Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 29


__ADS_3

Tidak hanya perubahan suami yang mulanya perhatian menjadi


tidak peduli saja. Tekanan ekonomi bahkan juga dapat mempengaruhi emosi danbpola pikir seseorang. Yang banyak terjadi, karena kesal dengan suami yang menyakiti hati, anaklah yang jadi pelampiasan. Kenapa? Karena anak adalah makhluk kecil yang lemah. Hanya bisa menangis saat dipukul tapi, akan Kembali mencari dan tetap mengintil kemanapun ibunya pergi. Tetap akan merasa nyaman


dalam pelukannya. Dan Kembali merasa nyaman dan Bahagia saat dipuk-puk.


Andai, semua para ibu bisa berfikir jernih, anak, tidak ada


sangkut pautnya dengan ayahnya. Sekalipun tanpa ayahnya tidak akan ada dia. Tapi, karakter juga bisa beda. Anak dan orang tua, baik ibu maupun ayahnya


adalah orang yang berbeda. Jadi, tidak bisa melampiaskan kekesalan dengan


pasangan pada anak. itu salah besar. Anak tidak tahu apa-apa akan hal itu, dan tak sepantasnya mendapatkan imbas dari persoalan orang tuanya sendiri.


Karena banyaknya ibu-ibu muda yang stress, banyak pula kasus penganiyaan terhadap anak. Bahkan tak jarang pula, kita jumpai hingga berujung maut. Lalu, siapa yang disalahkan? Kenapa hanya si ibu? Lalu, bagaimana sang ayah yang memicu stress sang ibu?


Setelah jam istirahat, dengan rasa tidak sabar Queen menelfon


mamanya dan mmeberi tahu kabar kalau ia akan ikut ke Bandung bersama beberapa dokter lain.


“Halo, Sayang,” sahut seorang wanita dari seberang setelah panggilannya diangkat.


“Halo, Ma. Mama lagi apa?”


“Tidak ada, mama lagi santai saja, kau sudah istirahat, Queen?”


“Iya, Ma. Sudah. Di mana Berlyn?” tanya Queen.


“Dia sedang tidur bersama kucingnya,” jawab Clara menahan tawa.


“Hah, tidur sama kucing? Tanya Queen terkejut.


“Ya, begitulah, kau seperti tak tahu bagaimana dia saja. Ada


apa, Sayang? Sepertinya kau membawa berita suka.”


“ih, Mama, kaya peramal saja, deh. Iya nih ma. Aku menjadi salah satu dokter umum yang mau diajak ke


Bandung. Dua hari lagi, katanya. Aku titip Berlyn, ya Ma?”


“Iya, Sayang. Rencana berapa hari di sana?”


“Kalau tidak salah tiga harian, tapi gak tahu lihat nanti saja. Sebab, ada yang bilang bisa kurang, bisa juga lebih. Mungkin aku nanti


sama Al juga akan menginap lagi ke sana,” imbuh Queen.


"Iya, Sayang. Kemarilah. Mama dan papa senang banget kalau kalian mau menginap di sini. Tapi, kami juga tahu kalau kantor dan rumah sakit tempat kalian bekerja cukup jauh dari sini."


"Kan malam Minggu, Ma. Bisa lah nanti ajak jalan Berlyn biar seneng."


Pelayan kantin yang betugas mengantar makanan untuk para


dokter pun sudah masuk ke ruangannya. Queen pamit pada mamanya dan mematikan


panggilan lalu menyelesaikan makannya.


Setelah makan siang, awalnya ia berniat mengabari siaminya.


Tapi, diurungkannya sendiri. Wanita itu berfikir akan mengatakannya saat di


jalan saja, atau saat mereka sudah di rumah mamanya. Biasanya kalau ngobrol berdua, Queen menggunakan kesempatan sebelum tidur, Ketika mereka berdua sudah berada di dalam kamar.


Tanpa terasa, jam kerja Queen sudah berakhir. Dia bersiap


untuk pulang. Karena ini baru jam tiga, dan masih ada satu jam lagi menunggu suaminya, Queen pun berniat menunggu suaminya sambil bersantai di sebuah


café yang tidak jauh dari rumah sakit bersama Shinta. Kebetulan, dia selesai


Zumba di dekat situ. Jadi, mereka memanfaatkan kesempatan langka tersebut.


