
Nayla menatap Queen yang nampak tidak berselera memakan sarapannya. Ia tahu apa yang terjadi dari Al semalam.saat keduanya pulang, pria itu sedikit bercerita mengenai Alex yang mengalami keanehan.
"Queen, makan yang banyak, ya? Masih ada waktu sebelum kakak mu turun. Kau mau di masakin menu lain?" tawar Nayla.
"Tidak kak, aku makan ini saja. Di mana kakek, Hanifah dan Diaz?" tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.
"Mereka tadi bilang akan sarapan di luar saja sambil jalan-jalan katanya," jawab Nayla. Apa adanya.
Queen mengangguk-angguk kepalanya pelan dan bergumam dalam hati, 'Ah, mereka sudah akrab aja sampai-sampai pergi bareng."
Saat ia melihat Nayla ke dapur, Queen menggunakan kesempatan itu untuk membuang sisa roti bakar yang baru saja di makannya. Ia benar-benar tidak berselera sekali untuk sarapan apalagi memakan sesuatu yang manis seperti ini. Tak lama kemudian ia melihat Nayla keluar dari dapur dan naik ke atas. Ya, mungkin membantu suaminya menyiapkan pakaiannya.
Benar saja, selang dua puluh menit, mereka berdua turun dari tangga bersamaan.
Nayla membantu membawakan tas kerja milik Al. Sementara Al yang sudah rapi dengan rambut agak basah mengancingkan kancing lengan kemeja berwarna hitam yang ia kenakan.
Queen sedikit tertegun saat melihat Al yang memakai pakaian serba hitam dan sepatu pantofel cokelat tua. Ia benar-benar seperti Vano. bahkan ia sempat bergumam lirih, "papa."
Meski lirih dan nyaris seperti bisikan Al seperti mendengar saja, pria itu pun duduk dan menawari Queen untuk menjenguk papanya nanti.
"Kamu kangen sama papa? Nanti saat jam istirahat kita jenguk dia, ya?" Lalu di jawab anggukan oleh Queen. "Kamu sudah sarapannya?" tanya Al lagi saat ia mengambil selembar roti bakar dan mengoleksinya dengan selai kacang dan coklat.
"Sudah," jawab Quen singkat.
Cukup lima menit Al menghabiskan makanannya dan ia pun mengajak adiknya berangkat.
"Queen, kamu bawa ini mungkin bisa kamu buat sarapan setelah tiba di kantor nanti. Kakak lihat kau tidak begitu enak makan." Dengan sedikit terburu-buru Nayla berlari dari dapur untuk memberikan box berwarna biru itu kepada Queen.
"Apa ini kak? Kenapa repot-repot?"
"Itu mie goreng telur kesukaanmu, kan?"
Mendengar jawaban itu dari Nayla Queen tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Nayla lalu mereka pun berangkat ke kantor bersama.
Saat di mobil Queen juga masih memperhatikan kakaknya dari samping yang tengah fokus mengemudi. Entah ia baru sadar atau apa. Dari dulu pun ia dan semua orang tau kalau kak Al adalah dublikat Vano. Tapi, ia tidak benar-benar merasa demikian seperti saat ini.
Aneh, atau sebuah kebetulan saja anak angkat bisa benar-benar mirip dengan bapak angkatnya.
Merasa di perhatian, Al pun menoleh ke arah Queen. Membuat gadis itu kelabakan berusaha membuang muka ke arah jendela.
"Kenapa liatin kakak terus, Queen? Jelek ya pakai kemeja hitam?" tanya Al. Sebab, ia identik dengan kemeja putih jika tidak biru muda.
"Tidak, aku merasa kakak sangat seperti papa saja. Ya, dari dulu sih. Tapi kali ini penampilan kakak jauh lebih dewasa. Jadi aku ingat terus sama papa," jawab Queen.
"Kita berdoa agar papa dan mama segera sadar, ya? Kakka juga ingin mereka hidup di antara kita lagi." Al mengelus belakang kepala adiknya dengan lembut.
