
Keduanya terdiam sesaat Martin melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. pengunjung pun juga mulai sepi. Tapi, Al dia masih saja terus minum seolah tidak dapat berhenti. Terakhir, ia meletakan kepalanya rinatas meja, dia benar-benar mabuk parah. Melihat kondisinya seperti ini, Martin tidak mungkin membiarkan Al pulang. Jadi, dia meminta salah satu pelayan untuk membawanya ke kamar yang memang di sediakan di bar ini.
Saat berjala menuju kamar, Al meracau tidak jelas. Entah apa yang dibicarakan pria yang tengah mabuk berat itu Martin hanya mengerti saat Al bertanya di bawa ke mana dirinya sekarang.
🍁 🍁 🍁 🍁
Queen mengawali paginya dengan menyiapkan sarapan untuk dirinya Alex dan juga kedua mertuanya. Sementara bibi yang bekerja di rumah itu ia suruh ke pasar saja membeli bahan-bahan makanan buah dan sayur yang sudah habis. Selain tidak panas, pagi hari buah, sayur ikan dan daging juga masih fresh.
Queen sudah menyiapkan roti bakar, sandwich dan juga selai kacang tapi, dia masih saja nekat memasak ikan dan ayam kecap.
Ia melihat nasi di rice cooker bsudah masak. Tinggal menunggu ayam kecap saja. Quen tersenyum puas setelah mencicipi masakannya sendiri sambil bergumam seorang diri, "Hemmbb... Tidak buruk. Ini sempurna dan enak. Mertuaku terutapa papa sudah biasa sarapan roti dan susu. Tapi, aku...? Belum sarapan kalau belum makan nasi." Gadis itu pun tertawa seorang diri.
"Ok, beres! Tinggal menyiapkan ke meja makan saja dan aku akan membangunkan Alex sekalian mandi. Aah...!" Seru Queen kaget. Saat tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluk erat pinggangnya.
"Sepagi ini kau sudah beres, Sayang? Di mana bibi?" tanya Alex dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bibi aku suruh ke pasar, sayang. Ini hari pertama aku kerja. Jadi, aku akan memberi kesan berbeda untuk kalian terutama kamu." Quen memegang kedua lengan Alex dan berusaha melepaskannya dari pinggangnya.
Tapi, pria itu malah semakin erat berpegangan layaknya bocah dua tahun yang tak mau ditinggal ibunya meski hanya mencuci satu piring saja.
"Alex, biarkan aku menyelesaikan tugasku dulu," keluh Queen.
"Lalu, kalau sudah kau mau apa?" Alex pun menyisipkan wajanya di antara leher Queen dari belakang menciumi dan memberinya sedikit gigitan di sana.
"Ah... Lex. Ini di dapur, sayang!"
"Memangnya kenapa kalau di dapur? Beda tempat beda sensasi, Sayang." Alex kian gencar menciumi Quen dan tangannya mulai nakal meraba area dada dan perut istrinya dari belakang.
"Tap...tap...tap... " Terdengar suara langkah kaki berjalan mendekati dapur, Queen makin panik dan berusaha melepaskan diri dari Alex yang kian menggila saja.
"Lex, ada yang datang. Ah..." Tangan gadis itu pun bertumpu pada kitchen set di depannya dan terus berusaha agar Alex menjauh darinya.
"Hemmbbb aromanya sedap sekali, siapa di dapur?" Teriak mama Rita saat hendak masuk area dapur.
Menyadari kedatangan mamanya, Alex pun segera menjauh melepaskan pelukannya pada Queen dan pura-pura menyandarkan pinggangnya pada kitchen set sambil bersendeku. Seolah dia tengah menemani istrinya memasak sejak awal hingga kini.
"Eh, Mama sudah bangun?" Sapa Queen sedikit merasa kikuk. Tapi, mama Rita yang sudah lama tinggal di new York dan rindu dengan aroma khas rempah indonesia tidak begitu jeli dengan ekspresi Alex dan Queen. Dia malah sibuk mencari-cari apa yang menantunya masak hari ini.
