Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die28


__ADS_3

Queen masih menangis. Tapi, ini salah. Dia sedang menguatkan gadis yang tengah patah dan berputus asa. Jadi, ia harus terlihat kuat. Di hapusnya air mata yang mengalir di kedua pipinya. Lalu melepaskan pelukannya pada Bilqis dan menatap dalam pada mata gadis itu lekat-lekat. "Kau kehilangan apa, sih? Kau tidak cacat, kan?" ucap Queen dengan air mata yang terus berjatuhan meski ia sudah berusaha kuat dan tegar.


"Aku hancur, Ma... siapa pria yang mau dengan bunga yang sudah layu dan kering?" ucap Bilqis sambil terus terisak, dengan tatapan kosong namun berusaha fokus menatap wajah wanita yang juga dipangilnya mama selain Nayla, wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Kau salah jika berfikir demikian, Bilqis! Banyak, kan wanita malam yang akhirnya dia menikah dengan pria baik-baiak yang mampu membawanya dalam kehidupan normal yang bahagia? Sebagian dari mereka saja bisa jika benar-benar ingin berubah dan mengakhiri hal buruk dalam hidupnya yang penuh dosa. Bagaimana mungkin tidak dengan kamu yang hanya dijebak? Ini bukan atas kemauan kamu. Bangkit dan lupakan. Mulai dari sekarang, belajarlah membuka hati pada pria yang terlihat seperti mengingnankan mu dengan serius."


"Mana bisa, Ma? Bilqis merasa tak layak untuk mereka. Bilqis sudah jadi baran bekas layaknya sampah yan harus dibuang," ucap gadis itu lagi sambil terus menangis. Menunduk dan menghindari tatapan mata Queen.


"Sudah mama katakan, Bilqis! Ini hanya sebuah kecelakaan saja. Apanya yang tidak bisa? Selama kau mau berusaha meraihnya dengan sedikit keras cita-citamu, tidak akan  mustahil, kan memeluk gunung?"


"Iya, Mama."


"Kelak jika ada pria yang memang meninginkanmu, mengatakan ingin menikah dengan mu atau ia ingin kau jadi istrinya, kau bisa katakan kalau kau kehilangan kesucianmu karena dijebak, ceritakan kejadian ini padanya. Maka, pada saat itu lah, kau baru tahu keseriusan pria itu. Jika dia mundur dan menghilang maka jangan kau tangisi kepergiannya. Karena dia bukan yang terbaik untukmu. Tapi, jika ia tidak mempermasalahkan ini, maka jaga dia semampumu. Itulah cinta yang sebenarnya. Tak inginkan apa yang ada pada dirimu hanya karena kelibihanmu saja. tapi, juga sudi menerima kekurananmu."


"Baik, Ma. Terimkasih," ucap Bilqis sambil memeluk Queen.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? kau sudah merasa lebih baik, kan? Di luar, mama Nay menunggumu. Ia menghkawatirkanmu dan semalaman tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Temui dia dan ngobrolah dengannya, ya?" bujuk Queen.


"Aku... aku.... "


Queen memperhatikan dengan seksama bahasa tubuh dan sorot mata Bilqis yang terus menghindar. Ada rasa emosi dan kebencian tersendiri di hati gadis ini. Ia merasa kalau mamanya adalah penyebab utama atas kejadian buruk yang telah menimpanya. Terlihat jelas sekali, dalam angannya jika saja tidak pake acara jodoh-jodohan dengan pria yang bahkan dia sendiri juga tidak tahu, dia tidak akan kabur dan bersama Tiara.


"Bilqis, dalam hidup ini jangan pernah menyalahkan siapapun akan hal buruk yang menimpa kita, oke? Semua itu adalah takdir. Mama mu tak pernah inginkan ini terjadi. Dia juga akan hancur saat tahu kau mengalami hal tragis seperti ini. Berhenti menyalahkannya, intropeksi kenapa sampai begini. Namun, terlalu menyalahkan diri sendiri juga salah."


"Siapa yang salah, Ma? Apakah Tiara?"


