Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 56


__ADS_3

Sepulang kerja Vano mendapati rumah sudah ramai, orang tua, istri dan anak-anaknya sudah berada di rumah, mereka berkumpul di ruang tengah, hanya Quen dan Lyli yang masih nampak sibuk berada di dapur, entah apa yang mereka lakukan, keduanya sepertinya asik mengerjakan sesuatu dan saling tertawa.


"Kau sudah pulang, Van?" sapa Clara lalu bergegas menyambut suaminya, mengambil tas dan jas suaminya. Begitupun Vano langsung memberikan sebuah ciuman kecil pada kening Clara.


"Maaf, ya terlambat, apakah kalian menungguku untuk makan malam?" ucap Vano sambil melirik ke arah meja makan yang sudah penuh dengan hidangan.


"Ya, kau pasti juga belum makan, kan?"


"Tentu saja belum, bagaimana aku bisa makan di luar kalau istri sudah memasakan untukku?" ucap Vano seraya mengecup bibir istrinya.


"Ih, papa jangan bikin baper kita yang jomblo dong!" Seru Quen dari dapur.


"Apa, kau jomblo?" ulang Vano sambil tertawa.


"Ok, aku salah ngomong. Aku dan kak Lyli kan masih lajang. Beda sa kak Al yang sudah beristri,"


"Makanya buruan nikah!" Seru Al sambil tertawa.


"Sebentar lagi deh," jawab Quen tidak bersemangat.


"Ya sudah ayo kita makan malam dulu, Lyli apa yang kalian kerjakan sebenarnya?" tanya Clara karena melihat dia dan putrinya sedari tadi seperti tidak ada selesainya.


"Eh, anu..." Sebelum LyliΒ  menyelsaikan kalimatnya, Quen menyiku lengannya pelan. "anu, Nyah... Ini, kami lagi bikin anu, buat anu,"


Clara melotot dengan ekspresi jenaka kepada Lyli lalu berkata lirih, "Apa itu anu, Kak?"


Spontan seluruh orang yang berada di sana tertawa dengan tingkah Lyli yang memang tidak bisa berbohong. Tapi, takut dengan Quen.


"Mama, bagaimana hasil priksa mama tadi?" tanya Vano begitu duduk di sebelah Vivian.


"Tidak apa-apa, mama cuma kecapkan saja," jawab Vivian dengan lembut.


"Jangan banyak aktifitas dong, Ma. Kan Clara juga ada di rumah, jika perlu apa-apa bisa kan minta tolong ke dia?" jawab Vano.

__ADS_1


"Iya, Nak. Tadi siang juga makan di kamar Clara yang siapin kok." Vivan menepuk-tepuk bahu Vano sambil tersenyum lembut.


"Quen, Lyli, apakah anu kalian sudah selesai? Jika sudah ayo makan malam bersama!" Seru Vano.


"Sebentar, Pa. Tunggu kami lima menit lagi."


Clara tersenyum saat tatapannya bertemu dengan mata suaminya.


Tidak lama kemudian Quen dan Lyli muncul dengan ceria Quen berteriak, "Happy anniversary Kakak." Seraya menunjukan sebuah kue yang dihias sedikit belepotan.


Nayla dan Al tertegun. Bahkan, mereka saja lupa dengan tanggal pernikahannya sendiri. Justru Quen lah yang ingat dan meminta bantuan Lyli untuk membuat kue yang tidak begitu ribet tapi enak dari google.


"Quen, kau bahkan ingat dengan hal sekecil ini, Sayang?" ucap Al meraih pundak adiknya seraya memeluknya erat.


Quen tertawa kecil sambil berujar, " Memangnya kalian tidak pernah merayakannya? Ini yang ketiga, bukan?"


"Kau terlalu perhatian," ucap Al sambil mengelus ubun-ubun Quen.


"Bukannya ini hal wajah? Iya kan, Ma, Pa?" tanya Quen kepada kedua orang tuanya.


Sepertinga wanita itu perlu di bawa ke pesekeater agar tumbuh rasa percaya dirinya sebagai janda yang tak punya apa-apa menikah dengan tuan mjda meliyader. Agar tidak terlalu posesif agar pasangan tidam risih dengannya.


"Terimakasih ya Quen, untuk tahun ini kami benar-benar lupa, tapi selama di Jepang kami selalu merayakannya bersama Bilqi. Iya kan, Mas?" ucap Nayla sambil melirik ke arah Al.


"Iya," jawab Al singkat dengan posisi lengan kanan masih berada di atas pundak Quen.


"Bahkan kami juga ikut lupa, bagaimana Quen bisa ingat?" ucap Vivian.


"Kalian terlalu sibuk dengan pernikahanku," jawab Quen lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Lyli.


Nayla tertegun melihat kekompakan keluarga ini, memang memeluk dan mencium pipi pada yang lebih muda sudah menjadi hal wajar sebagai ungkapan rasa kasih sayang terhadap keluarga.


