Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 58


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak perlu mengatakan ini padamu, tapi, jika aku terus menyembunyikannya aku aku juga salaj, jadi, aku harap kau bisa ngerti dan berjanjilah jangan marah, kita sudah sama-sama dewasa, jadi. aku mau terbuka saja dengan apa masalahku saat ini, karena sebentar lagi kau adalah istriku," ucap Adit.


"Apa memang, Dit,? kau bilang saja ke intinya," ucap Quen mulai tegang. tiba-tiba saja ia merasa kawatir kalau Aditya akan membatalkan pernikahannya yang sudah disiapkan jauh hari sebelum hari H yang tinggal kurang sepuluh harian itu.


Sekitar dua minggu lalu mamanya Axel datang kerumah mencariku, tapi, mamaku yang menemuinya. Dan beberapa hari setelahnya dia datang ke sekolah Axel, mau tidak mau kami pun bertemu, dia mengajakku untuk rujuk tapi aku tidak bisa, aku terlanjur mencintai kamu, Quen." mata pria itu lekat memandang Quen. Tidak ada kebohongan memang di sana saat ia mengatakan bahwa pria itu mencintainya.


Tapi, dia belum jujur atas perasaannya pada sang mantan istri yang merupakan pasangan dari sejak awal masuk SMA.


Quen menghembuskan napas panjang seraya menyeringai kecil dan bergumam dalam hati kalai dugaannya tidak meleset.


"Kau menolak rujuk dengan mamanya Axel? Kenapa? Apakah Axel tidak menginginkan mamanya lagi?" tanya Qun dengan tenang.


Selama ini ia selalu menghindari Aditya dan ingin membatalkan pernikahan, tapi, begiti masalah dihadapi, kenapa seolah hatinya sakit dan tak rela Aditya bersama yang lain? Ini cinta apa hanya takut kehilangan saja?"


"Axel, ya? Aku tidak tahu bagaimana dia." Jawab Adit, seraya menundukan mukanya dari tatapan Quen. Seolah ia menghindari kontak mata dari gadis di hadapannya.


Quen tersenyum, ia tahu apa yang ada pada hati bocah itu, jelas saja, pasti akan memilih orang tua kandung daripada orang tua sambung.


"Kau ajak dia bersantai makam es krim atau apa, dan mengobrolah dari hati ke hati. Kau bisa, kan? Minta dia untuk jujur kesampingkan dulu emosi dan keinginanmu, dari pada menyesal dengan perbuatan yang kita lakukan, lebih baik menyesal tanpa melakukannya. Selagi belum terlanjur, Dit."


Quen mulai mengemasi barangnya. Memasukan ponsel ke dalam tas dan bersiap pergi, tapi, Aditya masih saja bergeming. Ia sengaja mengulur waktu kebersamaanya sebab, ia tidak ingin jauh-jauh lagi dengan Quen.


"Jika memang sudah tidak ada yang perlu di jelaskan, ayo pulang!" Seru Quen.


Aditya lagi-lagi hanya diam seribu bahasa. Ia bangkit membayae ke kaair dan mengantarkan Quen.


Tak ada kecupan mesra di kedua pipi Aditya dari gadis yang dicintainya, ia langsung turun begitu saja dari mobil berdiri di depan pagar dan melambaikan tangannya menunggu hingga mobil itu hilang dari pandangan lalu masuk ke dalam.


Quen berjalan menuju pintu rumah, dengan malas diraihnya gagang pintu menarik lalu membukanya dan tiba-tiba saja kakinya tertabrak oleh Bilqis yang tengah berlarian.


"Bilqis, ada apa? Hati-hati jangan berlarian nanti kamu jatuh," ucap Quen sambil berjongkok memegangi kedua lengan anak itu.


Bilqis tertawa ceria lalu memeluk Quen menyembunyikan wajahnya dari Nayla.


Sepertinya memang mereka sedang bermain kejar-kejaran.


"Kau sudah pulang, Quen?" sapa Nayla pada saudari iparnya.


"Iya, kak. Aku capek banget mau istirahat dulu," ucap Quen sambile memberikan Bilqis dari gendongannya kepada Nayla.


Baru beberapa langkah dia menginjak anak tangga Lyli memanggilnya, mengatakan kalaubada tamu yang mencarinya.


Awalnya Quen mengira itu Aditya, ada barangnya yang tertinggal di mobil, tapi ternyata salah. Bukan Aditya yang sadang. Melainkan seorang wanita dengan mini dress putih berdiri di teras memebelakangi pintu.


