
Al mbukakan pintu mobil untuk Queen. Dengan tersenyum, gadis itu pun masuk dan duduk di sebelah kemudi.
Queen memperhatikan wajah Al dari samping. Mukanya yang kusut serta bawah mata yang menghitam seolah menceritakan semuanya.
"Kakak pasti akhir-akhir ini sangat sibuk dan kurang istirahat, ya? Harusnya kakak di rumah saja, gunakan waktu libur mu untuk beristirahat." Queen masih memperhatikan kakak yang tengah fokus menembus macet.
"Menemani adik sendiri kan tidak salahnya, sayang." Mata Al masih lurus menatap jalanan Jakarta yang hampir tidak pernah tidak macet.
"Tapi, kesehatan mu itu lebih utama, kak."
"Asal bisa menjaga mu dan memastikan kau baik-baik saja, kakak juga akan sehat, kok," jawab Al sambil tersenyum memperhatikan Queen yang tampak memasang ekspresi kecut dengan ucapannya yang terkesan gombal.
"Jangan melihatku seperti itu," ucap Queen, membuat Al kian gemas saja.
Tapi, pria itu masih tetap berusaha fokus, hanya mengeratkan giginya saja sambil menatap tajam pada Queen.
"Kakak gak nyangka kamu bisa melangkah sampai sejauh, ini."
"Kenapa?" Queen menoleh memandang ke arah Al.
"Sudah baik mertuamu tidak merestui hubungan Alex dan Helena. Tapi, sepertinya kau sangat bersemangat dimadu."
Queen mendesah pelan sambil menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. "Memang, wanita mana yang mau dimadu, kak? Kalau pun lisannya bilang iya dan tidak apa-apa, hatinya tidak."
"Lalu, kenapa kau melakukan ini? Kakak sudah berjanji pada mama dan papa kalau kakak akan selalu menjaga dan membahagiakan mu. Kamu ga boleh sedih lagi, kalau perlu biar kakak bunuh saja Helena," ucap Al dengan sorot mata kian tajam. Bahkan aura pembunuhnya saat ini tiba-tiba sangat kuat.
Quen menyentuh pundak kakaknya. "Sudahlah kak. Memang dengan kau membunuh dia akan dapat apa? Membuat ingatan Alex kembali? Ayolah kak, ini bukan jaman Mak lampir akan hilang kutukan jika pelakunya berhasil di bunuh," ucap Queen sambil tertawa.
"Aku cuma ingin kau memiliki apa yang kau inginkan," balas Al menimpali.
"Kak, tuhan memang tidak selalu memberikan apa yang kita mau. Tapi, apa yang kita butuhkan dan yang pantas kita dapatkan. Biarkan saja begini, meskipun sakit, kelak kalau sudah terbiasa, sakit itu juga hilang," jawab Quen sambil matanya menatap lurus ke depan.
Al mengurangi kecepatan kendaraannya lalu belok ke sebuah gedung. Rupanya mereka telah sampai, hanya saja Queen yang sedari tadi menatap ke depan dengan tatapan kosong masih belum menyadari.
Al memandang adiknya dan mendekatkan wajahnya di telingaย Quen dan meniupnya.
Queen yang merasa geli sekaligus secara refleks menoleh ke kanan dan ia pun tanpa sengaja mencium telak Al yang wajahnya berada bersis di sebelahnya.
"Sayang, gaya mencium mu rupanya sangat buruk dan kasar."
Queen mengundurkan kepalanya menatap tajam kepada Al yang masih senyum-senyum sendiri dan menatapnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku ga sengaja."
"Sudah sampai, ayo turun." Al memajukan wajahnya lagi sampai Queen tak lagi dapat menghindar, dan ia pun memilih untuk memejamkan matanya. "rupanya kau tadi habis makan kue coklat, lihatlah! Mulutmu blepotan," tambah Al sambil menyeka ujung bibir Queen yang terkena coklat dengan ujung ibu jarinya.
