Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 51


__ADS_3

Karena semua


serba dadakan, empat hari sebelum hari H Novita bersama dengan kedua putranya


dan juga Candra pergi ke Bandung untuk meminta restu pada mertuanya, sekaligus


mengundang mereka di acara pernikahannya. Memang sebelumnya mama Livia, mertua


Novita sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Candra, kala keduanya belum


memilikki hubungan resmi. Kini, setelah hampir enam tahun lamanya mereka di


pertemukan lagi dengan status yang sudah berbeda. Jika dulu dia adala pria yang


mengejar menantunya. Kini, ia adalah pria yang akan menggantikan posisi mendiang putranya dalam


kehidupan dan mungkin di kerajaan hati menantunya itu.


“Kau memang


benar-benar mirip dengan putraku, Nak. Aku titip Novita, ya. jaga dia, dia


terlalu banyak menderita oleh putraku. Aku mohon, jaga dan sayangi dia dengan


sepenuh hati,” ucap Livia yang di sambut dengan suasana haru.


Banyak hal


yang disampaikan dari Doni kakak kandung mendiang Aditya dan juga ayah dari


almarhum. Meskipun Novita hanyalah menantu di keluarga itu. tapi, semenjak Adit


meninggal, mereka menganggap dia adalah putri keluarga rumah itu. Meskipun, sebelum Aditya meninggal, keduanya sudah resmi bercerai secara hukum.


Karena waktu


yang sudah benar-benar mepet dan tinggal menghitung hari saja, mereka tidak ada


yang menginap. Hanya sehari saja dan setelahnya balik lagi ke Jakarta.


Kebetulan, hari ini papa dan mama Novita juga akan datang dari New York. Sekalian, mereka berdua ke bandara untuk menjemput papa dan mama dari Novita.


“Aku gaknnyangka, kalau kedua orang tua kamu berada di luar Negeri. Kenapa tidak tinggal


di Indonesia, saja?” tanya Candra sambil menyetir. Karena, memang selama ini Novinsangat tertutup mengenai keluarganya.


“Aku tidak paham. Tapi, mereka bilang di sana mereka tenang dan bahagaia, di sana juga mereka


berdua ingin menghabiskan masa tuanya.  Sebagai anak, aku dan Alex hanya bisa mengiyakan saja apa yang jadi keinginan mereka. Meskipun sebenarnya berat jika begini, sulit untuk kami berbakti dan membalas budi.”


Candra menggenggam tangan Novita dengan erat. Pria itu memandang ke arah Novita dan


memandangnya dengan tatapan mata yang meneduhkan hati. Memang sepatah kata pun


tidak terucap dari bibir lelaki itu. tapi, dari wajah dan sorot matanya Novita


bisa mengerti, banyak hal yang telah ia sampaikan meski hanya beberapa detik, kemudian pandangannya kembali tertuju pada jalan tol yang lumayan padat.


*****


Tanpa Novita


sangka, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi dirinya, dan mungkin tidak akan pernah terlupakan olehnya seumur hidup. Bagaimana tidak, ternyata diam-diam Candra telah mengatur pesta pernikahan dirinya dan pria itu tepat di hari ulang tahunnya.


Di depan cermin, Novita melihat pantulan dirinya yang sudah mengenaka gaun pengantin vera wang-nya dan


sudah mengenakan riasan yang nampak flawes, sungguh, ia tidak percaya kalau ia


akan menjadi pengantin lagi yang ke tiga kalinya, dengan wajah pria yang sama, namun sebenarnya, dua orang berbeda. Bagaimana bisa? Apa namanya jika bukan keajaiban dari tuhan, bukan?


Tiba-tiba saja buliran bening meloncat bebas dari sudut netranya. Banyak hal yang membuat


ia menangis antara sedih dan juga bahagia. Ia bersedih kala teringat dua puluh tahun silam, ia juga menjadi seorang pengantin wanita untuk pertama kalinya. Bersama pria yang menjadi cinta pertamanya, Aditya. Walau sempat bercerai dan rujuk kembali, dan ini pernikahan ketiga. Tapi, pria kedua, namun ini memberi kesan bagaikan pernikahan pertamanya.


“Kau sudah siap, Nov?” seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun lebih berjalan


menghampiri putrinya yang masih nampak mematung di depan cermin besar yang ada


di dalam kamarnya.


“Sudah, Ma,” jawab Novita sambil menghampus air matanya lembut dengan tisu. Ia tak ingin riasan di area matanya berantakan karenanya.


