
Di dalam mobil Al melihat Queen
sudah terlihat sangat kelelahan, matanya pun juga sepertinya sudah tinggal lima
mega watt. Dia tersenyum tertahan dan beratanya, “Kita mau balik ke mana?
Pulang ke rumah, atau ke apartemen?”
“Ke rumah saja, deh,” jawab Queen
dengan mata setengah terpejam.
“Besok kamu praktik siang apa gimana?”
“Ya masih pagi, sih. Tapi gak sepagi tadi.”
“Memang kenapa tadi kok pagi banget?”
“Ada rapat,” jawab Queen bohong.
Al menarik tubuh Queen mendekat dirinya dan menempaelkan pada
dadanya sambil mengemudi.
"Tidurlah, nanti kalau sudah tiba di rumah, aku gendong kamu."
"Ah, bangunkan aku saja jika aku masih tertidur."
Pukul 22.30 mereka telah tiba di rumah. Keadaan rumah sudah
sepi dan gelap. Mungkin semua sudah tidur. Tapi, Queen berharap Nayla masih
terjaga untuk menunggu Al dan melihat mereka pulang dari berbelanja. Tujuan
Queen kali hanyalah tak lain sekedar ingin Nayla jengkel dan emosi saja. Ia
tahu, jika saja dia melihat suaminya dekat dengan dirinya saja sudah cukup
membuatnya cemburu dan marah, apalagi jalan bareng dan mengantarkan berbelanja.
Cukuplah membuatnya naik pitam.
Ternyata semua sesuai dengan harapan Queen. Begitu keduanya
membuka pintu ruang tamu dan sibuk dengan belanjaan yang 98% adalah milik
Queen, Nayla tengah duduk di ruang tamu. Dengan wajah marah yang tertahan
wanita itu berdiri di depan Al dan menatap sinis kea rah Queen.
“Dari mana saja kalian, Mas?”
Al hanya diam tidak menjawab. Ia menyuruh Queen untuk naik
ke atas dulu dan beristirahat.
Tapi, saat Queen hendak melangkah, Nayla mecegahnya. “Tunggu
dulu, kau tidak bisa pergi begitu saja, Queen. Kalian dari mana saja?”
Queen hanya menghela napas Panjang dan menghembuskannya
secara kasar. Ia memandang Al dengan tatapan lelah. Al yang paham dengan
kondisi Queen. Tetap menyuruh Queen untuk naik duluan.
“Sayang, kurasa kau juga tahu siapa yang harus kau dengarkan,
dan pada siapa kamu harus patuh. Kamu lelah, beristirahatlah, bukankah besok
pagi kau harus bekerja?”
“Terimakasih.” Queen tersenyum, mendekati Al dan berjinjit
mengecup sebelah pipinya di hadapan Nayla. Jelas hal itu membuat Nayla naik
pitam. Terlebih, Al membalas senyuman Queen dan sedikit memegang pinggangnya.
Al membiarkan tas berisi belanjaan yang tidak bisa dibawa
Queen sepenuhnya berada di sofa ruang tamu, tanpa menganggap Nayla, ia
melangkah ke kamarnya sambil melonggarkan dasi dan melepaskan beberapa kancing
kemeja teratasnya.
Nayla yang merasa diabaykan pun berjalan mengekor di
belakang suaminya sambil marah-marah.
“Kamu tadi saat kutelfon bilangnya ada urusan dengan rekan
bisnis. Kamu bohong, kan Mas? Kamu lagi jalan sama Queen?”
“Nay, ini sudah malam, jangan ribut.” Bahkan sedikitpun Al
juga tidak peduli sama sekali dengannya.
“Aku ini istrimu, Mas! Pernahkah kamu menemaniku pergi jalan
seperti yang kalu lakukan pada Queen?”
“Di Jepang kita juga hampir setiap hari pergi jalan bareng,
kan? Kenapa kamu berubah berkata aku tidak pernah?”
“Ya, setelah di sini kau tidak pernah, Mas.”
“Aku lelah, lelah, Nay. Jangan ribut, kasian papa dan kakek
jika sampai terganggu.” Tanpa sengaja Al menjatuhkan kotak lingeri yang sengaja
dia ingin belikan untuk Queen. Dengan cepat, Nayla meraih kotak tersebut dan
melihat apa isinya.
Emosi Nayla menurun saat melihat isi kotakl tersebut, ia
sedikit berkata dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.
“Kamu beli lingeri, Mas? Buat siapa? Aku, kan?” tanya Nayla ragu-ragu.
Namun, ia berfikir jika bukan dia, siapa lagi? Istrinya cuma dia saja, kan?
Al terkejut mendengar perkataan Nayla, ‘Uh, kok ketahuan
dia, sih. Itu, kan buat Queen,’ batinnya. Tapi, tiba-tiba ia memiliki ide lain.