"Hhaaahh... Ngomong kek dari awal, aku bisa memberikan sendiri," keluh Queen setelah menghembuskan napas panjang.
"Lagian kenapa sih ekspresi kamu begitu amat? Ngarep Kakak cium, ya?" Goda Al sambil terkekeh.
Queen menjewer kuping Al dengan gemas lalu membuka pintu mobil dan turun. Sementara Al masih di dalam mombil memperhatikan Quen yang berjalan dari belakang.
"Heh, dasar. Apa karna aku berutang janji pada mama dan papa ya, setiap aktivitasku akhir-akhir ini jadi terganggu dengan bayanganmu. Dan sekarang kau pun tidak bahagia, Queen," gumam Al seorang diri sambil tersenyum. Senyuman yang cenderung menyalahkan dirinya sendiri.
Al pun keluar dari mobil lalu menyusul Queen. Seperti biasa, di sana ia tidak banyak bicara. Tapi, sikapnya agak berubah. Jika biasanya dia menunggu sambil sibuk dengan gadgetnya, kali ini ia menunggu sambil bengong memperhatikan adiknya.
Ya, adik kecilnya yang dulu selalu dia sayang sampai sekarang. Digendong jika berkata lelah karna terlalu lama berjalan kaki. Selalu dicium dalam setiap kesempatan, entah itu dia melakukan kebaikan, berprestasi atau memberinya sebuah kejutan. Tapi, saat ini ia sudah dewasa. Rasanya pun juga tak lagi sama seperti dulu.
__ADS_1
Tapi, Al tidak sadar sejak kapan. Meskipun ia dan Queen sama-sama sudah menikah masih saja sering saling berpelukan dan mencium kedua pipi jika bertemu dan akan berpisah. Tapi, yang dirasakan saat ini sedikit berbeda. Apa karena hutang kepada papa dan mamanya. Dan saat ini ia gagal melakukan janjinya?
Lagi-lagi Al mengaitkan hal itu dengan hutang atau janjinya saja.
"Kak, bengong apaan?"
Al terperanjat kaget saat tiba-tiba Queen berteriak kencang di sampingnya sampai memekakkan telinga. Bahkan ia pun hampir jatuh saat tubuhnya didorong oleh gadis itu dengan lumayan kencang.
"Queen, kenapa harus berteriak sih di tempat seperti ini?" Protes Al dengan lagaknya yang tenang dan cool. Membuat para pekerja wanita yang mendekorasi pelaminan saling curi-curi pandang padanya.
"Apanya gak kencang, orang dari tadi dipanggilin juga ga ada nyahut. Bengong aja terus," ucap Quen sambil memanyunkan bibirnya.
Al tertawa melihat adiknya yang manja, lalu berkata dengan nada lembut, "Apakah sudah selesai semuanya?"
"Iya, sudah. Besok acaranya jam dua sore. Tapi, aku tidak kerja ya kak?"
"Terus kamu mau apa? Bantu menyiapkan acara keduanya? Biar mereka yang urus. Pokoknya besok pagi kakak jemput kamu. Awas saja kalau nolak," ancam Al dengan serius.
"Memang mau apa? Terserah aku dong!" jawab Queen kian menantang membuat Al menjadi gemas.
Al meremas jemarinya sendiri sambil mengepal dan mengeratkan giginya sambil memandang Queen. Menahan sesuatu yang tak pantas dilakukan di depan umum.
"Udah beres kak, kita pulang saja, yuk."
"Kamu mo pulang ke mana?" tanya Al.
"Ya ke rumah, lah. Aku kangen sama kakek dan Bilqis. Oh iya, mumpung hari Minggu libur kakak gak ajak kak Nay dan Bilqis jalan-jalan gitu?" tanya Queen.
"Mau jalan ke mana? Ya sudah cabut aja yuk!. Kamu mau makan di luar apa di rumah?"