“Jangan bersedih. Apakah kau teringan mendiang suamimu? Ingat satu pesan mama, jangan


pernah anggap Candra itu adalah Aditya. Cintai dia sebagai pria yang berbeda


meskipun mereka memiliki wajah yang sama,” pesan mama Rita, ibu kandung Novita.


“Insyaallah


tidak, Ma. Candra adalah Candra. Pria yang akan memberikan hidup baru untukku,”


jawab Novita sambil terisak.


“Mempelai


wanita, silahkan. Acara ijab qobul sudah akan segera di lakasanakan,” ucap seseorang yang entah siapa Novita tidak begitu peduli.


“Ayo!” seru


mama Rita sambil menggandeng lengan putrinya, membawanya keluar kamar dan


menuruni tangga. Dari atas, Novita melihat ke bawah, papa Nicolas sudah


terlihat siap duduk berhadapan dengan Candra dan berjajar dengan petugas dari


KUA. Di belakang mereka juga sudah banyak para tamu di anataranya, Queen sekeluarga bersama kedua orang tuanya, adik dan juga iparnya, dan beberapa


teman kerja Candra. Yang tak lain anak buah dari Al dan mama Dian serta rombongan keluarganya.


Candra sudah


bilang padanya kemarin. Kalau keluarganya yang ikut ke sini tidak banyak, hanya


sekitar lima belas orang bersama mamanya saja. Karena, di Jogja nanti, mamanya


masih akan menggelar pesta megah untuk putranya. Tapi, tetap saja hal itu


sangat mengharukan bagi Novita.


Ijab qobul diucapkan. Papa Nicolas sendirilah yang menikahkan putrinya untuk yang pertama. Karena dulu, melalui wali hakim.


tapi, pria kedua, dan berkesan seperti pernikaha pertama bagi Novi, dan semua yang hadir.


Ijab Qobul


pun telah diucapkan. Kini, Candra dan Novi menjadi pasangan suami istri yang


sudah sah secara agama dan sah di akui negara.

__ADS_1


Memang


Novita sengaja tidak mengadakan pesta yang meriah, hanya mengumpulkan kerabat


dan orang-orang terdekat saja. Setelah semua bekumpul dan makan-makan bersama,


satu-persatu tamu memohon diri sambil memberi ucapan selamat serta doa


terbaiknya.


****


 Walau acara tidak begitu lama, hal ini cukup


membuat pasangan Novita dan Candra merasa kelelahan. Untung saja acaranya di


mulai pagi. jadi, jam sembilan malam semua sudah benar-benar kelar dan mereka


sudah berada di dalam kamar hotel mereka. Seluruh keluarga Candra termasuk mamanya


sudah kembali ke Jogja untuk acara unduh mantu, sekaligus pesta resepsi


mengundang seluruh keluarga besar dan rekan-rekan Candra dan juga mamanya.


Tiba di


kamar hotel, Novita melepaskan asesoris yang terpasang  di rambutnya. Ia duduk di meja rias dan


menghapus mekap yang sangat tebal itu.


“Ndra, kamu


mandi dulu, gih. Aku masih bersihin mekap ini. Tebal banget kayaknya juga bakal


lama. Nanti, barengan aku selesai, kamu juga sudah selesai mandinya,” ucap Novi


sambil memandang pria yang baru dinikahinya melalui cermin.


Candra yang


rebahan dan bermalas-malasan menjawab sekenanya saja. Karena mungkin juga


lelah, ia jadi malas gerak saja bawaannya. “Kenapa kita gak mandi bareng saja, Nov. kan seru.”


Seketika


raut wajah Novita berubah, tatkala mendengar jawaban dari Candra. “Seru? Kek anak kecil


aja. Gak mau, ah,” Novita tersipu malu, ia menggeser posisi duduknya. Tak ingin Candra melihat wajahnya yang berubah merah.


Candra terkekeh. Setelah puas menggoda istrinya, ia pun akhirnya beranjak mengambil


handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, pria itu sudah


keluar hanya dengan mengenakan handuk berbentuk kimono saja, ia mengikat


talinya tidak begitu benar, sehingga dada bidangnya tereskpose dan membuat


Novita terpana saat melihatnya.


“Kamu mau mandi dulu, apa langsung saja nih? Mandi besok saja?” tanya Candra sambil tertawa jail.


