanya? Aatau dari adiknya, menayakan jawaban atas pernyataannya semalam?' batin Clarissa sambil melangkah perlahan menujun ranjangnya.


Sesampainya ternyata ia salah. Bukan dari saudarinya. Melainkan dari salah satu anak buahnya. 'Ada apa sepagi ini mereka menelfon?' ucapnya dalam hati. Sepertinya dirinya terlalu terbuai denan dua pria itu. Ia ikutan baper saat melakukan perannya sebagai Berlyn, sampai-sampai lupa kalau dirinya semalam telah meberikan perintah.


"Halo, ada apa?" jawabnya langsung bertanya.


"Nona Jenny, saya sudah mendapatkan informasi terkait Tiara. Dia selamat karena saat menikmati sabu-sabu, pria yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi itu datang untuk menyelamatkan. Tapi, akhirnya ia ditinggalkan begitu saja karena rumah, vila dan segala macam aset miliknya sudah raib. Jadi, ia terkena gangguan metal. Dia gila karena tak percaya kalau dirinya kini menjadi miskin."

__ADS_1


Clarissa menyeringai. Kemudian ia menjawab, "Oke, awasi terus. Jika perlu celakai saja dia biar mati. Aku tak mau melihat dia. Usahakan beritanya jangan sampai viral.Aku tak ingin saudariku tahu itu."


"Baik, Nona. Akan saya laksanakan dengan baik," ucap pria itu kemudian mematikan panggilan.


Sementara Clarissa, langsung melempar ponselnya dan tertawa seorang diri. Tidak masalah. Mungkin aku tidak boleh jatuh cinta. Sebab, ini hanya akan merusak bisnis yang sudah papa jaga mati-matian selama ini. Oke, aku harus bisa jadi Clarissa yang kuat dan bisa diandalakan. Bisa melindungi papa, mama dan juga saudariku. Tekat gadis itu dalam hati.


***


Sekitar pukul enam lewat lima belas menit, Axel sudah tiba di rumah. Ia sengaja tidak menyiapkan sarapan. Ia memesan via online saja, sambil menunggu Adriel bangun.


Sebenarnya, Adriel sendiri sudah bangun. Namun, ia enggan untuk meninggalkan bantal dan guling nya. Ia malah asik chatting dengan Berlyn yang sejak semalam berada di rumah ama nya. Tapi, Adriel tidak tahu itu. Karena, semalam ia merasa kalau kembali menyatakan cintanya usai pemotongan kue. Hanya saja, jawaban tak ia dapatkan. Jadi, kali ini ia tengah menagihnya.


"Aku tahu, kau sebenarnya juga sayang, kan sama aku? Caramu menampik tangan Andara kemarin, sudah memberikan jawaban. Serta tatapan mu pada tiga gadis itu, juga telah menjelaskan segalanya. Kamu cemburu sama mereka. Kamu sayang sama aku, kan?"


Berlyn tersenyum. Ia bangga memiliki saudari macam Clarissa. Dia mengerti sekali apa yang harus dia lakukan saat menyamar menjadi dirinya. Bahkan, saat berhadapan dengan pria yang mencintai dirinya, yang juga dia sukai.


Tak ingin melewatkan cerita saudarinya terlebih dahulu, Berlyn senagaja menghubungi kembarannya sebelum memberi jawaban pada Adriel. Kebetulan, amanya baru saja berangkat ke pasar bersama pembantu yang dipekerjakan di rumah mungil ini. Jadi, ia tidak khawatir lagi saat harus menelfon kembarannya.


"Halo, ada apa, Lyn?" jawab Clarissa.


"Apakah salah satu dari kakak beradik itu sudah menghubungi, mu?"


"Benar. Adriel meminta jawaban atas pernyataan cintanya semalam."


"Ya, dia kembali menyatakan cinta padamu. Hanya saja pada orang yang salah," jawab Clarissa dengan datar.


Berlyn tersenyum seorang diri. Saking penasarannya, kemudian ia bertanya, "Memang, apa saja yang dia katakan?"


"Aku merasa dia benar-benar tulus. Kau tak perlu menangisinya lagi. Saranku, jika memang kau cinta dia, katakan ya. Soal kak Axel, dia sudah berjanji tak akan ganggu kalian selama adiknya bisa membuatnya yakin kalau dia serius dan tak permainkanmu."