Dan berfikir mungkin ini sudah saatnya memanfaatkan Nayla dan segera membuatnya
pergi darim kehidupannya. Selain itu juga bisa melihat seberapa besar Queen
mencintainya.
Al menoleh kea rah Nayla yang masih memandang dengan dia
dengan tatapan marah, walau tak semarah tadi. “Ya tentu saja buat kamu dong,
Nay. Masa buat bik Yul?”
Nayla membuka kotak tersebut dan membeber benda berbahan
lembut dan adem, tersebut. Sudah lama ia tak lagi memakai pakaian itu di depan
Al. Bahkan, terakhir kalinya kapan dia juga sudah tidak ingat.
“Kamu masih ingat sama aku, Mas?’’ Nayla menatap Al dengan
tatapan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Al bahkan juga tersenyum pada
Nayla. Senyuman sandiwara saja.
“Ya sudah, aku sangat lelah, akum au mandi dulu sekarang.”
__ADS_1
“Malam ini kamu mau tidur sama aku, Mas?”
Al diam sesaat ia nampak berfikir. ‘Cuma tidur doang, sama
siapapun bebas, yang jangan itu melakukan aktivitas malam di atas ranjang
sebelum tidur,’ batin Al.
“Baiklah, kamu naik aja ke atas. Aku akan segera menyusulmu.”
Dengan perasaan senang Nayla pun pergi meninggalkan kamar
bawah yang kini beralih fungsi menjadi kamar pribadi Al. Dengan segera Nayla
mengganti pyamanya dengan lingeri hitam yang baru saja Al belikan.
Dengan langkah berat dan terpaksa pria itu menapakki anak
tangga satu persatu. Di depan kamar Queen Al sempat berdiam di sana dalam waktu
cukup lama, ia memandangi pintu kamar terseebut dan sedikit tersenyum penuh
arti. Kemudian, ia pun masuk ke dalam kamar lamanya untukmyang kedua kali
setelah pernikahannya secara diam-diam dengan adik angkatnya.
Begitu Al membuka pintu kamarnya, aroma therapi lyly blossom
menyeruak indra pendengarannya. Ia merasa nyaman dan tenang dengan aroma tersebut
dan bergumam dalam hati, ;Dengan aroma ini aku akan tidur dengan nyenyak dan
besok pagi bangun juga tidak akan terlambat.’
Dalama suasana remang-remang cahaya lampu kamar tidur, Al
melihat Nayla duduk di tengah ranjang dengan lingeri salah sasaran dengan gaya
duduk yang sensual dan menggoda. Namun, itu hanya membuat Al merasa jijik
melihatnya. Dia berfikir, kalau Nayla juga demikian.
Tanpa ekspresi pun Al langsung merebakan tubuhnya di atas kasur yang sudah
dipenuhi oleh kelopak mawar merah. Entah bagaimana dia mendapatkannya secepat
itu. Al sudah lelah tak mau memikirkan
hal itu. Dengan posisi telungkup memeluk bantal Al langsung memejamkan matanya.
“Mas, kamu kok sudah tidur saja,” ucap Nayla sambil
mencolek-colek punggung suaminya.
“Aku capek, Nay. Lagi gak mood.”
Dengan perasaan kecewa, Nayla pun akhirnya tidur di sebalah
Al yang bahkan tak mau menghadap dirinya.
Queen merasa pagi ini kakinya terasa pegal. Bahkan Al yang
berjanji kan memijitnya juga entah kemana, dia tidak datang. Padahal pintu
kamar tidak terkunci.
“Duh, kakiku… Mungkin dia sangat mengantuk semalam, dan
urusannya dengan Nayla juga Panjang. Biarin saja lah,’’ gumam Queen seorang
diri.
Mendengar suara Bilqis memanggil-manggil mamanya membuat
wanita itu penasaran. Apa yang terjadi? Apakah Nayla belum bangun? Pikir Queen.
Karena penasaran, Queen pun beranjak dan membuka pintu melihat ke dalam apa
yang terjadi?
pintu, Bilqis sudah memeluk Nayla. Queen yang memang teliti sejak lahir, ia melihat
kejanggalan pada diri Nayla. Tapi, apa? Oh, pakaiannya, semalam saat
menunggunya di ruang tamu dia mengenakan piyama lengan pendek dengan celana Panjang.
Bahkan, sekarang ia memakai lingeri sexyi yang ditutup kimono tipis bermotif
dan transparan.
Awalnya Queen ingin tertawa dengan cara Nayla berpakaian
saat tidur, ia sexy untuk siapa? Tapi,m tiba-tiba Al muncul dari dalam dan pandangan
mereka bertemu.
