Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 240


__ADS_3

Usai mendorong tubuh Nayla keluar dari kamarnya, Queen pun


langsung mencuci muka dan merebahkan diri di atas kasur.


“Haaah, hari yang melelahkan sekali. Queen meraba nakas


mengambil album foto yang baru beberapa hari ia letakkan di sana. Ya, itu


adalah foto dirinya dan Al saat ia masih remaja dulu.


“Kamu di mana sih, Al? aku minta maaf sama aku. Aku ngaku


salah,’ ucap Queen seorang diri. Ia memandangi foto itu sampai terlelap.


Sedangnkan di kamarmnya, Nayla bingung sendiri seperti orang


kebakaran jenggot. Berusaha memikirkan cara  untuk membuat Al, suaminya membenci Queen dan menceraikannya. Tapi,


sampai tengah malam bahkan Nayla belum juga bisa menemukan sedikit ide. Sebab,


dari dulu Queen memang tak pernah salah di mata Al. Baru kali ini saja Al marah


sama Queen. Ingin menelfon Jevin, juga sudah malam.


Mentari pagi mulai menaik sinarnya menyembul. Sinarnya yang


menembus gorden kamar, menyilaukan netranya. Di atas ranjang, seorang wanita


masih terlihat ngantuk dan leleh kembali menguap dan mengeliat meluruskan


ototo-ototnya, kemudiam berdiam di tempatnya sesaat dan duduk di ranjangnya


seperti tengah memikirkan sesuatu.


“Al, kamu ke mana, sih? Pulang gak semalam?”


Queen pun beranjak menuju toilet, mencuci muka dan keluar


kamar untuk memastikan. Begitu tiba di lantai bawah, tempat yang ia tuju adalah


kamar yang biasa Al gunakan untuk tidur.


Tapi, Queen harus kecewa, karena Al tidak di sana. Bahkan


kasur di sana juga tetap rapi, taka da bekas seeprti baru ditempati.


Wanita itu hanya menghela napas dan keliar. Ia tidak bisa


percaya kalau suaminya tidak pulang. Ia ingin melihat ke sendiri ke bagasi.


Trenyata benar, memang mobil yang Al pakai untuk pergi kemarin sore tidak ada.


Dengan kecewa, Queen pun kembali masuk ke dalam. Saat


sarapan pun ia juga nampak murung tidak seperti biasa.


Sekitar jam sepuluh pagi, Vano menerima panggilan.


Sepertinya dari kantor, mereka menginformasikan ada clien yang ingin bertemu,


dan Al tidak masuk bekerja, nomor juga tal bisa dihubungi. Jadi, ia terpaksa


harus ke sana menggantikan Al menemui seorang client.


“Siapa yang menelfon, Pa?” tanya Queen.


“Telfon dari perusahaan, Sayang. Papa sepertinya harus ke


kantor sekarang. Jaga diri di rumah ya?” ucap Vano, kemudian ia pun ke kamar


untuk berganti pakaian resmi kemudian ia pun berangkat ke kantor. Sementara


Queen untuk membuang rasa jenuh dan bosennya, ia memutuskan pergi ke tempat


Gea. Kebetluan dia sedang ada di rumah.


Sedangkan Nayla, begitu menyadari rumah tengah sepi, Ia


tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu degan Jevin. Di sana ia


mengadukan semua yang terjadi.


“Kamu keliatan sedih banget, kenapa, sih?” tanya Jevin pada


Nayla.


“Jev. Ternyata diam-diam, Queen dan mas Al sudah menikah


lebih dari tiga bulan,” jawab Nayla sambil menangis di pelukan Jevin.


Jevin diam. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa, kakak


beradik melakukan pernikahan? Bukankah itu dilarang?


“Mereka menikah? Bagaimana bisa?” tanya Jevin heran.


“Ya, ternyata dalang di balik semua ini adalah kakek


mertuaku. Pantas saja dulu, saat acara pertunangan Queen dengan Diaz. Mas Al


tiba-tiba saja muncul dan membawa Queen pergi entah kemana. Dan dengan mudahnya


dia menggantikan Queen dengan Hanifah. Mas Al sendiri sebenarnya bukan lah anak


kandung dari kedua mertuaku, Jev. Katanya sejak usia enam tahun, ia diadopsi


dan mendapatkan perlakuan yang setara dengan Queen putri kandung mereka.


Bahkan, kakek Andreas, papa dari papa mertuaku mempercayakan perusahaannya di


Jepang sana padanya. Sejak lulus SMA dia sudah digembleng dengan keras, Karena


dia sudah dianggap putra dan cucu kandung, jadi ia harus menjalankan apapun


sesuai tanggung jawab dari cucu kandung seorang owner, kan? “


“Sudah, kamu tenag. Jangan sedih, ya? Kan masih ada aku,”


hibur Jevin sambil mengelus kepala Nayla yang bersandar di dadanya.


“Queen semalam juga bilang akan membuat mas Al


menceraikanku, Jev. Bagaimana jika aku benar diceraikan oleh mas Al akibat ulah


Queen?”


