Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 125


__ADS_3

Malam itu Diaz tiba lebih awal dari jam kerjanya. Seperti biasa, begitu tiba ia langsung meletakan tas dan melepaskan jaketnya ambil celemek dan siap mengantarkan pesanan para pembeli.


Sekitar pukul sembilan, dan para pelanggan mulai sepi, mata Diaz tertuju pada salah satu pengunjung yang tengah duduk di kursi paling pojok.


Gadis berbaju peach dengan model kerut dibagian tubuh dan lengannya serta bawahan rok selutut berwana coklat susu itu tengah duduk bersantai sambil menunggu pesanannya.


Bersamaan ia akan ke kasir menanyakan gadis itu pesan apa, Iren,


Membawa nampan berisi secangkir kopi dan matanya menatap ke arah gadis itu. Dengan cepat Diaz menghentikan Iren dan  meminta ia yang akan mengantarkan pesanan itu tanpa bertanya untuk kursi nomor berapa.


"Eh, Ren! Sini biar aku yang antarkan ini. Ke kursi nomor berapa?" tanya Diaz pura-pura tidak tahu.


"Kak Diaz yang mau antarin? Ini ke cewek cantik berbaju kunin blewah itu," ucap Iren sambil tersenyum. Namun, mengawasi dari kejauhan.


Gadis berusia sembilan belas tahun itu adalah karyawan tetap cafe ini. Dia hanyalah anak lulusan SMA dan langsung bekerja karena tekanan ekonomi. Hany saja, ia pernah curhat pada Diaz kalau ia akan melanjutkan kuliah tahun depan. Sekarang bekerja bantu orang tua dan nabung dulu.


Iren melihat Diaz nampak menggoda gadis itu, "Selamat malam tuan putri, sendirian, saja?"


Queen pun nampak terkejut antara karena dia melamun dan merasa surprise dengan kemunculan Diaz di depannya.


"Diaz, kamu ternyata bekerja di cafe ini?" tanya Quen.


Sementara pria itu hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman lembut saja.


"Karena sepi pengunjung, bersedia, kah tuan putri saya temani?" tawanmr Diaz sambil menarik kursi di depan Queen laku duduk di sana tanpa persetujuan dari Quen sendiri.


"Ok, baiklah! Tapi jangan gitu panggilan dan bahasany, gak enak nih kalau di denga," protes Queen malu-malu.


"Lalu apa? Queen sendiri artinya ratu, loh. Apa aku panggil kamu ratu saja?" Goda Diaz.


"Lalu kamu rajanya," ucap Queen sambil tertawa. Sejenak ia dapat melupakan kesedihannya saat berbincang dengan Diaz yang memang asik. Walaupun dia tergolong orang yang pendiam. Tapi, baik kalau sama teman. Contohnya dia dan Gea. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana bekunya Diaz saat bersama dengan Hanifah, saudaranya.


"Eh, ada pembeli, tuh," ucap Diaz hendak berdiri saat seorang memasuki area cafe.


"Stop, kan masih ada yang lain. Katanya mau nemanin tuan putri," goda Quen sambil tersenyum.


"Ya, tapi aku kan kerja, Queen. Gak enak ma bos dan yang lain," ucap Diaz dengan mimik serius.


"Tenang saja! Bosmu tidak akan marah jika melihat kau denganku.tapi, jika dengan orang lain, aku gak bisa jamin."


"Kau kenal dengan bosku?"


"Om Reza, kan? Dia itu suaminya Tante Lusi. Dokter pembimbing kita, Diaz."


Pria itu pun nampak bengong tapi tak lama kemudian ia juga tertawa karena merasa lucu saja.


"Betapa sempitnya dunia ini, ya? Oh, iya, kok malam-malam begini keluar sendiri?" tanya Diaz.


Queen diam sesat. Matanya mengarah ke meja sebelah kasir seorang gadis muda tengah mengawasinya bersama Diaz. Queen sih tidak masalah, tapi dia tidak biasa menunjukan ekspresi sedih apalagi menangis di depan orang asing. Tapi, Diaz kan memang sudah tahu semuanya jadi, untuk apa ditutupi lagi, kan?


