Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 33


__ADS_3

Tiba di lokasi, Berlyn sedikit ngeri dengan tempat yang didatangi saudarinya. Ia berguman dalam hati, 'Bagaimana bisa dia menemukan tempat seperti ini dan mendatanginya? Dasar bocah tidak waras!'


"Hacyuu!" Bersamaan dengan itu, Clarissa bersin. "Alin, apakah kau tengah mengutukku dalam hati? Aku bersin, ini?" tanya Clarissa pada Berlyn.


Gadis itu hanya melotot ke arah kembarannya. Bagaimana bisa dikatakan mengutuk jika hanya bertanya dalam hati saja? Lagi pula, siapa yang tidak ngeri dengan tempat seperti ini. Jauh dari keramaian, tempatnya juga gelap dan sepertinya juga bangunan tua yang sudah lama tidak dihuni. Berlyn juga heran, dari mana dia bisa menemukan tempat ini


"Di mana orangnya paman?" tanya Clarissa pada salah satu anak buahnya.


"Dia dan dua temannya berada di kamar paling ujung, Nona."


"Baik." Clarissa pun memandang ke arah saudarinya, bagaimana pun, ia tidak ingin menunjukkan kalau dirinya kembar. Jika perlu, ia akan menutup wajahnya dengan masker. Karena kembar, takut jika salah satu dari merka melihat Berlyn dan tiba-tiba saja mencelakainya saja. "Kau mau ikut denganku tidak?" tanya Clarissa.


"Ya," jawab gadis itu mengangguk beberapa kali. Terlihat sekali kalau dia sangat antusias.


"Baik jika kau mau ikut, kenakan topi ini dan masker. Jangan sampai mereka melihat wajah kita demi menjaga sesuatu yan tak pernah kita inginkan," ucapnya sambil memberikan sebuah masker warna hitam polos berbahan katun dan topi miliknya berwarna merah hati. Sementara Clarissa sendiri hanya mengenakan masker saja sudah cukup. Karena ia hanya memiliki satu topi saja dan itu diberikan pada Berlyn. Lagipula tidak masalah, kebetulan kali ini Clarissa mencurly rambutnya serta mewarnainya dengan warna maroon.


Tanpa berkata sepatah katapun Berlyn menerima benda itu dari tangan saudari kembarnya dan mengenakannya. Tiba di ruangan paling ujung, Berlyn sedikit terkejut saat melihat tiga orang digantung kakinya dengan posisi kepala berada di bawah. 'Sudah berapa lama mereka digantung seperti itu? Pasti sakit dan pusing sekali itu. Apakah itu yang mengeroyok kak Bilqis? Serem sekali,' batin Berlyn sambil bergidik saat melihat wajah dan body masing-masing dari mereka.


Sementara Clarissa hanya tertawa dan meledek mereka semua. "Kalian, ya yang telah mengeroyok salah satu saudariku itu? Puas? Ya sudah, kalau begitu temani aku bermain-main juga sampai aku puas. Sampai berapa ronde kalian masing-masing kemarin saat menggaulinya?" tanya Clarissa yang membuat Berlyn terkejut karena ia mengira kalau Calrissa juga akan melakukan hal tak senonoh dengan tiga orang itu.


"Oke-oke. Aku tidak seperti pria yang menghajar salah satu dari kalian. Tidak, aku suka main halus, kok. Tenang saja, hehehe," ucapnya lagi sambil menatap wajah masing-masing dari mereka. Kemudian jiwa jail dari bocah itu pun muncul. Dia tertawa jail seperti menyeringai. "Paman, sambil menunggu tamu kebesaran kita, main ayunan, yuk! Aku yang dorong, anggap saja paman sedang naik ayunan, oke?" Sambil tertawa terbahak, dan mendorong tiga tubuh yang digantung dalam posisi terbalik itu.


"Ampuuuuu! Ampuni saya, Nyonya! Kepala saya sudah sangat pusing anda ayunkan begini rasanya seperti mau pecah saja!"


"Iya, Nyonya. Ampunilah kami bertiga. Kami bersedia dihukum, asal jangan seperti ini."


"Anda mau apa? Setengah dari harta kami juga kami bersedia, saya memiliki kekayaan sebesar Tiga koma lima Trilyun. Ambil setengahnya, jika perlu, sisakan untuk anak istri saya satu perlimanya saja," ucap ketiga orang itu. Tapi, bukan Clarissa namanya jika tergoda dengan uang. Dia tidak pernah kekurangan sejak kecil sampai sekarang.


"Aku tidak butuh uangmu. Karena aku bukan tukang palak. Jika memang aku inginkan itu, buat apa? Aku sudah bisa memintanya sejak tadi. Aku hanya ingin bermain-main dengan kalian saja, hahaha."