"Jika pun benar dia yang bertanggung jawab atas apa yang menimpamu, mama minta jangan dendam. Kelak ia akan menerima karmanya. Hidup ini penuh ujian, orang di sekitar kita, adalah ujian bagi kita. Pun juga diri kita sendiri, adalah ujian untuk beberapa orang di sekitar kita."


"Ya, aku akan keluar. Akan kutemui dia dan kukatakan kalau aku baik-baiak saja. meskipun yang berharga sudah hilang, " ucap Bilqis sambil tersenyum. Meskipun tatapannya sedikit kosong.


"Bagus!" puji Queen kemudian menggandeng tangan Bilqis dan mengajaknya berjalan menhampiri Nayla yang kini sudah bersama Adriel dan Axel. Padahal tadi, ketika Queen meninggalkannya ia bersama Al.


"Mama!" panggil Bilqis pada wanita yang terus terisak di hadapan dua pria dewasa dan remaja itu.


Entah mengapa. Kejadian yang terjadi pada Bilqis semalam seperti telah merubah jalan pikiran dan kondisi hatinya dengan cepat. Saat ia melihat Axel, ia seperti sudah tak lagi menginginkan pria itu kembali. Antara berfikir kalau pria itu tak menginginkan nya, malu karena melawannya yang akhirnya justru membuatnya celaka. Atau, merasa sudah tak layak lagi untuk pria tampan, cerdas dan tak pernah terlibat scandal dengan wanita sekalipun?


"Bilqis? Kau baik-baik saja, Nak?" Nayal beranjak berlari dan memeluk putrinya.


"Seperti yang kau lihat, Ma. Aku baik-baik saja," jawab Bilqis sambil tersenyum. Walau dalam hati ia bergumam, kalau mahkotanya telah hilang akibat ulah sahabatnya sendiri.


"Sykurlah! Maafkan mama ya, Nak? Mama janji tidak akan memaksamu dalam melakukan apapun. Kau sudah dewasa, harusnya mama lebih percaya sama kamu dari pada orang lain."


Bilqis melepaskan pelukan dan menatap mamanya dengan tajam. Ia kian merasa bersalah pada Axel saat mamanya mengatakan orang lain. Sekalipun mamanya tidak menunjuk dan menyebut satu nama, tetap saja. Nayla bisa melarang Bilqis jaga jarak dengan Tiara juga karena Axel, kan?


"Apa maksutmu orang lain, Ma? Apakah yang kau maksut kak Axel? Dia bukan orang lain. Justru dia keluarga yang sebenarnya. Dia berusaha menyelamatkanku dari kandang buaya. Tapi, aku yang justru masuk ke dalam nya sendiri,"


Apa maksudmu, Bilqis?"


"Aku lelah. Aku ingin istirahat dulu, maafkan aku," ucap Bilqis lalu berbalik arah dan masuk ke dalam kamar yang tadi ia tempati. Ia tak mau berdebat pada mamanya. Karena itu tidak akan membuat yang hilang akan kembali. Justru seharusnya dia malah meminta maaf dan berterima kasih pada Axel. Namun, ia terlalu malu dan belum siap mental untuk bertatap muka secara langsung dengan pria pemilik manik mata biru keabu-abuan itu.


"Apa yang terjadi padanya, Queen?" tanya Nayla.


"Sudahlah! Ini musibah. tidak ada gunanya kita saling menyalahkan satu sama lain. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar dia tetap optimis dalam menjalani kehidupan."


"Apa maksutmu berkata demikian, Queen?"


"Kau barusan seperti menyalah Axel. Dia emosi, sebab, ia sudah menerima dirinya sendiri tanpa menyalahkan orang lain."


"Apa yang terjadi sebenarnya, Queen?"


Queeen menghela napas dalam-dalam sambil melihat sekeliling. Mau dikatakan atau tidak, cepat atau lambat mereka juga akan tahu semua. Jelas dalam kasus ini adalah Tiara yang bersalah.