🍁 🍁 🍁 🍁
Usai sarapan, Alex mengantarkan istrinya ke kantor Al.
"Nanti kamu ada jadwal praktik di rumah sakit tidak?" tanya Alex.
"Jam tiga sore. ** aku jam dua, ya?" Jawab Quen dengan manja sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan turun.
Ketika Queen berjalan menuju ruang pribadi kakaknya ia merasa semua mata melihat ke arahnya. Terutama karyawan pria. Sementara pada semua karyawan wanita dia menyapnya dengan senyuman.
Ya, dia menggelung rambut pirangnya mengenakan setelan rok mini kemeja putih pres body. Membuat lekukan di bagian dada kian makin menonjol.
Seperti kemarin, Queen asal membuka pintu ruangan dan tak ada seseorang di sana.
"Di mana kak Al? Apakah dia belum datang?" gumamnya dalam hati. Tapi, ia tidak mau ambil pusing. Ia pun masuk dan duduk di tempat yang memang sudah Al sediakan untuknya kemarin.
Saat ia mulai membuka laptop dan mulai bekerja, terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk!" Jawab Queen.
Dia bukan berlagak atau gimana. Memang ini perusahaan milik orang tuanya. Sang kakek mengizinkan. Al juga dengan senang hati Queen mau membantunya. Meski, sebenarnya takut menbanganggu dan membuat sang adik capek. Ia juga berpesan untuk menangani apapun yang dia mau. Posisi dia dan dirinya sama.
__ADS_1
Serorang wanita masuk membawa beberapa dokumen hendak memberikannya kepada Al. Tapi, saat melihat yang di dalam itu bukan Al melainkan Queen, ia sangat terkejut. Sebab selain Queen tidak pernah datang ke kantor. Setahu dia tidak ada satupun pekerja yang boleh sembarangan masuk ke dalam ruangan pribadinya.
"Nona, anda siapa? Bagaimana bisa anda berada di dalam ruangan pribadi direktur?"
"Saya asisten pribadinya yang juga merangkap sebagai sekretaris baru di sini. Direktur belum datang adakah sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Jawab Queen.
Dengan ragu-ragu dan sedikit sinis wanita itu memberikan beberapa dokumen itu kepada Queen lalu pergi dalam hati wanita itu bergumam.
"Hmmm enak sekali pertama kali kerja sudah langsung satu ruangan dengan Pak Al. Aku bahkan sudah jalan tiga tahun belum pernah diajak ke acara tertentu apalagi satu ruangan dengan beliau."
Queen melihat isi berkas dalam map itu karena isinya hanya terkait kontrak dengan perusahaan lain dan dia belum menguasai tentang hal itu, ia pun meletakkannya di meja kerja Al. Sementara dia fokus kembali dengan tugas-tugas yang sudah Al berikan padanya.
Queen melihat jam di tangannya, sudah pukul delapan sang kakak bahkan juga belum datang, apakah dia tidak masuk kerja? Tapi kenapa?
Jika memang iya harusnya dia ngomong, kan? Tapi, ini tidak.
****
Al terbangun saat matanya merasa silau oleh terik sinar mentari yang menerobos dari sela-sela gorden. Ia terbangung dan melihat Martin yang turut terlentang dengan tangan kanan menutupi matanya.
Al melihat jam sudah pukul delapan.
"Sial, gua kesiangan," umpat Al.
Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi dan dengan buru-buru pula ia pergi ke kantor hanya dengan mengenakan kaus. Sementara Martin, pria itu masih pulas tertidur. Jadi, Al tidak sempat berpamitan pada sobat nya itu.
Ketika Al tiba, semua staf yang melihat nya ksususnya staf wanita tersenyum dan sedikit menahan tawanya sambil tertunduk. Bagaimana bisa seorang direktur datang dengan memakai pakaian santai? Ya kaus... Soal bawahan jeans sih, dia memang begitu. Tidak pernah memakai celana selain jeans.
