Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 78


__ADS_3

“Sayang, kau ada di mana?” teriak Chandra begitu ia tiba di


rumah. Hampir seluruh ruangan ia cek. Tapi, tak seorangpun di sana.


Terakhir, ia melihat pintu kamar mendiang adiknya sepertinya


sedikit terbuka. Ia berfikir, apakah istrinya berada di sana? ‘Apa mungkin Novita berada di sana? Tapi, apa yang ia lakukan di sana? Bukankah selama ini


mama selalu melarang siapapun masuk ke dalam kamar tersebut?’ batin Chandra.


Tapi, pria itu terus berjalan menuju kamar tersebut. Sekalipun istrinya tidak berada di sana. Apa salahnya juga, kan mencobanya?


“Aaaaaah! Ampun, Ma.” Terdengar teriakan dan isakan seorang


wanita dari dalam kamar Leivy. Dengan segera Chandra langsung membuka pintu


tersebut lebih lebar lagi dan ia masuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Chandra hanya berdiri melihat darah banyak berceceran di atas


lantai. Di sana isrinya duduk berjongkok dalam keadaan tangan terikat dan beberapa luka sayat ditubuhnya. Sedangkan di depan Novita, mamanya berdiri dengan


sebilah pisau berlumuran darah di tangan kanannya.


“Buka matamu, cepat! Jangan terpejam terus. Putriku dulu


dicongkel matanya oleh pria itu dalam keadaan hidup, maka kau harus merasakan


juga sakit yang dulu di dertita putriku akibat ulahmu!” bentak mama Dian sambil


menjambak rambut Novita dengan tangan kirinya hingga wanita yang sudah lemah itu mendongkakkan kepalanya.


“Cukup, Mama! Apa yang kau lakukan pada istriku?” teriak


Chandra.


“Chandra?” lirih mama Dian. Ia nampak syock mendapati


putranya tiba-tiba saja kembali. “kau, kau bagaimana bisa kembali, Sayang? Bukankah hari ini lau akan ke Magelang? Kenapa belum berangkat? Ini sudah


siang,’’ ucap mama Dian. Berlagak seolah ia tidak melakukan tindak Kriminal


yang berat saja.


“Apa yang kau lakukan pada istriku, Ma?” Chandra melangkah


menghampiri Novita, melepaskan ikatan tangan Novita yang sudah lemas karena


sudah banyak kehilangan darah. Chandra tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tak


mampu dan tega melihat banyak luka tusuk dan sayatan di tubuh istrinya. Ia


langsung menggendong Novita bermaksut mencari pertolongan, tanpa memperdulikan


mamanya. Ia sendiri juga tidak habis pikir. Bagaimana bisa mamanya


memperlakukan menantunya seperti ini? Sebab, selama ini yang dia tahu adalah,


mamanhya sangat menyayangi Novita. Bahkan, bisa dikatakan kalau Novi adalah


wanita pilihan mamanya sendiri.


“Chandra! Lepaskan dia. Kau tidak bisa menolongnya,” ucap


mama Dian dengan nada datar.


“Dia istriku, keselamatannya dalah tanggung jawabku, Ma,”


ucap Chandra.


“Kau tahu, bukan? Apa yang menyebabkan kematian adikmu?


Penyebabnya adalah wanita kotor yang hendak kau selamatkan itu. dia mengingkari


suaminya dan meninggalkannya bersama anaknya demi seorang pilot. Sehingga pria


itu sakit hati dan dendam. Tapi, tidak berani menyakitinya karena dia adalah


ibu dari putra yang ia cintai. Akhirnya, dia membunuh dan menyiksa wanita yang


mirip dan memiliki ciri-ciri sepertinya sebagai pelampiasan. Salah satunya adalah adikmu sendiri. Aditya itu adalah mantan suaminya, Chandra.”


“Aku tidak peduli, selama bukan Novita yang membunuh Citra,


Ma. Ucap Chandra terus melangkah. Pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


“Kau Gila!” seru mama Dian penuh emosi.


“Mama yang gila! Melampiaskan dendam pada orang yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa. Jangan pernah sebut istriku kotor! Semua orang memiliki


masa lalunya sendiri. Sekarang, Novita tidak berada dalam masa itu. jadi, jangan pernah ungkit lagi. Sekalipun dia yang membunuh Citra, aku tidak akan


menceraikannya. Karena aku tahu, dengan menceraikannya tetap tidak akan membuat Citra kembali hidup.”


Chandra meletakkan tubuh lemah Novita di atas lantai. Di keluakannya ponsel dari dalam saku kemejanya, kemudian ia menelfon pihak rumah sakit dan meminta


segera tim medis datang ke rumahnya. Bersamaan ia selesai berbicara, saat itu


juga panggilannya tersambung dan iangkat.


“Halo, tolong segera ke sini. Ada yang terluka parah. Cepat,


pasien mengalami banyak kekurangan darah. Bahwa beberapa kantong darah golongan


AB+.”


“Dasar anak tidak berbakti! Akan ku buat kedatangan tim medis yang kau undang sia-sia. Dia akan mati!” teriak mama Dian sambil menghujamkan pisaunya


keras ke arah Novita yang sudah berada di antara sadar dan tidak sadar.


Namun, dengan sangat gesit Chandra memilindungi istrinya,


sehingga punggungnya yang tertusuk, jadi, pria itu pun ambruk di depan Novita.


Novita yang melihat bagaimana suaminya tertusuk pisau demi


melindunginya hanya menangis dan tak mampu berbuat apa-apa. Menggerakkan


tangannya saja untuk menyentuh Chandra juga sangat lamban. Ia juga sempat


melihat bagaimana pria yang dicintainya sampai memutahkan banyak darah segar


dari mututnya. Sepertinya pisau yang ditusukkan oleh mama mertuanya itu sangat dalam sampai mengenai jantungjya..


setelah itu, semua gelap, ia tak bisa melihat apapun.