"Tiara menjebaknya. Dia menjual Bilqis pada tiga pria sekalius. Jadi, ia frustasi berat. Sudah kehilangan satu hal yang palin berharga dalam hidupnya sebagai wanita, dikeroyok oleh tiga pria dan mereka sangat brutal dan kasar. Hal itu membuatnya depresi dan trauma sehingga ia berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Untung saja Axel dan Berlyn segera menemukannya. Jika tidak, bukan hanya kau, tapi kita semua akan kehilangan dia selama-lamanya."


"Apa?"


Seketika Nayla langsung jatuh pingsan karena syok dan hampir tak percaya atas apa yang di dengar olehnya.


Mendengar suara berisik di luar, Al mengajak putrinya untuk keluar melihat apa yang terjadi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Al ketika mendapati Nayla yang sudah berada di atas sofa dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Queen diam tidak langsung menjawab. Ia lelah untuk berceritakan kejadian ini.


"Aku harus bagaimana?" Queen malah tanya balik pada suaminya yang bahkan tidak tahu apa-apa.


"Di mana Bilqis? Apakah dia baik-baik saja."


"Ya, dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Mungkin kau bisa menemuinya."


Kembali, Al mengajak Berlyn untuk menemui Bilqis yang tengah mengunci diri di dalam kamarnya. Mungkin saja gadis itu juga tengah menangis.


"Toook... took!"


"Siapa?" sahut suara wanita dari dalam.


"ini papa, Sayang," jawab Al.


"Dengan siapa papa kemari?" Kali ini suara gadis itu sudah dekat dengan pintu.


"Papa bersama Berlyn."


"Ceklek!":


Dengan mata sembap dan wajah yang terlihat pucat Bilqis membuka pintu dan bertaka lirih pada mereka, "Kalian cepatlah masuk!"


Begitu Al dan Berlyn sudah masuk, gadis itu kembali menutup pintu dan menguncinya. Sepertinya dia tak ingin menemui salah satu dari mereka. Tapi, dia tidak mengatkan apa-apa dan tetap berdiri di depan pintu mentap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Bilqis, apa yang terjadi, Nak? kamu ceritakan pada kami," bujuk Al dengan lembut.


"Aku sudah gak prawan lagi, Pa. Aku kehilangan diriku malam itu. Ternyata memang ada alasan kenapa kak Axel sangat membenci Tiara dan tak menyukai gadis itu. Dia jahat, dia telah menjualku pada tiga pria tua sekaligus," jawabnya langsung to the point.


Berlyn memasang ekspresi terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia hampir tidak percaya kalau sahabat karib kakaknya bisa menusuk dari bekang begitu.


Al menghampiri Bilqis perlahan, ia bingung harus berkata apa. Tapi, ia yakin kalau istrinya sudah mengatakan sesuatu sehingga gadis ini bisa terbuka. Lain dengan tadi, bicara sepatahpun tak mau.


"Kau yang sabar dan tetaplah menjadi kuat, ya? Ini bukan akhir dari segalanya, ini hanya kecelakaan bukanlah kesengajaan. Kau tak pernah inginkan ini, bukan? ucapnya sambil menepuk kedua bahu Bilqis.


Namun, gadis itu memeluk haru Al dan memanggilnya dengan sebutan papa.


"Terima kasih, Pa. Kau dan mama Queen memang yang terbaik," ucap Bilqis terus memeluk erat pria itu.


"Iya, iya sayang. sudahlah kau sekarang tenang, oke? jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting," ucap Al berusaha melepaskan pelukan Bilqis.


Berlyn melangkah menghampiri keduanya, kemudian, ia mengelus lengan Bilqis dan memeluknya saat gadis itu menghadap pada dirinya.


Sepertinya gadis itu tahu, kalau papanya tidak suka dipeluk oleh Bilqis. Jadi, ia menawarkan pundaknya untuk bersabdar oleh Bilqis yang sudah dari dulu menjaganya dengan baik.


"Berlyn... Terimakasih, ya?" Ucap Bilqis sambil membalas pelukan adiknya.