"Terserah kakak aja, deh."
๐ ๐ ๐
"Hay, selamat siang."
Sebuah chat atas nama Jevin masuk ke dalam ponsel Nayla.
Meskipun ia sudah menebaknya, tapi, raut wajah kecewa tidak dapat wanita itu sembunyikan meskipun hari ini ia sudah menjalani hari-harinya dengan normal karena sudah mendapatkan apanya ia inginkan dari Al, suaminya.
Meskipun ia sudah biasa tidak menerima chat dan telfon dari Al terlebih dahulu, tapi. Kejadian semalam membuatnya berharap. Meski ia tahu, kalau yang meramaikan gawainya akhir-akhir ini juga adalah Jevin. Staf suaminya.
"Iya, siang. Ada apa Jev?" balas Nayla.
"Tidak ada, keknya kamu lagi kesepian. Jalan yuk!"
Nayla tersenyum tipis membaca balasan dari Jevin.
"Memang kamu gak keberatan ajak anak kecil?" balas Nayla sambil tersenyum.
"Kenapa keberatan? Emang kamu tega dan bisa gitu jalan-jalan sendiri sementara anak diam di rumah. Papanya pasti juga lagi gak di rumah, kan?"
Nayla tidak langsung membalas chat dari Jevin. Dia menelepon suaminya terlebih dahulu menanyakan keberadaan dan kapan akan pulang.
"Mas, ada di mana?" ucap Nayla begitu panggilan diangkat.
"Ini lagi makan bakmi sama Queen. Ada apa, Nay?"
__ADS_1
"Aku merasa jenuh di rumah, kapan mas akan kembali?"
"Belum tahu. Kalau kamu mau jalan, ya jalan saja gapapa. Aku ada di tempat biasa makan bakmie. Kamu kalau mau kesini aja sama Bilqis."
"Lihat Bilqis nanti mau kemana saja, ya mas. Paling kita cuma ke taman doang. Dia baru saja makan siang," ucap Nayla lalu mematikan panggilannya.
***
Memang ini bukanlah pertama kalinya Nayla keluar dengan Jevin. Tapi, pertama kali mereka keluar dengan mengajak Bilqis juga.
Bocah kecil itu berlarian di taman kesana kemari. Bahkan Jevin juga tak segan-segan ikut bermain bersama bocah itu. Mulai dari kejar-kejaran an. Main bola petak umpet sampai yang terakhir Bilqis merasa lelah Jevin pula yang menggendongnya.
"Om, aku suka main sama om. Sering-sering ajak Bilqis jalan-jalan, ya? Papaku terlalu sibuk. Terlebih saat kakek dan nenekku sakit. Dia hampir tidak pernah ada waktu untuk Bilqis dan mama," ucap bocah itu dengan polos sambil memeluk punggung Jevin.
"Iya, kalau om ada waktu om juga akan ajak Bilqis dan mama tapi, janji jangan cerita sama papa, ok?" ucap jevin sambil terus berjalan sambil menggendong Bilqis di belakang.
"Iya, om Bilqis gak akan cerita sama papa."
Tidak lama kemudian mereka menemukan kursi yang teduh tepat di bawah pohon yang rindang. Jevin menurunkan Bilqis dari gendongannya sementara dia duduk bersanding dengan Nayla tapi, bocah itu berlari saat melihat seekor anak kucing berusia sekitar dua bulanan mengeong-ngeong di area taman.
Dua orang dewasa itu mengawasinya sambil mengobrol.
"Terimakasih ya Jev mau meluangkan waktunya untuk kami," ucap Nayla yang sedari tadi hanya diam.
"Untuk seorang teman, kenapa harus ada kata terimakasih, Nay?" Jevin mulai memandang ke arah Nayla yang bahkan tatapan matanya tidak teralih dari Bilqis.
