
Usai mendorong tubuh Nayla keluar dari kamarnya, Queen pun
langsung mencuci muka dan merebahkan diri di atas kasur.
“Haaah, hari yang melelahkan sekali. Queen meraba nakas
mengambil album foto yang baru beberapa hari ia letakkan di sana. Ya, itu
adalah foto dirinya dan Al saat ia masih remaja dulu.
“Kamu di mana sih, Al? aku minta maaf sama aku. Aku ngaku
salah,’ ucap Queen seorang diri. Ia memandangi foto itu sampai terlelap.
Sedangnkan di kamarmnya, Nayla bingung sendiri seperti orang
kebakaran jenggot. Berusaha memikirkan cara untuk membuat Al, suaminya membenci Queen dan menceraikannya. Tapi,
sampai tengah malam bahkan Nayla belum juga bisa menemukan sedikit ide. Sebab,
dari dulu Queen memang tak pernah salah di mata Al. Baru kali ini saja Al marah
sama Queen. Ingin menelfon Jevin, juga sudah malam.
Mentari pagi mulai menaik sinarnya menyembul. Sinarnya yang
menembus gorden kamar, menyilaukan netranya. Di atas ranjang, seorang wanita
masih terlihat ngantuk dan leleh kembali menguap dan mengeliat meluruskan
ototo-ototnya, kemudiam berdiam di tempatnya sesaat dan duduk di ranjangnya
seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Al, kamu ke mana, sih? Pulang gak semalam?”
Queen pun beranjak menuju toilet, mencuci muka dan keluar
kamar untuk memastikan. Begitu tiba di lantai bawah, tempat yang ia tuju adalah
kamar yang biasa Al gunakan untuk tidur.
Tapi, Queen harus kecewa, karena Al tidak di sana. Bahkan
kasur di sana juga tetap rapi, taka da bekas seeprti baru ditempati.
Wanita itu hanya menghela napas dan keliar. Ia tidak bisa
percaya kalau suaminya tidak pulang. Ia ingin melihat ke sendiri ke bagasi.
Trenyata benar, memang mobil yang Al pakai untuk pergi kemarin sore tidak ada.
Dengan kecewa, Queen pun kembali masuk ke dalam. Saat
sarapan pun ia juga nampak murung tidak seperti biasa.
Sekitar jam sepuluh pagi, Vano menerima panggilan.
Sepertinya dari kantor, mereka menginformasikan ada clien yang ingin bertemu,
dan Al tidak masuk bekerja, nomor juga tal bisa dihubungi. Jadi, ia terpaksa
harus ke sana menggantikan Al menemui seorang client.
“Siapa yang menelfon, Pa?” tanya Queen.
“Telfon dari perusahaan, Sayang. Papa sepertinya harus ke
kantor sekarang. Jaga diri di rumah ya?” ucap Vano, kemudian ia pun ke kamar
untuk berganti pakaian resmi kemudian ia pun berangkat ke kantor. Sementara
Queen untuk membuang rasa jenuh dan bosennya, ia memutuskan pergi ke tempat
Gea. Kebetluan dia sedang ada di rumah.
Sedangkan Nayla, begitu menyadari rumah tengah sepi, Ia
tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu degan Jevin. Di sana ia
mengadukan semua yang terjadi.
“Kamu keliatan sedih banget, kenapa, sih?” tanya Jevin pada
Nayla.
“Jev. Ternyata diam-diam, Queen dan mas Al sudah menikah
lebih dari tiga bulan,” jawab Nayla sambil menangis di pelukan Jevin.
Jevin diam. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa, kakak
beradik melakukan pernikahan? Bukankah itu dilarang?
“Mereka menikah? Bagaimana bisa?” tanya Jevin heran.
“Ya, ternyata dalang di balik semua ini adalah kakek
mertuaku. Pantas saja dulu, saat acara pertunangan Queen dengan Diaz. Mas Al
tiba-tiba saja muncul dan membawa Queen pergi entah kemana. Dan dengan mudahnya
dia menggantikan Queen dengan Hanifah. Mas Al sendiri sebenarnya bukan lah anak
kandung dari kedua mertuaku, Jev. Katanya sejak usia enam tahun, ia diadopsi
dan mendapatkan perlakuan yang setara dengan Queen putri kandung mereka.
Bahkan, kakek Andreas, papa dari papa mertuaku mempercayakan perusahaannya di
Jepang sana padanya. Sejak lulus SMA dia sudah digembleng dengan keras, Karena
dia sudah dianggap putra dan cucu kandung, jadi ia harus menjalankan apapun
sesuai tanggung jawab dari cucu kandung seorang owner, kan? “
“Sudah, kamu tenag. Jangan sedih, ya? Kan masih ada aku,”
hibur Jevin sambil mengelus kepala Nayla yang bersandar di dadanya.
“Queen semalam juga bilang akan membuat mas Al
menceraikanku, Jev. Bagaimana jika aku benar diceraikan oleh mas Al akibat ulah
Queen?”
“Kan ada aku, Nay? Kita bisa menikah,” ucap Jevin.