Dengan keadaan masih setengah sadar dan juga efek miras yang banyak diminumnya semalam Al bertanya pada Queen, "Kau sudah tiba, sayang?"
Queen semakin heran dan menatap kakaknya dengan tatapan yang sukar di jelaskan. Yang ada di kepala gadis itu hanyalah. Aku emang kerja di sini. Ini sudah jam setengah sembilan. Dan dia bahkan datang dengan mengenakan pakaian santai untuk bekerja, apa-apaan ini?
"Pak, apakah anda waras?" Tanya Queen. Lalu, berjalan mendekat ke arah Al dan menyentuh keningnya.
Hanya saja, Queen yang tak sadar menghampiri Al ketika pria itu masih ada di luar ruangan. Jadi, apa yang dia lakukan bisa dilihat oleh staf lain.
"Hay, kau pikir aku sudah gila, apa?" Protes Al tanpa berniat menyingkirkan telapak Queen dari keningnya.
"Hey, apakah Bapak semalam tidak pulang? Kemana saja kau, Pak? Tidakkah kau kawatir dengan istrimu, Pak? Lihat! Aroma miras sangat kuat tercium dari mulutmu," ucap Queen dengan suara cemprengnya.
Jelas saja, hal itu membuat semua staf terkejut melihat Quen yang dengan berani berbicara seperti itu pada direktur.
"Aku tidak salah lihat, kan? Itu pak Al, kan? Bukan pak Vano?" ucap salah satu staf yang melihatnya.
"Ya, kurasa aku juga tidak mimpi. Pak Al hanya diam saja dan malah ekspresi datarnya berubah menjadi biasa saja. Memang siapa wanita itu? Kalau simpanan kurasa bukan. sebab, dia seperti mengkhawatirkan istri pak Al, loh."
"Iya, juga. Ya? Ssstttt... Awas ayo bubar, sebelum pak Al melihatnya. Bisa-bisa kita dipecat nanti," bisik salah satu dari mereka mengingatkan.
🍁 🍁 🍁 🍁
Aditya segera bergegas dari kampus saat usai mengajar. Ia segera melajukan mobilnya ke sebuah cafe yang sudah disepakati antara dia dan Helena.
Tiba di lokasi, Aditya mengedarkan pandangannya ke seluruh area cafe.
Dari deretan kursi nomor dua dari kiri seorang gadis mengenakan out fit putih tulang melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Aditya.
Aditya pun bergegas mendekati gadis itu dan duduk di depannya. Rupanya Helena sudah menyiapkan minuman untuknya.
"Cuacaya hari ini sangat panas, kurasa cocok jika minum es kelapa muda," ucap Helena sambil mengaduk es kelapa muda miliknya.
__ADS_1
Aditya tersenyum tipis dan berkata, "Kenapa harus kelapa muda?"
"Agar kau tidak curiga dan menuduhku meletakan sesuatu di dalamnya. Sebab, sifat air kelapa itu sendiri melarutkan racun dan obat, bukan?" jawab Helena.
"Pengetahuanmu dalam dunia medis ternyata lumayan juga, ya?" Aditya pun mulai menikmati minumannya.
"Tidak ada apa-apanya lah jika dibandingkan dirimu yang seoreng dokter. Kalau soal air kelapa muda dan susu, itu memang sudah umum, kan?"
"Ya, asal itu susu sapi, Helen. Kalau susu kamu malah bikin orang mabuk dan tak sadarkan diri." Aditya pun terkekeh saat matanya melihat ke arah dada Helen yang seolah dengan sengaja menonjolkan bagian itu.
"Hey, berani sekali, kau?" Helena merasa tersinggung dan melotot ke arah Aditya.
