
“Sayang, kau ada di mana?” teriak Chandra begitu ia tiba di
rumah. Hampir seluruh ruangan ia cek. Tapi, tak seorangpun di sana.
Terakhir, ia melihat pintu kamar mendiang adiknya sepertinya
sedikit terbuka. Ia berfikir, apakah istrinya berada di sana? ‘Apa mungkin Novita berada di sana? Tapi, apa yang ia lakukan di sana? Bukankah selama ini
mama selalu melarang siapapun masuk ke dalam kamar tersebut?’ batin Chandra.
Tapi, pria itu terus berjalan menuju kamar tersebut. Sekalipun istrinya tidak berada di sana. Apa salahnya juga, kan mencobanya?
“Aaaaaah! Ampun, Ma.” Terdengar teriakan dan isakan seorang
wanita dari dalam kamar Leivy. Dengan segera Chandra langsung membuka pintu
tersebut lebih lebar lagi dan ia masuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Chandra hanya berdiri melihat darah banyak berceceran di atas
lantai. Di sana isrinya duduk berjongkok dalam keadaan tangan terikat dan beberapa luka sayat ditubuhnya. Sedangkan di depan Novita, mamanya berdiri dengan
sebilah pisau berlumuran darah di tangan kanannya.
“Buka matamu, cepat! Jangan terpejam terus. Putriku dulu
dicongkel matanya oleh pria itu dalam keadaan hidup, maka kau harus merasakan
juga sakit yang dulu di dertita putriku akibat ulahmu!” bentak mama Dian sambil
menjambak rambut Novita dengan tangan kirinya hingga wanita yang sudah lemah itu mendongkakkan kepalanya.
“Cukup, Mama! Apa yang kau lakukan pada istriku?” teriak
Chandra.
“Chandra?” lirih mama Dian. Ia nampak syock mendapati
putranya tiba-tiba saja kembali. “kau, kau bagaimana bisa kembali, Sayang? Bukankah hari ini lau akan ke Magelang? Kenapa belum berangkat? Ini sudah
siang,’’ ucap mama Dian. Berlagak seolah ia tidak melakukan tindak Kriminal
yang berat saja.
“Apa yang kau lakukan pada istriku, Ma?” Chandra melangkah
menghampiri Novita, melepaskan ikatan tangan Novita yang sudah lemas karena
sudah banyak kehilangan darah. Chandra tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tak
mampu dan tega melihat banyak luka tusuk dan sayatan di tubuh istrinya. Ia
langsung menggendong Novita bermaksut mencari pertolongan, tanpa memperdulikan
mamanya. Ia sendiri juga tidak habis pikir. Bagaimana bisa mamanya
memperlakukan menantunya seperti ini? Sebab, selama ini yang dia tahu adalah,
mamanhya sangat menyayangi Novita. Bahkan, bisa dikatakan kalau Novi adalah
wanita pilihan mamanya sendiri.
“Chandra! Lepaskan dia. Kau tidak bisa menolongnya,” ucap
mama Dian dengan nada datar.
“Dia istriku, keselamatannya dalah tanggung jawabku, Ma,”
ucap Chandra.
“Kau tahu, bukan? Apa yang menyebabkan kematian adikmu?
Penyebabnya adalah wanita kotor yang hendak kau selamatkan itu. dia mengingkari
suaminya dan meninggalkannya bersama anaknya demi seorang pilot. Sehingga pria
itu sakit hati dan dendam. Tapi, tidak berani menyakitinya karena dia adalah
ibu dari putra yang ia cintai. Akhirnya, dia membunuh dan menyiksa wanita yang
mirip dan memiliki ciri-ciri sepertinya sebagai pelampiasan. Salah satunya adalah adikmu sendiri. Aditya itu adalah mantan suaminya, Chandra.”
“Aku tidak peduli, selama bukan Novita yang membunuh Citra,
Ma. Ucap Chandra terus melangkah. Pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1
“Kau Gila!” seru mama Dian penuh emosi.
“Mama yang gila! Melampiaskan dendam pada orang yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa. Jangan pernah sebut istriku kotor! Semua orang memiliki
masa lalunya sendiri. Sekarang, Novita tidak berada dalam masa itu. jadi, jangan pernah ungkit lagi. Sekalipun dia yang membunuh Citra, aku tidak akan
menceraikannya. Karena aku tahu, dengan menceraikannya tetap tidak akan membuat Citra kembali hidup.”
Chandra meletakkan tubuh lemah Novita di atas lantai. Di keluakannya ponsel dari dalam saku kemejanya, kemudian ia menelfon pihak rumah sakit dan meminta
segera tim medis datang ke rumahnya. Bersamaan ia selesai berbicara, saat itu
juga panggilannya tersambung dan iangkat.
“Halo, tolong segera ke sini. Ada yang terluka parah. Cepat,
pasien mengalami banyak kekurangan darah. Bahwa beberapa kantong darah golongan
AB+.”
“Dasar anak tidak berbakti! Akan ku buat kedatangan tim medis yang kau undang sia-sia. Dia akan mati!” teriak mama Dian sambil menghujamkan pisaunya
keras ke arah Novita yang sudah berada di antara sadar dan tidak sadar.
Namun, dengan sangat gesit Chandra memilindungi istrinya,
sehingga punggungnya yang tertusuk, jadi, pria itu pun ambruk di depan Novita.
