Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 25


__ADS_3

"Mamaaaa aku mau mama, Pa... Mama kemana?" rengeknya sambil menagis terisak dalam dekapan Aditya.


Sementara pria itu hanya diam sambil menepuk-nepuk punggung bocah kecil itu tanpa berkata apapun.


Dengan susah payah dia menidurkan putrnya lalu keluar kamar untuk menelfon seseorang.


"Halo, Nov. Tidakah kau memikirkan putra kita? Jika kau membenciku tidak masalah. Tapi, aku mohon demi Axel."


"Mas, apakah kau tidak ingat? Dari awal kehamilanku aku sudah tidak menginginkan anak itu, aku sudah mau membuangnya. Tapi, kau melarangku dan malah menikahiku,"


"Aku sayang sama kamu, Nov. Aku juga sayang pada putra kita, aku ingin kita hidup bahagia bersama. Bukankah ini impian kita saat awal kita berjumpa, Nov? Aku mendukungmu menjadi pramugari dan begitupun sebaliknya. Tidakah kau ingat momen-momen kita saat daling video call sebelum kau terbang atau habis landas?"


"Semua itu masa lalu, Mas. Percumah juga kau mengungkitnya, aku ingin hidup sendiri tanpa kehadiranmu. Untuk Axel dia juga putraku, setuap aku libur dan tidak ada jadwal terbang aku akan ke sana dan mengajaknya menginap di rumahku."


Tuuuttt tuuttt...


Tanpa Aditya duga, suati pagi saat dia menyuapi putranya Novita datang. Dia mengajak putranya bermain bersama papanya. Sehingga siapapun mengira kalau Novita mengurungkan niatannya untuk berpisah. tapi, siapa sangaka ketika siang hari ketika Axel tertidur Novita mengeluarkan map dari dalam tasnya.


"Tolong mas kamu tandatangani ini!"


Aditya terbelakak tak percaya, tangannya bergetar melihat bahwa kertas yang meminta tanda tangannya itu adalah surat cerai.


"Apa maksut kamu, Nov?"


"Kamu bilang sayang sama aku, kan? Kamu cinta sama aku? Dan ingin aku selalu bahagia, sekarang buktikan kata-katamu, Mas. Aku akan bahagia jika kau melepaskanku. Bukankah cinta itu tak harus memiliki?"


"Apa yang membuatmu jadi begini, Nov? Bukannya dulu kau yang berjanji? Dan jika kau tidak mau denganku kenapa kau memberi harapan palsu?"


"Tapi aku berani bersumpah, Mas Axel adalah darah dagingmu!" Seru Novita kencang.


"Apakah aku menuduhmu dia itu bukan putraku? Justru karena itu kenapa kau mau..."


"Papa, Mama. Kalian kenapa berantem?"


Dari luar pintu muncul bocah kecil berjalan tertatih-tatih sambil mengucek kedua matanya. Sepertinya tidurnya yang baru sekejap terganggu oleh pertikaian kedua orang tuanya.


"Sini Axel. Kami tidak berantem, kok." Aditya mengulurkan tangan pada putranya dan memangkunya.


Novita hanya diam membeku beberapa menit laku dia berankak dan berjongkok di bawah Aditya.


"Axel, mulai sekarang kita tidak akan tinggal bersama, Mama dan Papa akan bercerai. Baik-baik di sini, ya? Sesekali jika Mama libur, akan datang menjengukmu.


Bocah berusia tiga tahun itu langsung menangis kencang meski tak tahu apa itu perceraian. Hanya saja dari ekspresi anak itu sangat menunjukan kalau dia benar-benar butuh mama dan papanya tetap tinggal bersama.


Dengan cepat bocah itu lolos dari pangkuan papanya mengajar mamanya dan merangkul bergelandut pada kaki jenjang ibunya.


"Mama, Axel janji tidak akan nakal lagi, Ma. Tapi mama jangan pergi. Mama jangan pisah sama papa, ya? Axel mau mama dan papa tetap bersama. Axel janji tidak akan rewel jika mama akan terbang untuk bekerja. Tapi, jangan katakan perpisahan, Ma."


Bocah itu terus menangis tersedu-sedu. Tak peduli apapun meski ibunya berusaha keras melepaskan rangkulan di kakinya.