Tiba di parkiran kantor, Al tidak segera turun dari mobil bahkan ia menahan Queen yang akan segera turun.
"Ada apa, kak?" tanya Quen saat pergelangan tangannya di pegang erat Al.
Al tidak langsung menjawab, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Queen dan memeluk erat tubuh wanita itu seraya berbisik, "Meski apapun yang terjadi, kau jangan pernah takut dan merasa sendiri. Kakak selalu ada untukmu, menjagamu sampai akhir hayat kakak."
Ucapan Al barusan terasa sangat tulus dari hati. Membuat mata Queen malah berkaca-kaca dibuatnya. Queen pun tak tahu kenapa setiap kali mendapat perhatian dari Al ia selalu menangis. Sama halnya saat ada masalah dan mengadu pada papanya dia berbicara pun juga sambil terisak seperti anak kecil beda jika dengan Clara. Ia menjadi pribadi kuat dan tidak cengeng.
🍁 🍁 🍁 🍁
Hanifah berjalan di belakang Diaz yang tengah mendorong kursi roda kakek Andrean. Mereka sudah mengelilingi kompleks sejak pukul lima tadi. Dan ini sudah pukul enam. Queen dan Al juga pasti sudah kembali.
"Hey, pak dokter. Kau ini berjalan apa berlari, sih?" teriak Hanifah dari belakang.
Dengan santai Diaz menjawab, "Kaku di luar negeri berapa tahun sih jalan aja masih lelet gitu? Bukannya orang luar itu jalannya cepat-cepat, ya?" Pria itu pun terus berjalan tanpa mengurangi kecepatannya.
Hanifah sudah sangat ngos-ngosan. Ia sebenarnya ingin istirahat sejenak. tapi, pria itu sedikit pun tak ingin berhenti kayaknya. Karena jengkel. Hanifah pun berlari dan jarak setengah meter dari Diaz ia melipat sambi memegangi kedua bahu pria itu.
"Ya udah, gendong aku," ucap Hanifah sambil tertawa terbahak.
Sementara Diaz yang menyadari tingkah Hanifah benar-benar terkejut di buatnya.
"Hanifah, apa yang kau lakukan? Turun cepat! Banyak orang di sini malu," ucap Diaz berusaha menurunkan Hanifa.
"Gak mau, aku capek, tau. Enak kakek duduk di kursi roda kamu dorong. Sedangkan aku? Aku jalan sendiri dah ngos-ngosan gini, juga," ucap Hanifah sambil mengeratkan pelukannya.
"Hanifah, turunlah nak jangan begitu, di sini banyak orang," tegur kakek Andrean sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hanifah yang tidak pernah berubah.
"Turun atau aku lempar?" ucap Diaz dingin.
"Emang berani? Coba aku lihat," tantang gadis itu.
"Kamu yang minta, lo ya?" ucap Diaz sekali lagi.
"Kau serius?"
"Apa kau pikir aku bercanda?"
"Tidak, tidak. Aku mau turun saja. Cepat turunkan aku," teriak Hanifah sambil menggoyang-goyankan kedua kakinya memaksa untuk diturunkan.
"Ya udah kamu turun, saja!" Diaz masih dalam posisi yang semula.
"Bagaimana bisa aku turun jika kau tidak berjongkok, pak dokter?"
"Apa saat kau naik aku juga berjongkok?" jawab Diaz dingin.
"Aku takut ketinggian. Tidak kah kau seperti tiang listrik? Berjongkok lah atau kakiku akan patah," ancam Hanifah.
__ADS_1
Dengan ekspresi wajah datar Diaz pun berjongkok. Sementara Hanifah mulai merenggangkan pelukannya dari punggung Diaz. tapi, gadis itu masih saja sempat iseng dengan mengecup pipi kanan Diaz dari belakang seraya berkata, "Itu hadiah, pak dokter." Gadis itu pun berlari sambil tertawa.
Sementara Diaz berdiri tertegun di tempatnya. Ia belum pernah merasakan ciuman dari seorang wanita sebelumnya. Dan ini adalah yang pertama.