Jevin terus mengelus kepala Nayla. Tapi, dalam benaknya, ia
memikirkan betapa beruntungknya Al. Selama ini dia benar-benar tidak menyangka
kalau dia hanyalah seorang anak pungut. Lalu, dari mana dia berasal sebenarnya?
__ADS_1
Siapa orang tua kandungnya? Bagaimana bisa mirip dengan pak Vano?”
Sudah hampir satu minggu Al sudah tidak pulang kerumah, dan
taka da kabar. Sedangkan papa Vano sudah mulai kembali mengurus perusahaan yang
sudah dua tahun lama ia tinggalkan karena kecelakaan kini, sudah mulai dapat
dia atasi dengan baik.
Queen yang merasa hidup segan mati tak mau kian sters saja
mencari Al kemanapun ia masih saja tidak bisa menemukan. Akhirnya ia pun
mendatangi kakeknya dan bertanya kepadanya dengan harapan beliau bisa memberi
petunjuk.
Queen melihat kakeknya tengah bersantai di taman belakang
sambil menikmati secangkir the melati yang sudah menjadi favoritnya sejak jaman
dahulu kala. Entah sejak kapan, yang dia tahu, dari dulu, kakek dan neneknya
selalu begitu.
“Kakek, apakah kau ada waktu?” tanya Queen dengan wajah
prustasi dan tatapan kosong.
“Ada apa, Queen? Kemarilah! Apa kau mau the?”
“Di mana kak Al, Kek? Bukankah selama ini dia sangat dekat
denganmu?”
“Kakek tidak tahu, Queen. Jika memang kakek benar-benar
tahu, sudah pasti kakek akan menyusulnya.”
“Serius, Kek. Aku benar-benar tidak bisa tanpanya. Aku… “
Leher Queen terasa tercekik saja, menahan tangis sampai tak bisa melanjutkan
kalimatnya.
Andrean tersenyum dan menepuk pundak cucunya beberapa kali.
“Harusnya, hanya kaulah satu-satunya orang yang tahu di mana keberadaan Al,”
ucapnya dengan tegas.
“Apa maksutmu, Kek? Jika aku tahu, sudah dari kemarin aku
menghampirinya, Aku benar-benar gak tahu,” keluh Quen sambil menghapus air mata
di kedua pipinya dan kembali bertopsng dagu di meja.
“Kau masih ingat saat menjelang pertunanganmu dengan Diaz Al
juga sempat menghilang kan, kala itu? Lalu dia membawamu pergi. Kemana itu?”
Queen langsung mengankat kepala dan meruntuk dirinya sendiri
dalam hati, ‘Iya, kenapa aku sampai tidak kepikiran, ya?’
“Benar. Dan hanya dia dan aku yang tahu, Kek. Aku akan
Mengambil kunci mobil lalu pergi.
Queen yang terlalu senang dan yakin kalau Al ada di sana ia
bahkan sampai lupa tidak membawa tasnya. Jangankan Tas. Hp saja dia tidak
ingat.
Sekitar satu jam menempuh perjalanan, Queen tiba di tempat
di mana dirinya memiliki kenangan pahit dengan Al. Tapi, kini ia menyukainya.
Dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, wanita itumelangkah
dan membuka pintu yang ternyata tidak dikuci. Begitu pintu sudah terbuka, Aroma
miras dan rokok menyeruak indra penciumannya.
Queen sedikit menahan napas dan mengipaskan tangannya di
depan mulut dan hidungnya. Kemudian ia melangkah melihat keadaan di dalam.
Queen mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan
dan melihat orang bersandar di balik sofa yang hanya terlihat rambutnya saja.
Ia yakin kalau itu adalah Al. Ia pun melangkah mendekati orang itu dan ternyata
benar. Al bersandar dengan mata terpejam. Dada bidangnya naik turun mengikuti
alunan napasnya yang teratur menunjukkan kalau ia benar-benat telah tertidur.
Sementara di sekitarnya, berserakan botol miras dengan berbagai merk dan
punting rokok. Queen berjongkok mengamati wajah pria itu yang nampak kelelahan
dari jarak yang lebih dekat.
Tanpa sadar, tangan Queen menyentuh pipi pria itu dan
mengelusnya lembut.
“Al, aku datang untuk meminta maaf. Tolong maafin aku, ya?”
lirih wanita itu.
Al yang merasakan kedatangan seseorang pun perlahan-lahan
membuka matanya. Ia yang masih setengah sadar dan juga ada pengaruh dari minuman
berakohol menganggap Queen hanyalah ilusi saja.
“Kau kenapa selalu muncul saja? Tidakkah kau lelah terus
menghantuiku saja? Queen yang asli tidak akan pernah kemari karena dia tidak
peduli denganku.”
Queen yang bisa mengerti keadaan mental Al, ia memeluk pria
itu dan berbisik. “Al, ini aku, aku minta maaf udah kecewain kamu. Oke? Iya aku
ngaku salah. Aku dah berpikir dan memutuskan, aku tidak akan keberatan memiliki
anak darimu, karena kau adalah suamiku.”