Gadis itu mengangguk,


Bingung dan tak ada yang dikerjakan, serta suasana rumah pun juga terasa sangat canggung. Akhirnya Axel pun mengajak adiknya untuk kembali pulang. Entah apa yang akan dikerjakan di rumah, yang penting ia terbebas dari suasana seperti ini saja duli. Sebab, untuk menenangkan Bilqis dia juga tidak bisa.


Bukannya dia tidak bisa. Tapi, apa sih yang tidak lebih mennenangkan dari wanita yang setelah kehilangan kesuciannya selain kata, 'tenanglah jangan takut Aku disini untumu. Aku mau menerima mu apa adanya sekalipun kegadisan mu sudah hilang.' Sedangkan Axel sedikitpun Tidak memiliki rasa cinta pada gadis itu. Cintanya hanya pada Berlin seorang.


"Driel. Kita pulang, yuk!" aja Axel pada adiknya.


"Kenapa kita harus pulang sekarang? Kenapa tidak nanti malam saja, kak?" Jawab remaja itu ia sengaja mengulur waktu. Menunggu Berlin sendiri agar dia bisa menghampirinya dan mengajaknya mengobrol bersama. semalaman nonton bersamanya ia merasa tidak puas karena mereka tidak sendiri melainkan ada orang tua yang mengikutinya.


"Sudahlah, kita pulang saja dulu. Di sini mau ngapain? Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Biar kan Kak Bilqis tenang. Dia tidak butuh banyak orang ada di sampingnya. Dia hanya butuh ketenangan dan berbicara hanya dengan orang yang dianggap bisa memberikan solusi, sedangkan kita tidak bisa memberi masukan apa-apa."


Adriel tahu, kalau Berlin bersama papanya masuk ke dalam kamar Bilqis. Pria remaja itu masih berharap agar gadis itu segera keluar dan bisa diajak ngobrol. Namun, karena tak kunjung keluar Ia pun akhirnya menyerah juga.


"Oke, baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang," jawab Adriel kemudian ia berpamitan pada Queen dan titip salam pada Berlyn juga papa Al.


Karena mereka berangkat sendiri-sendiri, Axel menggunakan sepeda motor sedangkan adriel memakai mobil. Jadi Axel lah yang lebih dulu tiba di rumah. Sesampainya disana ia menyiapkan makan siang untuknya dan juga adiknya. So, begitu adiknya tiba mereka langsung makan bersama dan menyempatkan diri untuk berbincang kemudian kembali ke pada aktivitas dan kesibukan masing-masinh. Axel pergi ke GYM, sementara Adriel memilih tetap di rumah dan menghabiskan waktu sambil chat dengan Berlyn.


Tiba di GYM milik omnya, Axel mendapatkan sebuah kejutan. Dia mendapati Tiara sedang berolahraga disana entah, gadis itu tahu atau tidak kalau itu adalah milik omnya dan Axel sering ke sana. Mungkin saja tidak. Seandainya tahu, mana mungkin dia ke sini, kan? Jika iya, sama aja dia mencari mati.


Dengan segera Axel meletakan tas ransel yang dibawakannya. Kemudian, ia melangkah menghampiri gadis itu digenggamnya erat pergelangannya, lalu menyeretnya di tempat yang sedikit jauh dari jangkauan pengunjung. Diintrogasi nya Tiara. Ia mencecar banyak pertanyaan pada hadis nakal itu yang membuat Bilqis sampai depresi. Meskipun ia sudah tahu apa penyebabnya, namun, pia itu ingin mendengar sendiri jawaban dari Tiara.


"Aduh, aduh! Kak Axel, apa yang kau lakukan? Ini menyakitiku," keluh Tiara, sambil berusaha melepaskan cengkraman Axel. Serta beberapa kali dia hampir terjatuh karena tak mampu mengimbangi langkah Axel yang terlalu cepat.

__ADS_1


Axel menghempaskan Tiara di ruang ganti. Ia menatap gadis itu dengan tatapan mata yang tajam serta wajah penuh emosi. "Katakan padaku dengan jujur. Apa yang kau lakukan pada Bilqis?" bentaknya.