Memang, sejak sama-sama menikah dan memiliki anak, waktu untuk berkumpul jarang bisa mereka miliki. Sebab, selain keluarga, mereka juga memiliki kesibukan. Terlebih Queen.


Tiba di tempat yang sudah ditentukan, Queen mengedarkan


pandangannya ke seleuruh penjuru café mencari sosok Shinta yang katanya sudah


berada di dalam sejak lima menit yang lalu.


“Queen!” seoran wanita memakai jaket warna pink melambaikan


tangan padanya sambil menunjukkan senyuman lebarnya.


Seketika, Queen pun langsung mempercepat langkahnya beranjak


menghampirir wanita itu.


“Sory, ya nunggu lama. Kamu apa kabar?” Wanita itu pun duduk


berhadapan dengan Shinta. Sepertinya dia juga masih lelah, terlihat sekali


butiran keringan halus berjajar di kening dan pelipisnya. Sejak SMA dulu Shinta memang gampang berkeringat. Meskipun sudah berkali-kali dibersihkan, tetap


saja, keringat itu bermunculan jika dia belum mandi. Memang pada dasarnya saja, Shinta juga mudah berkeringat.


“Tidak masalah. Aku biasa me time di sini setelah Zumba.


Walau pun sendiri, nongkrong di café begini aku merasa seperti anak remaja


saja, walau pun dah emak-emak, kan tampil seperti abg apa salahnya, kan?”


timpal Shinta sambil tertawa.


“Ya, lah. Anti aging paling ampuh itu, ya dari pikiran kita,


harus rilex, dan jangan stress. Lagi pula suami kita di luar juga pasti melongo


kalau lihat cewek bening,” imbuh Queen. Keduanya pun sama-sama terbahak.


“gimana kabarnya Berlyn? Sehat-sehat saja, kan?” tanya Shinta.


“Iya, Shin. Dia baik-baik saja. Tapi, sudah dua bulan ini


dia ikut mama dan papaku.”


“Hah, kenapa?” Shinta juga menunjukkan ekspresi kagetnya. Sebab, selama ini Queen dan Al menjaga buah hati mereka dengan sepenuh hati. Meluangkan lebih banyak waktu bersama putrinya di jam istirahat,


“Ya, bukan salah dia, sih. Mungkin aku sebagai ibu terlalu sibuk dengan profesiku. Jadi, ketika aku


dan papanya bekerja, dia di rumah  merasa kesepian. Habis, setiap kali aku dan suamiku mencari kakak untuk dijadikan temannya, mengurusnya saat aku dan papanya tidak di rumah, dia selalu menolak. Kan mama


tidak bekerja. Dia mengisi hari-harinya dengan menanam Bungan dan sayuran hidroponik.”

__ADS_1


Shinta diam membisu. Ia meleihat kesedihan pada raut wajah


sahabatnya. Tapi, ia tidak bisa berkomentar apa-apa. Dia sendiri juga banyak tahu tentang keluh kesah Al mengenai profesi Queen yang membuatnya kian sibuk


saja, sebab, Al sering curhat pada Vico saat melihat betapa kompaknya mereka. Bukan curhat, sih. Sering kelepasan berkata, “Andai saja istriku juga jadi ibu rumah tangga saja kaya istri kamu, Vic.”


Memang, itu hanya kalimat pendek dan tak ada imbuhan apa-apa. Tapi, setiap katanya sudah meliputi semua yang ada dibenaknya, yang tidak diketahui oleh orang luar.


Soal kompak, sih. Queen sebagai ibu dan istri juga tidak melupkan kewajibannya. Mengurus anak dan suami sepenuh hati. Baru-baru ini saja dia memiliki jam kerja yang sedikit lama. Jika dulu, hanya beberapa jam saja. Selebihnya, ia menghabiskan banyak waktu di rumah bersama putri cantiknya.


“Terus bagaimana rencanamu?”


“Aku sendiri juga belum tahu pasti, Shin. Al memintaku untuk


buka praktik, atau klinik sendiri. Asal aku mau mengurus izin buka praktik, dia sudah akan mengurus semua rancangan dan pembangunannya. Aku tinggal trima jadi saja. Tapi… “ Queen menghela napas panjang. Dan mengambil segelas jus jeruk yang sudah Shinta pesankan sebelum dia datang tadi.