“Tentu saja aku mandi dulu,” jawab Novi sedikit tergagap saat dirinya tertangkap basah


bengong memandang keindahan tubuh Candra. Memang, dia sendiri sudah lama tidak


melihat tubuh pria secara langsung dan dengan jarak yang dekat. Jadi, wajar


Setelah


selesai mandi dan kramas, Novita baru sadar kalau dia tidak membawa handuk. Ia


bingung, ingin meminta tolong pada Candra malu. Tapi, jika tidak, ia tidak


mungkin akan terus di berada di dalam kamar mandi sampai besok, kan? Terlebih,


dia juga sudah mulai merasa dingin. Akhirnya, terpaksa juga dia memanggil


Candra dan meminta agar mengambilkan handuk untuknya.


“Ndra.


Tolong, dong ambilin aku handuk,” teriaknya sedikit tertahan karena malu.


Candra yang


tengah bersantai di atas single sofa membaca tabloid sambil menunggunya


sekeitka pandangannya tertuju pada jemuran stainlees kecil yang digunakan untuk


menggantung handuk. Di sana tersisa satu handuk berwarna pink. Jadi, benar.


Memang tadi ada dua yang satu ia pakai. Istrinya benar-benar lupa tidak


membawanya.


Dengan Langkah


sedikit enggan Candra beranjak meraih handuk berbentuk kimono mini berwarna pink


tersebut. Jelas saja ia malas. Sebab, dia penginnya Novi berjalan telanjang


untuk mengambilnya sendiri. Baru saja ia meraih handuk itu, tiba-tiba jiwa jailnya muncul.


‘Sudahlah, Ndra. Gak usah ditahan lagi. Mau jailin yang bagaimana pu juga sudah bini


sendiri,’ batinnya sambil terus menahan tawa.


“Aku masuk, ya?” tanya Candra dari balik pintu kamar mandi hotel.


“Ngapain?” sahut Novita. Yang dalam banyangan Candra wanita itu sibuk menutupi payu dara


dan daerah intimnya dengan kedua tangannya di dalam sana.


“Ya


ngasihkan handuknya ke kamu, lah.”


“Ngapain harus masuk segala, sih? Kan kamu bisa kasihkan lewat situ,’ sahut Novita lagi.


“Ya sudah


kalau begitu. Kamu ke sini saja, ambil.”


“Mana bisa, Ndra?”


“Makanya, aku masuk kalau begitu, biar bisa ngasihkan ke kamu,” timpal Candra.


“Ada cara lain, kok tanpa kamu masuk dan aku tidak usah keluar,” jawab Novita. Masih berusaha

__ADS_1


bernegoisasi dengan suaminya.


“Bagaimana?”


“Kamu ulurkan


ke depan pintu, aku akan merahinya. Sini, berikan itu padaku!” seru Novita.


Candra hanya


tertawa. Ia memberikan handuk tersebut dan membiarkan istrinya yang menang kali


ini. Tapi tidak dengan seterusnya. Sebab, Ketika Novi keluar kamar mandi, Candra


langsung menikam tubuh wanita yang baru dia nikahinya itu.


Novita


menjerit kaget. Namun, dengan sigap dan sangat cekatan, pria itu langsung


menggendong tubuh wanitanya ke atas ranjang dan mengajaknya melakukan foreplay,


hingga pergulatan penuh keringat di antara terjadi dengan panas hingga jelang pagi.


Pukul 09:30,


dua pasangan pengantin baru itu sama-sama terjaga. Novita hanya meringkuh membelakangi


Candra sambil memeluk erat selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia merasa malu, mengingat bakaimana dekatnya jarak antara wajahnya dan wajah pria yang ia belakangi semalam ia tak ada mental untuk menatapnya kembali. Dia malu, pria saja


sambai seperti itu, bagaimana dia yang terlena dan terbuai oleh kenikmatan yang


Candra berikan setelah sekian lamanya tidak pernah lagi menikmati keliatan


tubuh seorang lelaki.


“Sayang, uda bangun, belum?” tanya Candra dengan suara seraknya khas bangun tidur, seranya melinkarkan


lengan kirirnya pada pinggang Novita dari belakang.


 “Iya, aku sudah bangun,” jawabnya lirih. Ia bingung mau bagaimana. Mau bergerak sedikit maju merasa sungkan dan tak enak hati sendiri dengan Candra. Tapi, bertahan di tempatnya ia juga merasa geli merasakan


sesuatu milik candra menempel di belahan pantatnya.


