
Gadis itu tersenyum sambil
menganggukkan kepala, lalu mencium pipi Clara, artinya ia paham dengan apa yang
telah omanya sampaikan.
Clara menoleh saat ia mendengar deru mobil masuk ke dalam
halaman rumah. Awalnya ia berfikir kalau yang datang adalah Al dan Queen. Tapi,
ternyata ia salah. Bukan mereka melainkan Vano dan papa Andrean.
“Itu, opa dan kakek buyutmu sudah tiba. Ayo kita ke sana dan
lihat, apa yang mereka bawa untuk cucu oma yang paling cantik ini,” ujrar Clara
sambil setengah berlari menggandeng tangan mungil cucunya.
“Opa, apa yang kalian bawa untuk Berlyn?” ucap Clara dengan
suara di kecil-kecilkan. Seolah, cucunya yang bertanya pada Vano.
Dengan wajah semringah dua pria itu melihat ke arah gadis
kecil yang ada dalam gandengan Clara. Andrean membawa dua ekor ikan gurami
berukuran besar. Kira-kira bobotnya sekitar tujuhratus gram per ekornya.
Sedangkan Vano berjongkok sambil membuka kedua tangannya bersiap
menggendong cucunya yang cantik nan idtimewa itu.
“Lihat kakek buyutmu bawa apa, itu? Itu Namanya ikan gurami.
Berlyn suka makan ikan?” tanya Vano sambil menatap lekat wajah cucunya dalam gendongan sambil sesekali menciumi pipi gembul gadis itu.
Belqis tertawa riang sambil menelungkupkan tangannya di
depan dada. Seraya mengangguk beberapa kali, menunjukkan kalau ia sangat
menyukai itu.
“Mau di masak apa ikannya? Ayo kita browsing untuk cari ide
memasak ikannya,” ucap Vano sambil merogoh ponsel di dalam saku celanyanya.
Sementara sebelah tangannya, ia gunakan untuk menahan tubuh Berlyn dalam gendongannya.
Kalian cari ide dulu,
biar oma bersihkan ikannya dulu, ya, Sayang,” ucap Clara lalu beranjak, setelah
mengambil ikan dari papanya.
Setelah berdiskusi, akhirnya Berlyn, Vano dan Andrean
sepakat memasak salah satu ikannya saja. Mereka berencana untuk membakarnya
saja dan membuat sambal matah untuk yang dewasa.
“Berlyn, kamu betah tidak tinggal di sini?” tanya Vano, pada
cucunya.
Gadis itu tersenyum sambil mengangguk.
“Kalau kamu betah, bagaimana kalau tinggal di sini? Nanti
malam nginep. Besok, pagi-pagi sekali, kita berangkat ke rumah mama ambil
keperluan sekolah kamu dan berangkat deh ke sekolahan, diantar nenek dan kakek, bagaimana?” ucap Vano
sambil menatap lekat pada wajah cucunya.
Gadis kecil itu diam tidak langsung menjawab. Ia nampak
memikirkan sesuatu. Lalu melihat ke arah Vano dengan tatapan memelas.
“Kamu takut mama kamu marah? Tidak akan. Nanti, biar kakek dan
nenek yang ngomong pada mereka, bagaimana? Satu minggu saja di sini. Pasti mereka tidak keberatan.”
Gadis itu kembali tersenyum dan mencium pipi Vano. Artinya,
ia menyetujui apa yang telah kakeknya sarankan. Lagi pula, sebenarnya Berlyn juga lebih betah di sini. Ia bisa belajar menanam dan juga memanen sayuran. Tapi, karena ia juga sayang pada mamanya, ia jadi sedikit keberatan.
Sebab, pernah dulu dia ikut teman sebayanya bermain sepeda
mengelilingi kompleks tanpa izin pada Queen yang kebetulan sedang berada di
rumah. Mamanya mencari sampai menangis, dan kelelahan. Dari kejadian itu, Berlyn memiliki kesimpulan kalau mamanya tidak bisa jauh darinya, maka dia juga
tidak mau jauh dari mamanya.
Terlebih saat mamanya bekerja, di waktu lungnya juga selalu
menyempatkan memvideo call dirinya.
***
Sore itu, Al berdiri di depan jendela kamar hotelnya sambil
menikmati sebatang rokok. Queen yang sudah terjaga, beranjak menghampiri
suaminya dan memeluknya dari belakang.
