
"Kak, malam ini kita tuker kamar, yuk." ucap Quen yang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Jadi, kamu mau tidur di sini?" tanya Al tanpa curiga. Ia berfikir mungkin adiknya masih mengingat kejadian siang tadi.
"Iya, mau, kan?" Gadis itu tersenyum lebar menunjukan gigi gingsulnya.
Al memandang tidak beres pada adiknya, tiba-tiba ia merasa ada yang sengaja di sembunyikan.
Karena sudah malam, ia tidak mau memperpanjang urusan, sesegera mungkin ia keluar kamar. Menuju kamar Quen.
"Hhhmmmpp... Bau apa ini? Menyengat sekali! Bikin pusing." Al mengipaskan tagan kanannya di depan hidung sambil menahan napas, sesegera mungkin ia meninggalkan kamar Quen.
"Kau tadi memecahkan berapa botol parfum? Pusing aku masuk kamarmu," gerutu Al, duduk di kursi kerja di kamarnya.
"Ada sepuluh botol parfum tadinya. Dan kurasa tidak ada satu pun yang tersisa." Quen menjawab sambil terkikik melihat ekspresi kakaknya.
"Aku tidak mau tidur di kamarmu!" Seru Al.
"Ya udah, aku tidak keberatan kok berbagi ranjang dengan kakak,"
"Ck... Bocah ini," gerutu Al lirih hingga tidak didengar oleh adiknya.
Tidak mau ribut dan mengundang perhatian seisi rumah, Al pun mengambil bantal dan menggelar tikar di atas lantai kamarnya dan mulai memejamkan mata.
Ide jail Quen tidak berhenti di situ saja, ia bahkan ikut tidur di bawah sambil memeluk kakaknya dari belakang.
"Quen, apa yang kau lakukan?" seketika Al pun langsung bangkit dan wajahnya memucat.
"Masa yang punya kamar tidur di bawah sementara aku yang numpang malah di atas ranjang. Jadi aku ikutan."
"Kenapa pakai peluk-peluk segala?"
"Bukannya tidak apa-apa? Setauku jika dingin begini akan terasa hangat saja jika dua manusia saling berpelukan," jawab Quen tidak mau kalah.
"Lagian, kakak juga tidak akan nafsu ma adik sendiri, kan?" goda Quen kembai meneluk kakanya di depan.
"Quen, kau memang adikku. Tapi sebagai lelaki normal, jangan pancing aku agar tak lepas kendali." ucap Al, sambil membaringkan tubuh adiknya.
Seketika Quen terkejut dengan apa yang dilakukan kakaknya, malah kini wajahnya yang jadi memucat. Karena jarak wajahnya dan wajah kakaknya begitu dekat di atasnya.
"Kau tidurlah di atas. Aku akan keluar," ucap Al segera menyudahi perbuatannya dan keluar dari kamar.
Quen membisu menatap punggung kakaknya yang lenyap dari pandangannya.
"Haah... Sykurlah, walaupun hampir saja, setidaknya aku tahu, kakak bukan gay seperti dugaanku."
Quen pun membaringkan badannya di atas kasur dan mencoba berfikir sejenak.
"Kak Al kan, ganteng, pinter tajir. Kenapa gak punya pacar, ya? Apa dia pernah suka ma wanita dan... Ah mungkin gadis Jepang sana yang dia pacari. Jadi, tidak ada yang tahu."
*****
Al berdecak kesal. Ia baringan di atas sofa ruang tengah. Ia berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa.
Ingatannya masih tentang perbuatan adiknya barusan, bahkan Al berfikir adiknya semakin kesini makin tidak waras saja.
__ADS_1
Al melipat kedua tangannya di depan dada, memiringkan badannya lalu akhirnya terlelap.
Lyli yang kebetulan bangun tengah malam hendak ke toilet melihat Al yang tidur di atas sofa.
Cukup lama gadis itu memperhatikan tuannya yang tengah lelap tertidur.
Sampai tanpa sadar ia melangkah lebih dekat dan dududuk di sebelahnya, memandang wajah tampan Al dengan sangat dekat.
Ia terhipnotis oleh keelokan rupa tuan mudanya. Tanpa ia sadari tangannya sudah bergerilya menjamah wajah Al.
Sepintas Al menepuk mukanya. Merasakan ada sesuatu di wajahnya, tapi tetap dalam kondisi mata terpejam.
Lyli terkejut, dengan cepat ia berdiri dan melangkah mundur kembali ke kamarnya.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa selimut. Lalu menyelimutkan ke arah tuannya. dengan sedikit tergesa-gesa ia pergi ke arah toilet.
*****
Keesokan paginya Clara terkejut mendapati Al tidur di sofa ruang tengah.
"Al. Sayang, bangun, Nak! Kenapa kau tidur di sini?" Berkali-kali Clara menepuk pipi putranya sampai akhirnya ia terbangun.
Ia mengusap wajah dan mata dengan kedua tangannya, "Mama?" tanyanya masih ling-lung. Pandangannya bergantian memandang ke arah Clara dan selimut yang ia kenakan.