Harusnya Queen biasa saja. Tapi, kenapa dia malah merasa
sebal dan ingin marah melihat mereka tidur dalam satu kamar. Tanpa berpikir
lagi, Queen pun membanting pintu kamar dan segera mandi. Bahkan, sarapannya pun
dia minta pada bibi untuk memasukan ke dalam kotak bekal.
“Queen, kenapa tidak sarapan di rumah saja?”
“Queen lupa, Pa. hari ini ada apel pagi. Queen berangkat
dulu ya, Pa.” Wanita itu pun beranjak mencium kedua pipi Vano dan juga
kakeknya. Namun, dengan sengaja ia mengabaikan Al yang duduk di sebelah Nayla.
Nayla yang menyadari perubahan sikap Queen kepada Al dia
merasa puas. Bagaimana mungkin sepagi ini tiba-tiba saja dia marah sama Al,
bahkan semalam dia sempat mencium pipi suaminya di depan matanya sendiri. Nayla
semakin yakin kalau Queen memang ada perasaan terhadap kakak angkatnya. Jadi,
feeling dia selama ini memang tidak lah salah. Memang benar.
“Sudah dimulai ya, Al?” tanya kakek Andreas.
“Sudah kek. Semoga hasilnya sesuai harapan,” jawab Al yang
langsung paham dengan kode pertanyaan dari sang kakek.
“Ada apa, Pa?” tanya Vano. Pura-pura penasaran.
“TAnyakan pada Al, ada apa?”
“Membuang sampah yang tak berguna, Pah. Ada dua tumbuk dan
membuatku tak nyaman.’’
Vano diam tidak menjawab, sementara Andrean hanya tersenyum saja.
Al meminum segelas susu yang sudah disiapkan oleh bikm Yul,
kemudian, ia mengambil roti bakar dan mengolenya dengan selai coklat dan
kacang, lalu, ia pun beranjak pergi meninggalkan meja makan.
“Kek, Pa, aku berqangkat dulu, ya? Ada hal yang aku urus
sebelum jam kerja,” ucapnya sambil menggigit rotinya san tangan kirinya
menenteng tas kerja.
Al mengemudikan kendaraannya dengan cepat menuju ke rumah
sakit. Setelah mencari informasi melalui salah satu teman Queen, yang baru dia
__ADS_1
dm di ignya, Queen baru bekerja nanti sekitar pukul tujuh, sedangkan ini juga
baru pukul enam lewat lima belas menit. Al menunggu di depan pagar rumah sakit,
ia yakin kalau Queen masih belum tiba, karena, kecepatan taxi online juga tidak
ada setengah dari dia menggendarai mobil.
Baru beberapa menit saja, sebuah mobil brio warna merah
berhenti di depan rumah sakit, Al sudah bersiap untuk keluar dan menangkap penumpang
yang turun dari san ajika benar itu adalah Queen. Dan ternyata benar. Al pun
segera berjalan cepat dan meraih lengannya.
“Al, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku, aku harus bekerja!”
seru Queen.
“Kerja? Katanya sebelum kerja ada apel pagi dulu? Ya sudah,
ayo sini apel dulu sama aku.” Al menggeret Queen masuk ke dalam mobilnya.
“Al, apa sih yang kamu lakukan? Aku gak bisa!” teriak Queen
marah. Ketika dengan paksa Al memasukkannya ke dalam mobil.
Al yang sudah duduk di sebelahnya, hanya tersenyum miring,
dan kembali menggodanya. “Kita apel dulu, Sayang,” bisiknya di dekat telinganya,
sedangkan tangannya sudah kemana-mana.
“Gak mau, lepasin aku! Jangan bikin aku berantakan.”
“Siapa yang bisa melarangku? Kau istriku, kan?’’
Queen mendorong keras tubuh Al dan ia membetulkan posisi duduknya.
Sambil membuang wajah ke luar jendela ia berkata dengan ketus, “Kenapa masih
mencariku kemari? Bukankah semalam kau sudah bersama Nayla?”
Al tertawa tertahan menoleh ke belakang sambil menutup
bibirnya. Setelah bisa mentralisir rasa gelinya, ia kembali menghadap ke depan,
ke arah Queen yang masih membuang wajahnya. Perlahan, Al menyentuh pundak Queen
dan berkata, “Kok sewot gitu, sih? Nayla kan juga istriku.”
“Ya sudah, sana! Kalian sudah akur, kenapa repot-repot
datang kemari?” balas Queen dengan jengkel dan menghempaskan tangan Al dari pundaknya
dengan kasar.
Al yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya pun terkikik
sendiri. Sementara Queen hanya diam saja tak merespon.
“Kamu kenapa, sih? Semalam baik-baik saja. Kok sepagi ini
gara-gara tahu aku tidur sekamar dengan Nayla kamu mendadak kek orang sedang PMS
gitu? Cemburu, ya? Hehehe.’’
