
Di dalam mobil, Andrean mengamati
perubahan wajah Al yang nampak kusut. Padahal, sebelum Nayla tiba ia terlihat
baik-baik saja. Bagaimana tidak? Baru beberapa jam melangsungkan pernikahan
dengan wanita yang dicintainya papanya telah sadar dari koma selama hampir dari
dua tahun lamanya. Jelas saja, Hal itu membuatnya menjadi sangat bahagia dan ada dalam suasana hati yang baik.
“Al, murung saja, sih?” tanya
kakek Andrean, memecah kesunyian.
“Al tidak murung, Kek. Tapi, lagi
fokus mengemudi.” Mata Al pria itu tetap lurus ke depan, sedikit oun tidak
berpaling dari jalanan ibu kota yang selalu saja padat.
Andrean tertawa miring, kemudian, ia
mengalihkan pembicaraan.
“Selama dua hari ini, kau kemana
saja tidak pulang, Al? Apakah kau selalu ke apartemen?”
“Tidak, Kek. Al di kantor terus.”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa, kok. Oh, ya Kek.
Mungkin setiba di rumah Al langsung kembali ke rumah sakit dulu saja.
Kasian Queen kalau ia harus menjaga papa
sendirian.”
“Boleh saja. Tapi, jangan
buru-buru. Masih ada hal yang perlu
kakek bicarakan dengan mu nanti di rumah,” jawab Andrean, sengaja tidak
menyebut Nayla agar mood Al tidak berubah makin buruk.
“Memang apa sih, Kek? Kenapa
tidak katakana di sini saja?” tanya Al penasaran. Dalam benaknya, ia berfikir
kalau sang kakek akan membahas mengenai dirinya dan Queen.
“tidak, kita bicara kalau sudah
tiba di rumah, dibicarakan bersama. “
Mendengar jabawan tersebut Al
hanya diam tidak membantah ataupun menawarnya lagi seperti emak-emak berdaster
dan tukang sayur di pasar tradisional.
Sesampainya di ruma, kakek
Andrean meminta Al duduk di ruang tamu dan kemudian juga memanggil Nayla untuk
duduk di dekat Al. Mereka berdua sama-sama menghadap dirinya.
Nayla yang sudah bisa menebak apa
yang kiranya kakek mertuanya akan bahas merasa sedikit was-was dan panik.
Terlihat dari cara duduknya saja sudah tidak bisa tenang dan tangannya juga
berkali-kali meremas ujung dresnya untuk menetralisir kecemasannya.
Sedangkan Al yang memang tidak
tahu apa-apa mengenai maksut dan tujuan Andreas nampak bingung. Walau rasa
takut juga sebenarnya ada. Tapi, ketakutan yang dirasakan Al tentu saja beda
dengan Nayla. Al justru takut kalau Andreaan meminta ia berlaku adil kepada
kedua istrinya dengan mengatkan untuk selalu rutin pulang dan berkabar dengan
wanita di sebelahnya yang membuatnya muak.
“Kalian tahu kenapa kakek
pertemukan di sini?” ucap Andrean membuka pembicaraan.
“Apaan, Kek? Al sepertinya juga
sibuk ini.”
Andrean tersenyum tipis melihat
sikap Al. Ia bisa membaca, kalau ia sedang kasmaran dan masih ingin
berlama-lama dengan istri mudanya.
“Sabar, Al. Kakek bahkan belum
mengutarakan apa yang mau kakek katakan. Kamu malah uda buru-buru mau lari.
Tenang, di rumah sakit ada Queen yang menemani papamu.” Andrean terus tersenyum
sambil melihat
Al hanya diam tidak menjawab, ia
hanya menunggu kapan kakeknya mau bicara dan tidak lagi mengulur-ngulur waktu
agar ia bisa segera menemui Queen. Lebih baik lagi kalau bisa bermalam di
tempat lain, bukan di rumah sakit dan hanya berdua saja dengannya.
“Al, kau tahu, bukan baik buruk
__ADS_1
seorang istri itu tanggung jawab siapa?”
“iya, Kek. Apakah Nayla bikin
masalah?” jawab Al dengan nada malas.
“Kamu harusnya mengajari dia
bagaimana cara menghargai orang yang lebih tua. Sekalipun itu bik Yul. Jangan
lihat apa status dia di rumah ini. Jadi, llihat saja usianya.”