"Ampuni kami, Nyonya! Kami sudah tidak tahan lagi, rasanya kepala kami seperti mau pecah."

__ADS_1


"Ohohoho... Kalian tenang saja. Kepala kalian aman-aman saja. Tapi, aku nanti akan benar-benar memecahkan kepala bawah kalian," jawab Berlyn sambil terbahak dan terus mengayunkan tubuh tiga bandot tua itu dengan tak beraturan sehingga saling berbenturan satu sama lain.


Sementara Berlyn yang melihat ulah saudari kembarnya hanya geleng-geleng kepala saja sambil tepuk jidat. Ia heran, mau dikata ngidam apa mamanya saat hamil dia, mereka juga berada di ramih bersama kala itu.


Sekitar hampir setengah jam Clarissa bermain-main dengan ketiga pria tua itu, pria yang tadi menjadi supirnya datang menghampirinya dan berbisik. Entah apa yang dikatakan. Dari wajahnya, sepertinya sangat serius sekali.


"Baik, suruh saja dia masuk ke sini," ucap Clarissa kemudian.


Lalu, pria berkulit putih dengan mata sipit itu pun beranjak pergi. Selang beberapa waktu dia sudah kembali bersama seorang pria berpakaian rapi dengan tas jinjing di tangan kanannya. Melihat dari pakaiannya, Berlyn yakin, dia adalah seorang dokter.


"Selamat siang," sapa dokter itu.


"Iya, Pak. Selamat siang. Silahkan saja lebih cepat lebih baik. Suntik kebiri saja tiga pria tua itu. Setelahnya, suntik dia dengan halusinogen, biarkan dia merasakan bagaimana rasanya jadi orang gila sementara," ucap Clarissa lalu kemudian ia pun pergi bersama Berlyn.


"Aku akan bersenang-senang dulu. Kalian semua, tahu kan apa yang harus kalian lakukan setelah ini?" tanya Clarissa pada kelima anak buahnya yang berada di sana.


"Mengerti, Nona," jawab mereka serempak.


"Alin, kita pergi dari sini. Ini biar jadi urusan orang dewasa. Kita masih di bawah umur," ucap Clarissa sambil cengar-cengir. Dengan melihat sisi lain kembarannya yang begini, dia sangat kekanak-kanakan sekali. Tapi, jika sudah muncul sisi dewasanya, kedewasaannya menyamai kedua orangtua mereka.


"Menjebak bagaimana, Alin? Kita tangkap saja dia langsung!" ucap Clarissa yang emosinya sudah berada di ujung tanduk.


Berlyn melambaikan cepat kedua tangannya di depan saudarinya. Ia mengatakkan dengan bahasa isyarat. "Cara apa yang paling baik untuk menjebak seorang mucikari selain pura-pura minta boking wanita panggilan? Atau minta dirinya sendiri saja dengan iming-iming uang banyak," ucapnya sambil menunjukkan nomor kontak milik Tiara pada Clarissa.


"Ah, Alin. Kau ini terlalu cerdas dan sangat sabar. Demi kejutan untuk orang-orang yang kau sayangi bicara sepatah saja kau tak mau. Emmuuuuuaaah," ucap Calarissa dengan gemas. Memeluk erat kembarannya dan mencium pipinya sampai gadis itu merasa sesak dan kesakitan saking kuatnya pelukan Clarissa.


"Paman, kerjakan. Pura-pura saja kau pesan dia. Tunjukkan keanggotaanmu sebagai staf perusahaan di Jepang. Kau boleh lah menggunakan bahasa indomu yang tak lancar itu. Telfon, dan ajak ketemu. Pancing dia ke hotel. Oke."


"Lalu selanjutnya, kita apakan dia, Nona?" tanya pria bermata sipit dengan kulit putih dan bening itu.


"Tangkap saja dulu. Biar nanti aku ajak dia bermain-main, hehehe."

__ADS_1


Mendengar kata main-main lagi dari lisan Clarissa, dua orang di dalam mobil itu hanya geleng-geleng kepala saja. Sudah bisa ditebak, kejailannya sangat surpriese. Awalnya Berlyn danĀ  pria itu juga berfikir Clarissa akan mengajarnya dengan brutal. Tapi, nyatanya sungguh diluar dugaan. Tidak brutal tapi cukup menyiksa dan seumur hidup. Lantas, apa yang akan dia lakukan pada Tiara nanti? Masih jadi misteri, salah satu dari mereka juga tak ada yang bisa menebaknya. Meskipun sempat terlintas dibenak mereka, kalau Tiara akan diangkat rahimnya. Hanya saja benar atau tidak masih misteri.


"Baik, Nona. Siap laksanakan.