Novita yang melihat bagaimana suaminya tertusuk pisau demi
melindunginya hanya menangis dan tak mampu berbuat apa-apa. Menggerakkan
tangannya saja untuk menyentuh Chandra juga sangat lamban. Ia juga sempat
melihat bagaimana pria yang dicintainya sampai memutahkan banyak darah segar
dari mututnya. Sepertinya pisau yang ditusukkan oleh mama mertuanya itu sangat dalam sampai mengenai jantungjya..
setelah itu, semua gelap, ia tak bisa melihat apapun.
“Tidak! Chandraaaaaa!” teriak mama Dian.
***
“Aku mau lihat mama di kamar saja, Kak. Barang kali dia ada
Awalnya Sherly masih terus membujuk sepupu kecilnya itu agar
tidak pergi. Tapi, Ketika ia mendengar teriakan nenek Dian dari dalam, ia juga tak lagi
menahan Adriel. Ia terkejut diam dan syock.
‘Kenapa oma sampai berteriak sehisteris itu? apakah hal
buruk menimpa om Chandra?’ batin Sherly, lalu berlari mengejar Adriel yang lebih dulu mencari sumber suara itu.
Tiba di sebuah ruangan besar, ia melihat Adriel berdiri
bengong menyaksikan mama dan papaya terkapar tak berdaya dengan tubuh bersimbah
darah. Dua meter dari situ, neneknya, nenek dian berdiri dengan pisau yang
berlumuran darah, serta banyak bercak darah menodai lengan, baju dan sebagian
mengenai wajahnya.
“Adriel!” seru Sherly, menutup mata bocah itu.
“Ba…. Wa dia laa… lari, Sher. Selamatkan…. Di..a,” ucap
Chandra dengan terbata-bata.
Dengan cepat kilat Sherly langsung menggendong Adreiel dan
berlari. Sementara nenek Dian berusaha mengejarnya. Tapi, ia sial. Karena darah
putra dan menantunya yang menganak sungai di atas lantai tanpa sengaja terinjak
olehnya dan ia pun jatuh terpeleset, dan tak bisa berdiri lagi selain hanya
berteriak meminta cucu keponakannya itu berhenti. Mungkin saja wanita tua itu encok.
Karena sudah tua, tergelincir pula.
Sambil menangis dan seluruh badan bergetar hebat Sherly
__ADS_1
berlari diraihnya kunci mobil milik omnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Lalu, ia membawa masuk serta Adriel ke dalam sana. Dan mengemudikan mobil
itu dengan terburu-buru. Ia takut, kalau saja adik dari kakeknya itu
mengejarnya dan ikut membunuh dia dan Adiel. Dia menangis dengan keras karena takut, dan juga kaget di waktu yang bersamaan.
Sementara Adriel baru bisa menangis dan merengek minta ke
mamanya setelah mobil berjalan sejauh tiga kilo meter.
“Mamaaaaaaaa. Adriel mau ke mama, Kak. Adriel mau tolongin
Mama,” rengeknya menangis.
“Tenang, Driel. Di sana bahaya. Kita ke kantor polisi
terdekat saja dulu, oke?” ucap Sherly. Lalu, ia membelokkan mobilnya ke kantor
polisi terdekat dan melapor.
Karena saking gugupnya, ia berkata pun tidak jelas dan
polisi yang berjaga di sana memberikan minum pada Sherly dan juga Adriel.
“Ada apa, Mbak? Tarik napas dulu, tenangkan diri anda dan
berbicaralah,” ucap salah seorang polwan yang berjaga.
Dengan napas terengah-engah Sherly menceritakan kejadian
yang dia lihat di rumah omnya.
“Om saya, Bu. Sama tante
saya… dia luka dilukai nenek… ibu mereka. Cepat selamatkan mereka.”
“Di mana alamatnya?” tanya seorang polisis kira-kira berumur
empat puluh tahunan.
“Di sana, tolong, cepat bawa tim medis juga.”
Sementara Adriel masih saja terus menangis mencari mamanya. Bahkan,
bocah itu meminta ikut polisis menuju ke kediaman nenek tirinya itu. banyak upaya
yang Sherly dan polisi lakukan untuk membujuk Adriel agar tidak ikut ke lokasi
kejadian. Tapi, hasilnya sia-sia. Bocah itu tetap bersikukuh meminta untuk ikut.
“Aku harus melindungi mama… mamaku sakit dan terluka, banyak
darah di tubuhnya,” ucap bocah itu sambil terus menangis.
Sehingga tidak ada pilihan untuk mengajak Adriel dan juga
Sherly. Dengan catatan, selama pelaku belum diringkus, mereka harus tetap
menunggu di dalam mobil bersama dua polisi yang menjaga mereka. Sherly menyetuji
persaratan dari polisi tersebut. Selama di jalan, keduanya sambil ditanya-tanya
terkait kejadian itu. karena sudah buru-buru. Tidak mungkin bisa menunggu lagi,
sebab, keadaan juga pasti sudah sangat darurat.
“Maaf, Mbak. Apakah adeknya melihat kejadian itu?”
“Iya, Pak.”
“Bagaimana ceritanya kok bisa sampai melihat hal seperti
ini? Ini akan menganggu keadaan psikisnya kelak.”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Awalnya saya dan om saya hendak
ke Magelang. Karena dia terus terbayang istrinya, ia mengajak saya pulang dulu
untuk menjenguk bibi saya. Tapi, sampai sana dia tidak keluar. Saya pikir dia
di kamar sampai Adriel pulang dari sekolahan. Dia berlari saat mendengar nenek,
ibu dari om saya berteriak menyebut nama om saya. Lalu saya mengejar dan
melihat hal itu.”
__ADS_1
“Oke, baik. Semoga kedua korban bisa terselamatkan,” ucap
polisi itu sambil mengelus bahu Sherly yang masih nampak syok