Aditya terlalu shock tidak menyangka kalau wanita yang dia cintai selama ini seperti itu, wanita kalem dan berpendidikan mengatakan dengan tegas tanpa rasa bersalah di depan anak berusia tiga tahun jika dia akan percerai.


Bagai mana psikologi Axel kelak jima seperti ini?


Terlebih dengan tega Noviya mendorong keras tubuh kecil itu keras ke atas tanah hingga jatuh tersungkur.


"Axel, kau ini keras kepala seperti papamu, selalu membuat habis kesabaran mama!" Bentaknya sambil melotot.


"Astaga! Novita! Dia itu anakmu darau dagingmu, kau tega, ya?" teriak Aditya emosi.


Tanpa penjelasan apapun wanita itu pergi setengah berlari.


"Mamaaaaa mamaaaa... "


Tubuh kecil itu meronta-ronta tangan dan kakinua bergerak bebas menangis bertetiak seperti kesetanan. Sementara wanita yang dipanggilnya dengan panggilan mama sedikitpun hatinya tidak tergugah.


"Tega kau, Nov." Umpat Aditya sambil menyeka air matanya. Tak tega dengan putranya.


Setelah kejadian itu Axel sakit parah, tapi, Novita tidak ada sekalipun menjengkuk. padahal sudah tuga hari Axel di rawat di rumah sakit. Dan hari ke lima ketika Axel sudah di izinkan pulang Novita makah mengganti nomor telfonnya dan memblokeir semua akun medsos Aditya.


Selama hampir dua tahun Aditya mempertahankan rumah tangganya sampai pada akhirnya ia pun menyerah dan memilih melepaskan.


🌸 🌸 🌸


Quen bengong mendengar cerita Aditya, dia tidak menyangka orang sepertinya malah di sia-siakan.


Dengan Reflek Quen mengelus kengan kiri Aditya untuk memberikan semangat.

__ADS_1


"Sabar ya, Pak? Kelak semoga mamanya Axel segera sadar."


"Iya, Quen. Terimakasih. Maaf jika aku harus menceritakan semua padamu.


"Saya tidak keberatan, Pak. Tapi, jika suatu saat dia ingin kembali apakah bapak bersedia menerimanya lagi?"


"Sepertinya mustahil, Quen. Dia sudah menemukan bahagianya. Seminggu yang lalu dia menikah."


"Hah, sudah menikah? Bukankan dia masih belum melewati masa idahnya sebagai Janda?"


"Dia sangat keras kepala, tidak ada yang bisa menasehatinya. Selama ini dia hanya memikirkan dirinya saja dan melakukan apapun yang dia mau."


Tak lama kemudian mobil memasuki sebuah halaman yang lumayan luas di sebelah kiri seorang pria tua seusia Andreas tengah bermain bola dengan seorang anak kira-kira lima tahunan.


Quen dan Aditya turun dari mobil. Langsung di sambut hangat oleh anak kecil itu yang berhambur memeluknya.


Aditya yang tengah berjongkok menerima tabrakan bocah itu terjatuh berbaring memeluk jagoan kecilnya.


"Papa, aku berhasil mencetak goal lima kali saat berlatih dengan kakek," ucapnya dengan rasa bahagia.


"Oh, benarkah? Jagoan papa memang the best," ucap Aditya seraya berdiri dan menggrndong Axel di kedua pundaknya.


Bocah itu tertawa bahagia, hampir tak nampak kesedihan di wajah polosnya. Mungkin dia lelah mengharapkan ibunya kembali. Atau, sekedar tidak ingin membuat papanya sedih. Bukannya balita itu sangat peka dengan perasaan orang terdekatnya.


"Axel. Ini teman papa, namanya Kakak Quen."


"Wow... Nama yang indah, Nenek bilang Quen itu artinya ratu. Kakak juga cantik, cocok jadi ratu, hahaha."


Quen tersipu malu dengan gombalan balita di depannya. Dia berjongkok dan saling berkenalan.


"Namamu Axel, kan? Papamu banuak bercerita tentang kamu, katanya kau anak yang hebat," ucap Quen sambil tersenyum.


"Kakak, ayo ikut aku, bisakah kau bermain sepak bola?" Bocah itu langsung menarik tangan Quen mengajaknya berlari.