“Kamu ngapain?” tanya Al dengan
sorot mata yang tjam menatap Nayla.
“Aku… Aku, aku tadi Cuma kesal
saja, Mas.”
“Kesal kenapa? Jawab apa yang
sudah kau katakana pada bik Yul? Aku tidak pernah membentaknya sekalipun ia
berbuat kesalahan. Lalu, kenapa berani-beraninya kamu?”
Nayla menangis, ia tahu, ia salah.
Dia juga tidak menyangka akan seperti ini. Bagaimana bisa bik Yul melouspeker
panggilannya saat sedang bersama kakek mertuanya. ‘Pasti ini ulah si kakek tua
itu,’’ umpat Nayla.
“Aku gak mau tahu, yang jelas
sekarang juga cepat kamu minta maaf pada bibi, jangan diulangi lagi. Kalau
sampai aku tahu, aku tidak akan mengampunimu.”
“kenapa sampai seperti itu, Mas
pada seorang pembantu?” lirih Nayla sambil terisak.
“Tapi dia juga manusia, Nay. Dia
bekerja demi anak-anaknya agar tetap bisa melanjutkan Pendidikan, demi cucunya
agar bisa membelikan baju dan juga mainan baru rela diperintah apapun demi
uang. Posisikan jika dia adalah ibumu atau nenekmu, bagamana rasanya? Atau kau
saja yang menggantikan dia sebagai pembantu di rumah orang demi menghidupi anakmu?
Bagaimana? Ingin pergi cari kerjaan susah, gak pergi tapi, di tempatnya ia
tidak dihargai dan diperlakukan dengan seenaknya sendiri.”
Akhirnya Nayla pun meminta maaf dan menjelaskan di depan Al juga kakek Andrean. Namun, ia tidak mengatakan dengan siapa dia lagi ada urusan. Tapi, walau pun begitu Al dan kakek Andrean juga sudah tahu. hanya saja ia diam.
Setelah melihat sendiri Nayla
meminta maaf, Al pun mengajak bik Yul ke rumah sakit untuk menjaga papa Vano.
Yul menemani papanya seorang diri, sementara dia akan mengajak Queen pergi.
Sementara Nayla, ia merasa aman sebab, Al tidak menanyakan secara detil ada urusan apa dia di luar,di mana dan dengan siapa. ya sudahlah. lagian Al juga sudah pergi. jadi, ia bisa bebas mengadukan masalahnya tadi pada Jevin dan berharap kalau pria itu masih mau untuk membangun lagi.
Dalam perjalan menuju ke rumah
sakit. Al menerima telfon dari Vico yang katanya lagi berlibur. Dengan kesal
pria itu mengangkat pangilan tersebut.
“Ada apa menelfonku lagi? Cepat
ngomong!” bentaknya. Bahkan, bik Yul yang ada di sebelahnya pun sa,pai
tersentak kaget.
Terdengar suara gelak tawa dari
seberang sana. Sementara Al memasang ekspresi wajah dinginnya. Nampaknya ia
benara-benar kesal. “Gua barusan on IG. Lihat stori kamu sama istri muda, om Vano
dah sadar, ya? Selamat, ya? Aku turut senang. Aku akan segera kembali tak harus
menunggu selama dua minggu untuk berlibur, aku kangen sama om Vano.”
“Cuma ngomong itu doang?” cetus
Al kian emosi saja dengan Vico.
“Hehehe, la terus, apa? Apa perlu
aku katakana kalau kalian gagal bulan madu?”
“Sialan!” Al pun mematikan
panggilannya dari Vico dan kembali vokus mengemudikan mobilnya.
Begitu tiba di rumah sakit. Al
sengaja tidak masuk untuk memarkir kendaraannya. Ia malah menunggu di depan
pagar kemudian meminta bibi untuk masuk ke dalam sendirian, dan meminta Queen
agar kembali.
Bik Yul pun pergi dan sesampainya
di sana, ia menyampaikan pesan Al tadi.
“Maaf, Non. Tuan Al minta anda
untuk segera kembali,” ucap Bik Yul. Sebenarnya ia merasa sangat sungkan.
Sebab, putri majikannya nampak nyaman sekali bersama papanya yang baru tadi
siang sadar.