“Tidak! Chandraaaaaa!” teriak mama Dian.


***


“Aku mau lihat mama di kamar saja, Kak. Barang kali dia ada


Awalnya Sherly masih terus membujuk sepupu kecilnya itu agar


tidak pergi. Tapi, Ketika ia mendengar teriakan nenek Dian dari dalam, ia juga tak lagi


menahan Adriel. Ia terkejut diam dan syock.


‘Kenapa oma sampai berteriak sehisteris itu? apakah hal


buruk menimpa om Chandra?’ batin Sherly, lalu berlari mengejar Adriel yang lebih dulu mencari sumber suara itu.


Tiba di sebuah ruangan besar, ia melihat Adriel berdiri


bengong menyaksikan mama dan papaya terkapar tak berdaya dengan tubuh bersimbah


darah. Dua meter dari situ, neneknya, nenek dian berdiri dengan pisau yang


berlumuran darah, serta banyak bercak darah menodai lengan, baju dan sebagian


mengenai wajahnya.


“Adriel!” seru Sherly, menutup mata bocah itu.


“Ba…. Wa dia laa… lari, Sher. Selamatkan…. Di..a,” ucap


Chandra dengan terbata-bata.


Dengan cepat kilat Sherly langsung menggendong Adreiel dan


berlari. Sementara nenek Dian berusaha mengejarnya. Tapi, ia sial. Karena darah


putra dan menantunya yang menganak sungai di atas lantai tanpa sengaja terinjak


olehnya dan ia pun jatuh terpeleset, dan tak bisa berdiri lagi selain hanya


berteriak meminta cucu keponakannya itu berhenti. Mungkin saja wanita tua itu encok.


Karena sudah tua, tergelincir pula.


Sambil menangis dan seluruh badan bergetar hebat Sherly

__ADS_1


berlari diraihnya kunci mobil milik omnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Lalu, ia membawa masuk serta Adriel ke dalam sana. Dan mengemudikan mobil


itu dengan terburu-buru. Ia takut, kalau saja adik dari kakeknya itu


mengejarnya dan ikut membunuh dia dan Adiel. Dia menangis dengan keras karena takut, dan juga kaget di waktu yang bersamaan.


Sementara Adriel baru bisa menangis dan merengek minta ke


mamanya setelah mobil berjalan sejauh tiga kilo meter.


“Mamaaaaaaaa. Adriel mau ke mama, Kak. Adriel mau tolongin


Mama,” rengeknya menangis.


“Tenang, Driel. Di sana bahaya. Kita ke kantor polisi


terdekat saja dulu, oke?” ucap Sherly. Lalu, ia membelokkan mobilnya ke kantor


polisi terdekat dan melapor.


Karena saking gugupnya, ia berkata pun tidak jelas dan


polisi yang berjaga di sana memberikan minum pada Sherly dan juga Adriel.


“Ada apa, Mbak? Tarik napas dulu, tenangkan diri anda dan


berbicaralah,” ucap salah seorang polwan yang berjaga.


Dengan napas terengah-engah Sherly menceritakan kejadian


yang dia lihat di rumah omnya.


“Om saya, Bu. Sama tante


saya… dia luka dilukai nenek… ibu mereka. Cepat selamatkan mereka.”


“Di mana alamatnya?” tanya seorang polisis kira-kira berumur


empat puluh tahunan.


“Di sana, tolong, cepat bawa tim medis juga.”


Sementara Adriel masih saja terus menangis mencari mamanya. Bahkan,


bocah itu meminta ikut polisis menuju ke kediaman nenek tirinya itu. banyak upaya


yang Sherly dan polisi lakukan untuk membujuk Adriel agar tidak ikut ke lokasi


kejadian. Tapi, hasilnya sia-sia. Bocah itu tetap bersikukuh meminta untuk ikut.


“Aku harus melindungi mama… mamaku sakit dan terluka, banyak


darah di tubuhnya,” ucap bocah itu sambil terus menangis.


Sehingga tidak ada pilihan untuk mengajak Adriel dan juga


Sherly. Dengan catatan, selama pelaku belum diringkus, mereka harus tetap


menunggu di dalam mobil bersama dua polisi yang menjaga mereka. Sherly menyetuji


persaratan dari polisi tersebut. Selama di jalan, keduanya sambil ditanya-tanya


terkait kejadian itu. karena sudah buru-buru. Tidak mungkin bisa menunggu lagi,


sebab, keadaan juga pasti sudah sangat darurat.


“Maaf, Mbak. Apakah adeknya melihat kejadian itu?”


“Iya, Pak.”


“Bagaimana ceritanya kok bisa sampai melihat hal seperti


ini? Ini akan menganggu keadaan psikisnya kelak.”


“Saya juga tidak tahu, Pak. Awalnya saya dan om saya hendak


ke Magelang. Karena dia terus terbayang istrinya, ia mengajak saya pulang dulu


untuk menjenguk bibi saya. Tapi, sampai sana dia tidak keluar. Saya pikir dia


di kamar sampai Adriel pulang dari sekolahan. Dia berlari saat mendengar nenek,


ibu dari om saya berteriak menyebut nama om saya. Lalu saya mengejar dan


melihat hal itu.”

__ADS_1


“Oke, baik. Semoga kedua korban bisa terselamatkan,” ucap


polisi itu sambil mengelus bahu Sherly yang masih nampak syok


__ADS_2