***


Bilqis merasa bosan saat dirinya berada di rumah saja seharian ini. Sengaja ia ambil cuti. Karena, ia hanya merasa nyaman ketika dekat dan berbicara dengan mama Queen. Tapi sayang, wanita itu saat ini berada di klinik. Sementara Berlyn juga masih belum kembali. Tadi pagi dia dijemput Axel diajak melihat pertandingan bola basket di mana Adriel juga ikut sebagai salah satu perwakilan dari SMA nya.


Didapatinya papa Al berada di rumah. Ia baru saja pulang. Sementara mama Queen, sejak tiga puluh menit yang lalu berangkat ke kelinik. Kesehariannya dihabiskan untuk menemaninya dan mengajaknya beraktifitas.


"Bilqis, kau sudah makan siang apa belum?" tanya Al yang baru saja tiba.


Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia terpaku memandang papa tirinya yang hanya mengenakan kemeja putih dan dasi biru tanpa jas. (Dia pake celana lo ya. Cuma ga pake jas aja) Ia tidak menyangka, kalau akan mendapati nasib seberuntung ini. Bagaimana tidak? Sudah sejak delapan belas tahun silam pria di depannya sudah bercerai dengan mamanya. Tapi, dia dan istri mudanya bisa menerimanya dengan baik dan malah mengangap dirinya seperti anak kandungnya. 'Kalian berdua adalah pasangan yang serasi. Sama-sama memiliki rupa yang elok serta hati yang sangat mulia,' batin Bilqis.


"Bilqis?"


"Eh, iya, Pa. Apakah kau pulang untuk makan siang? Tadi mama menyiapkan gulai kepala ikan kakap untukmu," jawab Bilqis sedikit teragagap.


"Iya, papa sangat lapar. Karena mamamu tadi bilang sudah menyiapkan makan siang untuk papa, makanya papa pulang," jawab Al.


Setelah menyiapkan makan siang di atas meja makan, Bilqis makan hanya berdua saja bersama Al duduk berhadapan. Ia sedikit banyak melamun dan pikirannya ke mana-mana.


Merasa terlalu lama diperhatikan oleh anak tirinya, Al bertanya terkait Berlyn. Sebenarnya dia sudah tahu kalau pertandingan bola basket sudah selesai. Axel tadi sudah menelfonnya. Hanya saja, gadis itu tidak mau diantarkan pulang karena dia memiliki urusan dengan temannya. Al sama sekali tidak curiga. Ia malah justru berfikir kalau teman yang dimaksut itu adalah Adriel. Sebab, sejauh yang dia ketahui dua kakak beradik itu menyukai satu gadis yang sama. Yaitu putrinya. Namun putrinya terlihat lebih nyaman bersama Adriel


"Berlyn belum pulang, ya?"


"Iya, Pa. Belum."


"Kamu di rumah sendirian apakah tidak merasa kesepian? Bagaimana kalau ke kelinik saja bersama mamamu. Kau bisa bantu-bantu memangil nama pasien yang mengantri," usul Al. Sebab, ia tak ingin Bilqis banyak melamun sampai pikirannya kososng. Karena itu tidak akan baik untuk kondisi psikisnya. Mengajaknya ke kantor juga tidak mungkin, meskipun di sana dia lebih banyak mendapat pekerjaan dan tidak sempat melamun. Al hanya merasa tak nyaman jika terlalu dekat dengan gadis dewasa selain kedua putri dan istrinya.


"Iya, Pa. Kau benar. Mungkin besok aku juga sudah akan mulai masuk kerja. Di rumah saja ternyata sangat jenuh."

__ADS_1


"Gunakan harimu untuk beraktifitas yang positif. Kesampingkan masalahmu, itu bukanlah masalah besar. Seperti yang mama Queen katakan, Yng terjadi padamu tidak ada unsur kesengajaan, Kenapa harus prustasi, bukan?"


"Terimakasih, Pa." Tanpa sadar Bilqis memeluk lengan Al dan menempelkan pipinya di sana. Ia merasa Al bukanlah sosok papa tiri. Tapi, dia adalah papa kandung. Ia juga tak tahu kenapa bisa begitu, apakah karena dia terlalu kecil saat mengenal Al sebagai sosok papa? Kata mamanya, kala itu dia masih berusia sekitar satu setengah tahunan. Jadi, kenyamanan hatinya bukan karena rekayasa. Hanya saja yang aneh, kenapa dia lebih dekat dengan Queen semenjak tumbuh dewasa, bukannya malah dengan mama kandungnya sendiri. Ah, mungkin mama Queen jauh lebih mengerti dirinya dan tahu yang terbaik. Kini gadis malang itu hanya bisa berandai-andai dia benar-benar anak yang Queen lahirkan. Tapi, sayang, itu hanya sebuah angan dan tak akan pernah bisa merubah faktanya.


__ADS_2