
Tujuh hari sudah berlalu. Queen, Al dan Vano juga sudah
memulai aktifitasnya dengan normal. Sejak kepergian kakek Andrean, Berlyn jadi
sering tinggal di rumahnya sendiri, ada kalanya juga dia menginap di rumah
Nayla bersama Bilqis. Tapi, tetap saja, ia masih lebih sering tinggal di rumah
kakek dan neneknya. Selain dia merasa nyaman di sana, kedatangannya bisa
menemani neneknya di kala sang kakek tengah bekerja.
Pagi itu, di kediaman Al dan Queen, Berlyn memakan sepotong
roti sandwich dan susu yang sudah bibi Yul siapkan untuknya. Sementara Queen
mengikatkan rambutnya. Dan Al, ia masih sibuk dengan gadget dan hanya menikmati
secangkir kopi susu saja. Sedikitpun pria itu seperti tidak tertarik dengan
sarapan yang terhidang di depannya.
“Kamu tidak sarapan, Al?” tanya Queen.
“Sepertinya gak enak makan banget. Gak apa-apa. Kamu tidak
perlu menyiapkan apapun, aku makan di kantin saja,” ucap Al.
“Kamu tumben banget, sih? Ada apa memang ada apa di kantin?”
“Ya gak ada apa-apa sih sayang. Sesekli lah sarapan di kantin,”
kilah Al.
Queen tersenyum tipis, kemudian dia berkata, “Oh, iya.
Sesekali kan bisa, lah cuci mata pada mbak kantin baru itu. siapa tuh Namanya,
Serly ya?”
“Uhuk!” seketika Al pun langsung tersedak saat minum kopi.
“Kamu ngomong apa, sih Sayang. Aku cuma tidak mau kamu repot-repot menyiapkan
aku bekal saja, kok.
“Baiklah, tidak masalah. nanti aku akan membawakan kamu
makanan saja ke kantor,” ucap Queen lalu mengantarkan suami dan anaknya
berangkat sampai depan gerbang rumah. Setelahnya, dia juga menyipkan
keperluannya untuk nanti siang. Hari ini ia dapat jawadwal untuk praktik sore.
Jadi, jam dua baru berangkat dan selesai jam sepuluh malam.
Usai mandi dan membantu bibi membereskan rumah, wanita itu
menyiapkan sarapan untuk suaminya lalu ke kantor. Dia pun juga belum sarapan.
Jadi, ingin sarapan bareng bersama suaminya. Sengaja dia tidak mengabari Al
terlebih dahulu untuk memberikan surprise. Namun, siapa sangka, saat ia tiba di
sana malah dia yang dibikin surprise dengan suaminya. Walau ada rasa penasarannya
juga sih. Kenapa bisa dia bisa di sini menemui suaminya secara pribadi.
“Hay,” ucap Queen dengan ekspresi kikuk dan canggung.
“Sayang, kebetulan sekali kau ke mari. Duduklah!” ujar Al.
Karena kamu tadi pagi tidak sempat sarapan, jadi aku ke mari
membawakan kamu sarapan, Al. tapi, kok ada Alex? di mana Zahara” tanya Queen
begitu duduk di sofa dekat Al di dalam ruangan suaminya.
“Dia tidak ikut. Aku ke sini sendiri memang ada hal yang
perlu kubahas mengenai dia. Barangkali kalian menemukan solusinya,’’ jawab
Alex.
Queen membenarkan posisi duduknya dan bersiap mendengarkan
apa yang ingin Alex katakan.
“Aku merasa Zahara itu kian aneh sekali. Jika banyak yang
bilang kalau wanita jika sudah hamil itu memang sedikit berubah. Tapi, kenapa perubahan
pada diri Zahara bisa 180* begitu. Akumerasa tidak lagi mengenalnya. Dia
seperti orang lain saja bagiku.”
“Kau tahu, tidak sejak kapan dia berubah seperti itu?” tanya
Al.