__ADS_1
“Queen? Benarkah ini kamu? Kau bukan ilusi?”
“Ya, aku kesini untuk meminta maaf, dan mengajakmu kembali
pulang, Al.”
Al tertawa miring, ia hendak bangun dan menggapai wanita
yang tengah berada di depannya. Tapi, ia terlalu mabuk dan mungkin juga perutnya
tidak terisi oleh makanan selain minuman terlaknat ini.
“Hati-hati!” seru Queen sambil menahan tubuh suaminya.
Harusnya dia marah dan benci jika melihat Al yang seperti ini. Tapi, entah
kenapa, dia tidak bisa membencinya lagi walau keadaan Al seperti ini. Hatinya
benar-benar menerima Al apa adanya, termasuk juga keburukannya ini.
Al berkata apa entah, Queen tak bisa mendengarnya dengan
jelas. Sekarang yang dilakukan oleh wanita itu adalah memapah suaminya,
membawanya keluar dan pulang.
Setibanya di rumah, Queen meminta bantuan Dedi yang
kebetulan dia lah yang membukakan pintu pagar untuknya.
Awalnya Queen berfikir untuk membawa Al masuk ke kamarnya
yang ada di lantai atas. Tapi, itu terlalu sulit. Jadi, ia pun membawanya masuk
ke kamar tamu yang Al jadikan tempat tidurmnya selama ini. Baru saja mereka
memasuki rumah. Nayla rupanya memanggil
nama Al.
“Mas Al! Ada apa denganmu?” tanya wanita itu dengan panik
dan ikut menghampiri. Padahal, di sisi kiri kanan Al sudah ada Queen dan Dedi
yang memapahnya.
“Minggir kau jangan menghalangi jalan!” bentak Queen.
“Queen, apakah kau lupa kalau aku ini juga masih istrinya?”
bentak Nayla tak kalah sengit.
“Oh, ya? Lalu kau dari mana saja? Tahu suaminya menghilang
entah kemana, bukannya nyariin malah kelayapan tidak jelas. Lihat saja
pakaianmu, tidak seperti seorang wanita baik-baik, melainkan lebih mirip
pela***,” cetus Queen.
“Bilang apa, kau? Beraninya kau?” teriak Nayla dan hendak
melayangkan tangannya mengarah ke pipi Queen.
Dedi yang juga sudah lama membenci Nayla, ia pun mengambil
jalan tengah dan cenderung membela Queen. Itu pun terlihat cukup mencolok.
“Sudah, Mbak Nay. Anda jangan bikin masalah kian runyam. Pak
Al butuh pertolongan, bukan perdebatan. Jika anda di sini hanya mengacau,
silahkan pergi saja! Mbak Queen sudah berusaha keras mencarinya sendiri,
sedankan anda?”
Seketika wajah Nayla terasa memanas akibat malu dengan apa
yang Dedi katakan Ia sedikit ada rasa khawatir Dedi tahu mengenai skandalnya
dengan Jevin. Karena, tanpa sengaja ia pernah melihat Jevin berbicara dengan
salah satu pelayan restoran ketika dirinya hendak makan dengan Jevin di tempat
langganannya.
Dengan kesal dan menghentakka kakinya, Nayla pun pergi menuju
kamarnya.
Sementara Queen dengan dibantu bi Yul merawat Al. Entah
mungkin ia juga lelah dan kurang tidur selama beberapa terakhir, Queen yang
duduk di dekat ranjang juga ikut tertidur,
dengan posisi duduk dan badannya bertumpu pada kasur yang ditempati Al, serta tangan
yang tak maumlepas dari genggaman suaminya.
Sekitar pukul dua sore, Al mulai sadar, ia membuka matanya
perlahan. Ia menyadari ini bukan di vilanya. Melainkan di rumah. Ia sedikit terkejut
saat melihat Queen terlelap di sampingnya sambil memgangi tangannya.
“Queen? Jadi, tadi itu aku lagi ga berhalusinasi, ya? Apa
mungkin dia yang telah membawaku pulang?”
Al yang sudah merasa tubuhnya membaik, ia pun berusaha
berdiri perlahan, kemudian mengangkat tubuh Queen dan membaringkannya di kasur.
Queen yang kebetulan mengenakan rok tutu, tanpa sengaja
bagian bawahnya tersingkap memperlihatkan betisnya yang terluka seperti goresan.
Karena penasaran, Al coba melihat bagian lutut istrinya, dan benar saja, luka
yang ada di lutut lumayan juga. Al ingat, saat ia emosi kemarin, dia terlalu
kasar pada Queen. Tak pdulikan wanita itu yang berusaha keras menghentikan
mobilnya dan sempat terseret dari depan garasi sampai hampir ke pagar rumah.
“Maafkan aku, Queen.” Al kini benar-benar sangat menyesal.
Ia tidak seharusnya begitu saat itu.
“Ini salahku, maafkan aku sayang!” lirh Al dan ikut
berbaring kembali di sebelah Queen dan memeluknya, dan ia pun tidur lagi.
__ADS_1