“Apaan, sih? Gak, aku gak bakalan cemburu. Dia juga istri
kamu, kan?”
Al tersenyum dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Kemudian, muncul ide menggombali Queen.
Dan mungkin juga dia wanita pertama yang membuanta bisa segombal itu.
"Sayang, kamu percaya reinkarnasi?"
"Tidak" jawab Quen dengan ketus dan masih tak mau memandang Al.
"Aku percaya."
"Sejak kapan?" Queen pun langsung memandang Al, melihat pria itu tengah serius atau tidak
"Karena ada bukti," ucap Al sambil tersenyum.
"Apa?"
"Buktinya, aku sedang melihat reinkarnasi Cleopatra yang sangat cantik sedang merajuk dan memanyunkan bibirnya, hehehe." Al pun terkekeh.
Queen yang marah, mendengar ucapan Al sekaligus melihatnya tertawa ia pun jadi terbawa dan ikut tertawa. Sudah berusaha menahan, tapi, tetap saja tak bisa
"Apaan sih?" ucap Quen bsambil memukul dada bidang Al.
"Gapapa. Aku cinta kamu."
"Gombal!"
"Tapi suka?"
"Tidak!"
"Tidak salah lagi?"
"Ih, nyebelin!" Kembali Queen memukul dada dan lengan Al beberapa kali sambil menahan tawanya.
"Tapi sayang?"
"Apaan sih, Berhenti ah."
"Berhenti apa? Mencintaimu? Ah, maaf aku tidak bisa"
"Sayang!"
"Iya sayang?"
"Aku mencintaimu, hahaha"
"Aku pun demikian sayang"
Kemudian keduanya saling berpelukan dan baikan.
"Jangan ngambeg lagi, ya?" bisik Al sambil mengecup kening Queen dalam pelukannya.
"Kamu sih... " jawab Queen, menggantung kalimatnya, membiarkan tidak selesai.
"Ya sudah, nanti pulang kerja aku jemput, ya? Kamu temani aku di kantor."
"Baiklah." Queen mulai menunjukkan senyumnya. tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan jam tujuh kurang sepuluh menit. artinya, Queen harus segera masuk ke rumah sakit untuk absen.
"Hati-hati Sayang!" seru Queen dari luar mobil sambil melambaikan tangan pada Al.
Setelah mobil itu lenyap dari pandangannya ia pun berjalan dengan langkah perlahan memasuki area rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ia berfikir, dia itu sakit hati karena Nayla menang bisa mendapatkan kembali hati dan perhatian Al, atau, sakit hati karena cemburu?
Kenapa aku tidak suka jika Al perhatian dengan Nayla? padahal, dia juga istrinya. Memang sudah seharusnya mendapatkan hak yang sama denganku. Tapi, aku ingin, cuma aku satu-satunya wanita yang ada di hati Al. yang dia cintai, dia sayang dan yang dia perhatikan.
Ini, mendadak hatiku kok sakit dan nyesek melihat pakaian Nayla pagi tadi saat keluar kamar. Ada apa? Apakah aku mulai tidak terima?
Salahku memang jadi istri kedua. memang harus begini, ya? Semua sakit. Queen pun melangkah kan kakinya dengan cepat masuk ke dalam ruang kerjanya. Sampai di sana, ia mengambil sebuah benda dari dalam tasnya dan meminumnya.
"Kau ********, Al. Aku tidak seharusnya begini. kalaupun cinta harusnya ga usah cemburu dan merasa tersakiti jika kau dengan Nayla. Harusnya aku melakukan hal yang sama, kan? Agar kau juga tidur di kamarku, dan biarkan papa dan Nayla tahu kalau kau juga suamiku.
Queen yang merasa kesal pun bahkan meminum pil KB sambil meneteskan air matanya. Selama ini dia bisa bertahan bersama Al dan melayaninya tanpa cinta. Tapi, sungguh sekali saja dia tak mampu menyembunyikan rasa cemburunya walau hanya sebentar.
"Cukup, Al. aku gak harus mencintai mu sedalam ini. Cukup menerima takdir jadi istrimu saja," gumam Queen sambil menghapus air mata yang mengalir dikedua pipinya.
"Kamu pembohong. bilangnya gak lagi cinta dan tak bisa melakukan dengan Nayla, selain aku. Tapi, semalam itu, apa?"
"Took... Tok.... Tok!"
__ADS_1
Mendengar suara pintu diketuk, Queen terkejut. Kemudian dia buru-buru mengambil tisu untuk memberikan wajah dan berusaha menenangkan diri.
"Ya, Masuk!'' serunya. Sambil pura-pura sibuk menata ulang meja kerjanya.