
Clara berlari memeluk Andrean, dia ucapkan banyak-banyak terimakasih kepadanya, "Papa, makasih ya atas semuanya, Papa baik banget."
"Hahaha, kamu suka, kan sayang? Bagaimana liburanmu di sana? Menyenangkan?"
"Banget, pah,"
"Papa tumben banget bisa bikin kejutan." Clara melangkah sambil menggelandut manja pada lengan kiri Andrean.
"Ide mamamu."
"Oh, kirain, hahaha." Clara tertawa. " Mama kemana Pa?"
"Dia menjenguk Yuna, kamu juga jenguk dia ya, nanti sama Papa, saja, jangan sama Vano,"
"Kenapa, Pa?"
"Tante Rima sudah meminta maaf, jadi, kita harus memaafkan, bagaimanapun juga Yuna seperti itu .... " Andrean diam tak menereuskan.
"Iya pah, gara-gara aku, habis dia yg mulai." Clara melepaskan pelukannya pada lengan Andrean dan menghentikan langkahnya.
"Dasar gadis nakal!" ucap Andrean sambil mencubit hidung mancung Clara.
"Ya, Clara nakalnya Papa sama kakak, selama kami belum nikah, dia masih kakakku, kan?
"Iya, ayo kita ke tempat Yuna, sekalian jemput mama kamu!" ajak Andrean.
Clara melihat Yuna hanya duduk termenung di kamarnya sambil memeluk bantal, penampilannya sangat kucel tak terawat, wajahnya pucat kelopak mata bagian bawah hitam, nampak seperti orang kurang tidur.
Memang ini tujuannya saat ia tahu kalau Yuna dan papanya menyuruh 5 orang untuk melecehkannya. Tapi, begitu melihat Yuna benar-benar hancur nuraninya terketuk, dia tidak tega.
"Yun," panggil Clara lirih.
Yuna hanya menoleh menatap kosong ke arah Clara tanpa menjawab.
Clara mendekatinya perlahan, dia takut kalau mendadak Yuna histeris, karena mau ga mau memang Clara lah yang membuat Yuna begini, tapi dia tidak menyangka kalau akan separah ini jadinya, dia mulai menyesali perbuatannya.
"Kamu uda mandi, belum? Mandi dulu gih, biar cantik, biar tidak seperti Bi Narti," ucap Clara.
Yuna berjalan mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian dia sudah keluar.
"Aku pilihin baju, mau?" tanya Clara di jawab anggukan pelan oleh Yuna, Clara membuka lemari baju Yuna, dilihatnya satu demi satu lalu memilih salah 1 baju santai dan meminta Yuna untuk memakianya.
Dia menyisir rambut panjang Yuna, karena lama tak terawat, rambut itu kusut serta banyak rontok, tidak telaten Clara ambil jalan pintas memotong rambut Yuna sebahu.
Tak lupa ia juga memoleskan mekap ke wajah Yuna ala-ala dia, natural tapi elegan.
"Lihatlah dirimu di cermin! Cantik, kan?"
Yuna menatap lurus wajahnya pada cermin, bibirnya mengukir senyuman.
"Kamu belum makan malam bukan? Ayo kita ke bawah, makan malam bersama," ajak Clara.
Semua mata terpana melihat penampilan Yuna, terlebih Rima, dia menangis haru, mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Clara.
Kurang lebih satu bulan Clara selalu hadir menjenguk Yuna, sampai akhirnya Yuna kembali normal.
Pagi tanpa aktifitas sangatlah membosankan, Clara mengambil tasnya pergi ke Cafe milik Reza, di sana bersama gengnya dia menceritakan keadaan Yuna kepada tiga sahabatnya.
__ADS_1
Mendengar dan melihat ekpresi merasa bersalah Clara, Erem benar-benar bingung.
"Ra, dulu dia waras mau ambil Vano dari kamu, kamu bikin stres, giliran dah stres mau kamu warasin, gimana kalau uda waras dia ambil Vano lagi atau balas dendam?"
"Ren, yang dilakukan Clara itu uda bener, dia tidak tegaan, memang dia aslinya baik, kan?" bela Reza.
"Reza sih benar, tapi Eren juga ga salah, kamu mesti berhati-hati Ra," sambung Selly.
"Kalau Yuna sembuh berani macam-macam sama aku, gampang, aku bikin saja dia edan lagi," ucap Clara lalu meneruput kopi di depannya.
"Dan sekarang kamu yang tidak waras," ucap Eren dan Selly bersamaan.
"Sudahlah, jangan bahas yang sudah-sudah. Kurasa Yuna sudah tidak berani lagi macam-macam pada Clara," ucap Lusi menghentikan perdebatan.
Mata Lusi memandang kearah Clara yang memainkan latte di depannya. Lalu pandangannya beralih pada Reza.
'Wajar Reza begitu menyukai gadis ini. Dia sangat luar biasa.'
*******
Sambil berdiri di depan cermin kamarnya, Clara mengeringkan rambut basahnya usai mandi, dilirknya ponsel yang berdering di tepi ranjang, ",Vano" gumamnya.
"Halo, Van?"
" .... "
"Ini baru aja mandi, kenapa?"
" .... "
Clara kecewa karena Vano tidak bisa pulang hari ini, sudah 8 hari dia berada di Jogja mengawasi pembangungan gedung bertingkat, bilangnya hanya 4 hari dan hari ini pulang, tapi nyatanya ...