Diaz masih bengong dan melamun. Membayangkan andai saja wanita itu adalah Queen. Mungkin dia akan sangat senang. Kalaupun tidak dapat memilikinya sebagai istri tapi, setidaknya sudah pernah merasakan ciumannya, bukan?
"Astaghfirullah... Sadar Diaz," gumamnya dalam hati.
Sementara Andrean tampak terkekeh melihat Hanifah yang seperti itu dan berkata, "Maafkan cucuku yang itu ya Diaz? Dia dari dulu memang suka bikin ulah. Bahakan setiap sama Queen selalu saja bertengkar ada saja ya g dijadikan bahan pertengkaran."
"Tidak apa-apa, Kek. Kita pulang sekarang?" tanya Diaz dan dijawab anggukan oleh pria tua itu.
🍁 🍁 🍁 🍁
"Alex, selamat, ya. Kata dokter nanti siang kamu dah bisa pulang," ucap Helena dengan senyum nya yang semringah.
"Aku memang bosan terus menerus berada di sini. Tapi, aku jengkel jika pulang, Helena."
"Kenapa?" tanya Helena dengan lembut. Seraya duduk di sebelah ranjang Alex.
"Bagaimana tidak? Di rumah aku akan dengan istriku. Tapi, dia bahkan tidak lebih peduli daripada kamu. Buktinya, dia tidak ada di sini sekarang sejak tadi malam," keluh Alex kesal.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka lebar. Novita bersama Aditya datang menjenguk Alex.
"Kau bilang apa barusan, Alex? Quen tidak peduli denganmu? Iya? Bukankah kau yang selalu mengabaikannya jika dia di sini dan lebih memilih dia yang hanya bagian di masa lalu mu. Sekarang Queen itu membantu kakaknya urus perusahaan semenjak papanya koma, ia jadi keteran. Belum lagi nanti Queen masih harus sekolah profesi untuk menjadi dokter. Begitu kau bilang dia tidak peduli?" ucap Novita benar-benar marah.
Alex terdiam tak dapat menjawab sepatah katapun perkataan dari kakaknya yang datang sangat tiba-tiba.
Kini Novi menatap tajam ke arah Helena yang berdiri di dekat Alex. Dan mulai mengatakan kata-kata pedas untuk wanita itu.
"Dan kau, Helena. Tidakkah aku merasa malu sebagai seorang wanita merebut suami dari perempuan lain dan itu adalah temanmu sendiri. Bagaimana jika kau ada dalam posisi Queen, tidakkah kau merasa sakit dan dan kecewa? Jika kau tahu malu katakan yang sebenarnya pada Alex!"
Helena menatap ke arah Aditya. Lalu Aditya memberikan anggukan kecil dan isyarat mata yang mudah Helena tangkap.
"Apa yang mau aku katakan pada Alex, kak, Nov? Emang benarkan, kalau dia dulu menikahi Queen hanya menolong wanita itu agar bebas dari rasa malu karena gagal nikah sama dokter Aditya? Lalu, di mana aku merekayasa-nya? Kami saling mencintai dan selama ini secara sembunyi-sembunyi juga tetap berhubungan. Bahkan sebelum Alex mengalami kecelakaan, ia sudah bertekad menikahi aku, iya kan, Alex?"
"Itu tidak benar, kan Alex? Kau sudah lama putus dengan Helena. Dan kau sangat mencintai Queen. Kenapa jadi begini? Apa yang salah dengan kamu, Alex?" teriak Novita tidak terima
"Sayang, sudah. Kau jangan marah-marah gini. Kasian Alex, kita kemari untuk menjenguknya, kan?" ucap Aditya menenangkan istrinya.
"Tapi, Mas. Ini kelewatan banget," keluh Novita.
"Sabar, ya. Tunggu Alex pulih dulu. Baru kita bicarakan ini bersama. Apa maunya dia untuk sementara biarkan dia begini jangan biarkan dia terlalu banyak berfikir dulu, ok!"
Novita pun mengangguk patuh pada suaminya. Tapi, jauh di dalam hatinya ia merasa sangat jengkel dan emosi melihat Alex dan Helena seperti itu.
