
Karena semua
serba dadakan, empat hari sebelum hari H Novita bersama dengan kedua putranya
dan juga Candra pergi ke Bandung untuk meminta restu pada mertuanya, sekaligus
mengundang mereka di acara pernikahannya. Memang sebelumnya mama Livia, mertua
Novita sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Candra, kala keduanya belum
memilikki hubungan resmi. Kini, setelah hampir enam tahun lamanya mereka di
pertemukan lagi dengan status yang sudah berbeda. Jika dulu dia adala pria yang
mengejar menantunya. Kini, ia adalah pria yang akan menggantikan posisi mendiang putranya dalam
kehidupan dan mungkin di kerajaan hati menantunya itu.
“Kau memang
benar-benar mirip dengan putraku, Nak. Aku titip Novita, ya. jaga dia, dia
terlalu banyak menderita oleh putraku. Aku mohon, jaga dan sayangi dia dengan
sepenuh hati,” ucap Livia yang di sambut dengan suasana haru.
Banyak hal
yang disampaikan dari Doni kakak kandung mendiang Aditya dan juga ayah dari
almarhum. Meskipun Novita hanyalah menantu di keluarga itu. tapi, semenjak Adit
meninggal, mereka menganggap dia adalah putri keluarga rumah itu. Meskipun, sebelum Aditya meninggal, keduanya sudah resmi bercerai secara hukum.
Karena waktu
yang sudah benar-benar mepet dan tinggal menghitung hari saja, mereka tidak ada
yang menginap. Hanya sehari saja dan setelahnya balik lagi ke Jakarta.
Kebetulan, hari ini papa dan mama Novita juga akan datang dari New York. Sekalian, mereka berdua ke bandara untuk menjemput papa dan mama dari Novita.
“Aku gaknnyangka, kalau kedua orang tua kamu berada di luar Negeri. Kenapa tidak tinggal
di Indonesia, saja?” tanya Candra sambil menyetir. Karena, memang selama ini Novinsangat tertutup mengenai keluarganya.
“Aku tidak paham. Tapi, mereka bilang di sana mereka tenang dan bahagaia, di sana juga mereka
berdua ingin menghabiskan masa tuanya. Sebagai anak, aku dan Alex hanya bisa mengiyakan saja apa yang jadi keinginan mereka. Meskipun sebenarnya berat jika begini, sulit untuk kami berbakti dan membalas budi.”
Candra menggenggam tangan Novita dengan erat. Pria itu memandang ke arah Novita dan
memandangnya dengan tatapan mata yang meneduhkan hati. Memang sepatah kata pun
tidak terucap dari bibir lelaki itu. tapi, dari wajah dan sorot matanya Novita
bisa mengerti, banyak hal yang telah ia sampaikan meski hanya beberapa detik, kemudian pandangannya kembali tertuju pada jalan tol yang lumayan padat.
*****
Tanpa Novita
sangka, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi dirinya, dan mungkin tidak akan pernah terlupakan olehnya seumur hidup. Bagaimana tidak, ternyata diam-diam Candra telah mengatur pesta pernikahan dirinya dan pria itu tepat di hari ulang tahunnya.
Di depan cermin, Novita melihat pantulan dirinya yang sudah mengenaka gaun pengantin vera wang-nya dan
sudah mengenakan riasan yang nampak flawes, sungguh, ia tidak percaya kalau ia
akan menjadi pengantin lagi yang ke tiga kalinya, dengan wajah pria yang sama, namun sebenarnya, dua orang berbeda. Bagaimana bisa? Apa namanya jika bukan keajaiban dari tuhan, bukan?
Tiba-tiba saja buliran bening meloncat bebas dari sudut netranya. Banyak hal yang membuat
ia menangis antara sedih dan juga bahagia. Ia bersedih kala teringat dua puluh tahun silam, ia juga menjadi seorang pengantin wanita untuk pertama kalinya. Bersama pria yang menjadi cinta pertamanya, Aditya. Walau sempat bercerai dan rujuk kembali, dan ini pernikahan ketiga. Tapi, pria kedua, namun ini memberi kesan bagaikan pernikahan pertamanya.
“Kau sudah siap, Nov?” seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun lebih berjalan
menghampiri putrinya yang masih nampak mematung di depan cermin besar yang ada
di dalam kamarnya.
“Sudah, Ma,” jawab Novita sambil menghampus air matanya lembut dengan tisu. Ia tak ingin riasan di area matanya berantakan karenanya.
