
Lah, terus Alex nunggu di Bandara sejak tadi?" tanya Clara dan Vivian bersamaan.
"Tentu saja tidak. Dia ada yang dikerjakan di kampus, Nek."
"Kirain dia di Bandara saja. Dari pada gitu, kan mending pulang dulu makan bersama," sambung Vivian.
🍁 🍁 🍁 🍁
Sementara Al tidak memikirkan apapun prihal rumah dan pekerjaan. Dia habiskan waktunya sejak pukul sebelas empat puluh lima tadi di bar milik teman lamanya.
Bahkan ketika ia datang, temannya sudah melihatnya. Tapi, dia tidak segera menghampirinya. Begitu yakin meliat Al benar-benar minum, maka pria berbadan tinggi besae dengan perut buncit dan mata sipit susah melek itu pun menghampiri kawan lamanya.
"Oeh, sehat loe, Bro!" sapa pria berwajah Cina itu.
"Oy, masih hidup, loe?" sahut Al. Yang pikirannya sudah terpengaruh oleh miras.
"Kalau gua mati, loe ga bisa lihat dan denger gue donk, bro!" jawab Martin tertawa sambil duduk di sebelah Al.
Sementara Al sepertiya dia sudah teler saja. Tapi, ia masih memaksakan diri untuk meraih gelas berisi hatten win lalu meneguknya hingga habis.
Melihat Al nampak tidak wajar, Martin pun bertanya. "Bro, loe sehat, kan? Gak sakit kan loe?"
"Di mana ada orang sakit ngluyur di tempatmu begini, hah? Kau yang sakit, Martin." Al tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Udah jam sebelas saja. Aku mo balik dulu!" Dengan langkah sempoyongan Al melangkah meninggalkan Martin. Meski harus bersusah payah pulah.
Kawatir terjadi hal buruk pada temamnya itu, Martin pun mengikuti dan dan menopang tubuh Al dari samping.
"Heh, aku tidak apa-apa. Kau kenapa? Sana urus barmu. Biarkan aku pergi!" ucap Al. Melepaskan diri dari Martin.
"Kamu mabuk parah, Bro. Kalau terjadi apa-ala bagaimana?"
__ADS_1
"Gua gak akan mati, kok. Tenang aja, hehehe."
Masih dengan sempoyongan pria itu pun berhasil masuk ke dalam mobilnya. Awalnya dia enggan menyalakan mesin. Benar apa yang martin katakan. Lagi pula banyak terjadi kecelakaan karna pengemudi mabuk.
Al diam sesaat. Ia mencari ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang. Tapi, yang jelas bukan orang rumah. Bakal berabe kalau sampai papa dan mamanya mengetahuinya.
Al pun memutuskan menghubungi Vico, dengan maksut agar dia menjemputnya dan sementara ia akan menginap di rumah sahabat karibnya itu. Tapi, belum juga panggilan di angkat, rupanya pria itu sudah lebih dulu tertidur. Jadi, ketika Vico mengkat panggilannya tidak ada jawaban sama sekali.
"Hallo!" Dengan suara serak khas bangun tidur Vico mengankat panggilan itu.
"Al, ada apa? Halo... Al, kau tidak apa-apa, kan? Al.... "
Hampir duapuluh menit Vico bicara sendiri tanpa sahuta. Akhirnya ia pun mematikan telfon dan kembali melanjutkan tidurnya.
Sekitar pukul dua dini hari Al terjaga dadi tidurnya. Matanya dikedip-kedipkan matanya, pandangannya masih terasa buram.
"Haaah... Dah jam dua aja. Mama dan papa pasti juga sudah tidur, pulang deh," gumam seorang diri setelah menghembuskan napas lega.
Al melajukan mobilnya dengan sedikit pelan dari kecepatan biasanya. Selain tidak begitu macet, ia merasa tidak nyaman saja. Tapi, dari pada tidak pulang. Dia akan jauh bingung menerima introgasi dari mamanya.