“Tapi, apa? Kamu tidak siap?”


“Bukan, aku sudah bertekat. Aku akan membuka klinik pengobatan dengan harga murah, bahkan gratis bagi yang benar-benar tidak mampu, tapi pelayanan bagus. Hanya saja, aku belum bisa menyampaikan ini pada Al, Shin.”


“Kenapa? Dia pasti akan seneng banget. Kan, dari awal ini


memang sudah jadi keinginan dia, bukan?”


“Dia masih banyak yang dipikirkan, Shin. Aku gak tega


ngomongya. Apalagi perusahaan baru saja kena masalah.”


“Tapi, semua sudah kelar, kan? Tinggak nunggu sidang saja,


kan? Aku yakin, kau menang berdasarkan bukti-bukti yang kau milikkial. Apalagi, polisi intel itu mengaku sebagai pembeli rancangan penghianat tersebut. Lalu,


apa yang diberatkan?”


“Ya ada lah. Tapi, bukan kasus atau masalah. Melainkan


kerjaan dia jadi menumpuk. Orang-orang yang menolak rancangan dari perusahaan


kami, mereka meminta maaf dan minta dirancangkan ulang. Jadi, mana mungkin di tengah-tengah kesibukkannya aku minta dibangunkan klinik?”


“Masuk akal juga sih. Lalu, rencana gimana kamu untuk


menunggu ini semua? Tetap aktif bekerja di rumah sakit tersebut?”


“Iya, dong. Kalau aku diam, mana bisa keluar surat izinku?”


timpal Queen.


“iya, juga ya.”


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


Artinya, kurang lebih satu jam sudah Queen dan Shinta ngobrol di café tersebut. Mereka baru sadar Ketika ponsel Queen berdering.


“Halo, Al. apakah kau sudah selesai?” sahut Queen.


“Iya, nih. Ini baru keluar dari tempat parkir. Kamu di mana,


Sayang?”


“Aku di café dekat rumah sakit. Ini sama Shinta juga.


“Baiklah, tunggu aku ya. Mungkin limabelas menit lagi sampai


sana,” jawab Pria itu dari seberang sana.


“Oke, baiklah. Hati-hati, ya,” sahut Queen lalu mematikan telfonnya, dan


Kembali ngobrol dengan Shinta.


“Kamu bawa mobil sendiri, apa dijemput sama Vico?” tanya


Queen.


“Bawa mobil sendiri kok. Vico berada di luar kota. Jadi, tidak masalah aku akan menemanimu sampai Al datang.”


“Apakah tidak apa-apa?” Queen merasa sungkan dan tidak enak


hati saja pada Shinta.


“Kau tenang saja. Rumahku dekat dari sini. Jadi, jangan dibikin sungkan gitu, dong,” sahut Shinta.


Sepuluh menit kemudian, seorang pria mengenakan kemeja warna


hitam masuk ke dalam café tersebut. Tanpa mencari-cari, dengan mudah ia bisa menemukan wanita yang memang ia cari.


“Al, kapan kau datang? Tahu-tahu kok sudah sampai di sini


saja?” tanya Shinta merasa surprise.


“Ya baru saja, kamu dijemput, atau gimana? Sekalian bareng yuk!” tawar Al pada Shinta.


“aku bawa mobil sendiri, Al.”


Oh, begitu, ya? Ya sudah kalau gitu. Kami mau ke tempat


mama. Kasian kalau mereka lama nunggu.’


“Tidak masalah. Aku juga sudah mau pulang, ini juga sudah


petang,” jawab Shinta, kemudian beranjak dari tempat duduknya.


“Makasih ya, Shin sudah mau nemani aku sampai suamiku datang,” timpal Queen.


Mendengar itu, Al seketika tertawa dan merasa salah tingkah


sendiri. Lagi pula. Mana ada orang akan tetap di sini dan masih jam empat sore begini. Dari penampilan Shinta juga terlihat kucel. Jelas, dia belum mandi. Tapi, bagaimana mungkin Al bisa sampai tidak berfikir sejauh itu.


Al dan Queen pun akhirnya pulang bersama Shinta juga. di jalan,


Queen mengajak suaminya mengobrolkan hal-hal yang ringan saja. Menanyakan kegiatan dan bagaimana kondisi di kantornya.