"Permisi, apakah anda mencari saya?" sapa Quen pada wanita berambut hitam yang disanggul dengan rapih itu.


Dengan gerakan lembut serta anggun wanita itu membalikan badan menghadap ke arah Quen seraya menunjukan senyumnya yang hangat pada gadis yang jauh lebih muda darinya tentunya.


"Kamu yang namanya, Quen, ya? Perkenalkan, aku Novita. Mama kandung Axel dan... " wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya saat Quen mengucapkan kata-kata yang ingin ia katakan lebih dulu.

__ADS_1


"Mantan istri pak Aditya?" Quen pun turuf tersenyum dan mempersilahkan duduk di kursi teras uang tersedia.


"Ada perlu apa Mbak Novi datang kemari? Dan bagaimana anda tahu kalau saya tinggal di sini?" tanya Quen heran.


"Tadi aku melihat kau tengah makan siang di sebuah cafe bersama Aditya, karena selama ini aku ingin bertemu denganmu dan ngobrop berdua saja, maka aku menguntit di belakang kalian. Dan menunggu Adit pergi baru aku kemari."


"Oh, begitu, ya? Memang apa yang mau diobrolkan, Mbak?"


"Ya sudah, aku type orang yang tidak suka berbelit-belit. Langsung ke inti saja, ya? Aku sebenarnya berniat untuk mengajak Aditya rujuk demi Axel, tapi, begitu aku melihatmu kau benar-benar mencintainya dengan tulus menerima kekurangannya dan juga menyayangi Axel, ku rasa... Kurasa aku mengurungkan saja niatku. Tidak akan baik pula jika aku kembali tapi, kau akan terluka. Aku doakan kalian bahagia dan kepadamu, aku titip putraku, jaga dia dengan baik, ya?" ucap Novita sambil menggenggam kedua tangan Quen.


Quen diam seribu bahasa. Dia benar-benar di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit kali ini. Bahkan mengenai kegundahannya hanya Al yang tahu, papa dan mamanya masih belum tahu apa-apa soal ini.


"Sekarang aku tanya sama kamu, andai aku tidak begitu dekat dengan Axel, apakah kau akan bersikeras mempertahankan mantab suamimu?" ucap Quen enggan menyebutkan nama Aditya yang hanya akan meninmbulkan luka saja.


"Mungkin iya, memang aku salah dan tidak pantas kembali, tapi aku sudah mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya, kan? Dari pada tidak sama sekali."


"Apakah kau masih mencintainya?"


"Cinta? Aku tidak tahu Quen, yang aku tahu, akulah satu-satunya wanita yang ada dihatinya, dialah pria yang palong bisa mengertiku menghadapi segala keburukan sifat dan egoku. Dulu dengan angkuhnya aku meninggalkan dia, tapi, sekarang setelah orang tiu berkhianat aku sadar. Sosok sempurnah ada dirumah selalu menantiku kembali saat aku terbang keliling dunia, jadi, permata yang pernah kucampakan dulu ingin kupungut lagi dengan harapan dia tetap ada di tempat. Tapi, aku salah, dia sudah dimiliki olemu, jadi, aku titipkan mereka kepadamu saja."


"Kau yakin dengan keputusanmu?"


Tanya Quen dengan tatapan penuh selidik.


"Aku akan pergi, setelah pernikahanmu nanti, aku usahakan hadir untuk menberi restu." Kembali Novita menunjukan senyumnya yang hangat kepada Quen membuatnya merasa nyaman sekaligus terluka saat bersama dengannya.


"Pergi? Kemana?"


Setelah berpamitan Novita pun pergi meninggalkan teras berjalan ke arah gerbang. Bersamaan dengan itu, Vano dan Al datang dengan satu mobil. Dua pria itu sempat memperhatikan Novita dia pikir siapa, atau tamunya Clara, tapi mereka melihat Quen berdiri di teras dengan wajah murung.


"Pa, Al turun di sini saja," pinta Al pada papanya.


Vano pun mengangguk dan menghentikan mobilnya di depan teras, dan kembali berjalan ke arah garasi setelah putranya turun.


"Kakak, kok bisa sama papa?" tanya Quen berusaha tersenyum.


"Tadi papa ajakin survey lokasi, kau tumben sudah pulang? Siapa tadi yang datang?"


"Dia, ya? Novita." jawab Quen sambil menunduk.


"Kenapa dia datang ke mari? Apakah dia mengatakan hal buruk padamu?" tanya Al panik.


"Tidak, sama sekali tidak. Justru dia malah menitipkan Aditya dan Axel padaku," jawab Quen lirih. Bersamaan dengan itu Vano sudah berdiri di dekat mereka.