“Kan ada aku, Nay? Kita bisa menikah,” ucap Jevin.


Jevin terus mengelus kepala Nayla. Tapi, dalam benaknya, ia


memikirkan betapa beruntungknya Al. Selama ini dia benar-benar tidak menyangka


kalau dia hanyalah seorang anak pungut. Lalu, dari mana dia berasal sebenarnya?

__ADS_1


Siapa orang tua kandungnya? Bagaimana bisa mirip dengan pak Vano?”


Sudah hampir satu minggu Al sudah tidak pulang kerumah, dan


taka da kabar. Sedangkan papa Vano sudah mulai kembali mengurus perusahaan yang


sudah dua tahun lama ia tinggalkan karena kecelakaan kini, sudah mulai dapat


dia atasi dengan baik.


Queen yang merasa hidup segan mati tak mau kian sters saja


mencari Al kemanapun ia masih saja tidak bisa menemukan. Akhirnya ia pun


mendatangi kakeknya dan bertanya kepadanya dengan harapan beliau bisa memberi


petunjuk.


Queen melihat kakeknya tengah bersantai di taman belakang


sambil menikmati secangkir the melati yang sudah menjadi favoritnya sejak jaman


dahulu kala. Entah sejak kapan, yang dia tahu, dari dulu, kakek dan neneknya


selalu begitu.


“Kakek, apakah kau ada waktu?” tanya Queen dengan wajah


prustasi dan tatapan kosong.


“Ada apa, Queen? Kemarilah! Apa kau mau the?”


“Di mana kak Al, Kek? Bukankah selama ini dia sangat dekat


denganmu?”


“Kakek tidak tahu, Queen. Jika memang kakek benar-benar


tahu, sudah pasti kakek akan menyusulnya.”


“Serius, Kek. Aku benar-benar tidak bisa tanpanya. Aku… “


Leher Queen terasa tercekik saja, menahan tangis sampai tak bisa melanjutkan


kalimatnya.


Andrean tersenyum dan menepuk pundak cucunya beberapa kali.


“Harusnya, hanya kaulah satu-satunya orang yang tahu di mana keberadaan Al,”


ucapnya dengan tegas.


“Apa maksutmu, Kek? Jika aku tahu, sudah dari kemarin aku


menghampirinya, Aku benar-benar gak tahu,” keluh Quen sambil menghapus air mata


di kedua pipinya dan kembali bertopsng dagu di meja.


“Kau masih ingat saat menjelang pertunanganmu dengan Diaz Al


juga sempat menghilang kan, kala itu? Lalu dia membawamu pergi. Kemana itu?”


Queen langsung mengankat kepala dan meruntuk dirinya sendiri


dalam hati, ‘Iya, kenapa aku sampai tidak kepikiran, ya?’


“Benar. Dan hanya dia dan aku yang tahu, Kek. Aku akan


Mengambil kunci mobil lalu pergi.


Queen yang terlalu senang dan yakin kalau Al ada di sana ia


bahkan sampai lupa tidak membawa tasnya. Jangankan Tas. Hp saja dia tidak


ingat.


Sekitar satu jam menempuh perjalanan, Queen tiba di tempat


di mana dirinya memiliki kenangan pahit dengan Al. Tapi, kini ia menyukainya.


Dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, wanita itumelangkah


dan membuka pintu yang ternyata tidak dikuci. Begitu pintu sudah terbuka, Aroma


miras dan rokok menyeruak indra penciumannya.


Queen sedikit menahan napas dan mengipaskan tangannya di


depan mulut dan hidungnya. Kemudian ia melangkah melihat keadaan di dalam.


Queen mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan


dan melihat orang bersandar di balik sofa yang hanya terlihat rambutnya saja.


Ia yakin kalau itu adalah Al. Ia pun melangkah mendekati orang itu dan ternyata


benar. Al bersandar dengan mata terpejam. Dada bidangnya naik turun mengikuti


alunan napasnya yang teratur menunjukkan kalau ia benar-benat telah tertidur.


Sementara di sekitarnya, berserakan botol miras dengan berbagai merk dan


punting rokok. Queen berjongkok mengamati wajah pria itu yang nampak kelelahan


dari jarak yang lebih dekat.


Tanpa sadar, tangan Queen menyentuh pipi pria itu dan


mengelusnya lembut.


“Al, aku datang untuk meminta maaf. Tolong maafin aku, ya?”


lirih wanita itu.


Al yang merasakan kedatangan seseorang pun perlahan-lahan


membuka matanya. Ia yang masih setengah sadar dan juga ada pengaruh dari minuman


berakohol menganggap Queen hanyalah ilusi saja.


“Kau kenapa selalu muncul saja? Tidakkah kau lelah terus


menghantuiku saja? Queen yang asli tidak akan pernah kemari karena dia tidak


peduli denganku.”


Queen yang bisa mengerti keadaan mental Al, ia memeluk pria


itu dan berbisik. “Al, ini aku, aku minta maaf udah kecewain kamu. Oke? Iya aku


ngaku salah. Aku dah berpikir dan memutuskan, aku tidak akan keberatan memiliki


anak darimu, karena kau adalah suamiku.”