Merasa diperhatikan oleh Queen Iren berusaha mengalihkan pandangan. Tidak hanya itu. Ia pun berpindah dari tempatnya berpura-pura mengantarkan pesanan seorang pembeli yang baru saja tiba.


"Apakah dia penggemar mu?" ucap Queen sambil tersenyum pada Diaz setelah melirik ke arah Iren.


"Cuma teman kerja. Ya, kuanggap seperti adik sendiri lah."


Queen terus memperhatikan mimik Diaz. memang tidak ada sesuatu yang sepertinya ditutupinya. Tapi, gadis itu sepertinya menaruh perasaan terhadap sahabatnya ini.


"Oh, iya kamu naik apa kemari, Queen?" tanya Diaz mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku? Jalan kaki!" Seru Queen sambil tertawa. Tapi, garis wajahnya menunjukan keseriusan.


"Serius, Queen."


"Lalu, apa kau pikir aku tengah bercanda?"


"Ada masalah?"

__ADS_1


"Ya, Alex memanggil Helena tadi sore,dan memintanya untuk tinggal di sana bersama kami, dia sama sekali tidak menganggap ku. Aku tidak tahan melihatnya aku pun keluar untuk meredam emosi. Tau-tau, aku sampai sini." Queen tersenyum. Bahkan tertawanya sangat dipaksakan. Tapi, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Wanita berjalan sendirian di malam hari itu bahaya, Queen."


"Entahlah, aku saat ini tidak bisa berfikir Diaz. Aku gak tahu harus kemana. Gak mungkin juga, kan aku menangis di hadapan papa dan merengek seperti dulu? Meski demikian aku yakin jauh dari alam bawah sadarnya ia mengerti kalau aku datang dan menceritakan dukaku padanya. Aku hanya perlu berdamai dengan hati, menenangkan diri dan kembali berbahagia saja."


"Kamu sabar, ya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-i Syiah ayat enam. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا


Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Kau percaya itu, kan?"


Quen mengangguk.


"Diaz, selama ini aku tidak mengeri banyak tentang agamaku. Maukah kau mengajariku?" ucap Queen pelan tapi, pasti dan kata-kata itu Diaz rasakan benar-benar terucap dari hati.


Diaz mengangguk. Meskipun Queen sosok yang netral dan terlahir bukan dari keluarga yang religius,ia dapat merasakan kalau wanita di depannya sebenarnya baik, hanya saja.... Yah, mungkin ini takdir. Memang hidup manusia tidak ada yang sempurna.


"Kau mau ke mana setelah ini?" tanya Diaz.


"Aku gak tahu, yang jelas aku tidak boleh pulang ke rumah. Sebab kak Al akan curiga nanti." Queen meraih secangkir kopi yang sudah tersaji hampir setengah jam lalu, yang kini sudah mulai dingin lalu menyeruputnya.


"Kembali ke rumah Alex?" tanya Diaz.


"Enthlah. Kurasa tidak. Aku sudah tak diinginkan di sana. Memang sebagai istri sah aku berhak mempertahankan suamiku. Tapi kembali ke si suami, dia sudah benar-benar tak menginginkan aku lagi, Diaz. Aku tidak mau mengemis dan memohon agar dia bersamaku lagi. Itu hanya sia-sia." Gadis itu mengusap air matanya dengan ujung jarinya.


"Setiap pekerjaan itu tidak akan sia-sia, Queen. Itu sudah jadi hak mu, kenapa merasa sia-sia? Jangan biarkan dua insan yang saling cinta berada dalam satu rumah tanpa ada ikatan. Jika kau membiarkannya, sama artinya kau membiarkan adanya maksiat. Kau ikut menanggung dosanya."


"Jadi aku harus tetap bertahan di rumah itu?"


"Ya, dengan kau tetap di sana, mereka tidak akan dapat bebas melakukan sesuatu. Jika kau tidak ada, hanya ada pembantu, mana mungkin mereka sungkan."