“Bagimana keadaan kantor, Sayang?” tanya Queen.


Al tersenyum sambil melirik sekilas pada Queen yang tengah


duduk di sebelahnya. Selama menikah, wanita itu selalu memanggil nama saja. Jika sampai memanggilnya dengan sebutan sayang, jelas itu ada niat terselubung.


Tapi, apa Al juga masih belum tahu. Toh selama ini apa yang jadi permintaan istrinya juga tidak pernah aneh-aneh. Maksutnya, masih dalam batas kemampuannya, walau kadang dia enggan dan berat untuk menyetujuinya.


“Semua berjalan lancar. Kamu bagaiman harimu di rumah

__ADS_1


sakit?” tanya Al balik, sambil terus fokus mengemudi.


“Semua baik-baik saja. Eh, aku tadi ketemu Zahara loh. Dia


pas lagi antri di poli kandungan.”


“Oh, ya? Sendiri apa sama Alex, dia?” tanya Al, antusias.


“Mana mungkin dia mau sendiri? Ya sama suaminya lah. Ga sengaja kami saling pandang, jadi aku menghampirinya sebentar dan menyapa sama sedikit basa-basi.”


“Gak disinisin kamunya? Uda berapa bulan, sih usia kandungan


dia?”


“Gak kok. Malah tumben banget dia mau tanya balik. Usiakandugan dia sudah lima bulan katanya.”


“Wow. Cepat juga, ya?”


“Kau tidak ikut mengandung, Al. Makanya berasa cepat.”


Keduanya pun terkikik. Dan saling bercanda dan menceritakan


tentng kejadian menarik yang mereka alami di perusahaan dan rumah sakit. Saling tertawa. Sampai tanpa terasa, mobil mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah kedua orangtua mereka.


“Sudah sampai, saja nih,” ujar Al sambil melihat ke arah


Queen.


“Iya, cepet, ya?” sahut Queen.


“Coba kamu lihat, sudah jam berapa ini?”


Seketika, Queen pun melihat jam tangan yang melingkar di


pergelangan tangannya, dan ia tertawa. Jarak tempuh memang normal mungkin


karena terlalu asik ngobrol di jalan, semua terasa cepat. Atau, karena memang sering kemari, entahlah.


"Hati-hati kalua jalan, sini aku gandeng, daripada kakimu terkilir lagi," ujar Al.


"Kau ini... " Wajah Queen bersemu merah karena malu. Tapi, juga menerima gandengan tangan suaminya


Keduanya pun masuk ke rumah tersebut, dan putri kecil mereka


langsung menyambut dengan melompat pada gendongan Al.


****


Ketika semua karyawan telah meninggalkan ruangannya di jam istirahat, seorang pria malah masih anteng berada di dalam tempat kerjanya. Dia nampak serius menekuni tugasnya. Entah, sengaja tidak mau istirahat, ingin menundanya, atau tidak sadar.


Beberapa saat kemudian, sebuah panggilan menggetarkan benda pipih yang berada di dalam saku celananya. Dengan segera, pria itu mengeluarkan smartphone-nya dan melihat ke dalam layar tersebut.


Bibir pria itu membentuk sebuah senyuman saat mendapati nama dalam layar itu. Dengan sangat ntusias, dia menjawab panggilan itu.


"Halo, Sayang," ucapnya sambil bersandar pada kursi putarnya, seraya meluruskan kedua kakinya di bawah meja kerja.


"Biasa aja kali manggilnya." Rupanya, wanita yang berada di balik panggilan itu merasa malu dan belum terbiasa dengan panggilan tersebut.


"Biasa bagaimana, sih? Kan memang aku sayang kamu. Ya, biar ada bedanya dong, yang biasa dan yang spesial."


"Ah, terserah kamu. Apakah kau sudah makan siang?"


"Em... sudah. Tentu saja sudah. Ada apa, Nov?" jawab pria itu dengan sedikit tergagap.


Dengan nada datar, wanita itu menimpali, "Bohong!"


"Kau ini, bertanya apa mengajakku main tebak-tebakan, sih?"


"Aku tahu kamu berbohong. Jangan pekerjaan kau nomor satukan saja sehingga sampai lupa makan."


Candra hanya menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal. Ia tak tahu harus menjawab apa. 'Dasar wanita,' umpatnya dalam hati.