“Sejak dia semakin posesif dan menggila padaku. Kebenciannya
pada Queen juga tidak wajar. Setelah mendengarkan apa yang Queen katakana pada
Zahara beberapa pekan lalu, aku berfikir dia juga kejiwaannya bermasalah. Tapi,
kenapa setelah aku bawa ke psekeater tak ada perubahan. Berkali-kali umiknya
dibikin menangis dengan kelakuannya. Karena tak menemuka perubahan sedikitpun, psekeater yang menanganinya
menyarankan agara aku membawanya ke hipnoterapi, dengan harapan dia bisa
kembali normal. Namun yang ada malah kian parah saja.”
“Aku akan bantu kamu. Kasian anak kalian nanti jika dia
terus seperti itu. jika masih hamil saja dia tingkat stressnya tinggi, ia juga
rawan terkena babyblues,” ucap Queen.
“Babybluse?” tanya Al sambil memandang ke arah istrinya.
“Baby blues itu gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu
yang baru melahirkan. Biasaya yang rentan terkena babay bluse itu adalah wanita
yang baru pertama kali melahirkan dikarenakan beberapa factor.
1 faktor kelahiran dan mengasuh bayi baru.
2 sakit kepala dan bagian payudara.
3 kesulitan ibu muda dalam beradaptasi.
4 hormon bunda menurun.
5 perubahan fisik tubuh, dan ini biasanya dialami selama
empatbelas hari prtama. Dia stress, mudah lelah, ditambah nyeri di bakgian kepala
dan payudara tadi, dan juga kelelahan. Karena wanita yang habis melahirkan itu
akan cepat merasa lelah dan akhirnya mudah tersinggung. Kelihatannya sepele,
sih. Tapi, dampaknya negative jika tidak segera ditangani. Sebab, bisa saja dia
melampiaskan kekesalannya pada si bayi itu. Tak peduli, itu adalah anak
sendiri.”
Al dan Alex sama-sama mengangguk, artinya dia paham dengan
apa yang sudah Queen jelaskan. Mungkin, yang ada di kepala mereka berdua
tentang adanya seorang ibu kandung yang tega menganiaya anak sendiri itu juga
seperti ini. Banyak juga terjadi balita cidera bahkan sampai kehilangan nyawa
karena dianiaya oleh inu. Setelah ditelusuri, pasti alasan di balik semua itu
adalah kekesalan seorang istri pada anaknya. Lalu, kenapa harus dilampiaskan
pada anak? Salah apa mereka? Apa mungkin
karena mereka mahluk kecil dan lemah. Tak memiliki daya apa selain tetap
bertahan dan menggantungkan hidup pada kedua orang tuanya?
Queen memperhatikan dua pria yang berada dalam satu ruangan
dengannya. Dia mengedukaksi mantan suaminya yang kini akan menjadi seorang
ayah. Namun, suaminya pun juga ikut memperhatikan. Dalam hati Queen tertawa
seorang diri, menganggap kejadian yang dia alami saat ini sangat lucu dan
mungkin tidak pernah terjadi di manapun selain pada dirinya dan juga Alex serta
Al.
__ADS_1
“Kalian tahu, dampak dari baby blues?” tanya Queen.
“Apa? Apakah bayi tidak terurus dan semakin rewel karena
ibunya marah-marah terus?” tanya Axel. Rupanya dia sangat peduli dengan anak
pertamanya sampai-sampai ia meinta izin pada Al untuk meminta solusi pada Queen
yang seorang dokter. Sengaja pria blasteran itu memilih Queen karena dengar
dari Diaz kalau Queen sepertinya mau mabil soesialis kejiwaan . walaupun tidak
pasti. Setidaknya, dengan mereka dia tidak perlu sungkan untuk menayakan
apapun. Sebab, di masa lalu, ia juga sudah kenal dengan Al melalui Juna.
Walaupun, Alex tak sedekat Juna dengan Al. setidaknya, mereka sudah pernah ke
bar bareng. Terlebih, Diaz juga meyakinkan kalau banyak dokter yang menyarankan
Queen untuk menjadi dokter sekaligus psikolog.