Al melanjutkan menghisap rokonya yang hanya tersisa beberapa
cm itu. Dihisabnya dalam-dalam, lalu dilemparkannya pada asbak yang tidak jauhdari tempat ia berdiri, dan mengepulkan asabnya ke udara. Barulah ia memegang tangan Queen yang melingkar di pinggangnya.
“kamu sudah bangun, Sayang?” ucap Al, lalu membalikkan
tubuhnya sehingga keduanya saling berhadapan.
“Al, kamu serius, ya pengen punya anak lagi?” tanya Queen
sambil menatap wajah suaminya.
“Kenapa nanya itu? Bukannya kamu masih belum, siap? Aku
tidak akan maksa kamu kalau kamu belum siap nambah, atau tidak akan siap juga tidak apa-apa. Kita sudah memiliki dua anak, kan?” lirih Al sambil menyentuh pipi Queen.
“Ya, tapi kalau kamu memang pengen punya anak lagi ya tidak
apa-apa. Siapa tahu di kehamilanku yang kedua nanti dapat cowok. Kan, dia bisa menjaga kakak-kakanya nanti.”
“Jangan dulu, Sayang. Kamu nanti malah kerepotan nanti,"
jawab Al sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa. Sekalipun Berlyn sudah gede nanti juga tetap
repot lagi, kan? Kalau memang kamu mau nambah, aku lepas AUD ku.”
“Jangan sayang.”
“Ya sudah, kalau itu maumu. Mari, kita siap-siap dan jemput
putri kita.”
Queen membatin, apakah sebenarnya suaminya memang benar-benar ingin perhatian darinya? Kenapa tidak ngomong saja? ngapain juga harus akal-akalan minta anak lagi, lah. minta agar berhenti bekerja lah. Tapi, begitu Berlyn bersama mamanya dia fine-fine sana.
Wanita itu tersenyum geli melihat tingkah Al yang susah juga dimengerti. lebih susah dari Berlyn yang belum bisa meragakan sesuatu dan tak tau namanya.
Al tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyuman genit dan
langsung mengangkat tubuh Queen dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Queen hanya menjerit karena kaget, dan mengalungkan kedua lengannya pada leher Al.
“Kita mandi bareng, gimana?"
“Boleh. Tapi, jangan nakal.”
“Mau nakal yang gimana kan juga tidak apa-apa. Istri sendiri
ini,” jawab Al sambil menggigit leher istrinya sedikit keras.
“Awh, sakit banget, sih? Apakah kau seorang vampire? Ucap
Queen sambil mencubit lengan Al.
Al hanya tertawa dan menjawab, “Kalau aku seorang vampire,
artinya kau juga, dong!”
“Tentu saja tidak, aku tidak suka menggigit.”
“Baiklah, aku vampire kau manusia, dan aku jatuh cinta padamu.”
“Bisa aja deh.”
“Kamu yang mulai, Sayang.”
Keduanya pun tertawa.
Setelahnya, mereka segera bersiap menuju ke kediaman kedua
orangtua mereka untuk menjemput putrinya.
Di jalan Queen bermaksud memvideo call Berlyn. Tapi, gadis kecil itu
tidak mengangkatnya sampai panggilan yang kedua kali. Akhirnya, Queen pun
meletakkan ponselnya di atas dashboard mobil.
“Mungkin dia sedang asik dengan kakek dan neneknya Sayang.”
“Seperti biasanya, pasti dia lagi asik berkebun, bermain
catur bersama kakek dan buyutnya, atau bahkan mungkin ikut omanya memasak,”
timbal Queen sambil tersenyum kecil.
Sesamapainya di kediaman kedua orangtuanya, Al dan Queen
mendapati putri kecilnya tengah menata paszel seorang diri. mungkin kakek dan buyutnya mandi, dan neneknya masak di dapur.
“Hmm… baunya harum sekali. Masak apa ini mama?” tanya Queen
saat masuk ke dalm rumah besar tersebut.
“Itu, papa dan mamamu sudah datang.” Ucap Clara pada cucunya
yang tengah meletakkan makanan di atas meja makan.
Gadis itu melompat berhambur dalam gendongan papanya.
Bibirnya memang tidak berkata apa-apa. Tapi, matanya seolah menceritakan
semuanya. Tentang dia pagi bermain catur, tidur siang bersama omanya dengan sebuah dongeng putri salju, dan berkebun setelah bangun jam tiga sore.