“Jangan bersedih. Apakah kau teringan mendiang suamimu? Ingat satu pesan mama, jangan
pernah anggap Candra itu adalah Aditya. Cintai dia sebagai pria yang berbeda
meskipun mereka memiliki wajah yang sama,” pesan mama Rita, ibu kandung Novita.
“Insyaallah
tidak, Ma. Candra adalah Candra. Pria yang akan memberikan hidup baru untukku,”
jawab Novita sambil terisak.
“Mempelai
wanita, silahkan. Acara ijab qobul sudah akan segera di lakasanakan,” ucap seseorang yang entah siapa Novita tidak begitu peduli.
“Ayo!” seru
mama Rita sambil menggandeng lengan putrinya, membawanya keluar kamar dan
menuruni tangga. Dari atas, Novita melihat ke bawah, papa Nicolas sudah
terlihat siap duduk berhadapan dengan Candra dan berjajar dengan petugas dari
KUA. Di belakang mereka juga sudah banyak para tamu di anataranya, Queen sekeluarga bersama kedua orang tuanya, adik dan juga iparnya, dan beberapa
teman kerja Candra. Yang tak lain anak buah dari Al dan mama Dian serta rombongan keluarganya.
Candra sudah
bilang padanya kemarin. Kalau keluarganya yang ikut ke sini tidak banyak, hanya
sekitar lima belas orang bersama mamanya saja. Karena, di Jogja nanti, mamanya
masih akan menggelar pesta megah untuk putranya. Tapi, tetap saja hal itu
sangat mengharukan bagi Novita.
Ijab qobul diucapkan. Papa Nicolas sendirilah yang menikahkan putrinya untuk yang pertama. Karena dulu, melalui wali hakim.
tapi, pria kedua, dan berkesan seperti pernikaha pertama bagi Novi, dan semua yang hadir.
Ijab Qobul
pun telah diucapkan. Kini, Candra dan Novi menjadi pasangan suami istri yang
sudah sah secara agama dan sah di akui negara.
__ADS_1
Memang
Novita sengaja tidak mengadakan pesta yang meriah, hanya mengumpulkan kerabat
dan orang-orang terdekat saja. Setelah semua bekumpul dan makan-makan bersama,
satu-persatu tamu memohon diri sambil memberi ucapan selamat serta doa
terbaiknya.
****
Walau acara tidak begitu lama, hal ini cukup
membuat pasangan Novita dan Candra merasa kelelahan. Untung saja acaranya di
mulai pagi. jadi, jam sembilan malam semua sudah benar-benar kelar dan mereka
sudah berada di dalam kamar hotel mereka. Seluruh keluarga Candra termasuk mamanya
sudah kembali ke Jogja untuk acara unduh mantu, sekaligus pesta resepsi
mengundang seluruh keluarga besar dan rekan-rekan Candra dan juga mamanya.
Tiba di
kamar hotel, Novita melepaskan asesoris yang terpasang di rambutnya. Ia duduk di meja rias dan
menghapus mekap yang sangat tebal itu.
“Ndra, kamu
mandi dulu, gih. Aku masih bersihin mekap ini. Tebal banget kayaknya juga bakal
lama. Nanti, barengan aku selesai, kamu juga sudah selesai mandinya,” ucap Novi
sambil memandang pria yang baru dinikahinya melalui cermin.
Candra yang
rebahan dan bermalas-malasan menjawab sekenanya saja. Karena mungkin juga
lelah, ia jadi malas gerak saja bawaannya. “Kenapa kita gak mandi bareng saja, Nov. kan seru.”
Seketika
raut wajah Novita berubah, tatkala mendengar jawaban dari Candra. “Seru? Kek anak kecil
aja. Gak mau, ah,” Novita tersipu malu, ia menggeser posisi duduknya. Tak ingin Candra melihat wajahnya yang berubah merah.
Candra terkekeh. Setelah puas menggoda istrinya, ia pun akhirnya beranjak mengambil
handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, pria itu sudah
keluar hanya dengan mengenakan handuk berbentuk kimono saja, ia mengikat
talinya tidak begitu benar, sehingga dada bidangnya tereskpose dan membuat
Novita terpana saat melihatnya.
“Kamu mau mandi dulu, apa langsung saja nih? Mandi besok saja?” tanya Candra sambil tertawa jail.