“Mandi, yuk. Sekalian cari sarapan di luar dan pulang. Kita siap-siap, besok loh kita ke Jogja.”


“Kamu duluan saja, Ndra.”


“Hemb!” Candra


mengehela napas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan sedikit kasar. Ia bangkit, dan berdiri, melewati tubuh Novita tanpa rasa malu sedikitpun meskipun telanjang


bulat. Tapi, satu hal yang Novita tidak menyangkanya, Candra dengan gerakan cepat menyingkap


slimut yang Novi kenakan dan mengangkat tubuh telanjang wanita itu dan


menggendongnya ke dalam kamar mandi.


“Candra, apa


yang kau lakukan?” jerik Novita sampai matanya terbelalak.


“Kita sudah


menikah, kenapa kau masih malu-malu?” ucap Candra dengan cueknya.


Sesampainya di


dalam kamar mandi, pria itu mendudukkan Novi di atas wastafel dan mencumbui


mulai dari kening, pipi, bibir leher hingga dada.


“Apakah kau


merasa sakit karena sudah lama tidak melakukan?” bisik Candra di dekat telinga istrinya sambil memandang ke arah ************ wanita itu.


“Lumayan.”


“Hmmb… lalu,


gimana ini?” ucap Candra sambil melihat ke arah adik kecilnya yang sudah mengang dan berkedut-ledut sejak ia bangun.


“Masa kurang, si Ndra? Kan semalam sampai pa … ouch,” desah Novita. Sekita kalimatnya terputus


karena tiba-tiba memberikan serangan dadakan padanya dan langsung melakukan Gerakan dengan


kencang sehingga novita terus mendesah keras dan menjambakki rambut pria itu.


Entah sudah berapa lama keduanya bermain. Yang jelas, Ketika mereka makan di restoran hotel tersebut, itu sudah masuk jam makan siang.


Novita terus memperhatikan Candra yang serius memotong stik daging di depannya. Entah apa


yang ada dalam pikiran Novita. Tiba-tiba saja ia tersenyum seorang diri, tersipu dan wajahnya langsung memerah. Mungkin saja, ia teringat bagaiamana kejadian semalam dan tadi pagi. atau, diam-diam dia mengagumi kemampuan pria itu?


“kita ke Jogja kapan, Ndra?” tanya Novi memulai percakapan.


“Malam ini. Makanya,


aku buru-buru ajak kamu chek out biar gak terlambat. Besok siang kita mulai


resepsi di sana.”


***


Pukul delapan


malam Novi sudah mempersiapkan segala keperluan untuk ke Jogja ke rumah mertunya. Sementara Alex, Zahra Queen, Nayla dan Hanifah sudah berada di tempat untuk jadi pihak yang ikut mendampingi mempelai wanita.


Acara di


tempat Candra sangat megah dan membuat Novi lebih capek tentunya. Malam sampai pagi sudah dihajar Candra, menempuh perjalanan yang tidak bisa dibilang dekat, begitu


tiba juga Cuma istirahat sebentar, karena masih harus siap melayani suaminya. Dan paginya dirias sampai siang baru kelar dan langsung resepsi hingga malam. Tapi,


yang bikin Novi terheran-heran itu, suaminya seperti tak memiliki rasa lelah, terlebih dalam hal itu.


Awalnya Novita tidak tahu, siapa sebenarnya Candra. Tapi, setelah tiga hari tinggal di rumah


mertuanya. Barulah dia tahu identitas suaminya sebenarnya. Mama mertua Candra memiliki perusahaan frozen food. Dan itu pun juga merk terkenal pantas saja kalau


penampilan mama mertuanya malam itu saat bertemu dengannya sekitar dua minggu silam


nampak glamor dan elegant. Memang dia kaya raya. Artinya, Candra anak sultan, dong? Tapi, kenapa diam au bekerja sebagai karyawan di perusahaan orang lain kalau perusahaan yang mamanya miliki sudah termasuk besar dan membutuhkan dirinya?


Mungkin saja


dia hanya ingin mencari tahu jati dirnya dan wanita yang benar-benar mau tulus mencintainya apa adanya bukan karena ada apanya.


Awal Novi kenal

__ADS_1


Candra saja juga mengira kalau pria itu hanyalan seorang OB. Karena dia


memperkenalkan diri sebagai cleaning service. Tidak tahunya, Queen bilang kalau Candra itu adalah arsitek terbaik di perusahaan yang suaminya pegang. Benar-benar bikin geleng-geleng kepala saja nih orang.


__ADS_2