Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 222


__ADS_3

Di dalam mobil, Andrean mengamati


perubahan wajah Al yang nampak kusut. Padahal, sebelum Nayla tiba ia terlihat


baik-baik saja. Bagaimana tidak? Baru beberapa jam melangsungkan pernikahan


dengan wanita yang dicintainya papanya telah sadar dari koma selama hampir dari


dua tahun lamanya. Jelas saja, Hal itu membuatnya menjadi sangat bahagia dan ada dalam suasana hati yang baik.


“Al, murung saja, sih?” tanya


kakek Andrean, memecah kesunyian.


“Al tidak murung, Kek. Tapi, lagi


fokus mengemudi.” Mata Al pria itu tetap lurus ke depan, sedikit oun tidak


berpaling dari jalanan ibu kota yang selalu saja padat.


Andrean tertawa miring, kemudian, ia


mengalihkan pembicaraan.


“Selama dua hari ini, kau kemana


saja tidak pulang, Al? Apakah kau selalu ke apartemen?”


“Tidak, Kek. Al di kantor terus.”


“Kenapa?”


“Tidak apa-apa, kok. Oh, ya Kek.


Mungkin setiba di rumah Al langsung kembali ke rumah sakit dulu saja.


Kasian  Queen kalau ia harus menjaga papa


sendirian.”


“Boleh saja. Tapi, jangan


buru-buru.  Masih ada hal yang perlu


kakek bicarakan dengan mu nanti di rumah,” jawab Andrean, sengaja tidak


menyebut Nayla agar mood Al tidak berubah makin buruk.


“Memang apa sih, Kek? Kenapa


tidak katakana di sini saja?” tanya Al penasaran. Dalam benaknya, ia berfikir


kalau sang kakek akan membahas mengenai dirinya dan Queen.


“tidak, kita bicara kalau sudah


tiba di rumah, dibicarakan bersama. “


Mendengar jabawan tersebut Al


hanya diam tidak membantah ataupun menawarnya lagi seperti emak-emak berdaster


dan tukang sayur di pasar tradisional.


Sesampainya di ruma, kakek


Andrean meminta Al duduk di ruang tamu dan kemudian juga memanggil Nayla untuk


duduk di dekat Al. Mereka berdua sama-sama menghadap dirinya.


Nayla yang sudah bisa menebak apa


yang kiranya kakek mertuanya akan bahas merasa sedikit was-was dan panik.


Terlihat dari cara duduknya saja sudah tidak bisa tenang dan tangannya juga


berkali-kali meremas ujung dresnya untuk menetralisir kecemasannya.


Sedangkan Al yang memang tidak


tahu apa-apa mengenai maksut dan tujuan Andreas nampak bingung. Walau rasa


takut juga sebenarnya ada. Tapi, ketakutan yang dirasakan Al tentu saja beda


dengan Nayla. Al justru takut kalau Andreaan meminta ia berlaku adil kepada


kedua istrinya dengan mengatkan untuk selalu rutin pulang dan berkabar dengan


wanita di sebelahnya yang membuatnya muak.


“Kalian tahu kenapa kakek


pertemukan di sini?” ucap Andrean membuka pembicaraan.


“Apaan, Kek? Al sepertinya juga


sibuk ini.”


Andrean tersenyum tipis melihat


sikap Al. Ia bisa membaca, kalau ia sedang kasmaran dan masih ingin


berlama-lama dengan istri mudanya.


“Sabar, Al. Kakek bahkan belum


mengutarakan apa yang mau kakek katakan. Kamu malah uda buru-buru mau lari.


Tenang, di rumah sakit ada Queen yang menemani papamu.” Andrean terus tersenyum


sambil melihat


Al hanya diam tidak menjawab, ia


hanya menunggu kapan kakeknya mau bicara dan tidak lagi mengulur-ngulur waktu


agar ia bisa segera menemui Queen. Lebih baik lagi kalau bisa bermalam di


tempat lain, bukan di rumah sakit dan hanya berdua saja dengannya.


“Al, kau tahu, bukan baik buruk

__ADS_1


seorang istri itu tanggung jawab siapa?”


“iya, Kek. Apakah Nayla bikin


masalah?” jawab Al dengan nada malas.


“Kamu harusnya mengajari dia


bagaimana cara menghargai orang yang lebih tua. Sekalipun itu bik Yul. Jangan


lihat apa status dia di rumah ini. Jadi, llihat saja usianya.”