“Apa saja yang kau lakukan di sini? Apakah kau main catur
sama kakek dan buyutmu?” tanya Al sambil memandang putrinya penuh kasih sayang.
Gadis kecil itu tersenyum dan mengangguk. Matanya berbinar
memancarkan suka citanya.
“Apakah Berlyn juga ikut nenek berkebun, tadi?” tanya Queen
juga, tak mau kalah dengan Al. baru sehari saja tidak bertemu, cara mereka
memperlakukan putrinya seperti sudah lama tak bertemu saja. Saling berebut
pertanyaan walau hanya Al yang menggendongnya.
“Lyn, mamam o… mat,” ucap gadis itu seranya meperagakan.
Tangan kanannya ke depan mulut seperti orang makan, kemudian kedua ibu jari dan
telunjuknya bertemu membentuk bulatan seperti bola kecil.
Queen dan Al memperhatikan dengan seksama. Sebenarnya ia
tahu semua yang dimaksut putrinya. Benar ia tahu makan. Tapi, apa yang dimakan yang tidak ia mengerti. Karena tangannya membentuk bulat seperti bola, dan teringat kalau tadi mamanya juga mengirimkan foto saat putrinya berhasil memetik buah tomat yang besar, ia berfikir kalau yang dimakan Berlyn adalah tomat.
“Berlyn makan tomat?”
Gadis itu tertawa sambil mengangguk.
Queen dan Al merasa senang saat tahu tebakannya benar.
Sebab, saat ia salah tebak, putrinya akan sedih dan merasa payah. Namun,
meskipun begitu, gadis kecil itu pantang menyerah. Ia tahu, setiap ia sedih
karena membuat papa dan mamanya gagal memahami maksutnya, tak Cuma dirinya saja yang bersedih. Tapi, mereka hatinya akan jauh lebih sakit dan terpukul.
Jadi, ia tetap tersenyum dan berusaha menutupi kesedihan
dengan berlari mengambil secarik kertas dan pensil. Lalu menuliskannya.
“memang enak? Berlin suka tomat, ya? Bagaimana rasanya?”
tanya Al lalu duduk di kursi keluarga sambil memangku putrinya.
Gadis itu mengangkat ibu jarinya ke atas. Artinya dia
menyukai.
“Al, Queen, kalian sudah tiba?” sapa Andrean yang baru saja
keluar dari kamar mandi.
“Iya, Kek. Kakek nanti ikut bersama kami apa tinggal di sini?” tanya Al sambil melihat ke arah pria yang seluruh rambutnya sudah
dipenuhi uban.
“Kakek dan Berlyn akan tinggal di sini. Dia bilang betah di
__ADS_1
sini,” jawab Andrean. Mendahukui mengizinkan cicitnya sebelum putranya.
“Oh, Berlyn ingin menginap di sini, ya?” tanya Al sambil
melihat ke arah Berlyn.
Harusnya tidak apa-apa. Tapi, karena mereka belum pernah,
mungkin ada sedikit rasa keberatan.
Andrean mengalungkan handuk kecilnya di pundaknya, lalu
memberi pengertian pada cucunya kalau Clara dan Vano yang memang ingin cucunya menginap.
Akhirnya mereka pun mengizinkan. Lagi pula melihat mata
Berlyn juga sepertinya sangat ingin tinggal di sini bersama kakek nenek dan juga buyutnya.
“Baiklah. Kalau memang Berlyn ingin menginap di sini tidak
masalah.” Ucap Al sambil mengelus putrinya, sementara tangan kirinya, ia
gunakan untuk memeluk pinggang Queen dari belakang.
“Mama dan papa di mana, Kek?’’ tanya Queen.
“Mamamu masih ada di dapur. Papamu sepertinyan juga sedang
mandi.”
Wanita itu pun beranjak ke dapur mencari mamanya. Ia melihat
di sana wanita berumur kira-kira limapuluh tiga tahunan tengah masak dengan
cekatan. Tubuhnya masih energik seperti wanita berusia empat puluh tahunan,
wajahnya juga masih sangat cantik.
“Mama, kau masak apa?”
“Oh, Queen kau sudah datang, Nak?” Clara meletakkan spatula
di tangannya, lalu memeluk dan mencium kedua pipi putrinya.