"Terimakasih banyak, Clarissa. Aku bangga padamu."


"Ya sudah, kau siap-siap. Sampai jumpa di kapan pesiar, oke?" ucap Clarissa kemudian ia mengakhiri panggilannya.


Setelah menelfon kembarannya, barulaj Berlyn memberi balasan pada Adriel. Memang, ini sudah terlambat. Tapi, bagaimana pun ia tetap meminta persetujuan pada kembarannya yang semalam telah menggantikan perannya.

__ADS_1


"Kamu mau jawabannya? Kapan? Sekarang, atau Nanti?" tulis Berlyn pada Adriel.


"Sekarang, dong. Bukannya lebih cepat lebih baik? Tapi, jika kau masih butuh waktu untuk mempertimbangkan, aku akan bersabar. Maafkan aku. Aku memang salah, karena telah menyakitimu demi tiga gadis nakal itu."


Berlyn hanya tersenyum setelah membaca balasan tersebut. 'Benar yang dikatakan Clarissa tadi kalau Adriel memang serius sama aku. Ia juga sudah minta maaf atas kesalahannya,' batinnya.


"Baik. Aku tunggu kau mengatakannya secara langsung, Nanti. Karena, aku butuh sosok yang benar-benar gentle untuk jadi pacarku. Agar, si bisu ini tidak lagi di-bully." tulisnya. Kemudian, ia sudah tak peduli lagi dengan benda pipih tersebut. Dilemparkannya asal, karena ia harus bersiap sebelum ama dan asisten rumah tangganya datang.


Sementara Clarisa, ia masih menunggu papa dan mamanya keluar kamar. Padahal, ini sudah pukul delapan. Tumben banget mereka belum bangun.


"Ah, dunia orang dewasa memang seperti itu," gumam Clarissa, ia berusaha keras mengusir pikiran kotornya. Bagaimana pun ia sudah dewasa. Terlebih, sekolahnya juga sudah tinggi. Jadi, tahu dong bagaimana proses perkembang biakan antara mahluk hidup. Salah satunya manusia. Bagaimana tak perlu dijelaskan, kalian sudah tahu, kan? intinya, manusia tidak berkembang biak dengan cara membelah diri.


Merasa bosan di kamar, ia pun pergi ke dapur. Menghampiri bi Yul yang sepertinya, juga kesiangan bangunannya. Karena, beliau juga ikut begadang.


"Non Berlyn sudah bangun? Mau sarapan dulu?" tawar bi Yul pada anak majikannya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Memberi isyarat, kalau ia akan sarapan bersama papa dan mamanya nanti.


"Baiklah, Non. Tuan dan Nyonya semalam juga sampai malam. Mungkin mereka lelah," ucapnya.


Clarissa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil memabatin, 'Tentu saja, aku juga yakin sampai dalam kamar mereka juga pasti tidak akan langsung tidur. Pasti kerja lembur dulu.


***


Delapan menit berlalu, Queen masih erat memeluk pinggang Al dari belakang. Ia mendadak berubah manja dan seperi wanita yang baru menikah saja. Tidak mau jauh. Al kian panik, ia khawatir kalau istrinya merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.


"Sayang, kau kenapa tidak mau mandi? Ayo, longgarkan lenganmu!" seru Al. Kemudian ia berbalik dan memeluk istrinya dengan erat.


"Cepatlah mandi, apa perlu aku mandiin?" goda Al.


Queen hanya tersenyum manja, kemudian menjawab, "ciumlah aku dulu."


Al tidak menjawab selain hanya tersenyum dan menatap lembut mata istrinya. Lalu, tanpa menunggu permintaan yang kedua kalinya, ia oin menciumnya dengan cukup lama sekali.


"Ini sudah pukul delapan kurang sepuluh menit sayang. Kau mandilah dulu, biar aku keluar dulu. Pasti Berlyn sudah bangun," ucap Al.

__ADS_1


Queen hanya mengangguk saja. Tapi, di wajahnya terlihat jelas sekali, kalau wanita itu sangat menikmati kebersamaan dengan sang suami. Tapi, ya setuju saja. Karena jam sepuluh nanti mereka harus sudah di pelabuhan.


__ADS_2