"Axel, biarkan kakak duduk dulu, nanti kita mainnya di dalam saja, ok good boy?" Teriak Aditya.


Bocah itu pun berhenti dan menyetujui permintaan papanya.


"Ok, baiklah. Ayo kakak kita masuk ke dalam." dan lagi bocah itu berlari dengan sangat gesit. Meskipun Quen bisa berkari mengejarnya. Tapi, tak mungkin dia juga berlari kencang di rumah orang bukan? Apalagi ini kali pertama dia datang kerumah dosennya.


"Quen, perkenalkan dia ayah dan ibuku." Mata Aditya memandang ke arah Quen dan dua orang tua di depannya secara bergantian.


"Kau smester brapa sekarang, Nak? Terlihat sangat muda sekali?" tanya Livia, ibunda Aditya.


"Saya mahasiswa angkatan tahun ini, Bu. Baru akan melewati satu smester." Lagi-lagi Quen tersenyum manis menunjukan gigi gingsul dan lesung pipit di pipi kanannya.


"Ya sudah, duduk lah dulu, Nak. Ayah, coba awasi cucumu dulu," ucap Livia pada suaminya dan tinggal mereka berdua saja yang ada di ruang tamu.


Keduanya duduk berhadapan dengan canggung. Tiba-tiba Aditya menanyakan sesuatu pada Quen yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


"Kau panggil mamaku apa tadi? Ibu?" tanyanya sambil terkekeh.


"Memang aku harus memanggilnya Nenek dan kakek, Pak? Atau tante? Sepertinya tidam etis. Akan lebih sopan dipanggil Ibu saja."


Aditya terkikik kecil, "Buat latihan, ntr kalau jadi mantu gak canggung, ya? Karna dah terbiasa."


"Ih, apa sih?" Quen tersenyum malu-malu sambil memukul lengan Aditya.


"Nak, Quen. Silahkan dimunum tehnya."


Livia membawa 1 teko kecil berisi teh dan empat cangkir di sebuah nampan melamin berwana putih motif bunga.


"Repot sekali, Bu?" ucap Quen merasa tidak enak.


"Cuma teh saja, tidak akan merepotkan." jawab Livia lalu duduk di sebelah Quen.


"Apakah kalian sudah lama dekat?"


Tanya Livia memulai percakapan ketika Aditya pergi ke dalam.


"Baru satu bulanan, Bu. Tapi, kedekatan kami tidak lebih hanya sebatas siswi dan dosen. Jika pun lebih mungkin pak Aditya menganghap saya adalah teman."


"O, begitu, ya? Kau tahu setatus putraku?"


Quen menatap Livia serius.


"Putraku adalah duda, dia baru saja bercerai dengan istrinya."

__ADS_1


"Tadi bapak bercerita, Bu. Kalau sebelumnya saya tidak tahu." Quen menunduk sopan. Merasa sedikit risih mendapat pertanyaan seperti ini.


"Karena kau sudah tahu, jadi aku beri tahu saja sekalian. Kau adalah perempuan kedua yang Aditya bawa pulang diperkenalkan kepada kami setelah mantan istrinya. Dan setelah bertahun-tahun, baru kali ini aku melihat Aditya tersenyum tanpa beban seperti itu."


Lagi-lagi Quen hanya tersenyum karena tidak tahu harus menjawab apa. Kenal emang sudah sejak lima bulan lalu. tapi, kedekatan mereka juga baru satu bulanan ini.


"Sudah waktunya makan siang Nak, Quen. Sekalian ya makan bersama kami di sini?"


Tiba-tiba ayahnya Aditya muncul dari balik selambu yang memisah antara ruang tamu dan ruang tengah.


Di meja makan yang tidak begitu lebar tapi memberi kenyamanan Quen duduk berhadapan dengan Aditya dan Axel. Sementara di sebelah kanannya ibu Aditya dan di kiri ayahnya.


Diam-diam gadis itu tersenyum melihat argumen antara ayah dan amak di hadapannya.


"Axel mau ayam saja, Paaaa!"


Bocah itu terus bergeleng dan menutup mulut dengan ke dua tangannya.


"Nenek bilang tadi pagi kau sudah makan ayam, Sayang. Sekarang saatnya makan sayur dan ikan, ok?"


Bujuk Aditya kwalahan.