__ADS_1


“Queen? Benarkah ini kamu? Kau bukan ilusi?”


“Ya, aku kesini untuk meminta maaf, dan mengajakmu kembali


pulang, Al.”


Al tertawa miring, ia hendak bangun dan menggapai wanita


yang tengah berada di depannya. Tapi, ia terlalu mabuk dan mungkin juga perutnya


tidak terisi oleh makanan selain minuman terlaknat ini.


“Hati-hati!” seru Queen sambil menahan tubuh suaminya.


Harusnya dia marah dan benci jika melihat Al yang seperti ini. Tapi, entah


kenapa, dia tidak bisa membencinya lagi walau keadaan Al seperti ini. Hatinya


benar-benar menerima Al apa adanya, termasuk juga keburukannya ini.


Al berkata apa entah, Queen tak bisa mendengarnya dengan


jelas. Sekarang yang dilakukan oleh wanita itu adalah memapah suaminya,


membawanya keluar dan pulang.


Setibanya di rumah, Queen meminta bantuan Dedi yang


kebetulan dia lah yang membukakan pintu pagar untuknya.


Awalnya Queen berfikir untuk membawa Al masuk ke kamarnya


yang ada di lantai atas. Tapi, itu terlalu sulit. Jadi, ia pun membawanya masuk


ke kamar tamu yang Al jadikan tempat tidurmnya selama ini. Baru saja mereka


memasuki rumah. Nayla rupanya  memanggil


nama Al.


“Mas Al! Ada apa denganmu?” tanya wanita itu dengan panik


dan ikut menghampiri. Padahal, di sisi kiri kanan Al sudah ada Queen dan Dedi


yang memapahnya.


“Minggir kau jangan menghalangi jalan!” bentak Queen.


“Queen, apakah kau lupa kalau aku ini juga masih istrinya?”


bentak Nayla tak kalah sengit.


“Oh, ya? Lalu kau dari mana saja? Tahu suaminya menghilang


entah kemana, bukannya nyariin malah kelayapan tidak jelas. Lihat saja


pakaianmu, tidak seperti seorang wanita baik-baik, melainkan lebih mirip


pela***,” cetus Queen.


“Bilang apa, kau? Beraninya kau?” teriak Nayla dan hendak


melayangkan tangannya mengarah ke pipi Queen.


Dedi yang juga sudah lama membenci Nayla, ia pun mengambil


jalan tengah dan cenderung membela Queen. Itu pun terlihat cukup mencolok.


“Sudah, Mbak Nay. Anda jangan bikin masalah kian runyam. Pak


Al butuh pertolongan, bukan perdebatan. Jika anda di sini hanya mengacau,


silahkan pergi saja! Mbak Queen sudah berusaha keras mencarinya sendiri,


sedankan anda?”


Seketika wajah Nayla terasa memanas akibat malu dengan apa


yang Dedi katakan Ia sedikit ada rasa khawatir Dedi tahu mengenai skandalnya


dengan Jevin. Karena, tanpa sengaja ia pernah melihat Jevin berbicara dengan


salah satu pelayan restoran ketika dirinya hendak makan dengan Jevin di tempat


langganannya.


Dengan kesal dan menghentakka kakinya, Nayla pun pergi menuju


kamarnya.


Sementara Queen dengan dibantu bi Yul merawat Al. Entah


mungkin ia juga lelah dan kurang tidur selama beberapa terakhir, Queen yang


duduk di dekat ranjang  juga ikut tertidur,


dengan posisi duduk dan badannya bertumpu pada kasur yang ditempati Al, serta tangan


yang tak maumlepas dari genggaman suaminya.


Sekitar pukul dua sore, Al mulai sadar, ia membuka matanya


perlahan. Ia menyadari ini bukan di vilanya. Melainkan di rumah. Ia sedikit terkejut


saat melihat Queen terlelap di sampingnya sambil memgangi tangannya.


“Queen? Jadi, tadi itu aku lagi ga berhalusinasi, ya? Apa


mungkin dia yang telah membawaku pulang?”


Al yang sudah merasa tubuhnya membaik, ia pun berusaha


berdiri perlahan, kemudian mengangkat tubuh Queen dan membaringkannya di kasur.


Queen yang kebetulan mengenakan rok tutu, tanpa sengaja


bagian bawahnya tersingkap memperlihatkan betisnya yang terluka seperti goresan.


Karena penasaran, Al coba melihat bagian lutut istrinya, dan benar saja, luka


yang ada di lutut lumayan juga. Al ingat, saat ia emosi kemarin, dia terlalu


kasar pada Queen. Tak pdulikan wanita itu yang berusaha keras menghentikan


mobilnya dan sempat terseret dari depan garasi sampai hampir ke pagar rumah.


“Maafkan aku, Queen.” Al kini benar-benar sangat menyesal.


Ia tidak seharusnya begitu saat itu.


“Ini salahku, maafkan aku sayang!” lirh Al dan ikut


berbaring kembali di sebelah Queen dan memeluknya, dan ia pun tidur lagi.

__ADS_1


__ADS_2