“Ya, itu salah satunya, selain itu produksi asi juga
terganggu. Ibu merasa tidak memiliki ikatan batin dengan bayinya. Baby blues
pun juga memperngaruhi perkembangan si bayi. Anak jadi penakut, tak memiliki
kepercayaan diri atau ragu, dan saat dewasa nanti, ia tidak berani memulai
tantangan baru. Tapi, tenang saja. Bukannya setiap penyakit sudah ada obatnya
selain mati dan corona yang belum ketemu pasti apa obatnya, kan sudah ad acara
dan antisipasi untuk mencegahnya, bukan? Kecuali satu yang memang tidak bisa
dicegah apalagi diobati. Kematin. Begitupun setiap permasalahan. Pasti ada jalan
keluarnya. Jadi, Lex. Kamu bikin istrimu itu merasa rilex. Minta dan dukung dia
untuk menyesuaikan diri, beri perhatian kusus padanya, dan minta dia bergabung
pada komunitas yang mebahas tentang baby blues. Sebab, percuma kita berusaha keras
mencegah dan menyembuhkan Zahara, jika yang ingin disembuhkan tak emiliki
kemauan untuk sembuh. Karena pada dasarnya yangbisa membantu kita adalah diri
sendiri. Orang lain hanyalah pendukung.”
“Iya, Queen, kau benar. Terimakasih, ya. terimakasih banyak.”
Ucap Alex.
“Eh, tunggu. Kok kamu ke sini bahas tentang Zahara sama
suamiku, sih? Emang ngerti apa dia?” tanya Queen. Sambil memandang dua pria di
depannya dengan tatapan aneh.
Sementara Alex bingung harus menjawab apa. Ia hanya cengar
cengir melirik Al sambil menggaruk kepalnya yang tidak gatal. “Kak Novi yang
memintaku untuk datang ke sini.”
Queen mengerutkan dahi dan menatap kea rah suaminya.
“Alex kemari itu untuk meminta izin padaku sebelum
menemuimu, Sayang. Dia tidak memiliki pilihan karena kondisi Zahara sudah kian
akut. untuk menanyakan suasa hati kamu. Kan kita juga baru saja terkena
musibah, Sayang.”
“Baiklah, kami siap membantumu, Lex,” ucap Queen.
Setelah semua dirasa cukup, pria blasteran Indonesia London
itu pun memohon diri. Masih ada banyak hal yang harus ia kerjakan.
“Kamu tidak ikut sarapan dulu dengan kami, Lex? Istriku
membakan sarapan ini,” ucap Al.
“Sarapan apa jam segini? Ini sudah jam sembilan, Al,” tukas
Alex, keduanya berjabat sambil berpelukan.
“Sarapan season kedua.” Al dan Alex pun sama-sama tertawa.
meninggalkan tempat tersebut. “Kalian sudah janjian, ya?”
“Bisa dibilan begitu. Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa. Kenapa harus sepagi ini dan di kantor kamu?”
“Entahlah. Mungkin dia ke mari juga tanpa sepengetahuan dari
Zahara. Kamu bersedia membantunya?”
“Tentu saja. Tapi, aku butuh bantuanmu, Al. aku tidak bisa
mengerjakannya sendiri,” tukas Queen.
“Tentu saja, sekarang aku harus membantumu bagaimana?
Katakana!” ucap Al sambil memasang wajah serius.
“Aku butuh beberapa orang yang bisa terus mengawasi
gerak-gerik Zahara. Jika tidak begitu, kita tidak bisa menemukan solusinya.
Yang ada masalah justru akan berbelit-belit”
“Apa kau juga berfikir itu bukan Zahara?”
“Tentu saja tidak. Kenapa kau jadi berfikir demikian, Queen?
Justru malah aku takut, ada yang mengendalikan dia?” jawab Al.
“Masuk akal, sih. Tapi, kenapa harus aku dan Alex yang
terkena imbasnya? Dan kenapa bisa di aitu berpendidikan dan memiliki tata krama
yang bagus. Kenapa mau dijadikan alat oleh orang lain?” tanya Queen lagi.
Keduanya pun jadi bertukar pikiran di depan pintu ruangan Al.
