
“Kak, Al. Kamu tahu, tidak? Aku lagi bahagia banget, lo,
saat ini.” Ucap Hanifah, senang. Begitu pria yang ditelfonnya telang menjawab
dengan cepat.
“Oh, ya? Memang ada apa, Hanifah?”
“Kau tahu, Diaz mulai bisa menerimaku, dan katanya dia juga
mulai mencintaiku. Bagaimana kau yang sudah menikahi saudariku? Apakah dia
masih seperti kucing liar yang masih perlu cara kusus untuk dijinakkan?”
“Hahaha kau ini, bisa saja. Selamat. Kau pasti seneng
banget, dong!” seru Al.
“Ya, aku pakai rok Panjang dan kemeja lengan panjag. Kau
tahu bagaimana dia ketika membuka pintu rumah tadi?”
“Bagaimana memang?”
“Dia terpesona sama aku, Kak. Dan pas aku pulang, dia
bilang, akau kan lebih cantik dengan memakai jilbab, katanya.”
“Lakukan saja yang terbaik, menurutinya juga tidak ada
ruginya di kamu. Ya sudah, kakak sudah sampai kantor ini, kakak harus bekerja.”
“Baik, Kak. Makasih, ya?”
Dengan langkah semangat dan senyuman tipis yang tersungging
di bibirnya, Al melangkah, meninggalkan parkiran menuju ke dalam kantor.
Dia benar-benar tidak seperti biasanya. Jika biasanya para
staf dan karyawannya menyapanya sambil menunduk karena takut. Kali, ini dengan
menunjukkan keceriaan dan senyumannya dia justru malah yang menyapa mereka.
Bahkan, Al tak segan-segan memanggil nama mereka satu persatu. Tidak para
jajaran staf penting. Cleaning service pun juga turut di sapanya.
“Selamat pagi, semua,” ucap Al pada beberapa karyawannya
yang nampak bergerombil di salah satu koridor.
“Selamat pagi, Pak.”
“Itu masih pak Al, bukan?” ucap salah satu karyawati pada
temannya.
“Harusnya, iya. Kulihat kakinya masih menempel pada lantai,”
sahut salah satu temannya, yang semalam baru saja nonton film horror.
“Hush, ngawur kau ini. Kau pikir dia setan?”
“Eh, aku gak bilang dia setan, loh ya.”
“Mood bos kita sedang baik. Ayo, kita bekerja dengan baik
agar dia tetap seperti itu.”
“Tapi, kira-kira dia kenapa, ya? Asistennya kan tidak ada di
sini.”
“Gak tahu, dapat banyak dari bininya kali, semalam,
hihihi.’’
“Hus, kita gak tahu, sudahlah, jangan ngegosip terus.”
Dengan raut wajah ceria seperti tanpa beban, Al memasuki
ruangannya. Meskipun di dalam sana Queen tidak ada. Al memandang ke arah meja
di mana tempat itu yang biasa digunakan Queen bekerja membantunya menyelesaikan
tugas sebagai CEO pengganti papanya.
“Kenapa pula kamu harus ambil jurusan kedokteran, kalau
jurusan lain, bisnis, multimedia atau akutansi kan bisa di sini terus,” gumam
Al seorang diri.
Pria itu terperanjat saat memandangi meja di sudut
ruangannya ketika ponselnya berdering. Ternyata sang kakek yang telah
menghubunginya. Dengan sedikit terburu-buru, Al pun mengankat panggilan
tersebut.
“Halo, Kek. Ada apa?”
“Apakah di kantor sedang banyak pekerjaan?”
“Tidak begitu banyak, ada apa kek?”
“Ya sudah, nanti kakek akan ke sana bersama papamu, sekaligus mengumumkan kalau
minggu depan CEO perusahaan akan kembali dipegang olehnya.”
“Baik, Kek. Jadi, besok Al sudah pindah ke perusahaan
__ADS_1
interior saja?”
“Benar. Kau mau di situ saja, atau dibagian interior ya
terserah kamu, sih.”
“Aku dibidang interior saja deh, Kek. Tetap sama Queen,
kan?”
“Lihat bagaimana dia. Ingin jadi asistenmu, atau papamu, kau
jangan terus-terusan menggodanya. Dekati dia dengan cara halus, kecuali, jika kau tak ingin memberi kesempatan kakekmu yang sudah tua ini memiliki cicit.”