"Tetap saja, seharunya yang mengajakku pergi itu mas Al bukan kamu. Yang suamiku itu dia, bukan kamu," timpal Nayla setelah menghembuskan napas panjang.
"Apakah dia sesibuk itu sampai tak ada waktu sedikitpun untuk kalian?"
"Sepertinya iya. Dia tidak hanya mengurus satu perusahaan saja. Tapi tiga perusahaan Induk. Belum cabag-cabangnya."
"Tiga?" tanya Jevin dengan ekspresi terkejut hampir tak percaya.
" Perusahaan garmen terbesar di Indonesia itu juga milik mertuaku. Awalnya dulu satu biar mas Al yang urus, dan satunya lagi Queen. Tapi, gadis itu lebih memilih bergerak dalam bidang kesehatan."
"Lalu, kenapa sekarang ia juga masuk ke perusahaan kontruksi itu?"
"Awalnya dia mau mengurus di bagian garemen. Tapi, mas Al melarang sebab dia juga masih belum lulus. Hanya saja gak tahu gimana kalau dia sudah pelantikan nanti, apakah masih bisa membantu mas Al?"
Jevin tersenyum seorang diri. Dari ekspresinya sungguh sulit untuk ditebak.
"Apa kamu gak capek hidup cuka begini saja? Apakah wanita itu hanya cukup hidup dengan uang saja tanpa perhatian dan kasih sayang dari pasangan?" Pancing Jevin.
"Ya jenuh, Jev. Kalaupun aku bisa memilih, aku lebih baik hidup dengan lelaki sederhana tapi, bisa membuat aku bahagia. Memang aku bukan orang kaya, aku dulu gelandangan yang mas Al pungut. Tapi, Matari memang tidaklah dapat selalu memuaskan. Bahkan akhir-akhir ini semenjak kedua mertuaku koma, aku merasa sangat sepi. Tak ada lagi teman yang untuk berbicara."
"Lalu kalau kau tahu begitu kenapa mau menikah dengannya?" tanya Jevin penasaran.
"Siapa yang tahu kalau mas Al sekaya ini? Dulu kami dipertemukan saat aku bertengkar dengan mantan suamiku. Dia memaksa aku untuk rujuk aku menolak dalam keadaan mendesak, Bilqis juga masih umur satu tahun rewel karena lapar mas Al datang menolongku. Dia bilangnya kerja di cafe ternyata cafe itu milik omnya dan perkenalan baru dua bulan kami sudah menikah. Dulu dia baik dan romantis. Tapi, setelah kembali di Indo papa mengajak dan memperkenalkan dua perusahaan itu dia menjadi agak dingin apalagi sekarang..." Nayla diam tak melanjutkan kalimatnya.
"Kau kuat sekali, ya? Jika saja wanita lain, pasti sudah cari kepuasan dengan pria lain. Tapi, tidak dengan dirimu. Harusnya pak Al bangga memiliki istri seperti mu, Nay."
"Heh, bangga? Apa yang dibanggakan dariku, Jev? Aku hanya gadis desa biasa yang jadi gelandangan di sini lalu dia pungut. Mendapatkan cinta dan kasih sayangnya saja sudah suatu kebengungan yang hanya aku yang merasakannya. Kenapa aku harus banyak menuntut? Di rumah itu aku sudah seperti putri saja. Tak ada yang membedakan antara aku dan Queen n untuk menuntut aku sangatlah malu."
"Pak Al dan keluarganua tidak begitu mementingkan pendidikan para menantu mereka, tapi, coba lihat di luar bsana! banyak perempuan yang cari kepuasan sendiri karena suaminya tak ada perhatian dan jadi sangat jutek."
"Amit-amit. aku semoga kagak gutu," timpal Nayla dengan cepat.
__ADS_1
Lalu, keduanya pun sama-sama saling tertawa sambil mengawasi Bilqis yang tengah asik dengan anak kucing yang baru ditemukannya itu.