"Apa, sih kak? Kamu itu ngomong apa? Aku bahkan tidak tahu Bilqis ada di mana," jawabnya. Sedikit tergagap sambil berusaha menghindari tatapan mata Axel.


"Bohong! Kamu jawab!"


"Aku tidak tahu! Mau sampai kapan dan berapa kalipun kau bertanya padaku, jawabannya aku tidak tahu."


"Kau hanya tidak tahu keberadaan Bilqis saat ini. Tapi, yang kutanyakan, apa yang kau lakukan padanya saat terakhir kali bertemu?"


"Apa? Aku bahkan lupa kapan terakhir ketemu. Sudah seminggu lebih aku tidak bertemu dengannya."


"Plak!"


Axel mengepalkan tangannya kuat-kuat setelah menampar keras pipi kanan Tiara. Ini pertama kalinya dia menampar seorang wanita. Entah, dia yang tak punya kendali, atau Tiara yang terlalu menyebalkan.


"Sudah berapa kali aku berkata padamu, jawab dengan jujur. Kau jangan bohong," ucap Axel dengan emosi yang tertahan.


"Tapi... aku benar-benar tidak tahu, Kak. Harus ku jawab, apa?" jawab Tiara sambil memikirkan sesuatu. Kemudian, beberapa saat ia berkata lagi, "oh kemarin dia bolos kerja, dan aku mengajaknya ke tempat karaoke. Sudah, itu saja setelahnya dia pulang ke rumah tante Queen,kan? Dia juga bilang padaku kalau dia bertemu denganmu di sana,"


Axel tertawa miring. Sedikit memalingkan wajahnya. Kemudian, kembali manatap Tiara dengan tatapan yang sama. "Jika benar kejadiannya seperti itu, katakan padaku sekali lagi dan tatap wajahku!"


Tiara diam tak berkutik. Sepatah katapun juga tidak terucap darinya.


"Kenapa diam? Kau tidak berani, bicara kan? Jelas kau berbohong. Kau melakukan sesuatu padanya. Demi keuntungan pribadi mu, bahkan kau rela menjual sahabat karibmu. Sahabatmu sejak kelas satu SMP. Itukah yang dinamakan sahabat?" Axel mendorong Tiara dengan jari tunjukannya sampai jatuh tersungkur atas lantai. Kemudian, Axel pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak mood lagi berolah raga.


Merasa terganggu dengan pikirannya sendiri, Axel pun mulai bertindak. Dilacaknya di hotel mana Tiara menjebak Bilqis. Ia ingin menelusuri. Siapa tahu, dengan bukti rekaman cctv ia bisa mendapatkan petunjuk atau bukti.


Kala ia menyetir, bayangan wajah Bilqis terus terbayang di benaknya, dan itu, sangat menggangunya.


'Kenapa kau pbegitu perhatian padaku? Bukankah selama ini kau tidak peduli?'


'Apa? Adik? Kita tak meliki stetespun hubungan darah. So, kamu jangan bermimpi. Urus saja Berlyn mu yang kelak mungkin akan menjadi istrimu. Mau berteman pada siapa aku, kau gak usah repot-repot meluangkan waktu untuk menyelidiki. Itu bukan urusanmu.'


'Kau ini bukan aku, Kak Axel! Bagaimana bisa, kau mengerti aku?' Dengan mata yang sembab di tengah-tengah isakannya, Bilqis berdiri di tepi gedung dan siap untuk melompat. Axel terus terbayang kata demi kata dengan berbagai eksprei yang pernah terucap oleh Bilqis padanya.


"Arrrgh! Kau ini, bocah bandel sekali, Bilqis. Kau benar-benar bandel! Coba saja kau bisa sedikit patuh dan mendengarkanku sekali saja. Hal buruk ini tak akan menimpamu!" umpat Axel sambil menggebrak setir mobil.


