
Di sebuah papan pengumuman sudut sekolahan yang biasa disebut mading oleh siswa dan para guru sangat ramai di padati oleh para murid sekolahan di mana Quen menempuh pendidikan SMA.
Karena penasaran, ia yang baru saja turun dari mobil papanya turut berjalan mendekat, melihat apa yang terpajang di sana.
"Buyar-buyar, orangnya datang, tuh." para siswa langsung berhambur meninggalkan mading itu tergantung.
Di sana sini telinga Quen menangkap kasak kusuk tentang dirinya dari mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab, dan bahkan tidak tahu kebenarannya hanya asal bicara saja.
"Lihat, begitu putus dengan Alex, dia dekat sama siapa saja, setelah dengan senior Juna, dia malah deket ma gembel, iiih jijik."
"Kamu yakin? Kayaknya yang dengannya itu ganteng, lo!"
"Efek kamera jahat, kali."
Mendengar itu semua membuat gadis berambut coklat itu semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu dia melihat foto dan tulisan yang terpampang di sana, Quen tidak mampu menahan tawanya, dia malah tertawa sejadi-jadinya melihat kekonyolan yang nyata.
"Hahahaha." Gadis itu bahkan sampai memegangi perutnya.
"Quen, ada apa, ini?" tanya Juna yang langsung melihat ke arah mading.
"Itu, lihat saja, aduhhh sampe rasanya kudu pipis aku, kak. Hahaha."
"Kau, kenapa tidak mengatakan saja pada mereka?" wajah Juna memerah tanda ia juga turut emsi dengan caption dari gambar itu.
"Biarin saja, biar dipuas-puasin mereka nyinyir. Toh, kapan lagi bisa menertawakanku, iya kan?" ucap Quen sambil menyeka air mata akibat tertawa terlalu hebat.
"Lagian, kau sama kak Al kenapa seperti itu sih? Orang ngira kalian pacaran, lo!"
__ADS_1
"Biarin, dari pada kakakku digoda wanita malam, aku sebagai adik ya melindungi, lah." ucap Quen sambil melihat gambar dirinya berjalan memeluk lengan Al, kepalanya disandarkan di bahu kanan sang kakak, sementara tangan kirinya memegang gula kapuk.
"Semua orang pada menggosipkanmu, Tuh."
"Biarin, kalau aku marah, menandakan kak Al beneran kere, donk, dan pacarku, tp nyatanya kak Al adalah kakak kandungku, biarkan saja mereka kelak jika tahu kenyataan akan malu sendiri," ucap Quen sambil terkikik geli.
****
Saat jam Istirat, bersama Bella dan Sinta. Quen ke kantin untuk makan siang.
Begitu ketiganya duduk di salah satu bangku semua mata tertuju pada Quen sesekali mereka berbisik.
Tak lama kemudian datang Helen bersama teman-temannya.
"Pacar baru kamu cuma bisa bawa kamu ke pasar malam aja, ya? Dan beliin gula kapuk saja yang harganya cuma lima ribu?" ucap Helen menghina sambil duduk di atas meja Quen dan kedua temannya.
"Oh, jadi kau paparazinya? Aku ini artis, ya? Kok sampe segitunya kamu." Dengan tenang Quen menjawab perkataan Helen.
"Aku menikah sama orang, bukan sama duit, kau urus hubunganmu aja dengan pacar barumu, jangan biarkan dia masih memikirkan mantannya yang sudah bahagia, ok." ucap Quen tersenyum sinis lalu bangkit dari kursinya. "ayo, kita pergi saja!" Serunya kepada dua temannya.
"Quen, kau serius dah punya pacar baru?" tanya Bella penasaran.
"Pacar apaan? Sebentar, lusa dah ujian smester blajar dulu, baru cari pacar," jawan Quen sekenanya.
"Lalu yang di foto tadi?"
"Kalian nanti juga bakal tahu, kok."
Quen berjalan di depan kedua temannya, entah dia mau ke mana, sementara dua temannya masih membingungkan siapa pria yang bersama Quen dalam foto itu. Karena mereka tidak tahu kalau Quen memiliki kakak.
__ADS_1
******
"Sayang, kau mau berangkat sekarang?" tanya Clara saat melihat Al menenteng dua tas berisi berkas-berkaa dan pakaian.
"Tidak, Ma. Nunggu Quen pulang sekolah saja," Jawab Al, singkat.
"Oo, ya sudah. Mama masak sup iga kesukaanmu, lho! Ayuk makan siang dulu," ajak Clara sambil tersenyum penuh kasih sayang.
"Kok sepi banget, pada kemana, kakek dan nenek, ma?" tanya Al sambil mengedarkan pandanhannya ke seluruh ruangan.
"Kau seperti tidak hafal saja, kedua kakekmu jelas pergi memancing di empang. Dan nenekmu, dia menghadiri kegiatan bakti sosial."
Clara ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk dia dan putranya dibantu oleh Lyli.
Sementara Al melihat ke arah wanita muda yang sangat gesit melakukan pekerjaan rumah. Bahkan, ia hampir tidak percaya kalau semasa remaja wanita itu dulu sangat tomboy.
Al banyak tahu cerita tentang mamanya dari sang papa yang selalu mengatakan bahwa ia bersyukur kalau Quen tidak nurun mamanya, padahal Quen yang Al tahu, sangat pecicilan.
Memang, dari segi pakaian dia sangat feminin, bahkan terlalu seksi untuk anak seusianya. Tapi soal tingkah... Readers tahu sendiri, kan yang ada dalam pikiran Al. π
"Kalau kamu mau berangkat sore, lebih baik habis ini itirahatlah dulu, papa akan menjemput adikmu, nanti," ucap Clara lagi sambil sebuk menyiapkan makanan.
"Iya, Ma. Habis ini Al akan tidur sebentar, semalam terlalu lama begadang, soalnya," ucap Al sambil mengambil secentong nasi dan sup iga meletakan ke dalam piringnya.
Sementara Lyli, merasa sudah sangat lama tidak melihat tuan mudanya, entah ada kesibukan apa dia di luar sana.
Lyli duduk di dapur, wajahnya menghadap ke arah televisi. namun, matanya melirik ke arah Al yang tengah menyantap makan siangnya di meja makan bersama mamany, kebetulan, antara dapur dan ruang makan tidak ada skat atau pembatas selain sofa panjang yang melintang untuk Lyli bersantai melihat TV.
Jadi, dari meja makanpun, dapat dengan lulasa melihat dapur begitupun dari dapur, meja makam terlihat jelas.
__ADS_1
Maaf, lama tidak Up karena banyak kesibukan dan munhkin akan hiatus dulu untul beberapa hari. fokus dengan penggarapan Novel baru yang tak kalah menarik dari Novel ini. beru like dan dukungan terus ya biar aku, semangat nulisnya. I love you all my radersπππ