"Kenapa tidur di sini?"
"Mama yang kasih aku selimut?" tanya Al, penasaran.
"Mama ini bingung kenapa kau tidur di sini, kok."
Merasa ada yang aneh Clara mengikuti putranya, ia melihat ada seseorang yang tengah pulas tidur di ranjang putranya.
Dengan mata terpejam Al begitu saja langsung membaringkan tubuhnya di sana.
Clara ikut masuk ke dalam kamarnya, ternyata yang tidur di sana adalah Quen.
"Oh. Jadi bocah ini berulah membuat kakaknya tidur di luar. Dan sekarang Al belun ingat kalau adiknya tidur di kamarnya." batin Clara.
"Quen. Bangun, kembali ke kamarmu!"
"Loh, Mama kok di, sini? Dan kakak. Kapan dia kembali?" tanya Quen bingung.
"Keluarlah. Kembali ke kamarmu. Kalian sudah sama-sama dewasa tidak baik tidur sekamar, ok."
Quen keluar dari kamar kakaknya sambil membawa selimut dan bantal milik Al.
Ia mengurungkan ke kamarnya lantaran bau yang masih cukup kuat. Tanpa sepengetahuan Clara. Ia turun ke lantai bawah dan tidur di sofa tempat Al baru saja dibangunkan Clara.
Pagi itu Lyli melihat terkejut lantaran selimut yang ada di ruang tengah diganti. Lebih terkejut lagi yang di sana bukan Al, melainkan Quen.
"Jangan-jangan mereka berdua sengaja ngerjain aku, dan tahu kalau diam-diam aku suka sama Tuan. Duh gimana ini, bakal jadi masalah tidak, ya?" batin Lyli, bingung sendiri.
Paginya di meja makan semua jelas, Al sudah mendapatkan kembali ingatannya apa yang terjadi semalam. Dan dari situ dia tahu, yang menberinya selimut adalah Lyli.
*****
__ADS_1
"Maaf permisi, Nona Quen, ada teman anda yang menunggu di depan pagar," ucap pak Makmur.
"Siapa, pak?" tanya Quen heran.
"Tidak tahu non, laki-laki, ganteng pakai motor ninja hijau, berseragam SMA."
Quen mengedarkan pandanngannya ke semua yang dududuk melingkari meja makan.
Paling lama ia melihat ke arah papanya lalu nyengir tanpa sebab.
"Biar aku lihat dulu," ucap nya lalu bergegas pergi ke depan.
Quen melihat seorang pria mengenakan jaket jeans warna biru cerah yang dibomingkan Dilan dalam film Dilan 90. Dari postur tubuhnya saja, ia mengenali pria itu.
"Kak, Juna."
Pria itu pun membalikan badanya smabil tersenyum lebar pada gadis yang memanggil namanya.
"Apakah aku terlalu pagi? Aku ingin ajak kamu bareng," jawab pria itu.
"Tidak, kok. Kakak masuk yuk ikut sarapan, dulu."
"Tidak usah, tadi uda sarapan."
"Ya, sudah, sekarang masuk saja dulu aku ambil tasku. Ayuk, kak!" Ajak Quen.
"Oh, Juna, ya? Tumben mampir," sapa Clara saat melihat siapa yang tengah mencari putrinya.
Sementara Juna hanya tersenyum malu-malu.
"Sarapan dulu, yuk! Jangan sungkan-sukan," ajak Clara lagi.
"Makasih, Tante. Barusan sudah di rumah."
Semantara tanpa ekspresi mata Al memandang lekat kepada teman pria adiknya itu, membuat Juna sedikit tidak nyaman dan salah tingkah dibuatnya.
Tak lama kamudian Clara turun dengan menenteng tas Sekolahnya.
"Ayuk, kak. Kita berangkat sekarang!" Seru Quen.
"Quen, kau tidak habisin sarapanmu?" tanya Al, tidak senang.
Quen tersenyun canggung memandang ke arah kakaknya. Lalu mengambil sepotong roti di piringnya tadi lalu berpamitan pada semuanya ortu, kakek, nenek dan kakaknya.
Terakhir dengan Al. Ia berbisik pada kakaknya, "Akan kumakan di jalan ya, Kak."
Al nampak tersenyum dan mengangguk.
Di tengah jalan Juna menanyakan prihal Al, siapa dia karena ridak pernah tahu.
"Dia kakakku, memang sejak aku masuk SMP dia ada di Jepang dengan kakekku yang pakai kaus putih tadi, kenapa, kak?"
"Tidak apa-apa. Apa dia tidak suka sama aku?"
"Dia di Jepang didisidik keras oleh kakek. Jadi, dia sangat disiplin terhadap apapun. Dia tidak suka aja jika aku tidak menghabiskan sarapanku. Makanya tadi kubungkus dan kubawa."
__ADS_1
Juna pun menghela napas lega mendengar jawaban Quen. Sampai tanpa terasa mereja sudah tiba di gerbang sekolahan.