“Baiklah. Aku mengerti, Kakek.” Al pun mematikan panggilan
dari sang kakek. Kemudian ia berbalik menelfon Juna melalui telfon kantor.
“Halo, Pak.”
“Kamu beritahukan pada semua staff, nanti aka nada kunjungan
dari owner perusahaan. Dan CEO kita, Pak Vano akan kembali memimpin di sini.”
“Mengerti, Pak. Akan segera saya laksanakan.”
Usai memutus panggilan dari CEO sementara yang memimpin
perusahaan di mana tempat Juna bekerja. Pria itu pun langsung menelfon Al
melalui panggilan seluler pribadinya.
Al yang melihat panggilan dari si ulat bulu itu merasa risi
sebenarnya. Tapi, karena moodnya sedang baik, dan juga ingin memuaskan rasa
ingin tahu salah satu sahabatnya itu pun ia mengangkatnya. Bahkan nada
bicaranya pun juga tidak begitu datar.
“Halo, Jika kau mau tahu bagaimana selanjutnya, Papaku hanya
memegang perusahaan garmen. Sedangkan aku, kembali ke asal, namun masih akan
menghandle di perusahaan Interior milik kakek.”
“Hahaha. Kau tahu juga niat ku apa Bro, menelfonmu secara
pribadi,” jawab Juna, sambil diiringi oleh suara gelak tawanya.
“Memang mau apalagi? Bukankah sudah jelas? Udah kamu kerjakan?”
“Tenang, semuanya beres.”
“Ya sudah, selamat bekerja, Kau.” Al pun mematikan panggilan
pribadinya, dan mulai memandang ke arah monitor komputernya.
🍁🍁🍁
ini. Dia benar-benar telah dibuat bete oleh Al pagi tadi.
Sebelum jam kerjanya di mulai, wanita itu menyempatkan diri
untuk menelfon sahabatnya, agar dia tidak menjemputnya nanti pada saat ia
pulang kerja. Sebab, dia tak ingin membuatnya kecewa. Entah dia datang lebih
dulu, atau tidak, Al sudah kian gila dan pasti apa yang dia mau juga gak bakal
bisa ditawar lagi.
“Halo, Queen. Ada apa kau menelfonku sepagi ini?” jawab
seorang gadis dari seberang sana.
“Shin, sorry ya. Keknya kita gak bisa keluar hari ini.”
“Oh, pasti kau ada kesibukan lain. Tidak apa-apa, Queen.
Kita bisa pergi lain kali,” jawab gadis itu dengan tenang.
“Iya, Nih. Maaf banget, ya Shin. Aku yang tidak enak sendiri
sama kamu. Kan, aku yang ngajak keluar duluan,” jawab Queen, penuh dengan rasa bersalah.
“Udah, tidak apa-apa. Kamu, tenag saja. Gak perlu merasa
tidak enak begitu, jika ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku
selama aku ada di rumah.”
“Makasih banget, ya Shin.”
“Udah, kita sahabat sejak kita masih SMP dulu, kenapa kau
jadi selebai itu, Queen,” jawab Shinta.
Karena sudah mulai jam kerja, Queen pun mengakhiri
panggilannya dengan sahabatnya. Sementara Shinta sendiri, lanjut mengeringkan
rambutnya dengan hair drayer.
“Sayang, Ayo bangun, apakah kau tidak mau sarapan?” ucap Shinta
pada pria yang kini tengah berada di ranjangnya dengan tubuh tertutup badcover putih polos.
“Emmbbb.” Pria yang baru sekitar satu minggu silam
dikenalnya itu hanya mengeliat malas. Mungkin saja dia kelelahan, dan merasa
nyeri di beberapa bagian tubuhnya.
__ADS_1
“Kamu mau, kan temani aku jalan? Ada beberapa mekap aku yang
habis, nih,” imbuh gadis itu sambil membuka foundation yang tertata rapi di atas
meja rias dengan beberapa alat rias yang lainnya.
“Apakah kau tidak jadi jalan sama Queen?” jawab pria itu,
saat mulai membuka sebelah matanya.
“Tidak, entah kenapa, mungkin dia ada urusan.”
Pria itu pun terkekeh dan berkata, “Pasti ada masalah dengan
suaminya. Apa lagi, coba?”