Dengan kondisi berantakan bau miras dan sedikit sempoyongan Al berusaha keras memasukan kunci ke dalam lubangnya setelah memarkirkan mobilnya asal di halaman rumah. Satu kali, dua kali sampai tiga kali, Al tidak berhasil membuka pintu, karena kunci itu tidak tepat pada lubangnya dan terus jatuh.
Tapi, Al tidak menyerah, jika saja tidak ada mamanya mungkin dia lebih memilih tidur di teras saja, seperti gelandangan. Tapi, sekali lagi demi menghindari introgasi Al berusaha masuk dan tidur dengan baik di kamarnya.
Al merasa lega saat berhasil membuka pintu ruang depan, terlebih lampu ruang tamu sudah mati, keadaan pun gelap gulita. Baru saja ia menutup pintu ia di kejutkam dengan lampu ruangan itu yang mendadak menyala.
Samar-samar ia melihat wanita mengenakan piyama putih berbahan satin bersendeku menatap ke arahnya dengan penuh selidik.
"Dari mana saja kau, jam segini baru pulang, seharian nomor juga tidak aktif," ucap wanita itu dengan nada marah dan tatapannya yang penuh selidik.
"E.... Anu.. Tadi itu, aku ke tempat usaha teman, kita kopda di sana." Al nampak bingung. Bahkan ia sampai memberi jawaban gagap saking paniknya.
__ADS_1
"Teman? Kopdar? Sampai sepagi ini? Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Protes wanita itu. Ia bahkan nampak bermuka masam seperti hidungnya menangkap aroma yang tidak nyaman bahkan sedikit menyengat.
"Kau mabuk, Al? Lihat, kau napak dekil, bau dan..."
Akhirnya Al pura-pura pingsan dan merobohkan diri di atas lantai karena sudan bingung mau jawan apa kepada mamanya itu.
Clara sangat panik mendapati putranya yang tiba-tiba saja jatuh. Ia pun berjongkok dan menggerak-gerakan tibuh Al yang terkapar di atas lantai.
"Al, bangun! Kau kenapa tiba-tiba jatuh pingsan gini?" ucap Clara panik sambil menggoyang-goyangkan tubuh putranya itu.
Sedangkan Al yang posisinya telunkup dia menahan tawa dari tingkah mamanya.
"Al, kau jangan nakutin mama, dong! Al, kamu denger mama, kan?"
Dalam hati Al merasa kesal. Kenpa dia harus jadi mamanya. Kalau bukan, pasti sudah dia taring dia dalam pelukannya. Beruntung, dia sudah sadar walah belum sepenuhnya.
Al sedikit mengintip ke arah Clara. Pria itu memberhatikan sedikit wajah dan ekspresi mamanya dan bergumam dalam hati, "Kau yang begini nampak menarik, Ma."
Akhirnya Clara pun menyerah, ia kembali berdiri dan sedikit menjauh dari Al, cukup lama. Al tidam bisa menemukan di mana mamanya jika tidak membuka mata dan menoleh, bahkan tak ada suara sama sekali.
Setelah beberapa menit Clara memperhatikan Al di tempatnya ia pun sadar kalau Al hanya pura-pura. Kembali wanita itu berjalan menghampiri Al lali menjewernya.
"Kau bangung! Jangan bohong sama mama! Mandilah dan tidur!" ucap Clara, terus menjewernya.
"Aaaa... Aduh-aduh, Ma. Am... Ampun," rengek Al seperti anak kecil.
"Dasar braninya kau bohongi mama, cepat bersihkan badan kamu, besok ada yang mama bicarakan sama kamu." Wanita itu pun berputar dan pergi meninggalkan Al yang sudah dalam posisi duduk di atas lantai.
Al mengamati kepergian Clara, ia diam-diam bernafsu aja ingin memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Tapi, sekali lagi dia masih bisa kontrol diri untuk menahannya.
"Sialan, perasaan ini kembali lagi, semakin mabuk semakin banyak aja!" umpat Al.
__ADS_1
Pria itu pun pergi ke arah dapur, dia mandi di kamar mandi dekat dapur lalu tidur di kamar tamu.
Pria itu masih enggan melihat istrinya.