"Mas, kau kalau mau di sini, ya di sini saja. Aku lebih baik pulang dari pada melihat ******* di sini." Novita pun pergi keluar sambil menggebrak pintu kamar ruang Alex.
🍁 🍁 🍁 🍁
"Sayang. Kita ke rumah sakit. Alex akaan pulang sekarang," ajak Al setelah mematikan telfon dari Tante Lusi.
Quen memutar kedua bola matanya dan menghela napas dalam-dalam.
"Haaaah... Males banget ada Helena," keluhnya.
"Kau ini istrinya, jadi harus kesana. Lagipula ini juga perusahaan sendiri. Ngapain, sih?"
"Aku akan belajar disiplin sekalipun perusahaan ini milik orang tua kita, kak. Tugasku banyak yang belum selesai. Lagi pula jam istirahat masih kurang empat puluh lima menit lagi, kak," ucap Quen sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kamu mau dikata istri tidak peduli dengan suami? Harusnya kamu akan selalu ada untuknya untuk memenagkan hatinya agar dia sadar kau memang benar-benar mencintai nya."
"Siapa yang tahan kak. Melihat suami sendiri lebih memilih diperhatikan oleh wanita lain dari pada istrinya. Selama ada Helena, aku tidak akan pernah muncul di hadapan Alex. Terserah mereka mau apa asal tidak didepan mataku."
"Queen. Kau jangan keras kepala. Ayo sekarang kita ke rumah sakit atau... "
"Atau apa? Kakak mau mengancam ku?" tantang Queen dengan mata melotot.
Tanpa berkata apa-apa. Al menggendong Quen membawa keluar ruangan. Sementara Queen menjerit karena kaget dan juga malu karena banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya.
"Pak, Al turunkan saya. Saya bisa berjalan sendiri plis banyak orang, Pak. Saya malu turunkan saya!"
Queen terus memberontak bertiak minta di turunkan tapi, Al hanya diam saja tetap berjalan sambil membopong tubuh Queen meski mereka berada di dalam lip.
"Lihat. Orang yang tidak tahu jadi tahu karena kau terus saja berteriak-teriak seperti itu. Apa kau tidak malu mereka melihatmu?" ucap Al dengan lirih.
"Kak, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," ucap Queen memelas dengan suara rendah karena ia menjadi pusat perhatian oleh tiga orang yang ada di dalam lip. Karena malu, akhirnya gadis itu pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Al.
Sementara Al dengan jail tersenyum penuh kemenangan.
Al terus membopong adiknya sampai keluar dari lip di lantai bawah dan menuju ke mobil mereka terparkir.
"Aku sudah menurunkan mu, tuan putri," ucap Al sambil terkekeh saat meletakan Queen di dalam mobil sebelah kemudi.
"Bagaimana aku punya muka menghadapi semua staf di sini nanti, dan seterusnya, kak. Kau mempermalukanku," rengek Queen dengan ekspresi melas dan manja. Membuat Al menjadi gemas dan mencubit pipi adiknya.
"Dasar! Gak punya muka emang mukamu di mana? Tetap utuh di wajahmu, lah sayang." Al pun menutup pintu dan berjalan lewat depan mobil utuk masuk dan menyetirnya.
"Tapi, kan aku jadi malu, kak orang-orang pada liatin aku," ucap Quen sambil mengerutkan alis dan memanyunkan bibirnya. Ciri khas dia saat ngambek.
"Kau kalau ngambek begitu, nanti kakak cium, loh."
"Ngapain... "
__ADS_1
Belum sempat Queen menyelesaikan kalimatnya Al tau-tau sudah nyosor saja di pipi Queen hingga membuatnya nampak sedikit kucel.
Quen pun makin cemberut saja. Sementara Al terus terkekeh. Tapi, tak lama kemudian ia terdiam. Raut wajahnya kembali serius. Momen ini mengingat-kan ia akan sesuatu. Ya. Di mana saat ia sudah beranjak dewasa. Kelas tiga SMA tepatnya ia pernah mencium paksa Queen di depan papa mama mereka saat mengadakan camping bersama keluarga.