“Harum sekali baunya, Ma,” ucap Queen lagi, belum puas
karena belum mendapatkan jawaban dari wanita yang ssedari tadi berada di dapur itu.
“Ini, mama masak sayur kangkung ditumis dengan tauco, dan
ikan gurami bakar. Berlyn tadi yang mengambil sayurnya di kebun samping rumah,”
jawab Clara sambil tangannya mengoseng sayur hijau di wajan.
“Dia senang berkebun, ya Ma?” Queen berjalan mendekati
lemari es dan membuka isinya. Dari dalam sana, ia mengeluarkan beberapa buah jambu biji merah, kemudian mencucinya dan memotonginya. Sepertinya ia akan membuat jus
dari buah tersebut.
“Ya, suka banget dia. Tadi dia juga memetik banyak bunga,
katanya mau dikasihkan mama. Gak tau ditaruh mana olehnya.”
“Pantesan Ma. Diajak pulang tidak mau. Dia mau nginep di
sini sama kakek buyut katanya.”
“Biarkan sekali-kali dia di sini, Queen. Missal satu minggu
kau dan Al tidak keberatan, kan?”
“Tidak masalah, Ma. Tapi, apakah itu tidak merepotkan kalian?”
“Tentu saja tidak. Kalaupun boleh, dia bersama kami terus
juga tidak masalah. Jika kau kangen dengannya, kalian kemari. Mama sudah tua dan tak ada banyak kegiatan di sini selain melakukan berkebun di halaman rumah, untuk pengalihan. Kalau ada cucu kan jadi semangat, bikin ini,
itu menemani bermain, dan sekalian sambil mengajarinya.”
Queen tidak menjawab, ia hanya tersenyum saja.
“kau bicarakan saja dulu sama Al nanti. Jika dia mengizinkan, kami akan sangat senang.”
“Baik, Ma. Nanti saja, setelah makan Biar Berlyn sama kakek,
kita berempat membicarakan ini.”
Usai makan malam, Andrean mengajak Bilqis belajar menggambar
di lantai atas. Sementara Al, Queen dan kedua orang tua mereka membahas mengenai
Berlyn. Al yang merasa kalau Berlyn lebih baik di sini juga tidak keberatan
sama sekali. Seidaknya di sini neneknya tidak bekerja di luar. Soal pekerjaan
rumah, juga ada pembantu yang datang dua hari sekali. Jika di rumah, putrinya
hanya akan menghabiskan banyak waktu sendirian, sementara dia dan istrinya
tengah sibuk bekerja, berangkat pagi pulang malam. Belum lagi kalau ada kerjaan
di luar kota, dan Queen yang sering tiba-tiba dapat panggilan mendadak dari rumah sakit.
Tapi, Queen yang tidak berfikir sampai sejauh itu, ia malah
menunjukkan rasa keberatannya. Dan menganggap Al tidak mau disibukkan dengan anak. Menganggap Al hanya ingin menghabiskan waktu luang di rumah hanya berdua saja tanpa diganggu putri mereka.
“Masa malah tinggal sama kakek dan neneknya, sih? Kalau
Cuma mau menginap seminggu, aku tidak masalah,” ucap Queen keberatan.
“Kasian mama juga, Sayang. Di sini dia kesepian saat kakek
dan papa pergi, biarlah, Berlyn jadi temannya,” bujuk Al.
“Namanya anak, Al. dia akan lebih merasa nyaman dengan
orangtuanya, bukan dengan kakek neneknya.”
Al menagkap wajah kecewa di wajah Clara dan juga Vano atas
jawaban Queen. Dia paling tidak bisa kalau melihat orangtuanya dikecewakan.
Tapi, dia juga tidak mengkin bertengkar dengan istrinya juga. Apalagi di depan
orangtua mereka.
Al berdiri dan beranjak ke tempat duduk istrinya kemudian,
ia mengajak Queen keluar sambil tersenyum pula.
“Ma, Pa. kami bicara berdua dulu, ya?” ucap Al sambil
menarik lengan istrinya keluar.
“Al, kenapa kau membawaku keluar?”
“tentu saja, kita bicara hanya empat mata saja, Sayang.
“Apa yang kau lakukan!” teriak Queen, Al tidak memintanya
duduk di kursi. Melainkan, dia mengangkat tubuhnya dan mendudukannya di pagar
teras yang kira-kira tingginya satu meteran.