“Kamu ngapain?” tanya Al dengan


sorot mata yang tjam menatap Nayla.


“Aku… Aku, aku tadi Cuma kesal


saja, Mas.”


“Kesal kenapa? Jawab apa yang


sudah kau katakana pada bik Yul? Aku tidak pernah membentaknya sekalipun ia


berbuat kesalahan. Lalu, kenapa berani-beraninya kamu?”


Nayla menangis, ia tahu, ia salah.


Dia juga tidak menyangka akan seperti ini. Bagaimana bisa bik Yul melouspeker


panggilannya saat sedang bersama kakek mertuanya. ‘Pasti ini ulah si kakek tua


itu,’’ umpat Nayla.


“Aku gak mau tahu, yang jelas


sekarang juga cepat kamu minta maaf pada bibi, jangan diulangi lagi. Kalau


sampai aku tahu, aku tidak akan mengampunimu.”


“kenapa sampai seperti itu, Mas


pada seorang pembantu?” lirih Nayla sambil terisak.


“Tapi dia juga manusia, Nay. Dia


bekerja demi anak-anaknya agar tetap bisa melanjutkan Pendidikan, demi cucunya


agar bisa membelikan baju dan juga mainan baru rela diperintah apapun demi


uang. Posisikan jika dia adalah ibumu atau nenekmu, bagamana rasanya? Atau kau


saja yang menggantikan dia sebagai pembantu di rumah orang demi menghidupi anakmu?


Bagaimana? Ingin pergi cari kerjaan susah, gak pergi tapi, di tempatnya ia


tidak dihargai dan diperlakukan dengan seenaknya sendiri.”


Akhirnya Nayla pun meminta maaf dan menjelaskan di depan Al juga kakek Andrean. Namun, ia tidak mengatakan dengan siapa dia lagi ada urusan. Tapi, walau pun begitu Al dan kakek Andrean juga sudah tahu. hanya saja ia diam.


Setelah melihat sendiri Nayla


meminta maaf, Al pun mengajak bik Yul ke rumah sakit untuk menjaga papa Vano.


Yul menemani papanya seorang diri, sementara dia akan mengajak Queen pergi.


Sementara Nayla, ia merasa aman sebab, Al tidak menanyakan secara detil ada urusan apa dia di luar,di mana dan dengan siapa. ya sudahlah. lagian Al juga sudah pergi. jadi, ia bisa bebas mengadukan masalahnya tadi pada Jevin dan berharap kalau pria itu masih mau untuk membangun lagi.


Dalam perjalan menuju ke rumah


sakit. Al menerima telfon dari Vico yang katanya lagi berlibur. Dengan kesal


pria itu mengangkat pangilan tersebut.


“Ada apa menelfonku lagi? Cepat


ngomong!” bentaknya. Bahkan, bik Yul yang ada di sebelahnya pun sa,pai


tersentak kaget.


Terdengar suara gelak tawa dari


seberang sana. Sementara Al memasang ekspresi wajah dinginnya. Nampaknya ia


benara-benar kesal. “Gua barusan on IG. Lihat stori kamu sama istri muda, om Vano


dah sadar, ya? Selamat, ya? Aku turut senang. Aku akan segera kembali tak harus


menunggu selama dua minggu untuk berlibur, aku kangen sama om Vano.”


“Cuma ngomong itu doang?” cetus


Al kian emosi saja dengan Vico.


“Hehehe, la terus, apa? Apa perlu


aku katakana kalau kalian gagal bulan madu?”


“Sialan!” Al pun mematikan


panggilannya dari Vico dan kembali vokus mengemudikan mobilnya.


Begitu tiba di rumah sakit. Al


sengaja tidak masuk untuk memarkir kendaraannya. Ia malah menunggu di depan


pagar kemudian meminta bibi untuk masuk ke dalam sendirian, dan meminta Queen


agar kembali.


Bik Yul pun pergi dan sesampainya


di sana, ia menyampaikan pesan Al tadi.


“Maaf, Non. Tuan Al minta anda


untuk segera kembali,” ucap Bik Yul. Sebenarnya ia merasa sangat sungkan.


Sebab, putri majikannya nampak nyaman sekali bersama papanya yang baru tadi


siang sadar.