"Iya, kau benar. Tapi, aku malu untuk kembali, Diaz."


"Tidak perlu malu, aku akan mengantarmu limapuluh meter dari rumahmu, dan kau bisa berpura-pura dari jalan-jalan."


"Boleh juga, apa kau akan mengantarkan ku pulang sekarang?"


"Tapi, ini masih jam kerja, Queen."


Begitu tiba di tempat untuk meracik kopi, Queen menyapa pria yang seumuran mamanya itu.


Reza pun terkejut mendapati Queen berada di cafenya semalam ini.


"Queen, kau sama siapa?"


"Sendiri om, barusan ditemani ngobrol sama Diaz."


"Kau kenal dia?"


"Kami satu tempat di rumah sakit. Dan sama-sama murid didik tante Lusi," ucap Quen.


"Kamu mau pulang? Ya sudah. Minta antar Diaz gapapa. Kan masih kurang setengah jam lagi cafe tutup," jawab Reza sambil melirik jam dinding yang tergantung dekat di tempatnya berdiri.


"Kau tidak memotong gajinya, kan?" canda Queen.


"Tentu saja tidak, ya sudah. Salam ya buat Alex. Mungkin besok om dan tante akan ke sana untuk menjenguknya."


"Ok, makasih, Om." jawab Queen lalu ia pun pergi meninggalkan area cafe bersama Diaz.


🍁🍁🍁


Sekitar lima puluh meter dari rumah Alex Diaz mengantarkan Queen.tega tidak tega ia pun segera putar balik agar tidak menimbulkan masalah baru untuk sahabatnya itu.


Queen berjalan pelan menuju rumah yang kini sudah berbeda suasana. Jika dulu ia selalu merindukan kehangatan yang ada di dalam rumah itu, kini malah sebaliknya. Bahkan rasanya ia enggan untuk kembali karena dengan ia kembali ia harus siap sakit hati melihat hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Neng, akhirnya sudah pulang, kemana saja tadi? Bibi bingung mau nayatiin tuh nyari kemana?" ucap bibi begitu ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


"Bibi, kok belum tidur?" tanya Queen balik.

__ADS_1


"Duh, neng... Gimana bibi bisa tidur kalau neng keluar malam-malam begini sendirian? Dari mana saja tadi Neng?"


"Cuma jalan-jalan di sekitar komplek saja kok, Bi... Karena saya sudah pulang, ayo Bi kita tidur saja!" ajak Queen hendak melangkah ke kamarnya.


Tapi ia menghentikan langkahnya saat mendengar suara laki-laki dan perempuan tengah mengobrol di halaman belakang. Entah apa yang menggerakkan kakinya, ia melangkah dan mengintip ke luar. Benar saja, Alex dan Helena tengah asik berbincang.


'Oh, ternyat begini pantas saja saat aku pergi tadi dia tidak ada itikad menyusulku bahkan dengan keselamatan ku saja dia juga tidak peduli.'


Flashback


"Alex, makan dulu, ya, aku buatin kamu bistik ayam," ucap Queen dengan semringah.


Tak ada respon apapun dari Alex. Tapi, saat Helena tiba-tiba muncul dengan sepiring besar nasi goreng malah dengan antusias Alex menyambutnya.


Queen hanya diam. Tapi, makin kesini bahkan untuk mengambilkan handuk saja kenapa mesti meneriaki Helena yang ada di luar kamar? Lalu, di anggap apa Queen sebenarnya?


Entah karena lelah seharian bekerja belum sempat istirahat dan juga suasana hati yang tidak baik, Queen tanpa peduli menggebrak pintu lalu keluar rumah malam-malam.


"Alex, kau sayang, kan sama aku? Susul aku, Lex," gumam Queen dalam hatin menit demi menit berlalu, ia sudah dua puluh menit berjalan pelan tapi, Alex tak kunjung datang untuk menyusulnya.


"Helena, Queen pergi bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya?" ucap Alex merasa panik.