Dalam hati Nayla mengutuk dirinya sendiri, ia merasa malu telah bertingkah keterlaluan. Ada rasa sayang mendalam yang tersirat di antara mata Quen dan Al. Tapi bukanlah cinta semua murni hanyalah sebatas hubungan antara kakal dan adik, layaknya Clara dan Vano yang memperlakukan keduanya sama tidak ada perbandingan sekexil apapun meski Al hanyalah anak angkat.

__ADS_1


Mungkin selama ini Nayla lupa kalau perusahaan di Jepang yang Al kelola adalah warisan dari Andreas, jika Al memang hanya di anggap sebagai cucu angkat jelas Andreas hanya menjadikannya pegawai bukan menggantikan posisinya sebagai CEO.


"Quen, bolehkah kakak memelukmu?" ucap Nayla ragu-ragu.


"Tentu saja boleh, apakah memeluku dikenai pajak sampainharus meminta izin begitu?" jawab Quen ceria.


Acara makan malam pun berjalan dengan sangat harmonis. Memang Naya menyadari di mana letak kesalahannya. Tapi, tak dapat dipungkiri dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak menyukai jika suaminya dekat-dekat dengannya.


Rasa cemburu itu tetap ada, dan menjadikan emosi terpendam setiap kali melihat Al dan Quen mengobrol berdua meski tanpa berpelukan sekalipun.


"Al, Nayla. Setelah makan siang kita ke ruang baca, ada yang perlu kita bicarakan berempat," ucap Vano lali beranjal dari meja makan.


Harusnya dia mandi dam ganti pakaian dulu sebelum makan malam, tapi, karena dia pulang terlambat dan semua orang menunggunya, jadi ia memilih untuk makan dulu.


🍁 🍁 🍁 🍁


Nayla nampak tegang saat ia duduk bersanding dengan Al di hadapan kedua mertuanya yang menatapnya dengan tatapan yang susah di deskripsikan. Bahkan dari aura wajah Clara terlihat emosi yang terpendam di sana. Jelas saja, ibu mana yang tidak geram melihat anak bermasalah dengan istrinya sampai melukai diri demi tidak memukup pasangannya. Jelas Clara menyalahkan Nayla, hanya saja, dia berusaha untuk tidak memihak dan selalu membenarkan Al meski putranya sendiri. Walau dalah hati sebenarnya dia sangat gemes dengan wanita itu.


"Al,Β  kau jelaskan kenapa sampai harus memukul meka kaca hingga tanganmu seperti itu!" Seru Vano memulai pembicaraan.


"Al lagi kesel, Pa. Dan ga bisa kontrol emosi, maafin Al." Pria itu menunduk di hadapan orang tuanya merasa bersalah. Sebab, selama dia tinggal bersama mereka tidak pernah sekalipun melihat orang tuanya bertengakar. Mereka tetap harmonis meaki sesekali pernah terlihat keduanya diam dan dingin, tapi, itu sangat jarang sekali.


"Ada apa? Quen bilang saat itu kalian berada di dalam kamar kan? Apakah kalian ada masalah?" tanya Vano sambil menatap tajam ke arah dua insan di hadapannya.


Al masih bungkam, dia tidak bisa berkata apapun, ingin mengatakan yang sejujurnya bukankah terlalu kony jika masalahnya Naypa cemburu dengan Quen? Bagaimanapun Nayla adalah istrinya dan dia sebagai suami harus melindunginya agar tidak merasa terpojok dan depresi. Orang rumah sudah menyalahkannya, dia tidak akan memperkeruh kondisi hatinya lagi.


"Al saja, Pa yang salah tidak bisa sebaik papa sebagai seorang suami," jawab Al lagi, sedangkan Nayla ianhanya diam. Badannya sampai bergetar akibat menahan rasa takut yang luar biasa.


"Lain kali kalau ada masalah selesaikan dengan baik-baik, jangan sampai melukai fisik. Lebih lah belakar mengelola emosi masing-masing," tambah Clara yang sebenarnya tidak puas dengan hal ini karena ia merasa ara yang sengaja Al sembunyikan dari mereka.


"Ya sudah kalian istirahatlah, ini sudah malam!" Seru Vano.


"Oh, iya Al. Temui adikmu dulu. Minta obat padanya biar cepat sembuh dan sekalian ganti kain kasa kamu, Sayang," ucap Clara mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, Ma. Kalau Quen belum tidur," jawan Al sambil memandang ke arah Nayla.


Nih bayangan author papa Vano kaya begini ini nih... biar tua ttp ganteng dan macho. dia asli keturunan cina indonesia, emaknya austria. habis ini author kasih bayangan mama Clara apa Si Al dulu ya? πŸ€”πŸ€” atau Alex yang ganteng dan berbadan atletis karna emang ambil jurusan olahraga?😸😸


__ADS_2