__ADS_1


“Kenapa, Bi? Saya besok praktek


sore, kok. Tidak masalah, kan kalau mala mini saya akan tetap di sini dan tidur


di sini sambil menjaga papa?” protes Queen merasa keberatan.


“Tapi, tuan Al bilang besok pagi


anda harus menemaninya ke kantor, karena ada clien penting yang akan ditemui.”


‘Ck. Sialan ******** itu.’


Vano yang mendengar percakapan


mereka ikut geli sendiri, benar apa yang dikatakan papanya. Al sungguh cinta


dan tergila-gila pada Queen, sementara Queen masih belum menerimanya. Tapi, ia


ingat pesan papanya agar selalu diam dan tenang di hadapan mereka berdua, tetap


berlagak takt ahu apa-apa.


“Queen sayang. Selama papa dan


mama koma kan kakak kamu yang menjagamu, apa salahnya patuh padanya? Bantu dia


urus perusahaan, ya? Sampai papa benar-benar pulih nanti.”


Queen cemberut kemudian


menanyakan pesanan Queen pada bibi di bawakan atau tidak, dan sebagai alasan


untuk mengulur waktu agar bisa berlama-lama sama papanya, Queen pun berkata


kalau ia akan kembali ke apartemen setelah menggantikan pakaian papanya.


Usai menggantikan pakaian Vano,


Queen pun berpamitan utuk pulanh dan ia berjani kan kembali lagi besok pagi


sebelum pergi ke kantor untuk membasuh badan papanya dan menggantikan pakaian


bersih.


Setelah Queen pergi, suasana yang


dirasakan Vano jadi sedikit kikuk, sebab, ia merasa belum begitu kenal dan akrab


dengan bik Yul. Tapi, ia tidak membiarkan suasana menjadi beku dan kaku, ia terus


mengajak bik Yul mengobrol menanyakan keadaan rumah, betah atau tidak bekerja


di rumahnya dan mengenai orang-orang yang ada di dalam rumah itu.


 Dafri situ, Vano bisa ambil kesimpulan kalau


wanita yang dipilih istrinya ini benar-benar baik, dia tidak asal menceritakan


apapun yang terjadi, ia memilih kata-kata yang pantas saja untuk diucapkan.


Mungkin ia khawatir kalau dirinya kaget dan mikir berat kondisinya menjadi drop.


Bahkan mengenai pertunangan Queen saja ia tidak membahasnya. Padahal Vano sendiri


sudah tahu itu dari papanya.


Sedangkan Queen ia merasa sangat


terpaksa sekali keluar dari rumah sakit. Namun, meski suasana hatinya sedang


dongkol, ia masih merespon dengan baik para perawat dan teman-teman dokter


lainnya yang menyapa dirinya. Sampai pada akhirnya, ia pun keluar area rumah


sakit. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sepasang tangan kekar yang tiba-tiba saja


memeluknya dari belakang.


“Kamu lama sekali, istriku?”


Queen merasa merinding saat merasakan


napas Al mengenai leher dan juga telinganya.


“Al, di sini banyak orang, bisa


gak jangan begitu?” protes Queen.


“Kenapa? Kan kita suami istri dan


bahkan ada buku nikah kok. Mereka memang mau apa?”


Queen pun diam. Percumah melawan


jika Al sudah seperti ini. Jadi, ia pun terpaksa harus memakai cara halus. “Baiklah,


aku lelah ingin segera pulang.”


“Ayo, kita masuk ke dalam mobil


sayang.” ajak Al.


“Kamu lapar?” tanya Al sambil


menatap ke wajah Queen.


“Aku makan di rumah saja, aku


sudah belanja banyak bahan makanan.”


“Baik lah. Kapan lagi aku bisa


makan masakan istri sendiri, iya, kan?”


Queen diam tak menjawab, ia malas


membuang muka, pandangannya menuju ke luar jendela.


"Sayang, kamu tidak mimpi apa gitu malam-malam terakhir ini?"


"Tidak. memangnya kenapa?' jawab Queen tanpa menoleh ke arah Al sedikitpun.

__ADS_1


"Kali aja mimpi lihat burung dalam sangkar. jadi, ada kemungkinan kamu hamil."


Queen tersenyum sinis mendmendengar jawaban dari Al. Ia hanya membatin, 'Dasar bodoh aku tidak mungkin mengandung anakmu apalagi melahirkannya sampai kapan pun tidak akan.


__ADS_2