“Biar kamu anteng, dan mau mendengarkan aku bicara, sampai selesai,” jawab Al, seraya menyeringai sambil memeluk pinggang istrinya.
“Kau, apakah sudah gila? Bagaimana jika aku nanti jatuh?” ucap Queen memegangi kedua lengan Al dengan kuat.
“Aku akan memegangimu, dan tak membiarkan kau terjatuh dari
sini,” jawab Al dengan santai.
“Aku takut!”
“Tidak perlu takut. Baiklah, kita mulai bicara, ya?”
“Apa sih? Kamu mau Berlyn tinggal di sini, ya?” kali ini
Queen memandang Al dengan tatapan negative. Ia menilai suaminya tidak mau
direpotkan dengan adanya anak balita. Terlebih dia bisu. Ilfeel terus dia
bawaannya.
“Kamu posisikan jika kau menjadi Berlyn pilih tinggal dengan
siapa, ya? Kau tahu, kedua orang tuamu menyayangimu. Tapi, dia sibuk bekerja.
Saat kau di rumah sendiri, dan menanti kepulangan mereka, kau pasti kesepian.
Tak ada teman selain pembantu yang juga tak kalah sibuk dengan pekerjaan rumah dan segala sesuatu yang memang perlu ia siapakan untuk majikannya. Sementara di
sisi lain, kau memiliki kakek dan nenek yang juga tak kalah sayang denganmu. Dia lebih memiliki banyak waktu menemanimu dari pada bekerja. Terlebih sang nenek yang
hanya di rumah. Maka, kau akan lebih merasa nyaman di aman? Bersama orang tua. Tapi, sering kesepian. Atau kakek nenek selalu ada yang menemani, dan sesekali
papa mamanya datang. Jika pun sewaktu-waktu ingin pulang, neneknya 24jam selalu
siap mengantarkanmu.”
Queen diam memikirkan ucapan suaminya dan berusaha
mempertimbangkannya.
“Bukankah para psikilog anak bilang, anak-anak itu, nomor
satu harus bahagia dan merasa senang. Bukan ditekan belajar apalagi sampai
kesepian,” imbuh Al meyakinkan mantan adiknya, karena kini telah menjadi istri,
sekaligus ibu dari kedua putri kembarnya.
“Baiklah. Missal sewaktu-waktu aku pulang kerja langsung
kemari, kau tidak apa-apa?”
“Tentu saja sayang. Mama itu di rumah juga kesepian saat papa dan kakek pergi. Biarkan saja Berlyn menemaninya.”
“Lalu kita saat di rumah?” Queen tertawa tertahan sambil
menatap geli pada suaminya yang masih menganggap ini modus, sekaligus kesempatan.
“Ya, kita pacarana lagi. Biar gak keganggu sama bibi. Kita
kasih saja dia liburan, gimana?”
“Ih, nakal deh kamu.” Queen wajahnya memerah, dan tangannya
melesat cepat mencubit perut Al.
“Tapi, kamu suka, kan? Nakal juga ke kamu saja.”
“Apaan, sih?” Queen tertawa sambil memalingkan wajahnya ke
samping.
“Apa, sih? Lagaian, jika aku polos, tidak akan jadi Berlyn
dan Clarissa, Sayang. Kau dulu, kan membenciku.” Al memeluk dan mencium pipi di
dekat telinga, sambil mendenguskan napasnya di sana membuat Queen sedikit mengelinjang kegelian.
“Al, jangan gitu. Besok kita harus bekerja. Dan menyiapkan
seragam Berlyn lebih awal, loh.” Queen menepis wajah Al dari wajahnya.
Tapi, bukan Al Namanya kalau tidak akan terus menjailinya.
Ia malah denga sengaja meremas dada istrinya sedikit keras, sehingga wanita itu menjerit karena kaget dan juga merasa sakit.
“Al, stop jangan nakal!”
“Hahaha. Ya sudah, ayo kita segera pulang,” ajak Al.
Setelah menyampaikan kalau Queen juga sudah setuju, Al dan
Queen pun berpamitan pada putri, orangtua dan juga kakek mereka. Lalu keduanya pun pulang.