__ADS_1
“Kenapa, Bi? Saya besok praktek
sore, kok. Tidak masalah, kan kalau mala mini saya akan tetap di sini dan tidur
di sini sambil menjaga papa?” protes Queen merasa keberatan.
“Tapi, tuan Al bilang besok pagi
anda harus menemaninya ke kantor, karena ada clien penting yang akan ditemui.”
‘Ck. Sialan ******** itu.’
Vano yang mendengar percakapan
mereka ikut geli sendiri, benar apa yang dikatakan papanya. Al sungguh cinta
dan tergila-gila pada Queen, sementara Queen masih belum menerimanya. Tapi, ia
ingat pesan papanya agar selalu diam dan tenang di hadapan mereka berdua, tetap
berlagak takt ahu apa-apa.
“Queen sayang. Selama papa dan
mama koma kan kakak kamu yang menjagamu, apa salahnya patuh padanya? Bantu dia
urus perusahaan, ya? Sampai papa benar-benar pulih nanti.”
Queen cemberut kemudian
menanyakan pesanan Queen pada bibi di bawakan atau tidak, dan sebagai alasan
untuk mengulur waktu agar bisa berlama-lama sama papanya, Queen pun berkata
kalau ia akan kembali ke apartemen setelah menggantikan pakaian papanya.
Usai menggantikan pakaian Vano,
Queen pun berpamitan utuk pulanh dan ia berjani kan kembali lagi besok pagi
sebelum pergi ke kantor untuk membasuh badan papanya dan menggantikan pakaian
bersih.
Setelah Queen pergi, suasana yang
dirasakan Vano jadi sedikit kikuk, sebab, ia merasa belum begitu kenal dan akrab
dengan bik Yul. Tapi, ia tidak membiarkan suasana menjadi beku dan kaku, ia terus
mengajak bik Yul mengobrol menanyakan keadaan rumah, betah atau tidak bekerja
di rumahnya dan mengenai orang-orang yang ada di dalam rumah itu.
Dafri situ, Vano bisa ambil kesimpulan kalau
wanita yang dipilih istrinya ini benar-benar baik, dia tidak asal menceritakan
apapun yang terjadi, ia memilih kata-kata yang pantas saja untuk diucapkan.
Mungkin ia khawatir kalau dirinya kaget dan mikir berat kondisinya menjadi drop.
Bahkan mengenai pertunangan Queen saja ia tidak membahasnya. Padahal Vano sendiri
sudah tahu itu dari papanya.
Sedangkan Queen ia merasa sangat
terpaksa sekali keluar dari rumah sakit. Namun, meski suasana hatinya sedang
dongkol, ia masih merespon dengan baik para perawat dan teman-teman dokter
lainnya yang menyapa dirinya. Sampai pada akhirnya, ia pun keluar area rumah
sakit. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sepasang tangan kekar yang tiba-tiba saja
memeluknya dari belakang.
“Kamu lama sekali, istriku?”
Queen merasa merinding saat merasakan
napas Al mengenai leher dan juga telinganya.
“Al, di sini banyak orang, bisa
gak jangan begitu?” protes Queen.
“Kenapa? Kan kita suami istri dan
bahkan ada buku nikah kok. Mereka memang mau apa?”
Queen pun diam. Percumah melawan
jika Al sudah seperti ini. Jadi, ia pun terpaksa harus memakai cara halus. “Baiklah,
aku lelah ingin segera pulang.”
“Ayo, kita masuk ke dalam mobil
sayang.” ajak Al.
“Kamu lapar?” tanya Al sambil
menatap ke wajah Queen.
“Aku makan di rumah saja, aku
sudah belanja banyak bahan makanan.”
“Baik lah. Kapan lagi aku bisa
makan masakan istri sendiri, iya, kan?”
Queen diam tak menjawab, ia malas
membuang muka, pandangannya menuju ke luar jendela.
"Sayang, kamu tidak mimpi apa gitu malam-malam terakhir ini?"
"Tidak. memangnya kenapa?' jawab Queen tanpa menoleh ke arah Al sedikitpun.
__ADS_1
"Kali aja mimpi lihat burung dalam sangkar. jadi, ada kemungkinan kamu hamil."
Queen tersenyum sinis mendmendengar jawaban dari Al. Ia hanya membatin, 'Dasar bodoh aku tidak mungkin mengandung anakmu apalagi melahirkannya sampai kapan pun tidak akan.