"Tidak maaau, aku mau ayam goreng!" seru bocah itu lagi terus bersikukuh dengan pendiriannya.


"Melulu ayam tidak baik untuk pertumbuhanmu, Axel. Makanlah sayur dan ikan yang banyak!"


Bujuk Aditya lagi.


"Maunya ayam goreng, Pa!"


Quen tersenyum geli melihat pemandangan itu. Paksaan bujukan Aditya yang setengah memaksa meningatkan dia pada sosok Alex yanng memaksanya untuk menghabiskan makanannya. Tapi, ujung-ujungnya dia sendiri yang menghabiskan makanan sisanya.


"Axel, apakah kau sudak nonton Upin Ipin?" tanya Quen.


"Suka sekali kakak. Upin dan Ipin makanan favoritnya adalah ayam goreng paha," jawab bocah itu dengan binar mata yang sangat ceria.


"Oh, begitu? Kau sejak kapan nonton Upin dan Ipin?" Tanya Quen lagi, denhan santai dan penuh perhatian.


"Sejak kapan ya? Lama sekali, Kak. Axel belum sekolah waktu itu."


"Ooo, begitu ya? Upin dan Ipin itu sudah ada sejak Kakak duduk di bangku sekolah dasar. Sampai saat ini masih ada, kakak udah masuk fakultas lo, jadi sudah melewati tiga tahun SMP dan tiga tahun SMA," ucap Quen.


"Wah, benarkah apakah kakak juga suka nonton?"


"Ya, kakak suka sekali. Tapi kakak tidak meniru pola hidup mereka, merrka bandel dan cuma mau ayam goreng. Kau lihat, dari dulu dia tetap kecil, harusnya dia seusia kakak, tapi tetap tidak tumbuh besar dan tinggi lagi, mana kepalanya gundul."


Aditya menahan tawa saat mendengar obrolan Quen dan putranya, ia mengepalkan jari kanannya dan digunakan untuk menutup mulutnya.


"mmm iya ya kak? Dulu Axel masih kecil sekarang malah menyamai mereka gedenya, memang kenapa mereka begitu, Kak?" tanya Axrl penasaran.


"Mereka tidak bisa tumbuh besar dan tinggi karena cuma makan Ayam goreng saja, jika Axel tidak mau seperti itu, jadi makan ikan dan sagut di banyakain, nurut apa kata Kakek, Nenek dan Papa, ok?" Quen tersenyum sambil menunjukan tangan kanannnya yang membentuk lingkaran dari telunjuk dan ibu jarinya.


"Papa, beri aku sayur dan ikan yang banyak. Aku tidak mau ayam goreng lagi. Aku tidak mau pendek dan gundul," ucap bocah itu polos.


Usai makan Quen mengobrol berdua saja di tempat bermain Axel.


"Axel sudah sekolah?"


"Sudah, kak. Aku sekarang nol besar."


"Wah, hebat, ya?" puji Quen. "di sekolah di ajari apa saja sama bu guru? Coba lihat buku pelarajannya."


Tak lama kemudian Axel kembali dengan beberapa buku di tangannya. Quen tersenyum melihat semngat anak itu.


Dibukanya buku satu persatu setiap lembaran. Diajarinya Axel dengan sangat telaten. Mulai dari membaca, berhitung mengenal warna, nama hewan buah dan sayuran.


Sampai pukul satu, waktunya Axel tidur, Quen pula yang membantu Axel cuci tangan kaki dan mengantar ke kamarnya.


"Axel tidur dulu, ya? Kakak mau pulang." pamit Quen meski sebenarnya tidak tega.


"Kakak kenapa kau pulang? Apakah aku nakal dan tidak patuh padamu?" rengek bocah itu keberatan.


"Tidak, Sayang. Kau anak baik dan patuh. Tapi, kakak harus pulang, besok kakak akan main kesini lagi jika ada waktu, gimana?"


Bocah itu tidak menjawab selain memegang erat pergelangan tangan kanan Quen.


"Bagaimana kalau kubacakan cerita dulu, jika kau tidur akan pulang. Kakak janji jika kakak tidak sibuk akan kemari bermain denganmu lagi. ok?" bujuk Quen.

__ADS_1


"Baiklah! Tapi, kakak harus janji!"


"Iya, Axel kakak janji.


__ADS_2