Sebelum pulang, Berlyn juga tidak melupakan hadiah yang sudah ia siapkan untuk namanya. sebuah rangkaian bunga ya g terdiri dari daun apa namanya Queen tidak tahu, dan diatasnya da bunga mata hari, Mawar, Lavender dan bunga Daisy.sangat cantik untuk karya anak berusia lima tahun.
***
Kerena sudah badmood duluan, Axel mengurungkan pergi ke
tempat GYM. Meskipun ia sebenarnya juga tahu kalau omnya berada di sana. Tapi,
karena tidak ada janji untuk datang, Axel pun pergi ke rumah temannya, Ricky.
Sesampainya di sana, Axel segera memarkirkan motornya dan
hendak masuk ke dalam rumah tersebut. Tapi, saat ia melepaskan spatunya, ia
melihat sepasang sandal wanita hak tinggi berada di sebelah sepatu temannya.
“Ck. Kenapa hari ini terus-terusan apes begini, sih?” umpat
pria remaja itu. Tapi, karena sudah terlanjur di sana, mau ngapain juga tidak
masuk. Kalaupun mereka berbuat sesuatu pasti juga di dalam kamar, pikir Axel.
Tanpa permisi, Axel langsung membuka pintu rumah itu dan
masuk. Begitun masuk ia juga langsung disambut dengan suara aneh yang tak
pernah ia dengar sebelumnya. Ya, karena ibunya adalah seorang Janda. Tapi, mungkin dulu saat ia masih anak-anak juga pernah.
“Ck, Ricy, dasar mentang-mentang orangtuanya tidak ada
dirumah, seenaknya saja,” umpatnya seorang diri saat ia mendapati pakaian pria
__ADS_1
dan wanita berserakan di lantai. Bahkan, pintu kamar depan yang ia gunakan
untuk bekerja juga terbuka lebar.
“Ehem,” Axel sengaja berdehem keras dan menyalakan televisi
di ruang tamu dengan volume cukup tinggi untuk memberi tanpa, kalau rumah mereka telah dimasuki seseorang.
Sebab, ia merasa
risih dengan suara rintihan temannya dan juga jeritan wanita yang menjadi
lawannya beradu gulat.
Seketika, suara-suara gaib itu pun hilang. Selang beberapa
menit, Ricy temannya datang dengan hanya mengenakan celana boxer saja.
“Axel, sudah lama datang?” tanya pria itu dengan raut wajah
seolah-olah tidak terjadi apapun.
‘Dasar, tebal muka,’ batin Axel, malah dia sendiri kini yang merasa malu. Karena mengganggu aktifitas pribadi pasangan mesum.
“sejak aku datang juga langsung menyalakan televisi,”
jawabnya, tanpa mengalihkan pandangan dari acara sore, Masha and the bear.
“Xel.”
“Apa?” Axel menoleh ke arah Ricy, nampak temannya seperti
berkomunikasi dengan wanitanya yang masih berada di dalam kamar dengan Bahasa isyarat.
“Ada apa, Rick?”
Ricky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian, dengan
wajah yang terlihat tak nayaman ia berkata, “Em… permisi, itu celana dalam dan bra-nya Tiara kau duduki.”
Dengan sigap Axel langsung melompat, dan benar saja,
sepasang daleman berwanra merah menyala dari bahan brukat telah lecek di sana.
“Aku gak liat,” ucap Axel dengan wajah yang memerah karena
malu berlipat-lipat. Lagian, gimana sih, Ricky itu, maen di sana, pakaian
berserakan di ruang tamu, daleman ada di ruang televi atau keluarga.
Dengan cepat Ricky meraih dua benda keramat tersebut dan
membawanya ke kamar, selang beberapa saat ia sudah kembali dan mengenakan kaus
oblong berwarna putih polos.
“Ada perlu apa Bro ke sini? Mau ajak aku ke GYM om kamu,
atau kita battle main game?” tanya Ricky seraya duduk di dekat Axel.
“Sebenarnya aku males ke mana-mana. Tapi, karena ada si
biang kerok, ya pura-pura aja mau ke GYM biar dia segera pulang.
“Oh, si itu… anu, ya? Dia benar-benar tergila-gila ma kamu.
Denger-denger di sekolahnya, ia itu primadona, lo Xel. Tapi, gak ada yang
berhasil mendekatinya. Garap saja, pasti masih prawan itu,” bisisk Ricky sambil
cengengesan.