"Tengah, Helena. Aku cuma memandangnya tidak menyentuh sama sekali. Lagi pula bukankah itu kau tonjolkan memang untuk dilihat umum, ya? Sebab, aku merasa semalam saat kita tidak sengaja bertemu tidak sebesar itu. Apa kau ganjal dengan tisu?"
Helena merasa malu sendiri dengan apa yang Aditya katakan. Ia sudah tidak berani marah dan sok jual mahal lagi, sebab apa yang Aditya katakan nyatanya juga tidak salah.
"Ya sudah, apa rencanamu sekarang?" Bentak Helena merasa tidak sabar.
Aditya pun membisikan sesuatu pada Helena. Mendengar pernyataan itu Helena tidak yakin dengan rencana Aditya. Meski rencana selanjutnya bisa dibilang ok. Tapi, mengawalinya sangat beresiko.
"Bagaimana?" tanya Aditya.
"Tidak ada cara lain kah selain itu? Tidakkah itu sangat beresiko?" protes Helena, sedikit keberatan.
"Cara apa lagi, Helen? Yang penting hasil akhir kau bisa memilikinya bukankah tidak masalah bagiku meski jadi yang kedua?"
"Ya, aku mau. Tapi, idemu terlalu gila, Dit." Gadis itu menunduk memandangi isi gelas sambil mengaduk-aduknya.
"Ya sudah, itu penasaranku, jika kau terima, kita deal dari sekarang siap dengan resiko yang diterima tanpa saling menyalahkan. Jika tidak, aku akan pergi. Anak dan istriku sudah menungguku di rumah." Aditya pun beranjak pergi. Tapi, baru beberapa kali ia melangkah, langkahnya terhenti karena panggilan Helena
"Tunggu!"
Aditya menyeringai dan membalikan badannya menghadap ke arah Helena.
"Baik. Aku setuju! Kita deal," ucap Helena sambil mengulurkan tangan kanannya pada pria di hadapannya.
Aditya tersenyum penuh kemenangan menyambut tangan Helena sebagai kesepakatan di antara mereka berdua.
"Memang kau ada kenalan? atau masih rencana dan kita cari orangnya bersama-sama?" Tanya Helena, penasaran.
"Tentu saja sudah ada. Hanya saja dia ada di luar negeri sekarang menunggu hingga beberapa bulan tidak apa-apa, kan?"
Helena mengangguk.
"Memang, berapa lama?"
"Tunggu saja sampai tujuh bulan," jawab Aditya enteng.
"Apa? Tidakkah itu terlalu lama? Setengah tahun lebih, Dit. Tidak ada orang lain apa selain dia? Kenapa harus menunggu selama itu?" Protes wanita itu.
"Kau gak sabaran banget, sih? Jika kau ingin itu, aku bisa memberimu service seperti yang kau lakukan padaku semalam. Lagian, kasih lah kelonggaran buat Queen dulu. Biar dia puas-puasin memandangi Alex sebelum dia menjadi milikmu. Yang lain mungkin banyak. Tapi, aku tak yakin akan berhasil," jelas Aditya panjang lebar.
"Ok. Aku serahkan saja dulu semua padamu. Aku percaya manisnya buah sabar, kok," timpal Helena.
Aditya pun pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Helen masih di sana memandang punggung Aditya yang kian jauh dan lenyap dari pandangan matanya. Ia kembali duduk memikirkan rencana yang Aditya buat.
"Ok. Anggap aja kamu istirahat dari dukamu atas apa yang menimpa kedua orang tuamu Queen. Setelah itu, kau akan kehilangan Alex," ucap Helena dalam hati.
****
__ADS_1
***tidakkah kalian merasa cerita ini terlalu lama panjang dan seolah tak berujung seperti kehidupan yang kita jalani sehari-hari? apakah kalian tidak bosan?.
terimakasih ya buat kalian semua yang selalu membaca dan memberi semangat pada saya dan karena kalian saya bisa terus berkarya dan ide seolah ada saja.🤗🤗🤗***