“Sudah, ayo bangun. Memang kau tahu apa tentang dia? Aku
kenal baik dengannya sejak SMP, loh. Dan mulai bersahabat ketika SMA. Kurasa
kau hanya akrab dengan Al saja, kan?”
“Ya, justru itu, Semalam, perjalanan kemari, aku sempat menelfonnya.
Dia menggerutu tiada henti karena tak dapat jatah.”
“Hah, apakah hal seperti itu juga ia ceritakan padamu?”
“Tidak, dia mengumpat terus saat aku menelfonya, setelah
kutanya, dia bilang kalau pintu kamar Queen dikunci dari dalam. Padahal, siang
dan malamnya juga sudah diperingatkan.”
Shinta dan Vico pun akhirnya sama-sama tertawa.
“Sudah, kau mandilah, dan kita sarapan, ya?” ucap Shinta
dengn nada sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Vico yang hanya
mengenakan celana boxer.
Shinta dan Vico tanpa sengaja kenal seminggun yang lalu
ketika Shinta baru saja pulang dari rumah Queen. Saat hendak keluar halam rumah
megah bak istana itu, Shinta tanpa sengaja menyerempet mobil milik Vico yang kebetulan akan masuk ke dalam rumah tersebut.
Merasa bersalah karena kurang hati-hati, gadis itu pun turun
dari mobil mewahnya dan meminta maaf. Sementara Vico yang akan mengomeli gadia
itu pun hanya diam, bengong, terhipnotis akan pesona dan kecantikan Shinta.
“Aduh, Mas. Maaf, banget, ya? Saya benar-benar tidak sengaja,”
ucap Shinta. Dia takut, kalau saja mobil pria itu ada yang tergores, apalagi
penyok, dia akan menghabiskan gaji sebulannya untuk memperbaiki mobil orang tersebut.
“E… Tidak apa-apa, siapa kau kok keluar dari rumah ini?”
“Saya sahabatnya Queen, Mas. Kemari untuk menjengkuk om Vano
yang baru saja sadar dari koma hampir dua tahun lamanya.
Vico terdiam, apa yang dikatakan gadis di depannya itu
adalah benar. Tak ada gelagat kebohongan di wajah maupun gestur tubuhnya sendikitpun. Artinya dia
gadis bener dan bukan orang jahat.
“Ya sudah, ayo ikut denganku, awas jika kau kabur, jangan
harap bisa lolos dariku,” ucap Vico dengan nada sok marah dan diseram-seramin
agar gadis itu jadi takut dan patauh.
Di dalam mobilnya, Vico terus memantau mobil Lamborghini warna
kuning itu dari spion tengahnya. Sebenarnya ia ingin melihat om Vano secara
langsung. Tapi, karena Al dan yang lain masih belum tahu kalau dia sudah berada
di Indonesia, tidak ada salahnya, kan kalau bersenang-senang dulu dengan gadis
cantik di negeri sendiri? Siapa tahu jodoh0. Dari cara berpakaian Shinta yang sexy dan kurang bahan juga sudah bisa
ditebak, kalau dia gadis yang sangat menikmati hidup.
Dari situlah, semuanya berawal hubungan antara Shinta dan
Vico. Shinta yang merasa takut dengan pria itu, menuruti saja apa maunya.
Setidaknya Vico masih memiliki wajah yang dapat dikategorikan tampan, Jadi,
Shinta tidak begitu keberatan. Tapi, beberapa hari bersama, rupanya membuat
semuanya telah berubah. Dalam hitungan hari dan sesingkat itu, dua insan
tersebut saling jatuh cinta. Bahkan, Vico juga berniat untuk melamarnya dalam
waktu dekat. Entah, sebelum ia kembali bertugas menjadi pramugari, atau, dia
menyusulnya di luar Negeri? Yang jelas, Vico benar-benar ingin menyudahi petualangannya.
Ia merasa sudah lama dan puas bermain-main dengan banyak gadis. Dan mungkin Shinta juga sudah lelah bila terus begini. Sudah saatnya ia membuka hati pada pria untuk hidup bersama selamanya.
pada wanita. Hatinya kini benar-benar tertampat pada Shinta.
Ah, entahlah, bagaimana reaksi Al dan Queen jika mengetahui
kenyataan ini. Apakah mereka akan terkejut dibuatnya?
__ADS_1
Papa Vano is back ....😆😆😆