“Tentu saja aku mandi dulu,” jawab Novi sedikit tergagap saat dirinya tertangkap basah
bengong memandang keindahan tubuh Candra. Memang, dia sendiri sudah lama tidak
melihat tubuh pria secara langsung dan dengan jarak yang dekat. Jadi, wajar
Setelah
selesai mandi dan kramas, Novita baru sadar kalau dia tidak membawa handuk. Ia
bingung, ingin meminta tolong pada Candra malu. Tapi, jika tidak, ia tidak
mungkin akan terus di berada di dalam kamar mandi sampai besok, kan? Terlebih,
dia juga sudah mulai merasa dingin. Akhirnya, terpaksa juga dia memanggil
Candra dan meminta agar mengambilkan handuk untuknya.
“Ndra.
Tolong, dong ambilin aku handuk,” teriaknya sedikit tertahan karena malu.
Candra yang
tengah bersantai di atas single sofa membaca tabloid sambil menunggunya
sekeitka pandangannya tertuju pada jemuran stainlees kecil yang digunakan untuk
menggantung handuk. Di sana tersisa satu handuk berwarna pink. Jadi, benar.
Memang tadi ada dua yang satu ia pakai. Istrinya benar-benar lupa tidak
membawanya.
Dengan Langkah
sedikit enggan Candra beranjak meraih handuk berbentuk kimono mini berwarna pink
tersebut. Jelas saja ia malas. Sebab, dia penginnya Novi berjalan telanjang
untuk mengambilnya sendiri. Baru saja ia meraih handuk itu, tiba-tiba jiwa jailnya muncul.
‘Sudahlah, Ndra. Gak usah ditahan lagi. Mau jailin yang bagaimana pu juga sudah bini
sendiri,’ batinnya sambil terus menahan tawa.
“Aku masuk, ya?” tanya Candra dari balik pintu kamar mandi hotel.
“Ngapain?” sahut Novita. Yang dalam banyangan Candra wanita itu sibuk menutupi payu dara
dan daerah intimnya dengan kedua tangannya di dalam sana.
“Ya
ngasihkan handuknya ke kamu, lah.”
“Ngapain harus masuk segala, sih? Kan kamu bisa kasihkan lewat situ,’ sahut Novita lagi.
“Ya sudah
kalau begitu. Kamu ke sini saja, ambil.”
“Mana bisa, Ndra?”
“Makanya, aku masuk kalau begitu, biar bisa ngasihkan ke kamu,” timpal Candra.
“Ada cara lain, kok tanpa kamu masuk dan aku tidak usah keluar,” jawab Novita. Masih berusaha
__ADS_1
bernegoisasi dengan suaminya.
“Bagaimana?”
“Kamu ulurkan
ke depan pintu, aku akan merahinya. Sini, berikan itu padaku!” seru Novita.
Candra hanya
tertawa. Ia memberikan handuk tersebut dan membiarkan istrinya yang menang kali
ini. Tapi tidak dengan seterusnya. Sebab, Ketika Novi keluar kamar mandi, Candra
langsung menikam tubuh wanita yang baru dia nikahinya itu.
Novita
menjerit kaget. Namun, dengan sigap dan sangat cekatan, pria itu langsung
menggendong tubuh wanitanya ke atas ranjang dan mengajaknya melakukan foreplay,
hingga pergulatan penuh keringat di antara terjadi dengan panas hingga jelang pagi.
Pukul 09:30,
dua pasangan pengantin baru itu sama-sama terjaga. Novita hanya meringkuh membelakangi
Candra sambil memeluk erat selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia merasa malu, mengingat bakaimana dekatnya jarak antara wajahnya dan wajah pria yang ia belakangi semalam ia tak ada mental untuk menatapnya kembali. Dia malu, pria saja
sambai seperti itu, bagaimana dia yang terlena dan terbuai oleh kenikmatan yang
Candra berikan setelah sekian lamanya tidak pernah lagi menikmati keliatan
tubuh seorang lelaki.
“Sayang, uda bangun, belum?” tanya Candra dengan suara seraknya khas bangun tidur, seranya melinkarkan
lengan kirirnya pada pinggang Novita dari belakang.
“Iya, aku sudah bangun,” jawabnya lirih. Ia bingung mau bagaimana. Mau bergerak sedikit maju merasa sungkan dan tak enak hati sendiri dengan Candra. Tapi, bertahan di tempatnya ia juga merasa geli merasakan
sesuatu milik candra menempel di belahan pantatnya.
“Mandi, yuk. Sekalian cari sarapan di luar dan pulang. Kita siap-siap, besok loh kita ke Jogja.”