“Ya, siapa tahu dia diancam dan disuruh memilih dan dia taka
da pilihan selain seperti itu.”
“Kamu benar. Mungkin saja dia dikendalikan oleh oang yang
memiliki dendam padaku.”
“Lalu siapa? Apakah itu suruhannya Ly…. “ Buru-buru Al
menghentikan kalimatnya. Dia tidak mau terjadi perang dunia ketiga jika sampai
ia menyebut nama wanita yang tidak disukai oleh istrinya.
“Apa, Al? kamu barusan mau bilang apa kok diam? Lyli maksut
kamu? Kurasa tidak.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja dia sudah lima tahun lamanya berada di rumah
sakit jiwa Cimahi, Al. Zahara membenciku sejak lima bulan silam dan jika memang
itu suruhan dari Lyli, apakah kau pikir hal seperti itu tidak menggunakan duit?
Dapat dari mana dia? Sedangkan dia dengan identitas dirinya saja tidak tahu.
Dia mengalami bisu selama lima tahun, bagaiman bisa berinteraksi? Di san aitu
dia dipanggil Bunga, loh. Pihak rumah sakit jiwa itu yang memberikan nama”
“Ya sudah, jangan terlalu keras berfikir. Aku takut kau
nanti malah skit lagi.” Al merangk ul Pundak istrinya dan membawanya masuk ke ruangan
untuk menikmati sarapan mereka.
“Kau kapan siap untuk menidrikan klikik?” tanya Al mengalihkan
topik pembicaraan.
“Kamu maunya kapan?” tanya Queen balik.
“Lebih cepat lebih baik, sih.”
“Makan dulu, deh. Aku laper nih, belum sarapan,” ujar Queen
mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
“Dasar kamu curang,” ucap Al sambil mencubit hidung mamncung
istrinya karena merasa gemas.
“Aku kan belum mengurus izin, Al. mungkin bisa lah minggu
depan setelah urusan dengan Zahara kelar, biar akunya tidak repot dan pusing, Ketika
mengumpulkan persyaratannya,” jawab Queen sambil menggigit roti sandwich telur
yang ia buat sendiri tadi di rumah.
“Untuk mengurus izin memang apa saja persaratannya, Sayang?
Apakah rumit dan memakan waktu lama?” tanya Al dengan sangat antusias.
“Rumit atau tidak, aku belum tahu. Perlu dijalani saja dulu.
Untuk persaratan yang jelas kita butuh modal.”
“Kan aku sudah bilang siap memodali. Kamu yang serius dong,
Say.”
“Selain modal, yang aku ketahui itu ya surat permohonan dari
perorangan atau badan hukum, foto copy izin gangguan, foto copy dokumen SPPL,
UKL/UPL. Surat registrasi dokter penanggung jawab, surat izin praktek dokter
penanggung jawab. Banyak lah, Al kayaknya foto denah klinik dan daftar layanan
juga termasuk, kok.”
“Baiklah apapun
cita-cita kamu aku Cuma bisa dukung saja. Serta membantu secara penuh finansialnya,”
tukas pria yang menganakan kemeja berwarna navy tersebut sambil menggumbar
senyumnya.
Semuanya pun tertawa dan sama-sama menikmati sepotong roti
yang berada di tangan masing-masing.
“Kamu gak bawa minum, Sayang?”
“Aku lupa,” jawab Queen dengan tenang.
“Ya sudah, minta OB membelikan saja. Kamu mau minum apa?”
tanya Al sambil meraih ganggang telfon yang terletak di meja kerjanya. Telefon
yang menghubungkan pada seluruh kantor tersebut.
“Tidak. Tidak perlu. Aku yang akan keluar memesannya sendiri
di kantin,” ucap Queen segera beranjak dan meletakkan roti yang tinggal sisa
setengah pada box makanan yang berada di depannya.