"Sekarang coba kita lihat, sebagai orang yang menganggapmu adik, aku peduli apa tidak? Kepedulianku padamu hanya sebatas kata, apa juga tindakan?" ucap Axel lagi, dan itu pun seorang diri. Karena di dalam mobil tidak ada orang lain selain dirinya. Ia merasa stres dan hampir gila saja oleh bayangan-bayangan wajah Bilqis. Telinganya yang terngiang-ngiang oleh kata-kata dari gadis itu juga rasanya sampai berdenung dan bahkan juga bisa tuli.


Belum sampai hotel tujuan, Axel teringat sesuatu, kalau untuk mendapatkan sebuah rekaman CCTV dari sebuah hotel, restoran dan fasilitas umum lainnya tidaklah mudah. Tidak semua petugas bisa disuap oleh duit. Ada yang mintanya bahnyak, lebih banyak lagi dan tetap kosisten tidak mau menerima sepeserpun.


Jadi, hal itu yan membuatnya berfikir untuk menghubungi salah satu teman SMA nya dulu yang kini sudah menjadi polisi dengan jabatan sebagai komandan. Lumayan, dengan begitu, dia bisa lebih mudah mendapatkan barang bukti berupa rekaman.


“Halo, Ndre. Kau sedang sibuk, tidak?” tanya Axel saat panggilannya sudah tersambung. Sekalipun hubungan mereka tidaklah akrab. Namun, dia dan Andre masih sering aktif di media social. Saling komen dan DM. Kebetulan Axel juga masih menyimpan nomornya dan masih aktif. Jadi, ini cukup membantunya.


“Axel… apa kabar, kau? Aku baik-baik saja. Tumben sekali ini kau telfon. Apakah terjadi masalah?” tanya pria itu dengan ramah dan menunjukkan nada sikap yang siap membantu.


“Ya, bisa dikatakan begitu. Kau hari ini sedang piket,


apa lagi, free nih?”


“Tidak ada. Aku sedang santai ini. Kan hari minggu.”


“Bisa kita bicara? Posisi di mana biar aku samperin kamu.”


“Oh, begitu? Dengan senang hati. Aku sekarang berada di rumah. Kemarilah, aku kenalkan kau dengan anak keduaku, dia sangat imut, cantik dan lucu,” jawab Andre. Kemudian Axel tertawa. Bukan apa-apa. Dia sedikit deg-deg an saja. Andre kan punya adik yang berusia duapuluh empatan tahun, dia juga belum menikah, kenapa tidak mengenalkan dia dengan adiknya saja. Kenapa harus putrinya yang baru berusia satu tahun? Kan, aneh.


Tidak. Sekalipun Axel benar-benar dikenalkan dengan adik dari temannya, ia tetap setia pada Berlyn seorang. Antara cinta dan ingin jadi menantunya Queen dan Al. keduanya sama-sama kuat. Jadi, tekatnya pun bulat.


“Hahaha, baiklah. Ya sudah tunggu aku.”


Sesampainya di sana, Axel menceritakan kronologi masalah dan tujuannya datang ke mari.


Sementara Andre, ia tersulut emosi oleh apa yang baru saja Axel sampaikan padanya.


“Ini tidak bisa dibiarkan, Xel. Mending gadis itu segera dipenjarakan saja. Ya sudah, kita ke hotel dulu minta rekaman CCTV agar tahu, mana tiga lelaki itu. setelahnya, kau buat laporan penuntutan pada Tiara atas kasus prostitusi. Agar, tim kami bisa segera menangani ini,” ucap Andre.


“Ya sudah, pakai satu mobil saja, mobilku. Nanti, setelah selsesai aku bisa mengantarmu pulang,” ucap Axel.


“Baiklah, jika itu tidak merepotkanmu. Aku ambil kartu anggota kepolisianku dulu.”

__ADS_1


“Tentu saja tidak. Justru akulah yang sebenarnya merepotkanmu,” timpal Axel.


Tidak berselang lama, Andre pun kembali. Sengaja pria itu tidak mengenakan pakaian seragam agar tidak menarik perhatian pengunjung hotel. Ia cukup membawa kartu tanda anggota kepolisian Indonesia saja sudah cukup.


__ADS_2