Axel diam tidak menjawab, ia mengeluarkan headphone dan
hpnya dari dalam tas nya dan mulai memutar mp3 dan membuka game yang memang
lagi popular saat ini.
Ricky pun menyerah, temannya yang satu ini memang beda, dia
lebih suka menggunakan waktu luangnya unutk membaca dan main game saja. Di sekolahan, ia juga menjadi siswa telatan karena prestasinya.
Tak lama kemudian, seorang gadis kira-kira berusia masih
empat belas tahunan keluar membawakan dua gelas minuman.
“Diminum tehnya, Kak,” ucapnya.
Axel hanya diam, ia sebenarnya mendengarkan ucapan gadis
bernama Tiara itu. Tapi, ia enggan melihat wanita degan pakaian kurang bahan seperti. Toh dia juga mengenakan headphone, pura-pura tidak mendengar pun
juga sah-sah saja. Dia tidak akan tersinggung.
Karena diabaikan, Tiara meletakkan baki yang berisi sepiring
makanan ringan dan dua gelas minuman di atas meja, ia duduk di sebelah Axel
sambil mencoba mengintip layar sentuhnya yang tak teralihkan olehnya. Ternyata benar, pria itu tengah bermain game.
“Eh, kalian di sii dulu, ya? Aku ada urusan nih sebentar,
sepuluh menit juga akan kembali,” ucap Ricky tiba-tiba.
Axel membuka headphonenya dan menatap ke arah Ricky yang
kesannya tiba-tiba, dan dadakan banget. “Mau ke mana?”
“sebentar saja, mau keluar komplek. Ada yang perlu di urus,”
jawab Ricky sambil tersenyum dan menepuk pundak kokoh Axel.
Selanjutnya, pria remaja yang merupakan teman sekelas Axel,
sekaligus sahabat karibnya itu memandang ke arah ceweknya dan berkata, “Sayang,
tolong Temani Axel dulu, ya? Sebentar saja.” Ricky mengecup bibir wanita itu
singkat dan beranjak keluar meraih kontak motor milik Axel dan ia pun lenyap
dari pandangan mereka berdua.
“Kamu sekelas sama kak Ricky, ya?” tanya gadis itu memulai
percakapan.
“Iya,” jawab Axel singkat.
“Sudah berapa lama berteman dengan pacarku?”
“Sejak kls satu SMA.”
"Oh, sudah tiga tahun dong."
"Ya."
“Aku belum lama pacarana sama kak Ricky, baru satu bulan.
Jadi tidak tahu. Maaf, ya kalau banyak tanya.”
“Gapapa.”
Axel merasa risih saat Tiara mulai memandangi wajahnya,
sampai ke bawah seperti tatapan orang lapar saja, dungguh tidak pantas bagi
gadis kecil seusianya. Terlebih kini, gadis itu malah menggeser duduknya lebih dekat dan hampir menempel padanya. Ia merasa kian gerah saja.
“Kak Axel, punya pacar tidak?” tanya Tiara lagi.
“Pacaran nanti saja kalau sudah kerja.”
“Wah, keren. Kak Axel memang idaman ya? Pasti nanti cewek yang bisa jadi pacar kak Axel beruntung. Diajak jalan pakemuang hasil keringet
sendiri.”
Axel diam tidak menjawab. Dalam hati ia mengumpat karena
baterai ponselnya sudah habis tinggal 5% saja. Sementara Ricky juga tak kunjung tiba.
“Kak Axel… “ Tiara tidak melanjutkan kalimatnya. Dengan
berani gadis itu meraba dada bidang Axel dan mulai merayunya.
“Apa yang kau lakukan?” bentak Axel dan menatap tajam ke arah gadis itu.
“Apakah kau tidak pernah bersentuhan dengan cewek, kak?
Lihat, mukamu yang putih memerah,” ledek gadis itu sambil menahan tawa.
Dari luar sana terdengar suara motor ninjanya. Artinya Ricky
sudah tiba. Axel merasa lega. Ia beranjak dan mencari stop kontak untuk
mengecas ponselnya.
“Hay, aku kembali, apa yang kalian lakukan?” ucap Ricky saat
tiba. Sementara di dalam, Axel duduk berila di atas karpet dekat tv sambil
mengecas ponsel. Sedangkan Tiara, ia tengah berlagak sibuk mengganti chanel tv. Padahal, sebelumnya ia tengah sibuk merayu teman baiknya.