Melihat tingkah sang istri Al hanya tersenyum seorang diri
saja. Ia tahu, kalau istrinya penasaran dengan pelayan kantin baru yang bernama
Sherly itu. padahal, sediktipun A l juga tidak memiliki ketertarikan sama
sekalai dengan wanita itu. hanya saja Candra, suka banget bahas dia saat mereka
tengah berkumpul bersama, dan parahnya, yang dijadikan sasaran selalu saja
dirinya. Mengatakan yang istri di rumah dan di kantor segala. Untung, Queen
tidak segila Zahara. Jadi, Al berasumsi kalau kedatangannya ke sini dan sengaja
tidak bawa minum itu memanf istrinya ingin tahu sendiri seperti apa Sherly itu.
Selang beberapa saat, Queen sudah kembali dengan dua cup
susu rasa buah denga taburan coklat dan berbagai toping di dalamnya.
Diberikannya satu cup rasa coklat untuk Al. sementara ia memilih yang rasa
melon.
“Cepat sekali kamu kembali, Sayang?” tanya Al sambil
menerima minuman yang Queen berikan.
“Kan tidak ngantri, Beb. Maklum, Namanya juga masih jam
kerja.” Dengan tampang cuek Queen menyeruput minumannya sambil duduk di depan
Al. tepat pada meja kerja suaminya.
“Kau manggil aku apa barusan? Beb? Coba kamu ulangi lagi
sayang,” ujar Al sambil tertawa.
“Beeeeeb,” ucap Queen panjang.
“Lagi, lagi.”
“Bebeb!”
“Aku suka mendengarnya. Bisa kau ulang sekali lagi, Sayang?”
ucap Al.
“Bebeb.” Queen mencium pipi Al. cukup lama wanita itu
menekan bibirnya. Setelahnya, ia segera pamit untuk kembali. Dia harus
menjemput Berlyn kali ini dan mengajaknya ke rumah mamanya. Sebab, jam dua
siang nanti dia haruys berangkat bekerja.
Keluar dari ruangan suaminya, Queen tertawa tertahan sambil
menutup mulutnya dan segera berlari menuju tempat parkiran.
Baru bebrapa menit setelah Queen meninggalkan ruangannya,
pintu sudah ada yang mengetuk sebanyak tiga kali.
“Masuk!” jawab Al kembali dengan wajah datar dan suara yang
dingin.
“Pak, ini hasil pembukuan omset dan pengeluaran perusahaan
selama satu bulan terakhir. Tadi sudah saya cek. Tapi, alangkah lebih baiknya
anda juga ikut mengeceknya kembali,” ucap seorang wanita dengan tinggi badan
kira-kira 157cm, dan rambut diwarnai merah hati dan kombinasi ungu.
“Letakkan saja diatas meja.”
Al mengangkat wajanya dan melihat pada wanita di depannya
dan meraih data-data yang sudah berada di atas meja.
Tiba-tiba saja wanita yang ada di depannya tertawa tertahan.
“Kenapa?” tanya Al sambil menatap tajam wanita yang ada di
depannya.
“Emm…. Ti… tidak, Pak,” jawabnhya sambil menahan tawanya. Tentu
saja dia tidak berani mengatakan apa yang sudah dia lihat. Dia takut kalau
bosnya yang dingin dan galak itu jadi marah nanti.
“Ya sudah, kau boleh pergi,” ucap Al. lalu, pria itu kembali
fokus pada berkas-berkas di hadapannya.
Setelah wanita itu meninggalkan ruangan bigboss, ia tertawa
terpingkal sepuasnya. Dari arah yang berlawanan, ia berpapasan dengan Candra
yang juga bekerja di sana sebagai desainer bangunan atau arsitek.
“Lisa, kenapa kau?” tanya pria itu sambil menatap heran pada
gadis yang terus terbahak. Ia tidak sedang membawa ponsel dan sendirian.
“Boleh lah lihat sendiri ke ruangan pak, Al. Pak Candra,”
jawab Lisa sampai memegangi perutnya.
Karena penasaran, pria itu pun mencoba melihat apa
sebenarnya yang terjadi di sana. Selucu apa, Sih atasannya sampai membuat Lisa
bisa sampai tertawa seperti orang kesurupan begitu?
__ADS_1