"Tidak akan. Queen kan jago bela diri. Dia pasti aman, Lex," bujuk Helena berusaha menenangkan.


"Kalau dia marah bagaimana?"


"Itu wajar, biarkan saja dia nanti juga akan kembali. Kau masih ingin aku di sini atau tidak? Jika iya, tetap di sini sama aku. Tapi, jika tidak, silahkan susul dua ajak dia kembali aku akan kemasi barang-barangku." Ancam Helena.


Alex diam nampak mempertimbangkan pilihan yang Helena berikan. Ingin ia menyusul Queen yang jelas-jelas terbukti kalau dia istri sah nya. Tapi, di sisi lain Helen adalah kekasihnya.


"Kau bilang, bukan kita akan menikah. Jika kau selalu memanjakan dia, apa kau pikir dia akan membiarkan kita menikah? Biarkan saja. Biar dia merasa kalau kau kita benar-benar saking cinta agar dia tak ada pilihan lain."


Rupanya perkataan Helena barusan sukses meracuni pikiran Alex. Ia pun memilih membiarkan Queen pergi tanpa menyusulnya.


Comeback.


"Kau gila, Queen jika menunggu Alex menyusul mu tadi. Buktinya, ia juga tidak peduli sama sekali," batin Queen.


Bodoh, kenapa aku berlama-lama di sini untuk melihat mereka? Bukankah ini hanya akan membuatku sakit saja?


Quen pun hendak beranjak pergi, tapi urung saat melihat Helena mendekakan wajahnya ke wajah suaminya. Hatinya terasa terbakar emosinya pun memuncak dia tak bisa membiarkan wanita lain mencium suaminya. Beruntung dia masih sadar siapa dirinya. Jika tidak... Mungkin guci Engan berat empat kg itu sudah melayang bebas mengenai kepala dua orang itu. Jadi, ia pun cukup herdehem saja.


"Ehem... "


Dengan buru-buru Helena menjauhkan wajahnya dari wajah Alex dan menoleh ke arah pintu.


Jelas Helena jengkel karena ia gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Queen, kau sudah kembali?" tanya Alex terlihat khawatir.


"Tentu. karena sekalipun tak kau anggap aku adalah nyonya rumah ini," jawab Queen ketus lalu melangkah meninggalkan mereka.


Dengan sigap Alex mengejar Quen dan tanpa sadar mengibaskan tangan Helena yang hendak menahan lengannya.


sampai di pintu kamar tanpa sadar Alex memeluk erat tubuh gadis itu dari belakang dan bergumam, "Maafkan aku yang selalu mengabaikanmu."


Queen mendesah kesal. entah ia harus senang atau sedih dengan Alex yang begini. ia terlalu lelah dan tidak mau banyak berfikir lagi apalagi soal hati dan perasaan. Alex begini mau bertahan berapa menit? ini hanya efek takut dari alam bawah sadarnya saja. jika tidak, buktinya ia membiarkan dirinya pergi begitu saja.


"Alex, aku ngantuk mau istirahat dulu," lirih Queen.


"Baiklah, kau istirahat saja, aku akan tidur di kame Helena malam ini," jawab Alex.


'Benar, kan?' batin Queen.


sakit hati, kecewa jelas Queen rasakan dengan terang-terangan suaminya meminta izin untuk sekamar dengan wanita lain di dalam rumahnya.


'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? membiarkan dengan taruhan sakit hati seumur hidup. atau melarang yang hanya akan menimbulkan pertengkaran dan perlawanan Alex? semakin ia di larang semakinia kekeh dalam kemauannya,'

__ADS_1


tak mau berfikir lagi, dengan bsekuat tenaga Queen melepaskan diri dari pelukan Alex dan mendorong tubuh pria itu keluar pintu tanpa sepatah katapun.


dengan cepat Queen mengunci pintu lalu, menyandarkan punggungnya pada pintu itu sampai tubuhnya merosot. dengan kedua tangan menutupi telinganya.


__ADS_2