"Baiklah, aku makan dulu, ya? Bye."


Panggilan pun dimatikan,


Tidak berselang lama, seorang OB datang membawakan makanan dan minuman untuknya.


"Permisi! Ini pesanan anda, Pak."


"Masuklah! Terimakasih, ya?" Dengan cepat pria itu memasukan uang tips ke dalam saku anak muda berusia kira-kira duapuluh satu tahunan itu.


"Terimakasih Pak, terimakasih," jawab pria itu, kemudian berlalu.


Candra hanya tersenyum sambil mengangguk pelan saja. Kemudian, ia pun mulai memakan tersebut, dan kembali bekerja.


Sejak cintanya diterima oleh Novita, pria berusia tiga puluh tujuh itu sering menggunakan jam makan siangnya untuk bekerja agar dia tidak lembur. Karena setelah bekerja, ia selalu menyempatkan untuk pergi ke rumah wanita yang dicintainya untuk makan malam bersamanya, dan kedua putranya. Ya, meskipun tidak setiap hari.


Ini adalah hari Sabtu, di mana ia akan bekerja hanya sampai pukul setengah tiga saja. Dia ingin malam Minggu ini mengajak Novita dan kedua putranya jalan-jalan dan makan malam bersama. Tapi, ia ragu, Axel putra sulung Novita mau ikut bersamanya. Sebab, sejauh ini, pria remaja itu masih belum memberikan lampu hijau padanya.


"Apa salahnya mencoba, bukan?" gumamnya seorang diri.


Setelah menyelesaikan tugasnya menggambar desain vila yang diminta bossnya, Candra menunggu jam pulang sambil menelfon Novita. Ia berencana ingin mengajak wanita itu beserta kedua putranya untuk jalan-jalan. Meskipun kecil kemungkinan Axel mau ikut serta. Tapi, Namanya berusaha, apa salahnya. Meskipun berkali-kali gagal memenangkan hati pria remaja blasteran yang kini jadi calon anak tirinya itu, Candra tidak akan pernah menyerah. Moto di hatinya, seribu kali gagal mengambil hatinya, maka sepuluh ribu kali ia akan tetep berjuang.


“Halo, Nov. masak apa malam ini?” ucap Candra, bersemangat.


“Em… apa, ya? Belum kepikiran jugaz sih. Adriel ngajak jalan ke MD katanya. Tapi, Axel tidak mau keluar,” jawab Novita bingung.


“Malam minggu kan ini? Bagaimana kalau pulang dari kantor aku jemput kalian. Kita keluar bersama saja?” usul Candra.


“Em.. gimana, ya? Aku sih tidak keberatan, Ndra. Tapi… “


Belum selesai Novita mengucapkan kalimatnya, Candra sudah memotongnya dengan perkataannya yang terkesan menuntut dan egois.


Tapi, dari kalimat Novita juga pasti mempertimbangkan keputusan Axel yang memang sulit diajak untuk keluar. Memang apa lagi? Sudah enam tahun Candra mengenal Novita dan dua putranya yang memiliki sifat berlawanan.


“Oke, baiklah! Tunggu aku, ya? Sebentar lagi setelah jam kerja selsai aku akan segera muluncur ke sana!” Panggilan pun langsung Candra  matikan tanpa mau jawaban Novita.


“Ndra… duh, main matiin saja, nih orang,” runtuk Novita kesal. Merasa tidak terima, wanita itu mencoba menelfon balik pria itu. Tapi, panggilan di rejeg dan panggilan kedua nomornya malah tidak aktif.


Wanita itu hanya mendesah kesal dan mulai sibuk mempersiapkan Adriel dan juga dirinya sendiri.


Sementara Candra hanya tertawa jahil saja saat menolak panggilan dari wanitanya.


“Heh, mentang-mentang tugas sudah selesai, main ketawa-ketawa sendiri saja!” ucap Wildan.


“Iya tuh. Awas kesambet, loh!” imbuh Rio.


“Kalian ini, seperti pria yang tidak pernah mengalami pubertas saja,” sahut Candra.


Untuk membuat rancangan Vila yang akan di bangung di daerah Bandung sana memang dikerjakan secara tim jadi, satu orang selesai, maka dua orang lainnya juga pasti selesai. Karena dalam tim Candra hanya ada tiga orang saja.

__ADS_1


__ADS_2