“Kamu duluan saja, Ndra.”
“Hemb!” Candra
mengehela napas dalam-dalam dan mengeluarkan dengan sedikit kasar. Ia bangkit, dan berdiri, melewati tubuh Novita tanpa rasa malu sedikitpun meskipun telanjang
bulat. Tapi, satu hal yang Novita tidak menyangkanya, Candra dengan gerakan cepat menyingkap
slimut yang Novi kenakan dan mengangkat tubuh telanjang wanita itu dan
menggendongnya ke dalam kamar mandi.
“Candra, apa
yang kau lakukan?” jerik Novita sampai matanya terbelalak.
“Kita sudah
menikah, kenapa kau masih malu-malu?” ucap Candra dengan cueknya.
Sesampainya di
dalam kamar mandi, pria itu mendudukkan Novi di atas wastafel dan mencumbui
mulai dari kening, pipi, bibir leher hingga dada.
“Apakah kau
merasa sakit karena sudah lama tidak melakukan?” bisik Candra di dekat telinga istrinya sambil memandang ke arah ************ wanita itu.
“Lumayan.”
“Hmmb… lalu,
gimana ini?” ucap Candra sambil melihat ke arah adik kecilnya yang sudah mengang dan berkedut-ledut sejak ia bangun.
“Masa kurang, si Ndra? Kan semalam sampai pa … ouch,” desah Novita. Sekita kalimatnya terputus
karena tiba-tiba memberikan serangan dadakan padanya dan langsung melakukan Gerakan dengan
kencang sehingga novita terus mendesah keras dan menjambakki rambut pria itu.
Entah sudah berapa lama keduanya bermain. Yang jelas, Ketika mereka makan di restoran hotel tersebut, itu sudah masuk jam makan siang.
Novita terus memperhatikan Candra yang serius memotong stik daging di depannya. Entah apa
yang ada dalam pikiran Novita. Tiba-tiba saja ia tersenyum seorang diri, tersipu dan wajahnya langsung memerah. Mungkin saja, ia teringat bagaiamana kejadian semalam dan tadi pagi. atau, diam-diam dia mengagumi kemampuan pria itu?
“kita ke Jogja kapan, Ndra?” tanya Novi memulai percakapan.
“Malam ini. Makanya,
aku buru-buru ajak kamu chek out biar gak terlambat. Besok siang kita mulai
resepsi di sana.”
***
Pukul delapan
malam Novi sudah mempersiapkan segala keperluan untuk ke Jogja ke rumah mertunya. Sementara Alex, Zahra Queen, Nayla dan Hanifah sudah berada di tempat untuk jadi pihak yang ikut mendampingi mempelai wanita.
Acara di
tempat Candra sangat megah dan membuat Novi lebih capek tentunya. Malam sampai pagi sudah dihajar Candra, menempuh perjalanan yang tidak bisa dibilang dekat, begitu
tiba juga Cuma istirahat sebentar, karena masih harus siap melayani suaminya. Dan paginya dirias sampai siang baru kelar dan langsung resepsi hingga malam. Tapi,
yang bikin Novi terheran-heran itu, suaminya seperti tak memiliki rasa lelah, terlebih dalam hal itu.
Awalnya Novita tidak tahu, siapa sebenarnya Candra. Tapi, setelah tiga hari tinggal di rumah
mertuanya. Barulah dia tahu identitas suaminya sebenarnya. Mama mertua Candra memiliki perusahaan frozen food. Dan itu pun juga merk terkenal pantas saja kalau
penampilan mama mertuanya malam itu saat bertemu dengannya sekitar dua minggu silam
nampak glamor dan elegant. Memang dia kaya raya. Artinya, Candra anak sultan, dong? Tapi, kenapa diam au bekerja sebagai karyawan di perusahaan orang lain kalau perusahaan yang mamanya miliki sudah termasuk besar dan membutuhkan dirinya?
Mungkin saja
dia hanya ingin mencari tahu jati dirnya dan wanita yang benar-benar mau tulus mencintainya apa adanya bukan karena ada apanya.
Awal Novi kenal
__ADS_1
Candra saja juga mengira kalau pria itu hanyalan seorang OB. Karena dia
memperkenalkan diri sebagai cleaning service. Tidak tahunya, Queen bilang kalau Candra itu adalah arsitek terbaik di perusahaan yang suaminya pegang. Benar-benar bikin geleng-geleng kepala saja nih orang.