
Nayla diam sesaat. Menajamkan Indra pendengarnya, begitu ia menangkap suara air dari dalam toilet, ia pun beranjak menuju dari tempat tidurnya, setelah memastikan Al benar-benar mandiĀ tentunya.
Dengan cepat Nayla menuju lemari pakaian dan mengganti baju yang sekiranya dapat menutupi dada dan lehernya yang terdapat banyak tanda kepemilikan dari Jevin.
Tubuh Nayla gemertar karena takut akan terbongkar rahasia dia dan Jevin selama ini. Dia sedikitpun tidak menyangka kalau Al akan pulang secepat ini. Apa yang dikatakan Quen, sehingga suaminya bisa sepanik itu hingga ia langsung saja terbang ke Indonesia.
Tak lama kemudian Al pun keluar dari toilet hanya dengan mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.
"Belum tidur lagi kamu, Nay?"
"Belum, Mas. Kamu mau aku buatin minum? tawar Nayla, seraya menyandarkan punggungnya.
"Tidak usah. Kau bukannya kurang sehat? Ya sudah ayo kita tidur aja, yuk!" ajak Al, langsung mengambil posisi rebahan setelah melemparkan handuknya.
Al tetap dalam posisinya terlentang, tidak memunggungi Nayla tapi, jengah jika harus menghadap ke arah Nayla.
Al mulai memejamkan matanya, tapi, sebuah tangan dan tubuh seseorang menempel memluknya erat. Pria itu pun kembali membuka matanya. "Apakah kau tidak jadi mengantuk gara-gara aku bangunkan tadi? Maaf, ya?"
"Tidak apa-apa. Aku kangen sama kamu, Mas."
"Kenapa baju kamu ganti?" Tanya Al sambil menatap ke dalam mata Nayla.
"Aku rasa kau sangat gerah dan ingin menyalakan AC. Jadi, aku pakai pakaian panjang saja."
Al tersenyum, sambil menyibak rambut Nayla ke belakang.
"Leher kamu kanapa itu, Nay. Seperti.... "
"Bukan apa-apa, Mas. Ini tidak seperti yang kau kira. Aku tadi masuk angin, dan ini.... "
__ADS_1
"Nay, aku ini pria dewasa. Bukan anak anak-anak yang bisa kau tipu egitu. Kalau kau memang sudah tidak cinta lagi sama aku, aku bebasin kamu pergi dengan lelaki itu!" ucap Al benar-benar marah.
Al sengaja tidak melantangkan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun selain mereka berdua.
"Mas, maafin aku, Mas. Iya aku salah. Tapi, ini tidak sepenuhnya salahku. Kau tahu aku tidak bisa didiamin begitu tapi, kau bahkan sangat sibuk dan tak ada waktu sedikitpun denganku. Beda jika kau dengan Queen, kau selalu ada waktu dalam keadaa apapun. Yang istrimu itu, aku apa Quen, sih mas?" ucap Nayla sambil terisak.
"Dia itu adikku Nay. Kau harus tahu itu. Sekalipun bukan adik kandung. Tapi, dia anak dari orang yang sudah merawat dan membersakanku selama ini. Bahkan di mana ada orang tua angkat yang sudah memiliki anak sendiri dengan mudahnya memberikan setengah dari aset mereka padaku? Jika bukan karena mereka, orang tuanya Queen, aku hanyalah anak panti, apa kau mau dinikahi dengan pria yang tak punya apa-apa dan mungkin pendidikan juga rendah?"
"Lalu, apa kau pikir aku ini terlalu materialis, sih mas? Apa yang aku ambil dari harta mu selama ini coba? Walaupun kau anak panti dan kita ditakdirkan untuk saling suka sama lain, aku tetap mau denganmu."
"Ya, kau mau denganku. Tapi renungkan mungkin jika itu terjadi kau tidaka akan bisa tidur dan hidup seenak ini, mungkin kita cuma gelandangan saja. Tidakkah kau berfikir begitu?"
"Oh, kau jadikan Quen sebagai alasan balas Budi kepada orangtuanya? Benarkan demikian, Mas? Apa jangan-jangan kau suka sama dia, dari dia kau menikmati seperti apa rasanya prawan sedangkan aku hanyalah seorang janda anak satu!" teriak Nayla histeris.
"Kau bicara sembarangan, Nay. Mana mungkin aku menyukai gadis yang sudah kuanggap adikku sendiri?"
"Kau jangan menyangkal mas. Kau pasti heran kan bagaimana aku bisa tahu? Malam pertama kita di Jepang kau mengigaukan itu. Mana mungkin hal itu bisa terjadi jika tidak ada dalam pikiranmu?"
Nayla bermaksut mengejarnya, tapi, Al buru-buru turun dan masuk ke salah satu kamar bawah yang biasa disediakan untuk tamu menginap. Terlebih itu tepat bersebelahan dengan kamar Baik Yul. Tidak baik juga kalai sampai ada yang tahu kalau ia tengah berantem dengan suaminya.