“Dari mana, sih lama banget?” timpal Axel saat melihat Ricky
dari ambang pintu membawa tas kresek berwarna putih.
“Beli mie setan lah. Ayo kau mau yang level berapa?” ucap
Ricky dengan girang.
“Emang kamu beli yang level berapa aja?” tanya Axel.
“Ya semua level dua, sih. Hehehe.”
Axel hanya tertawa miring mendapati tingkah temannya yang
satu ini. Dari dulu, sejak tiga tahun silam tidak banyak berubah. Masih saja
begitu konyol dan terlalu polos. Tapi, kok gonta-ganti wanita? Bagaimana ini? Axel bingung menjulukinya apa.
Harusnya pria polos itu tidak gampang berganti pasangan, dan
sering ditipu wanita. Sudah berapa saja pacarnya, selalu berusaha menggoda
dirinya yang memiliki tampang bule, dan mungkin juga lebih menarik daripada
Ricky yang sebenarnya dia juga tak kalah menarik dari Dilan.
“Hmm, kebetulan aku juga sudah mulai lapar,” jawab Axel,
meletakkan ponselnya dan menghampiri Ricky.
Sambil makan, mereka bertiga saling ngpbrol. Sedangkan Tiara
hanya menunduk dan tidak banyak bicara. Sungguh, sangat pandai bersandiwara. Membuat Axel muak saja.
“Xel, kau tahu tidak, Tiara itu teman sekolahnya Bilqis,
loh. Mereka satu sekolahan dan juga seangkatan. Hanya saja beda kelas.”
Mendengar itu Axel langsung tersedak. Dia tidak terkejut.
Hanya reaksinya saja terlalu cepat. Bersamaan menelan makanan, ia berfikir dan
hendak menanyakan dua hal secara bersamaan. Tapi, itu tidak mungking. Dalam benaknya, ‘Dia yang berkali-kali tidak naik kelas apa memang babon? Sebab, dari fisik jelas sangat jauh berbeda. Wajah Tiara terlihat jauh lebih tua dari Bilqis.
“Umur berapa dia?” tanya Axel pada Ricky sambil melihat ke arah Tiara yang tengah makan.
“Ya sepantaran sama Bilqis, lah. Sama-sama masih duabelas
tahun.”
Axel menyeringai dan membatin, ia saja selalu menolak jika
Bilqis ingin ikut dengannya takut dikata momong adek, ini malah bocah baru
kemarin sore dipacarin dan diajak praktek biologi bab reproduksi.
“Kamu kenal sama Bilqis?” tanya Axel pada Tiara.
“Kenal, dong. Kalau jam istirahat kami sering ketemu di
perpus. Dia termasuk siswi yang cerdas dan cantik, lo. Banyak jadi rebutan
cowok dan para kakak kelas. Tapi, gak pernah respon.”
Axel hanya mengangguk saja dan membatin, ‘Pantesan saja tu
bocah otaknya rada ngeres. Temannya saja kek gini,’ batin Axel.
“Kak Axel kenal sama dia?”
“Ya kenal. Tadi juga dia baru dari rumah minta diajari ngerjain PR.”
“Pantesan dia pinter, bergaulnya dengan orang-orang pinter.
Dia katanya punya adik cewek tapi bisu, ya?”
“OH, kalian cukup dekat juga ya?”
“Kan kami berteman kak. Mungkin setelah ini kami akan lebih
akrab lagi,” timpal Tiara.
Tiba-tiba saja Axel teringat dengan Queen. Wanita baik yang
dulu hampir menjadi mama tirinya dan juga sempat menjadi tantenya itu. Apa kabar dia? Kenapa orang sebaik itu bisa memiliki anak yang tidak bisa bicara?
“Rick, sudah gelap nih. Aku balik dulu, ya?” ucap Axel. Dan langsung
saja pergi, dan tak menghiraukan ocehan Ricky yang mengatai dirinya enak makan
__ADS_1
setelahnya langsung pulang. Hal seperti itu juga sudah biasa.
Di sepanjang perjalanan, Axel terus kepikiran dengan tante Queen. tiba-tiba ia merasa kangen dan ingin bertemu dengannya. Tapi, malu. Karena ia sudah berpisah dengan omnya dan memiliki rumah tangganya sendiri.