Hati Al tiba-tiba saja terasa sakit. Ia rindu kebersamaan itu. Tapi, apa daya. Ia hanya mampu berdoa dan memohon setelah semua usaha yang telah dilakukan. Sementara hasilnya? Cuma Tuhan yang tahu. Semua diserahkan pada takdir.
Quen yang masih sibuk dengan rasa jengkel akibat keisengan sang kakak tak menyadari perubahan drastis Al yang kini sudah benar-benar diam dan hanya fokus pada setir dan jalan.
Bahkan sepanjang perjalanan keduanya hanya diam hingga sampai di rumah sakit.
Saat naik lip saja juga mereka sangat manjaga jarak antara satu sama lain seperti dua orang yang tak saling kenal.
🍁 🍁 🍁 🍁
Dengan wajah cerah dan sumringah Nayla pergi ke kantor Al untuk mengantarkan makan siang. Tapi, keceriaan itu berubah saat salah satu staf mengatakan kalau Al tengah keluar bersama asisten pribadinya.
Nayla memang tidak ada perasaan curiga sedikitpun. Tapi, ia merasa usahanya menjadi sia-sia. Wanita itu tak langsung pergi meninggalkan area kantor. Ia memilih menghubungi suaminya terlebih dahulu.
"Mas, kau di mana? Aku baru saja tiba di kantor, katanya kau keluar dengan Queen?" tanya Nayla begitu panggilan tersambung.
"Oh, iya, Nay. Maaf ya. Aku antarin Queen ke rumah sakit. Alex hari ini sudah bisa pulang. apakah kau buru-buru?" jawab Al dari seberang
"Tidak. Di rumah semua sudah beres. Bilqis tengah bermain bersama kakek, Hanifah dan Diaz, tadi. Ada apa, mas?"
"Kalau kamu mau, bisa lah tunggu di ruanganku. Ini aku sudah mau pulang. Biar Queen pulang dulu menemani suaminya."
"Baiklah. Aku akan menunggumu di sana saja, ya?" jawab Nayla kembali tersenyum.
Wanita itu pun akhirnya masuk ke ruangan suaminya duduk di sofa yang tersedia di dalamnya dan berusaha rilex di sana.
"Hmm, di sini juga tidak buruk. Entah kapan mas Al akan datang juga tidak masalah, kan menunggu di ruangan pribadi suami sendiri?" Gumam Nayla seorang diri.
Baru beberapa menit ia duduk, seseorang mengetuk pintu. Nayla mengira itu adalah Al, suaminya. Dengan semangat ia bangkit dan membuka pintu untuk menyambutnya. Tapi yang berdiri di sana bukan Al melainkan Jevin.
"Eh, maaf saya kira suami saya," ucap Nayla malu-malu dan jelas sedikit kecewa.
Jevin tertegun melihat Nayla. Matanya diedarkan ke dalam ruangan pada sebuah tas berwarna biru berisi beberapa box yang sudah bisa di tebak kalau itu isinya makanan untuk makan siang pak Al. Tapi, ia tadi juga melihat bagaimana bosnya itu menggendong paksa Queen dan tak peduli oleh beberapa pasang mata yang tengah memandangnya.
"Maaf, saya kira pak Al sudah tiba tadi Bu," ucap pria itu hendak pergi.
"Masuk saja mungkin tidak apa-apa, Jev. Panggil Nayla saja. Kau panggil aku dengan sebutan seperti itu rasanya aku sudah sangat tua saja," ucap Nayla seraya mempersilahkan.
Belum lama keduanya mengobrol, kira-kira sekitar setengah jam an tapi, mereka sudah sangat akrab dan seolah sudah lama kenal saja. Bahkan Nayla ia berinisiatif meminta nomor atau kontak Jevin untuk memantau suaminya.
