
Clara sibuk mengurus persiapan pernikahannya bersama Vano yang tinggal mengitung hari, dengan bantuan Selly dan Eren dia sibuk nyari blok promosi baju pengantin yang benar-benar bagus untuk pernikahannya.
Sudah jadi dambaan setiap wanita untuk bisa tampil maximal namun elegan dalam acara penting dalam hidupnya begitupun Clara.
"Eh, kamu lihat deh boutique ini, Ra, kayanya bagus-bagus," ucap Eren menunjukan sesuatu pada gadgetnya.
"Coba cek alamat boutique nya."
Begitu di klik ternyata alamatnya tidak jauh dari tempat Clara, masih satu kota saja.
Enyelir boutique adalah boutique baru di kota mereka, namun barang yang ditawarkan sekelas dengan produk internasiaol-an, clien bisa konsultasi langsung dengan owner pada hari dan jam tertentu.
Kebetulan, hari Selasa bisa konsul langsung pada jam 14.00.
Clara, Selly dan Eren saling pandang, ketiganya tersenyum penuh arti, "Ya sudah, ayok kita langsung saja cus!" ajak Clara yang disambut antusias oleh kedua sahabatnya.
Tiba di Enyelir boutique, Eren terkagum dengan gedung bernuansa internasional, serta baju-baju yang dipamerkan nampak anggun elegan dan berkelas.
"Wah, yang punya pasti uda menempuh pendidikan tatabusana di luar Negeri ini, ya," ucap Selly.
Mereka di sambut oleh karyawati boutique dengan sambutan ramah,"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
"Oh, iya, tapi saya mau konsul langsung sama Owner, bisa?" ucap Clara.
"Bisa Mbak, mari saya antar ke ruangan madam." gadis berbadan raping yang rambutnya disanggul ala-ala pramugari itu berjalan menuju ruangan bosnya.
Clara dan kedua sahabatnya mengikuti karyawati boutique berjalan di belakangnya.
"Madam, ada clien yang mau fiting gaun," ucap karyawati itu lalu memohon diri.
Clara berbisik pada dua sahabatnya, sepertinya madam itu bencong kaya Ivan Gunawan, lihat saja, bodynya pria."
Selly dan Eren terkikik, "Baguslah, biar yang fiting ga kecantol, so dia bencong," balas Eren.
"Iya, say bentar ya, ayo mari duduk," ucapnya dengan nada bencong masih membelakangi mereka bertiga.
Begitu tumpukan kertas-kertas sudah rapi, dia memutatkan tubuhnya ke arah cliennya.
Betapa terkejutnya Clara dan dua Sohibnya melihat penampakan wajah dari Owner Enyelir Boutique.
"Erwin!" ucap mereka bersamaan. Erwin teriak histeris melihat tiga teman SMA nya itu, dia bangkit dari kursinya berlari untuk memeluk ketiganya.
"Wah... Akhirnya kita ditakdirkan jumpa lagi ya sama kalian, wah makin cucok aja," ucap Erwin dengan nada bencong sambil mencubiti dagu tiga wanita di hadapannya.
"Ini dikau kah Clara Lalakumarla?" ucapnya sambil menunjuk pada Clara memasang ekprsi shok, hanya di jawab anggukan dan senyuman oleh Clara.
"Aw, kenapa dikau jadi begenong Lalakumarla Clara? Jadi kece wah Madam kesaingan dong!" ucap Ewin belagak merajuk sambil menempelkan punggung tangannya pada dahinya.
Setelah mereka berempat ngobrol selama 30 menitan dan sempat menolak 2 orang client untuk konsul, Erwin kembali menanyakan keperluan mereka berkunjung ke boutiquenya.
"Eh, by the way, siapa ya mau fiting gaun manten?"
"Ini, Clara bulan depan She will get merrid," ucap Selly.
__ADS_1
"Waaaooow Clara, kamu mau kawin?" teriak Erwin kencang membuat copot jantung ketiga temannya.
"Nikah dulu kali, baru kawin," jawab Clara sekenanya.
"Ahahaha, ok ok, terserah kamu, up to you! But by the way, kamu nikahnya ga sama ayang embebku kan?"
"Tenang aja kamu, Win, dia uda dapat calon lebih kece dari Reza kok," jawab Eren.
"Hah, dengan siapa? Eyke kada tau, hahah I missed the news, ok gapapa, Clara kamu pilih contoh yang ada di gambar ini, kamu mau pakai gaun mana buat kawin nanti," ucap Erwin menyodorkan album tebal koleksinya kepada Clara.
"Yaelah, kawin lagi, yang ada ini gaun buat Nikah, Win, kalau cuma kawin aja mungkin ga perlu pake baju," ucap Clara kesal. Di susul tawa oleh Eren dan Selly.
Erwin menepati janjinya, menyempatkan waktu di tengah kesibukannya berkunjung ke rumah Clara.
"Ma, ini Erwin teman SMA dulu, mama masih ingat?"
"Oh, iya iya, dulu kan sering ,ya main kesini? Ayo masuk!" ucap Vivian mempersilahkan Erwin.
Clara ngobrol di teras belakang bersama Erwin saling curhat dan berbagi cerita selama 3 tahun belakangan ini.