"Kamu yakin, kan sama Vano? Jadi jangan berfikir ketidak pulangannya itu sengaja," ucap Reza dari seberang.
"Tapi dia janji sekarang, Za, aku dah nunggu dari kemarin di apartemen sendirian, ku kira pagi ini pulang, tapi nyatanya?"
"Ra, kamu lihat awan di luar sana, sangat gelap! Barangkali hujan, Ra."
Clara mendongak wajahnya keluar, dilihatnya awan hitam menyelimuti Jakarta, tidak menutup kemungkinan Jogja hujan deras.
"Aku ke Cafe dulu, kasian Ian, sendirian, tadi bilang Cafe rame pengunjung,"
"Ok, thank's ya, Za," ucap Clara mematikan telfon dari Reza.
10 menit kemudian butiran air dari angkasa berjatuhan, hujan deras mengguyur Ibu Kota.
Clara mematung memandangi setiap tetesan yang turun berebut sampai ke bumi lebih dulu. Entahlah apa yang dia pikirkan, pikirannya menerawang jauh merindukan seseorang.
Ting toooong....
Clara terhenyak dari lamunannya mendengar bel berbunyi, dengan langkah terpaksa dia melangkah keluar kamar membuka pintu utama.
Clara tertegun melihat sosok yang datang, seluruh tubunhnya basah kuyup oleh hujan, serta bibirnya yang membiru karena kedinginan.
"Vano, kamu pulang?" ucapnya sambil memeluk Vano.
"Iya, tadi sudah aku serahkan pengawasan kedapa Irwan, aku naik motor untuk menghindari macet," ucapnya sambil meletakan Helmet dan membalas pelukan Clara.
__ADS_1
"Maafin aku, tadi marah-marah ke kamu," ucap Clara engan melepas pelukannya.
"Aku tahu, kamu begitu karena kengen aku, kan?" balas Vano.
"Kamu jadi basah." Clara melepas pelukannya sambil mengamati Vano dari ujung kaki dampai rambut.
" Ya sudah, aku mandi dulu, ganti pakaian, kamu juga ganti, peluk-peluk aku jadi ikut basah," balas Vano sambil tersenyum.
"Harusnya kamu bilang, kalau di sana hujan."
"Memang kenapa? Rasa sayangku lebih banyak dari tetesan air hujan yang turun," goda Vano sambil memeluk Clara yang tengah melangkah dari belakang.
(Authornya jadi ingat lagunya Wali band. Jamin rasaku๐๐๐)
**********
"Clara, Papa mau ngomong sama kamu," ucap Andrean di ruang tengah ketika melihat Clara pulang dari Kampus.
"Iya, Pa. Papa mau ngomong, apa?" ucap Clara meletakan buku di atas meja sambil duduk di depan Andrean.
"Papa mau kasih kamu pilihan, kamu kuliah untuk lulus S1 kurang 2 tahun atau menikah lalu kembali kuliah."
"Maksut, Papa?
"Vano usianya sudah 26 tahun, usianya sudah cukup lah jika harus menikah, apa kamu tidak keberatan nikah muda? Oya ini sudah Papa bicarakan berdua sama mama sebelumnya, tinggal kamu saja, kalau Vano jelas saja dia tidak menolak," imbuh Andran.
Clara diam sesaat, dia tidak memikirkan apa yang dikatakan Andrean, tapi malah bermimpi dirinya jadi pengantin, wajahnya bersemu merah dan senyum-senyum sendiri lalu dia bangkit dari duduknya lari ke atas tangga menuju kamar, "Clara juga apa kata Papa dan mama saja.
Dia mengunci pintu kamarnya, kembali senyum-senyum sendiri, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, entah efek naik tangga atau terlalu senang.
Ia terlalu senang dengan imajinasinya saat berangkat diantar Vano, dan pulang pun Vano menjemputnya menunggui di depan gerbang.
**********
"Hah, kamu mau Nikah, Ra?" tanya Selly kaget.
"Cepet banget, uda ngebet, ya? Aku yang kenal Alfa dari jaman cinta monyet SMA aja nunggu sama-sama lulus, Ra," sahut Eren hampir tak percaya.
"Itukan kemauan Bonyok aku, Ren, jadi aku nurut saja," kilah Clara
"Kan, dia kasih pilihan ke kamu, Ra."
"Ya gapapa, nikah sambil kuliah, aku ga keberatan, kok, toh nanti aku ga kerja dimana-mana."
"Ya kamu dan suamimu pewaris dari semua harta orang tuamu."
"Ya bukan begitu, Sell. Kan ga lucu, orang tuanya punya perusahaan besar, anaknya kerja ikut perusahaan lain, kecuali aku ini bidan atau dokter wajar."
"Iya deh, kami dukung kamu, emang kapan nikahan kalian?"
"Emmm kayanya bulan depan,"
"Ok, masih ada waktu menikmati kelajangan denganmu, Ra. Ayo kita berparty ria, so kalau kamu uda punya laki, ga akan bisa," ajak Eren.
"Tepat sekali, ayo kita bersenang-senang dulu saja sekarang," ucap Clara, dan disambut antusias oleh kedua sahabat wanitanya.
__ADS_1