"Dia mantan istri Aditya, Quen?" tanya Vano.


"Iya, Pa."


Tanpa mengucapkan apapun Quen berlari sambil menunduk menjauhi papa dan kakaknya. Dia langsung masuk ke kamar menguncinya dan menelungkupkan badannya di atas kasur. Quen menangis sudah tak mampu lagi dengan beban yang ia pikul. Ini benar-benar berat baginya.

__ADS_1


Al mendesah kesal merasa tak bisa mengatasi permasalahn yang dialami adiknya sendiri. Dikepalkannua tangannya kuat-kuat dan memukukannya keras ke arah dinding tak peduli lukanya belum sembuh total.


"Ada apa sebenarnya, Al? Apakah kau tahu sesuatu?" tanya Vano pada putranya.


"Quen mengetahui kalau mantan istri Aditya mengajak rujuk kembali dengan alasan demi Axel putra mereka, dan yang disesalkan Quen, kenapa ininterjadi tidak dari dulu saja? saat ia sudah mulai menyukai Aditya dan lebih parahnya undangan sudah tersebar, dia tidak masalah mengakhirinya, Pa. tapi yang dia pikirkan adalah nama baik keluarga kita pasti akan tercoreng jika putri mereka diketahui publik gagal menikah, dan jika ada yang tidak suka dikawatirkan akan ada berita miring dia sebagai pelakor atau apalah orang kalau udah gak suka, Pa. pasti ada aja caranya untuk mencari celah, ya, kan?" ucap Al panjang lebar.


"Jadi, wanita itubtadi datang menemui Quen untuk mengatakan maksutnya?" tanya Vano memperjelas.


"Bukan, dia sudah merekakan Aditya katanya tapi, Quen masih saja merasa terbebani. mungkin ada maksut terselubung daei wanita itu, Pa. aku akan menyelidikinya," ucap Al lalu beranjak pergi hendak menyusul Quen.


tapi, di balik pintu Nayla sudah menunggunya, dia pura-pura membukakan pintu seolah tidak mendengar pembicaraan antara suami dan papa mertuanya.


"Kau sudah pulang, Mas?" sambut Nayla hangat.


"Iya, apakah Quen tadi masuk ke kamarnya?" tanya Al, tanpa melihat ekspresi istrinya.


"Kau baru datang saja bahkan langsung menanuakam dia, Mas?" tanya Nayla dengan suara rendah tapi menekan, menunjukan ketidak sukaanya terhadap prilaku Al kali ini.


"Al, kau istirahatlah dulu, nanti papa akan ajak kamu lagi ke sana," ucap Vano sambil melewati anak dan menantunya.


"Iya, Pa. Al juga lelah," jawab Al lalu beranjak ke dapur untuk mengambil minuman.


Dari belakang Nayla mengikuti suaminya dengan langkah kesal.


"Mas, aku mengajakmu bicara!" Seru Nayla kesal.


Al tidak menjawab dia membuka pintu lemari es mengambil satu botol air mineral dan meneguknya tanpa memperdulikan Nayla yang mengomel.


Ia malah menoleh ke arah Lyli yang hampir tidak pernah diam, ada aja sesutau yang dikerjakan.


"Masak apa, Kak?" tanya Al sabil mendekat. sebenarnya ada rasa tidak enak pupa Al mendekati Lyli, sebab bagaimanapun dia pernah ada hubungan dengan gadia yang menjadi asisten rumah tangga di rumahnya.


"Pesanan nona Quen, Mas. dia minta salad buah, aku bikin banyak, mungkin mas Al dan mbak Nayla mau," tawar gadis itu ramah.


"Iya, kak. aku mau, kutunggu di ruang tengah, ya?" ucap Al seraya melangkah ke ruangan tengah dan menyalakan telvisi.


Bahkan dalam kondisi hati hancur begini anak itu masih saja ingat makan? batin Al tersenyum sendiri saat menyaksikan tayangan telefisi.


Di dapur Nayla mengawasi Lyli yang tengah memotongo buah-buahan.


"Mbak Nay mau?" ucap Lyli terpaksa.


"Tidak, aku bawakan saja yang punya mas Al."


"Ya sudah itu, saya akan ke kamar nona Quen dulu," ucap Lyli cuek. Melewati Nayla yang baginya Nenek lampir.


Hay, kakak. ada yang penasaran dengan Quen? kalau menurut bayangan Author sih dia kek gini. gimana cantik gak? dan yang jadi mama Clara Nia Ramadhani. mirip, kan mereka?😅


__ADS_1



__ADS_2