Vivian datang dari dalam sambil membawa 3 gelas jus Jeruk dan cemilan,"Erwin lama ga kelihatan, terakhir Tante ketemu pas perpisahan kemarin, ya. Erwin nglanjuutin kemana?"
"Erwin mendalami ilmu tata busana, Tante, Erwin ambil kursus di Australia."
"Wow... Keren, ya."
"Enyelir Boutique yang baru louching di kota kita itu milik dia, loh Ma, tempat aku fiting gaun."
"Lah, kok berubah, Win? Emang dulu gimana?" tanya Clara.
"Dulu, mah kamu kecut bagaikan asem, Ra," jawab Erwin asal, lalu semuanya tertawa.
"Apapun usahanya, semoga sukses terus buat kamu ya, Win.
Sepertinya Papa dan Vano uda pulang, kalian lanjut ngobrol saja di sini, Ya, Mama ke depan dulu, biar Vano kemari," ucap Vivian berlalu.
Tak lama kemudian Vano muncul dari balik pintu, memandang ke arah Clara dan Erwin.
"Itu calon suamiku, Win," bisik Clara.
"Astoge bodynya Ra, aw ada yang gatel ngajakin maksiat nih bawaannya. Duh matanya, alisnya hidungnya, rahangnya, dagunya, dan dadanya ... Awww pasti itunya gede, Ra," bisik Erwin.
Clara melotot ke arah Erwin.
"Benar, gak? Uda pernah lihat atau nyobain bulum?"
Karena kesal Clara menginjak kaki Erwin sekencang-kencangnya membuat Erwin menjerik kesakitan, "Aawww."
"Jangan bicara mesum di sini!" Kesal Clara dengan suara tertahan.
"Van, ini kenalin Erwin teman SMA ku dulu, dia yang desain gaun untuk nikahan kita nanti," ucap Clara.
Awalnya Vano ilfeel melihat Erwin yang lumayan macho dengan sedikit brewok yang mulai tumbuh, tapi hal buruk itu hilang manakala Ia mengetahui cara Erwin berbicara.
__ADS_1
"Erwin, panggil saja Erlin! Aku syuka," katanya sambil menatap genit serta mengedipkan sebelah matanya.
"Ra, kamu kok punya temen kaya gitu, sih?" ucap Vano ketika bersantai di ruang tengah.
"Dia teman SMA ku, Van, yang kuceritakan dulu."
"Teman SMA?"
"Iya, Erwin bencong itu, loh! Yang suka boneka barbie," ucap Clara.
Vano nampak berfikir dan sedikit mengingat sesuatu.
"Yang demen sama Reza?"
"Itu, ingat!"
"Apa kira-kira dia ga sakit hati pas ketemu Reza uda pacaran sama Lusi?"
"Mana ku tahu," ucap Clara sambil menaikan kedua pundaknya.
*******
"Jangan bawel gitu deh, Van, nikahan kita kurang 13 hari lagi, dan kamu ... Ah sudahlah," ucap Clara kesal.
"Kenapa harus ke Erwin, ga ada pa desainer lain?"
"Ada banyak, kamu mau yang mana, asal cocok, ya uda datang kesana, apa harus aku batalin gaun pesananku ke Erwin? Tidak, kan?"
"Hmmmp, sudahlah, kamu tak akan mengerti," ucap Vano sambil berlalu.
Clara menopang dagu dengan dua tangnya, sejak kedatangannya 5 menit lalu di cafe Reza, dia cemberut terus.
"Heh, manyun saja, ngopi aja kenapa?" ucap Reza dari belakang.
"Aku bete banget, Za,"
"Kenapa? Uda mau nikah kok, bete."
"Nah, justru itu, Kamu tau kan, aku uda fiting gaun di boutiquenya Erwin sejak 2 mingguan lalu, aku pengennya Vano juga fiting teksudo di sana buat acara nikahan, tapi apa? Dia mentah-mentah pergi begitu saja, padahal aku uda minta Erwin langsung yang nangani bukan asistennya, dikasih yang terbaik kok, malah kaya gitu," ucap Clara panjang lebar, kesal.
Reza yang sedari tadi menahan tawanya kini tak mampu lagi, dia tertawa terpingkal sejadi-jadinya, "Hahahaha." mungkin dia tau apa yang dirasakan Vano, sampe akhirnya dia menolak.
"Ra, kamu tuh, polos apa gimana, ya? Tau kan kamu Erwin bencong, dia ga tertarik lihat cewek cantik, meski cewek itu telanjang sekalipun, mungkin dia tidak bisa on, dia itu nafsunya sama pria, mungkin Vano geli," ucap Reza sambil susah payah menahan tawa.
Ekpresi Clara langsung berubah, ia dia ingat sesuatu ketika memperkenalkan Vano pada Erwin.
Itu memang pertemuan mereka yang pertama, dulu di jaman sekolah, setiap kali Erwin main ke rumah tidak pernah ketemu Vano.
Clara pun menepuk jidatnya sendiri, "Aku kok gak kepikiran sama sekali, ya, Za?"
Dan keduanya pun kini sama-sama tertawa.
__ADS_1