Nayla menggerutu kesal dan menyalahkan Quen atas semua ini. "Awas kamu, Queen, mulai besok kau tidak akan bisa lagi ikut campur urusan pribadiku."
***
Hari ini Queen bangun pagi sekali sebelum semuanya terjaga. Ia sengaja bangun lebih awal dari bibi untuk menyiapkan sarapan khusus untuk kedua kakaknya yang semalam baru saja bertemu.
Tapi, dia terkejut saat ia akan keluar dari kamarnya sendiri. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendorongnya kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Ternyata dia adalah kakak iparnya sendiri, lalu, kenapa? Bukankah ini terlalu aneh untuk seseorang yang hendak mengajaknya berbicara? pikir Quen.
__ADS_1
"Aku mau tanya sama kamu, apa yang kau bicara pada kakakmu kemarin? Kenapa dia tiba-tiba saja bisa langsung kembali ke Indonesia dalam waktu begitu cepat?" tanya Nayla penuh emosi.
Queen bingung apa maksud dari kakak iparnya ini. Bukannya berterima kasih, tapi malah marah-marah.
'Apakah itu salah? lagipula di mana ada seorang istri yang tengah sakit didatangi suaminya sendiri malah marah?' batin Quen.
"Aku cuma bilang kalau kak Nay sedang tidak enak badan, memangnya kenapa? apakah itu salah harusnya kakak seneng dong! Itu artinya kak Al benar-benar perhatian sama kamu, Kak."
"Iya, tapi kau tidak tahu situasinya saat itu tidak tepat," jawab Nayla kian emosi.
"memangnya, kenapa? Apa kak Al marah-marah karena urusan bisnisnya jadi keteteran?" tanya Queen sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Kau tidak akan mengerti dan tidak akan pernah tahu!"
Usai mengatakan itu, dengan cepat Nayla berbalik sebelum ia keceplosan atas apa yang menjadi pertengkarannya dengan Al semalam.
Karena penasaran dengan apa yang bmterjadi sebenarnya, Quen pun mencari kakaknya di salah satu kamar tamu. Satu persatu Queen membuka pintunya dan melihat ke dalam, pintu pertama tidak ketemu, dan di pintu kedua baru dia dapat menemukan di mana kakaknya tidur. Queen berjalan cepat ke ranjang. Tapi, wanita itu hanya diam memandang wajah lelah yang tengah tertidur dengan pulas. Ia pun urung mebangunkan dan kembali keluar.
Di dapur, Quen mengurungkan membuat sarapan untuk Al dan Nayla. Toh kenyataan tak sesuai dugaan. Ia berharapnya mereka berdua saling bermanja dan melepas rindu. Tapi, siapa sangka keduanya bertengakar dan pisah kamar.
"Ya ampun, Neng.... Kok malah bangun lebih awal? Terus bibi mau ngapain?" ucap Bik Yul dari belakang Quen.
Seperti biasa, wanita itu hanya tersenyum begitu wajah mereka saling hadap, "Tidak apa-apa. Ini sebenarnya hal wajar yang keluarga kami lakukan. Dulu, sebelum mama sakit, dia juga bangunnya bareng sama yang kerja sebelumnya. Mereka masak juga bersama. Hanya saja mama masih sakit dan belum sadar, doakan dia ya bik?" lirih Quen. Hanya saja wanita itu sudah tidak bisa menangis lagi.
"Maaf, Neng. Sabar ya? Bibi selalu doakan tuan dan nyonya agar segera pulih. Walau hanya beberapa saat bersama beliau, bibi sudah merasa kalau mereka adalah orang baik," jawab Bik Yul. Sehingga di dapur itu memberi suasan yang mengharu biru.
"Sudahlah, Bi. Ayo kita masak omelet dan nasi goreng seafood. Ini makanan kesukaan Kak Al lo, semalam dia datang dari Jepang," ucap Queen berusaha terlihat ceria lagi.
"loh, Tuan Al sudah pulang? Kapan datangnya? Kok bibi tidak tahu? Lagipula dari sore kok tidak ada kabar sama sekali. Memangnya berapa jam sih dari Jepang ke Indonesia itu Neng kok cepat banget?" tanya Bi yul sambil mengekspresikan keterkejutannya.
__ADS_1
"Ya semalam, Bi. Sekitar jam satu dini hari. aku kok yang jemput ke bandara. sebenarnya sih lama ya nggak tahu berapa jam tapi karena Kakak pakai private jet jadi lebih cepet cuma perjalanan sekitar 6 jam-an aja," jawab Queen setengah mikir, sebab.ia tidak tahu berapa jam pastinya.
Mereka berdua pun akhirnya masak bersama, dan semua urusan dapur, mereka bereskan hanya selama setengah jam an saja.