"Oh, iya Jev. Boleh aku minta kontak kamu agar saat aku mau kemari tidak lagi mengalami seperti ini. Kalau menghubungi Queen kayaknya sulit. Dia tidak setiap hari di sini. Sebab dia masih dalam masa pendidikan menempuh profesinya sebagai dokter," ucap Nayla.
Dengan mudah pula Jevin memberikan kontak ponselnya pada Nayla.
"Adik iparmu itu cantik dan cerdas, ya?" ucap jevin memulai percakapan tentang Queen.
"Iya, dia sangat mirip dengan mama mertuaku. Wajar saja mas Al sangat sayang sama dia," jawab Nayla.
"Wow, sempurna. Pak Al sangat mirip pak Vano hanya beda sifat dan karakter saja sementara adiknya persis Bu Vano. Sepasang kakak dan adik yang dapat mengobati rindu pada mereka yang masih belum sadar dari komanya. Sabar, ya. Semoga kedua mertuamu itu cepat sadar."
Nayla diam sesaat memikirkan perkataan Jevin barusan dan bergumam dalam hati, 'Andai kau tahu kalau mereka bukanlah saudara kandung. Pasti kau akan mengatakan kalau generasinya kedua mertuaku, Jev.
"Oh, iya kau bilang antara mas Al dan papa memiliki sifat yang berbeda? Seperti apa?" tanya Nayla, mengalihkan topik.
"Ya, mereka itu sebenarnya sama-sama tegas namun baik, tapi, kalau pak Vano masih ada ramah-ramahnya pada staf wanita. Kalau pak Al. Ya... Semua asistennya laki-laki. Sempat ada gosip kalau dia tidak suka perempuan. Dan pada heboh saat nona Queen masuk menjadi asisten pribadinya dan berada dalam satu ruangan. Soal ia memiliki isy sepertinya tidak semua tahu, bukan?"
Nayla tersenyum mendengarkan kalimat itu dari Jevin tak lama kemudian Al tiba.
"Jevin, kau juga ada di sini? Sapa pria itu begitu tiba di ruangannya."
"Iya pak. Saya menunggu di sini sambil menemani Bu Nayla mengobrol," jawab Jevin.
"Kalian sudah kelihatan akrab, Nay. Kau bawa makanan banyak, kan hari ini?"
"Iya, Mas. Kukira Queen juga ikut makan bersama, tapi...." Nayla tidak melanjutkan kalimatnya.
" Ya sudah, kita makan bertiga saja. Ini juga sudah jam istirahat," ucap Al sambil memeriksa berkas-berkas yang baru saja Jevin bawa.
"Ide bagus, mas. oh iya. apakah Queen tadi memakan bekalnya?" tanya Nayla.
"Sudah habis," jawab Al singkat.
Al melirik pada box kosong itu ia sedikit tersenyum saat membujuk adiknya untuk makan tadi pagi. benar-benar Queen tidak banyak berubah. dia masih seperti Queen keci yang masih sangat manja dan seperti anak kecil.
🍁 🍁 🍁
Setelah Aditya dan kedua mertuanya pulang dari mengantarkan Alex. Quen menawari makan siang sebelum minum obat.
"Lex, kaku mau makan apa, biar aku masakan untukmu," ucap Queen sambil mengelus lembut punggung tangan Alex yang masih memakai plaster bekas infus.
"Terserah apa saja,'" jawab Alex singkat dan cuek.
sementara Queen hanya diam dan tersenyum ia tahu makanan apa yang disukai suaminya dan dia bisa memasaknya dengan mudah.
sekitar setengah jam Queen kembali dengan nampan berisi air putih hangat nasi, sayur dan stik daging favorit Alex.
awalnya pria itu masih memasang ekspresi datar. bahkan bersamaan dengan itu ia juga nampak menyembunyikan ponselnya. sudah jelas dia baru saja menghubungi siapa Queen sudah bisa menebaknya ia hanya bisa tersenyum menyembunyikan kesedihannya.
"Lex, makan dulu ya. dan minumlah obat lalu istirahat." Dengan telaten Queen menyendokkan nasi sayur dan lauk meniupinnya lalu menyuapkan kepada Alex.
__ADS_1